Jumat, 26 November 2021

(EP 02) PENGARUH PETA KEKUATAN POLITIK DUNIA TERHADAP PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA : DINASTI JENGIS KHAN MONGOLIA ABAD 13 M

  


Peta kekuatan politik Negara-negara dunia dari abad 13 hingga menjelang abad 15 M sangat penting dijelaskan disini, meskipun secara sekilas untuk mengetahui latar belakangnya. Sebab, nusantara yang merupakan bagian dari sejarah internasional, tidak akan mungkin lepas dari berbagai pengaruh-pengaruh kekuasaan politik dunia saat itu.

Ibarat dunia adalah sebuah pohon, maka Negara-negara diberbagai belahan bumi ini seperti batang, cabang, ranting, daun, bunga, dan buahnya. Sedangkan akarnya adalah Negara super power yang berupaya keras memperluas pengaruh ideologi, sistem politik, militer, hukum, ekonomi serta peradabannya ke Negara-negara lainnya. Nusantara sebagai bagian dari dunia ini, tidak akan pernah lepas pula dari berbagai pengaruh perubahan-perubahannya. Misalnya adalah banyaknya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-buddha di nusantara akibat pengaruh peradaban Hindu sekte Syiwo maupun Buddha di India sejak sebelum abad 7 M.

Oleh karenanya, tumbuhnya kekuasaan politik Islam di nusantara tidak dapat dilepaskan pula dari sebab timbulnya kekuasaan politik di luar nusantara. Tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Timur Tengah: Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Turki Utsmani, diikuti runtuhnya pengaruh Hindu dan Buddha di India oleh kekuatan Mongol.

Di benua Asia, menjelang abad 13 hingga abad 15 terdapat beberapa kekuasaan besar seperti Khilafah Abbasiyah, Turki Bani Seljuk, Jengis Khan di Mongolia, dan dinasti Ming di China. Timbulnya kekuasaan politik Islam yang dibangun oleh kaisar Jengis Khan, besar pengaruhnya terhadap perubahan kebijakan politik kaisar Kubilai Khan dan kaisar Ming di China yang lebih cenderung berpihak kepada Islam. (Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1)

Meskipun dalam buku ke-2 serial Trilogi Revolusi Islam Jawa membahas sekilas sejarah perluasan wilayah kekuasaan politik Islam hingga nusantara, dalam bab 1 ini membahas sekilas kekuasaan politik Islam masa dinasti Jengis Khan di Mongolia, dinasti Ming di China, kerajaan Champa dan munculnya kekhilafan di Turki Utsmani yang pengaruhnya sampai ke Jawa di masa kekuasaan akhir kerajaan Hindu Syiwo- Buddha Singosari dan awal berdirinya kerajaan Majapahit di Mojokerto hingga keruntuhannya.

DINASTI JENGIS KHAN MONGOLIA ABAD 13 M

Di Mongolia, telah berdiri kerajaan di bawah kekuasaan Jengis Khan. Dia memilikin semboyan: “hanya ada satu Tuhan di surge dan hanya satu penguasa di bumi”, sehingga Jengis Khan ingin menguasai seluruh bumi. Kerajaan Mongolia memperluas daerah jajahannya kea rah barat sampai Eropa. Seluruh Eropa gentar menghadapi kekuasaan Jengis Khan. Seluruh daratan Asia dia kuasai. Penguasaan daratan Asia mengakibatkan penguasaan mutlak atas lautan, dari tiongkok hingga Arabia.

Ketika Kubilai menjadi raja bergelar Khan di kekaisaran Mongolia (1260-1294 M) dan kaisar Cina dinasti Yuan (1279-1294 M), ia menginginkan agar seluruh Negara di sepanjang Asia mengakui kekuasaannya. Barangsiapa tidak mau mengakui kekuasaannya dengan menyerahkan upeti ke Syang, akan diperangi dengan kekerasan.(Prof. Dr. Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan)

Kubilai Khan pernah menghancurkan kekhilafahan Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1258 M. lalu Kubilai Khan hendak memperluas pengaruh dinasti Mongolia dengan melanjutkan perang untuk menguasai Tiongkok Cina. Dalam tahun yang sama Kubilai Khan berhasil menguasai Korea pada 1258M. dilanjutkan menyerang Jepang pada 1274 M tetapi tidak berhasil. Upaya menguasai dunia terus menerus dilakukan Kubilai Khan hingga memerangi Negara-negara di Asia Tenggara, yaitu Jawa, Vietnam, dan Kamboja, termasuk daerah Champa. Pada tahun 1280 M raja Annam (Vietnam Utara) dan raja Champa pada tahun 1287 M menyerah kepada Kubilai Khan. Pada tahun 1287 M Kubilai Khan juga berhasil menghancurkan pasukan gajah dari Burma (Myanmar).

