Rabu, 22 September 2021

TIPU MUSLIHAT PKI MEMBANTAI 62 PEMUDA ANSOR DAN BANSER NU PADA TAHUN 1965!!!

      

        Sebagian rakyat ada yang tidak tahu bahwa memang PKI melakukan kekejaman terlebih dahulu sebelum mereka mendapatkan balasan, terutama para generasi muda yang tidak mendapat pendidikan sejarah seperti generasi sebelum reformasi, bahkan sekarang ada yang berkampanye mereka adalah korban yang dihabisi pasca peristiwa 30 September 1965.  Dalam buku-buku yang terbit dan ditulis ada yang menceritakan kekejaman PKI, ada juga yang menceritakan anggota PKI atau simpatisan PKI yang menjadi korban, seperti buku "Palu Arit di Ladang Tebu : Sejarah pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966" Karya Hermawan Sulistyo. 
        Berapa perkiraan jumlah korbannya dibahas disana dengan berbagai versi dan angka yang berbeda-beda. Karena banyaknya korban yang berjatuhan, sekarang ada kelompok yang mendesak pemerintah meminta maaf terhadap PKI. Akan tetapi buku tersebut justru menjawab penyebab banyaknya korban yang berjatuhan, penyebabnya adalah akibat konflik horizontal yang terjadi di masyarakat saat itu. Karena kekerasan tersebut merupakan konflik horizontal maka menurut Bapak Hermawan Sulistyo pemerintah tidak boleh meminta maaf kepada PKI. Konflik yang siap meletus setiap saat akibat perilaku PKI yang sudah keterlaluan, sejak tahun 1926 sampai tahun 1968 yang tercatat dalam sejarah membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga Pulau Bali, terutama umat Islam khususnya NU dan Kesultanan-Kesultanan yang ada di Indonesia, karena memang PKI sangat anti dengan kaum feodal dalam hal ini keluarga kerajaan dan bangsawan. 
        Mengapa sampai rakyat bergerak membasmi PKI? jawabannya ada dalam buku "Banjir Darah : Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri dan Kaum Muslimin" Karya Anab Afifi & Thowaf Zuharon, dalam buku tersebut diceritakan kekejam-kekejaman PKI yang tercatat dan dikisahkan kembali. Karena kekejaman dan aksi-aksi sepihak mereka yang terjadi sejak lama, maka kaum Muslimin khususnya NU yang secara langsung bersinggungan secara fisik akhirnya marah dan meledak setelah mendengar kabar Pembunuhan Jenderal pada tanggal 1 Oktober 1965. Suasana saat itu menjadi panas dan sampai pada keadaan membunuh atau dibunuh. 
       Dalam pembahasan kekejaman PKI yang sering dibahas seperti kekejaman PKI madiun tahun 1948, pembunuhan Gubernur Soerjo 1948, Pembunuhan Jenderal TNI AD 1965, Peristiwa Bandar Betsy 1965, dan masih banyak lagi yang lainnya. Peristiwa kelam satu ini mungkin sedikit terlupakan karena berbagai hal, dalam artikel kali ini akan kami kisahkan kembali agar sejarah kekejaman PKI tidak terhapus dan hilang begitu saja.
    Pada Tanggal 18 Oktober 1965 terjadi pembantaian terhadap 62 pemuda Ansor oleh anggota PKI yang mengelabui pemuda Ansor. Para anggota PKI Cluring sengaja menyaru, menyamar dan melakukan dusta keji terhadap pemuda NU. Mereka berpura-pura membuat pengajian yang penuh dendang shalawat dan berbagai tradisi NU lainnya. 
        Kepolosan dan kejujuran pemuda Ansor Desa Muncar membuat mereka tidak menaruh curiga atas undangan tersebut. Para pemuda Ansor di undang untuk menghadiri acara pengajian di rumah Matulus, Kepala Desa Cluring. Padahal Matulus adalah salah satu pimpinan PKI di Cluring.
        Para pemuda rakyat PKI dan Barisan Tani Indoensia (BTI), mengaku sebagai pengurus Ansor Desa Cluring, bahkan mereka memakai seragam Ansor. Sedangkan para Gerwani desa itu, mereka berdandan layaknya anggota Fatayat dengan memakai kerudung.  Saat itu alat komunikasi tidak seeprti sekarang yang bisa langsung kita Whatsaap untuk memvaliadasi apakah mereka benar-benar anggota Ansor atau bukan. Dengan penuh prasangka baik dan positif, puluhan anggota Banser dan Ansor Desa Muncar, malam itu berangkat ke rumah Matulus. Setelah pengajian, mereka dijamu makan dan minum yang cukup enak dan melimpah.
        Setelah menikmati makanan dan minuman yang disediakan, berselang beberapa saat kemudian, puluhan pemuda Ansor yang hadir dalam acara pengajian itu, bertumbangan satu persatu. Mereka kelojotan terguling-guling dilantai memegangi leher, dada dan perut mereka yang seperti hendak meledak.  Beberapa di antaranya ada yang langsung keluar busa dari mulutnya.
        Para pemuda Ansor dan Banser ini ternyata dibuat sekarat oleh para PKI. Ternyata santapan hidangan yang disuguhkan sengaja diberi racun yang ganas untuk membunuh para pemuda Ansor tersebut. Para pemuda Rakyat, BTI dan Gerwani bersorak sorai saat melihat para Ansor dan Banser tersebut sedang sekarat. Lagu Genjer-Genjer pun mereka nyanyikan sambil menari. 
       Para PKI menyeret puluhan tubuh pemuda Ansor dan Banser tersebut beberapa saat kemudian untuk dibawa kerumah Mangun Lehar. Mangun Lehar adalah tokoh BTI yang diagung-agungkan oleh anggota PKI Cemethuk. Dalam perjalanan menuju rumah Mangun ternyata ada ada beberapa anggota Ansor yang tidak terlalu parah terdampak racun dan berhasil melawan lalu melarikan diri.  Mereka lolos dari kelicikan PKI dan berhasil memberitahukan kepada rekan-rekannya di Desa Muncar.


