F September 2022 ~ PEGAWAI JALANAN

Jumat, 30 September 2022

LONCENG KEMATIAN SANG JENDERAL PENDUKUNG PKI!!!

 


Peristiwa pemberontakkan PKI pada tahun 1965 tidak hanya dilakukan oleh anggota PKI yang berasal dari golongan sipil. Para tentara didalam tubuh militer yang berasal dari golongan kiri juga turut terlibat dalam melakukan pemberontakkan. Orang-orang  PKI kala itu seperti berada di atas angin, mereka berpikir bahwa rencana mereka akan berhasil mendirikan ideologi komunis di Indonesia. Karena memang mereka sudah mulai menguasai pemerintahan, kelompok-kelompok masyarakat dengan organisasi underbownya, bahkan sudah menyusup kedalam tubuh militer. Banyaknya anggota PKI yang telah masuk ke dalam tubuh militer, semakin menambah keyakinan para penganut ideologi komunis bahwa usahanya untuk merebut kekuasaan akan berjalan mulus.

Salah satu petinggi militer yang terlibat dalam pemberontakkan tersebut adalah Brigjen TNI Mustafa Sjarief Soepardjo, satu-satunya jenderal yang terlibat dalam peristiwa lubang buaya tersebut. Ia merupakan salah satu Perwira Tinggi (Pati) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). mengutip catatan yang ditulis oleh Hendro Subroto dalam buku berjudul "Dewan Revolusi PKI", seorang Perwira Menengah TNI Angkatan Darat, Mayor Inf Imam Santoso, terbang ke Jakarta dari Kalimantan Barat bersama Soepardjo. Saat itu, Soepardjo tengah ditugaskan di Kalimantan Barat sebagai Panglima Komando Tempur II (Pangkopur) di bawah Komando Mandala Siaga (KOLAGA), dalam kampanye Ganyang Malaysia. Akan tetapi, Imam justru menyaksikan Soepardjo meninggalkan posnya untuk kembali ke Jakarta pada tanggal 28 September 1965.

Soepardjo sempat mengatakan kepada Imam, alasan kepulangannya ke Jakarta adalah untuk memenuhi panggilan mendadak. Tapi ternyata, Soepardjo justru jadi salah satu pimpinan G30S/PKI 1965. Soepardjo saat itu jadi wakil pimpinan Gerakan 30 September 1965, di bawah komando Letkol Untung Syamsuri yang notabene memiliki pangkat dua tingkat di bawahnya. Ini memang terlihat sangat aneh karena pemimpin tertinggi gerakan tersebut malah orang yang pangkatnya lebih rendah, akan tetapi dia mau saja mengikutinya.

“Pangkat saya memang lebih tinggi dari saudara, tapi di gerakan ini, saya anak buah saudara,” demikian kira-kira ucapan Brigadir Jenderal Soepardjo saat menyalami Letnan Kolonel Untung Samsuri tanggal 29 September 1965.  Soepardjo adalah  panglima yang membawahi ribuan pasukan tempur di perbatasan Kalimantan-Malaysia. Karirnya sangat cemerlang sebagai komandan pertempuran dan ahli strategi.

Sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi, Soepardjo yang dikenal sebagai seorang prajurit tempur dan ahli strategi, sempat memberikan pertanyaan kepada Sjam Kamaruzaman, yang menduduki posisi sebagai Ketua Biro Khusus PKI. Pertanyaan Soepardjo kepada Sjam, adalah mengenai rencana cadangan jika Gerakan 30 September gagal. Sayangnya, Soepardjo tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan dari Sjam. Sebaliknya, Sjam malah menggertak Soepardjo dengan emosi karena ia terlalu yakin bahwa Gerakan 30 September 1965 tidak akan gagal.

Sjam menjawab pertanyaan Soepardjo dengan mengatakan "Bung kalau begini banyak yang mundur. Kalau revolusi sudah berhasil, banyak yang mau ikut,". Dalam peperangan, skenario mundur bukanlah pengecut. Dalam setiap pertempuran selalu ada skenario mundur jika tidak bisa memenangkan pertempuran. Tapi itu tak berlaku untuk Sjam dengan gaya yang menggebu-gebu. Di sini Soepardjo sudah merasa banyak hal yang berantakan. Hal itu dituliskannya dalam catatan evaluasi untuk G30S.

Dalam jam-jam awal 1 Oktober 1965, sebenarnya Gerakan Letkol Untung ini berada di atas angin. Namun Untung dan Sjam tak menggunakan kelebihan awal ini untuk momentum selanjutnya. "Radio RRI yang mereka kuasai juga tidak mereka manfaatkan. Sepanjang hari hanya dipergunakan untuk membacakan pengumuman saja. Harusnya radio digunakan semaksimal mungkin oleh barisan agitasi propaganda".

Satu kesalahan fatal lain adalah soal logistik. Untung kehilangan banyak pasukannya gara-gara nasi bungkus. Pasukan Bimasakti yang terdiri dari Yon 530 dan Yon 454 berjaga sehari penuh di Lapang Monas. Tapi tak ada yang mencukupi kebutuhan mereka. Tanggal 1 Oktober 1965 dari pagi hingga petang, pasukan itu tak diberi makan akhirnya pasukan itu pun kelaparan setengah mati, padahal dalam pertempuran harusnya perut dalam keadaan kenyang, siapa juga yang mau bertempur kalau perut dibiarkan keroncongan. Maka ketika Soeharto mengutus utusannya untuk membujuk Yon 530 agar kembali ke Kostrad tawaran itu langsung saja dipenuhi.

Semua Kemacetan gerakan pasukan disebabkan di antaranya tidak ada makanan. Mereka tidak makan semenjak pagi, siang dan malam. Hal ini baru diketahui pada malam hari ketika ada gagasan untuk dikerahkan menyerang ke dalam kota. Tapi terlambat, Yon 530 sudah bergabung dengan Kostrad dan Yon 454 sudah berada di sekitar Halim. Tak mungkin lagi memerintahkan mereka menyerang.

Gerakan 30 September akhirnya gagal dan membuat Soeparjo melarikan diri dan bersembunyi. Soepardjo adalah tokoh G30S/PKI yang tertangkap paling akhir diantara rekan-rekannya seperti Sjam, Dipa Nusantara Aidit, dan Letkol Untung. Perintah untuk menangkap Soepardjo datang dari Letjen TNI Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), kepada Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) V Jaya, Brigjen TNI Amirmachmud. Amir pun langsung bergerak cepat membentuk operasi intelijen dengan tim khusus bersandi "Kalong".

Dinamakan demikian karena tim operasi bergerak dimalam hari seperti kalong. Operasi kalong dipimpin oleh Kapten CPM Suroso. Personelnya berasal dari Kompi Raiders Kodam V Jaya yang dipersiapkan sebagai pasukan tempur. Selain itu, kelompok pengintai di bawah pimpinan Pembantu Letnan M. Afandi, bertugas mencari informasi persembunyian Soepardjo.

Pada 10 Januari 1967, sebagaimana dilansir majalah Angkasa vol.17, 1968, lokasi persembunyian Soepardjo diketahui berada di Komplek KKO Cilincing, Jakarta Utara. Salah seorang anggota KKO AL, Mayor Adnan Suwardi menampung Soepardjo dikediamannya. Tim Operasi Kalong bergegas menyerbu ke Cilincing. Namun Soepardjo berhasil melarikan diri menuju Halim Perdana Kusumah.

Dalam Dinas Sejarah TNI AU menulis, tepat pada hari Idul Fitri 1967, Satgas Kalong mencium keberadaan Soepardjo di rumah seorang prajurit AURI di Halim. Intel gabungan bersama Polisi Militer AU menggerebek tempat itu.

Ketika mereka menggerebek tempat tersebut, tidak ada orang yang ditemukan di sana. Tetapi petugas curiga karena menemukan kopi yang masih panas, jejak kaki di tembok mengarah ke atap dan KTP atas nama Moch Syarif dalam kantong baju yang digantung. Mereka yakin kali ini Soepardjo tak akan lolos. Letnan Rosjadi berteriak "Ayo turun! Kalau tidak saya tembak!" Terdengar jawaban dari atas, "Baik saya turun."