Saat Kubilai Khan berusaha memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara, di Jawa telah berdiri kerajaan Singosari di bawah raja Kertonegoro. Pusat kerajaannya berada di Jawa sebelah timur, diperkirakan di daerah Singosari. Wilayah kekuasaan Singosari cukup besar meliputi Jawa, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura. Raja Kertonegoro ingin mencegah penerapan politik Kubilai Khan yang juga memaksa agar kekuasaan di nusantara tunduk kepadanya. Pada tahun 1275 M Kertonegoro mengirimkan ekspedisi tentara Singosari ke Melayu. Kemudia pada tahun 1286 M, dia mengirimkan arca Amoghapaca ke Melayu agar mereka tetap tunduk di bawah kekuasaan Singosari, bukan tunduk kepada Kubilai Khan.

Kubilai Khan mengetahui kekuasaan raja Kertonegoro atas beberapa kepulauan nusantara dan Melayu berikut pelabuhan serta perniagaannya. Menurut Kubilai Khan, salah satu hal yang akan mengurangi kewibawaannya dan menurunkan kemuliaannya adalah jika Prabu Kertonegoro tidak mau tunduk kepadanya. Oleh karenanya, pada tahun 1289 M Kubilai Khan mengutus Meng Ki menghadap Prabu Kertonegoro agar kerajaan Singosari tunduk kepada putra langit dengan menyerahkan upeti. Akan tetapi prabu Kertonegoro sadar akan keagungannya dengan luasnya wilayah kerajaannya, sehingga ia tidak sudi untuk tunduk kepada Kubilai Khan. Bahkan Meng Ki telah dipermalukan oleh prabu kertonegoro, penguasa kerajaan Hindu Syiwo- Buddha Singosari.

Setelah Meng Ki kembali menghadap Kubilai Khan, ia marah besar atas penghinaan prabu Kertonegoro kepadanya. Pada akhir tahun 1292 M angkatan perang bangsa Mongol di kirim ke Jawa. Mereka sampai dirembang tahun 1293 M, lalu mereka menuju ke arah Jawa bagian timur. Akan tetapi, pasukan Tartar yang dipimpin Shin Pi dan Iki Mese tidak mengetahui bahwa prabu Kertonegoro sudah tidak berkuasa lagi akibat serangan Joyokatwang, penguasa Daha Kediri. Sehingga pasukannya dimanfaatkan oleh Wijoyo untuk menghancurkan kerajaan Syiwo- Buddha Kediri yang dipimpin oleh Joyokatwang pada 1293 M.

Sejarah serangan bangsa Tartar Mongol atas Jawa tahun 1293 M adalah penting untuk memahami sebab berdiri (1294 M) dan puncak runtuhnya Majapahit masa Brawijoyo V tahun 1478 M. sesungguhnya runtuhnya Majapahit di bawah raja Brawijoyo V yang berpusat di Trowulan, Mojokerto bukanlah karena serangan kerajaan Islam Demak masa sultan Fattah yang merupakan putranya. Akan tetapi, lebih disebabkan oleh karena serangan balasan Girindho Wardhono, penerus Joyokatwang sebagai penguasa di Kediri yang runtuh akibat serangan Raden Wijoyo dengan memanfaatkan pasukan Kubilai Khan ini. Sedangkan raden Wijoyo sendiri adalah menantu raja Kertonegoro yang pernah mempermalukan utusan Kubilai Khan, Meng Ki.

Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan, “Didongengkan keruntuhan keradjaan Hindoe madjapahit akibat serangan Kesoeltanan Demak pada 1400 Saka atau 1478 M. akibat serangan ini maka sang Praboe mengutuk Soenan Fattah dari kesultanan Demak sebagai putra yang tidak tahu hormat kepada orang tuanya. Kemudian, Sang Praboe terbang ke langit. Ketika laskar Demak membanjiri halaman Kraton Madjapahit, dalam dongeng tersebut dikatakan sinar matahari terkalahkan oleh kilauan cahaya ribuan pedang laskar Demak. Dongeng ini dimanfaatkan oleh sementara sejarawan Barat untuk menguatkan teori dan analisis sejarahnya bahwa Islam di nusantara dikembangkan dengan pedang. Artinya dikembangkan melalui pemaksaan dan penindasan.” (Op. Cit., Api Sejarah 1).

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd


(EP 01) AWAL MULA MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA ABAD 7 (EP 01)



Alam nusantara dikenal sangat indah dan kaya akan berbagai sumber daya alam. Ini sebagai salah satu bentuk nikmat Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa  yang wajib disyukuri dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Nusantara merupakan suatu gugusan pulau-pulau yang membentang dari barat ke timur di antara benua Asia dan Australia. Secara astronomis, nusantara terletak antara 95° BT - 141° BT dan 6° LU - 11° LS. Dengan letak astronomis tersebut, Indonesia termasuk ke dalam wilayah beriklim tropis. Wilayah tropis dibatasi oleh  lintang 23,5° LU dan 23,5° LS.

Di wilayah tropis seperti nusantara, sinar matahari selalu ada sepanjang tahun dan suhu udara tidak ekstrim sehingga masih sangat nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas. Lama siang dan malam juga hampir sama, yaitu sekitar 12 jam siang dan 12 jam malam.

Sedangkan secara geografis, nusantara terletak di antara dua benua dan dua samudera. Benua yang mengapit nusantara adalah benua Asia yang terletak disebelah utara dan benua Australia yang terletak di sebelah selatan. Samudera yang mengapit nusantara adalah samudera Pasifik di sebelah timur dan samudera hindia di sebelah barat.

Pola angina muson yang bergerak menuju wilayah nusantara pada saat angina barat dimanfaatkan oleh orang-orang masa lalu untuk melakukan perpindahan atau migrasi dari Asia ke berbagai wilayah di nusantara. Perahu yang digunakan untuk melakukan migrasi tersebut masih sangat sederhana dan pada saat itu masih mengandalkan kekuatan angina sehingga arah gerakannya mengikuti arah gerakan angina muson.

Kepulauan nusantara sejak dahulu telah menjadi pusat perdagangan internasional di Asia tenggara. Oleh karenanya, interaksi antar peradaban pun menjadi suatu hal yang niscaya. Di antara peradaban yang saling mempengaruhi diawali pelayaran dan perdagangan adalah bangsa China, melayu, India, timur tengah, Persia, dan Eropa. Nusantara terkenal sebagai penghasil rempah-rempah. Selain rempah-rempah, kepulauan nusantara juga memiliki komoditas lain seperti emas, perak, batu permata, kain katun, teh, kopi, dan hasil alam lainnya yang bermutu tinggi. Hal ini menjadi daya tarik bangsa-bangsa lain untuk membeli hasil bumi itu.

Interaksi peradaban yang terjadi antarbangsa dalam proses perdagangan tersebut tidak hanya mendorong terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya, melainkan juga benturan antar peradaban. Pedagang-pedagang yang datang dari berbagai penjuru dunia membawa peradaban mereka masing-masing. Pedagang-pedagang yang datang dari India membawa eradaban hindu-budha dan para pedagang China membawa peradaban konghuchu (Confisiusme). Pedagang-pedagang yang datang dari timur tengah seperti jazirah Arab dan Persia serta Gujarat membawa peradaban Islam. Begitu pula pedagang-pedagang dari Eropa dimasa berikutnya membawa ajaran nashrani.

Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia sekitar abad ke-2 dan abad ke-4 M. pedagang India yang datang dari Sumatra, Jawa, dan Sulawesi membawa agama dan peradaban mereka. Perkembangan agama Hindu mulai di pulau Jawa pada abad ke-5. Para pedagang juga mengembangkan ajaran Buddha. Hasilnya, kebudayaan Hindu dan Buddha mempengaruhi terbentuknya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha seperti kerajaan Kutai, Sriwijaya, Tarumanegara, Mataram Hindu, Padjajaran, dan Majapahit. Walaupun saat itu sudah cukup banyak orang-orang Islam yang hidup di Majapahit. Baik dari kalangan bangsawan, para pedagang, maupun rakyat jelata.

