Thursday, February 28, 2019

Pertempuran Malaya Yang Berdampak Mengakhiri Penjajahan Belanda di Indonesia | Pegawai Jalanan



Siapa bilang orang-orang Malaysia dan Singapura sama sekali tidak pernah berperang untuk mempertahankan tanah air mereka dari serbuan bangsa asing? Sejarah mencatat, mereka sempat melakukannya pada awal 1942 meski sedikit berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. 
Saat Jepang tiba, sebagian rakyat Indonesia justru menyambut gembira. Dai Nippon memperkenalkan diri sebagai saudara tua sebagai sesama bangsa Asia. Rakyat Indonesia pun berharap Jepang menjadi juru selamat yang akan mengusir Belanda.


Hasil gambar untuk Inggris menyerah dengan jepang

Tentara Jepang Saling Memberikan Penghormatan

Sebaliknya, bagi orang-orang negeri tetangga, kehadiran Jepang berarti petaka. Mereka pun mengangkat senjata. Pertempuran Malaya pecah—perang yang akhirnya memungkasi kekuasaan Belanda di Indonesia dan menghadirkan penjajahan baru oleh Jepang.


Jepang Mengincar Asia Tenggara

Minggu pagi 7 Desember 1941, Jepang menghancurkan pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii. Hanya sehari berselang, pasukan Dai Nippon sudah mencapai Asia Tenggara. Pertama di Thailand, lalu menuju Semenanjung Malaya. Misi Jepang tentu saja untuk merebut wilayah-wilayah jajahan Sekutu, terutama Britania Raya atau Inggris yang menguasai Malaysia dan Singapura. Dai Nippon juga mengincar Indonesia yang sudah sekian lama diduduki Belanda, negara yang berpihak kepada Sekutu.

Jepang memang tak main-main dalam menghadapi Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Lebih dari 500 unit pesawat tempur, ditambah tidak kurang dari 200 unit tank dan peralatan perang mutakhir lainnya, serta puluhan ribu serdadu, dipersiapkan untuk mewujudkan ambisi menguasai Asia. Jepang menyasar pula negeri-negeri di timur jauh alias Asia Tenggara.

Di sisi lain, Inggris, ikon Sekutu di Asia Tenggara, rupanya menganggap enteng ancaman Jepang. Laporan dari Malaya terkait pergerakan Jepang yang mulai menancapkan pengaruh di kawasan Indocina tidak direspons dengan cepat oleh London. 


Gambar terkait

Tentara Inggris Menyerah

Dikisahkan David McIntyre dalam The Rise and Fall of the Singapore Naval Base 1919-1942 (1979), pada 1937 dilaporkan bahwa Jepang sudah membangun pangkalan militer di Siam (Thailand). Namun, permintaan bantuan senjata, tentara, dan dana untuk perang untuk Malaka malah diabaikan (hlm. 135).

Pada 1940, pergerakan Jepang kian kentara. Letnan Jenderal Lionel Bond, komandan pasukan Inggris di Malaya, mendesak bantuan Sekutu. Paling tidak, menurut Bond, pihaknya membutuhkan 300-500 unit pesawat tempur untuk menghadapi Jepang yang berkekuatan tak kalah besar. Tapi, lagi-lagi permintaan ini tidak pernah terpenuhi.

Akibatnya fatal bagi Inggris. Pertengahan Desember 1941, tentara Jepang mulai memasuki area kekuasaan Inggris di Malaya. Mereka mendarat di pantai barat dekat Sarawak.


Kedigdayaan Jepang di Malaya

Britania Raya dan Amerika Serikat yang merupakan kekuatan utama Sekutu tidak pernah memprioritaskan Asia Tenggara. Mereka sudah cukup kewalahan menghadapi Jerman dan Italia di Eropa sehingga permintaan dari Malaya tidak segera ditindaklanjuti secara serius.
Mau tidak mau, pemerintahan Inggris di Malaya untuk sementara harus berusaha sendiri untuk mempertahankan diri. Bantuan dari Sekutu akan datang jika situasi memang sudah benar-benar gawat, dan itu tidak bisa diandalkan mengingat tekanan Jepang semakin kuat.


Di sisi lain, Jepang memang sudah bersiap bergerak setelah berhasil menaklukkan Thailand, Birma (Myanmar), hingga Filipina. Sebelum menyerang, Jepang menyusupkan intelijennya ke Malaya. Menurut Joyce C. Lebra dalm Japanese Trained Armies in South-East Asia (1971), intel Jepang yang disebarkan ini terutama untuk berhubungan dengan kelompok lokal yang menghendaki kemerdekaan dari Inggris (hlm. 23).

