F KISAH TRAGIS AMIR HAMZAH BANGSAWAN MELAYU, PENYAIR SEKALIGUS PERUMUS SUMAH PEMUDA ~ PEGAWAI JALANAN

Minggu, 20 Februari 2022

KISAH TRAGIS AMIR HAMZAH BANGSAWAN MELAYU, PENYAIR SEKALIGUS PERUMUS SUMAH PEMUDA

  


Begitu banyak kisah tragis yang terjadi ketika masa-masa awal kemerdekaan republik Indonesia. Salah satu pahlawan nasional yang menjadi korban dari pulau Sumatra adalah Tengku Amir Hamzah, seorang bangsawan dan penyair yang luar biasa pada masanya. Kejadian tragis itu bemula ketika mulai terbentuknya republik Indonesia sebagai upaya penyatuan pulau-pulau di nusantara dalam satu negara. Pada tanggal 3 Februari 1946 dalam rapat Komite Nasional Indonesia (KNI) di Medan para raja dan sultan di seluruh Sumatera Timur, termasuk Sultan Siak dari Riau sudah menyatakan tekad mendukung dan berdiri di belakang pemerintah Republik Indonesia di hadapan wakil pemerintah yaitu Gubernur Sumatera Mr. Teuku Muhammad Hasan disaksikan oleh Wakil Gubernur dr. Muhammad Amir, Residen Sumatera Timur Tengku Hafaz, Ketua KNI Sumatera Timur Mr. Luat Siregar, Abdul Xarim MS, Muhammad Yusuf, dr. Tengku Mansyur, Tengku Damrah, dan Tengku Bahriun.

Mr. Teuku Muhammad Hasan dalam pidato pembukaan menyampaikan bahwa Undang-Undang Dasar Republik Indonesia mengakui secara resmi pemerintahan raja-raja di Sumatera Timur dan mendesak mereka agar memutuskan hubungan dengan pemerintah Belanda, melakukan proses demokratisasi, dan mendukung pemerintahan Republik Indonesia.  Sultan Langkat Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah mewakili seluruh pemerintah swapraja Sumatera Timur menyampaikan pidato yang berbunyi: “Kami para sultan dan raja-raja di Sumatera Timur telah mengambil keputusan bersama untuk melahirkan sekali lagi itikad kami bersama untuk berdiri teguh di belakang presiden dan pemerintah Republik Indonesia serta turut menegakkan dan memperkokoh Republik Indonesia”.

Musyawarah itu akhirnya melahirkan kesepakatan membentuk panitia bersama untuk mempersiapkan proses demokratisasi di wilayah pemerintahan swapraja Sumatera Timur. Mr. Mahadi dan Muhammad Yunus Nasution dipilih sebagai sebagai ketua dan koordinator, mereka ditugaskan untuk mengawasi jalannya proses pemerintahan di wilayah itu sambil menantikan penggabungan dengan pemerintah republik. Hal ini menunjukkan bahwa kerajaan dan kesultanan yang ada di Sumatera Timur telah bersedia mendukung pemerintahan Republik Indonesia. Mereka menargetkan bahwa pada Mei 1946 pemerintahan yang baru di Sumatera Timur sudah bisa berjalan. Akan tetapi sangat disesalkan kubu radikal mengambil jalan pintas dengan menggerakkan Revolusi Sosial.

Meski kaum aristokrat Sumatera Timur sudah berjanji akan bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia, namun rakyat sudah terlanjur menaruh dendam dan kebencian melihat sikap dan gaya hidup mereka selama ini, yang hidup serba kemewahan dan dituduh telah melakukan penindasan terhadap rakyat. Penguasa Sumatera Timur yang terkenal kaya raya saat itu adalah dari kalangan Melayu yaitu Sultan Langkat dan Sultan Deli.

Sultan Langkat memperoleh kekayaan dari keuntungan usaha perminyakan dan penyewaan tanah perkebunan. Demikian juga Sultan Deli banyak menuai kekayaan dari hasil penyewaan tanah perkebunan tembakau. Slogan-slogan bernada revolusioner kemudian membahana di seantero Sumatera Timur, antara lain berbunyi “Raja-raja penghisap darah rakyat”, “Kaum feodal yang harus dibunuh” dan lagu “Darah Rakyat”. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh kaum berhaluan kiri, khususnya kelompok komunis.