Sebelum membahas runtuhnya kerajaan Hindu Syiwo – Buddha Majapahit dan berdirinya kerajaan Islam Demak yang dirintis para wali, berikut ini disajikan sekilas beberapa teori tentang proses awal mula masuknya Islam ke nusantara.

Di antara teori-teori tersebut adalah teori Mekah oleh Prof. DR. Buya Hamka, teori Persia oleh Prof. DR. Abubakar Atjeh, teori China oleh Prof. Slamet Muljana, teori maritim oleh NA. Baloch, dan teori Gujarat oleh Orientalis Belanda Snouck Hurgronje.(Prof. DR. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1). Terkait mana yang lebih mendekati kebenaran, kiranya pendapat Prof. DR. Buya Hamka yang mendasarkan pada berita China dari dinasti T’ang adalah fakta sejarah yang paling valid (Rajih).

Prof. DR. Buya Hamka menuliskan, “Ahli sejarah ada yang berkata bahwa di jaman pemerintahan Yazid bin Muawiyah, khalifah bani Umayyah yang kedua, telah didapat sekelompok keluarga orang Arab di pesisir barat pulau Sumatra. Artinya sebelum habis seratus tahun setelah Nabi kita Muhammad. Tetapi dikurun-kurun ketiga dan keempat hijriyah, di jaman keemasan daulah Bani Abbas di Baghdad sudah banyak pelajar dan pengembara bangsa Arab itu menyebut-nyebut pulau Sumatra, ketika mereka membicarakan suatu kerajaan Buddha yang dikenal dalam kitab-kitab mereka dengan nama “Syarbazah” atau kerajaan Sriwijaya yang terletak di Palembang, ibu negeri Sumatra Selatan sekarang ini”.(Prof. DR. Buya Hamka, sejarah perkembangan pemurnian ajaran Islam di Indonesia)

Pendapat Prof. DR. Buya Hamka ini juga dikuatkan oleh pendapat beberapa sejarawan. Di antaranya adalah Prof. Ahmad Mansur Suryanegara yang berkesimpulan bahwa Islam masuk ke nusantara langsung dari Mekah sejak abad ke-7 M melalui Aceh.

Islam pertama kali masuk ke Sumatra sejak abad 7 juga telah disebutkan oleh W.P. Groeneveldt yang menjelaskan bahwa berdasarkan berita China zaman T’ang. Pada abad 7 masyarakat muslim telah ada, baik di Kanfu (Kanton) maupun di daerah Sumatra sendiri. Oleh karena Islam sendiri masuk ke China tiongkok pada abad ke-7, ketika khalifah ke-3, Utsman bin Affan (577-656 M) mengirim utusannya yang pertama menghadap kaisar Yong Hui dari dinasti T’ang pada 2 Muharram 31 H/25 agustus 651 M.(Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho)

Ini terjadi oleh karena kerajaan Sriwijaya di Sumatra mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad 7 dan 8 M sebagaimana dalam prasasti Ligor 775, berita China dan Arab, selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Perkembangan Islam melalui pelayaran dan perdagangan secara internasional antara  negeri-negeri di Asia bagian barat dipengaruhi oleh kuatnya dominasi kekuasaan Islam Bani Umayyah. Sedangkan perkembangan Islam di Asia bagian Tenggara maupun timur dipengaruhi oleh kuatnya dominasi Islam di kerajaan China masa dinasti T’ang.(Op.Cit., Sejarah Nasional Indonesia III)

Syed Naguib Al-Attas juga menjelaskan tentang masuknya Islam ke nusantara sejak abad 7. Pada abad ke-7 ini, orang-orang Islam telah memiliki perkampungan di Kanton, menunjukkan kegembiraannya menyaksikan derajat keagamaan yang tinggi dan otonomi pemerintahan, dimana mereka akan memelihara kelangsungan perkampungan serta organisasi di Kedah dan Palembang.