Hasil gambar untuk Jepang serang Kuala Lumpur

Peperangan di Wilayah Malaya

Serangan pertama Dai Nippon terhadap Malaya dimulai pada 8 Desember 1941. Di bawah komando Letnan Jenderal Tomoyuki Yamashita, Jepang menghancurkan pangkalan militer Inggris dan Australia di pantai utara dan timur Malaya (Kelantan) melalui laut.

Selain itu, sebagaimana dipaparkan Joseph Kennedy dalam British Civilians and the Japanese War in Malaya and Singapore 1941-1945 (1987), Jepang juga menggerakkan pasukan infanteri ke pantai barat Malaya yang masuk melalui perbatasan Thailand. Ribuan serdadu Jepang dengan mudah memenangkan pertempuran karena dilindungi puluhan pesawat tempur dari udara (hlm. 7).

Sekutu sebenarnya telah mengirimkan bala bantuan, namun terlambat dan berhasil dihancurkan Jepang. Di Malaya sendiri, pasukan Sekutu yang merupakan gabungan pasukan Inggris, Australia, Melayu, dan serdadu kiriman dari India, semakin kewalahan menghadapi gempuran-gempuran masif yang terus-menerus dilancarkan Dai Nippon.


Memang ada kalangan yang menginginkan merdeka dari Inggris, namun tidak sedikit pula warga lokal yang turut melawan Jepang. Pemerintah Inggris di Malaya punya kesatuan militer yang berisikan orang-orang pribumi, yakni Resimen Melayu, yang dibentuk sejak 1933.

Jepang Menang, Belanda Hengkang


Pada 10 Desember 1941, dua kapal perang Inggris ditenggelamkan pesawat-pesawat tempur Jepang. Empat hari berselang, pasukan Jepang sudah mencapai Johor dan terlibat pertempuran sengit melawan tentara Sekutu. 

Lionel Wigmore dalam The Japanese Thrust (1957) menyebutkan, Jepang memang kehilangan 600 orang serta 9 unit tank dalam perang ini. Namun, serangan balasan membuat pihak Sekutu dan Malaya menderita kerugian yang lebih besar: tidak kurang dari 3.000 orang menjadi korban, baik tewas maupun luka-luka.
Sepanjang awal 1942, menurut J. Tomaru dalam The Postwar Rapprochement of Malaya and Japan 1945-61: The Roles of Britain and Japan in South-East Asia (2000), agresi militer Jepang di Malaya kian gencar dan nyaris tak pernah berhenti. Kuala Lumpur pun jatuh ke tangan Dai Nippon pada 31 Januari 1942 (hlm. 35).

Setelah Kuala Lumpur yang menjadi pusat ekonomi Malaya beralih tangan, pasukan Sekutu masih berupaya melawan meskipun semakin terdesak. Frank Morgan dalam Reflections of Twelve Decades (2012: 142) menuliskan, pasukan Sekutu akhirnya mundur ke Singapura pada 31 Januari 1942, tepat hari ini 77 tahun lalu.



Hasil gambar untuk Jepang serang Malaya
Tentara Jepang Memasuki Singapura

Berlindung di Singapura justru menjadi akhir perlawanan pasukan gabungan Sekutu. Hanya butuh waktu setengah sebulan bagi Jepang untuk mengambil alih negeri singa. Pada 15 Februari 1942, Dai Nippon menduduki Singapura. Pada periode yang sama, tentara Jepang mulai memasuki wilayah Indonesia dari perbatasan Malaysia di Borneo.
Hingga akhirnya, 8 Maret 1942, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang dalam perundingan di Kalijati, dekat Subang, Jawa Barat. Inilah akhir penjajahan Belanda sekaligus mengawali era pendudukan Jepang di Indonesia.

Sumber :

1).  https://tirto.id/sejarah-pertempuran-malaya-akhiri-penjajahan-belanda-di-indonesia-cD4v

Ratu Kalinyamat Ratu Kesultanan Demak Yang Gigih Membantu Saudara Serumpunnya Dalam Melawan Penjajah Portugis di Malaka I Pegawai Jalanan


Jepara ternyata tidak hanya memiliki figur R.A. Kartini saja. Jauh sebelumnya, ada perempuan tangguh lain yang juga lekat dengan salah satu kota pesisir pantai utara Jawa itu. Ia adalah Ratu Kalinyamat, putri Kerajaan Demak pemimpin Jepara yang berkali-kali turut berupaya mengenyahkan Portugis dari Nusantara.