Dan ternyata benar, sosok itulah Brigjen Soepardjo yang selama satu setengah tahun mereka kejar siang malam. Soepardjo diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa. Pengadilan mendakwanya bersalah atas tindakan makar dan menjatuhi vonis hukuman mati. Soepardjo ditahan di Rumah Tahanan Militer Cimahi. Banyak tahanan lain yang terkesan dengan sikap Soepardjo selama di tahanan. Sebagai jenderal, dia tak mau diistimewakan. Kalau dikirimi makanan, ia selalu membagi rata dengan tahanan lain. Dia juga sukarela menggosok seluruh toilet dan kamar mandi.

Tiga hari sebelum dieksekusi, Saat keluarganya datang menjenguk untuk terakhir kali, Soepardjo hanya bisa memberikan sepasang sepatu. Soepardjo mengatakan bahwa ia tidak bisa memberi apa-apa. Cuma sepasang sepatu ini untuk kenang-kenangan,". Pada tanggal 15 Mei 1970, sehari sebelum pelaksanaan eksekusi, seluruh keluarganya berkumpul terakhir kali dalam suasana hangat.

Waktu yang diberikan lebih lama dari biasa, yaitu dua jam. Saat itu Soeparjo memberi nasehat dengan memegang sebutir apel. Ia menyuruh anak-anaknya untuk memecahkannya dengan genggaman tangan. Tentu tidak berhasil, Setelah apel di potong-potong maka mudah dipecahkan. Soeparjo mengatakan “Kalau keluarga sudah terpecah belah, maka kalian akan mudah dihancurkan”.

Keinginannya untuk mati dengan seragam kebesaran militer jenderal bintang satu ditolak. Dia akhirnya memilih pakaian serba putih. Supardjo juga sempat meminta agar eksekusi dilakukan dengan mata terbuka. Tapi setelah dibicarakan dengan keluarga, niat itu urung dilaksanakan.

Itulah akhir hayat Jendral Soeparjo yang harus menjalani hukum mati karena terlibat dalam pemberontakkan PKI. Soeparjo merupakan Jendral pertama yang dieksekusi oleh pemerintah. Ia adalah Seorang perwira tinggi yang ahli dalam strategi, namun ia terhasut oleh ideologi komunis. Setelah satu tahun lebih dalam pelarian, ia akhirnya tertangkap tanpa melakukan perlawanan. Dengan tertangkapnya Soeparjo, sebuah surat kabar memberitakan bahwa ia adalah hadiah lebaran untuk rakyat. Sebelum dieksekusi, Soepardjo sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengumandangkan azan dari dalam selnya.

Sumber Referensi :

id.wikipedia.org,

historia.id,

intisari.grid.id,

merdeka.com,

tirto.id,

viva.co.id

Kamis, 22 September 2022

LOJI REJOSARI SAKSI BISU KEKEJAMAN PKI!!! DARAH TERGENANG SETINGGI MATA KAKI!!!

 


Bekas keganasan PKI terekam dibanyak tempat di Indonesia. Banyaknya monumen dan prasasti dibangun untuk para korban kekejaman mereka, monumen itu seakan menjadi pengingat kepada generasi sekarang bahwa begitu kelamnya sejarah bangsa ini. Saat terjadi pemberontakan PKI Pada tahun 1948, Magetan, Jawa Timur menjadi saksi kekejaman PKI yang dipimpin oleh Muso. Para pejuang, ulama, santri, dan tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat telah menjadi korban kebiadaban mereka.

Tak terhitung, berapa banyak kiai dan santri yang nyawanya melayang sia-sia ditangan PKI. Mereka jadi korban keganasan, serta kebrutalan PKI. Kiai dan santri menjadi sasaran utama yang diincar karena mereka dianggap sebagai oknum yang paling bertanggungjawab atas gagalnya pendirian Republik Soviet di Indonesia. Tragedi pembantaian yang dilakukan PKI saat itu, menjadi lembaran hitam dalam sejarah yang menimpa kaum santri dan ulama bangsa ini.

Pada tanggal 18 September 1948, Kantor Polisi di Gorang Gareng tiba-tiba diserbu ribuan orang. Orang-orang tersebut membawa senjata tajam seperti parang dan bambu runcing, bahkan tak sedikit yang membawa senjata api berjenis pistol. Mereka adalah para anggota PKI, mereka kemudian menangkap para Polisi dan melucuti senjatanya. Doerjat yang saat itu menjabat sebagai Kepala Polisi, tidak luput dari penangkapan yang dilakukan oleh orang-orang PKI. Para Polisi ini kemudian di giring beramai-ramai, mereka dibawa ke Pabrik Gula Rejosari di Gorang Gareng. Mereka kemudian dikumpulkan bersama tahanan lain yang telah ada disana.

Di tempat lain, M. Ng. Sudibyo yang saat itu menjabat sebagai Bupati Magetan juga mengalami nasib yang sama. Pada malam itu, Para Anggota PKI mengadakan rapat Dewan Desa secara paksa dan menghadirkan Bupati Magetan (Sudibyo), Patih R. Soekardani, Pelaa Panitera R. Moerti Wedana dan Komandan KDM. Meskipun mereka mengatakan itu sebuah rapat, tapi sebenarnya itu adalah intimidasi dari pihak FDR/PKI ke pihak pemerintah setempat.

Rapat kemudian memanas setelah PKI mengemukakan pendapat tetapi banyak yang menetangnya. Para anggota PKI bersikeras agar rapat memutuskan seperti yang mereka kemukakan. Pada saat itu PKI meminta kepada M. NG. Sudibyo agar tanah Bengkok dibagi-bagikan ke warga sebagai upah. Tentu saja Sudibyo menolak gagasan liar tersebut, Karena masalah pembagian tanah Bengkok telah diatur oleh pemerintah pusat yang diberikan kepada aparat desa yang telah mengatur desa. Gagasan PKI ini kemudian memicu keributan, para anggota PKI berharap gagasan itu disetuji. namun disisi lain, para wakil-wakil rakyat pada Dewan Desa mendukung Sudibyo untuk menolak gagasan PKI.

Mendapatkan pertentangan oleh Dewan Desa dan Bupati Sudibyo, para anggota FDR/PKI mengulur waktu rapat hingga tengah malam. Saksi mata kejadian yang ikut hadir dalam rapat berdarah tersebut, Suwarno mengatakan bahwa PKI sengaja mengulur-ngulur waktu rapat hingga malam hari. Suwarno bersama temannya yaitu Soeharno, diminta oleh Bupati Sudibyo untuk mengirim surat ke Residen Madiun. Sudibyo meminta solusi atas masalah yang terjadi di Rapat Dewan desa tersebut. Saat itu jarak Magetan dan Madiun terpisah 23 km dan ditempuh menggunakan sepeda oleh keduanya. Memasuki kota Madiun juga bukan hal yang mudah, karena saat itu Madiun telah dikuasai oleh PKI dan membatasi aktifitas keluar masuk Madiun. Madiun betul-betul terisolasi dari kota-kota sekitar, hal ini karena anggota PKI melakukan pembatasan fisik, memutus kawat-kawat telfon, dan para anggota PKI juga merobohkan tiang-tiangnya.

Suasana Rapat semakin memanas karena PKI tetap bersikeras dengan gagasannya. Karena tidak menemukan kesepakatan, Orang-orang yang ada di dalam Pendopo Desa kemudian digiring oleh anggota PKI. bupati Sudibyo juga ikut digiring bersama dengan yang lainya, Tangan mereka diikat ke belakang dengan bambu sehingga tidak bisa bergerak. Para Anggota PKI membawa mereka ke Loji Pabrik Gula Rejosari di Gorang Gareng.

Kala itu Terdapat ratusan orang yang ditangkap tanpa alasan oleh anggota PKI, para tawanan tersebut dianggap memiliki pandangan yang menentang ideologi komunisme. Mereka di bawa ke Loji dengan jalan kaki sambil diikat dengan tali. Setiap tali berisi sekitar 5 sampai 6 orang. Jika salah satu ingin buang air atau kegiatan lainnya, maka semua yang berada dalam satu ikatan harus ikut.

Para tawanan itu kemudian dikumpulkan ke dalam rumah-ruma loji di asrama pabrik gula gorang-gareng. Dalam Satu kamar yang berukuran 4×4 meter diisi antara 40 sampai 45 orang tawanan. Semua tawanan yang semula diikat lalu dilepaskan ke dalam kamar. Karena banyaknya orang dalam satu kamar, mereka harus berhimpit-himpitan dengan tahanan lainnya. Mereka saat itu tidak mengetahui apa yang akan terjadi kepada mereka. Jika mereka mengetahui, mungkin mereka akan bersatu dan melakukan perlawanan.

