Jumat, 25 Desember 2020

Catatan Sejarah Mengatakan Pernah Ada Suku Kanibal di Sumatra | Pegawai Jalanan

 

Ilustrasi


Catatan tentang Suku Kanibal di Pedalaman Sumatra


Pedalaman Sumatra pernah menjadi tempat yang menyeramkan. bagaimana tidak, karena dari catatan sejarah, Sumatra memiliki suku kanibal yaitu pemakan manusia. Kita sebagai manusia yang telah modern mungkin ada yang tidak percaya bahwa ada manusia yang memakan daging sesamanya. Namun kejadian ini benar-benar terjadi bahkan menjadi catatan penting penjelajah yang berhasil menemukan keberadaan mereka.

Marcopolo yang merupakan seorang penjelajah juga pernah menuliskan dalam catatannya ketika ia tiba di Sumatra. Ia tiba di Sumatra tahun 1292 dan sempat menyusuri pesisiran Sumatra (dalam catatannya ia menyebutnya jawa kecil). Di tengah perjalanannya ia sempat menyaksikan adanya masyarakat yang memakan daging manusia. Ketika berada di kerajaan Dagroian, daerah Pidie (Aceh), Marco Polo menyaksikan masyarakat kanibal di sana yang memakan daging kerabatnya yang sakit parah dan sudah tidak bisa diselamatkan. “Ketika salah satu kerabat mereka jatuh sakit, mereka akan memanggil penyihir untuk datang dan mencari tahu apakah si sakit bisa sembuh atau tidak. Jika penyihir itu berkata bahwa si sakit akan mati, kerabat si sakit akan memanggil orang tertentu yang secara khusus membunuh si sakit. Ketika dia sudah mati, mereka akan memasaknya. Kemudian para kerabat akan berkumpul dan menyantap seluruh badan orang itu. “Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu,” tulis Marco Polo dalam “Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatra Utara Pada 1920-an” dimuat dalam Sumatra Tempo Doeloe karya Anthony Reid. (bangkapos.com)

Kanibalisme juga berlaku untuk seorang yang dituduh mata-mata dan tawanan perang. “Mereka dapat menangkap orang asing yang bukan berasal dari daerahnya, mereka akan menahan orang itu. Jika orang itu tidak sanggup menebus dirinya sendiri, mereka akan membunuhnya dan memakannya langsung di tempat,” tulis Marco Polo. Meski tak melihatnya secara langsung dia mendengar cerita itu dari pesisiran. Dimana mereka menyebutkan ada seorang pria yang dicekik dan kemudian dimasak. Marcopolo bercerita secara detil bagaimana cara orang itu dimakan. (historia.id)

Catatan lain tentang kanibalisme suku Batak juga dikeluarkan Sir Thomas Stamford Raffles pada 1820 ketika mempelajari Batak, ritual, dan hukum mereka tentang konsumsi daging manusia. Dia menuliskan secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan serta metode pembantaian. Raffles mengatakan, sudah biasa bagi orang-orang Batakmemakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja. Kanibalisme juga diberlakukan bagi penjahat yang melakukan kejahatan tertentu. Tubuh mereka dimakan mentah atau dipanggang menggunakan kapur, garam dan sedikit nasi. (tobatabo.com)

Pada tahun 1935 seorang arkeolog bernama Friedrich Schnitger menemukan sebuah fakta mengerikan terkait suku kanibal di masa lalu. Ia menemukan sebuah reruntuhan candi di Padang Lawas, Sumatra Selatan yang dipercaya sebagai sisa kerajaan Poli pada abad ke-12 masehi. Schnitger menduga jika kerajaan ini berasal dari sekte yang bernama Bhairawa. Orang-orang dari sekte ini memuja dewa-dewa yang memiliki wujud seperti setan. Ritual kanibalisme biasanya dilakukan saat senja sebelum matahari terbenam. Orang yang akan dikorbankan dibaringkan di altar. Lalu pendeta akan mengambil jantungnya, dan menaruh darah dalam sebuah wadah tengkorak lalu meminumnya sampai habis. (pemburuombak.com)

Dikisahkan pula ada dua orang misionaris yang berusaha mengkristenisasi suku Batak pada tahun 1834. Kedua orang itu adalah Samuel Munson dan Henry Lyman. Peristiwa itu terjadi 28 Juni 1834 di Sisangkak, Lobupinang, sekitar 20 km sebelah barat kota Tarutung, Sumatra Utara. Jauh sebelumnya, Raja Panggalamei Lumbantobing memerintahkan pasukannya membunuh setiap sibontar mata (orang Barat) yang memasuki daerah ini. Atas perintah itu tidak ada ampun bagi Munson dan Lyman. "Mayatnya dipertontonkan di pasar. Kemudian dicincang dan sebagian lagi direbus. Setelah itu dimakan beramai-ramai dan tulang belulangnya dibuang ke tempat sampah. (lokadata.id)

Seorang peneliti bernama Oscar von Kessel, melakukan penelitian tentang masyarakat Batak pada tahun 1844. Ia adalah orang Eropa pertama yang pernah mengamati ritual kanibalisme di Silindung. Menurutnya, masyarakat Batak menganggap kanibalisme sebagai perbuatan hukum bagi pelanggaran seperti pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, merica merah dan lemon harus disediakan oleh keluarga korban sebagai tanda menerima keputusan hukuman itu dan tidak lagi memikirkan balas dendam.


Catatan Menakutkan Pelancong Wanita Pertama di Suku Batak

        

Pada tahun 1852, seorang pelancong wanita dari Austria memiliki keinginan untuk bertemu dengan suku kanibal tersebut. Wanita ini adalah Ida Laura Reyer Pfeiffer seorang pelancong wanita bergaya tomboy. Kisah tentang Ida Pfeiffer ini merupakan cuplikan dari A Lady's Second Journey Round the World: From London to the Cape of Good Hope, Borneo, Java, Sumatra, Celebes, Ceram, the Moluccas, Etc., California, Panama, Peru, Ecuador, and the United States, Volume 1. Buku tersebut merupakan catatan perjalanan Ida yang terbit di London pada 1855. Para tawanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus. Darah mereka diawetkan untuk minum, dan kadang dibuat menjadi semacam puding yang disajikan dengan nasi. Bagian tubuh kemudian dibagikan. Telinga, hidung, dan telapak kaki adalah bagian milik Raja, yang juga memiliki klaim atas bagian lain. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, dan hati yang semuanya adalah hidangan aneh dan semua daging dipanggang dan disantap dengan garam. Ida tidak menyaksikan kengerian itu dengan mata kepalanya. Dia mendapat informasi tersebut dari beberapa pejabat pribumi setingkat bupati di Muara-Sipongie,” tulis Ida Laura Reyer Pfeiffer dalam catatan perjalaannya di Sumatra.

Ketika berada di Padang, keinginan Ida Pfeiffer untuk bertemu dengan bertemu suku ini semakin kuat karena pejabat setempat meyakinkan bahwa wanita tidak diizinkan mengambil bagian dalam makan malam utama. Walaupun banyak pula warga setempat yang mencegah perjalanan Ida untuk menemui suku Kanibal liar dari batak. Karena sebelumnya dua orang misionaris asal Amerika, Henry Lyman dan Samuel Munson telah dibunuh dan disantap pada tahun 1835. Namun perjalanan tetap Ida lakukan dengan membawa seorang pemandu dengan cara menunggang kuda ke pedalaman Sumatra.

