F Mei 2022 ~ PEGAWAI JALANAN

Jumat, 06 Mei 2022

KETIKA KIAI KOMUNIS MENYERANG SAREKAT ISLAM (SI PUTIH) DAN MUHAMMADIYAH

        


        Beberapa waktu yang lalu kita sudah membahas tentang sosok Kiai Misbach yang berhaluan komunis, dari awal masa kecilnya sampai akhir masa hidupnya. Pada awalnya komunis dan Islam sejalan dalam perjuangan melawan kolonial Belanda, akan tetapi pada akhirnya kedua kekuatan ini bermusuhan dan saling berlawanan karena ideologi yang sangat berbeda dan tidak dapat disatukan. Walaupun akhirnya berusaha disatukan oleh Bung karno dalam Nasakomnya, tapi malah berakhir dengan mengerikan di masa-masa akhir kekuasaan Bung Karno. 

     Dalam pembahasan kali ini kita bergerak jauh kemasa-masa sebelum Indonesia merdeka, ketika organisasi-organisasi nasional sudah terbentuk. Salah satunya adalah Sarekat Islam, yang awalnya masih bersatu dengan golongan kiri alias komunis yang dikenal dengan SI merah. Anggota Saerkat Islam merah yang berhaluan komunis ini salah satu tokohnya adalah Haji Misbach yang pemikirannya bertentangan dengan Organisasi Islam khususnya Sarekat Islam yang anggotanya non Komunis atau SI putih dan Muhammadiyah.

        Dalam Kongres Sarekat Islam (SI) Merah di Jawa Barat pada awal Maret 1923, Mohammad Misbach naik podium. Haji kiri asal Solo itu berpidato di hadapan massa muslim yang sebagian besar memercayai ide-ide komunisme. Orasinya menyerang Centraal Sarekat Islam (CSI) pimpinan Haji Omar Said Tjokroaminoto, juga Muhammadiyah. “… Sekarang, kita semua tahu, bahwa Muhammadiyah adalah perkumpulan kapitalis dan sangat dipengaruhi oleh kapital,” ujar Misbach seperti terdapat dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997:362) karya Takashi Shiraishi.

      Bagi Misbach, terlarang hukumnya jika suatu perkumpulan, terlebih organisasi yang mengatasnamakan agama, ikut campur persoalan politik. Dan ia melihat arah Muhammadiyah sudah tidak sesuai lagi dengan esensinya sebagai perhimpunan yang memegang teguh ajaran Islam. “Perkumpulan itu (Muhammadiyah) seharusnya tidak melibatkan diri ke dalam masalah politik. Sekarang, sebuah perkumpulan yang tidak berdiri melawan kapitalisme berarti wajar pasti didukung oleh kapital!” Pertentangan Muhammadiyah kontra Misbach sebenarnya bukan hal yang tabu untuk dibahas, bahkan di kalangan Muhammadiyah sendiri. Majalah Suara Muhammadiyah pun pernah mengulasnya. Bahwa sempat terjadi ketidaksepahaman dengan Misbach adalah fakta sejarah dalam riwayat panjang perhimpunan yang didirikan Kiai Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 November 1912.

        Sejatinya, antara Misbach dan Muhammadiyah pernah terjalin relasi positif. Itu bermula ketika Misbach berkenalan dengan tokoh Muhammadiyah, Haji Fachrodin, melalui Inlandsche Journalisten Bond (IJB) atau perhimpunan jurnalis bumiputera yang didirikan Mas Marco Kartodikromo pada 1914 (Mu’arif, “Haji Merah dan Muhammadiyah”, dalam Suara Muhammadiyah, April 2016).  Keduanya langsung cocok karena memiliki beberapa persamaan. Sama-sama pedagang batik yang tertarik bidang jurnalisme dan pergerakan, sama-sama berlatar belakang keluarga kraton dan menetap di Kauman, meskipun lokasinya berbeda: Misbach adalah orang Kauman Solo, sementara Fachrodin berasal dari Kauman Yogyakarta. Misbach kemudian juga masuk keanggotaan Muhammadiyah. 
    Merasa sepemikiran, Misbach dan Fachrodin lalu bekerjasama, menggagas penerbitan majalah Medan Moeslimin pada 1915 dan berlanjut dengan Islam Bergerak yang terbit tahun 1917. Dua media dakwah itu sekaligus untuk mengkritisi kebijakan pemerintah kolonial. Penerbitan Medan Moeslimin dan Islam Bergerak didukung penuh oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah. Kala itu, Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah bermitra cukup dekat dengan Sarekat Islam (SI) pimpinan Tjokroaminoto, begitu pula Misbach dan Fachrodin. Ketika Tjokroaminoto membentuk Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) sebagai wujud protes terhadap kasus penistaan agama oleh Martodharsono dan Djojodikoro pada 1918, Misbach turut di dalamnya. Misbach bahkan mendirikan laskarnya sendiri yang diberi nama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV) untuk mendampingi TKNM. Selain itu, ia juga menyebar seruan tertulis untuk menyerang Martodharsono dan Djojodikoro (Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia: Akar-akar Kebangsaan Indonesia, 1995:573).

