Wednesday, February 17, 2021

BERDALIH REVOLUSI!!! Pembantaian Sultan-Sultan dan Keluarga Bangsawan di Sumatera Timur!!!

Para Pejabat Kesultanan Langkat, Tanjung Pura (Tahun 1925)

Pada awal-awal kemerdekaan Indonesia, banyak sekali peristiwa-peristiwa berdarah yang melanda negeri ini. Banyak rakyat yang tak bersalah menjadi korban, bahkan para petinggi pun tak luput dari peristiwa berdarah itu. Salah satu peristiwa peristiwa berdarah itu adalah peristiwa pembantaian keji yang berdalih revolusi. Peristiwa ini terjadi di daerah Sumatera Timur yang kala itu masih menerapkan sistem kerajaan yang ingin dihapuskan. Revolusi Sosial Sumatera Timur merupakan gerakan sosial di Sumatera Utara Bagian Timur, terhadap penguasa Kesultanan dan Kerajaan Melayu yang mencapai puncaknya pada bulan Maret 1946. Menurut sebagian sumber, Revolusi ini dipicu oleh gerakan kaum komunis yang hendak menghapuskan sistem kerajaan dengan alasan anti feodalisme.

Pembantaian yang berdalih revolusi telah termobilisasi dan terorganisir ini menargetkan para anggota kesultanan, sutan-sultan dan kerajaan-kerajaan melayu yang ada di Sumatera. Beberapa saksi mata mengatakan, “Ini bukanlah Revolusi Sosial, tetapi pembantaian besar-besaran”. “Tak usahlah dikatakan nama peristiwa ini sebagai Revolusi Sosial. Tak ada itu! Ini Pembunuhan masal di Sumatera Timur yang mesti diusut dan kebenaran sejarah mesti diluruskan”. “Maret berdarah di Sumatera Timur adalah pembantaian masal”.

Dikatakan sebagai pembantaian dan bukan sepenuhnya revolusi sosial, karena para petinggi kerajaan dibunuh secara sadis, padahal mereka tidak sepenuhnya melakukan perlawanan. Selain itu bahkan anak-anak gadis diperkosa di depan ayahanda dan keluarganya dan harta juga dirampas. Layaknya gerombolan perampok yang berkedok revolusi sosial. Yang berhasil selamat harus pergi dari kampung ke kampung untuk bersembunyi dan menyelamatkan nyawanya. Kejadian ini menjadi kejahatan yang memilukan sehingga menimbulkan trauma bagi korban secara turun temurun. Kerajaan-kerajaan melayu di Sumatera Timur menjadi porak-poranda, keindahan kesultanan dengan ornament seni yang tinggi habis dihancurkan dan dibakar. Banyak kerajaan dan keraton yang mereka hancurkan di berbagai wilaya Sumatera Timur. Peristiwa pembantaian ini menjadi peristiwa menyedihkan dan tragis di pulau Sumatera. Para pembantai seakan dirasuki setan sehingga hilanglah sifat perikemanusiaan bahkan permintaan untuk shalat sebelum dibunuh juga tidak dikabulkan.

Berikut adalah beberapa tempat yang menjadi peristiwa kelam dengan dibunuhnya tengku dan sultan-sultan secara sadis.


Kesultanan Kualuh


Di Tanjung Pasir, kini berada di Kabupaten Labuhanbatu Utara, ada sebuah Kesultanan Melayu bernama Kualuh. Malam itu, 3 Maret 1946, sebagian besar penghuni Istana Kualuh sedang terlelap, dan ada pula yang sedang sholat. Tiba-tiba terdengar suara pintu dipukul-pukul keras dari luar. “Mana Tengku Besar? Mana Tengku Besar?” teriak orang-orang yang datang dengan senjata tajam. Tengku Besar adalah gelar bagi Tengku Mansoer Sjah, putra Sultan Kualuh. Rupanya, malam itu Tengku Mansoer Sjah tidak tidur di istana, tapi di rumah yang lain.