Pada pertengahan Agustus 1852, keduanya menuruni bukit di Silindong, dekat Danau Toba. Namun, sebelum menuju lembah, pemandunya menyarankan supaya  Ida untuk tak menjauh darinya.  Mereka menyaksikan prosesi yang dilakukan enam lelaki bersenjata tombak. Ketika kedua orang itu mendekat, mereka justru disambut dengan tombak dan parang. Setelah si pemandu menjelaskan, Ida boleh melewati kawasan itu. “Di suatu tempat, kejadiaannya bahkan lebih serius,” demikian Ida berkisah. “Lebih dari 80 lelaki berdiri di jalanan setapak dan menghalangi perjalanan kami”. Kemudian dia melanjutkan, “Sebelum saya menyadarinya, sekawanan lelaki telah melingkari saya seraya menodongkan tombak mereka, dengan tatapan ngeri dan liar. Ida melukiskan sosok lelaki Batak yang mengepungnya. Mereka berbadan tegap dan kuat, tingginya hampir dua meter, penampilannya beringas dan militan. “Mulut lebar mereka dengan geligi yang menonjol, tampaknya lebih mirip dengan binatang buas ketimbang manusia manapun”.

Suasana kian mencekam, para lelaki itu merubungi Ida sembari bersorak-sorai. “Saya tidak mengerti apa yang terjadi selanjutnya”, ungkapnya. “Saya merasa sudah pasti bahwa ini adalah akhir hidup saya”. Ida gelisah, demikian dalam catatannya, lantaran suasana kian menakutkan. Namun, tampaknya dia tidak kehilangan kendali. Dalam situasi teror, perempuan itu duduk di sebongkah batu. Lalu, sekonyong-konyong mereka mendatanginya sembari menunjukkan gerakan-gerakan yang mengancam.

Ida bangkit dan mencoba berbicara kepada lelaki beringas di dekatnya dengan bahasa separuh Melayu dan separuh Batak. Sembari tersenyum Ida berkata, “Mengapa Anda tidak berkata saja bahwa Anda akan membunuh dan memakan seorang perempuan tua seperti saya. Saya pastilah sangat sulit dimakan dan alot”. Ida, dengan gaya pantomimnya, berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya tidak takut apapun. Bahkan, apabila mereka menginginkannya, dia rela dibawa oleh mereka asalkan mereka mengantarnya ke Eier Tau, Danau Toba.  

Kemudian para lelaki beringas dan bertombak itu melepaskan tawa mereka. Barangkali, kepercayaan diri yang Ida tunjukkan telah membuat suatu kesan bersahabat kepada mereka. Pada akhirnya, mereka menyambut Ida dengan uluran tangan, dan lelaki bertombak yang melingkari perlahan membuka jalan untuk dirinya. Ida bersuka cita lantaran terlepas dari bahaya di pedalaman Sumatra. Dia pun berhasil berjejak di tepian Danau Toba dengan selamat.

Ketika peristiwa itu telah dua tahun berlalu, Ida telah kembali ke kampung halamannya di Wina, Austria. Dia terkejut pada satu pemberitaan dari Hindia Belanda. “Saya membaca surat kabar yang mewartakan bahwa tiga misionaris asal Prancis  di pedalaman Tappanolla, Batak; telah terbunuh dan dimangsa oleh para kanibal ditengah perayaan dengan tarian dan musik”.(nationalgeographic.grid.id)

 

Itulah gambaran singkat rekaman jejak suku kanibal dan keberanian seorang wanita yang berani mendatangi daerah yang belum dia kenal dan penuh dengan catatan menyeramkan. Dimana dari catatan-catatan para penjelajah, arkeolog dan peneliti mengindikasikan bahwa di Sumatra pernah memiliki suku kanibal. Suku yang sering disebutkan dalam catatan-catatan itu adalah suku Batak. Hal tersebut adalah wajar karena ketika itu masyarakat di pedalaman belum mengenal Agama. Suku yang memakan manusia berangsur berkurang karena kebijakan pemerintah Belanda yang melarang Kanibalisme. Selain itu juga karena proses Kristenisasi yang di lakukan pemerintah Belanda dalam upaya menjatuhkan kerajaan yang dipimpin Sisinga Mangaraja XII. Walau mungkin suku ini masih ada, namun di zaman yang semakin modern ini sudah semakin sedikit manusia kanibal bahkan mungkin sudah tidak ada. Jika saja mereka tidak memasukan dalam buku-buku dan juga catatannya mungkin kita masih tidak percaya bahwa keberadaan mereka memang pernah ada. Namun kita masih dapat melihat sisa-sisa peninggalan mereka seperti Batu Parsidangan, Desa Siallagan, Pulau Samosir, Sumatra Utara yang kini menjadi objek wisata.



Penulis : Rizky Arisandi

Penyunting : Argha Sena

Sumber: nationalgeographic.grid.id, lokadata.id, pemburuombak.com, 

tobatabo.com, historia.id, bangkapos.com

Minggu, 13 Desember 2020

Tempat Bersejarah yang Wajib Kalian Kunjungi Jika Berkunjung ke Kota BATAM | Pegawai Jalanan

           

Batam

            Kota Batam merupakan kota strategis yang berbatasan dengan negara Singapura dan Malaysia. Sebagai kota strategis dalam jalur pelayaran, kota Batam menjadi kota yang berkembang pesat. Banyak destinasi wisata yang menambah indahnya kota yang dapat kita kunjungi. Di Batam juga memiliki tempat-tempat bersejarah yang dapat kita kunjungi untuk dapat menambah wawasan kita tentang sejarah di kota Batam. Tempat-tempat inilah yang yang dapat kita jadikan tujuan ketika kita pergi ke kota ini. Berikut ini adalah tempat-tempat bersejarah di kota Batam yang telah kami dirangkum dari berbagai sumber.

I.  Jembatan Barelang

Jembatan Barelang merupakan Maskot atau ikon dari kota Batam. Karena merupakan ikon kota Batam maka tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi jembatan Barelang. Jembatan Barelang adalah singkatan dari Batam, Rempang dan Galang yang merupakan pulau-pulau yang dihubungkan oleh jembatan ini. Adapula yang menyebutnya jembatan Habibie, karena pembangunan jembatan ini di inspirasi oleh B.J. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Jembatan Barelang menghubungkan tujuh pulau yaitu Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Setoko, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru. Karena menghubungkan tujuh pulau, jembatan Barelang memiliki enam buah jembatan dan memiliki nama jembatan yang di ambil dari nama raja-raja melayu yang pernah berkuasa di Riau sekitar abad 15-18 Masehi. (batamogura.com)

Adapun nama-nama ke enam jembatan ini adalah:

1.      Jembatan Tengku Fisabilillah (jembatan I), merupakan terbesar dan terpanjang di antara jembatan Barelang lainnya. Jembatan inilah yang sering dikunjungi dan dijadikan tempat untuk berfoto-foto. Jembatan ini menghubungkan pulau Batam dan pulau Tonton. Jembatan ini memiliki panjang 642 meter, dengan panjang bentang utama 350 meter.(batampos.co.id)

2.     Jembatan Nara Singa (jembatan II), jembatan ini menghubungkan pulau Tonton dan pulau Nipah. Jembatan ini juga sering dikunjungi karena pemandangan indahnya. Dari jembatan ini kita dapat melihat jembatan I. selain itu tempat ini juga sering dijadikan tempat untuk memancing warga lokal. Jembatan ini memiliki panjang 420 meter dan lebar 18 meter. (batamnews.co.id)

3.      Jembatan Raja Ali Haji (jembatan III), jembatan ini menghubungkan pulau Nipah dan pulau Setoko. Di jembatan ini kita dapat melihat pemandangan laut dan pulau-pulau kecil. Tak jauh dari jembatan ini kita dapat menikmati pantai pasir putih di pulau Setoko dan juga restoran makanan hasil laut (seafood). Jembatan ini memiliki panjang 270 meter dengan bentang 45 meter dan lebar 18 meter. (batamnews.co.id)

4.     Jembatan Sultan Zainal Abidin (jembatan IV), jembatan ini menghubungkan pulau Setoko dan pulau Rempang. Di pulau rempang rencanya akan dikembangkan sebagai daerah buru, daerah industri, pariwisata, perdagangan dan jasa. Keunikan dari tempat ini adalah jembatan ini dapat dijadikan landasan pesawat tempur karena jalannya sengaja dibuat dengan struktur pondasi, lebar dan kekuatan yang dapat digunakan pesawat tempur. Panjang dari jembatan ini adalah 365 meter dengan bentang 145 meter dan lebar dek 18 meter.(haluankepri.com)

5.      Jembatan Tuanku Tambusai (jembatan V), jembatan yang memiliki panjang 385 meter dengan bentang 245 meter dan lebar 18 meter ini menghubungkan pulau Rempang dan pulau Galang. Di jembatan kita juga dapat melihat pemandangan laut dan juga pulau-pulau kecil disekitarnya. Di jembatan V kita juga dapat menikmati wisata alam dengan berbagai wisata pantai andalan di Kota Batam, hingga wisata sejarah. (batamnews.co.id)

6.      Jembatan Raja Kecik (jembatan VI), jembatan ini menghubungkan pulau Galang dan pulau Galang baru. Jembatan ini adalah jembatan terpendek dari jembatan Barelang lainnya. Panjang jembatan ini adalah 180 meter dan lebar 18 meter. Pulau Galang Baru adalah tempat yang akan dijadikan kawasan suaka alam, cagar alam, perdagangan, dan jasa.