Bukti lainnya adalah sebuah literature kuno Arab yang berjudul A’jaib Al-Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar Al-Ramhurmuzi pada tahun 1000 M, memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan muslim yang terbangun di wilayah kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah terus berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ibnu Abdur Rabbih dalam karryanya Al-Iqud Al-Farid menyebutkan bahwa ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu, Sri Indravarman, dengan khalifah yang terkenal adil tersebut. Sedangkan telah diketahui bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah dari Bani Umayyah selama 3 tahun pada awal abad ke-8, yaitu 717-720 M.

Dari bukti-bukti sejarah tersebut, sangat jelas bahwa teori awal mula masuknya Islam ke nusantara, seperti teori China, teori Persia, teori maritim, apalagi teori Gujarat semuanya telah tertolak. Teori Mekah yang menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke nusantara melalui Aceh dari Mekah pada abad 7 adalah teori yang paling kuat dari semua teori lainnya.

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd




Kamis, 25 November 2021

RAMALAN JAYABAYA SEBUT ADA KABAR BAIK YANG AKAN MENGHAMPIRI INDONESIA DITAHUN 2022!!! COVI19 BERAKHIR ATAU MENJADI NEGARA MAJU???


        Tidak akan lama lagi warga dari seluruh penjuru dunia akan menyambut tahun baru 2022. 
Untuk saat ini tahun 2021 hanya tinggal menyisakan kurang lebih satu bulan lagi, yakni bulan Desember.

        Banyak orang yang berharap hingga akhir tahun 2021 tidak akan ada lagi banyak musibah serta halangan yang berarti. Meskipun gelombang ketiga Covid-19 masih mengancam dan bisa saja terjadi di akhir tahun, tetapi banyak yang berharap agar hal itu tidak benar terjadi. tergantung kita sendiri yang mengendalikannya, kalau kita bandel dan tidak taat pada aturan yang dibuat oleh pemerintah kita, maka bisa dipastikan hal yang kita takutkan tersebut benar-benar bisa terjadi.

        Pada materi yang sebelumnya kami pernah membahas tentang 20 ramalan yang hampir semuanya negatif yang akan terjadi pada tahun 2022. Ternyata ada yang terlewatkan dari materi ramalan yang berasal dari Prabu Jaya Baya yang sudah sangat mahsyur tersebut.

      Kabar baik itu pun hadir dari Ramalan Jayabaya yang menyebut jika di tahun baru 2022 mendatang Indonesia akan dihampiri hal positif, dan semoga ini mejadi aura positif bagi kita bangsa Indonesia, walaupun kita sebagai bangsa yang mengenal Tuhan tidak diperbolehkan mempercayai ramalan-ramalan apapun itu bentuknya karena hanya Tuhanlah yang mengetahui masa depan. Tapi seperti yang sudah kami sebutkan, bahwa ramalan itu akan tertanam dialam bawah sadar kita dan akan mempengaruhi psikologi kita, makanya jika ramalan itu positif maka hal positiflah yang akan kita dapatkan.

        Hal positif yang dimaksud dalam ramalan itu adalah di tahun 2022 akan menjadi tahun bahagia alias keemasan bagi Indonesia. Untuk diketahui bahwa Ramalan Jayabaya atau yang sering disebut tahu sebgaai Jangka Jayabaya adalah Ramalan yang ada di dalam tradisi Jawa.

        Ramalan Jayabaya ditulis sendiri oleh Pangeran Jayabaya, raja yang pernah memimpin Kediri, Jawa Timur mulai dari 1135 hingga 1157 Masehi. Menurut Ramalan Jayabaya yang menyebut bahwa tahun 2022 akan  menjadi tahun keemasan bagi Indonesia ada di Ramalan ke-7.

        Ramalan Jayabaya masih banyak dipercayai orang karena beberapa yang dituliskan memang ada yang benar-benar terjadi. Salah satunya yakni Ramalan Jayabaya pernah memprediksi adanya bencana banjir darah plus hilangnya nyawa.

        Dan kini faktanya hilangnya banyak nyawa disebabkan oleh adanya serangan pandemi Covid-19 yang masih terjadi sampai dengan saat ini. Akan tetapi ada kabar baik juga yang tertulis di dalam Ramalan Jayabaya, yakni disebutkan bahwa Indonesia akan meraih masa keemasan.

