Kamis, 19 Agustus 2021

SEJARAH DUNIA #004 : BEGINILAH BIDANG EKONOMI, RUTE PERDAGANGAN DAN KOMERSIAL ORIENTAL KUNO

Kegiatan Pertanian Masyarakat Mesir Kuno
 BIDANG EKONOMI

        Lembah-lembah yang dialiri air dengan baik dan menghasilkan panen berlimpah seperti lembah Nil dan Eufrat mendorong kehidupan agricultural. Gandum, barley, dan millet adalah tanaman pangan pertama yang ditanam di Mesir atau Babylonia. Ada alasan bagus untuk mempercayai bahwa  tanaman sereal paling penting ini, bersama dengan hewan ternak, diperkenalkan ke Eropa Neolhitikum dari Timur Dekat. Semua metode pertanian digamarkan untuk kita di monumen monumen Mesir. Kita menandainya sebagai petani ketika ia mengolah tanah dengan cangkul atau membajak alur dangkal dengan tongkat berujung tajam. Kita melihat domba sedang digiring melintasi ladang-ladang yang sedang ditanami untuk menginjak-injak benih ke dalam tanah yang lembab. Kita melihat para pekerja dengan sabar mengumpulkan hasil panen dengan menggunakan sabit dan kemudian dengan alat pukul berat memisahkan kulit dari butir-butir biji. Walaupun metode mereka tampak kikuk, para petani kuno menghasilkan panen yang berlimpah. Tanah Mesir dan babylonia tidak hanya menopang populasi yang padat, tetapi juga menyuplai makanan untuk Negara-negara tetangga. Dua wilayah ini adalah lumbung pangan di Timur Dekat.

            Tukang besi, tukang kayu, pemotong batu, tukang tenun, pembuat gerabah, pembuat gelas, dan pengrajin gading, emas dan perak ditemukan disetiap kota Oriental. Hasil dari pengrajin kuno ini sering menunjukan keterampilan luar biasa. Kain linen Mesir sungguh indah dan transparan sehingga dijuluki “udara yang dirajut.” Gelas Mesir, dengan deretan corak warna yang berbeda, sangat dihargai. Karpet, dan permadani babylonia memiliki reputasi tinggi karena keindahan desain dan warnanya.beebrapa seni industrial yang dipraktekan ribuan tahun yang lalu telah dihidupkan kembali di jaman modern.

            Perkembangan seni dan kerajinan menjadi penting bagi para pedagang untuk mngumpulkan produk-produk manufaktur dimana produk-produk ini siap dibeli dan dijual. Kota-kota Babylonia menjadi pasar yang tumbuh pesat. Kerjasama antar pedagang sudah menjadi hal biasa. Kita bahkan belajar tentang perusahaan-perusahaan dagang yang sama sekali berbeda dari perusahaan-perusahaan sekarang. Sungguh, kehidupan bisnis di Babylonia terlihat cukup modern.

Kegiatan Ekonomi Mesir Kuno

            Uang logam pertama kali beredar dalam bentuk cincin dan batangan. Orang-orang Mesir menggunakan kepingan kecil emas atau disebut “sapi emas” karena sekeping emas ini memiliki nilai sama dengan harga seekor sapi dewasa. Mereka harus menimbang uang logam kapan saja pembelian terjadi. Gambaran umum yang terlihat pada monumen-monumen Mesir adalah gambar penimbang dengan alat timbangnya. Kemudian muncul uang logam dengan gambar disertai nilai nyata dan beratnya. Langkah selanjutnya adalah mata uang yang tepat, dimana pemerintah menjamintidak hanya erat koin tetapi juga kemurnian logam. Penghargaan perlu diberikan kepada penemu uang logam yaitu orang-orang Lydia di Asia Kecil, yang negaranya mendapat pasokan logam-logam mulia secara melimpah. Raja Lydia mulai menggunakan uang koin di awal abad ke delapan sebelum Masehi. Orang-orang Yunani yang merupakan tetangga orang-orang Lydia dengan cepat mengadopsi seni uang koin dan memperkenalkan uang koin ini ke Eropa.

Penggunaan uang sebagai media pertukaran secara alami menciptakan system perbankan. Sebuah rumah bank besar, yang didirikan di Babylonia sebelum pemerintahan Sennacherib, melakukan operasinya selama beberapa abad. Ratusan dokumen hukum milik perusahaan ini telah ditemukan di dalam gentong-gentong gerabah besar yang berfungsi sebagai kotak penyimpanan. Kuil-kuil di Babylonia juga menerima uang seabgai deposit dan meminjamkan uang tersebut, seperti yang dilakukan oleh bank-bank modern saat ini. Cara bisnis dan alat-alat kredit Babylonia menyebar melalui Asia Kecil ke Yunani dan kemudian masuk ke Negara-negara Eropa lainnya.

RUTE PERDAGANGAN DAN KOMERSIAL

            Perdagangan, yang selalu menjadi alat yang memungkinkan bangsa-bangsa yang berbeda saling mengenal dan memengaruhi, di masa awal terpajan pada banyak bahaya. Suku-suku liar dan gerombolan-gerombolan perampok memenuhi jalan dan mengharuskan pengelana selalu waspada terhadap serangan suku liar dan perampok ini. Perjalanan melalui laut juga sangat berbahaya. Perahu-perahu berukuran kecil dan mudah terbalik di cuaca buruk. Dengan sebuah perahu dan beebrapa pendayung, perjalanan terasa sangat lambat. Tanpa kompas atau peta, navigator jarang berani masuk ke lautan lepas, ia selalu berusaha sedekat mungkin dengan pantai, matanya selalu waspada dengan bajak laut yang mungkin ingin menguasai perahu dan menjadikan mereka budak. Terlepas dari resiko-resiko ini, manfaat perdagangan asing begitu besar sehingga banyak hubungan tercipta di antar Negara-negara Oriental.