Itulah ke enam jembatan Barelang yang terkenal di kota Batam. Jembatan Barelang dibangun dalam waktu 6 tahun hingga peresmiannya, yaitu di tahun 1992-1998 dengan Anggaran sebesar Rp. 400 miliar dan panjang total jembatan ini adalah 2.264 meter. Jembatan Barelang dibangun dengan mempekerjakan orang-orang Indonesia tanpa bantuan tenaga kerja asing. Jembatan Barelang juga menggunakan metode kontruksi yang berbeda dalam pengerjaannya.

II.           Kampung Camp. Vietnam

Kampong Vietnam berada di Desa Sijantung, Pulau Galang Baru, sekitar 50 km dari kota Batam. Asal mula dinamakan kampung Vietnam karena ketika perang saudara di Vietnam tahun 1975 antara Vietnam Selatan dan Utara. Karena perang yang terjadi, banyak penduduk yang meninggalkan negaranya dan pergi mengarungi lautan untuk menyelamatkan diri. Setelah sekian lama berlayar, mereka berhasil sampai di pulau Galang yang saat itu masih menjadi pulau tak berpenghuni. Dalam buku Troubled Transit: Politik Indonesia Bagi Para Pencari Suaka karya Antje Missbach, dijelaskan bahwa manusia perahu Vietnam datang ke Indonesia akibat situasi politik di Vietnam kala itu. Usai kemenangan Komunis dan kejatuhan Saigon April 1975, puluhan ribu orang Vietnam keluar dari negaranya untuk mencari suaka. Berdasarkan laporan pertama, 19 Mei 1975, sekitar 97 orang manusia perahu Vietnam tiba di Indonesia. Sedangkan menurut laporan PBB tahun 1979, ada 43.000 manusia perahu sudah masuk Indonesia. Mekanisme penyaringan pencari suaka kala itu belum ada. Tetapi secara otomatis, status para manusia perahu masuk sebagai pengungsi prima facie (pertama kali) dan beberapa bentuk perlindungan. (detiktravel.com)

Mereka membangun pemukiman-pemukian, lengkap dengan fasilitas hidup bersosial seperti Sekolah Restoran, Rumah Sakit, Vihara dan Gereja sebagai tempat ibadahnya. Kapal pengungsi yang dulu digunakan untuk berlayar juga masih bisa kita temukan disana. Para pengungsi ini tinggal di pulau Galang selama bertahun-tahun, hingga pada suatu saat sebagian dari para pengungsi tersebut terjangkit sebuah virus yang terkenal dengan Vietnam Rose. Virus tersebut menyebabkan ratusan para pengungsi meninggal dunia. Hingga mereka juga membuat taman pemakaman di Kamp Vietnam.(batamogura.com)

Pada Mei 1979, diselenggarakan Pertemuan para Menlu seluruh ASEAN. Dari kesepakatan itu, semua biaya akomodasi pengungsi di Indonesia menjadi tanggunan UNHCR. Maka setelahnya, dibangunlah kamp-kamp pengungsian di Pulau Galang. Hingga beberapa tahun setelahnya, jumlah manusia perahu di Pulau Galang terus bertambah. Apalagi, kala itu manusia perahu yang ke Malaysia ditolak karena kebijakan pengalihan jurusan, sehingga jumlah manusia perahu di Pulau Galang meningkat hingga 16.500. Manusia perahu di Pulau Galang pun hidup hampir dua dekade. (detiktravel.com)

Hingga pada tahun 1994, pemerintah berupaya untuk kembali mengosongkan pulau tersebut. Pengosongan pulau tersebut dilakukan secara bertahap. Mereka dikembalikan melewati jalur udara dan laut, namun ada juga yang pergi merantau ke Negara lain. Setelah kepergian mereka, tempat ini menjadi kosong selama bertahun-tahun. Masih banyak sisa-sisa kamp orang-orang Vietnam yang masih berdiri kokoh. Dengan bangunan-bangunan tempat ibadah seperti mushola, vihara dan gereja yang masih ada hingga sekarang. Selain tempat ibadah, di kampung Vietnam juga terdapat pemakaman yang digunakan para pengungsi untuk menguburkan orang-orang yang telah meninggal. Ada juga penjara yang bangun untuk memenjarakan orang-orang yang bertindak kriminal.

Menurut cerita, ada seorang wanita bernama Tinh Nham Laoi  yang bunuh diri karena tak kuat menahan malu. Hal ini dikarenakan ia di perkosa oleh 7 orang pengungsi secara brutal. Sehingga dibuatlah tugu bernama Humanity Statue yang didirikan pengungsi lainnya untuk mengingat musibah yang memilukan. Konon sering terjadi hal-hal menyeramkan di tempat terjadinya bunuh diri tersebut, diganggunya pengunjung oleh hantu wanita dan mendengar rintihan , tangisan dan tawa. Sesuatu yang kelam pernah terjadi di kampung Vietnam, mulai dari pemerkosaan, penyiksaan, bunuh diri, dan juga karena pernah terjadi wabah Vietnam Rose. Tidak semua tempat wisata disini menyeramkan, karena kita dapat menikmati keindahan pantai melur. Pantai melur adalah pantai dengan pasir yang halus, dan kini telah tersedia wahana permainan air seperti speed boat dan banana boat.

Demikianlah gambaran singkat tentang kampung Vietnam yang ada di pulau Galang kota Batam. Kita dapat menambah wawasan kita ketika pergi kesana, dimana terdapat sejarah bahwa kita adalah bangsa yang mengedepankan kemanusiaan. Tentunya kita juga akan mendapatkan informasi-informasi bersejarah lainnya yang dapat kita ceritakan. Dan katanya disini akan dijadikan Rumah Sakit untuk menampung pasien yang terkena Covid-19.

III.           Rumah Limas Potong

Rumah limas potong berada di Kampung Melayu Kelurahan Batu Besar Kecamatan Nongsa Kota Batam. Disebut rumah limas potong karena bentuk atap rumasnya yang berbentuk limas seperti dipotong. Rumah ini dibangun oleh Haji Abdul Karim atas permintaan Haji Sain pada bulan November tahun 1959. Rumah ini merupakan rumah adat melayu yang masih bertahan hingga sekarang di kota Batam. Rumah limas potong ini diresmikan sebagai peninggalan Raja Nong Isa pada tanggal 10 November 2011 oleh walikota Batam Ahmad Dahlan ketika peringatan Hari Pahlawan.(batamtoday.com)

Ketika kita memasuki rumah ini kita akan sejumlah foto bertajuk sejarah yang memamerkan aktivitas masyarakat Melayu di daerah tersebut puluhan tahun lalu. Ada pula sebuah foto beberapa pria menggenggam sejumlah dokumen sambil berjalan tersenyum di atas sebuah jembatan. Itulah foto yang diambil ketika pusat pemerintahan kecamatan pertama di Batam pindah dari Pulau Buluh ke Belakang Padang. Foto lainnya bercerita tentang warga yang bermain-main di tanah lapang. Ada pula foto wajah seorang guru agama bernama Haji Muhammad Nur, yang sangat dihormati masyarakat setempat. Guru agama ini berkontribusi besar dalam membangun akhlak anak-anak sekitar. Seluruh foto hitam putih itu merupakan memori sejarah yang tak terlupakan.(sindonews.com)

Itulah beberapa yang menjadi tempat bersejarah di kota Batam yang dapat kunjungi sebagai tempat untuk menambah wawasan tentang sejarah yang ada di kota Batam. Jika kita berbicara tentang tempat wisata di kota Batam maka kita akan banyak tempat-tempat indah yang dapat kita kunjungi. Tapi jika kita ingin berwisata sekaligus menambah wawasan maka tempat-tempat tersebut dapat dijadikan tujuan ketika kita pergi kesana. 