Ratu Kalinyamat adalah anak perempuan Sultan Trenggono. Putra Raden Patah ini merupakan penguasa Kesultanan Demak ketiga yang menduduki takhta kerajaan Islam pertama di tanah Jawa itu dalam dua periode yang berbeda, yakni pada 1505-1518 dan 1521-1546 (M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, 2008:69).

Lukisan Ratu Kalinyamat. FOTO/Istimewa



Selama memimpin Jepara, yang kala itu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Demak, setidaknya dua kali Ratu Kalinyamat mengirimkan pasukan dan armada tempur dalam jumlah besar ke Malaka demi mengusir Portugis. Yang pertama adalah bala bantuan untuk Kesultanan Johor, dan yang kedua atas permohonan Sultan Aceh Darussalam. 


Selain untuk Malaka, Ratu Kalinyamat juga pernah melakukan hal yang sama bagi Maluku, yakni mengirimkan pasukan perang untuk membantu Kerajaan Tanah Hitu, salah satu kerajaan Islam di Ambon, yang juga sedang terancam oleh nafsu imperialisme Portugis. 


Kasih Sang Ratu untuk Melayu


Mengapa Ratu Kalinyamat sangat antusias mengulurkan tangan kepada kerajaan-kerajaan lain di luar Jawa, khususnya Melayu? Tentu saja ada alasan kuat yang melatarbelakangi keputusan ratu Jepara ini mengirimkan pasukan ke Malaka dari salah satu pusat peradaban Jawa.


Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono dari istrinya yang merupakan anak perempuan Arya Damar, Adipati Palembang (Dwitri Waluyo, Indonesia The Land of 1000 Kings, 2004:23). Arya Damar memang bukan orang Melayu karena ia semula ditempatkan di Palembang sebagai wakil Kerajaan Majapahit.


Ketika Majapahit runtuh menjelang abad ke-16, Arya Damar tidak pulang ke Jawa dan memilih bertahan di bumi Sriwijaya, bahkan kemudian menjadi sosok pemimpin yang disegani. Ma'moen Abdullah (1991:39) dalam buku Sejarah Daerah Sumatera Selatan menyebut nama Arya Damar sangat terhormat di kalangan masyarakat Palembang.

Selain faktor kakeknya dari pihak ibu yang namanya harum di Palembang itu, perhatian Ratu Kalinyamat terhadap saudara serumpun Melayu juga tidak lepas dari sosok suaminya. Suami Ratu Kalinyamat itu diyakini putra Sultan Mughayat Syah, pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam pada 1514-1528 (Agus Dono Karmadi & Sunjata Kardarmadja, Sejarah Perkembangan Seni Ukir di Jepara, 1985:9).


Kalinyamat sendiri sebenarnya adalah nama pemberian Sultan Trenggono untuk suami putrinya yang bernama asli Pangeran Thoyib. Adapun nama gadis Ratu Kalinyamat sebelum menikah dengan pangeran Aceh itu adalah Retna Kencana. Pangeran Thoyib datang ke tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam.


Dendam Kesumat Kalinyamat


Oleh Sultan Trenggono, kehadiran Pangeran Thoyib diterima dengan baik, bahkan kemudian dinikahkan dengan putri kesayangannya dan diberi kewenangan memimpin (semacam bupati) wilayah pesisir di sebelah timur Kesultanan Demak. Dari situlah berdiri daerah Kalinyamat dengan pusatnya di Jepara yang dipimpin Pangeran Thoyib beserta istrinya. 


Pada 1549, Pangeran Thoyib alias Pangeran Kalinyamat tewas dibunuh orang-orangnya Arya Penangsang, Bupati Jipang Panolan, yang melakukan perlawanan terhadap Demak. Setelah peristiwa itu, Retna Kencana memakai nama Ratu Kalinyamat untuk menghormati almarhum suaminya (Andreas Gosana, Warawiri: Life Consists of Endless Back and Forth Journeys in Time, 2016).

Retna Kencana atau Ratu Kalinyamat yang berhasil selamat dari pembunuhan lalu bertapa di Gunung Daraja tanpa memakai secuil kain di tubuhnya. Sang ratu bersumpah tidak akan berpakaian sebelum Arya Penangsang mati dan ia akan menggunakan kepala otak pembunuhan suaminya itu sebagai keset (Hayati, Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI, 2000:50).

Sumpah Ratu Kalinyamat itu nantinya menjadi kenyataan setelah Arya Penangsang –yang sempat mengambil-alih takhta Kesultanan Demak– terbunuh di tangan Sutawijaya alias Panembahan Senopati yang kelak mendirikan Kesultanan Mataram Islam. Ratu Kalinyamat sendiri kemudian melanjutkan peran suaminya sebagai pemimpin rakyat Jepara dan sekitarnya.

