Friday, April 30, 2021

Kisah Pemimpin Perang Turki yang Dihukum Mati Sultan Karena Kalah Perang

Merzifonlu Kara Mustafa Pasha

Ujung hidup Merzifonlu Kara Mustafa Pasha berakhir mengerikan. Dia dihukum mati oleh Sultan Turki usai gagal menggempur jantung Eropa Tengah, yakni Wina Austria.

Dilansir Encyclopaedia Britannica, Rabu (25/12/2019), Kara Mustafa adalah Wazir Agung atau Menteri Utama Turki Usmani yang memimpin pengepungan Wina pada tahun 1683. Dia lahir pada 1634 dan dihukum mati tepat pada tanggal 25 Desember 1683 di Beograd, Serbia.

Pertempuran Wina terjadi dalam bingkai Perang Austria-Ottoman pada 12 September 1683 antara pasukan Kerajaan Ottoman dan tentara Austria dan Polandia. Wina, ibu Ko­ta Austria, yang menjadi tempat pertempuran selama dua bulan dikepung tentara Ottoman dan kemenangan sudah hampir jatuh ke tangan mereka. Namun, kaisar Austria kemudian mendapat bantuan dari Polandia sehingga kepungan tentara Ottoman bisa dilawan dan mereka terpaksa mundur dari medan pertempuran. Pengepungan tersebut dimulai pada 14 Juli 1683, tetapi pertempuran utamanya terjadi pada 12 September 1683.

Pertempuran itu menandai titik balik dalam konflik sepanjang 300 tahun antara pasukan kerajaan-kerajaan Eropa Tengah dan Kerajaan Ottoman. Selama 16 tahun setelah pertempuran itu, kaum Habs­burg dari Austria dan sekutu mereka bergerak merebut dan mendominasi wilayah selatan Hongaria dan Transylvania dari Kerajaan Ottoman. Pengaruh Ottoman semakin kecil hingga pada 1923 hilang sama sekali.

Pertempuran Wina

Dilansir dari buku karya Caroline Finkel, 'Osman's Dream: The Story of The Ottoman Empire 1300-1923', Sultan Turki Usmani saat itu, Sultan Mehmed IV, tidak sepenuhnya setuju dengan aksi militer ke Wina. Soalnya sudah ada Perjanjian Damai Vasvar 1664 sebelumnya, antara Turki Usmani-Dinasti Habsburg. Kaum ulama juga tidak setuju dengan invasi militer ke Wina. Di mata Sheikhul Islam, penyerangan ke Wina tidak sah.

Namun Kara Mustafa sudah sangat ingin melakukan penyerangan. Dia mulai melebih-lebihkan cerita bahwa wilayah perbatasan di Barat sana sudah tidak aman, demi meyakinkan Sultan agar setuju dengan aksi militer ke Wina.

Meninggalkan segala pro-kontra, serdadu Turki Usmani tetap berangkat ke Wina. Kepanikan melanda para ningrat Dinasti Habsburg begitu tahu pasukan Turki sudah mendekat ke Wina. Penguasa Kekaisaran Suci Roma, Leopold I dan keluarganya harus mengungsi dari Wina ke Passau, Jerman. Pasukan Turki Usmani sampai di Austria dan mengepung Wina pada 17 Juli hingga 12 September 1683.

Sultan Mehmed IV yang sedang berada di Beograd (saat ini Ibu Kota Serbia) terkejut dengan kenekatan Kara Mustafa Pasha Sang Wazir Agung. Dia heran bagaimana bisa Kara Mustafa melancarkan invasi tanpa mengindahkan sikap Sultan dan ulama. Namun Sultan juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Pasukan Kara Mustafa mengepung benteng Wina dari segala sisi, namun Wina menolak untuk menyerah. Benteng dibombardir. Sebulan kemudian, pasukan Kara Mustafa bisa menerobos benteng pertahanan Wina.

Pasukan Persemakmuran Polandia-Lithuania bekerja sama dengan Dinasti Habsburg mempertahankan Wina. Bavaria juga mengirim pasukan. Untuk sementara waktu ini, seolah-olah ada persatuan melawan musuh bersama dengan motif agama. Bahkan pihak Saxon yang beragama Kristen Protestan juga mengirim pasukan. Begini jumlah pasukan yang berhadapan:

Pihak Wina (dipimpin Raja Polandia, John III Sobieski)
- Jumlah pasukan: 90 ribu
- Terdiri dari pasukan Austria di kiri, Jerman di tengah, dan pasukan Persemakmuran Polandia-Lithuania di kanan
Vs
Pihak Turki (dipimpin Kara Mustafa)
- Jumlah pasukan: 140 ribu
- Terdiri dari pasukan Turki, Moldavia, Wallachia, dan Tatar

Meski jumlah pasukan Turki Usmani lebih besar, namun mereka kalah. Pasukan di bawah panji-panji Aliansi Suci yang membela Kekaisaran Suci Roma, menang.

Sultan Mehmed IV di Beograd marah besar mendengar kabar kekalahan pasukan Kara Mustafa yang telah menghambur-hamburkan nyawa manusia. Sultan mengirim surat ke Kara Mustafa supaya cepat balik ke Beograd, namun Kara Mustafa tak langsung pulang dengan alasan sakit. Orang-orang di sekitar Sultan kemudian menghasut Sultan agar menghukum mati Kara Mustafa.

Hari Natal, 25 Desember 1683 di Beograd. Saat itu adalah momentum eksekusi mati Sang Pemimpin Pengepungan Wina yang gagal itu, Wazir Agung Merzifonlu Kara Mustafa Pasha.

Ini bukan pemenggalan biasa. Eksekusi mati orang sekelas Wazir Agung (Grand Vizier) dilakukan dengan cara khusus, yakni dicekik dengan tali sutera.

Eksekusi Merzifonlu Kara Mustafa Pasha

Kata-kata terakhirnya ada berbagai versi legenda. Henry Elliot Malden menyebut kata-kata terakhir 
Kara Mustafa adalah, "Pastikan dulu kamu mengikatkan talinya dengan benar, ya." Versi lain menyebut kata-kata terakhir Kara Mustafa adalah, "Apa aku akan mati? Sesuai kehendak Tuhan."

Tubuh Kara Mustafa dikubur di halaman masjid seberang istana Beograd. Kepala Kara Mustafa dibawa ke Istanbul untuk dikuburkan di Grand Bazaar. Ada versi lain sebagaimana dituliskan Hywell Williams, kepala Kara Mustafa dibawa di atas piring perak.

Sumber : https://news.detik.com, https://mediaindonesia.com,

0 komentar:

Post a Comment