Penulis : Rizky Arisandi

Penyunting : Argha Sena

Sumber :  sindonews.com, batamtoday.com, batamogura.com, detiktravel.com, 

Jumat, 27 November 2020

Sejarah dan Perkembangan Kota Pontianak dari Hutan Menjadi Kota | Pegawai Jalanan



Taman Tugu Digulis
 

Sejarah berdirinya Kota Pontianak

Pontianak, ketika kita mendengar kata Pontianak maka yang ada dalam gambaran kita adalah tugu khatulistiwa. Karena memang kota Pontianak adalah kota yang dilalui garis lintang nol atau garis khatulistiwa. Kota Pontianak adalah ibukota provinsi Kalimantan Barat. Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari rabu tanggal 23 oktober 1771 M, bertepatan dengan tanggal 14 radjab 1185 H. Awalnya, tempat tersebut bernama Khun Tien yang banyak dihuni oleh etnis tionghoa di sepanjang pesisir Sungai Kapuas. (nationalgeographic.grid.id)

Seperti pada umumnya daerah-daerah di Indonesia, Pontianak juga memiliki kisah legenda tentang berdirinya kota Pontianak. Ketika itu Syarif Abdurrahman Alkadrie menyisiri sungai Kapuas untuk mencari lokasi pembangunan istana. Syarif Abdurrahman Alkadrie  sering di ganggu oleh hantu kuntilanak yang memang menjadi penghuni di hutan sepanjang Sungai Kapuas. Syarif Abdurrahman Alkadrie  menembakkan meriam ketiga tempat yang kemudian menjadi titik pembangunan Pontianak. Ketiga  titik tersebut adalah Istana Kadariah, Masjid Jami’ (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan pemakaman anggota keluarga Kesultanan Pontianak. Karena suara tembakan meriam yang memiliki suara kencang, kuntilanak yang menghuni hutan pun pergi. (travel.detik.com)

Asal-usul penamaan Pontianak adalah karena dahulu banyak hantu kuntilanak yang mendiami tempat ini. Warga lokal sering menyebutnya dengan nama puntianak. Sebagian masyarakat juga percaya bahwa asal-usul Pontianak berasal dari legenda masyarakat melayu  dengan mengambil nama dari kata pohon-pohon punti, yang berarti pohon-pohon tinggi. Karena pada masa itu, wilayah Pontianak memang dikelilingi pohon-pohon tinggi. Hal ini diperkuat dengan bukti  sebuah surat  antara Husein bin Abdul Rahman Al-idrus (rakyat negeri Pontianak) kepada sultan Syarief Yusuf Al-Kadrie. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa Pontianak berarti “pintu anak” karena daerah tersebut  menjadi gerbang pembatas antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. (NusaDaily.com)

Ilustrasi Hantu Kuntilanak

Seorang sejarawan Belanda, V.J. Verth memiliki pendapat yang berbeda dari cerita yang beredar dikalangan masyarakat. Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 H (1773 M) dari Batavia. Verth menulis bahwa Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie meninggalkan kerajaan Mempawah dan mulai merantau. Ia menikah dengan adik Sultan Banjar Sunan Nata Alam dan dilantik menjadi pangeran di Banjarmasin. Ia mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya dan mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Dengan bantuan Sultan Pasir berhasil membajak kapal belandadi dekat Bangka, juga kapal inggris dan perancis di pelabuhan pasir. Ia kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sebuah pulau di Sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai landak dan Kapuas kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan. (V.J. Verth, Borneos Wester Afdeling)

Itulah beberapa pendapat tentang penamaan kota Pontianak yang kita kenal sekarang. Memang bagi kita sebuah hal mistis adalah sesuatu yang di luar nalar. Namun cerita tersebut menjadi cerita turun-temurun dari dulu hingga sekarang. Asal-usul kota Pontianak yang masih diyakini masyarakat kota Pontianak.

Sistem Pemerintah Kota Pontianak

Pada Hijriah Sanah delapan hari bulan sja’ban  hari isnen, Syarif Abdurrahman Alkadrie   dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Pontianak. Dua tahun setelah Sultan kerajaan Pontianak dinobatkan, maka pada Hijriah Sanah 1194 atau tahun 1778 M masuk dominasi kolonialis Belanda dari Batavia (Betawi) utusan Petor (asistent resident) dari Rembang bernama Willem Ardinpola. Mulai pada masa ini Bangsa Belanda berada di Pontianak. Bangsa Belanda di tempatkan di seberang keraton Pontianak yang terkenal dengan nama Tanah Seribu (Verkendepaal). (Pontianakkota.go.id)

Keraton Kadriah pontianak

Pada tanggal 5 juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk tanah seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda  yang kemudian menjadi kedudukan pemerintah Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (kepala daerah keresidenan Borneo Barat) dan Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (asisten residen kepala daerah kabupaten Pontianak). (Wikipedia.org)

Berdasarkan besluit pemerintah kerajaan Pontianak tanggal 14 agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai Stadsgemeente. R. Soepardan ditunjuk menjadi syahkota atau pemimpin kota saat itu. Jabatan Soepardan berakhir pada awal 1948 dan kemudian digantikan Ads. Hidayat. Pembentukan stadsgermeente bersifat sementara, maka besluit pemerintah kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan undang-undang kerajaan Pontianak tanggal 16 september 1949 No. 40 /1949/KP. Walikota pertama ditetapkan oleh pemerintah kerajaan Pontianak adalah Rohana Muthalib. Ia adalah seorang wanita pertama yang menjadi walikota.

Sesuai perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-Undang darurat No. 3 tahun 1953, bentuk pemerintahan ditingkatkan menjadi kota praja Pontianak. Pemerintah kota praja kembali diubah berdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1957, Penetapan Presiden No. 6 tahun 1959 dan Penetapan Presiden No. 5 tahun 1960, Intruksi Menteri dalam Negeri No. 9 tahun 1964 dan Undang-Undang No. 18 tahun 1965, maka berdasarkan surat keputusan DPRD-GR kota praja No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 desember 1965, nama kota praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya Pontianak. (pontianakkota.go.id)

Dengan Undang-Undang  No. 5 tahun 1974 nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi Kotamadya Daerah tingkat II Pontianak. Dan berdasarkan Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah mengubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak.

 

Hal menarik dari kota Pontianak


1.  Kota Pontianak berada di garis lintang 0 derajat sehingga kita dapat melihat peristiwa kulminasi.

2.     Kota Pontianak memiliki sungai terpanjang di Indonesia, sungai inilah yang menjadi lambang kota Pontianak.

3.     Memiliki lebih dari 1 asal-usul penamaannya.

4.     Pada tahun 1988 kota Pontianak merayakan tahun baru 2 kali. Hal ini di karenakan pada tahun 1963, berdasarkan Keppres No. 243 tahun 1963 kota Pontianak dimasukkan ke zona WITA. pada keppres RI No.41 tahun 1987, kota Pontianak beralih menjadi zona WIB.