        Puluhan pemuda Ansor dan Banser yang berhasil di seret kerumah Mangun Lehar kemudian dibantai dengan membabi buta menggunakan celurit dan segala senjata yang telah mereka siapkan.  Darah pun tertumpah kelantai berliter-liter dan muncrat kedinding rumah Tokoh BTI tersebut. 62 Pemuda Ansor dan Banser pun gugur, menjadi syuhada akibat kekejaman PKI pada saat itu. Setelah aksi pembantaian selesai, jenazah para pemuda Ansor dan Banser NU tersebut di timbun di dalam tiga lubang yang berbeda. Lubang-lubang tersebut telah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya. Lubang pembantaian tersebut sengaja dibuat untuk menimbun mayat Pemuda Ansor dan Banser yang mereka bantai.
        Lubang pembantaian tersebut terletak di pinggir sungai, lubang pertama berisi sepuluh mayat, lubang kedua juga diisi sepulh mayat dan lobang yang ketiga diisi empat puluh dua mayat pemuda Ansor dan banser NU. Total keseluruhan yang menjadi korban kebiadaban PKI di desa Cluring tersebut berjumlah 62 orang pemuda Ansor dan Banser NU. Tanah yang digunakan untuk menimbun jenazah tersebut juga seadanya, lalu lubang-lubang tersebut diurug dan di tanami pohon bambu.
        Setelah peristiwa keji tersebut, beberapa jam setelahnya, pembalasanpun segera dilakukan oleh para anggota Ansor Desa Muncar, ormas Islam lainnya dan dibantu oleh pemuda Marhaen dari desa lain.  Para ormas pemuda ini ditemani oleh tim penyelidik dari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Tiga lubang pembantaian tersebut dinamai Lubang Buaya sama seperti tempat penyiksaan Jenderal-Jenderal TNI Angkatan darat.
        Tokoh PKI seperti Mangun Lehar, Supardi, Sutoyo serta para anggota BTI dan Gerwani tidak lupa lurah Matulus pun ditangkap, mereka akhirnya dieksekusi mati untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.  Mengikuti nasib para pemimpin terdahulu mereka seperti Musso yang memimpin pemberontakan Madiun 1948, pada saat itu kaum Ulama, santri, pejabat pemerintah, polisi dan tentara yang pro Republik Indonesia mereka bantai dengan kejam. Akhirnya Musso dan mereka yang terlibat juga dieksekusi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. D.N. Aidit dan semua yang terlibat dalam peristiwa G30S/PKI juga sudah menerima hukuman atas apa yang mereka perbuat. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita dapatkan, mereka para PKI sudah menanam kebiadaban, kekejaman, intimidasi, dan lain sebagainya yang bersifat negatif, maka hasilnya juga mereka akan diburu dan dikejar oleh orang-orang yang pernah mereka sakiti.
        Itulah Sedikit pembahasan tentang pembantaian 62 pemuda Ansor dan banser oleh anggota PKI. Semoga kisah sejarah ini bisa menjadi pengingat dan sebagai peringatan bangsa ini di masa depan.

