Jumat, 27 November 2020

Sejarah dan Perkembangan Kota Pontianak dari Hutan Menjadi Kota | Pegawai Jalanan



Taman Tugu Digulis
 

Sejarah berdirinya Kota Pontianak

Pontianak, ketika kita mendengar kata Pontianak maka yang ada dalam gambaran kita adalah tugu khatulistiwa. Karena memang kota Pontianak adalah kota yang dilalui garis lintang nol atau garis khatulistiwa. Kota Pontianak adalah ibukota provinsi Kalimantan Barat. Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari rabu tanggal 23 oktober 1771 M, bertepatan dengan tanggal 14 radjab 1185 H. Awalnya, tempat tersebut bernama Khun Tien yang banyak dihuni oleh etnis tionghoa di sepanjang pesisir Sungai Kapuas. (nationalgeographic.grid.id)

Seperti pada umumnya daerah-daerah di Indonesia, Pontianak juga memiliki kisah legenda tentang berdirinya kota Pontianak. Ketika itu Syarif Abdurrahman Alkadrie menyisiri sungai Kapuas untuk mencari lokasi pembangunan istana. Syarif Abdurrahman Alkadrie  sering di ganggu oleh hantu kuntilanak yang memang menjadi penghuni di hutan sepanjang Sungai Kapuas. Syarif Abdurrahman Alkadrie  menembakkan meriam ketiga tempat yang kemudian menjadi titik pembangunan Pontianak. Ketiga  titik tersebut adalah Istana Kadariah, Masjid Jami’ (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan pemakaman anggota keluarga Kesultanan Pontianak. Karena suara tembakan meriam yang memiliki suara kencang, kuntilanak yang menghuni hutan pun pergi. (travel.detik.com)

Asal-usul penamaan Pontianak adalah karena dahulu banyak hantu kuntilanak yang mendiami tempat ini. Warga lokal sering menyebutnya dengan nama puntianak. Sebagian masyarakat juga percaya bahwa asal-usul Pontianak berasal dari legenda masyarakat melayu  dengan mengambil nama dari kata pohon-pohon punti, yang berarti pohon-pohon tinggi. Karena pada masa itu, wilayah Pontianak memang dikelilingi pohon-pohon tinggi. Hal ini diperkuat dengan bukti  sebuah surat  antara Husein bin Abdul Rahman Al-idrus (rakyat negeri Pontianak) kepada sultan Syarief Yusuf Al-Kadrie. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa Pontianak berarti “pintu anak” karena daerah tersebut  menjadi gerbang pembatas antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. (NusaDaily.com)

Ilustrasi Hantu Kuntilanak

Seorang sejarawan Belanda, V.J. Verth memiliki pendapat yang berbeda dari cerita yang beredar dikalangan masyarakat. Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 H (1773 M) dari Batavia. Verth menulis bahwa Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie meninggalkan kerajaan Mempawah dan mulai merantau. Ia menikah dengan adik Sultan Banjar Sunan Nata Alam dan dilantik menjadi pangeran di Banjarmasin. Ia mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya dan mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Dengan bantuan Sultan Pasir berhasil membajak kapal belandadi dekat Bangka, juga kapal inggris dan perancis di pelabuhan pasir. Ia kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sebuah pulau di Sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai landak dan Kapuas kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan. (V.J. Verth, Borneos Wester Afdeling)

Itulah beberapa pendapat tentang penamaan kota Pontianak yang kita kenal sekarang. Memang bagi kita sebuah hal mistis adalah sesuatu yang di luar nalar. Namun cerita tersebut menjadi cerita turun-temurun dari dulu hingga sekarang. Asal-usul kota Pontianak yang masih diyakini masyarakat kota Pontianak.

