Sabtu, 24 Juli 2021

KISAH DARI TANAH PASUNDAN!!! Percintaan Sangkuriang dan Dayang Sumbi Berakhir Tragis

 
    Kisah mitologi yang tidak kalah menariknya adalah kisah yang bersasal dari tanah pasundan yang menceritakan tentang percintaan tokoh Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang ternyata setatus mereka adalah anak dan ibu. Berikut ini adalah kisahnya. 

Diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, lalu Sang Hyang Tunggal mengutuk mereka dan menurunkan ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan (celeng) yang bernama Celeng Wayung Hyang (atau Wayungyang), sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing dengan nama Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi dewa-dewi kembali.

Suatu hari, Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu bersama dengan para pengawalnya. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air seni sang raja tertampung dalam batok kelapa. Celeng Wayung Hyang yang merupakan jelmaan sang dewi yang tengah bertapa sedang kehausan. Ia kemudian melihat air yang tanpa diketahuinya adalah air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja yang tidak menyadari bahwa bayi itu adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa ke keraton oleh Raja dan diberi nama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.

Dayang Sumbi sangat bersedih mengetahui kenyataan bahwa para pangeran, raja dan bangsawan yang ditolaknya saling melakukan peperangan untuk memperebutkannya. Dia pun memohon kepada Raja Sungging Perbangkara untuk mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah balai-balai. Karena Dayang Sumbi sulit untuk mengambilnya, dia pun berjanji bahwa siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh, bila laki-laki akan dijadikan suaminya, dan jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Ternyata Si Tumang yang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Karena telah berjanji maka Dayang Sumbi pun menepati janjinya untuk menjadikan Tumang sebagai suaminya.

Karena kejadian tersebut diketahui  oleh Raja, maka Dayang Sumbi di asingkan ke hutan dan hanya ditemani olehTumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa. Dayang Sumbi mengira ia bermimpi ketika bercumbu dengan seseorang  yang tidak lain adalah wujud asli si Tumang. Setelah kejadian itu Dayang Sumbi hamil dan akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang kemudian tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.

Suatu hari Dayang Sumbi ingin makan hati menjangan (rusa), maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak tampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang, yang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri, maka si Tumang tidak mau menuruti perintah itu.

Karena kesalnya Sangkuriang kemudian menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panahnya terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk oleh anak panah. Sangkuriang menjadi bingung karena tidak memperoleh hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Oleh Sangkuriang, hati si Tumang itu diberikannya kepada Dayang Sumbi, yang kemudian dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang. Maka Dayang Sumbi pun marah kepada Sangkuriang, kemudian dayang sumbi  memukul kepala Sangkuriang dengan centong (sendok nasi) yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka.


Karena kesakitan dan ketakutan, Sangkuriang akhirnya lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya, berusaha mencari Sangkuriang ke hutan dan memanggil-manggil serta memohonnya untuk segera pulang. Akan tetapi Sangkuriang telah pergi jauh. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti dan banyak menimba ilmu. Setelah beberapa tahun, Sangkuriang telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa.

Sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah Sangkuriang di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi berada. Namun Sangkuriang tidak mengenali bahwa wanita cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun awalnya tidak menyadari bahwa lelaki tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu Dayang Sumbi dan Sangkuriang itu saling bermesraan. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, Dayang Sumbi melihat tanda luka di kepala Sangkuriang. Dayang Sumbi menanyakan asal luka itu kemudian ia mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya. Dayang Sumbi pun menceritakan kepada Sangkuriang bahwa dia adalah ibunya.

Walaupun Sangkuriang telah mengetahui bahwa wanita cantik itu adalah ibunya, ia tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka Dayang Sumbi menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung aliran Sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya karena sangkuriang memiliki kesaktian yang diperolehnya dari banyak guru.

Sangkuriang mulai bekerja, dibuatlah perahu dari sebuah pohon besar yang tumbuh di sebelah timur. kelak, tunggul atau pangkal pohon itu berubah menjadi gunung yang bernama Bukit Tunggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan kelak menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), lewat tengah malam bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi lalu membentangkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya) di atas bukit di timur, sehingga kain putih itu tampak bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur.

Sementara itu ia pun berulang-ulang memukulkan alu ke lesung, seolah-olah sedang menumbuk padi. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang pun ketakutan karena mengira hari mulai pagi, mereka lalu lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Dengan demikian pembuatan bendungan pun tidak terselesaikan. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Perahu yang telah dikerjakannya dengan bersusah payah lalu ditendangnya ke arah utara dan jatuh menangkup menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Di puncak kemarahannya, dinding bendungan yang berada di sebelah barat dijebolnya, kelak lubang tembusan air Citarum ini dikenal sebagai Sanghyang Tikoro. Sumbat aliran Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali, bekas danau ini kelak menjadi lokasi Kota Bandung.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi karena marah dan merasa dicurangi. Dayang Sumbi berlari menghindari kejaran Sangkuriang yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Itulah kisah tentang Sangkuriang yang juga merupakan legenda asal mula gunung tangkuban perahu. Kisah ini dulu merupakan salah satu legenda yang terkenal dikalangan anak-anak. Namun kini anak-anak lebih suka bermain smartphone mereka daripada membaca seperti anak-anak zaman dulu. Semoga kisah ini menjadi pengetahuan baru tentang legenda yang pernah terjadi di daerah Lembang sekitar 30 km dari kota Bandung.

Penyusun        : Riskyrito

Penyunting      : Argha Sena

Referensi       

  1. popmama.com
  2. ppid.bandung.go.id
  3. wikipedia.org



0 komentar:

Posting Komentar