Pasukan Siliwangi yang bertugas menghentikan pemberontakan semakin mendekati pabrik gula Rejosari. Keadaan ini membuat PKI berada dalam kondisi terdesak. mereka kemudian bertindak membabi buta dan melakukan penembakan kepada para tahanan secara bergantian dari luar tahanan. 

Para tahanan menjadi sasaran tembak yang membabi-buta, para tahanan kemudian berjatuhan dan berguling-guling karena terkena pelor tajam dan granat tangan. Layaknya cacing kepanasan, para tawanan tersebut merasakan sakitnya timah panas. Bau mesiu dan anyir darah bercampur menjadi satu memenuhi sekitar loji. Saat tembakan dihentikan, mayat-mayat bertumpukan dan darah pun memenuhi ruangan, sesekali terdengar jerit kesakitan dan ada pula napas tersengal-sengal meminta minum. Begitu kerasnya jerit kesakitan yang mereka rasakan, sebelum akhirnya keadaan menjadi sunyi.

Para anggota PKI yang menembak dengan Sten dari jendela mulai melarikan diri dari tempat itu karena pasukan siliwangi telah semakin dekat. Mayat-mayat ditinggal begitu saja dengan darah kental yang memenuhi lantai bahkan setinggi mata kaki. Bahkan saat penduduk yang mengangkat para korban, ikut merasakan kengerian yang dilakukan oleh anggota PKI.

Sudirno yang saat itu masih berusia 14 tahun, melihat kejadian tersebut dengan jelas. Di dalam kamar Loji, mereka semua diberondong dengan tembakan dari luar melalui celah-celah jendela. Karena begitu banyaknya jumlah tahanan dalam satu kamar, tidak mengherankan jika Seluruh kamar kemudian dibanjiri darah segar setinggi mata kaki.

KH. Rochib, adalah seorang tahanan yang berhasil selamat karena berlindung di balik dinding ketika penembakan terjadi. Selain KH Rochib, ada juga salah satu kawannya yang juga lolos dari maut karena melakukan hal yang sama. KH. Rochib adalah seorang guru agama di Bangsri.

Beruntung pada siang hari, pasukan TNI dari Siliwangi datang ke Gorang Gareng sehingga pembunuhan tanpa alasan PKI ini dapat dihentikan. Kedatangan TNI ini membuat orang-orang PKI sebagian besar melarikan diri. KH. Rochid berhasil selamat setelah pintu Loji dijebol oleh tentara Siliwangi, sehingga kita dapat mengetahui kekejaman yang dilakukan oleh PKI. Dari ratusan orang yang menjadi sasaran tembak, hanya ada lima orang yang selamat dari tragedi berdarah tersebut.

Karena begitu banyaknya korban yang harus dikuburkan, para penduduk harus membuat lubang yang besar untuk mengubur setidaknya 19 orang dalam satu lubang. Banyak Para anggota polisi, ulama, santri, dan tokoh masyarakat menjadi korban kebiadaban tersebut. Tidak sedikit pula orang-orang tak bersalah yang menjadi korban kekejaman mereka.

Itulah kebiadaban anggota PKI yang membantai orang-orang yang tidak sepemikiran dengan ideologi mereka. Anggota PKI menganggap agama adalah musuh utama mereka, dan dikatakan bahwa mereka risih dengan orang yang shalat. Sikap tidak suka pada agama, mereka tunjukkan dengan cara berkata-kata sinis. Selain pembunuhan keji, mereka juga melakukan perampokkan dan kekerasan dengan cara menyeret para penduduk untuk dijadikan tawanan. Loji tempat dilakukannya pembunuhan masal ini menjadi saksi bisu sejarah kelam bangsa Indonesia. Tragedi ini adalah sebagai pengingat tentang kekejaman yang pernah dilakukan oleh PKI. Bahkan setiap bulan September dan oktober, banyak orang yang melakukan tabur bunga di dekat pabrik ini.

Sumber Referensi : dzargon.com

kominfosandi.kamparkab.go.id

labumi.id

rekayorek.id

 

PKI MEMBUMIHANGUSKAN KAMPUNG KAUMAN PADA TAHUN 1948!!!



    Pembantaian kejam yang dilakukan oleh orang-orang PKI bukanlah suatu peristiwa karangan yang dibuat untuk menarik perhatian. Para Anggota PKI saat itu memang menggunakan kekuatan mereka untuk melenyapkan para pejabat pemerintah pusat saja, tetapi juga penduduk biasa bisa menjadi korban jika mereka memiliki dendam. Banyak dari mereka adakah ulama-ulama tradisionalis, santri dan lain-lain yang dikenal karena kesalihan mereka kepada Islam. Mereka ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang, bahkan kadang ketiganya sekaligus.

Saat pemberontakkan yang terjadi di Madiun, kabar angin mulai tersebar ke daerah-daerah sekitarnya. Banyak Masjid dan madrasah dibakar, surau-surau menjadi kosong, dan rumah-rumah pemeluk islam dirampok serta dirusak. Tersebar pula kabar bahwa Ulama-ulama dan santri-santri dikunci di dalam madrasah, lalu madrasah-madrasah itu dibakar. Mereka padahal tidak berbuat apa-apa. Orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang biasa dan anak-anak laki-laki yang baik turut menjadi korban. Bukan karena mereka memberontak kepada PKI, mereka disiksa hanya karena mereka seorang muslim. Para tawanan dibawa ke alun-alun kota, di depan masjid, atau tempat-tempat lain. Tanpa tau dosa apa yang mereka lakukan kepada orang-orang PKI, kepala mereka dipancung atau dibunuh dengan cara lain. Karena banyaknya korban, Parit-parit di sepanjang jalan bahkan digenangi oleh darah.

Setelah berhasil menguasai madiun, para anggota PKI mulai menyebar ke sekitaran Madiun. Daerah-daerah yang mayoritas muslim akan menjadi target pembantaian oleh orang-orang PKI. Kampung Kauman yang merupakan daerah mayoritas muslim turut menjadi daerah yang dibumihanguskan.

Pada tanggal 20 September 1948, tiba-tiba datang sebuah truk yang berisi orang-orang PKI baik laki-laki, maupun perempuan. Seorang perempuan turun dari truk kemudian berteriak keras kepada seluruh penduduk Kauman. Dia mengatakan bahwa salah seorang anggota PKI telah mati terbunuh di Kampung Kauman.

Pada saat itu, di atas truk memang ada mayat yang dibungkus kain dan hanya kelihatan kakinya saja. Perempuan itu berteriak agar penduduk Kauman mengakui  bahwa ada penduduk desa itu yang telah membunuh salah seorang anggota PKI. Karena mereka memang diantara mereka tidak ada yang membunuh, maka tidak ada satu orang pun yang mengakuinya. Akhirnya rombongan PKI pergi meninggalkan kampung kauman dengan ancaman akan membumihanguskan Kampung Kauman. Ini sebenarnya adalah taktik licik PKI yang berpura-pura mencari pembunuh, yang mereka lakukan adalah untuk memancing lawan-lawan yang akan menghalangi pemberontakan mereka.

Ancaman PKI kala itu bukanlah omong kosong, mereka benar-benar membuktikan ancaman mereka. Pada tanggal 24 September 1948, PKI datang menyerbu Kampung Kauman layaknya kerumunan lebah yang sarangnya diganggu. Rumah-rumah penduduk lalu dibakar, sehingga seluruh penghuni rumah keluar dari persembunyiannya. Waktu itu seluruh warga laki-laki Kauman ditawan dan digiring ke Masopati setelah tangan mereka ditelikung dan diikat dengan tali bambu.

Dalam aksi pembumihangusan Kampung Kauman itu, sedikitnya 72 rumah terbakar, dan sekitar 149 laki-laki digiring ke Maospati. Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok. Dari glodok itu para tawanan dipindahkan ke Geneng dan Keniten. Ditengah suasana mencekam tersebut, para anggota PKI telah bersiap melakukan pembantaian. Tetapi sebelum berhasil disembelih, para tawanan terlebih dahulu diselamatkan oleh tentara Siliwangi yang tengah melakukan pembersihan.