Sistem Pemerintah Kota Pontianak

Pada Hijriah Sanah delapan hari bulan sja’ban  hari isnen, Syarif Abdurrahman Alkadrie   dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Pontianak. Dua tahun setelah Sultan kerajaan Pontianak dinobatkan, maka pada Hijriah Sanah 1194 atau tahun 1778 M masuk dominasi kolonialis Belanda dari Batavia (Betawi) utusan Petor (asistent resident) dari Rembang bernama Willem Ardinpola. Mulai pada masa ini Bangsa Belanda berada di Pontianak. Bangsa Belanda di tempatkan di seberang keraton Pontianak yang terkenal dengan nama Tanah Seribu (Verkendepaal). (Pontianakkota.go.id)

Keraton Kadriah pontianak

Pada tanggal 5 juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk tanah seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda  yang kemudian menjadi kedudukan pemerintah Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (kepala daerah keresidenan Borneo Barat) dan Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (asisten residen kepala daerah kabupaten Pontianak). (Wikipedia.org)

Berdasarkan besluit pemerintah kerajaan Pontianak tanggal 14 agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai Stadsgemeente. R. Soepardan ditunjuk menjadi syahkota atau pemimpin kota saat itu. Jabatan Soepardan berakhir pada awal 1948 dan kemudian digantikan Ads. Hidayat. Pembentukan stadsgermeente bersifat sementara, maka besluit pemerintah kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan undang-undang kerajaan Pontianak tanggal 16 september 1949 No. 40 /1949/KP. Walikota pertama ditetapkan oleh pemerintah kerajaan Pontianak adalah Rohana Muthalib. Ia adalah seorang wanita pertama yang menjadi walikota.

Sesuai perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-Undang darurat No. 3 tahun 1953, bentuk pemerintahan ditingkatkan menjadi kota praja Pontianak. Pemerintah kota praja kembali diubah berdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1957, Penetapan Presiden No. 6 tahun 1959 dan Penetapan Presiden No. 5 tahun 1960, Intruksi Menteri dalam Negeri No. 9 tahun 1964 dan Undang-Undang No. 18 tahun 1965, maka berdasarkan surat keputusan DPRD-GR kota praja No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 desember 1965, nama kota praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya Pontianak. (pontianakkota.go.id)

Dengan Undang-Undang  No. 5 tahun 1974 nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi Kotamadya Daerah tingkat II Pontianak. Dan berdasarkan Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah mengubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak.

 

Hal menarik dari kota Pontianak


1.  Kota Pontianak berada di garis lintang 0 derajat sehingga kita dapat melihat peristiwa kulminasi.

2.     Kota Pontianak memiliki sungai terpanjang di Indonesia, sungai inilah yang menjadi lambang kota Pontianak.

3.     Memiliki lebih dari 1 asal-usul penamaannya.

4.     Pada tahun 1988 kota Pontianak merayakan tahun baru 2 kali. Hal ini di karenakan pada tahun 1963, berdasarkan Keppres No. 243 tahun 1963 kota Pontianak dimasukkan ke zona WITA. pada keppres RI No.41 tahun 1987, kota Pontianak beralih menjadi zona WIB.

5.     Menembakkan meriam menjelang idul fitri. Cerita rakyat tentang penembakkan meriam oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie menjadi tradisi kota Pontianak yang berlangsung hingga sekarang.

6.     Kota Pontianak berkali-kali berganti tata pemerintahan. Mulai dari pemerintahan kerajaan hingga menjadi kota Pontianak.

 

Demikianlah gambaran singkat tentang kota Pontianak yang menjadi ibukota provinsi Kalimantan Barat. Mulai dari berdirinya hingga sekarang menjadi kota yang terus berkembang. Dari yang dahulunya hutan belantara kini menjadi kota yang telah ramai penduduknya. Walau kami tidak dapat menceritakan secara detail, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kita.


Penulis : Rizky Arisandi

Editor   : Argha Sena

Sumber : 

Wikipedia.org, 

Pontianakkota.go.id, 

NusaDaily.com, 

travel.detik.com, 

nationalgeographic.grid.id

0 komentar:

Posting Komentar