Friday, July 17, 2020

Letkol Untung dari PKI Madiun 1948 Sampai Lubang Buaya 1965 | Pegawai Jalanan

Letkol Untung dalam Mahmilub
Rekam jejak Partai Komunis dengan kader-kader 'Palu Arit' di Indonesia tentu tak bisa lepas dari sejarah pembantaian paling brutal terhadap Ulama, Tokoh Masyarakat, Pejabat Pemerintah, Tokoh Kerajaan, Polisi dan Jenderal-Jenderal TNI yang kini menjadi bagian sejarah pemberontakan Kader Palu Arit PKI paling biadab bagi perjuangan rakyat Indonesia.
Kekejaman komunisme sejak diluncurkan pertama kali oleh Muso pada 1948 dan diakuisisi oleh Letkol Untung pada 1965, menjadi cerita suram makar dan pengkhianatan terhadap Pancasila.
Pagi itu, Jumat 1 Oktober 1965 suara Letnan Kolonel Untung terdengar hampir di seluruh sudut kampung di Jakarta bahkan mungkin ke semua pelosok negeri. Melalui Radio Republik Indonesia, Untung yang juga Komandan Grup I Batalyon Tjakrabirawa mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi Indonesia.
Beberapa jam sebelumnya, dia memimpin penculikan dan pembunuhan terhadap enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI AD.
"Demi keselamatan Angkatan Darat dan Angkatan Bersenjata pada umumnya, pada waktu tengah malam hari Kamis tanggal 30 September 1965 di Ibukota Republik Indonesia Jakarta, telah dilangsungkan gerakan pembersihan terhadap anggota-anggota apa yang menamakan dirinya "Dewan Jenderal" yang telah merencanakan cup menjelang Hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober 1965," kata Untung saat mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi Indonesia.
Untung menutup pengumumannya di RRI dengan membacakan susunan Dewan Revolusi Indonesia. Untung yang berpangkat Letnan Kolonel diangkat sebagai Komandan. Dia membawahi seorang jenderal yakni, Brigdjen Supardjo yang ditunjuk sebagai wakil komandan.
Siapa sebenarnya Letnan Kolonel Untung yang disebut sebagai pimpinan Gerakan 30 September/PKI?
Banyak info yang beredar bahwa Letkol Untung dekat dengan Suharto, tapi sebenarnya tidaklah demikian, karena Suharto sangat anti dengan PKI sedangkan Untung adalah hasil didikan PKI.
Letnan Kolonel Untung lahir di Desa Sruni, Kedungbajul, Kebumen, Jawa Tengah pada 3 Juli 1926 dengan nama kecil Kusmindar alias Kusman. Orangtuanya berpisah saat Kusmindar berusia 10 tahun. Untung kecil lalu pindah ke Solo dan diasuh oleh adik ayahnya, Samsuri yang tak punya anak. Karena itu, ia lebih dikenal sebagai Untung bin Samsuri.
Kusman sempat belajar di Sekolah Rakyat 'Seruni' di Desa Bojongsari, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah sampai kelas 3. Sekolah itu kini berganti menjadi SD Negeri 1 Bojongsari. Namun nama Kusmindar atau Kusman alias Untung belum tercatat dalam buku induk siswa di sekolah tersebut, karena buku induk siswa di sekolahan tersebut baru dibuat tahun 1940. Sehingga bisa jadi Kusman yang lahir pada 3 Juli 1926 tercatat pada dokumen lain yang tidak sempat diamankan oleh pihak sekolah pada waktu itu.
Orangtua angkat Untung, Samsuri dan istri bekerja pada seorang priyayi keturunan trah Kasunan, Ibu Wergoe Prajoko, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Pada 1943, saat berusia 18 tahun, Untung mendaftar Heiho, organisasi militer di masa pendudukan Jepang.
Selang dua tahun Jepang kalah melawan Sekutu dalam Perang Dunia II. Untung kemudian bergabung dengan Batalion Sudigdo yang bermarkas di Wonogiri, Jawa Tengah. Pada 1947 Batalyon Sudigdo yang berada di bawah Divisi Panembahan Senopati berhasil ditarik menjadi pendukung Partai Komunis Indonesia.
Kala itu ketika Menteri Pertahanan dijabat salah seorang tokoh PKI yakni Mr. Amir Sjarifuddin. Walhasil laskar-laskar yang berafiliasi dengan komunis memperoleh prioritas dan fasilitas dalam pembagian senjata, termasuk perlengkapan lainnya. Di masa Untung bergabung, Batalyon Sudigdo dikomandani oleh Letkol Suadi Suramihardjo.
"Batalyon ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalyon yang ikut PKI," kata Letkol CPM (Purn) Suhardi, teman masa kecil Untung di Solo seperti dikutip dari Koran Tempo, 5 Oktober 2009.
Untung bersama anggota Batalyon Sudigdo dan prajurit TNI saat itu mendapat pengetahuan tentang faham komunisme langsung dari elit PKI, yaitu Alimin. Hal ini menjadikan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman khawatir.
Jenderal Soedirman pun memerintahkan Letkol Soeharto untuk meyakinkan sejumlah prajurit dari Divisi Panembahan Senopati agar tak ikut faham komunis. Ketika itu Soeharto bahkan sempat bertemu dengan Alimin, Muso dan sejumlah elit PKI di Madiun.