ARGHA SENA
Sumber : 
Palu Arit di Ladang Tebu : Sejarah pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966" Karya Hermawan Sulistyo. 
Banjir Darah : Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri dan Kaum Muslimin" Karya Anab Afifi & Thowaf Zuharon.
https://www.gelora.co/




        

NASIB PASUKAN CAKRABIRAWA PASCA G30S/PKI

        


    Pasukan Cakrabiarwa pasukan pengawal presiden bergerak dengan misi menculik 7 Jenderal TNI Angkatan Darat pada pagi dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Mereka berhasil membunuh 6 Jenderal minus satu Jenderal yang lolos yaitu Jederal A.H. Nasution yang berlindung dimarkas kostrad yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto. Akan tetapi anak Jenderal Nasution yang masih kecil menjadi korban penembakan pada malam jahanam itu dan ajudan nya yaitu Kapten Pierre Tendean gugur karena mengaku kepada pasukan penculik bahwa dirinyalah Jenderal A.H. Nasution. Lalu bagaimanakah nasib Pasukan Cakrabirawa yang menculik dan membunuh putra-putra terbaik bangsa itu? Dalam video kali ini kita akan sajikan kisahnya untuk menjadi pelajaran berharga, bahwa apa yang kita tanam akan kita tuai. Jika kita menanam tebu maka kita akan menikmati manisnya es tebu, tapi jika kita menanam pohon rengas maka akan busuklah kulit kita terkena getah rengas.

        Pagi tanggal 16 Februari 1990 adalah pagi terakhir bagi empat orang mantan pasukan Cakrabirawa. Johannes Surono, Paulus Satar Suryanto, Simon Petrus Solaiman, dan Norbertus Rohayan dijemput dari selnya di Penjara Cipinang hendak dieksekusi. Satu regu tembak telah menunggu. Dalam catatan Amnesty International Report (1991:119), keempat tahanan itu hampir semuanya telah lansia. Ketika diekseskusi, Johannes Surono berusia 60 tahun, Paulus Satar Suryanto 57 tahun, Simon Petrus Solaiman 60 tahun, dan Norbertus Rohayan 49 tahun. Di antara mereka, hanya Rohayan yang mendapat kunjungan dari keluarga. Pamannya menjenguk Rohayan beberapa hari sebelum ia dieksekusi. Inside Indonesia nomor 14 April 1988 menyebut bahwa ia menderita diabetes dan penyakit lainnya.

        Dua dekade lebih mereka ditahan rezim Orde Baru karena terlibat G30S. Saat peluru satu persatu menghabisi hayat, kematian mereka terdengar hingga negeri Belanda seperti diberitakan oleh surat kabar De Volkskrant edisi 19 Februari 1990. Menurut Majalah Tapol nomor 98 April 1990, mereka ditangkap antara tanggal 4 hingga 8 Oktober 1965.

        Rohayan berasal dari Angkatan Udara. Ia ditangkap pada 5 Oktober 1965 dan dijatuhi hukuman mati oleh Mahkalah Militer distrik Bandung pada 8 November 1969. Ia sempat mengajukan banding, namun pada Februari 1987 bandingnya ditolak. Lalu pada 5 Desember 1989 ia mengajukan grasi, dan lagi-lagi ditolak. Pada malam 1 Oktober 1965, Rohayan adalah penembak Mayor Jenderal Raden Soeprapto. Sehari sebelum penangkapan Norbertus Rohayan, Satar Suryanto lebih dulu dicokok. Seperti terdapat dalam Gerakan 30 September dihadapan Mahmillub 2 Di Djakarta Perkara Untung (1966:21), Satar adalah sersan mayor dengan NRP 107453. Ia menjabat sebagai komandan peleton II Kompi C Batalyon II Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang tinggal di Asrama Tanah Abang. 

