Kamis, 19 Agustus 2021

SEJARAH DUNIA #003 : SEPERTI APA BIDANG SOSIAL MASYARAKAT ORIENTAL KUNO?

Pembangunan Piramid Mesir Kuno

Tidak ada yang namanya demokrasi pernah eksis di Oriental Kuno. Masyarakat umum tidak pernah berbagi dalam pemerintahan sebagai pemilik suara dan pembuatan hukum; mereka hanya mengenal aturan monarki. Raja, terutama di Mesir, di anggap sebagai perwakilan dewa di bumi. Bahkan selama masa hidup firaun, kuil-kul dibangun untuk firaun dan persembahan diberikan untuk firaun yang mulia. Keyakinan dalam keilahian raja sampai pada kesimpulan bahwa raja (firaun) pantas mendapatkan kepatuhan yang tidak perlu diragukan lagi dari subyek-subyeknya. Karena itu raja adalah seorang otokrat yang menjalankan otoritasnya secara absolut dan tanpa tanggung jawab. Ia mempunyai banyak tugas. Ia adalah seorang hakim, komandan, dan pendeta tinggi. Dalam masa perang, ia memimpin pasukannya dan menghadapi bahaya medan pertempuran. Selama masa damai, ia sibuk dengan pengorbanan, berdoa, dan prosesi, yang tidak bisa dihilangkan tanpa membangkitkan kemarahan para dewa. Ia menemui punggawa secara teratur, mendengarkan keluhan, menyelesaikan perselisihan, dan mengeluarkan perintah. Seorang monarki teliti dan hati-hati, seperti Hammurabi, yang mendekripsikan dirinya sebagai “seorang ayah sejati bagi rakyatnya,” pasti menjadi orang yang sangat sibuk.

Monarki Oriental selalu mempertahankan istana yang mewah. Kemewahan Ramses II, Solomon, Sennacherib, Nebuchadnezzar, memesonakan jaman mereka. Kemewahan kerajaan mencapai puncaknya dengan Raja Agung Persia. Ia tinggal di istana yang sangat mewah. Ketika ia menemui para bangsawan, ia duduk di tahta yang terbuat dari emas dan gading. Ketika ia melakukan perjalanan, bahkan pada ekspedisi militer, ia membawa serta furniture yang sangat mahal, alat makan dari emas dan perak, dan jubah-jubah yang cantik. Disekelilingnya ada ratusan pelayan, pengawal, dan para pejabat. Setiap orang yang mendekatinya harus bersujud. “Apapun yang ia perintahkan, mereka harus melakukannya. Jika ia menginginkan mereka berperang, satu melawan yang lainnya, mereka akan melakukannya; jika ia mengirim mereka untuk melawan musuh-musuhnya, mereka pasti pergi, dan meruntuhkan banyak orang Yahudi. Semua cerita ini bisa dilihat dalam Perjanjian Lama.

Tidak lebih awal daripada runtuhnya Assyria, kita mendapati sebuah bangsa baru dan hebat menekan masuk ke Asia Barat. Mereka adalah bangsa Persia, yang merupakan kerabat dekat bangsa Medes, dan berbicara bahasa Indo-Eropa. Penguasa Persia hebat yang dikenal dalam sejarah adalah Cyrus Agung (553-529 S.M.) yang menyatukan Persia dan Medes di bawah kekuasaanya dan kemudian menaklukan kerajaan Lydia di Asia Kecil. Ia juga menaklukan Babylonia. Orang-orang buangan Yahudi di sana sekarang diijinkan Kembali ke tanah kelahiran mereka. Anak Cyrus Agung , Cambyses, menguasai Mesir. Pengganti Cambyses, Darius Agung (521-485 S.M.), memasukan India Barat Laut ke dalam kekuasaan Persia, bersama dengan beberapa wilayah di Eropa. Sekarang tanpa alasan Darius mendeskripsikan dirinya dalam sebuah inskripsi sebagai “Raja Agung, raja dari para raja, raja dari banyak Negara, raja semua manusia.”

Makam Raja Darius

Kekaisaran Persia memperluas kekuasaannya yang sangat luas. Atas wilayah timur dan barat jaraknya hampir tiga ribu mil’ atau lebih daripada jarak antara New York dan San Fransisco. Jarak antara batas utara dan selatan sangat jauh. Dengan pengecualian Arabia, yang Persia tidak ingin taklukan, Timur Dekat dari Indus hingga ke Danube dan Nil berhasil dikuasai Raja Agung.