Pembakaran Kampung Kauman pada dasarnya merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat. Sebab, sebelum aksi pembakaran itu, Madrasah Pesantren Takeran juga telah dibakar, beberapa saat setelah Kiai Imam Mursjid tertawan. Pesantren Burikan pun tak luput dari serbuan PKI. Kemudian para tokoh-tokoh pesantren seperti Kiai Kenang, Kiai Malik, dan Muljono dibantai di Batokan. Korban lain dari kalangan ulama yang dibantai oleh PKI adalah keluarga Pesantren Kebonsari, Madiun.

Achmad Daenuri, putra K.H. Sulaiman Zuhdi Affandi dari pesantren Mojopurno, menceritakan bahwa ayahnya adalah putra sulung Kiai Kebonsari. Menurut Daenuri, ayahnya ditangkap oleh PKI, bersamaan dengan ditangkapnya bupati Magetan. Sementara adik kandung ayahnya, K.H. Imam Sofwan yang menjadi pimpinan Pesantren Kebonsari, ditangkap PKI bersama dengan dua putranya yakni Kiai Zubair dan Kiai Bawani. Daenuri mengatakan “setelah pemberontakan itu meletus, banyak pesantren-pesantren yang sudah kehilangan para pimpinannya.

Setelah Magetan, aksi keganasan PKI berlanjut di Trenggalek, Surabaya, dan Kediri. Di Trenggalek, PKI juga melancarkan terornya. Mereka menyiapkan belasan jurigen bahan bakar serta telah menempatkan dinamit di bawah seluruh tiang Masjid Agung Trenggalek yang siap diledakkan. Namun Imam Masjid tersebut, K.H. Yunus tak beranjak dari mihrab tempat suci itu. Tepat jam 12 malam, dia diseret keluar masjid dan dicampakkan ke halaman oleh PKI. Setelah itu, masjid bersejarah nan megah itu dibakar dan diledakkan sampai musnah hingga rata dengan tanah.

Itulah sekelumit peristiwa yang terjadi di Kampung Kauman pada peristiwa pemberontakkan PKI Madiun. Pemberontakkan yang dilakukan oleh PKI kala itu memang tidak berlangsung lama. Namun dari pemberontakkan di Madiun memakan korban yang jumlahnya tidak sedikit. Selain pejabat pemerintah, polisi, dan para pejuang, banyak para ulama dan santri yang menjadi korban pembantaian. Namun sayangnya ada upaya dari sebagian orang untuk memutar balikan fakta bahwa PKI adalah korban.

 

Sumber Referensi :

news.detik.com,

pojoksatu.id,

republika.co.id

ADZAN TERAKHIR KIAI IMAM SOFYAN!!! SUMUR CIGROK MAGETAN MENJADI TEMPAT PEMBANTAIAN!!!

 


Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 tidak hanya melibatkan para pejabat pemerintah, tapi juga penduduk biasa yang memiliki rasa dendam terutama ulama-ulama dan para santri. Perkataan Karl Marx yang menyatakan bahwa agama adalah candu, dicerna mentah-mentah oleh Muso dan anggotanya. Tidak mengherankan, jika mereka tidak segan-segan membantai para kiai dan para santri. Pada dasarnya, pembantaian itu merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat. Para kiai, ulama dan santri dikunci di dalam masjid yang kemudian dibakar hanya karena mereka benci dengan agama Islam.

Dengan alasan kaum FDR-PKI merasa tidak suka pada orang-orang Masyumi, Semua pimpinan Masyumi dan PNI dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi. Tubuh mereka dipisahkan dengan kepalanya dan pembunuhan keji lainnya. Orang-orang yang terbunuh dibiarkan tergeletak di sepanjang jalanan di kota Madiun. Sehingga hanya dalam beberapa hari saja darah manusia telah membanjiri kota Madiun. Banyaknya mayat membuat beberapa daerah berbau anyir darah. Tidak sedikit pula para korban pembantain yang dimasukin ke dalam sumur-sumur yang telah disiapkan.

Setelah berhasil menguasai Madiun, PKI kemudian bergerak ke pesantren Sabilul Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan pesantren Takeran. Bersamaan dengan kudeta terhadap pemerintah, pendukung PKI mengincar tokoh-tokoh dari pesantren Takeran. Karena pesantren Takeran pada masa pimpinan kiai Imam Mursyid Muttaqien, merupakan pesantren yang paling berwibawa di kawasan Magetan. Jumlah korban pembantaian di Magetan tidak dapat diketahui secara pasti. Namun sumur-sumur tua dan lubang-lubang pembantaian yang dipakai anggota Komunis untuk menghabisi lawan, yang tersebar di berbagai tempat di Magetan, sekaligus menjadi saksi sejarah kebiadaban PKI kala itu.

Pada Ba'da shalat Jumat, pimpinan pesantren Takeran, yaitu Kiai Imam Mursyid, didatangi oleh tokoh-tokoh PKI. Diantara rombongan tersebut, ada salah satu mantan santri pondok pesantren Takeran. Saat didatangi tokoh PKI, pimpinan Takeran dibawa keluar dari mushola kecil untuk berunding mengenai Republik Soviet Indonesia versi PKI. Pada saat itu pesantren sudah dikepung ratusan orang PKI dengan berpakaian hitam serta memakai ikat kepala berwarna merah dan dilengkapi dengan senapan. Satu-persatu tokoh-tokoh pesantren Takeran ditarik oleh PKI. Diawali dengan penangkapan sepupu Kiai Imam Mursyid, yaitu Kiai Muhammad Nur dengan alasan perundingan membutuhkan kehadiran Kiai Muhammad Nur.

Selanjutnya, PKI mengatakan dua tokoh pimpinan pesantren Takeran bisa pulang setelah ustadz Muhammad Tarmuji datang menjemput mereka langsung ke Gorang Gareng, yaitu markas PKI yang terletak 6 KM sebelah barat Takeran. PKI terus menangkap tokoh-tokoh penting pesantren Takeran dan berakhir dengan penangkapan ustadz yang berasal dari Al Azhar, Mesir, yang bernama Hadi Adaba'.

Namun semua hanyalah strategi licik PKI yang tidak suka dengan tokoh-tokoh agama Islam. Tokoh yang ditangkap tidak pernah kembali dan sebagian besar sudah ditemukan menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian PKI yang tersebar di daerah Magetan. Namun anehnya, tokoh penting pesantren Takeran yaitu Kiai Imam Mursyid, tidak ditemukan mayatnya. Bahkan hingga tahun 1990 mayat beliau tidak kunjung ditemukan.

Pada Hari Sabtu pagi tanggal 18 September 1948, ulama dan kiai pesantren Burikin ikut di serbu dan diseret sejauh 500 meter dari pesantren Burikin ke desa Batokan. Kemudian mereka beralih ke sumur tua Cigrok, salah satu tempat pembantaian kebiadaban PKI. Sumur tua Cigrok terletak di desa Cigrok bagian selatan Takeran. lebih spesifiknya terletak di belakang rumah seorang orang warga yang non PKI. Cigrok hanyalah salah satu dari banyaknya tempat yang menjadi sumur pembantaian kiai dan santri di daerah Magetan.

Pada malam terjadinya kejadian menyedihkan itu, terdengar suara bentakan yang diiringi jeritan histeris. Muslim, seorang santri yang tinggal dekat sumur tua itu menyaksikan kekejaman PKI. Saat malam semakin larut, Para anggota PKI berkumpul di dekat sumur Cigrok. Suara lantang pasukan PKI membentak para tawanan. Muslim yang terbangun karena kegaduhan tersebut, mengintip dari bilik bambu rumahnya.

Berbeda dengan biasanya, pembantaian di sumur Cigrok tidak menggunakan, arit ataupun senjata api (klewang). Saat itu para anggota PKI menggunakan pentungan sebagai senjata untuk menyiksa para tawanan. Kiai Imam Sofyan berulang kali dipukul oleh anggota PKI, ia dijebloskan ke sumur dan dilempari dengan benda keras dari atas sumur. Sambil menahan rasa sakit, Kiai Imam Sofyan mengumandangkan azan dari dalam sumur Cigrok. Pada saat itulah Muslim mendengar suara Adzan yang menurutnya adalah suara Kiai Imam Sofyan dari pesantren Kebonsari. Rasa sakit begitu menyiksanya, namun nyawa seakan belum ingin berpisah dari raga. Setelah selesai mengumandangkan azan, Kiai Imam Sofyan akhirnya terjatuh di atas tumpukan mayat lain di sumur itu.

