Selasa, 24 Agustus 2021

SEJARAH DUNIA #006 : BAGAIMANA DENGAN AGAMA MASYARAKAT ORIENTAL KUNO???

 

Dewa dan Dewi Mesir Kuno

            Ide-ide agama Oriental, lebih daripada hukum dan moralitas,berasal dari keyakinan-keyakinan yang muncul di jaman prasejarah. Dimana saja persembahan pada alam lebih unggul. Surge, bumi dan samudera dan matahari, bulan, dan bintang semuanya dianggap sebagai keilahian diri mereka sendiri atau sebagai tempat tinggal keilahian. Matahari menjadi objek yang dipuja secara khusus. Kita mendapati dewa matahari, di bawah beberapa nama berbeda, diseluruh Oriental.

   Orang-orang Mesir, yang sangat konservatif dalam masalah agama, selalu mempertahankan persembahan binatang yang dulu dilakukan oleh leluhur barbar mereka. Beberapa dewa diwakili dalam monumen-monumen yang sebagian dalam bentuk binatang; ada dewa yang memiliki kepala Baboon, dewa lainnya yang memiliki kepala singa betina, yang lainnya memiliki kepala kucing. Binatang-binatang seperti serigala, sapi, biri-biri jantan, elang dan buaya juga juga mendapat penghormatan tertinggi, namun lebih sedikit digunakan seabgai symbol dewa-dewa yang berbeda.

Di Babylonia dan Assyria sebuah keyakinan tentang eksistensi spirit jahat membentuk ciri utama agama. Orang-orang menganggap diri mereka secara terus-menerus dikelilingi oleh setan-setan, yang menyebabkan kegilaan, penyakit, kecelakaan, dan kematian-semua penyakit manusia.

Untuk menghadapi musuh-musuh spiritual ini, orang-orang Bagylonia menggunakan sihir. Ia membuat citra berupa dewa pelindung di pintu masuk rumahnya dan menggunakan mantra pada dirinya. Jika ia jatuh sakit, ia memanggil seorang penyihir untuk membacakan mantera yang akan mengusir setan keluar dari dalam tubuhnya.

Orang-orang Babylonia memiliki banyak cara dalam memprediksi masa depan. Para peramal meramalkan dari mimpi dan dari banyak peran. Tanda-tanda tentang kemakmuran dan penderitaan juga diperoleh dari tampilan isi perut binatang yang disemelih untuk kurban. Untuk tujuan ini hati domba sering digunakan. Ramalan melalui hati binatang dipelajari selama berabad-abad di sekolah-sekolah kuil di Babylonia. Praktik semacam ini kemudian menyebar ke Yunani dan Roma.


    Astrologi mendapat banyak perhatian di babylonia. Lima planet, demikian juga komet dan gerhana, dianggap memiliki pengaruh untuk kebaikan atau kejahatan pada kehidupan manusia. Astrologi Babylonia menyebar hingga ke wilayah barat dan menjadi populer di sebagian besar wilayah Eropa. Ketika kita menyebut nama-nama hari seperti Saturday (sabtu), Sunday (minggu), dan Monday (senin), kita tanpa sadar adalah astrolog, karena menurut keyakinan kuno hari pertama milik planet Saturn (saturnus), hari kedua milik sun (matahari), dan hari ketiga milik moon (bulan). Orang-orang yang mencoba membaca nasib mereka pada bintang-bintang sebenarnya sedang mempraktikan sebuah seni yang berasal dari Babylonia.

Di tengah-tengah begitu banyak kedewaan alam, binatang suci dan spirit jahat, sungguh mengagumkan bahwa keyakinan pada satu tuhan mulai muncul. Dan beberapa pemikir Mesir mencapai ide keilahian utama tunggal. Salah satu Firaun Mesir, Amenhotep IV (sekitar 1375-1358 S.M.), yang melihat matahari sebagai sumber utama semua kehidupan di bumi, memerintahkan semua rakyatnya untuk menyembah matahari. Nama-nama dewa lainnya dihapus dari monumen-monumen, gambar-gambar mereka dihancurkan, kuil-kuil mereka ditutup, dan pendeta-pendeta mereka diusir. Tidak ada keyakinan begitu tinggi semacam ini yang pernah ada sebelumnya, tetapi ini terlalu abstrak dan impersonal untuk menjadi populer. Setelah kematian raja, keilahian lama dikembalikan ke tempat terhormat.