            Ramalan tersebut sudah tercantum dalam Ramalan ke-7 Jayabaya, yakni Tikus Putih Hanongko Baris. Maksud dari ramalan itu yakni Tikus lebih menggambarkan kalangan kecil dan putih sebagai suatu simbol kesucian, kebenaran, dan ketulusan.

        Dengan begitu ramalan “Tikus Putih Hanongko Baris” bisa diartikan sebagai rakyat kecil bersatu demi membenamkan banyak kezaliman yang merajalela. Dalam syair yang dimuat “Wong Jowo kari separo, Wong Cino kari sejodo, Wong Londo gulung gulung", Ramalan Jayabaya ke-7 itu dijelaskan.

          Jika melansir dari sumber-sumber internet, Ramalan Jayabaya itu mungkin saja benar terjadi. Ramalan tersebut bisa saja terjadi karena situasi di Indonesia sudah mendekati hal yang serupa dengan apa yang dijelaskan tadi.

    Saat ini sudah banyak terjadi kasus hukum yang membuat masyarakat terheran-heran. Banyak kasus korupsi dan criminal yang dibuat oleh para petinggi serta petugas negara tetapi tidak dapat benar-benar diselesaikan dengan baik.

        Justru banyak dari pelaku yang salah justru mendapat keringanan hukum sedangkan kasus kecil ditangani dengan serius. Meski demikian, belum dapat dipastikan dengan jelas apakah Ramalan Jayabaya ke-7 yang dimaksud di atas akan benar-benar terjadi atau tidak. Karena ramalan kuno ini adalah peninggalan orang terdahulu kita yang tetap kita lestarikan sebagai sumber literasi sastra dan budaya.  Selebihnya kita sebagai generasi muda hanya bisa menafsirkan dan mereka-reka apa yang sebenarnya menjadi maksud dari penggalan kalimat ramalan ke-7 Jayabaya tersebut.  

        Tapi tidak bisa kita pungkiri negara kita saat ini memang sedang berusaha memantaskan diri untuk berkembang menjadi negara yang kuat dan sejahtera. pemerintah sudah berusaha membangun infrastruktur diberbagai lini dimana-mana walaupun memang harus berhutang yang jumlahnya tidak sedikit.  Kita adalah bangsa yang tinggal diwilayah yang sangat kaya, buktinya lihat disekeliling kita berapa banyak orang yang hanya bergaji di bawah dua juta rupiah, akan tetapi dengan gaji sebesar itu kita masih mampu untuk bertahan hidup, melanjutkan perjuangan. Hal itu hanya bisa terjadi karena kita memang tinggal di wilayah nusantara yang sangat kaya, ibarat kita lempar potongan tongkat dari batang ubi maka tongkat itu akan tumbuh dan subur, yang akhirnya ubinya bisa kita makan.

        itulah sekelumit materi tentang ramalan jayabaya ke-7 yang terdengar membawa angin positif bagi bangsa Indonesia. Kesimpulan dari materi ini kami serahkan kepada para pembaca yang budiman.


Argha Sena




20 RAMALAN BURUK JAYABAYA PADA TAHUN 2022???


        Menjelang tahun baru 2022, banyak orang yang mulai berbicara tentang ramalan, memprediksi apa yang akan terjadi di tahun 2022, informasi seperti ini mulai berserakan di youtube yang membahas ramalan seperti membahas pertandingan sepak bola. Dalam video kali ini sebenarnya pegawai jalanan tidak menganjurkan kita untuk mempercayai ramalan-ramalan, apapun itu, karena manusia bukanlah Tuhan yang tahu masa depan dengan pasti. Makanya dalam video pembuka ini kami tidak ingin para subscriber pegawai jalanan menjadi terlalu terjerumus kearah yang bisa menjauhkan kita terhadap keimanan kita terhadap Tuhan. karena dampaknya akan buruk jika kita mudah percaya ramalan, secara tidak langsung ramalan buruk akan tertanam di alam bawah sadar kita dan akhirnya perilaku kita menjadi negatif, cendrung berputus asa. 

        Akan tetapi video ini disajikan hanya sebatas sebagai sastra kuno peninggalan nenek moyang kita yang akan kami coba sampaikan, kemungkinan besar catatan-catatan tersebut dibuat menggunakan ilmu yang kita tidak bisa fahami sebagai manusia modern. Penulisnya mempunyai kemampuan memprediksi masa depan dengan mengamati perilaku sosial masyarakat pada zamannya, dan akhirnya apa yang dia prediksi sebagian besar menjadi kenyataan. 

