Friday, December 25, 2020

Catatan Sejarah Mengatakan Pernah Ada Suku Kanibal di Sumatra | Pegawai Jalanan

 

Ilustrasi


Catatan tentang Suku Kanibal di Pedalaman Sumatra


Pedalaman Sumatra pernah menjadi tempat yang menyeramkan. bagaimana tidak, karena dari catatan sejarah, Sumatra memiliki suku kanibal yaitu pemakan manusia. Kita sebagai manusia yang telah modern mungkin ada yang tidak percaya bahwa ada manusia yang memakan daging sesamanya. Namun kejadian ini benar-benar terjadi bahkan menjadi catatan penting penjelajah yang berhasil menemukan keberadaan mereka.

Marcopolo yang merupakan seorang penjelajah juga pernah menuliskan dalam catatannya ketika ia tiba di Sumatra. Ia tiba di Sumatra tahun 1292 dan sempat menyusuri pesisiran Sumatra (dalam catatannya ia menyebutnya jawa kecil). Di tengah perjalanannya ia sempat menyaksikan adanya masyarakat yang memakan daging manusia. Ketika berada di kerajaan Dagroian, daerah Pidie (Aceh), Marco Polo menyaksikan masyarakat kanibal di sana yang memakan daging kerabatnya yang sakit parah dan sudah tidak bisa diselamatkan. “Ketika salah satu kerabat mereka jatuh sakit, mereka akan memanggil penyihir untuk datang dan mencari tahu apakah si sakit bisa sembuh atau tidak. Jika penyihir itu berkata bahwa si sakit akan mati, kerabat si sakit akan memanggil orang tertentu yang secara khusus membunuh si sakit. Ketika dia sudah mati, mereka akan memasaknya. Kemudian para kerabat akan berkumpul dan menyantap seluruh badan orang itu. “Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu,” tulis Marco Polo dalam “Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatra Utara Pada 1920-an” dimuat dalam Sumatra Tempo Doeloe karya Anthony Reid. (bangkapos.com)

Kanibalisme juga berlaku untuk seorang yang dituduh mata-mata dan tawanan perang. “Mereka dapat menangkap orang asing yang bukan berasal dari daerahnya, mereka akan menahan orang itu. Jika orang itu tidak sanggup menebus dirinya sendiri, mereka akan membunuhnya dan memakannya langsung di tempat,” tulis Marco Polo. Meski tak melihatnya secara langsung dia mendengar cerita itu dari pesisiran. Dimana mereka menyebutkan ada seorang pria yang dicekik dan kemudian dimasak. Marcopolo bercerita secara detil bagaimana cara orang itu dimakan. (historia.id)

Catatan lain tentang kanibalisme suku Batak juga dikeluarkan Sir Thomas Stamford Raffles pada 1820 ketika mempelajari Batak, ritual, dan hukum mereka tentang konsumsi daging manusia. Dia menuliskan secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan serta metode pembantaian. Raffles mengatakan, sudah biasa bagi orang-orang Batakmemakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja. Kanibalisme juga diberlakukan bagi penjahat yang melakukan kejahatan tertentu. Tubuh mereka dimakan mentah atau dipanggang menggunakan kapur, garam dan sedikit nasi. (tobatabo.com)

Pada tahun 1935 seorang arkeolog bernama Friedrich Schnitger menemukan sebuah fakta mengerikan terkait suku kanibal di masa lalu. Ia menemukan sebuah reruntuhan candi di Padang Lawas, Sumatra Selatan yang dipercaya sebagai sisa kerajaan Poli pada abad ke-12 masehi. Schnitger menduga jika kerajaan ini berasal dari sekte yang bernama Bhairawa. Orang-orang dari sekte ini memuja dewa-dewa yang memiliki wujud seperti setan. Ritual kanibalisme biasanya dilakukan saat senja sebelum matahari terbenam. Orang yang akan dikorbankan dibaringkan di altar. Lalu pendeta akan mengambil jantungnya, dan menaruh darah dalam sebuah wadah tengkorak lalu meminumnya sampai habis. (pemburuombak.com)