Pada bulan Maret minggu pertama 1946 semangat revolusioner ini berkecamuk di Sumatera Timur. Siapa saja yang menjadi penghambat dan menghalangi jalannya revolusi akan ditangkap. Seluruh elemen organisasi larut dalam suasana revolusi, termasuk organisasi-organisasi Islam. Gerakan revolusi memberikan keleluasaan kepada para aktivis muda dan buruh-buruh pendatang untuk melakukan aksi pergerakan.

Kekerasan pertama terjadi di Sunggal pada tanggal 3 Maret 1946, unit-unit laskar rakyat menyerang markas organisasi PADI (Persatuan Anak Deli Islam) dan Pasukan Ke-V pimpinan dr. F.J. Nainggolan yang berada dekat rumah Datuk Hitam. Di Tanjung Pura tempat kedudukan Sultan Langkat, istana Darul Aman berhasil dikuasai oleh kaum republiken dan menjarah harta berharga yang ada di dalamnya. Mereka juga melampiaskan nafsu bejat mereka kepada dua orang puteri Sultan Langkat.

Putri Sultan Langkat dipaksa melayani nafsu birahi Marwan dan Usman Parinduri. Kebiadaban mereka ini dituliskan oleh Tengku Luckman Sinar, “.....kedua puteri itu meraung kesakitan dan setiap rintihan merupakan pisau sembilu menusuk jantung Sultan yang mendengarnya dari kamar sebelah.” (Kedua pelaku pemerkosa ini kemudian dijatuhi hukuman mati). Istana Darul Aman dibakar, namun Sultan Langkat tidak dibunuh, ia ditangkap lalu diasingkan ke Batang Serangan hingga kemudian Belanda membebaskannya pada bulan Juli 1947.

  Amir Hamzah yang saat itu menjabat sebagai  pangeran Sultan Langkat pun dibawa secara paksa oleh para aktivis revolusi. Amir Hamzah adalah nama pena dari Tengku Amir Hamzah Pangeran Indra Putra. Sastrawan yang digelari Raja Penyair ini termasuk Angkatan Poedjangga Baroe. Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, dan Setanggi Timur adalah sedikit contoh dari banyak karyanya yang begitu terkenal. Amir lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911, dari keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat. Amir menikah dengan Tengku Puteri Kamiliah, putri tertua Sultan Langkat, Sultan Machmud.

Selain Pangeran Langkat Hilir, kemudian ia menjadi Bendahara Paduka Raja, lalu Pangeran Langkat Hulu, lantas menjabat Ketua Pengadilan Kerapatan Kesultanan Langkat. Pada saat yang sama dan di tanah yang sama, Amir Hamzah juga menjadi Asisten Residen Langkat dalam pemerintahan Republik Indonesia. Meski bergelar bangsawan, Amir jarang sekali memakai gelar Tengku-nya. Ia seringkali hanya menuliskan namanya hanya dengan Amir Hamzah, termasuk ketika menulis puisi-puisi.

Pada 7 Maret 1946 dengan kendaraan terbuka, Tengku Amir Hamzah dan lainnya dijemput paksa. Saat itu ia berbaju putih lengan panjang, ia sempatkan melambaikan tangannya pada orang-orang yang ingin menyalaminya di jalan. Bersama tahanan lain, Amir dikumpulkan di Jalan Imam Bonjol, Binjai, lalu dikirim ke perladangan Kuala Begumit untuk disiksa dan dibunuh. Amir Hamzah awalnya ditahan di sebuah rumah bekas tahanan Kempeitai di tepi Sungai Mencirim, Binjai. Tiga belas hari kemudian, barulah ia dieksekusi.

 

Anehnya, beberapa orang pemuda ternyata sempat mendatangi Tengku Kamaliah, istri Amir Hamzah, untuk memintakan apa-apa yang kiranya perlu dikirimkan kepada Tengku Amir Hamzah di camp penyiksaan. “Ini lah daku titipkan teruntuk suamiku, juadah satu siya (rantang), masakan Melayu. Dan ini sehelai kain sembahyang, dan sepasang baju teluk belanga putih, kerana Ku Busu tak lepas dari menderas Al qur’an saban hari, bawakan lah ini Al qur’an untuk beliau”, ujar Tengku Kamaliah.