        Saat menjadi saksi dalam perkara Untung pada 1966, usianya sekitar 34 tahun dan masih beragama Islam. Satar memimpin penculikan Mayor Jenderal Suwondo Parman dan dijatuhi hukuman mati pada 29 April 1971 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Permohonan bandingnya ditolak, dan sebelum dieksekusi ia memakai nama Paulus Satar Suryanto. Sebagaimana kawannya, Johannes Surono pun sempat menjadi saksi dalam perkara Untung. Saat itu usianya 36 tahun dan beragama Islam dengan nama Surono Hadiwijono. Lelaki kelahiran Pucungsawit, Solo itu adalah komandan peleton III kompi C batalyon Untung di Cakrabirawa. Surono memimpin penculikan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo dan ditangkap pada 8 Oktober 1965. Lima tahun kemudian ia dijatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Pengajuan banding dan grasinya ditolak pada tahun 1986 dan 1989. 

        Jika Norbertus Rohayan adalah penembak Mayor Jenderal Raden Soeprapto, maka Simon Petrus Solaiman adalah orang yang diberi tugas oleh Letnan Satu Dul Arif untuk memimpin penculikan petinggi Angkatan Darat tersebut. Menurut sumber pemerintah, Solaiman kelahiran Cepu, Blora, Jawa Tengah, pada 1927. Ia ditangkap pada 5 Oktober 1965 ketika Mayor Jenderal Soeprapto dan perwira Angkatan Darat lainnya dikebumikan di Taman Makam Kalibata. Solaiman dijatuhi hukuman mati pada November 1969 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Seperti ketiga kawannya, banding dan grasi yang ia ajukan semuanya ditolak pemerintahan daripada Soeharto.

        Para Eksekutor dan Pemimpin Penculikan Lainnya Selain keempat orang tersebut, ada juga seorang prajurit bernama Anastasius Buang. Usia penembak Mayor Jenderal Suwondo Parman itu seumuran dengan Rohayan. Pertengahan 1980-an, Buang terancam dihukum mati. Namun ia baru meninggal secara misterius pada September 1989. Jenazah Buang berhasil ditemukan oleh keluarganya. Rohayan dan Buang punya kesalahan yang sama dengan Sersan Dua Gijadi Wignjosuhardjo, mereka sama-sama menjadi eksekutor operasi penculikan. Gijadi yang kelahiran Solo tahun 1928 adalah penembak Letnan Jenderal Ahmad Yani. Ia ditangkap pada 4 Oktober 1965 dan sempat menjadi saksi dalam perkara Untung. 

        Menurut Inside Indonesia nomor 14 April 1988, Gijadi dijatuhi hukuman mati pada 16 April 1968 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Bersama Sersan Mayor Soekardjo yang memimpin penculikan Brigadir Donald Izacus Panjaitan, Gijadi dieksekusi mati pada Oktober 1988. Setelah puluhan tahun menjadi tahanan Orde Baru, para pemimpin penculikan dan penembak dari pasukan Cakrabirawa itu pada akhirnya menyusul dua atasan mereka, Letnan Kolonel Untung dan Letnan Satu Dul Arif, ke alam kubur. 

        Untung adalah Komandan Batalion Kawal Kehormatan II Cakrabirawa, sementara Dul Arif Komandan Kompi C dari batalion yang dipimpin Untung. Sebagai prajurit penjaga presiden, para sersan dan kopral yang memimpin penculikan dan penembakan para jenderal tak dapat menolak perintah kedua atasannya. Maka pada malam menjelang Subuh 1 Oktober 1965, mereka bergerak menculik dan menghabisi para perwira Angkatan Darat yang dianggap tidak loyal kepada presiden lewat isu Dewan Jenderal. Puluhan tahun kemudian, parade kematian itu mereka hadapi sendiri.

        Itulah nasib pasukan penculik yang menghabisi banyak nyawa saat peristiwa berdarah G30S/PKI, apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Semoga artikel kali ini dapat kita ambil hikmahnya agar kita selalu berfikir panjang atas apa yang kita perbuat, dan apa dampaknya di masa depan.


ARGHA SENA

Sumber : tirto.id, kompas.com, wikipedia.org


Senin, 20 September 2021

PEMBUNUHAN GUBERNUR SURYO OLEH GEROMBOLAN PKI

        