Dikisahkan pula ada dua orang misionaris yang berusaha mengkristenisasi suku Batak pada tahun 1834. Kedua orang itu adalah Samuel Munson dan Henry Lyman. Peristiwa itu terjadi 28 Juni 1834 di Sisangkak, Lobupinang, sekitar 20 km sebelah barat kota Tarutung, Sumatra Utara. Jauh sebelumnya, Raja Panggalamei Lumbantobing memerintahkan pasukannya membunuh setiap sibontar mata (orang Barat) yang memasuki daerah ini. Atas perintah itu tidak ada ampun bagi Munson dan Lyman. "Mayatnya dipertontonkan di pasar. Kemudian dicincang dan sebagian lagi direbus. Setelah itu dimakan beramai-ramai dan tulang belulangnya dibuang ke tempat sampah. (lokadata.id)

Seorang peneliti bernama Oscar von Kessel, melakukan penelitian tentang masyarakat Batak pada tahun 1844. Ia adalah orang Eropa pertama yang pernah mengamati ritual kanibalisme di Silindung. Menurutnya, masyarakat Batak menganggap kanibalisme sebagai perbuatan hukum bagi pelanggaran seperti pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, merica merah dan lemon harus disediakan oleh keluarga korban sebagai tanda menerima keputusan hukuman itu dan tidak lagi memikirkan balas dendam.


Catatan Menakutkan Pelancong Wanita Pertama di Suku Batak

        

Pada tahun 1852, seorang pelancong wanita dari Austria memiliki keinginan untuk bertemu dengan suku kanibal tersebut. Wanita ini adalah Ida Laura Reyer Pfeiffer seorang pelancong wanita bergaya tomboy. Kisah tentang Ida Pfeiffer ini merupakan cuplikan dari A Lady's Second Journey Round the World: From London to the Cape of Good Hope, Borneo, Java, Sumatra, Celebes, Ceram, the Moluccas, Etc., California, Panama, Peru, Ecuador, and the United States, Volume 1. Buku tersebut merupakan catatan perjalanan Ida yang terbit di London pada 1855. Para tawanan perang diikat pada sebuah pohon dan dipenggal sekaligus. Darah mereka diawetkan untuk minum, dan kadang dibuat menjadi semacam puding yang disajikan dengan nasi. Bagian tubuh kemudian dibagikan. Telinga, hidung, dan telapak kaki adalah bagian milik Raja, yang juga memiliki klaim atas bagian lain. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung, dan hati yang semuanya adalah hidangan aneh dan semua daging dipanggang dan disantap dengan garam. Ida tidak menyaksikan kengerian itu dengan mata kepalanya. Dia mendapat informasi tersebut dari beberapa pejabat pribumi setingkat bupati di Muara-Sipongie,” tulis Ida Laura Reyer Pfeiffer dalam catatan perjalaannya di Sumatra.

Ketika berada di Padang, keinginan Ida Pfeiffer untuk bertemu dengan bertemu suku ini semakin kuat karena pejabat setempat meyakinkan bahwa wanita tidak diizinkan mengambil bagian dalam makan malam utama. Walaupun banyak pula warga setempat yang mencegah perjalanan Ida untuk menemui suku Kanibal liar dari batak. Karena sebelumnya dua orang misionaris asal Amerika, Henry Lyman dan Samuel Munson telah dibunuh dan disantap pada tahun 1835. Namun perjalanan tetap Ida lakukan dengan membawa seorang pemandu dengan cara menunggang kuda ke pedalaman Sumatra.

Pada pertengahan Agustus 1852, keduanya menuruni bukit di Silindong, dekat Danau Toba. Namun, sebelum menuju lembah, pemandunya menyarankan supaya  Ida untuk tak menjauh darinya.  Mereka menyaksikan prosesi yang dilakukan enam lelaki bersenjata tombak. Ketika kedua orang itu mendekat, mereka justru disambut dengan tombak dan parang. Setelah si pemandu menjelaskan, Ida boleh melewati kawasan itu. “Di suatu tempat, kejadiaannya bahkan lebih serius,” demikian Ida berkisah. “Lebih dari 80 lelaki berdiri di jalanan setapak dan menghalangi perjalanan kami”. Kemudian dia melanjutkan, “Sebelum saya menyadarinya, sekawanan lelaki telah melingkari saya seraya menodongkan tombak mereka, dengan tatapan ngeri dan liar. Ida melukiskan sosok lelaki Batak yang mengepungnya. Mereka berbadan tegap dan kuat, tingginya hampir dua meter, penampilannya beringas dan militan. “Mulut lebar mereka dengan geligi yang menonjol, tampaknya lebih mirip dengan binatang buas ketimbang manusia manapun”.

