Selasa, 24 Agustus 2021

SEJARAH DUNIA #007 : BEGINILAH KESUSASTERAAN, SENI, DAN SAINS YANG BERKEMBANG PADA MASYARAKAT ORIENTALKUNO

Seni Musik Zaman Mesir Kuno

KESUSASTERAAN DAN SENI

            Agama menginspirasi sebagian besar kesusasteraan Oriental. Book of the Dead orang Mesir patut dimuliakan di 2000 S.M. Buku ini berupa kumpulan frase Hymne, doa, dan sihir yang dibaca oleh ruh dalam perjalanannya melampaui tanah makam dan tanah ruh. Seuah bab dari buku ini biasanya mencakup bagian dalam peti mumi, atau peti mati.

            Hal yang jauh lebih menarik adalah dua epik Babylonia, bagian-bagian dari epik ini telah ditemukan pada lembaran-lembaran tanah liat diperpustakaan kerajaan Nineveh. Epik penciptaan (Creation) menceritakan bagaimana dewa Marduk mengatasi seekor naga mengerikan, simbol kekacauan utama, dan kemudian mewujudkan ketertiban di alam semesta. Dengan separuh tubuh naga yang mati ia membuat pelindung untuk surge dan memasang bintang-bintang dipelindung surga ini. Karya terakhirnya adalah penciptaan manusia agar pelayanan dan penyembahan pada para dewa bisa diwujudkan selamanya. Epik kedua berisi penjelasan tentang Delude, yang dikirim oleh para dewa untuk menghukum manusia berdosa. Hujan turun siang dan malam selama enam hari dan membenamkan seluruh bumi. Semua orang tenggelam kecuali Nabi Nuh, keluarganya, dan kerabatnya yang naik perahu dengan aman. Naratif kuno ini begitu menyerupai cerita Injil dalam Genesis bahwa kedua naratif ini pasti berasal dari sumber yang sama.

            Buku-buku suci bangsa Yunani, yang kita namakan Perjanjian Lama, meliputi hampir setiap jenis kesusasteraan. Sejarah menyedihkan, cerita menarik, puisi-puisi sangat indah, peribahasa bijaksana, dan nubuat mulia ditemukan dalam koleksi buku ini. Pengaruh Perjanjian Lama pada orang-orang Yahudi begitu dalam. Melalui orang-orang Yahudi, Perjanjian Lama juga berpengaruh pada dunia Kristen selama abad kesembilan belas. Kita pasti tidak salah menganggap karya ini sebagai kontribusi tunggal paling penting yang dibuat oleh bangsa atau orang-orang kuno bagi peradaban.

           

        Kekayaan dan keterampilan orang Mesir tidak dicurahkan dalam pembangunan rumah-rumah pribadi yang mewah atau gedung-gedung publik yang sangat indah. Karya karakteristik arsitektur Mesir berupa makam-makam raja dan kuil-kuil dewa. Bahkan reruntuhan struktur bangunan ini membuat pengamat terkesan pada ukuran yang luar biasa besar, soliditas, dan kemegahan. Seperti piramid, bangunan-bangunan ini tampaknya dibuat untuk selamanya.

        Arsitektur bangsa-bangsa Tigris-Eufrat sangat berbeda dari arsitektur bangsa Mesir, karena mereka menggunakan batu bata, bukannya batu seperti di Mesir, sebagai material bangunan utama. Di Babylonia sebagian besar struktur karakteristiknya berupa kuil. Kuil ini berupa menara persegi empat, dan solid, menjulang tinggi dalam tingkatan-tingkatan (biasanya tujuh tingkat) hingga ke puncak, dimana dewa kuil berdiri. Tingkatan-tingkatan yang berbeda dihubungkan dengan jalan naik yang berputar. Kuil-menara ini pasti telah menjadi obyek yang sangat mencolok mata di dataran Shinar. Keberadaan kuil-kuil ini memunculkan cerita Yahudi tentang “Menara Babel” (atau Babylon). Di Assyria sebagian besar struktur karakteristiknya berupa istana. Batu bata yang dijemur di bawah sinar matahari digunakan sebagai bahan utama untuk membuat istana, sehingga daya tahannya tidak sekuat batu.

            Contoh struktur pahatan Mesir yang masih ada terdiri dari relief-relief timbul dan figure-figur yang diukir pada abut kapur dan granit atau dicetak dengan perunggu. Walau banyak patung ini terlihat kaku bagi mata kita, patung-patung lainnya terlihat sangat hidup. Beberapa relief timbul Assyria juga menunjukan perkembangan rasa artistik yang cukup bagus, terutama dalam representasi binatang.

            Lukisan tidak mencapai martabat sebagai seni independen. Lukisan hanya digunakan untuk tujuan dekoratif. Relief timbul dan permukaan dinding sering dicat dengan warna cerah. Senian tidak memiliki pengetahuan tentang perspektif dan menggambar semua figurnya dalam profil, tanpa perbedaan cahaya dan bayangan. Sungguh, lukisan Oriental, dan juga pahatan Oriental, memhuat sedikit pretensi pada keindahan. Keindahan dilahirkan ke dunia dengan seni orang-orang Yunani.

SAINS

            Kemajuan mencolok terjadi pada ilmu eksakta. Manuskrip-manuskrip Mesir sangat kuno berisi masalah-masalah aritmatika dengan pecahan-pecahan dan juga seluruh angka, dan teori-teori geometri untuk menghitung kapasitas gudang dan area ladang. Sebuah table Babylonia menampilkan bentuk-bentuk persegi empat dan kubus yang secara tepat dihitung dari 1 hingga 60. Angka 12 adalah dasar dari semua perkiraan. Pembagian lingkaran menjadi derajat, menit, dan detik (360◦,60’,60”) adalah sebuah alat yang mengilustrasikan sistem duodesimal ini. Erat dan ukuran juga berkembang pesat di antara orang-orang babylonia.

           

         Langit tak berawan dan tenang, malam hangat di lembah sungai besar memantik munculnya penelitian astronomi. Sebelum 4000 S.M. orang-orang Mesir berhenti memperkirakan waktu dengan bulan-bulan lunar dan telah menciptakan sebuah kalender solar yang terdiri dari dua belas bulan dengan tiga puluh hari setiap bulannya, dengan lima hari tambahan di akhir tahun. Kalender ini diambil alih oleh orang-orang Roma dan kalender ini sampai kepada kita sekarang ini. Orang-orang Babylonia membaut kemajuan yang patut dicatat dibeberapa cabang astronomi. Mereka dapat mengetahui jalur matahari melalui dua belas konstelasi zodiac, dapat memebdakan lima planet, dan dapat memprediksi gerhana matahari dan bulan. Kita tidak tahu alat apa yang digunakan orang-orang babylonia untuk observasi hebat mereka ini.

            Seni pertukangan  batu muncul di Mesir di akir millennium keempat S.M. – lebih awal dari tempat lainnya di dunia. Seni  pertukangan batu ini segera menghadirkan piramid agung, struktur batu terbesar yang pernah dibangun dijaman kuno atau (hingga saat ini) di jaman modern. Orang-orang Mesir juga merupakan orang pertama yang mempelajari bagaimana membuat bangunan dengan aula luas, yang atapnya ditopang deretan kolom. Bagian atas yang berisi jendela-jendela, membuat cahaya bisa masuk ke bagian dalam aula. Kolom, deretan panjang pilar dan dinding tinggi dengan bagian atasnya dilengkapi jendela-jendela besar, sebagai penemuan arsitektural, diadopsi oleh ahli bangunan Yunani dan Roma, dan mereka menurunkannya diabad pertengahan dan Eropa modern. Eropa berhutang pada orang babylonia dalam membuat kubah bundar dan melengkung, seabgai cara meletakan dinding atau atap di atas sebuah void (ruang kosong antara lantai bawah dan lantai atas). Baik di Mesir maupun di Babylonia pemindahan batu-batu besar dalam membuat monumen menunjukan pengetahuan tentang tuas, puli, dan bidang miring.

            Bangsa-bangsa Oriental melakukan sebuah kemajuan dalam bidang kedokteran. Perawatan-perawatan medis yang ditemukan di Mesir membedakan berbagai jenis penyakit dan mencatat gejala-gejalanya. Para ahli obat menunjukan kesatuan ukuran yang merupakan hasil ciptaan orang Mesir. Dimasa awal pemerintahan Hammurabi, ada dokter dan ahli bedah di Babylonia. Seni penyembuhan, namun demikian, selalu banyak bercampur dengan sihir, seperti halnya astronomi, studi ilmiah tentang surga yang dikelirukan dengan astrologi.

            Sekolah, baik di Mesir dan Babylonia, digabungkan dengan kuil dan dikelola oleh pendeta. Membaca dan menulis menjadi mata pelajaran utama. Pendidikan berlangsung selama bertahun-tahun untuk menguasai simbol-simbol baji (runcing) atau hieroglif yang lebih sulit. Setelah belajar membaca dan menulis, murid siap memasuki karir sebagai ahli menulis. Ketika orang ingin mengirim sebuah surat, ia bisa minta bantuan seorang ahli menulis untuk menuliskan surat, menandainya sendiri dengan membubuhkan stempelnya. Ketika ia menerima sebuah surat, ia biasanya mempekerjakan seorang ahli menulis untuk membacakan surat itu. Ahli menulis juga disibukkan dengan menyalin buku-buku di atas kertas papyrus atau lembaran tanah liat yang berfungsi sebagai alat tulis. Orang Mesir dan Babylonia memiliki perpustakaan, biasanya berdampingan dengan kuil dan di bawah kendali pendeta.

            Sekolah dan perpustakaan ini tidak dibuka secara bebas bagi publik. Sesuai aturan, hanya orang-orang yang bisa bekerja dengan baik yang diterima di sekolah. Orang awam tetap tidak peduli. Ketidakpedulian mereka mencakup ikatan intelektual mereka dengan masa lalu; mereka lambat meninggalkan takhayul dan enggan mengadopsi kebiasaan baru bahkan ketika kebiasaan baru itu jauh lebih baik dari kebiasaan lama. Ketiadaan pendidikan populer, lebih daripada yang lainnya, cenderung membuat peradaban Oriental tidak progresif.

Penulis : Riskyrito
Editor  : Argha Sena

Sumber : World History Sejarah Dunia Lengkap Karya HUTTON WEBSTER, PHD

0 komentar:

Posting Komentar