Gigihnya Ratu Jepara


Upaya pertama Ratu Kalinyamat dalam rangka mengusir Portugis dari Nusantara dilakukan pada 1550 atau kurang dari setahun setelah suaminya dibunuh. Dari pertapaannya, sang ratu yang tetap menjalin komunikasi dengan orang-orang kepercayaannya agar pemerintahan di Jepara tetap berjalan, menerima surat permohonan bantuan dari Kesultanan Johor yang sedang terancam oleh Portugis di Malaka.
Hasil gambar untuk serangan demak ke malaka


Dalam suasana masih berduka, Ratu Kalinyamat mengabulkan permintaan tersebut dan menginstruksikan kepada para panglimanya untuk mengirimkan 40 kapal perang yang mengangkut lebih dari 4.000 orang tentara ke Malaka. Di sana, armada Jepara bergabung dengan Persekutuan Melayu yang berkekuatan lebih dari 150 kapal (H.J. de Graaf, Awal Kebangkitan Mataram, 2001:43).

Namun, pasukan gabungan itu ternyata masih kalah dengan Portugis yang memiliki lebih besar dengan peralatan perang yang lebih mutakhir. Dalam pertempuran di laut itu, armada Jepara mengalami kerugian besar. Tidak kurang dari 2.000 prajuritnya gugur, ditambah terjangan badai yang menghancurkan kapal-kapal kiriman Ratu Kalinyamat. Tidak banyak yang berhasil selamat sampai kembali ke Jawa.


Kendati nyaris gagal total di percobaan pertama, namun Ratu Kalinyamat belum menyerah. Ketika datang permintaan bantuan lagi dari tanah Melayu pada 1573, kali ini dari Kesultanan Aceh Darussalam yang merupakan tempat asal suaminya, sang ratu kembali mengirimkan pasukan.


Kali ini, armada tempur Jepara yang dikirim ke Malaka jauh lebih besar. Ratu Kalinyamat memerintahkan salah satu panglima perangnya, Ki Demang Laksamana, untuk memimpin 300 kapal dengan 15.000 orang tentara. Namun, perjalanan armada kedua ke Malaka ini penuh rintangan sehingga memakan waktu tempuh yang lebih lama dari yang diperkirakan.

Hasil gambar untuk serangan demak ke malaka



Ketika tiba di Semenanjung Melayu, pasukan Aceh Darussalam ternyata sudah dipukul mundur oleh Portugis. Armada Jepara kiriman Ratu Kalinyamat pun menyerang Portugis tanpa bantuan. Hasilnya, 30 kapal Jepara hancur.


Pihak Jepara mulai terdesak, namun menolak berdamai. Sementara itu, sebanyak 6 kapal perbekalan yang datang belakangan direbut Portugis. Kekuatan Jepara semakin lemah akhirnya memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang bisa kembali ke Jawa.

Sebelum serangan kedua ke Malaka itu, Ratu Kalinyamat sempat mengirimkan pasukan untuk membantu Kerajaan Tanah Hitu di Maluku pada 1565 yang juga diserbu Portugis (Paramita Rahayu Abdurachman, Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia, 2008:216). Lagi-lagi upaya ini mengalami kegagalan. 


Meskipun begitu, bangsa Portugis rupanya salut atas keberanian Ratu Kalinyamat dan memberinya julukan Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige dameatau “Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya-raya dan berkuasa, seorang perempuan yang gagah berani”. Ratu Kalinyamat wafat di Jepara pada 1579.

Sumber : 
1).  https://tirto.id/kegigihan-ratu-kalinyamat-mengusir-portugis-cwCW

Sejarah Keruntuhan Kesultanan Malaka Yang Kurang Lebih Seabad Berjaya di Nusantara I Pegawai Jalanan

Sebanyak 17-18 kapal besar berbendera Portugis beramai-ramai menyusuri Laut Jawa dari Gowa menuju Semenanjung Malaya pada pertengahan tahun 1511 itu. Tidak kurang 1.200 orang turut serta dalam rombongan armada perang tersebut, di bawah komando Alfonso de Albuquerque. Dalam beberapa pekan, tibalah orang-orang asing itu di Selat Malaka, dan pertempuran akan segera terjadi.
Hasil gambar untuk Portugis di malaka


Lukisan Penyerangan Malaka 


Pada tanggal 10 Agustus 1511, Portugis memulai serangannya dengan target menaklukkan Malaka sekaligus untuk menguasai pusat perdagangan teramai di kawasan itu. Di sisi lain, internal Kesultanan Malaka justru sedang bergolak akibat perseteruan antara sang sultan, Mahmud Syah, dengan anaknya sendiri yang bernama Ahmad Syah (M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, 2008:43).