        Keretakan hubungan Misbach dengan Tjokroaminoto dan SI, yang kemudian menjalar ke Muhammadiyah, mulai muncul tak lama setelah TKNM menggagas aksi bela Islam sekaligus menggalang pengumpulan dana di Surabaya pada 6 Februari 1918, yang kemudian berlanjut ke kota-kota lainnya, kurang lebih 42 tempat di Jawa dan Sumatra (Taufik Rahzen, Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, 2007:32). 
        Aksi tersebut berhasil menghimpun ratusan ribu peserta dan mengumpulkan dana lebih dari 10.000 gulden. Setelah itu, terjadilah pertikaian antara Tjokroaminoto dengan rekannya sesama petinggi CSI, Haji Hasan bin Semit, terkait dugaan penggelapan uang TKNM (Suryana Sudrajat, Kearifan Guru Bangsa, 2006:50). 
       Perseteruan itu berakibat keluarnya Haji Hasan bin Semit dari CSI dan TKNM. Isu penggelapan uang TKNM itu membuat Misbach kecewa. Terlebih lagi, Tjokroaminoto tidak melanjutkan aksi TKNM, hanya mengumpulkan uang iuran serta mengirim kawat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat agar menghukum Martodharsono tanpa melakukan tindakan sendiri yang lebih tegas. Misbach menganggap TKNM dan SI serta Tjokroaminoto selaku pemimpin besarnya telah mengkhianati tujuan membela Islam, bahkan memanipulasinya. Ia pun mulai melancarkan serangan terhadap guru-guru agama, kiai, dan para tokoh TKNM serta SI. Menurutnya, mereka tidak ada bedanya dengan Martodharsono dan Djojodikoro yang telah menodai Nabi Muhammad dan Islam (Sudrajat, 2006:50).

    Kegeraman Misbach bertambah ketika orang-orang dekat Tjokroaminoto menyuarakan disiplin partai, yakni melarang anggota SI merangkap keanggotaan organisasi lain. Ada beberapa anggota SI, terutama dari cabang Semarang, yang terindikasi merangkap anggota Perserikatan Komunis Hindia atau PKH (Boon Kheng Cheah, From PKI to the Comintern, 1992:7). 
        PKH inilah yang kelak berganti rupa menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Misbach saat itu merapat ke SI cabang Semarang bersama Semaoen, Darsono, dan lainnya, setelah dikecewakan TKNM dan CSI. Polemik internal SI ini berpuncak ketika Darsono menyerang Tjokroaminoto dengan menuduhnya telah menyalahgunakan uang organisasi (Shiraishi, 1997:310). 
    Kasus tersebut yang berbeda dengan perkara sebelumnya terkait dugaan Tjokroaminoto telah menggelapkan dana TKNM. Darsono melalui surat kabar milik SI Merah, Sinar Hindia, pada edisi 6, 7, dan 9 Oktober 1920 juga mengkritik posisi rangkap Tjokroaminoto yang selain sebagai ketua juga menjadi bendahara CSI. Dengan mantap, Misbach berdiri di belakang Darsono hingga akhirnya orang-orang SI cabang Semarang terdepak dari CSI dan membentuk SI Merah yang nantinya melebur dengan PKH menjadi PKI. 


        Misbach memang dikenal sebagai tokoh Islam yang juga menganut ajaran komunisme. Dalam Kongres SI Merah di Jawa Barat pada Maret 1923, dalam orasinya Misbach melancarkan serangan terhadap Tjokroaminoto dan Muhammadiyah. Kedekatan Muhammadiyah dengan CSI membuat Misbach berang hingga menyebut perhimpunan yang bermarkas di Yogyakarta itu sebagai antek kapitalis dan turut terlibat dalam dugaan penggelapan uang CSI. 
   “Yang juga sangat aneh bahwa CSI telah bersekongkol dengan Muhammadiyah... Ketika Darsono mulai melakukan kampanye publik melawan kebijakan CSI, markasnya cepat-cepat harus dipindah dari Surabaya ke Yogyakarta (kota yang juga menjadi pusat Muhammadiyah),” sebut Misbach dalam pidatonya. “Dan yang luar biasa mengejutkan adalah fakta ketika penghitungan keuangan dilakukan, uang yang dibutuhkan ditemukan dalam rekening SI (yang diduga berasal dari bendahara Muhammadiyah),” tambahnya (Shiraishi, 1997:362). Tak hanya menyerang Muhammadiyah sebagai organisasi, Misbach dengan lantang juga melontarkan kecaman kepada Kiai Haji Ahmad Dahlan yang dulu pernah dianggapnya sebagai guru. Kecaman itu disampaikan melalui Medan Moeslimin edisi 24 tahun 1922. Dalam pandangan Misbach, satu-satunya cara mengikuti atau meneladani Nabi Muhammad pada masa itu yang lekat dengan kuasa modal adalah dengan melawan kapitalisme, bukan sebaliknya (Shiraishi, 1997:360).