Kekejaman PKI yang seakan tak bertuhan, mereka kemudian menimbun dengan jerami, tanah dan bebatuan. Mereka dikubur hidup-hidup di sumur itu, korban di sumur Cigrok sedikitnya berjumlah 22 orang. Di tempat yang berbeda dari sumur Cigrok, kedua putra Imam Sofyan ternyata juga ikut ditangkap. Mereka adalah kiai Zubair dan Kiai Bawani, mereka juga menjadi korban pembantaian anggota PKI.

Korban selain Kiai Imam Sofyan di sumur cigrok adalah Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari PSM  Takeran. Imam Faham adalah santri Kiai Imam Mursyid-Takeran yang ikut mengiringi gurunya ketika dibawa mobil PKI. Rupanya di tengah jalan Kiai dan santrinya itu dipisah. Imam diturunkan di tengah jalan dan akhirnya ditemukan di dalam lubang pembantaian Cigrok.

Kejadian itu juga disaksikan Ahmad Idris, tokoh Masyumi di desa Cigrok yang menyaksikan penjagalan PKI dari kejauhan. Idris mengatakan, “tawanan saat itu dengan kondisi tangan terikat dihadapkan ke arah timur sumur dan kemudian dihantamkan dengan pentungan di bagian belakang kepala yang kemudian dimasukkan ke lubang Cigrok.”

Para tawanan menjerit kesakitan sebelum akhirnya jatuh ke dalam sumur Cigrok karena dipukul dengan pentungan. Banyak dari mereka yang langsung tewas setelah dipukul menggunakan pentungan, namun adapula yang masih hidup dan berusaha keluar dari sumur itu. Dengan susah payah mereka merangkak, tangan mereka berusaha menggapai sisi sumur, tetapi apalah daya ketika tenaga telah habis. Walau mereka mengeluh kesakitan, rasa kemanusiaan anggota PKI telah hilang. Mereka melakukan perbuatan keji layaknya mereka menyiksa binatang, sebelum akhirnya mengubur para tahanan hidup-hidup.

Itulah kekejaman anggota PKI yang terjadi di Sumur Cigrok, Takeran, Jawa Timur. Di desa Cigrok kemudian dibangun Monumen untuk mengabadikan kejadian pilu yang terjadi pada kiai dan para santri. Tak hanya para kiai dan santri, camat Takeran saat itu juga menjadi korban kekejaman PKI. Para Anggota PKI membunuh siapa saja yang menentang ideologi mereka, karena mereka menganggap kelompok lain sebagai musuh tegaknya ideologi komunis. Peristiwa pembantaian oleh orang-orang PKI bahkan meninggalkan trauma bagi orang-orang yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Sumber referensi :   datariau.com

hidayatullah.com

suaraislam.id

PONDOK BOBROK, LANGGAR BUBAR, SANTRI MATI!!! YEL-YEL PKI SEBELUM GENJER-GENJER

 


Lagu Genjer-genjer seakan menjadi Mars pemberontakkan PKI pada tahun 1965. Akibatnya, pencipta lagu genjer-genjer ditangkap oleh CPM (Korps Polisi Militer) karena dinilai sebagai anggota PKI. Pada pemberontakan 1965, PKI menargetkan para petinggi angkatan darat yang berseberangan dengan agenda PKI, karena angkatan darat adalah pasukan yang menghentikan pemberontakan pada tahun 1948. Maka dari itu, genjer-genjer diplesetkan menjadi jendral-jendral. Sebelum lagu genjer-genjer menjadi identik dengan lagu PKI, terdapat yel-yel yang lebih dulu diteriakkan dari pada lagu genjer-genjer. Pada pemberontakkan PKI tahun 1948, yel-yel yang paling terkenal adalah “Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati.” Yel-yel inilah yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun pada tahun 1948. Sebuah rima yang menggambarkan bahwa para kaum muslim adalah target utama mereka.

Saat Pemberontakan PKI pada tahun 1927 gagal, Muso harus kabur ke Moskow untuk menghindari penangkapan. Disaat itulah Muso bertemu dan belajar ideologi komunis kepada Stallin yang masih menggunakan ideologi Karl Marx. Karl Marx menganggap agama adalah candu bagi masyarakat, dan mengatakan menghujat agama adalah syarat utama dari semua hujatan.

Karl Marx juga pernah mengatakan "Bila waktu tiba kita tidak akan menutup-nutupi terorisme kita. Kami tidak punya belas kasihan dan kami tidak meminta dari siapapun rasa belas kasihan. Bila waktunya tiba kami tidak mencari-cari alasan untuk melaksanakan teror cuma ada satu cara untuk memperpendek rasa ngeri mati musuh-musuh itu dan cara itu adalah teror revolusioner." Dari sini kita dapat melihat bahwa ideologi komunisme melakukan berbagai macam cara agar dapat menjadi kasta tertinggi dalam sebuah negara.

Saat berdirinya negara komunis di Uni Soviet oleh Lenin, begitu banyaknya korban berjatuhan. Bahkan Lenin mengatakan "Saya suka mendengarkan musik yang merdu tetapi di tengah-tengah revolusi sekarang ini yang perlu adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan berjalan dalam lautan darah dan tidak jadi soal bila 3/4 penduduk dunia habis asal yang tinggal 1/4 itu Komunis. Untuk melaksanakan Komunisme kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang."

Ideologi inilah yang dipelajari oleh Muso selama berada di Uni Soviet. Setelah situasi cukup tenang di Indonesia, Muso kembali ke Indonesia dengan membawa ajaran Karl Marx yang menganggap agama adalah musuh utama. Ajaran Karl Marx dibawa mentah-mentah kemudian ditanamkan kepada anggota-anggota komunis di Indonesia. Sejak 18 September 1948, Muso mulai memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. mereka melakukan pemberontakan dan pembantaian disekitar Madiun.

Melalui yel-yel itu, penyerangan sadis PKI dilakukan dengan merusak bangunan pondok pesantren, membubarkan langgar dan membantai para kiai dan santri yang mereka temui. Lebih parahnya, sebelum yel-yel itu dikumandangkan di berbadai desa, kota, jalan dan gang-gang. Para anggota PKI seperti sudah menyiapkan lubang-lubang untuk membantai para kiai dan santri. Di berbagai lubang itulah, para kiai dan santri disembelih secara masal bahkan dikubur hidup-hidup. Akibatnya, banyak tempat-tempat yang menjadi saksi bisu kekejaman anggota PKI terutama di daerah Magetan.

Pemberontakan dimulai dari Madiun, kemudian merembet ke Magetan, Ponorogo, dan Pacitan. Mereka banyak membantai dan menghabisi Kiai dan Santri di sekitar Magetan. Sekitar 168 orang tewas dan ada yang dikubur hidup-hidup. PKI Kemudian mulai melakukan terror ke Ponorogo Dengan sasaran utamanya Pondok Modern Darussalam Gontor. KH. Imam Zarkasyi (Pak Zar) dan KH Ahmad Sahal (Pak Sahal) dibantu kakak tertua beliau berdua, KH Rahmat Soekarto (yang saat itu menjabat sebagai Lurah desa Gontor), pun berdiskusi bagaimana menyelamatkan para santri dan Pondok.

“Wis Pak Sahal, penjenengan ae sing Budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni Kyai Gontor yo panjengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dikenali PKI aku iki. (Sudah Pak Sahal, Anda saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya Anda. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini,” kata Pak Zar.

Pak Sahal pun menjawab: “Ora, dudu aku sing kudu ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Zar, njajal awak mendahno lek mati“. (Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Zar, mencoba badan, walau sampai mati”.

Akhirnya, diputuskanlah bahwa beliau berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren di berikan kepada KH Rahmat Soekarto. Kemudian Berangkatlah rombongan pondok Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal di Trenggalek. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Pak Sahal pun berujar,“Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu saknyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”.

Sehari setelah santri-santri mengungsi, para PKI akhirnya sampai ke pondok. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pondok Gontor. Para anggota PKI mulai menyerang pondok dengan menembakkan senjata. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang di dalam pondok. Karena tidak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok Gontor sudah dijadikan markas tentara.

mereka akhirnya menyerbu ke dalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu diperkirakan sekitar 400 orang. Dengan mengendarai kuda pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka.

Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat. mereka nekat masuk ke tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Suruh menghadapi PKI sini…).

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri yang terbuat dari gedeg bambu dirusak. Buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sarana peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an juga mereka injak dan bakar.

Karena tidak menemukan seorangpun kiai dan santri, PKI pun kembali kerumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk ke rumah untuk membunuh KH. Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini). Namun sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, (putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari). Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu. Para anggota PKI membiarkan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam keadaan porak poranda.

Itulah yel-yel yang digaungkan oleh anggota PKI pada tahun 1948. Kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh PKI bukanlah hanya isu semata. Semua itu fakta sejarah yang pernah terjadi di indonesia. Mereka banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin, pejuang, dan tokoh-tokoh yang bertentangan dengan ideologi mereka. Sejarah penuh kebencian yang diteriakkan PKI sungguh sangat menyedihkan. Bahkan Pondok Modern Gontor pernah menjadi target sasaran mereka.  Beruntung, mereka telah mengungsi terlebih dahulu sehingga tidak menjadi korban pembantaian oleh orang-orang PKI di tempat itu.


Sumber referensi :   es.unida.gontor.ac.id

kanalsembilan.net

sejarahone.id

Rabu, 07 September 2022

PERANG MEDIA SEBELUM PERISTIWA BERDARAH 30 SEPTEMBER 1965

 


Media massa merupakan salah satu cara untuk menyampaikan informasi. Sebelum terjadinya pemberontakkan yang dilakukan oleh orang-orang PKI, mereka terlebih dahulu menguasai media massa seperti koran dan surat kabar. Perbedaan pandangan pun sering terjadi, terutama pada saat itu ketika ideologi komunis berusaha untuk menguasai negara. Surat Kabar merupakan media massa yang populer kala itu, surat kabar merupakan salah satu informasi yang yang paling mudah didapatkan oleh rakyat-rakyat di Indonesia.

Pemerintah saat itu menetapkan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi oleh pers. Antara lain, peraturan Peperti No.1/1961 yang menetapkan percetakan-percetakan pers sebagai alat untuk menyebarluaskan Manipol dan Dekrit Presiden No.6/1963, dikeluarkan setelah hukum darurat pers dicabut, yang menekankan tugas pers untuk mendukung Demokrasi Terpimpin. Berdasarkan dekrit itu, penerbit pers harus memperoleh izin terbit dari pemerintah.

Karena diwajibkan meminta izin terbit, koran Masyumi Abadi menghentikan penerbitannya. Karena sebelumnya partai Masyumi dan PSI, telah dilarang oleh pemerintah. Harian Pedoman dan Nusantara, yang memenuhi kewajiban memperoleh izin terbit itu, tidak lama kemudian juga ditutup oleh pemerintah. Setelah itu, menyusul penerbitan Pos Indonesia, Star Weekly dan sejumlah lainnya.

PKI dan organisasi-organisasi penyokongnya meningkatkan “ofensif revolusioner” mereka sejak berlakunya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Meluasnya gerakan propaganda dan agitasi serta aksi-aksi sepihak mereka, terlihat dalam tindakan-tindakan pihak keamanan terhadap kelompok tersebut. Pada tahun 1960, dari 22 surat kabar yang diberangus pemerintah, terompet PKI Harian Rakjat termasuk paling sering dilarang terbit.

Pihak PKI menggunakan berbagai isu dalam melancarkan aksi-aksi mereka, termasuk menyerang pemerintah dengan berbagai alasan pada setiap kesempatan. Pada akhir 1960, sejumlah gembong mereka di Jakarta diperiksa oleh aparat militer. Sementara di beberapa daerah seperti Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan, panglima militer setempat melarang semua kegiatan PKI dan menahan sejumlah pemimpin partai PKI.

Selain melancarkan sejumlah aksi massa  di kota-kota, PKI juga melancarkan “ofensif revolusioner” di desa-desa, dikenal dengan istilah aksi-sepihak. Dengan dalih memerangi “tujuh setan desa”, anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi massa dalam kubu PKI, menggelar aksi-aksi sepihak di sejumlah tempat di Jawa, Bali dan Sumatera. Ketika aksi-aksi tersebut mendapat perlawanan rakyat dan ABRI, bentrokan fisik pun terjadi dan menelan korban jiwa.

Dukungan PKI terhadap politik radikal Sukarno, yang memperoleh gelar baru “pemimpin besar revolusi”, membuatnya semakin dekat dengan presiden. Kampanye menentang Belanda di Irian Barat dan ketegangan yang meruncing dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara-negara Barat, disusul pencanangan politik konfrontasi terhadap Federasi Malaysia oleh presiden, telah dimanfaatkan secara optimal oleh pihak PKI guna meningkatkan pengaruhnya.

Mereka melancarkan aksi-aksi anti-Amerika, seperti demonstrasi menolak Peace Corps dan film-film Hollywood. Organ-organ partai PKI dan pendukungnya, seperti Harian Rakjat, Bintang Timur,Warta Bhakti, Terompet Masjarakat, Harian Harapan, Gotong Rojong, dan koran-koran sekutu mereka di sejumlah kota lainnya, diarahkan untuk mempertajam pertentangan-pertentangan di dalam negeri.

Dengan sendirinya, ofensif PKI tersebut memancing perlawanan dari kelompok pers anti-PKI. Konflik-konflik yang berkembang berkisar pada pro-kontra Manifes Kebudayaan yang diumumkan oleh sejumlah sastrawan dan seniman, aksi boikot terhadap film-film Hollywood, dan pro-kontra penyederhanaan partai yang diusulkan oleh presiden. Manifesto Kebudayaan ini diprakarsai oleh beberapa seniman, seperti Wiratmo Soekito, HB Jassin, dan lain-lain yang pemikirannya tidak sejalan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Namun Manifes Kebudayaan kemudian dilarang Presiden Sukarno pada tanggal 8 Mei 1964 karena dianggap menandingi Manifesto Politik dan melemahkan revolusi. Sebelum dilarang, organisasi kebudayaan PKI, seperti Lekra, organisasi sejenis dalam kubu PNI, dan Lembaga Kebudayaan Nasional, menentang manifesto kebudayaan secara gigih.

Pertentangan berikutnya menyangkut Panitia Aksi Boikot Film Amerika (PABFIAS), badan yang dibentuk oleh Front Nasional tetapi praktis ditunggangi oleh PKI. Aksi-aksi PABFIAS mempertajam konflik antara kelompok koran-koran PKI dan pers anti-PKI. Kasus PABFIAS memicu polemik khusus pula antara harian-harian Duta Masjarakat, Sinar Harapan, Merdeka dan lain-lain di satu pihak, melawan Harian Rakjat, Bintang Timur, Suluh Indonesia, Warta Bhakti dan sebagainya di lain pihak. Sementara itu, terjadi pula polemik antara Berita Indonesia dan Merdeka kontra Harian Rakjat dan media PKI lainnya mengenai pro-kontra penyederhanaan partai.

Golongan PKI telah berhasil menguasai PWI, SPS dan kantor berita Antara setelah pemerintah menutup sejumlah koran anti-PKI yang bergabung dalam gerakan Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS). Kubu PKI memperbesar kekuatannya dengan menerbitkan koran-koran baru. Situasi yang makin mencemaskan mendorong wartawan-wartawan senior seperti Adam Malik, B.M. Diah, Sumantoro, dengan dibantu wartawan-wartawan muda Jakarta seperti Asnawi Idris, Harmoko dan lain-lain, untuk mendirikan BPS di lingkungan pers, radio dan televisi sebagai wadah perlawanan terhadap ofensif PKI di bidang media massa.

BPS kemudian dibentuk di Jakarta pada 1 September 1964  dengan Adam Malik sebagai ketua, Diah sebagai wakil ketua dan Sumantoro sebagai ketua harian. Waktu itu Malik adalah menteri dalam kabinet Sukarno, sementara Diah menjabat duta besar RI di Thailand. Terdapat pula beberapa anggota Pengurus BPS lainnya di Jakarta termasuk Sayuti Melik.