Perangkat militer Malaka sejatinya tidak bisa dipandang enteng, mereka telah dilengkapi dengan persenjataan canggih, termasuk beberapa unit meriam. Tapi, rupanya Portugis memang lebih unggul, juga diuntungkan dengan polemik internal yang sedang melanda kubu lawan. Maka, 24 Agustus 1511, Portugis meraih kemenangan. Kesultanan Malaka yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun menyerah dan akhirnya musnah.


Serangan Majapahit Melahirkan Malaka

Berdirinya pemerintahan di Malaka tidak terlepas dari ekspansi Kerajaan Majapahit ke Tumasik pada 1398. Parameswara, penguasa kecil di wilayah yang kini bernama Singapura itu, terpaksa melarikan diri. Bersama para pengikutnya yang masih tersisa, Parameswara menyusuri pesisir Selat Malaka untuk menjauh dari orang-orang Majapahit.
Gambar terkait
Prameswara


Setelah menempuh jarak sekitar 250 kilometer, sampailah Parameswara ke suatu tempat di salah satu titik di tepian Selat Malaka. Di lokasi itulah didirikan kerajaan baru dengan nama Malaka (Melaka). Ia menjadi raja di sana dan bertakhta sejak 1405 (Louise Levathes, When China Ruled the Seas: The Treasure Fleet of the Dragon Throne, 2014). Parameswara masih memiliki darah turunan dari Kerajaan Sriwijaya.



Parameswara semula adalah seorang penganut Hindu. Ia kemudian memeluk Islam seiring ramainya pelabuhan Malaka yang merupakan area transaksi kaum pedagang dari Arab dan Gujarat, juga dari wilayah mancanegara lain termasuk Cina. Setelah menjadi muslim, Parameswara lantas menyandang gelar Iskandar Syah sebagai penguasa Malaka.

Kendati telah memeluk Islam, namun Parameswara alias Iskandar Syah tidak menerapkan syariat Islam secara penuh dalam menjalankan pemerintahan di Malaka. A.J. Halimi (2008) dalam Sejarah dan Tamadun Bangsa Melayu menyebut bahwa hanya 40,9 persen undang-undang pemerintahan di Malaka yang sesuai dengan aturan Islam. Begitu pula untuk undang-undang laut. Dari 25 pasal, hanya 1 pasal saja yang mengikuti hukum Islam.



Kerajaan Islam Sahabat Cina

Hasil gambar untuk Kesultanan Malaka
Wilayah kekuasaan Kesultanan Malaka

Ramainya pelabuhan atau bandar dagang di Malaka membuat tempat ini menjadi titik penting interaksi antar-bangsa. Salah satu bangsa besar di dunia yang banyak berniaga di Malaka adalah orang-orang Cina. Dari situlah Malaka kemudian menjalin hubungan dan memiliki relasi yang cukup intim dengan Kekaisaran Cina di Tiongkok.



Tak lama setelah mendirikan pemerintahan di Malaka, yakni 1405, Parameswara atau Iskandar Syah mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk memohon pengakuan dari pemimpin Dinasti Ming saat itu, Kaisar Zhu Di (1402-1424). Sang kaisar pun memberikan pengakuan resmi dan dibalas dengan pengiriman upeti secara rutin oleh Malaka.



Bahkan, pada tahun yang sama, Iskandar Syah berlayar ke Cina untuk mengunjungi Kaisar Ming secara langsung. Tahun 1411, untuk kedua kalinya, ia pergi ke Tiongkok, kali ini ditemani sang permaisuri dan beserta rombongan yang berjumlah 450 orang dari Malaka (Faridah Abdul Rashid, Research on the Early Malay Doctors 1900-1957 Malaya and Singapore, 2012:61).


Iskandar Syah memang membutuhkan Cina sebagai antisipasi apabila datang ancaman lagi dari Majapahit, atau dari kerajaan lainnya, termasuk Siam (Thailand). Dan, kekhawatiran Iskandar Syah itu memang pada akhirnya menjadi nyata. 

Pada 1409, Malaka diserang Siam, namun datang bantuan dari Cina yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho sehingga keamanan Malaka tetap terjaga (Carl Vadivella Belle, Tragic Orphans: Indians in Malaysia, 2014:6). Sejak saat itu, para rival harus berpikir ulang jika ingin menyerang kerajaan Islam di Semenanjung Malaya tersebut.