Darius berhasil mewujudkan pemerintahan yang stabil sehingga mampu melakukan banyak penaklukan. Masalah menjadi sulit karena Persia telah menaklukan banyak bangsa dengan ras, bahasa, adat-istiadat, dan agama berbeda. Darius tidak berusaha menyatukan mereka menjadi satu kesatuan. Selama Negara-negara jajahannya  membayar upeti dan menyediakan tentara, mereka diijinkan mengatur urusan mereka sendiri dengan sedikit campur tangan. Seluruh kekaisaran, kecuali Persia, dibagi menjadi sekitar dua puluh propinsi, masing-masing dengan gubernur yang bertugas mengumpulkan pajak dan mengepalai angkatan bersenjata propinsi. Darius juga membentuk agen-agen khusus yang bertugas melakukan perjalan ke seluruh kekaisaran dan menginvestigasi tindakan para pejabat kerajaan. Sebagai cara lebih lanjut untuk mempertahankan kekuasaanya, Darius membangun jalan-jalan militer untuk mengerahkan pasukan dan perbekalannya. Jalan kerajaan dari Susa, ibukota Persia, ke Sardin di Lydia panjangnya kira-kira enam ratus mil;  tetapi para kurir pemerintah, dengan menggunakan estafet kuda-kuda baru, bisa menempuh jarak tersebut dalam  seminggu. Sungguh menarik melihat bahwa jalur kereta api saat ini dari Konstatinopel hingga Baghdad sebagian besar menggunakan jalur kuno ini.

Sejarah Oriental bisa dilacak dari masa awalnya sekitar 500 S.M. kita telah melihat bagaimana masyarakat-masyarakat beradab paling awal muncul di lembah Nil dan lembah Tigris-Eufrat; bagaimana pembentukan kekaisaran dimulai; dan bagaimana akhirnya di seluruh Timur Dekat bersatu dalam kekaisaran Persia. Usaha unifikasi hanya bisa dicapai dengan cara yang sangat mengerikan. Catatan-catatan tentang Mesir, Assyria, dan Persia, belum lagi Negara-negara kecil, pegunungan, dinding dan menara. Mereka membunuh dan dibunuh, dan tidak melanggar perintah raja.

Kelas aristokrat atau bangsawan meliputi para pemilik tanah luas, pedagang kaya, dan bankir, dan terutama para pejabat tinggi pemerintahan. Orang-orang ini sering sangat kuat. Jika raja gagal menjaga hubungan baik dengan mereka, mereka mungkin kapan saja akan memberontak dan menurunkan raja dari tahta.  Sejarah Oriental menghubungkan banyak pemberontakan melawan monarki yang berkuasa.

Kelas pendeta juga mempunyai banyak pengaruh. Pendeta melakukan persembahan kuil dan bertindak sebagai perantara antara manusia dan para dewa. Mereka ini seperti cendikiawan yang mengumpulkan tradisi dan legenda kuno dan menyimpannya dalam bentuk tulisan; ilmuwan, yang menginvestigasi rahasia alam; dan guru di sekolah-sekolah yang berhubungan dengan kuil; kependetaan mengumpulkan banyak properti, terutama di Mesir, dimana sekitar sepertiga tanah yang bisa ditanami berada di bawah kendali mereka.

Kelas menengah meliputi pemilik toko besar dan orang-orang profesional  seperti dokter, notaris, dan ahli taurat. Walau dianggap inferior, masih ada kesempatan agi mereka untuk naik derajat di dunia. Jika mereka menjadi kaya, mereka berharap bisa  memasuki kependetaan atau bahkan ranking kebangsawanan yang tinggi.

Tidak ada harapan bagi buruh harian. Ia hanya hidup dalam kemiskinan dan terus bekerja keras tanpa akhir. Para tukang batu dan tukang kayu mendapat upah yang jarang cukup untuk makan bagi dirinya dan keluarganya; sementara petani, setelah membayar sewa dan pajak yang mahal, hanya memiliki upah sekedarnya untuk menyambung hidup.

Masyarakat Mesir Kuno

Budak menempati bagian dasar dari piramida sosial. Setiap orang Oriental memiliki budak. Pada awalnya, mereka adalah tawanan perang yang bukannya dibunuh, dipaksa bekerja untuk majikannya. Para penguasa Oriental melakukan ekspedisi militer dengan tujuan mengumpulkan banyak budak “seperti pasir,” kata seorang penulis kuno. Orang-orang yang tidak mampu membayar hutang sering kehilangan kebebasan mereka. Para penjahat kadang-kadang juga dipaksa bekerja sebagai budak. Perlakuan terhadap budak tergantung pada karakter majikan mereka. Majikan yang kejam dan sombong mungkin menjadikan kehidupan sebagai beban bagi para budak. Budak mempunyai banyak pekerjaan. Mereka memperbaiki tanggul, menggali saluran irigasi, membangun kuil dan istana, bekerja di pertambangan, bekerja sebagai pendayung di kapal, dan terlibat banyak pekerjaan rumah tangga. Di Babylonia dan Assyria, dimana kelas budak jauh lebih banyak daripada di Mesir, seluruh struktur kemasyarakatan bergantung pada budak.

Penulis : Riskyrito
Editor  : Argha Sena
Sumber : World History Sejarah Dunia Lengkap Karya HUTTON WEBSTER, PHD

0 komentar:

Posting Komentar