      Muhammadiyah, terutama K.H. Ahmad Dahlan, sebenarnya punya pandangan yang simpatik kepada Misbach. Sikap tegas, keras, dan tanpa tedeng aling-aling Misbach, dianggap sebagai contoh mubalig sejati yang berbuat dengan tindakan nyata dan tidak sekadar kata-kata. Saat Misbach ditangkap pada Mei 1919 karena menggambar kartun di surat kabar Islam Bergerak yang dianggap menyerang pemerintah dan Sunan Pakubawana X, beberapa orang/organ mengusahakan pembebasan Misbach. Salah satunya adalah Kiai Dahlan. Pendiri Muhammadiyah itu dengan mengatasnamakan Muhammadiyah, mengirim kawat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda agar membebaskan Misbach (Zaman Bergerak, hal. 225). 
    Misbach kemudian dibebaskan pada Oktober 1919. Pembebasan itu tidak membuat Misbach surut. Sikapnya semakin radikal menghadapi kolonialisme Hindia Belanda. Medan Moeslimin dan Islam Bergerak--yang ia terbitkan bersama Fachrodin dan awalnya didukung oleh Kiai Dahlan--menjadi sarana Misbach mengutarakan kecaman dan serangan yang makin pedas dan ngegas. Pada Mei 1920, Misbach ditangkap kembali. Saat itulah, para pendukung Misbach yang tergabung dalam organisasi Sidiq, Amanah, Tablig, Vatonah (SATV) mulai bergerak lebih moderat. Medan Moeslimin kemudian diambil alih oleh Moechtar Boechori, salah seorang mubalig Muhammadiyah. SATV cabang Surakarta bahkan diubah menjadi Muhammadiyah afdeling Surakarta. Islam Bergerak menjadi medium radikalisasi yang tersisa dari sisi Misbach dan dari medium itu pula kritik kepada Muhammadiyah mulai menderas sejak awal 1922 hingga Juli 1922. Serangan itu mulai mengendur saat Sismadi, redaktur Islam Bergerak yang gencar mengkritik Muhammadiyah, juga masuk ke dalam penjara kolonial. Serangan verbal Misbach kepada Muhammadiyah, sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya, menggencar sejak ia dibebaskan pada pengujung 1922. Ia sempat mengambil alih lagi Medan Moeslimin serta Islam Bergerak, dan dari sanalah kritik-kritiknya kepada tokoh-tokoh dan organisasi Islam yang dianggapnya moderat atau cenderung main aman bermunculan. 

    Misbach melihat Muhammadiyah sudah ikut-ikutan bermain politik praktis, termasuk manuver orang-orang Muhammadiyah di Central Sarekat Islam yang dianggap sangat aktif menentang SI afdeling Semarang yang makin bergerak ke kiri. Selain itu, Muhammadiyah juga dinilai semakin mendekat ke kehidupan kapitalis karena lebih memfokuskan pada kegiatan pendidikan dan pelayanan kesehatan (Soewarsono, dkk., Jejak Kebangsaan: Kaum Nasionalis di Manokwari dan Boven Digoel, 2013:89), yang mengondisikan organisasi tersebut untuk lebih berhati-hati dan tidak bersikap kelewat keras yang membahayakan roda organisasi. Bagi Misbach, fokus pada pendidikan dan pelayanan tidaklah tepat saat medan pergerakan sedang membutuhkan sikap yang jelas, tegas, dan agresif menghadapi dominasi pemerintah kolonial. Itu hanya membuat Muhammadiyah, dalam analisis Misbach, menjadi bergerak ke tengah, menjadi moderat. Misbach enggan mempertimbangkan realisme politik yang, dalam taraf tertentu, mengondisikan pimpinan Muhammadiyah, termasuk Kiai Dahlan, untuk lebih berhati-hati melangkah. 

    Beberapa tahun kemudian, terutama pada awal 1930-an, perbedaan pandangan Misbach dan Muhammadiyah ini muncul kembali dalam perdebatan tentang kooperasi dan non-kooperasi: menolak total kerja sama dengan pemerintah sebagai sikap non-kooperasi, dan menerima sebagian sistem kolonial (seperti Volksraad) sembari pelan-pelan mendesakkan agenda-agenda pergerakan sebagai sikap kooperasi. Keduanya, sikap kooperasi dan non-ko, adalah anak kandung sejarah pergerakan nasional--sebagai varian respons terhadap kolonialisme. Misbach pada akhirnya keluar--atau bisa jadi dipecat--dari keanggotaan Muhammadiyah pada 1923 (Soeara Moehammadijah, Mei & Juni 1923). 
        Sampai akhirnya, Misbach ditangkap aparat kolonial pada 20 Oktober 1923 dan dipenjarakan di Semarang. Beberapa bulan berselang, ia diasingkan jauh ke Manokwari, Papua, hingga mengembuskan napas penghabisan di sana pada 24 Mei 1926 lantaran terserang malaria.

Sumber : tirto.id