Kemitraan antara Malaka dengan Kekaisaran Tiongkok berlangsung cukup lama. Ketika Parameswara atau Iskandar Syah wafat pada 1414, sang putra mahkota Megat Iskandar Syah menyampaikan kabar duka itu langsung di hadapan Kaisar Cina. Megat Iskandar Syah sendiri kemudian dinobatkan sebagai penguasa Malaka selanjutnya dan memimpin hingga 1424.

Korban Persaingan Dua Raksasa


Kedatangan Portugis ke Malaka yang akhirnya berbuah keruntuhan kerajaan Islam itu sebenarnya merupakan imbas dari persaingan dengan Cina. Portugis berambisi menguasai bandar dagang strategis di Malaka untuk menghentikan aktivitas niaga Cina sekaligus menyainginya. 



Pelabuhan Malaka memang menggiurkan dan akan sangat bermanfaat jika bisa dikuasai. Berbagai komoditi berharga diperdagangkan di situ, seperti emas, timah, kapur, dan tentu saja rempah-rempah, terutama lada yang sangat laku di pasaran Eropa. Malaka pun muncul sebagai kekuatan utama dalam penguasaan jalur Selat Malaka, termasuk mengendalikan kedua pesisir yang mengapit selat itu (A.J. Halimi, 2008).
Hasil gambar untuk Malaka kesultanan
Peta Tua ASIA TENGGARA 

Raja Portugis saat itu, Manuel I (1495-1521), memang mengincar kota pelabuhan Malaka yang terletak di jalur dagang antara Tiongkok dan India (John Holland Rose, et.al., The Cambridge History of the British Empire Arthur Percival Newton, 1929:11). Misi perebutan Malaka merupakan bagian dari rencana besar Raja Manuel I demi memperluas pengaruh perdagangan Portugis demi menandingi Cina yang menguasai pangsa perniagaan di Asia.



Ketika Portugis menghabisi Malaka pada 1511, Cina belum sempat membantu, tapi nantinya melakukan pembalasan. Tahun 1520, Kerajaan Portugis mengirimkan utusannya bernama Tome Pires ke Beijing untuk berunding. Yang terjadi kemudian, Pires dibui dan hingga tewas (Kenneth S. Latourette, The Chinese, Their History and Culture, 1964:235).



Sebanyak 23 orang yang turut dalam rombongan Portugis tersebut lalu dihukum mati, sedangkan yang puluhan orang lainnya disiksa di penjara. Tak hanya itu, Tiongkok juga menghabisi orang-orang Portugis yang ada di wilayahnya, termasuk di Ningbo dan Quanzhou (Ernest S. Dodge, Islands and Empires: Western Impact on the Pacific and East Asia, 1976:226). 

Nigel Cameron (1976:143) dalam Barbarians and Mandarins: Thirteen Centuries of Western Travelers in China menyebut bahwa tindakan keras Cina itu dipicu oleh pemberitahuan dari Malaka bahwa Portugis menerapkan siasat licik untuk menyerang Malaka, yakni semula hanya ingin berdagang, tapi kemudian justru menyerang dengan mengerahkan ribuan pasukan.


Malaka yang selama satu abad sejak awal berdirinya menuai kejayaan terutama dalam perekonomian dan perdagangan akhirnya dihancurkan Portugis pada 1511. Kendati begitu, ambisi Portugis yang ingin menguasai Malaka ternyata tidak sukses sepenuhnya. Keruntuhan Malaka justru memantik kemunculan beberapa kerajaan lokal lainnya yang cukup merepotkan Portugis, seperti Johor, Aceh Darussalam, serta Banten. 

Tak hanya itu, serangan Portugis terhadap Malaka juga telah memicu bangsa-bangsa Eropa lainnya, termasuk Inggris, Belanda, juga Spanyol, berbondong-bondong datang ke Nusantara. Situasi ini semakin mempersulit Portugis untuk mewujudkan ambisi besarnya dan akhirnya justru terlempar dari persaingan.