Pendukung BPS juga berasal dari luar Jakarta seperti banyak surat kabar yang terbit di Medan. Pengurus BPS Medan kala itu adalah Tribuana Said sebagai ketua, Arif Lubis, Arshad Yahya, dan lain-lain. BPS juga mendapat dukungan dari wartawan-wartawan anti-PKI  di Semarang, Surabaya, Yogyakarta dan Bandung.

Lawan-lawan BPS adalah koran-koran PKI, PNI dan pendukungnya seperti Harian Rakjat, Bintang Timur, Suluh Indonesia, Warta Bhakti, Ekonomi Nasional di Jakarta, Terompet Masjarakat dan Djawa Timur di Surabaya, Harian Harapan, Gotong Rojong dan Bendera Revolusi di Medan. Koran-koran BPS memperoleh dukungan luas dari sejumlah organisasi politik dan masyarakat, tetapi pada 17 Desember 1964 Presiden Sukarno membubarkan BPS di seluruh Indonesia. Keputusan itu kemudian disambut gembira oleh kubu PKI.

Dengan cepat PWI yang telah mereka kuasai memecat semua wartawan BPS anggota PWI. Menyusul tindakan pemecatan massal itu, pada tanggal 23 Februari 1965  pemerintah memutuskan pembredelan seluruh pers BPS. Salah satu harian yang dicabut izin terbitnya adalah Berita Indonesia. Pada 9 Februari, harian ini telah dialihkan menjadi Berita Yudha dengan Brigjen Ibnu subroto sebaga pemimpin umum dan Brigjen Nawawi Alif sebagai pemimpin redaksi. Setelah presiden memberangus koran-koran BPS, ABRI menerbitkan satu harian baru bernama Angkatan Bersenjata di bawah pimpinan Brigjen R.H. Sugandhi dan Letkol Yusuf Sirath.

Pada 25 Maret 1965, lebih satu bulan setelah pembredelan pers BPS, pemerintah melalui Departemen Penerangan mengeluarkan peraturan baru lagi yang mewajibkan semua surat kabar harus berafiliasi kepada partai politik atau organisasi massa. Gambaran pers pada masa Demokrasi menjadi beberapa surat kabar, seperti Suluh Indonesia (harian PNI) yang mempunyai delapan afiliasi di beberapa kota, Duta Masjarakat (NU) dengan tujuh afiliasi, Harian Rakjat (PKI) dengan 14 afiliasi, Api Pantjasila (IPKI) dengan tiga afiliasi, Sinar Bhakti (Partai Katolik) dengan empat afiliasi, dan Fadjar Baru (Perti) dengan satu afiliasi.

Parkindo saat itu tidak memiliki harian resmi tetapi dua surat kabar berafiliasi padanya. Muhammadiyah juga menerbitkan surat kabar harian bernama Mertjusuar. Di Jakarta waktu itu juga terbit surat kabar harian seperti Bintang Timur, Kompas dan Sinar Harapan. Pada pertengahan tahun 1965, dengan dukungan  pemerintah Republik Rakyat Cina waktu itu, PKI makin meningkatkan kampanyenya untuk menuntut Nasakomisasi ABRI dan untuk menciptakan “Angkatan ke-5”.

Sementara itu, pada bulan Agustus terjadi perpecahan besar dalam tubuh PNI antara kubu Ali Sastroamidjojo-Surachman dengan kubu Hardi-Hadisubeno. Pada 27 September 1965, Panglimana Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani mengeluarkan pernyataan menolak Nasakomisasi ABRI dan menentang pembentukan “Angkatan Ke-5”. Pada tanggal 30 September, PKI melancarkan pemberontakan bersenjata dengan apa yang dinamakan Gerakan 30 September (G30S) dan dikemudikan dewan yang diketuai Letnan Kolonel Untung, seorang komandan pasukan pengawal presiden. Peristiwa G30S membunuh Ahmad Yani dan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat.

Situasi politik nasional sejak Oktober 1965 berbalik dengan dilancarkannya operasi penumpasan G30S/PKI. PKI dan seluruh organisasi pendukungnya dibubarkan dan dilarang. Pers PKI dan sekutunya ditutup, antara lain Harian Rakyat, Bintang Timur, Warta Bhakti, Kebudayaan Baru, Ekonomi Nasional, Warta Bandung, Djalan Rakyat, Trompet Masjarakat, Djawa Timur, Harian Harapan, Gotong Rojong dan sebagainya. Koran-koran organ partai PNI yang ditutup antara lain Suluh Indonesia, Berita Minggu, Bendera Revolusi, Patriot. Seluruhnya tercatat sebanyak 46 koran yang dilarang terbit. PWI dan SPS dibersihkan dari unsur-unsur PKI dan sekutunya.

Pada 2 Oktober 1965, Harian Rakjat sempat terbit kembali dengan menurunkan kepala berita "Letkol Untung Bataljon Tjakrabirawa Menjelamatkan Presiden dan RI dari kup Dewan Djendral", yang kelak menjadi edisi terakhirnya. Tidak hanya bubar, semua anggota partai dan aktivis yang mendukung Harian Rakyat diburu, ditangkap, dipenjarakan ataupun dibunuh.

Itulah sekelumit pembahasan tentang media massa yang terjadi sebelum PKI melakukan pemberontakkan pada tahun 1965. Mereka mula-mula menguasai banyak media untuk menaikkan pamor PKI. Saat itu, Harian Rakjat yang merupakan media massa milik PKI menjadi koran politik terbesar di Indonesia pada kurun waktu 1950-1965. Walau beberapa kali dibredel, Harian Rakjat yang beberapakali dibredel tetap muncul untuk memberitakan CC PKI. Harian Rakjat benar-benar ditutup setelah Soeharto melakukan pembersihan kepada orang-orang yang berideologi Komunis.

Sumber Referensi :

id.wikipedia.org, 

pwi.or.id

HASIL AUTOPSI JENAZAH JENDERAL KORBAN PERISTIWA G30S/PKI

 


Penculikan 6 jenderal dan 1 perwira adalah awal dari pemberontakkan yang dilakukan oleh orang-orang PKI. Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, Komandan Satuan Tugas (Satgas) Pasopati, Letnan (Inf) Doel Arif membentuk tujuh pasukan dari Satgas Pasopati di Lubang Buaya untuk menculik ketujuh jenderal. Sasaran mereka adalah Jenderal A.H Nasution, Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Harjono, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomihardjo dan Brigadir Jenderal Donald Ishak Pandjaitan.

Dari ketujuh target penangkapan tersebut, Jendral A.H Nasution berhasil melarikan diri dan digantikan oleh ajudannya yaitu kapten Pierre Tendean yang mengaku sebagai Jendral A.H. Nasution. Keenam Jendral yang menjadi korban G30S PKI antara lain Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.

Enam jendral dan satu perwira ini tewas di lubang buaya dan dinobatkan sebagai pahlawan revolusi. "Sebelum dibunuh, mereka penyiksaan terhadap para jenderal dan ajudan Nasution yang masih hidup dimulai. "mereka Dipukul, dipopor pakai ujung senjata. Hasil visum menunjukkan ada retak di tulang kepala, tangan dan kaki patah, karena mereka ditendang pakai sepatu lars yang keras,". Mereka semua Mayjen S. Parman, Mayjen R Suprapto, Brigjen Sutoyo, Lettu Pierre Andreas Tandean akhirnya tewas dibunuh. Dalam kondisi antara hidup dan mati, ujar Yutharyani, tubuh para jenderal itu lantas digeret dan dimasukkan ke sebuah sumur di Lubang Buaya.

"Setelah tubuh mereka masuk semua, untuk meyakinkan mayat meninggal, mereka langsung ditembak lagi. Lalu jasad ditutup dengan sampah pohon karet, dan ditutup tanah serta ditanah pohon pisang utuh di atasnya seakan-akan di bawah itu tak ada mayat."

Setelah Soeharto dapat mengendalikan keadaan, Beberapa pasukan pun diperintahkan Soeharto untuk melakukan penyisiran ke Lubang Buaya. Letnan Satu Feisal Tanjung dan Letnan Dua Sintong Panjaitan, yang sedang berada di sekitar tempat itu bersama pasukannya, diperintahkan bergerak ke Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965. Sebelumnya, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) mendapat kabar di situlah posisi para jenderal yang terculik.