5.     Menembakkan meriam menjelang idul fitri. Cerita rakyat tentang penembakkan meriam oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie menjadi tradisi kota Pontianak yang berlangsung hingga sekarang.

6.     Kota Pontianak berkali-kali berganti tata pemerintahan. Mulai dari pemerintahan kerajaan hingga menjadi kota Pontianak.

 

Demikianlah gambaran singkat tentang kota Pontianak yang menjadi ibukota provinsi Kalimantan Barat. Mulai dari berdirinya hingga sekarang menjadi kota yang terus berkembang. Dari yang dahulunya hutan belantara kini menjadi kota yang telah ramai penduduknya. Walau kami tidak dapat menceritakan secara detail, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kita.


Penulis : Rizky Arisandi

Editor   : Argha Sena

Sumber : 

Wikipedia.org, 

Pontianakkota.go.id, 

NusaDaily.com, 

travel.detik.com, 

nationalgeographic.grid.id

Kamis, 05 November 2020

Apakah Rusia Adalah Negara Komunis? | Pegawai Jalanan

Gereja Katedral St. Basil

Mungkin kita pernah menemukan komentar atau anggapan dari netizen yang mengatakan Rusia adalah negara komunis, sama seperti Korea Utara, China, dan Vietnam? Padahal Rusia bukanlah negara komunis, Rusia adalah negara Liberal sedangkan China dan Vietnam hanya labelnya saja yang Komunis, akan tetapi mereka sudah menghianati Komunisme makanya negaranya menjadi makmur. Satu-satunya negara yang tidak berhianat dengan komunisme adalah Korea Utara, makanya sampai sekarang negara tersebut mengalami kesulitan ekonomi karena tidak mau move on. Kembali ke tema kita kali ini, apakah Rusia itu negara komunis?

Tentu saja, jawabannya bukan. Meski pun gerakan komunis dan sayap kiri masih ada di Rusia, mereka tak lagi menentukan kebijakan negara, alias impoten dan tidak punya gigi lagi alias ompong.

Komunisme sebagai ideologi negara telah mati di Rusia. Ini keputusan mutlak, tak ada tawar-menawar. “Sebuah ideologi tidak bisa dibuat sebagai dasar negara atau kewajiban,” bunyi Pasal 13 Konstitusi Rusia yang disahkan pada 1993. Ini adalah perbedaan yang sangat mencolok dibandingkan dengan Konstitusi Uni Soviet yang menekankan bahwa Partai Komunis Uni Soviet (KPSS) adalah “kekuatan pemimpin dan penuntun rakyat Soviet dan inti dari sistem politiknya.”

Partai Komunis Uni Soviet atau dalam bahasa RusiaКоммунистическая партия Советского СоюзаKommunisticheskaya partiya Sovetskogo Soyuza; disingkat КПСС, KPSS) adalah partai politik yang mendirikan dan pernah menguasai Uni Republik Sosialis Soviet. KPSS merupakan satu-satunya partai yang berkuasa di Uni Soviet hingga tahun 1990 saat Majelis Agung Uni Soviet membatalkan peraturan perundang-undangan yang melegalkan monopoli politik Partai Komunis di Uni Soviet. Partai yang didirikan oleh faksi Bolshevik pimpinan Vladimir Lenin pada tahun 1912 ini tumbuh pesat dan pada tahun 1917 telah berhasil mengambil alih kekuasaan Pemerintahan Sementara Rusia melalui Revolusi Oktober. KPSS dibubarkan pada tanggal 29 Agustus 1991 sebagai akibat dari gagalnya percobaan kudeta sepuluh hari sebelumnya.

KPSS resmi bubar setelah runtuhnya Uni Soviet pada akhir 1991. Boris Yeltsin, presiden pertama Rusia dan sekaligus mantan anggota KPSS, melarang partai yang di hari-hari terakhirnya memiliki 18 juta anggota tersebut beraktivitas. Meski ini merupakan akhir kisah Rusia sebagai negara komunis, yang sudah terpatri sejak 1917, tak berarti komunisme sepenuhnya lenyap di negara ini.

Yesus yang Komunis?

“Kata ‘komunisme’ berarti ‘rakyat’ atau ‘publik’, yaitu ketika kepentingan masyarakat lebih penting daripada kepentingan individu. Komunisme sudah ada sejak zaman dulu, ketika orang-orang berburu secara berkelompok dan membagikan hasil buruan untuk semua kawanan. Jika Anda membaca Khotbah di Bukit (khotbah Yesus yang paling terkenal -red.) dan Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Tesalonika, Anda akan melihat moto dan akhlak komunisme. Komunisme akan bertahan selamanya, lebih lama daripada orang-orang seperti Trump, Amerika, dan kita semua karena inilah jalur utama perkembangan umat manusia.” kata Gennady Zyuganov, pemimpin Partai Komunis Rusia (KPRF), yang didirikan segera setelah pendahulunya, KPSS — yang keberadaannya pernah tak tergoyahkan — menghilang dari tatanan politik negara itu pada 1991.

Zyuganov dan partainya tetap menjadi pendukung utama komunisme di Rusia. Di setiap pemilu legislatif sejak 2003, KPRF telah menjadi tantangan serius bagi partai penguasa, Rusia Bersatu, dan selalu mengekor di urutan kedua dengan mengantongi hasil yang solid. Meski begitu, komunis tak dapat merapatkan barisan mereka. Dalam pemilu legislatif 2016, KPRF hanya memenangkan 13 persen suara (dibandingkan dengan 19 persen suara pada 2011) dan pada pilpres 2018, hanya 11 persen warga Rusia saja yang memilih Pavel Grudinin, calon presiden dari KPRF.

Tak dipungkiri, komunisme dalam bentuk Sovietnya memang masih menjadi daya tarik bagi jutaan orang di seluruh Rusia. Sebagaimana yang diungkapkan Sergey Chibineyev, seorang pemugar seni yang mengumpulkan memorabilia Soviet, dalam sebuah wawancara dengan Radio Liberty, “(Komunisme Soviet) adalah gagasan yang terhormat — (ia) menciptakan masa depan yang lebih baik, menyatukan semua orang tanpa mengindahkan latar belakang suku atau agama mereka.”

Masa Lalu yang Tak Akan Pernah Hilang

Pengalaman Rusia sangat berbeda dengan negara kita Indonesia dengan Komunisme yang sudah dilarang untuk kembali muncul berpolitik. Secara umum, Rusia tidak benar-benar berupaya menyingkirkan masa lalu komunisnya. Misalnya, terdapat 5.400 patung Vladimir Lenin, sang pendiri Uni Soviet, di seluruh negeri. Namun, para ahli politik dan sejarawan, serta masyarakat pada umumnya, yakin bahwa tak peduli serindu apa pun rekan-rekan kompatriot mereka pada Uni Soviet, ide-ide komunisme tak mungkin laku di masa kini.

“Pemimpin-pemimpin kita saat ini tak ingin kembali ke era revolusi, komunisme militer, dan sebagainya,” tulis Dmitry Drize, pengamat politik Kommersant, seraya menambahkan bahwa sisa-sisa masa lalu berupa patung-patung Lenin dan mausoleumnya di Lapangan Merah merupakan upaya pemerintah untuk menenangkan mereka yang belum bisa melupakan era Soviet. Ini sama sekali tak berarti mereka terpikat oleh kebijakan atau paradigma komunis di bidang politik dan ekonomi.

Menyingkap Nostalgia

Ada lelucon tentang Uni Soviet yang berbunyi, “Ketika saya dulu seorang Pionir (gerakan kepanduan di Uni Soviet -red.) saya diberitahu bahwa kehidupan di masa depan akan luar biasa! Sekarang, saya diberitahu bahwa kehidupan benar-benar luar biasa saat saya menjadi seorang Pionir Muda.”