Sumber :
1).  https://tirto.id/seabad-malaka-berjaya-kemudian-musnah-cuhp

Sunday, February 17, 2019

Enrique Dari Melaka Yang Turut Andil Dalam Kematian Ferdinand Magellan I Pegawai Jalanan


Berkas:HenriqueofMalacca.jpg

Enrique dari Melaka atau Panglima Awang atau Henry The Black dan Enrique of Malacca merupakan seorang keturunan melayu yang turut serta dalam misi pelayaran Ferdinand Magellan untuk mengelilingi dunia. Meskipun berstatus budak, Magellan berharap ia bisa dimanfaatkan sebagai penerjemah dan pembantu di dalam kapal Ferdinand Magellan saat memasuki wilayah Asia.
Ia telah diberikan nama Kristen 'Enrique' (bahasa Spanyol) atau 'Henrique' (bahasa Portugis) setelah dibaptis dalam Gereja Katolik Roma oleh pihak Portugis pada hari penangkapannya yang merupakan perayaan St. Henry. Asal usul Enrique diperdebatkan oleh ramai sejarawan. Ada yang menyatakan dia dari Melaka, Sumatera, Maluku dan dari Cebu. Sumber mengenai Enrique hanya dalam tulisan Pigafetta, wasiat Magellan, dan dokumen resmi Casa de Contratación de las Indias.
Pembaptisan Enrique diakui oleh Magellan dalam surat wasiatnya. Magellan menyatakan bahwa ia orang Malaka.
Magellan bersama Diego Lopez de Sequiera berlayar ke Melaka pada 1 September 1509 dan merupakan pelaut Eropa pertama yang berhubungan langsung dengan Semenanjung Tanah Melayu. Magellan juga terlibat dalam menyerang Melaka pada tahun 1511 dan menawan banyak pemuda Melayu untuk dijadikan budak. Salah satunya adalah 'Enrique' yang diperkirakan berusia 18 tahun. Magellan membawanya kembali ke Spanyol.
Enrique yang terlibat dalam perlawanan Malaka melawan Magellan, kemudian dijadikan budak dan selanjutnya diharapkan menjadi penerjemah bagi Magellan untuk berhubungan dengan orang-orang di Asia Tenggara menuju Lisbon pada tahun 1512.
Berkas:Ferdinand Magellan.jpg
Ferdinand Magellan
Kisah pelayaran Ferdinand Magellan dicatat dalam diari Antonio Pigafetta, seorang relawan Italia yang turut serta bersama Ferdinand Magellan. Ia mengatakan Enrique adalah seorang Melayu yang ditangkap dan dijadikan hamba dalam kapal tersebut.
Ketika Raja Portugis menolak permintaannya berlayar keliling dunia, Magellan beralih kepada Raja Charles I dari Spanyol pada 1517. Portugis telah menguasai Melaka dan kepulauan rempah khususnya di Maluku. Magellan memberi saran kepada Spanyol bisa menguasai perdagangan rempah di Asia Tenggara melalui jalur barat. Raja Charles I setuju dengan saran Magellan itu. Akhirnya Magellan diberikan lima kapal bekas, San AntonioConceptionVictoriaSantiago dan kapalnya sendiri Trinidad bersama kelasi sebanyak 270 orang.
Mereka meninggalkkan pelabuhan Sanlucar de Barrameda pada 20 September 1519. Mereka berlayar menyeberangi Samudra Atlantik. Kemudian tiba di benua Amerika Latin dan menyeberangi Samudra Pasifik.
Akhirnya pada 16 Maret 1521, setelah berlayar selama 18 bulan, mereka sampai di satu lokasi di kepulauan Filipina yang bernama Samar. Tempat ini dianggap masih jauh dari kepulauan rempah di Nusantara. Pemuda yang bernama Enrique bertindak sebagai juru bahasa karena bahasa di Filipina dan Nusantara dipahami oleh Enrique untuk mendapatkan pasokan makanan, minuman, pertukaran barang, berhubung dengan pedagang, mengirim pesan perdamaian dan berhubungan dengan pemimpin dan masyarakat setempat di Nusantara.
Di Kepulauan CebuFilipina, Ferdinand Magellan telah terhubung dengan Raja Humabon. Raja Humabon bersama 800 orang rakyat di Cebu, Filipina berhasil dibaptis oleh Ferdinand Magellan. Magellan menyatakan penduduk Cebu sebagai warga Tuhan Spanyol. Magellan memanggil penduduk Cebu sebagai 'Indian' karena berkulit gelap sebagaimana penduduk selatan India.
Gambar terkait
Pelayaran Ferdinand Magellan
Raj Humabon meminta Magellan membantunya memadamkan pemberontakan di desa Mactan yang dipimpin oleh Lapu Lapu. Pada hari Sabtu 27 April 1521 Magellan menyerang kampung Lapu Lapu dengan 60 orang menggunakan senapan, meriam, senjata besi dan lain-lain. Sementara Lapu-lapu bersama 1500 pahlawan hanya menggunakan bambu runcing dan panah beracun.
Sayangnya Magellan menjadi korban pertama serangan karena lengan kanannya terkena panah beracun. Pengikut Magellan pula lari lintang - pukang kembali ke kapal untuk menyelamatkan diri dari serangan balasan yang tidak terduga itu. Magellan telah tersungkur dan mati. Peperangan disebut dalam sejarah Filipina sebagai Perang Mactan.
Meskipun dicatat telah tewas saat Magellan sampai di Cebu, sebenarnya Enrique masih hidup pada tanggal 1 Mei 1521. Ia ikut dalam jamuan makan bersama Rajah Humabon. Antonio Pigafetta mencatat bahwa João Serrão yang selamat dari pembantaian, bersaksi bahwa semua peserta jamuan itu dibantai, kecuali Enrique.
Argumentasi dari Giovanni Battista Ramusio menyatakan bahwa Enrique mungkin mengingatkan Kepala Suku Subuth itu bahwa orang-orang Spanyol ini berniat berkomplot untuk menangkap raja, yang memancing terjadinya pembantaian. Ia lalu ditinggalkan di Cebu, dan setelahnya tak ada lagi catatan mengenai Enrique.