“Tuanku mana? Mana Tuanku?” Tuanku adalah panggilan bagi Tuanku Al Hadji Moehammad Sjah, Sultan Kualuh. Dengan paksa, Tuanku yang sedang beribadah shalat malam itu, mereka bawa ke kuburan Cina, Lalu Tengku Besar juga dijemput dan dibawa ke tempat yang sama. Tengku Darman Sjah, adik Tengku Besar, malam itu sedang berada di kuburan istrinya yang baru saja meninggal dunia. Dia tak henti membacakan ayat-ayat Al-Quran. Malam itu, dia pun ikut dibawa. Di kuburan Cina itu mereka disiksa Lalu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan sekarat.

Pagi harinya, seorang nelayan yang lewat melihat tubuh mereka terkapar tapi masih bernyawa. Dengan bantuan masyarakat, dibawalah ketiga keluarga kesultanan tadi ke istana untuk kemudian dirawat. Tapi, sekitar pukul 11 siang, datang lagi sekelompok orang yang ingin membawa sultan dan kedua putranya. Mereka orang yang berbeda dari yang datang di malam sebelumnya. “Rakyat menginginkan Tuanku dan kedua putranya dibawa ke rumah sakit,” kata salah seorang dari mereka. “Usahlah, biar kami saja yang urus,” ujar istri Sultan.

Tapi sekelompok orang yang datang itu memaksa tanpa ada adab sopan santun. Dan kerabat istana tak dapat berbuat apa-apa. Mereka pun dibawa entah ke mana dan hingga kita tak pernah terkabar. Kerabat istana yang lain, termasuk perempuan ditawan selama lebih dari satu bulan. Mereka dibawa ke sana kemari, dari Rantau Prapat hingga Siantar, mereka disiksa bathin dan kejiwaan. Bukannya dibawa ke rumah sakit, Al Hadji Moehammad Sjah dan kedua orang anaknya justru dibunuh secara kejam. “Saat hendak dibunuh, Tuanku Hasan sempat berkata “Bila kalian hendak membunuh kami, tunggulah Obang (Azan) selesai dikumandangkan, dan izinkan kami sembahyang sekejap.  Ini permintaan kami kepada kalian yang tak satupun kami kenal ini”, pinta Tuanku. “Ah, tak penting sholat. Bunuh mereka !”, perintah pemimpin pembunuhan  itu. Tak terhitung berapa banyak korban di Kualuh, Panai, Kota Pinang, atau juga Sultan Bilah, Tuanku Hasnan terbunuh beserta sekian banyak lainnya.


Kesultanan Langkat


Di Kesultanan Langkat, peristiwa ini pun tak kurang menyedihkan. Tak sedikit perempuan diperkosa dihadapan orangtuanya, lelaki dibantai teramat sangat mengejamkan. Di Kesultanan kaya ini, kehilangan banyak petinggi yang bermutu dan pakar. Adalah Tengku Amir Hamzah, seorang sastrawan, Pangeran Langkat hulu serta wakil Pemerintah Republik Indonesia, juga turut dibunuh.


Tengku Amir Hamzah ketika itu adalah Pangeran Langkat Hilir, kemudian menjadi Bendahara Paduka Raja, lalu Pangeran Langkat Hulu, lantas menjabat Ketua Pengadilan Kerapatan Kesultanan Langkat. Pada saat yang sama dan di tanah yang sama, Amir Hamzah juga menjadi Asisten Residen Langkat dalam pemerintahan Republik Indonesia. Meski bergelar bangsawan, Amir jarang sekali memakai gelar Tengku-nya. Ia seringkali hanya menuliskan namanya hanya dengan Amir Hamzah, termasuk ketika menulis puisi-puisi.

Pada 7 Maret 1946 dengan kendaraan terbuka, Tengku Amir Hamzah dan lainnya dijemput paksa. Saat itu ia berbaju putih lengan panjang, ia sempatkan melambaikan tangannya pada orang-orang yang ingin menyalaminya di jalan. Bersama tahanan lain, Amir dikumpulkan di Jalan Imam Bonjol, Binjai, lalu dikirim ke perladangan Kuala Begumit untuk disiksa dan dibunuh. Amir Hamzah awalnya ditahan di sebuah rumah bekas tahanan Kempeitai di tepi Sungai Mencirim, Binjai. Tiga belas hari kemudian, barulah ia dieksekusi.