Suasana kian mencekam, para lelaki itu merubungi Ida sembari bersorak-sorai. “Saya tidak mengerti apa yang terjadi selanjutnya”, ungkapnya. “Saya merasa sudah pasti bahwa ini adalah akhir hidup saya”. Ida gelisah, demikian dalam catatannya, lantaran suasana kian menakutkan. Namun, tampaknya dia tidak kehilangan kendali. Dalam situasi teror, perempuan itu duduk di sebongkah batu. Lalu, sekonyong-konyong mereka mendatanginya sembari menunjukkan gerakan-gerakan yang mengancam.

Ida bangkit dan mencoba berbicara kepada lelaki beringas di dekatnya dengan bahasa separuh Melayu dan separuh Batak. Sembari tersenyum Ida berkata, “Mengapa Anda tidak berkata saja bahwa Anda akan membunuh dan memakan seorang perempuan tua seperti saya. Saya pastilah sangat sulit dimakan dan alot”. Ida, dengan gaya pantomimnya, berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya tidak takut apapun. Bahkan, apabila mereka menginginkannya, dia rela dibawa oleh mereka asalkan mereka mengantarnya ke Eier Tau, Danau Toba.  

Kemudian para lelaki beringas dan bertombak itu melepaskan tawa mereka. Barangkali, kepercayaan diri yang Ida tunjukkan telah membuat suatu kesan bersahabat kepada mereka. Pada akhirnya, mereka menyambut Ida dengan uluran tangan, dan lelaki bertombak yang melingkari perlahan membuka jalan untuk dirinya. Ida bersuka cita lantaran terlepas dari bahaya di pedalaman Sumatra. Dia pun berhasil berjejak di tepian Danau Toba dengan selamat.

Ketika peristiwa itu telah dua tahun berlalu, Ida telah kembali ke kampung halamannya di Wina, Austria. Dia terkejut pada satu pemberitaan dari Hindia Belanda. “Saya membaca surat kabar yang mewartakan bahwa tiga misionaris asal Prancis  di pedalaman Tappanolla, Batak; telah terbunuh dan dimangsa oleh para kanibal ditengah perayaan dengan tarian dan musik”.(nationalgeographic.grid.id)

 

Itulah gambaran singkat rekaman jejak suku kanibal dan keberanian seorang wanita yang berani mendatangi daerah yang belum dia kenal dan penuh dengan catatan menyeramkan. Dimana dari catatan-catatan para penjelajah, arkeolog dan peneliti mengindikasikan bahwa di Sumatra pernah memiliki suku kanibal. Suku yang sering disebutkan dalam catatan-catatan itu adalah suku Batak. Hal tersebut adalah wajar karena ketika itu masyarakat di pedalaman belum mengenal Agama. Suku yang memakan manusia berangsur berkurang karena kebijakan pemerintah Belanda yang melarang Kanibalisme. Selain itu juga karena proses Kristenisasi yang di lakukan pemerintah Belanda dalam upaya menjatuhkan kerajaan yang dipimpin Sisinga Mangaraja XII. Walau mungkin suku ini masih ada, namun di zaman yang semakin modern ini sudah semakin sedikit manusia kanibal bahkan mungkin sudah tidak ada. Jika saja mereka tidak memasukan dalam buku-buku dan juga catatannya mungkin kita masih tidak percaya bahwa keberadaan mereka memang pernah ada. Namun kita masih dapat melihat sisa-sisa peninggalan mereka seperti Batu Parsidangan, Desa Siallagan, Pulau Samosir, Sumatra Utara yang kini menjadi objek wisata.



Penulis : Rizky Arisandi

Penyunting : Argha Sena

Sumber: nationalgeographic.grid.id, lokadata.id, pemburuombak.com, 

tobatabo.com, historia.id, bangkapos.com

0 komentar:

Post a Comment