Salah satu nama besar orang nusantara zaman dahulu yang terkenal dengan ramalannya ialah Prabu Jayabaya. Ramalannya hampir semuanya terjadi di zaman modern seperti saat ini. Jika kita perhatikan sepertinya tidak jauh berbeda antara tahun 2020 dan 2021 apa yang sudah terjadi, sama-sama tahun yang cukup melelahkan melawan pandemi covid-19 yang tidak kunjung selesai. Akan tetapi untuk tahun 2022 kira-kira apa yang diprediksikan oleh Prabu Jaya Baya? Kita bisa bersiap-siap menyiapkan diri untuk hal-hal yang buruk yang belum tentu terjadi, bahkan jika memang memungkinkan kita malah bisa menguasainya dan mendapatkan hasil positif dari prediksi buruk tersebut. 

            Diketahui, Jayabaya Memiliki kemampuan dapat membaca sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, hal ini dimanfaatkan oleh para peramal untuk mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati kedepannya.

            Benar atau tidaknya, isi ramalan tersebut telah dipercayai sebagian orang di Tanah Air atau Nusantara, khususnya masyarakat Jawa.

            Dalam prediksi ramalan orang-orang terdahulu, Misteri mengenai apa yang akan terjadi pada 2022 ternyata sudah digambarkan.

            Prabu Jayabaya telah menyebutkan bahwa 2022 masuk dalam tahun kolo suroto.

            Di tanah Jawa akan banyak orang-orang yang manis budi dan lemah lembut. Sehabis itu ganti zaman, yang dalam ramalan Jayabaya akan menemui kiamat kubro.

            Lalu apa saja kira-kira misteri ramalan Prabu Jayabaya pada tahun 2022 mendatang? Berikut ini sudah kami rangkum dari berbagai sumber literasi.

1. Umah ala soyo dipujo artinya rumah maksiat makin dipuji.

2. Wong wadon lacur ing endi-endi artinya banyak perempuan lacur dimana-mana.

3. Akeh Laknat artinya banyak kutukan.

4. Akeh pengkhianat artinya banyak penghianat.

5. Anak mangan bapak artinya anak berani pada bapaknya.

6. Sedulur podo mangan sedulur artinya saudara makan saudara tidak rukun.

7. Konco dadi musuh artinya kawan jadi lawan.

8. Guru disatru artinya banyak guru dimusuhi.

9. Tonggo lan curigo artinya tetangga saling curiga.

10. Pedagang akeh sing kepelarang artinya pedagang banyak yang tenggelam.

11. Wong utana akeh sing dadi artinya penjudi banyak yang merajalela.

12. Akeh barang kang harom artinya banyak barang haram.

13. Akeh anak kang harom artinya banyak anak haram.

14. Wong wadon ngelamar wong lanang artinya perempuan melamar laki-laki.

15. Wong lanang ngasura derajate dewek artinya laki-laki menghina derajatnya sendiri.

16. Akeh barang-barang melebuh luang artinya banyak barang-barang yang terbuang.

17. Akeh uwong kaliren lan wudo artinya banyak orang lapar dan telanjang.

18. Wong tuku ngelenik wong dodol artinya pembeli membujuk penjual.

19. Sing dodol akal okol artinya penjual membujuk si penjual.

20. Wong golek pangan koyok gabuh di intri artinya ibarat mencari rezeki ibarat gabuh ditampik.

        Itulah 20 butir ramalan atau prediksi yang berasal dari Prabu Jaya Baya dan kita renungkan sendiri apakah semua itu sudah terjadi? atau belum terjadi, silahkan jawab dalam hatim kita masing-masing. Jika tahun depan masih berjalan seperti ke-20 ramalan tersebut, sebisa mungkin kita harus menghindari berperan sebagai tokoh antagonisnya, sewajib mungkin kita harus menjadi orang yang baik. Sekali lagi kita tidak boleh menjadikan ramalan sebagai keyakinan, apalagi sampai melemahkan iman kita terhadap Tuhan yang Maha Esa. 


Argha Sena