Namun, Untung dan sejumlah prajurit dari Divisi Panembahan Senopati gagal dibujuk. Pada 18 September 1948 PKI melakukan pemberontakan di Madiun, Jawa Timur. Mereka membunuh orang yang tidak mau bergabung dengan mereka, terutama kaum santri, aparat pemerintah yang anti PKI bahkan kiyai. Hal ini membuat marah Sukarno karena  PKI menghianati Republik Indonesia yang baru saja merdeka dan akan menghadapi agresi militer Belanda pada saat itu. TNI pun tegas melakukan penumpasan.
Kembali Letkol Soeharto diperintahkan untuk memburu pelaku pemberontakan PKI Madiun termasuk Untung dan anggota Batalyon Sudigdo. Namun konsentrasi TNI menumpas pemberontakan PKI Madiun harus terpecah karena di saat yang sama terjadi Agresi Militer Belanda II.
Untung dan sejumlah prajurit dari Divisi Panembahan Senopati pun tak mendapat hukuman. Bahkan Untung kemudian masuk TNI melalui Akademi Militer di Semarang. Di sinilah nama Kusmindar alias Kusman berganti menjadi Untung.
Untung tercatat sebagai lulusan terbaik Akademi Militer Semarang saat itu. Tahun 1956 Untung kemudian bergabung menjadi anggota Batalyon 454 Kodam Diponegoro yang saat itu masih bernama Tentara dan Teritorium IV Diponegoro. Soeharto yang saat itu berpangkat kolonel menjadi Panglima T&T IV Diponegoro.
Karier Untung di militer begitu moncer saat di Kodam Diponegoro. Pada 1958 di bawah pimpinan Mayor Jenderal Ahmad Yani, Untung terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI atau Permesta di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat.
Atas kesuksesan tersebut, pada 14 Agustus 1962 Untung kemudian kembali terpilih sebagai prajurit yang terlibat dalam Operasi Mandala membebaskan Irian Barat yang dipimpin Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto.
Saat itu Untung memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara Kaimana, Irian Barat. Dalam operasi inilah Untung menunjukkan kelasnya sebagai lulusan terbaik Akademi Militer. Karena keberhasilannya itu dia bersama bersama Benny Moerdani, mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Sukarno.
Dalam sejarah Indonesia, hanya beberapa perwira yang mendapatkan penghargaan ini. Bahkan Soeharto, selaku panglima Kostrad saat itu, hanya memperoleh Bintang Dharma, setingkat di bawah Bintang Sakti.
Setahun kemudian Untung diangkat menjadi Komandan Batalyon 454/Banteng Raiders Kodam Diponegoro yang dibentuk oleh Letjen Ahmad Yani.
Tahun 1964 atas rekomendasi Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto, Letkol Untung direkomendasikan sebagai Komandan Grup Batalyon I Tjakrabirawa. Setahun kemudian tepatnya 30 September 1965 Untung yang pernah terlibat dalam pemberontakan PKI Madiun memimpin penculikan 6 jenderal dan 1 perwira menengah TNI AD.
Jenazah tujuh perwira TNI AD tersebut pada Jumat dini hari 1 Oktober 1965 dimasukkan dalam sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Jenazah mereka baru diketemukan tiga hari kemudian dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, tepat ketika TNI merayakan hari jadinya pada 5 Oktober 1965.
Soeharto, dalam biografi Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President, mengaku yakin bahwa Ada PKI di belakang gerakan Letkol Untung.
"Saya mengenal Untung sejak 1945 dan dia merupakan murid pimpinan PKI, Alimin. Saya yakin PKI berada di belakang gerakan Letkol Untung," kata Soeharto dalam buku Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President yang ditulis Retnowati Abdulgani Knapp.
Penyunting : Admin PJ
Sumber : 
https://news.detik.com
https://akuratnews.com




0 komentar:

Post a Comment