    Orang-orang Medes dan Persia menerima ajaran agama Zoroaster, seorang nabi besar yang kehidupannya sangat beragam antara 1000 dan 700 S.M. Menurut Zoroaster, Ahuramazda, dewa surge, adalah pembuat dan penegak alam semesta ini. Ia adalah dewa cahaya dan keteraturan, dewa kebenaran dan kemurnian. Lawan dari dewa Ahuramazda adaah Ahriman, personifikasi dari kegelapan dan kejahatan. Kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan ini terlibat dalam perselisihan abadi. Manusia, yang melakukan kebaikan dan menghindari keburukan, yang mencintai kebenaran dan membenci kepalsuan, bisa membantu kebaikan menang atas kejahatan. Pada akhirnya Ahuramazda akan mengalahkan Ahriman dan akan berkuasa atas dunia yang baik. Zoroastrianisme adalah satu-satunya agama monotheis yang dikembangkan oleh orang-orang Indo-Eropa. Agama ini masih berrtahan hidup dibeberapa bagian Persia, walaupun Negara ini sekarang utamanya menganut agama Islam, dan juga di antara orang-orang Parsae (Persia) di Bombay, India.

Orang-orang Yahudi, bangsa Semit, juga mengembangkan sebuah agama monotheis. Perjanjian lama menunjukan bagaimana agama ini muncul. Jehovah pada mulanya dianggap oleh orang-orang Yahudi seabgai tuhan bangsa mereka sendiri; mereka tidak membantah keberadaan tuhan-tuhan milik bangsa lain, walaupun orang-orang Yahudi menolak untuk menyembahnya. Para Nabi, dari abad kedelapan belas dan seterusnya, mulai mengubah konsepsi terbatas dan sempit ini. Bagi orang-orang Yahudi, Jehovah adalah tuhan bagi seluruh dunia, Bapa semua umat manusia. Setelah orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dari tahanan di Babylonia, keyakinan para Nabi yang menyublim secara perlahan menyebar ke seluruh bangsa, memuncak dalam doktrin Jesus bahwa Tuhan adalah sebuah spirit dan bahwa mereka yang menyembah Jesus harus menyembah dalam spirit dan dalam kebenaran. Doktrin Tuhan Kristen secara langsung tumbuh dari monotheisme Yahudi.

Orang-orang Mesir dan juga bangsa-bangsa kuno lainnya percaya bahwa manusia memiliki jiwa yang tetap hidup dari tubuh yang sudah mati. Namun demikian, mereka menganggap perlu untuk melindungi tubuh dari kehancuran, sehingga tubuh tetap ada hingga akhir jaman. Karena itulah muncul praktik-praktik pembalseman. Mayat yang dibalsem (mumi) kemudian diletakkan di dalam makam, yang orang-orang Mesir sebut sebagai “rumah abadi.” Pikiran orang Mesir mewakili masa datang sebagai tempat penghargaan dan hukuman, dimana, seperti yang telah kita pelajari, ruh mengalami siksaan dari pengadilan terakhir. Karena manusia hidup dalam kehidupan ini, maka ia juga akan hidup di kehidupan berikutnya. Orang-orang Babylonia beranggapan bahwa setelah kematian ruh manusia, baik atau buruk, melewati eksistensi tanpa keceriaan di neraka yang muram. Ide orang-orang Yahudi awal tentang Sheol, “tanah kegelapan dan bayangan kematian,” sangat mirip dengan ide orang-orang Babylonia. Pemikiran tentang kehidupan masa datang tidak meninggalkan apa-apa bagi rasa takut atau harapan. Orang-orang Yahudi percaya dengan kebangkitan orang mati dan pengadilan terakhir, gambaran yang diambil oleh orang-orang Kristen.

Penulis : Riskyrito
Editor  : Argha Sena

Sumber : World History Sejarah Dunia Lengkap Karya HUTTON WEBSTER, PHD

0 komentar:

Posting Komentar