Anehnya, beberapa orang pemuda ternyata sempat mendatangi Tengku Kamaliah, istri Amir Hamzah, untuk memintakan apa-apa yang kiranya perlu dikirimkan kepada Tengku Amir Hamzah di camp penyiksaan. “Ini lah daku titipkan teruntuk suamiku, juadah satu siya (rantang), masakan Melayu. Dan ini sehelai kain sembahyang, dan sepasang baju teluk belanga putih, kerana Ku Busu tak lepas dari menderas Al qur’an saban hari, bawakan lah ini Al qur’an untuk beliau”, ujar Tengku Kamaliah.


Di tempat yang lain di Kuala Begumit, nyatanya pakaian Tengku Amir Hamzah diambil, diganti dengan celana goni. Para tahanan diperintahkan menggali lubang; untuk kuburan mereka sendiri. Satu demi satu para tahanan ditutup rapat matanya. Tangan diikat kuat ke belakang. Sang algojo ternyata tak lain adalah Mandor Iyang Wijaya. Sebelum melakukan pembunuhan, ia mengabulkan permintaan terakhir Tengku Amir Hamzah yang meminta dua hal.


Pertama, ia meminta tutup matanya dibuka karena ingin menghadapi ajalnya dengan mata terbuka. Kedua, Tengku Amir Hamzah meminta waktu untuk sholat sebelum hukuman dijatuhkan. Kedua permintaan Tengku Amir ini entah kenapa dikabulkan mereka. Usai sholat, Sang Pujangga pun menerima ajalnya. Parang Mandor Yang Wijaya kemudian berayun menebas tengkuk hingga memutus lehernya.


Malam itu, pada 20 Maret 1946, saat sang pujangga ternama meninggal. Ia seperti menggenapkan salah satu larik dalam sajaknya, Buah Rindu”: datanglah engkau wahai maut, lepaskan aku dari nestapa. Catatan tentang kematian Amir Hamzah itu dituliskan Tengku M. Lah Husny dalam bukunya berjudul Biografi-Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah (1978). Pada November 1949,sebuah kuburan dangkal dibongkar yang di dakamnya terdapat delapan mayat. Salah satunya memakai cincin kecubung dengan keadaan kedua giginya patah. inilah kerangka Amir Hamzah, kerangka itu lalu dikuburkan dipemakaman keluarga kerajaan di samping Masjid Azizi. Dengan keputusan Presiden nomor 106 tanggal 3 november 1975, Amir Hamzah ditetapkan sebagai pahlawan Nasional.


Bangsawan Melayu Batubara


Pada tanggal  7- 8 Maret 1946, para Bangsawan Melayu Batubara diculik dan dikumpulkan di Labuhan Ruku. Kemudian pada hari selasa 12 Maret,  mereka dibawa ke penjara di Pematang Siantar. Tak lama berselang,  pada 26 Maret 1946 mereka dibawa lagi di Kampung Merdeka Berastagi,  tanpa kepastian untuk apa bahkan diintimidasi.
Di tanggal 30 Juni,  mereka dibawa lagi ke Raya Simalungun. Selanjutnya pada 1 Juli 1946 dipindahkan ke Bah Birong.


Bangsawan Perempuan dibawa ke Tanjung Balai  pada 23 Maret 1946 – Juli 1946. Mereka ditawan dan hanya diberi makan dari bahan makanan ternak. Semua harta benda dirampas dan tanah mereka sudah dipancang. Kaum bangsawan yang dipulangkan, terpaksa hidup di ladang dan hutan. Penyiksaan dan pembunuhan tak terhitung jumlahnya. Ada yang matanya dicongkel, kemaluan disayat sayat. Bahkan ada yang dicincang dan dibuang ke laut. Beberapa korban diantaranya, yaitu: Tengku Nur bin Tengku Busu Abdul Somad Indrapura, Tengku Anif Indrapura, Wan Bakhtin kemanakan Wan Sakroni Tanah Datar, Orang Kayo Syahbandar Indrapura, Orang Kayo Achmad cucu Datuk Limo Puluh, Orang Kayo Musa juru tulis Datuk Limo Puluh, Saudagar Sohor dari Sungai Balai Kedatukkan Suku Duo.


