Sunday, February 9, 2020

Lonceng kematian untuk jenderal pendukung Gerakan 30 September | Pegawai Jalanan

Brigjen. Soepardjo
Tak banyak yang dikerjakan Brigadir Jenderal Mustafa Sjarif Soepardjo di perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia. Sebagai Panglima Komando Tempur II dalam Komando Mandala Siaga (Kolaga), ia tidak bisa banyak berbuat karena memang belum ada pasukan untuk disusupkan ke Malaysia dalam kampanye "Ganyang Malaysia" itu. 
Menurut catatan Hendro Subroto dalam Dewan Revolusi PKI (1997), di bandar udara Pontianak, bertemulah Soepardjo dengan Chalimi Imam Santoso, komandan Batalyon I Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang juga akan ke Jakarta.
Santoso bertanya: “Loh, katanya Pak Pardjo akan kembali ke Bengkayang, mengapa malah di sini?” Soepardjo hanya menjawab ada panggilan mendadak di Jakarta. Setiba di Jakarta, Soepardjo ikut serta kendaraan yang juga menjemput Mayor CI Santoso. Saat itu sudah memasuki akhir September, tepatnya 28 September 1965.
Setelah di Jakarta, Soepardjo melaporkan diri kepada atasannya di Kolaga, Marsekal Omar Dhani. Menurut John Roosa, Soepardjo melapor bahwa dia akan kembali ke Kalimantan sebelum 1 Oktober 1965. Namun, Omar Dhani minta Soepardjo bertahan di Jakarta hingga 3 Oktober 1965. Selain bertemu Omar Dani, Soepardjo langsung menuju rumah Sjam Kamaruzaman hanya beberapa jam setelah mendarat. Sjam dianggap sebagai orang PKI dan intel tentara.
Soepardjo pun jadi satu-satunya jenderal dari Angkatan Darat yang duduk dalam pimpinan Gerakan 30 September 1965 (G30S) itu. Walau jenderal, bukan dia yang menjadi pemimpin G30S, melainkan seorang Letnan Kolonel yang hanya dipandang sebagai jago tempur tapi secara ilmu kemiliteran di bawah Soepardjo. Letnan Kolonel Untung, si penerima Bintang Sakti atas aksinya di Irian Barat, yang menjadi pemimpin gerakan itu. Begitu pun dalam Dewan Revolusi yang diumumkan pada 1 Oktober 1965, Untung menjadi Ketua Dewan, sementara Soepardjo hanya jadi Wakil Ketua Dewan.
"Pangkat saya memang lebih tinggi dari saudara, tapi di gerakan ini, saya anak buah saudara," demikian kira-kira ucapan Brigadir Jenderal Soepardjo saat menyalami Letnan Kolonel Untung Samsuri tanggal 29 September 1965.