Informasi ini berdasarkan pengakuan Agen Polisi II Soekitman yang ikut terculik tapi kemudian kabur. Kawasan itu pun disisir anak buah Sintong bersama anak buah komandan peleton yang lain. Mereka lalu dapat informasi dari salah satu warga setempat tentang adanya sumur-sumur yang sudah ditimbun. Salah satu bekas sumur dicoba digali, tapi ternyata bukandisana tempatnya. Kemudian mereka melihat satu bekas sumur yang sudah ditanami pohon. Bekas sumur itu pun digali. Setelah anak buah Sintong menggali, tampak daun-daun segar, batang pisang, dan potongan kain.

Menurut catatan Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009), kain-kain itu adalah baju yang digunakan Batalyon 454/Banteng Raider. Penggalian lalu dilakukan. Melihat itu, penduduk pun menawarkan diri untuk ikut bantu menggali. Pada kedalaman 8 meter, terciumlah bau busuk dan penduduk yang menggali meminta naik karena tidak tahan dan mengganggu pernapasan. Setelahnya, salah seorang anak buah Sintong ikut turun dan melihat kaki manusia yang mencuat ke atas. Yakinlah pasukan elite itu bahwa di situlah jenazah para jenderal terculik berada (hlm. 130-131).

Pada tanggal 4 oktober, pengangkatan jenazah mulai dilakukan. Kopral Anang masuk lebih dulu pada pukul 12.05 dengan masker oksigen. Satu jenazah berhasil diikat. Setelah ditarik, ternyata Letnan Satu Pierre Tendean, ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Pukul 12.15, Sersan Mayor (KKO) Saparimin turun masuk. Satu jenazah diikatnya, tapi sulit ditarik karena terjepit jenazah lainnya. Prajurit Komando I (KKO) Subektu pun turun. Dia mengikat jenazah satu lagi. Dua jenazah pun terangkat.

Mereka adalah Mayor Jenderal Suwondo Parman dan Mayor Jenderal Suprapto. Pukul 12.55, Kopral (KKO) Hartono turun. Dia mengikat secara terpisah dua jenazah. Setelah ditarik, ternyata dua jenazah itu adalah Mayor Jenderal M.T. Haryono dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo. Pukul 13.30, Sersan Mayor Suparimin turun lagi. Jenazah diikatnya. Setelah ditarik, ternyata Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Setelah menemukan 5 perwira tinggi dari 6 yang hilang, para penyelam kelelahan. Bahkan ada anggota yang keracunan. Kapten Winanto pun turun tangan. Tak hanya dengan alat selam, tapi juga alat penerang dengan tenaga dari generator. Sampai di dalam, Winanto menemukan satu jenazah lagi. Itulah jenazah Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan. Maka semua jenderal pun terangkat.

Mulai sore tanggal 4 Oktober itu, menurut Omar Dani dalam memoarnya, Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani (2001), “TVRI sangatlah sibuk menyiarkan berita tentang penggalian jenazah para jenderal dari sumur tua yang oleh media massa dinamakan Lubang Buaya itu” (hlm. 93). Kisah pengangkatan jenazah tersebut dibumbui dengan dramatis dan ditambahi cerita fantastis soal penyiksaan.

Inilah yang menciptakan kebencian banyak pihak kepada mereka yang terlibat G30S, terutama kepada para anggota dan simpatisan PKI. Cerita pun menyebar bahwa jenazah itu disilet-silet dan disiksa secara keji. Narasi soal jenazah yang disilet-silet, dicongkel mata, dan dipotong penis adalah versi yang banyak dipercaya di zaman Orde Baru.

Jenazah-jenazah itu lalu dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Di situlah, sebuah tim telah ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan dan autopsi. Anggota tim tersebut adalah Brigadir Jenderal dr. Roebiono Kertopati, Kolonel Frans Pattiasina, Prof. dr. Soetomo Tjokronegoro, dr. Liaw Yan Siang, dan dr. Lim Joe Thay. Instruksi tersebut keluar dengan surat perintah nomor PRIN-03/10/1965. Berikut ini adalah hasil autopsi ketujuh perwira militer Angkatan Darat yang  himpun dalam beberapa sumber sejarah.

1.     Jenderal Achmad Yani

Luka Tembak masuk: 2 di dada kiri, 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di garis pertengahan perut, 1 di perut bagian kiri bawah, 1 perut kanan bawah, 1 di paha kiri depan, 1 di punggung kiri, 1 di pinggul garis pertengahan. Luka tembak keluar: 1 di dada kanan bawah, 1 di lengan kanan atas, 1 di punggung kiri sebelah dalam. Kondisi lain: sebelah kanan bawah garis pertengahan perut ditemukan kancing dan peluru sepanjang 13 mm, pada punggung kanan iga ke delapan teraba anak peluru di bawah kulit.

2.     Letjen R. Soeprapto

Luka tembak masuk: 1 di punggung pada ruas tulang punggung keempat, 3 di pinggul kanan (bokong), 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan, 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan, 1 di pertengahan paha kanan. Luka tembak luar: 1 di pantat kanan, 1 di paha kanan belakang. Luka tidak teratur: 1 di kepala kanan di atas telinga, 1 di pelipis kanan, 1 di dahi kiri, 1 di bawah cuping kiri. Kondisi lain: tulang hidung patah, tulang pipi kiri lecet.

3.     Mayjen M.T Haryono

Luka tidak teratur: 1 tusukan di perut, 1 di punggung tangan kiri, 1 di pergelangan tangan kiri, 1 di punggung kiri (tembus dari depan).

4.     Mayjen Soetojo Siswomiharjo

Luka tembak masuk: 2 di tungkai kanan bawah, 1 di atas telinga kanan. Luka tembak keluar: 2 di betis kanan, 1 di atas telinga kanan. Luka tidak teratur: 1 di dahi kiri, 1 di pelipis kiri, 1 di tulang ubun-ubun kiri,  di dahi kiri tengkorak remuk. Penganiayaan benda tumpul: di empat jari kanan. Mayjen Soetojo bisa jadi banyak dianiaya sehingga tengkorak dahinya remuk.

5.     Letjen S. Parman

Luka tembak masuk: 1 di dahi kanan, 1 di tepi lekuk mata kanan, 1 di kelopak atas mata kiri, 1 di pantat kiri, 1 paha kanan depan. Luka tembak keluar: 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di perut kiri, 1 di paha kanan belakang. Luka tidak teratur: 2 di belakang daun telinga kiri, 1 di kepala belakang, 1 di tungkai kiri bawah bagian luar, 1 di tulang kering kiri. Kekerasan benda tumpul: tulang rahang atas dan bawah.

6.     Letjen D.I Panjaitan

Luka tembak masuk: 1 di alis kanan, 1 di kepala atas kanan, 1 di kepala kanan belakang, 1 di kepala belakang kiri. Luka tembak keluar: 1 di pangkal telinga kiri. Kondisi lain: punggung tangan kiri terdapat luka iris. Luka iris ini tentu menyeramkan. Tetapi, tidak dijelaskan apa luka itu diiris menggunakan silet atau senjata tajam lainnya.

7.     Kapten Anumerta Pierre Tendean

Luka tembak masuk: 1 di leher belakang sebelah kiri, 2 di punggung kanan, 1 di pinggul kanan. Luka tembak keluar: 2 di dada kanan. Luka tidak teratur: 1 di kepala kanan, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di puncak kepala. Kondisi lain: lecet di dahi dan pangkal dua jari tangan kiri. 

Itulah proses pengangkatan dan hasil autopsi para jendral yang menjadi korban penculikan oleh anggota PKI. Pada zaman orde baru cerita penganiayaan yang populer adalah pencungkilan mata dan kemaluan para korban diiris-iris menggunakan silet, lalu dipermainkan oleh para pelaku yang kebanyakan perempuan. Namun Berdasarkan hasil autopsi, tidak ditemukan pencungkilan mata atau penyayatan alat kelamin yang kabarnya pernah beredar di Indonesia dan semakin menyulut kemarahan orang-orang di daerah-daerah. Kerusakan pada tubuh sejumlah jenderal terjadi karena jenazah mereka terbaring selama sekian lama di dasar sumur yang lembab. Menurut dokter forensik, inilah yang menyebabkan kondisi mata salah satu korban sangat buruk. Setelah diperiksa, para jenazah itu kemudian disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat. Lalu diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1965.

Sumber Referensi :

batam.tribunnews.com, 

beritafakta.id, 

intisari.grid.id, 

kompas.com, 

liputan6.com, 

tirto.id