Kesultanan Asahan


Maret 1946, azan subuh belum lagi berkumandang di Tanjung Balai, Kesultanan Asahan. Ketika itu, Tengku Muhammad Yasir – cucu Sultan Asahan yang ke X – Tuanku Muhammad Husinsyah, menyambut kedatangan ayahandanya yang baru tiba dari istana. Ayahnya baru pulang berjaga-jaga karena terdengar kabar akan ada penyerangan. Rumah keluarga Tengku Yasir tak jauh dari Istana Asahan. Kedua lokasi tersebut sama-sama berada dalam lingkaran Kota Raja Indra Sakti, yang di tengahnya terhampar lapangan hijau.

Ketika itu, Tengku Yasir, yang berusia 15 tahun, membukakan pintu untuk ayahandanya. Dia lalu menatap ke arah lapangan hijau di depan rumahnya. Ada sekelompok orang merayap ke arah istana. Yasir melihat pakaian mereka biasa saja. Tapi, mereka membawa senjata api juga senjata tajam. “Ontu(ayahanda) , tengoklah itu, Ntu!” ujar Yasir pada sang ayah sambil menunjuk ke arah lapangan. Melihat apa yang terjadi, mereka kemudian masuk ke rumah. Pukul enam pagi itu, istana diserang sekelompok orang. Tuanku Sjaiboen Abdoel Djalil Rachmatsjah, Sultan Asahan waktu itu, dapat melarikan diri dari belakang istana. Dia berlari disesuatu tempat yang tersembunyi.


Satu jam kemudian, sejumlah orang datang ke rumah Tengku Yasir. Dia dan ayahnya dibawa. Tapi Tengku Yasir kesulitan berjalan karena tapak kakinya sedang sakit dan diperban. Melihat kaki Yasir yang sakit dan mengeluarkan bau tak sedap, dia tak jadi dibawa. Tengku Yasir pun lari ditengah sakitnya, menyelamatkan diri ke rumah Tengku Haniah, kakak sepupunya. Rupanya, di rumah itu pun tak ada lagi lelaki. Semua sudah diculik sekelompok orang yang melakukan penyerangan. Dan tak lama datang lagi sekelompok orang untuk membawa mereka.


Itulah peristiwa berdarah yang terjadi di Sumatera Timur yang kala itu dikatakan sebagai revolusi sosial. Dengan begitu banyak pembunuhan yang dilakukan secara keji masihkah disebut sebagai revolusi sosial. Selain para sultan, Tengku Sortia bin T alhaji Jamta Melayu, cucu dari Tengku Tebing Pangeran, ia adalah Tengku Penasihat Negeri Padang di Tebing Tinggi. Pun tak luput dari korban kekejaman itu. Dia dibawa ketika tengah shalat Isya dalam keadaan bersujud. Istrinya hanya bisa melihat dari kejauhan ketika suaminya dibawa paksa ke tepi sungai yang sangat deras. Dan hilang tanpa kabar berita, kejadian ini membuat istrinya hilang kesadaran dan selalu menyusuri sungai dengan keadaan menangis, berharap suaminya kembali.


Bahkan Sebuah dokumen Belanda memperkirakan bahwa revolusi sosial 1946 ini menelan korban pembunuhan sebanyak 1200 orang di Asahan, belum lagi di negeri-negeri lain di Sumatera Timur. Dari Sungai Londir saat dievakuasi dikemudian hari, menemukan banyak kerangka korban yang terkubur tak teratur, bahkan ada di dinding-dinding tanah.

 

    Penulis            : Riskryto

    Penyunting      : Argha Sena

    Referensi        : gelora.co, langkatpedia.com, mandailingonline.com, tempo.co,                                                   wikipedia.org


0 komentar:

Post a Comment