Referensi :
1).  Pigafetta, Antonio, journal, quoted in Skelton, R.A., 'Magellan's Voyage—A narrative Account of the First Circumnavigation', New Haven: Yale University Press, 1969
2).  Zweig, S. Magellan. 'Der Mann und seine Tat', Wien-Leipzig-Zürich, 1937 and Fischer Taschenbuch Verlag, 1983
3).  Pintado, M J, 'Portuguese Documents On Melaka', National Archives of Malaysia, 1993
4).  https://id.wikipedia.org/wiki/Enrique_dari_Melaka

Tuesday, February 12, 2019

Sejarah Pemberian Nama Pulau Sumatera I Pegawai Jalanan

Hasil gambar untuk sejarah Pulau sumatera
Peta Sumatera

Sumatera adalah pulau keenam terbesar di dunia yang terletak di Indonesia, dengan luas 473.481 km². Penduduk pulau ini sekitar 57.940.351 (sensus 2018). Pulau ini dikenal pula dengan nama lain yaitu Pulau PerchaAndalas, atau Suwarnadwipa (bahasa Sanskerta, berarti "pulau emas"). Kemudian pada Prasasti Padang Roco tahun 1286 dipahatkan swarnnabhūmi (bahasa Sanskerta, berarti "tanah emas") dan bhūmi mālayu ("Tanah Melayu") untuk menyebut pulau ini. Selanjutnya dalam naskah Negarakertagama dari abad ke-14 juga kembali menyebut "Bumi Malayu" (Melayu) untuk pulau ini.
Asal nama Sumatera berawal dari keberadaaan Kerajaan Samudera (terletak di pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang.
Nama asli Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah "Pulau Emas". Istilah Pulau Ameh (bahasa Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam cerita Cindua Mato dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau Sumatera. Seorang musafir dari Tiongkok yang bernama I-tsing (634-713) yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti "negeri emas".
Dalam berbagai prasasti, Sumatera disebut dalam bahasa Sanskerta dengan istilah: Suwarnadwipa ("pulau emas") atau Suwarnabhumi ("tanah emas"). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa.
Para musafir Arab menyebut Sumatera dengan nama "Serendib" (tepatnya: "Suwarandib"), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Namun ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilangka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa.
Hasil gambar untuk Sriwijaya Empire
Wilayah Sriwijaya
Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.
Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Nusantara, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.
Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan dia. Emas itu didapatkan dari negeri Ofir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).
Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera (Gunung Ophir di Pasaman BaratSumatera Barat yang sekarang bernama Gunung Talamau?). Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ofir Nabi Sulaiman a.s.
Hasil gambar untuk Ptolemaios
Ptolemaios
Kata yang pertama kali menyebutkan nama Sumatera berasal dari gelar seorang raja Sriwijaya Haji Sumatrabhumi ("Raja tanah Sumatera"), berdasarkan berita China ia mengirimkan utusan ke China pada tahun 1017. Pendapat lain menyebutkan nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan abad ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis.
Samudera Menjadi Sumatera
Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pordenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.
Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau "Samatrah". Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama "Camatarra". Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama "Samatara", sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama "Samatra". Ruy d’Araujotahun 1510 menyebut pulau itu "Camatra", dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya "Camatora". Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: "Somatra". Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: "Samoterra", "Samotra", "Sumotra", bahkan "Zamatra" dan "Zamatora".
Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatera. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah Indonesia: Sumatera.

sumber :
1).  Nicholaas Johannes Krom, De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941
2).  https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera