Rabu, 05 Januari 2022

(EP 06) WALI SONGO: PERINTIS JALAN PENYEBARAN ISLAM DI JAWA

 


Sebelum nusantara kedatangan bangsa-bangsa penjajah kafir barat dari Eropa, wilayah kekuasaan Islam di nusantara hampir mencakup seluruh kepulauan nusantara. Ini terjadi karena ketika itu, peta kekuasaan politik dunia di bawah kekuatan Islam. Oleh karena Islam merupakan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin), tidak mengherankan apabila dalam abad-abad berikutnya, nusantara menjadi target ekspansi wilayah khilafah Islam yang lebih gencar, khususnya dimasa pemerintahan Islam yang berpusat di Turki Utsmani.

Sejarah telah mencatat bahwa misi dakwah Islam yang secara khusus ke tanah Jawa, telah dikirimkan atas perintah Sultan Muhammad I pada tahun 1404 M yang saat itu menjadi penguasa ke khilafahan Turki Utsmani (1394-1421 M). Sultan Muhammad I (Muhammad Jalabi) yang dikenal dalam sejarah sebagai pendiri Daulah Utsmaniyah ke-2, dilahirkan pada 781 H/1379 M dan wafat pada 824 H/1421 M. Sultan Muhammad I diangkat menjadi penguasa pemerintah Utsmani sepeninggal ayahnya, Bayazid I (wafat pada 805 H/1402 M). pada saat memerintah, ia telah ikut terjun dalam 24 pertempuran dan ditubuhnya ada 40 bekas luka.

Demikianlah, betapa teladannya seorang Sultan Muhammad I sebagai pemimpin, beliau tidak hanya menyebarkan dakwah Islam, akan tetapi juga langsung menjadi komandan jihad terdepan dengan memobilisasi umat untuk kepentingan berperang dijalan Allah. Sifat kepemimpinan Islam ini pula yang diwarisi oleh Sultan Muhammad Al-Fatih yang memimpin langsung pasukan perang Islam dalam merebut Konstatinopel. Demikian pula Sultan Fattah, Pati Unus, Sultan Trenggono, maupun Fatahillah dalam memerangi kaum kafir pribumi maupun bangsa kafir Eropa di Jawa dan Malaka.

Dari garis silsilah Muhammad Jalabi, lahirlah Sultan Muhammad II yang kelak menjadi sangat terkenal karena berhasil menaklukkan Konstatinopel pada 1453 M sehingga bergelar Sultan Muhammad Al-Fatih. Atas kehendak Allah, dalam waktu yang hampir bersamaan, di tanah Jawa juga telah lahir Sultan Fattah yang pada tahun 1482 M mendirikan Kerajaan Islam Demak, setelah runtuhnya Majapahit, lalu diiringi serentetan penaklukkan di tanah Jawa.

Pada awalnya, ketika Majapahit mulai mengalami keruntuhan akibat perang paregreg (1404-1406 M), para saudagar Gujarat India menyampaikan perkembangan keadaan di nusantara, khususnya Jawa kepada Sultan Muhammad I di Turki Utsmani. Diantaranya adalah berita bahwa di pulau Jawa ada dua Kerajaan Hindu, yaitu Majapahit dan Padjajaran. Sebagian rakyatnya sudah ada yang beragama Islam akan tetapi masih terbatas pada keluarga pedagang Gujarat dan Tiongkok yang menikah dengan penduduk pribumi, terutama di kota-kota pelabuhan, yaitu Gresik, Tuban, dan Jepara.(Adrian Perkasa, Orang-Orang Tionghoa & Islam di Majapahit)

Setelah khalifah Turki Utsmani, Sultan Muhammad I, mengirimkan surat kepada para penguasa Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah, maka dikirimlah tim dakwah berjumlah sembilan ulama dengan berbagai karomah dan keahlian yang ada pada diri mereka.(H.M. Imam Soenanto, Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Islam)

Oleh karena khilafah Islam Turki Utsmani pada awal abad ke-15 telah menjadi Raja dunia dan mencapai puncak kejayaannya, yang pengaruhnya sampai ke Eropa, Asia, dan Afrika, maka Sultan Muhammad I mengirim banyak duta penyebar Islam ke berbagai penjuru dunia, termasuk nusantara. Sedangkan di Asia Tenggara yang saat itu masa akhir kejayaan Majapahit di bawah Wikromo Wardhono, maka diutus pula sembilan wali ini ke Jawa.

Jalur perjalanan dari Turki ke Gresik ini dapat diperkirakan melalui Gujarat di India. Setelah itu singgah di ujung barat pulau Sumatera, tepatnya di Pasai lalu ke Palembang. Kemudian ke tanah Jawa dengan melalui banten, Sunda Kelapa, Cirebon, rembang, Tuban, hingga sampai ke Gresik. Dalam perjalanan ini para wali mukmin menggunakan kapal layar melewati rute pelayaran dan perdagangan internasional sebagaimana yang telah lazim pada saat itu.

Tidak ada seorangpun di antara mereka yang berasal dari pribumi Jawa asli. Sultan Muhammad I memberangkatkan tim  dakwah ke tanah Jawa yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim dan sampai di Gresik tahun 1404 M. Tim dakwah  yang berjumlah sembilan tokoh inilah yang kemudian dapat disebut Wali Songo angkatan pertama. (Prof. Dr. Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa).

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd

0 komentar:

Posting Komentar