Brigjen Soepardjo baru saja tiba di Jakarta. Meninggalkan posnya di Bengkayang, Kalimantan Barat untuk bergabung dengan Gerakan 30 September.
Tubuhnya langsing dan tegap. Dia panglima yang membawahi ribuan pasukan tempur di perbatasan Kalimantan-Malaysia. Usianya baru 44 tahun dengan karir yang cemerlang sebagai komandan pertempuran dan ahli strategi.
Aneh, Soepardjo mau saja ikut gerakan yang dipimpin Letnan Kolonel Untung. Jelang G30S, Soepardjo kerap berdiskusi dengan Letkol Untung dan Sjam Kamaruzaman, Ketua Biro Chusus PKI. Di sini dia sudah merasa banyak hal yang berantakan. Hal itu dituliskannya dalam catatan evaluasi untuk G30S.
Seperti lazimnya gerakan komunis, komisariat politik mengendalikan militer. Begitu pula dalam G30S, Sjam Kamaruzaman lebih dominan dari Letkol Untung. Saat Brigjen Soepardjo bertanya rencana B jika aksi G30S gagal, Sjam malah emosi.
"Ya Bung kalau begini banyak yang mundur, kalau revolusi sudah berhasil banyak yang mau ikut," kata Sjam.
Brigjen. Soepardjo dalam persidangan
Dalam peperangan, skenario mundur bukan pengecut. Dalam setiap pertempuran selalu ada skenario mundur. Tapi ini tak berlaku untuk Sjam dengan gaya yang menggebu-gebu.
Dalam jam-jam awal 1 Oktober 1965, sebenarnya Gerakan Letkol Untung ini berada di atas angin. Namun Untung dan Sjam tak menggunakan kelebihan awal ini untuk momentum selanjutnya.
"Radio RRI yang kita kuasai juga tidak kita manfaatkan. Sepanjang hari hanya dipergunakan untuk membacakan pengumuman saja. Harusnya radio digunakan semaksimal mungkin oleh barisan agitasi propaganda," kata Soepardjo.
Satu kesalahan fatal lain adalah soal logistik. Untung kehilangan banyak pasukannya gara-gara nasi bungkus. Pasukan Bimasakti yang terdiri dari Yon 530 dan Yon 454 berjaga sehari penuh di Lapang Monas.
Tapi tak ada yang mencukupi kebutuhan mereka. Tanggal 1 Oktober 1965 dari pagi hingga petang, pasukan itu tak diberi makan. Maka ketika Soeharto mengutus utusannya untuk membujuk Yon 530 agar kembali ke Kostrad tawaran itu dipenuhi.
"Semua Kemacetan gerakan pasukan disebabkan di antaranya tidak ada makanan. Mereka tidak makan semenjak pagi, siang dan malam. Hal ini baru diketahui pada malam hari ketika ada gagasan untuk dikerahkan menyerang ke dalam kota," kata Supardjo kecewa.
Tapi terlambat. Yon 530 sudah bergabung dengan Kostrad dan Yon 454 sudah berada di sekitar Halim. Tak mungkin lagi memerintahkan mereka menyerang.
Setelah G30S gagal, Brigjen Soepardjo bersembunyi. Dialah tokoh kudeta yang tertangkap paling akhir. TNI khusus menggelar Operasi Kalong untuk mengejar Soepardjo. Berkali-kali mau ditangkap, Soepardjo selalu lolos.
Dinas Sejarah TNI AU menulis, tepat pada hari Idul Fitri 1967, Satgas Kalong mencium keberadaan Soepardjo di rumah seorang prajurit AURI di Halim. Intel gabungan bersama Polisi Militer AU menggerebek tempat itu.
Tak ada orang di sana. Namun petugas curiga karena menemukan kopi yang masih panas, jejak kaki di tembok mengarah ke atap dan KTP atas nama Moch Syarif dalam kantong baju yang digantung. Mereka yakin kali ini Soepardjo tak akan lolos.
Letnan Rosjadi berteriak "Ayo turun! Kalau tidak saya tembak!" Terdengar jawaban dari atas, "Baik saya turun."
Benar, sosok itulah Brigjen Soepardjo yang selama satu setengah tahun mereka kejar siang malam.
Soepardjo diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa. Hukuman yang menantinya sudah jelas, ditembak mati.
Soepardjo ditahan di Rumah Tahanan Militer Cimahi. Banyak tahanan lain yang terkesan dengan sikap Soepardjo selama di tahanan. Sebagai jenderal, dia tak mau diistimewakan. Kalau dikirimi makanan, selalu dibagi rata untuk tahanan lain.
Saat keluarganya datang menjenguk untuk terakhir kali, Soepardjo memberikan sepasang sepatu. "Bapak tak bisa memberi apa-apa. Cuma sepasang sepatu ini untuk kenang-kenangan," kata Soepardjo.
Dia juga sukarela menggosok seluruh toilet dan kamar mandi. Keinginannya untuk mati dengan seragam kebesaran militer jenderal bintang satu ditolak. Dia akhirnya memilih pakaian serba putih.
18 Maret 1967, seluruh tahanan dipaksa masuk dalam sel lebih cepat. Mereka tahu itu saatnya Soepardjo dijemput tim eksekusi. Dalam acara makan malam bersama, dia berkata: ”Kalau saya malam nanti menemui ajal saya, ajal Saudara-Saudara tak diketahui kapan. Itu perbedaan saya dengan kalian.”
Nasib jenderal muda ini berakhir tragis karena termakan hasutan Biro Chusus PKI.
Penulis : Admin PJ
Kutipan :

0 komentar:

Post a Comment