Menurut Sergey Balmasov, seorang analis politik dari Moskow, “Kami senang mengulangi mitos-mitos lama tentang bagaimana sejahteranya kehidupan di bawah kepemimpinan tsar, lalu di bawah Komunis … di masa depan, mereka akan mengatakan hal yang sama tentang Putin. Ini adalah mitos-mitos ‘kehilangan surga’ yang sudah lazim di tengah masyarakat.”

Meski begitu, tak semua orang bernostalgia semacam ini. Jadi, sudah pasti bahwa Rusia tidak akan kembali ke periode komunis. Ilya Venyavkin, seorang sejarawan budaya Soviet pernah berceramah, “Dalam budaya Soviet, masa depan (komunis) ada ‘di sini, saat ini juga’ — bersama dengan kelangkaan barang kebutuhan hidup, represi, dan krisis hunian.”

Cita-cita Soviet tak pernah terwujud karena Venyakin mengingatkan, “Proyek komunis kalah bersaing dengan negara-negara Barat.” Kekecewaan besar terjadi, dan komunisme di Rusia akhirnya ditinggalkan di tong sampah sejarah.

Jadi sudah jelas bukan Rusia bukanlah negara komunis seperti yang beberapa orang kira, Rusia sangat berbeda dengan China bahkan Korea Utara. Rusia Adalah negara terluas didunia yang luas wilayahnya membentang dari Eropa sampai asia, bermacam etnik hidup diwilayah Rusia sehingga keadaanya sangat mirip dengan negara kita yaitu Indonesia, bedanya Rusia mayoritas penduduknya beragama Kristen Ortodox sedangkan Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca yang haus akan informasi dunia.


Editor : Argha Sena

Sumber : 

id.rbth.com

https://id.wikipedia.org/



Sejarah Singkat Partai Komunis Indonesia dari Lahir Sampai Hancur | Pegawai Jalanan

 

Henk Sneevliet

Ideologi komunis mulai masuk ke Indonesia tahun 1914 yang di bawa oleh Hendricus Joshepus Franciscus Marie Sneevliet atau Henk Sneevliet. Pria kelahiran Rotterdam, Belanda adalah seorang komunis Belanda yang aktif. Pada tahun 1911 dia menjadi ketua serikat buruh di Belanda. Sneevliet adalah seorang pemimpin yang radikal dengan ideologi komunisnya. Ketika terjadi pemogokan pelaut internasional pada tahun 1911, beberapa serikat buruh yang radikal ikut serta, tetapi mayoritas serikat buruh tidak sependapat dengannya.  Dia memutuskan untuk meninggalkan Belanda dan berlayar ke Hindia Belanda (Indonesia) pada bulan Februari tahun 1913. Dia bekerja sebagai staff editor Soerabaiaasch Handelsblad lalu pindah ke Semarang pada mei 1913 untuk menggantikan D.M.G. Koch  sebagai sekretaris Semarang Handelsvereeniging (Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1927 : 1997).

Pada tanggal 9 mei 1914, Sneevliet bersama J.A. Brendsteder, H.W. Dekker dan Piet Bersama mengadakan perkumpulan di Marine Gebouw, Surabaya. Sneevliet dan kawan-kawan mendirikan perkumpulan sosialis demokrat Hindia Belanda dengan nama Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). ISDV merupakan sebuah organisasi yang radikal. Sneevliet dan kawan-kawan melakukan propaganda untuk menyebarkan ideologi marxisme/komunis dengan menerbitkan surat kabar pertamanya pada tanggal 10 Oktober 1915. ISDV inilah yang menjadi awal mula ideologi komunis di Indonesia. Awalnya ISDV hanyalah klub debat kaum sosialis Belanda yang kecil. Karena pada awal pendirian organisasi ini hanya berjumlah 85 orang saja. Sneevliet yang berusaha mengembangkan ideologi komunisnya mencari cara agar dapat mempengaruhi bumiputra dengan cara memprotes hukuman terhadap Mas Marko Kartodikromo dan peraturan pers Hindia.(tirto.id)

Awal pertemuan antara Sneevliet dan semaoen terjadi pada tahun 1915. Semaoen adalah seorang pemuda belasan tahun yang namanya cukup terkenal di Semarang.  Pertemuan pertama mereka di Surabaya ketika melakukan pembelaan terhadap Mas Marko Kartodikromo. Dari pertemuan mereka, Semaoen belajar banyak dari Sneevliet, dimana dia bukan hanya belajar membaca, tetapi juga belajar menulis dan berbicara dalam bahasa belanda. Sneevliet yang memiliki kesempatan untuk menanamkan ideologi komunis juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dimana seorang yang besar namanya tentu memiliki pengaruh yang cukup besar pula. Maka dari itu Sneevliet mengajarkan ideologi komunis kepada Semaoen.

Karena perkembangan ISDV tidak terlalu banyak, maka ISDV menjalin hubungan dengan Insulinde. Insulinde merupakan organisasi kelas menengah yang berisi kaum sosialis. Hubungan ini tidak berlangsung lama karena perbedaan pemikiran. ISDV berpendapat bahwa perjuangan melawan penjajah Belanda harus di dukung kaum sosialis karena  sama-sama berjuang melawan sistem kapitalis. Pimpinan Insulinde yang merupakan organisasi kaum sosialis tentu menolak pemikiran tersebut. Pada tahun 1916, di dalam organisasi ISDV mengalami perpecahan, aliran reformis meninggalkan ISDV dan mendirikan Partai Sosial Demokrat Indonesia (ISDP). Setelah kedua organisasi tersebut tidak lagi bersekutu, Sneevliet berhasil masuk ke dalam organisasi Sarekat Islam (SI). Tak berselang lama, Sneevliet menjadi orang yang berpengaruh di dalam SI. pada tahun 1916 Sneevliet mengangkat Semaoen dan Darsono menjadi Pemimpin ISDV. Semaoen yang merangkap jabatan di ISDV dan SI, berhasil mengembangkan keanggotaan SI Semarang yang semula 1.700an orang menjadi 20.000. keberadaan Sneevliet di dalam SI tidak semua orang dapat menerimanya. Salah satunya adalah Abdoel Moeis.  Abdoel Moeis adalah orang yang gigih menentang komunisme.  Bahkan dalam tulisannya yang di muat di dalam surat kabar Neratja (1917), ia menulis bahwa ia (Sneevliet) berbahaya bagi kami dan tanah air. Abdoel Moeis juga meminta bantuan kepada pemerintah Batavia untuk menyingkirkan Sneevliet.

Ketika terjadi revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917, ISDV telah sepenuhnya mulai pada Ideologi komunis. Hal ini disebabkan oleh kemenangan Bolshevik dalam mendirikan Negara komunis. Pada tahun ini ISDV memprovokatori angkatan laut Belanda yang berjumlah 3.000 serdadu untuk ikut dalam demonstrasi menerapkan Negara Komunis. Bentrokan pun tidak dapat di hindari, Namun pemerintah Belanda dapat meredamnya dengan menjanjikan perubahan yang luas. Setelah bentrokan ini reda, pemerintah mengambil tindakan terhadap organisasi ISDV. Pemerintah belanda berhasil menangkap Semaoen dan Darsono, sedangkan Sneevliet di usir dari Hindia Belanda (Indonesia) pada bulan desember 1918. ISDV seakan tak berdaya setelah kejadian tersebut. Sneevliet memang telah pergi dari Hindia Belanda (Indonesia), namun ideologi komunis telah melekat di dalam ingatan Semaoen dan juga Darsono.