 

Di tempat yang lain di Kuala Begumit, nyatanya pakaian Tengku Amir Hamzah diambil, diganti dengan celana goni. Para tahanan diperintahkan menggali lubang; untuk kuburan mereka sendiri. Satu demi satu para tahanan ditutup rapat matanya. Tangan diikat kuat ke belakang. Sang algojo ternyata tak lain adalah Mandor Iyang Wijaya. Sebelum melakukan pembunuhan, ia mengabulkan permintaan terakhir Tengku Amir Hamzah yang meminta dua hal.

 

Pertama, ia meminta tutup matanya dibuka karena ingin menghadapi ajalnya dengan mata terbuka. Kedua, Tengku Amir Hamzah meminta waktu untuk sholat sebelum hukuman dijatuhkan. Kedua permintaan Tengku Amir ini entah kenapa dikabulkan mereka. Usai sholat, Sang Pujangga pun menerima ajalnya. Parang Mandor Yang Wijaya kemudian berayun menebas tengkuk hingga memutus lehernya. Amir tewas dengan 26 orang tahanan lainnya dan dimakamkan di sebuah kuburan massal yang telah digali para tahanan tersebut, beberapa saudara Amir juga tewas dalam revolusi tersebut.

Kabar kematian Amir Hamzah tak lantas dipercayai istrinya, Tengku Kamaliah, putri Sultan Langkat saat itu. Kamaliah percaya suaminya akan segera pulang. Bahkan ketika kuburan itu dibongkar dan tengkoraknya dikenali, ia tetap tak percaya itu adalah tengkorak suaminya. Kepada Anaknya, Tengu Tahura yang akrab dipanggil Kuyong, Kamaliah selalu menanamkan keyakinan bahwa ayahnya tidak mati.

  

Malam itu, pada 20 Maret 1946, saat sang pujangga ternama meninggal. Ia seperti menggenapkan salah satu larik dalam sajaknya, Buah Rindu”: datanglah engkau wahai maut, lepaskan aku dari nestapaCatatan tentang kematian Amir Hamzah itu dituliskan Tengku M. Lah Husny dalam bukunya berjudul Biografi-Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah (1978). Pada November 1949,sebuah kuburan dangkal dibongkar yang di dalamnya terdapat delapan mayat. Salah satunya memakai cincin kecubung dengan keadaan kedua giginya patah. inilah kerangka Amir Hamzah, kerangka itu lalu dikuburkan dipemakaman keluarga kerajaan di samping Masjid Azizi.

Amir telah menerima pengakuan yang luas dari pemerintah Indonesia, dimulai dengan pengakuan dari pemerintah Sumatra Utara segera setelah kematiannya. Dalam usia 16 tahun, Amir Hamzah telah turut bersama-sama merumuskan konsep Sumpah Pemuda 1928 dan ikut andil membidani kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesdia (NKRI). Pada tahun 1969 ia secara anumerta dianugerahi Satya Lencana Kebudayaan dan Piagam Anugerah Seni. Pada tahun 1975 dengan keputusan Presiden nomor 106 tanggal 3 november 1975, Amir Hamzah ditetapkan sebagai pahlawan Nasional. Taman Amir Hamzah, sebuah taman yang berlokasi di Jakarta di dekat Monumen Nasional dinamakan untuk mengenang jasanya. Sebuah masjid di Taman Ismail Marzuki yang dibuka untuk umum pada tahun 1977, juga dinamakan untuknya. Dan beberapa jalan diberi nama untuk Amir, termasuk di MedanMataram, dan Surabaya. Tidak ada yang menyangka, pahlawan yang dikenal gigih mempersatukan bangsa ini justru meninggal dalam keadaan disiksa dan dipancung.

Itulah kisah tentang Amir Hamzah, seorang pahlawan revolusi yang dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Padahal Amir Hamzah telah setuju bahwa kesultanan langkat akan mendukung republik Indonesia. Namun provokator menghasut agar para rakyat membunuh para sultan-sultan yang menurut mereka bertindak otoriter dan semena-mena. Padahal mereka hanya terhasut pada kebencian yang diciptakan oleh para pengacau dan provokator dimasa itu. Semoga kita tidak mudah terprovokasi oleh provokator yang berniat menghancurkan persatuan negara kita seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

 

Sumber Referensi   : langkatmedia.co

                                 liramedia.co.id

                                tempo.co

                                tirto.id

                                wikipedia.org

0 komentar:

Posting Komentar