            Orang-orang Mesir, pioneer dibegitu banyak bidang aktivitas kemanusiaan, dipercaya telah membuat kapal yang bisa mengarungi lautan. Di awal abad ketiga belas sebelum masehi, mereka mulai mengarungi bagian timur Mediterania dan melakukan perdagangan dengan Siprus dan Crete, yang letaknya hampir berhadapan dengan mulut sungai Nil, kapal-kapal Firaun dikatakan ebrlayar mengarungi Laut Merah.

Rute Perdagangan Mesir dan Mesopotamia

            Kota-kota di lembah Tigris-Eufrat berada dilokasi yang cocok untuk perdagangan, baik melalui darat maupun laut. Jarak terpendek melalui laut di India mengitari pantai selatan Iran dan, dengan melewati teluk Persia, sampai ke lembah dua sungai. Tidak kalah penting adalah jalan daratan untuk karavan dagang dari India dan China. Jalan-jalan ini menuju Babylonia dan Nineveh dan kemudian ebrpencar ke arah barat menuju Asia Kecil, Syria, Phoenicia, Palestina, dan Mesir. Semua rute ini telah menjadi arteri perdagangan dari masa prasejarah. Banyak dari jalan ini masih digunakan saat ini.

            Bangsa Semit, Phoenicia, sudah biasa mengarungi laut Mediterania sekitar  1000 S.M. rute perairan Phoenicia segera meluas hingga  ke Siprus kemudian ke Crete, lalu ke pulau Aegean, dan akhirnya ke pantai-pantai Laut Hitam.ketika orang-orang Phoenicia di usir dari wilayah-wilayah ini oleh kekuatan Negara-negara Yunani yang bertambah kuat, mereka berlayar lebih jauh ke barat dan mendirikan pos perdagangan di Sisilia, Sardinia, Afrika Utara, dan Spanyol. Akhirnya mereka melewati selat Gibraltar masuk ke Atlantik dan sampai ke pantai-pantai barat Eropa dan Afrika.

            Orang-orang Phoeniciab memperoleh sejumlah besar aneka produk sebagai hasil dari perjalanan dagang mereka. Tambang di Spanyol menghasilkan besi, timah dan perak. Timah, yang sangat berharga karena kegunaannya dalam membuat perunggu, tampaknya telah dibawa dari bagian barat daya Inggris (Cornwall), dimana tambang-tambang logam ini masih produktif. Dari Afrika dihasilkan gading , bulu burung onta , dan emas; dari Arabia, yang juga dikunjungi oleh orang-orang Phoenicia, dihasilkan parfum dan rempah-rempah bernilai tinggi. Komoditas-komoditas ini siap dijual ke seluruh Timur Dekat. Sementara itu produk-produk lainnya diimpor secara langsung masuk ke Phoenicia yang tumbuh pesat. Karpet dan peralatan dari kaca yang luar biasa indah, karya perak dan perunggu yang artistik, dan kain-kain ungu cantik yang dihasilkan di pabrik-pabrik di Phoenicia di ekspor ke seluruh bagian dunia.

            Orang-orang Phoenicia adalah pelaut pemberani. Ebebrapa perjalanan jauh mereka masih tersimpan dalam sejumlah catatan. Kita tahu dari perjanjian lama bahwa mereka telah mengarungi Laut Merah dan Samudra Hindia dan membawa emas Ophyr, “empat ratus dua puluh talen,” untuk Solomon. Bahkan ada cerita tentang orang-orang Phoenicia yang dengan petunjuk seorang raja Mesir, mengeksplorasi pantai timur Afrika, mengitari tanjung harapan, dan setelah tiga tahuntidak berlayar, mereka kembali ke Mesir melalui Selat Gibraltar. Cerita yang lebih hebat mungkin cerita tentang perjalanan laut Hannon, seorang laksamana Carthaginian.

Kita masih memiliki terjemahan bahasa Yunanib dari buku perjalanan Laksamana Hannon yang sangat menarik ini. Buku ini menggambarkan sebuah  ekspedisi yang dilakukan sekitar 500 S.M. sepanjang pantai barat  Afrika. Para penjelajah ini tampaknya telah mengarungi laut sejauh teluk Guinea. Hampir dua ribu tahun telah berlalu sebelum para pelaut Portugis melakukan perjalanan laut serupa menuju Benua Hitam.

Kemanapun orang-orang Phoenicia pergi, mereka mendirikan pemukiman.sebagian besa pemukiman ini berupa pos-pos perdagangan yang memiliki banyak gudang untuk menyimpan barang-barang. Disini orang-orang pribumi yang pemalu datang untuk menukarkan barang mentah mereka dengan produk-produk jadi, seperti kain, peralatan, senjata, anggur dan minyak yang dibawa oleh orang-orang asing dari timur. Pemukiman Phoenicia kadang-kadang tumbuh menjadi kota besar. Gades di Spanyol selatan, yang merupakan koloni terjauh mereka, masih bertahan hingga saat ini sebagai kota Cadiz, salah satu dari kota-kota tertua di Eropa. Charthage, yang didirikan di Afrika Utara oleh para kolonis dari Tyre, menjadi kota perdagangan di Mediterania barat. Sejarah Carthaginian, sebagaimana yang kita ketahui, memiliki banyak titik kontak dengan orang-orang Yunani dan Roma.

Penulis : Riskyrito
Editor  : Argha Sena

Sumber : World History Sejarah Dunia Lengkap Karya HUTTON WEBSTER, PHD

0 komentar:

Posting Komentar