Setelah keterpurukan ISDV, pada tanggal 23 mei 1920 Semaoen dan Darsono mengganti nama organisasi tersebut menjadi Partai Komunis di Hindia (PKH). Dalam hal ini, Semaoen masih merangkap jabatan sebagai ketua Sarekat Islam Semarang. Abdoel Moeis yang berusaha membersihkan ideologi Komunis mengadakan Kongres Sarekat Islam menjelang akhir 1920. Dalam kongres tersebut, yang dibahas adalah kedisiplinan partai agar anggotanya tidak merangkap jabatan di organisasi politik lainnya. Hal ini tentu saja membuat anggota yang tergabung dalam organisasi PKH menolak gagasan tersebut. Hingga pada pertengahan februari 1923, Sarekat Islam mengganti namanya menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) serta melakukan pemecatan kepada Semaoen dan kawan-kawan yang tidak sepakat dengan gagasan pendisiplinan tersebut. Akibat diberlakukannya disiplin partai, jumlah anggota SI merosot drastis. Orang-orang yang di pecat dari PSI lalu membentuk organisasi yang bernama Sarekat Rakyat (M. Nasruddin Anshoriy Ch., Bangsa Gagal: Mencari Identitas Kebangsaan , hal 108 : 2008). Hubungan Sarekat Rakyat dan PKH semakin erat karena memiliki ideologi yang sama, maka  pada tahun 1924 secara resmi PKH diganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).


Kepemimpinan PKI kala itu telah beralih dari Alimin-Musso kepada Aliarcham dan Sardjono. Hal ini dikarenakan pemimpin yang lebih senior tidak bersedia memimpin PKI. Pada tahun 1924 pemerintah Hindia belanda memperketat pengawasan dan mempersempit aktivitas para tokoh-tokoh partai. Pada akhir Desember 1924 PKI membuat keputusan untuk melakukan pemberentokan dengan cara melakukan pemogokan. Namun rencana PKI dapat dikalahkan dengan mudah, hal ini yang membuat PKI harus bergerak di bawah tanah karena semakin ketatnya pemerintah Belanda mengawasi partai-partai di Indonesia. Pada tahun 1925 Darsono di usir dari Indonesia,Aliarcham di asingkan ke Digul, sedangkan Musso, Alimin dan Tan malaka harus menyingkir ke luar negeri. Para pemimpin PKI yang masih bebas mulai mengadakan rapat membahas tentang keadaan PKI yang mulai terancam. Dalam rapat inilah menjadi awal pemberontakan PKI untuk mendirikan Negara Komunis di Indonesia. Pemberontakan ini akan dimulai pada tanggal 18 Juni 1926.(G30S-PKI.COM)

 Awal pemberontakan PKI tahun 1926 memang tidak tercium oleh pemerintah Belanda, Namun pemerintah Belanda pada bulan Januari mencoba menangkap Musso, Budi Sutjitro dan Sugono. Sebelum berhasil ditangkap, tokoh-tokoh PKI tersebut telah melarikan diri ke Singapura dan berkumpul dengan tokoh PKI lain yang telah lebih dahulu meninggalkan Indonesia. Alimin dan tokoh yang baru datang menyampaikan hasil rapat pada bulan Desember tentang pemberontakan yang akan dilakukan kepada pemerintah Belanda. Namun beberapa tokoh PKI salah satunya Tan Malaka menolak rencana tersebut. Hal ini dikarenakan PKI belum kuat mengakar pada masyarakat Indonesia. Namun gagasan Tan Malaka tidak disetujui oleh Alimin dan Musso. Pada bulan November, pemberontakan terjadi serentak di beberapa daerah seperti Jakarta, Jatinegara, Tangerang, Banten, Bandungdan juga Surakarta. Kemudian terjadi kembali pemberontakan di Sumatra Barat pada awal tahun 1927. Namun karena kurangnya koordinasi, maka pemberontakan ini mengalami kegagalan. Semaoen yang panik dan frustasi merapat kepada Bung Hatta. Akibat pemberontakan PKI ini, banyak warga yang terbunuh oleh pemerintah Belanda yang telah marah besar atas pemberontakan ini. Bahkan warga yang tidak terlibat pun ikut menjadi sasaran kemarahan pemerintah Belanda. Di tahun 1927 inilah pemerintah Belanda menyatakan bahwa PKI adalah organisasi terlarang.

            Setelah kekalahan serta dilarangnya PKI oleh pemerintahan Belanda, PKI hanya bias bergerak di bawah tanah. Hal ini dikarenakan banyaknya pemimpin PKI yang di buang oleh pemerintah Belanda. Pada tahun 1935, Musso yang di asingkan pemerintah Belanda kembali ke Indonesia. Musso kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan kebangkitan PKI kembali. Seperti strategi mereka dulu, Musso menggerakan kader PKI untuk menyusup kedalam organisasi lain. Hingga pada tahun 1948, pemberontakan PKI kembali terjadi. Hal ini dikarenakan perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda yang menghasilkan kesepakatan yang sangat merugikan Indonesia karena dipersempitnya wilayah Indonesia. Karena dampak perjanjian itu adalah di turunkannya Amir Syarifudin dari jabatannya di kabinet dan di gantikan kabinet Hatta. Amir Syarifuddin yang merupakan aktivis PKI meluapkan kekecewaannya dengan cara membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) tanggal 28 juni 1948. FDR berencana melakukan kudeta atas pemerintah dengan cara melakukan aksi terror, propaganda anti pemerintah, pemogokan dan melakukan adu domba antar anggota pejabat militer. FDR dan PKI menginginkan  hancurnya NKRI dan menggantinya dengan ideologi Komunis. Pemberontakan ini terjadi di Madiun  tanggal 18 September 1948. Pemberontakan ini memperparah keadaan bangsa Indonesia di karenakan anggota militer yang sedang menghadapi agresi militer Belanda. Rakyat Indonesia menjadi benci dengan PKI di karenakan anggota PKI yang nekat membunuh para alim ulama dan beberapa tokoh penting. Dalam perang melawan PKI, anggota TNI dan Polri berhasil membunuh Musso yang mendalangi pemberontakan ini. Sedangkan Amir Syarifuddin dan beberapa pejabat lainnya di jatuhi hukuman mati, hukuman yang pantas untuk para penghianat.(sejarahlengkap.com)

            Keberadaan PKI tidak berhenti sampai disini. Setelah vakum dari dunia politik, PKI bangkit dengan wajah baru. Mereka mendukung  kebijakan–kebijakan Presiden Soekarno yang menentang keras kolonialisme. Tampil dengan pemimpin baru, Dipa Nusantara Aidit memimpin dengan semangat membara hingga mendapat simpati rakyat yang cukup besar bahkan sampai ratusan ribu. Namun PKI sempat redup karena aksinya melakukan pemogokan. Namun di tahun 1955 PKI berhasil menduduki urutan keempat dalam pemilu. Hal ini dikarenakan partai-partai besar yang sibuk mencari suara di pusat, sedangkan PKI berhasil mengambil suara dari para rakyat di daerah pelosok. PKI terus menunjukan prestasinya sehingga mendapat kepercayaan rakyat. Pada tahun 1960 PKI merasa di atas angin karena Presiden Soekarno membuat konsep NASAKOM (Nasionalis, Agama , Komunis), Sehingga ideologi Komunis dapat terlembagai. PKI semakin merapat ke Soekarno dan menyusup ke dalam pemerintahan.

Soekarno dan D.N. Aidit

            Pada perkembangannya, PKI menginginkan agar para buruh dan tani di persenjatai. TNI AD merasa curiga dengan keinginan PKI yang takut akan disalahgunakan jika di setujui. Karena ketidakpuasan dengan beberapa kebijakan Soekarno, PKI merencanakan sebuah pengkhianatan. Pada tanggal 30 September 1965 dini hari, PKI di bawah pimpinan D.N Aidit dan Syam Kamaruzzaman melakukan pembunuhan berencana terhadap 7 Jendral yang menjadi Pahlawan Revolusi Indonesia. Aksi pembantaian di lubang buaya menewaskan 6 Jendral TNI AD, dan satu perwira menengah. Seorang Jenderal yang menjadi target penculikan yaitu Jenderal A.H Nasution berhasil selamat dari gerakan tersebut.

            PKI yang melakukan pembantaian di beberapa daerah, membuat citra PKI menjadi semakin Buruk. A.H Nasution yang berhasil lolos dari pembantaian mulai mengatur siasat dan menggerakan Presiden Soeharto dari balik layar. Soeharto dengan memimpin TNI AD mengambil tindakan tegas dengan menghancurkan organisasi PKI karena dinilai berbahaya bagi Indonesia. Setelah perjuangan panjang dan mendapat kemenangan melawan PKI, Presiden Soeharto melakukan pembersihan PKI sampai ke akar-akarnya pada tahun 1966. Untuk mencegah munculnya kembali ideologi Komunis, pemerintah mengeluarkan tap MPRS Nomor 25 tahun 1966 tentang pembubaran PKI yang terus berlaku hingga saat ini. Selain mengeluarkan tap MPRS Nomor 25 tahun 1966, pelaku penyebaran ideologi Komunis dapat ditindak  dengan dasar Undang-Undang Nomor 27 tahun 1966 tentang perubahan pasal 107 KUHP.(netralnews.com)

         Itulah sejarah singkat lahir dan berkembangnya Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai kehancurannya. Sejarah tentang penghinatan PKI dan pemberontakan PKI sekarang sudah tidak kita temui di bangku sekolah karena sudah dihapuskan. Maka dalam artikel ini kami sengaja mengingatkan kepada generasi muda bahwa sejarah ini harus dan wajib diketahui, agar kita faham kisah masa lalu kita dan menjadi pelajaran berharga dimasa-masa yang akan datang.

Penulis : Risky Arisandi

Editor   : Argha Sena

Sumber : 

tirto.id

G30S-PKI.COM

sejarahlengkap.com

netralnews.com


Senin, 02 November 2020

Menanti Satria Piningit ke-7 Versi Ramalan Ronggowarsito | Pegawai Jalanan



Ronggowarsito, sosok pujangga Indonesia yang lahir di tanah jawa pada Senin Legi, 15 Maret 1802. Salah satu karya besarnya bernama Serat Kalatidha.  

Bakat menulis Ronggowarsito diperoleh dari Raden Tumenggung Sujanaputra, yang juga terkenal dengan sebutan Pangeran Karanggayam, pujangga Kraton Pajang, yang pernah mengarang kitab bernama Nitisruti.

Selain itu kegemaran membaca Ronggowarsito diperoleh dari R.T. Sastranagara, kakeknya yang juga seorang pujangga kraton Surakarta.

Semasa hidupnya dari 1826 hingga 1873, Ronggowarsito telah berhasil menulis 60 judul buku dengan beragam bahasa. Kebanyakan tulisannya berisi tentang falsafah, kebatinan, lakon-lakon wayang, cerita Panji, Dongeng, babad, sastra, bahasa, kesusilaan, adat istiadat, pendidikan, primbon, ramalan, dan sebagainya.

Dalam Ramalannya Ronggowarsito menceritakan tentang bakal datangnya 7 Satria Piningit yang akan muncul sebagai tokoh di kemudian hari dan memimpin sebuah wilayah seluas “bekas” kerajaan Majapahit. Ketujuh satria yang dimaksud oleh Ronggowarsito tersebut masing-masing bernama: Satria Kinunjara Murwa Kuncara, Satria Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar, Satria Jinumput Sumela Atur, Satria Lelana Tapa Ngrame, Satria Piningit Hamong Tuwuh, Satria Boyong Pambukaning Gapura, dan Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu.

Dari ketujuh Satria yang digambarkan oleh Ranggawarsita itu beberapa kalangan lalu menafsirkannya sebagai berikut:

1. SATRIA KINUNJARA MURWA KUNCARA

  • Tokoh pertama ini digambarkan oleh Ronggowarsito adalah sosok pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjara), pemimpin ini kelak akan membebaskan negeri ini dari belenggu keterpenjaraan (penjajah) dan tokoh ini menjadi sangat terkenal sebagai sosok pemimpin yang tersohor di seluruh jagad (Murwa Kuncara). Banyak tokoh menafsirkan bahwa sosok yang dimaksud oleh Ronggowarsito ini adalah Presiden Soekarno. Berkuasa dari 18 Agustus 1945 – 12 Maret 1967.

2. SATRIA MUKTI WIBAWA KESANDHUNG KESAMPAR

  • Tokoh kedua adalah seorang pemimpin yang dikisahkan memiliki harta yang berlimpah (Mukti), disamping itu, sosok pemimpin ini juga memiliki wibawa yang besar/ditakuti (Wibawa). Namun sosok pemimpin ini akan mengalami keadaan yang selalu dipersalahkan, serba dikaitkan dengan segala hal buruk/kesalahan (Kesandhung Kesampar).  Banyak orang lalu menafsirkan tokoh tersebut adalah Presiden Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua, pemimpin Orde Baru. Berkuasa dari 12 Maret 1967 – 21 Mei 1998.

3. SATRIA JINUMPUT SUMELA ATUR

  • Tokoh ketiga yang digambarkan oleh Ronggowarsito adalah seorang pemimpin yang diangkat/terpungut keadaan (Jinumput). Jadi sosok ini diangkat jadi pemimpin karena situasi pada saat itu. Namun masa kepemimpinan tokoh ini hanya sebentar, sekadar penyambung di masa jeda atau transisi atau sekadar menyelingi saja (Sumela Atur). Banyak orang pun menafsirkan tokoh yang dimaksud adalah Presiden B.J. HABIBIE. Presiden Indonesia ketiga. Berkuasa dari 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999.

4. SATRIA LELONO TAPA NGRAME

  • Satria Piningit keempat digambarkan sebagai sosok yang suka mengembara / keliling dunia (Lelana). Tokoh keempat ini juga digambarkan memiliki tingkat kejiwaan yang cukup Religius / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh ini oleh banyak orang ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia keempat. Berkuasa tahun 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001.

5. SATRIA PININGIT HAMONG TUWUH

  • Tokoh kelima ini muncul dengan membawa kharisma keturunan dari orang tuanya (Hamong Tuwuh). Dan tokoh ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri. Menjadi Presiden Republik Indonesia dari 23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004.

6. SATRIA BOYONG PAMBUKANING GAPURA 

  • Tokoh keenam ini digambarkan sebagai seseorang yang menempati puncak Kepemimpinannya melalui tahapan berjenjang (Boyong), berpindah tempat (sebelumnya pernah menjabat). Untuk itu, tokoh keenam ini dapat ditafsirkan sebagai mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo. Soesilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai presiden setelah “Boyong” (pindah tempat) dari seorang menteri lalu menjadi Presiden. Dan Presiden Joko Widodo “Boyong” dari Walikota, Gubernur, lalu Presiden. Tokoh keenam ini akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan spiritualis sejati seorang satria piningit, yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berkuasa dari 20 Oktober 2004 – 20 Oktober 2014 dan Presiden Joko Widodo menjadi Presiden Indonesia dari 20 Oktober 2014 – sekarang.

7. SATRIA PINANDHITA SINISIHAN WAHYU 

  • Tokoh ketujuh digambarkan oleh Ronggowarsito sebagai sosok pemimpin yang sangat Religius. Sampai-sampai digambarkan seperti seorang Resi Begawan (Pinandhito) dan tindakannya selalu berdasar pada hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Mungkinkah setelah presiden Joko Widodo muncul Satri Pinandhita Sinisihan Wahyu? Yang bakal membawa Indonesia menjadi negara yang “Gemah Ripah Loh Jinawi”. Siapa Satria Piningit dimaksud? kita tunggu saja kehadirannya.

Demikian gambaran 7 sosok pemimpin Indonesia yang banyak orang mengatakan masuk dalam enam kriteria Ramalan Ronggowarsito 2 abad lalu. Untuk kriteria Satria Piningit ke-7, sosok tersebut belum hadir di tengah kita. Entah benar atau tidaknya ramalan itu, setidaknya Ramalan Ronggowarsito ini telah memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia. 

Sumber: suaramerdeka.com