        Masih ingat dengan Pasukan Maladi Jusuf yang pernah kami sebut dalam artikel yang lalu? Maldi Jusuf adalah Pasukan tentara pada zaman revolusi yang berhaluan kiri. Pasukan inilah yang menyiksa dan membunuh Gubernur Jawa Timur pertama yaitu Gubernur Suryo. Siapakah yang memerintahkan pasukan FDR PKI untuk membunuh Gubernur Suryo? Dalam artikel kali ini akan kita bahas siapa orangnya. 
        Waktu zaman Jepang, Maladi Jusuf adalah pelajar di Sekolah Bahasa Nippon. Setelah Agustus 1945, ia sudah jadi komandan kompi dalam laskar Pemuda Republik Indonesia (PRI) di bagian utara kota Surabaya. Laskar ini ikut terlibat dalam pertempuran 10 November. Belakangan, pasukan Maladi Jusuf makin banyak. Ia lalu menjadi pemimpin batalyon. Menurut Fransisca Fanggidaej dalam Memoar Perempuan Revolusioner (2006: 133), Batalyon pimpinan Maladi Jusuf berada di bawah komando Brigade 29 di tahun 1948. Komandan Brigadenya adalah Letnan Kolonel Dachlan. Di dalam brigade pimpinan Dachlan ini banyak sekali orang-orang kiri. Kebanyakan bekas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) bergabung di dalamnya. 
        Diungkapkan Harry Albert Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak (2011: 197), Brigade 29 bermarkas besar di Kediri. Sementara batalyon elite pimpinan Maladi Jusuf bermarkas di selatan Kediri. Brigade ini terlibat dalam Peristiwa Madiun dan belakangan dianggap melakukan pembangkangan. Mereka bertempur melawan tentara kiriman dari Pemerintah Republik di Yogyakarta.
        Di antara pasukan Dachlan, Batalyon Maladi Jusuf adalah yang paling unggul. Tentara pemerintah sulit menaklukannya. Setelah Brigade Dachlan disikat, Batalyon Maladi Jusuf selalu berhasil kabur. Menurut Himawan Soetanto dalam Perintah Presiden Soekarno: Rebut Kembali Madiun (1994: 215-217), batalyon ini kerap bertempur untuk melindungi rombongan mantan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, sang pemimpin Front Demokrasi Rakjat (FDR). Setelah Oktober 1948, sisa batalyon Maladi Jusuf belum hancur. Pasukan ini bertahan di sekitar jalan poros Ngawi-Sragen. Di jalan poros itu, sisa pasukan yang bersenjata, dan sudah pasti berbahaya, bisa mencegat siapa saja yang melewatinya.

Amir Sjarifoeddin yang Memerintahkan Menghabisi Gubernur Suryo

        Dalam bukunya yang lain, Madiun: Dari Republik ke Republik (2006: 181), Himawan Soetanto mengisahkan bahwa pada 9 November 1948 ada pergerakan pasukan dari arah Lawu menuju utara, menyeberangi jalan poros itu. Warga desa Plang Lor terheran-heran melihat banyaknya rombongan pasukan. Ada yang berseragam militer, ada juga yang berpakaian hitam seperti warok (pendekar Ponorogo). “Tiba-tiba dari arah barat meluncur suatu mobil sedan berwarna hitam. Dari mobil itu keluar tiga orang yang langsung ditodong dengan senapan, dilucuti dan diseret beramai-ramai,” aku Kromo Astro, seorang kamitua Prang Lor, seperti dicatat dalam Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun (1990: 156-157). 
        Para pengepung menebak bahwa mereka yang berada di mobil hitam itu adalah pembesar yang pulang dari Yogyakarta. “Wah, ini pembesar yang kerjanya makan enak tidur enak,” kata orang-orang FDR itu. Kromo Astro mengaku, ketika para penumpang mobil itu hendak dibunuh, ia berusaha mencegahnya. Jika dibunuh di pasar, maka warga desa akan merasa ngeri. Kemudian datanglah seseorang dengan mengendarai kuda. Para pengepung memanggilnya "Pak Amir". Dalam catatan kaki di buku Harry Poeze disebutkan bahwa beberapa sumber menyatakan Amir Sjarifoeddin berada di lokasi kejadian dan sempat berbincang-bincang dengan tawanan. 

Amir Syarifuddin saat tertangkap dan akan dieksekusi

        “Pak Amir memerintahkan agar ketiga orang itu dibunuh di saja di hutan yang lebih jauh. Ketiga orang itu kemudian diarak beramai-ramai ke dalam hutan sambil terus disoraki dan dicaci maki,” aku Kromo Astro. Tiga orang yang dibunuh itu memang pejabat negara. Belakangan diketahui, para korban adalah Komisaris Besar Doeryat, Komisaris Polisi Soeroko, dan Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo. Nama terakhir adalah mantan Gubernur Jawa Timur. Meski tak jadi gubernur lagi ketika disergap, orang-orang tetap mengenalnya sebagai Gubernur Soerjo. 
        Di sekitar tempat pembunuhan itu, kemudian dibangun sebuah monumen untuk mengenang Gubernur Ario Soerjo. “Laporan tentang peletakan batu pertama monumen pada 14 Juli 1973 mencantumkan tanggal 10 November, dan menyebut Maladi Jusuf sebagai pimpinan dari kelompok PKI yang menahan Soerjo dan rombongannya,” catat Poeze (2011: 265). 
        Menurut Suripno, salah satu pengepung, sebenarnya tak ada maksud untuk membunuh mereka. Para pengepung ingin memperlakukan Soerjo dengan baik untuk mengorek berita dari Yogyakarta. Rombongan itu ketinggalan banyak kabar terkini di akhir 1948 itu. Mereka merasa hidup dalam ketidakpastian. Para pengepung kemudian mendapat serangan mendadak dari TNI dan mereka yang tertawan kemudian dibunuh. 
        Cerita lain terkait kematian Soerjo ditulis Soebagijo I.N. dalam biografi mantan gubernur Jakarta, Sudiro: Pejuang Tanpa Henti (1981: 191) Di hari naas tersebut, dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta, Soerjo sempat singgah di rumah Sudiro yang saat itu menjabat Residen Solo. Sudiro menyebut, peristiwa itu terjadi pada 11 November. Buku biografi Soerjo yang dirilis pemerintah, Gubernur Suryo (1982: 160-161), yang disusun Sutjiatningsih, menyebut Soerjo baru pulang dari Yogyakarta dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1948. Soerjo sempat disarankan Hatta untuk menunda kepulangan, tapi dirinya bersikeras pulang. Di buku tersebut ditulis, “Setibanya di desa Bogo, Kedunggalar, Ngawi, mobil Pak Suryo berpapasan dengan sisa-sisa gerombolan PKI yang dipimpin Maladi Jusuf (hlm. 160-161).

Maladi Lenyap, Soerjo Dikenang

        Setelah kejadian, Maladi Jusuf tidak ikut dihabisi tentara pemerintah yang kerap gagal membekuknya. Berhubung ada Agresi Militer Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 atas Yogyakarta yang disusul penawanan pejabat RI, maka banyak sisa kombatan yang terlibat dalam Peristiwa Madiun terlupakan. Mereka dibiarkan masuk bergabung dengan TNI lagi. Termasuk Maladi Jusuf dan pasukannya. “Saya dengar bahwa batalyon itu direhabilitasi oleh Kolonel Gatot Subroto sebagai pasukan TNI, oleh karena aktif melawan Belanda dalam Perang Kemerdekaan Kedua,” aku Sayidiman Suryohadiprojo dalam Mengabdi Negara Sebagai Prajurit TNI: Sebuah Otobiografi (1997: 105). Sayidiman menaruh curiga pada Maladi Jusuf dan bawahannya waktu bertugas di Jawa Barat. 
            Sekitar 1965, Maladi Jusuf kena garuk aparat terkait G30S. Setelah itu tak ada lagi kabar tentangnya. Ario Soerjo tentu saja terus dikenang. Baik terkait jasa-jasanya pada Republik Indonesia dan juga sebagai korban kekejaman kombatan PKI Madiun. Pangrehpraja lulusan OSVIA yang pernah jadi mantri polisi di zaman kolonial ini pernah menjabat Bupati Magetan di waktu Jepang belum datang. 
           Di zaman Jepang, dia jadi Residen Bojonegoro. Pada akhir masa pendudukan Jepang, Soerjo termasuk salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, dia diangkat menjadi Gubernur Jawa Timur. Pada saat hari naas 10 November 1948 itu, Soerjo tidak lagi gubernur, melainkan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia.

Sumber : tirto.id, wikipedia.org

Minggu, 29 Agustus 2021

JEJAK BERDARAH WESTERLING DI TANAH SULAWESI!!! 40.000 RAKYAT DIEKSEKUSI!!!

        

Kapten Westerling Sang Jagal

        Westerling. Siapa kah dia? Mungkin kalian yang sudah tidak lagi suka membaca sejarah ataupun belajar tentang sejarah bangsa ini, tidak akan mengenal sosok kejam yang satu ini. Tapi bagi yang suka membaca dan belajar sejarah pasti tahu siapa orang ini. Dia dikenal sebagai pembantai rakyat Indonesia pada masa-masa sulit, saat negara tercinta ini menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Ternyata Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan berusa kembali menjajah Indonesia, disinilah Belanda menugaskan Kapten Westerling untuk menghukum rakyat Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. Agar kita faham sejarah dan tahu betapa menderitanya pendahulu kita untuk mempertahankan kemerdekaan, maka wajib kita menonton video dan mendengarkan pemaparan dalam video yang berdurasi hanya belasan menit ini, semoga dengan menonton video ini kita jadi lebih mencintai negeri dan bangsa ini.         

        Raymond Pierre Paul Westerling (lahir di IstanbulKesultanan Utsmaniyah, 31 Agustus 1919 –meninggal di PurmerendBelanda, 26 November 1987 pada umur 68 tahun) adalah komandan pasukan Belanda yang terkenal karena memimpin Pembantaian Westerling (1946-1947) di Sulawesi Selatan dan percobaan kudeta APRA di BandungJawa Barat.

       Westerling lahir sebagai anak kedua dari Paul Westerling (Belanda) dan Sophia Moutzou (Yunani). Westerling, yang dijuluki "si Turki" karena lahir di Istanbul, mendapat pelatihan khusus di Skotlandia. Dia masuk dinas militer pada 26 Agustus 1941 di Kanada. Pada 27 Desember 1941 dia tiba di Inggris dan bertugas di Brigade Prinses Irene di Wolverhampton, dekat Birmingham. Westerling termasuk 48 orang Belanda sebagai angkatan pertama yang memperoleh latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry, di Pantai Skotlandia yang tandus, dingin dan tak berpenghuni. Melalui pelatihan yang sangat keras dan berat, mereka dipersiapkan untuk menjadi komandan pasukan Belanda di Indonesia.

        Pada saat pasukan NICA kembali ke Indonesia setelah kekalahan Jepang ternyata pasukan NICA Belanda kewalahan juga di Sulawesi Selatan. Gerilya-gerilya di wilayah itu—yang dipimpin pemuda seperti Andi Selle, Andi Sose, Ali Malaka, Wolter Mongisidi dan lainnya—membuat Kolonel H.J. de Vries menilai situasi sudah sedemikian buruk di Sulawesi Selatan. Satuan militer Belanda di Sulawesi Selatan tentu tidak sebanyak di Jawa. Untuk tugas berat demi tercapainya keamanan setelah konferensi Malino itu, juga jelang terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT), maka pasukan khusus didatangkan. “Pada tanggal 5 Desember, 123 Depot Special Troops (DST), sebuah unit komando untuk misi khusus, tiba di Makassar,” tulis William Ijzereef dalam De Zuid-Celebes affaire (1984: 79). Komandannya adalah Letnan Satu Raymond Paul Pierre Westerling. 

        Dalam autobiografinya versi Inggris, Challenge to Terror (1953), Westerling menyebut, “Aku dikejutkan pada kedatanganku di Makassar. Aku diserahi pangkat sebagai Kapten. Aku 27 tahun—Kapten muda dalam Tentara Hindia Belanda.” Di bawah Westerling, dalam DST terdapat Pembantu Letnan Vermeulen. Pasukan itu tidak langsung beraksi. Beberapa hari setelah tiba, tampaknya setelah mengumpulkan data intelijen, pada 10 Desember 1946 bergeraklah pasukan itu menyusuri jalan ke arah Maros. Menuju sebuah kampung bernama Batua. “Menurut Westerling persinggahan Wolter Mongisidi dan Ali Malaka, pemimpin penting dalam perlawanan, berada di kampung itu,” tulis William Ijzereef (hlm. 99). Pasukan DST dibagi dua untuk mengepung desa. Di desa itu, 35 orang dieksekusi. Di antaranya, 11 orang dituduh sebagai extrimist dan 23 lain dianggap perampok. Tentu saja Batua bukan satu-satunya desa di mana pembantaian berlangsung.

        Pembantaian dilakukan dalam beberapa tahap di desa-desa sekitar kota Makassar seperti Batua, Bolomboddong, Tanjung Bunga, dan Kalukuang. Menurut catatan Anhar Gonggong dalam Prolog dan Epilog Timbulnya Peristiwa Pengorbanan 40.000 (1998), rumah Andi Pangeran Pettarani dan Andi Mapanyukki berada di Jongaya. Mereka berdua adalah keturunan Raja Bone yang bersimpati kepada Republik Indonesia dan belakangan nama keduanya menjadi nama jalan di kota Makassar. Desa tempat mereka tinggal itu adalah sasaran pembersihan gerilyawan tahap pertama (hlm. 13). 

        Gelombang pertama, menurut pelaku dan saksi sejarah pembantaian Westerling yang asli Makassar, Maulwi Saelan, seperti ditulisnya dalam Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa (2008: 77), dilakukan dari 11 hingga 16 Desember 1946 di Makassar dan sekitarnya. Kedua, 17 hingga 31 Desember 1946 di Gowa, Takalar, Jeneponto, Polombangkeng, dan Binamu. Ketiga, 2 hingga 16 Januari 1947 di Bantaeng, Gantaran, Bulukumba, dan Sinjai. Keempat, 17 Januari hingga 5 Maret 1947 di Maros, Pangkajene, Sigeri, Tanete, Barru, Pare-pare, Polewali, Mandar, Sidenreng, dan Rappang. Pembantaian juga terjadi di Suppa. Menurut Andi Monji, salah satu anak korban kekejaman Westerling, terdapat 208 orang terbunuh di situ. Di Suppa, rajanya juga terbunuh selama operasi pembersihan oleh Westerling. Kengerian yang dilakukan Westerling itu jelas sesuatu yang disengaja. 

        Dalam banyak catatan, Westerling mengadakan pertunjukan yang sering dianggap “pengadilan militer” di mana kebenaran berada di tangan Westerling. Biasanya, ketika Westerling datang semua warga dikumpulkan di tanah lapang di sebuah desa. Laki-laki dewasa dipisahkan dari anak-anak dan perempuan. Rakyat jelata atau orang yang dicurigai atau salah satu warga disuruh untuk memberi tahu di mana gerilyawan Republik yang dicap extrimist. Tak lupa tembakan mematikan dipertontonkan kepada warga masyarakat. Dapat tidaknya gerilyawan yang dicari, jika sudah menakuti penduduk, maka ada harapan dari Westerling agar gerilyawan tidak dibantu lagi oleh rakyat sipil. Pasukan itu bergerak tanpa istirahat terlalu lama. 

        Setelah Makassar dan sekitarnya, mereka bergerak ke selatan lalu timur. Setelah di Bulukumba, mereka bergerak ke utara, Sinjai. Dari Sinjai, mereka bergerak ke daerah yang lebih utara lagi. Dari Maros bergerak ke arah utara. Setelah Pare-pare mereka bergerak ke daerah-daerah yang kini masuk provinsi Sulawesi Barat (Polewali dan Mandar). Dari sana bergerak ke Sidenreng dan Rappang—dua daerah ini belakangan menjadi satu kabupaten Sidenreng-Rappang (Sidrap). Selama masa-masa operasi Westerling itu, cara kekerasan dan teror dominan. Apa yang dilakukan Westerling dan pasukannya tentu sebelas-duabelas dengan Hans Christoffel dan Overste van Deelan berserta pasukan Marsose dalam aksinya di Gayo Alas pada era kolonial. Mereka hanya beda zaman.

        Paul van ‘t Veer dalam Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985) menyebut, van Daalen dalam suratnya kepada J.B. van Heutsz menganggap “Kekejaman yang 'tidak disengaja', baginya, menjadi kejahatan yang paling besar.” Seperti Hans Christoffel dan van Deelan, Westerling dan pasukannya dianggap berhasil. “Belum sampai dua minggu setelah kedatangan Pasukan Khusus, keadaan di Sulawesi berubah total,” tulis Dominique Venner dalam Westerling de Eenling (1982: 9). Tentu saja dengan meninggalkan korban yang diperkirakan jumlahnya ribuan. Di mana angka 40.000 jiwa sudah puluhan tahun terngiang sebagai jumlah korban Westerling di Sulawesi Selatan. Sudah ada nama Jalan 40.000 Jiwa, Monumen 40.000 Jiwa, Batalyon 40.000 Jiwa.

            Benar tidaknya angka itu, setidaknya ia menjadi pengingat agar kekejaman militer atas orang biasa yang belum tentu bersalah tak pernah terjadi lagi. Bukan sekadar bahan untuk politik playing victim—yang sudah menjadi senjata beberapa politikus Indonesia era kekinian. Angka 40.000 kerap diperdebatkan. Dianggap aneh jika selama sekitar 3 bulan Westerling mampu menghabisi manusia sejumlah itu di kota kecil. Bayangkan jika tiap hari selama 3 bulan (90 hari) ada 100 orang dibunuh, maka kira-kira 9.000 orang jadi korban kampanye pasifikasinya. Namun, dalam 3 bulan itu tak setiap hari ada tour on the road ke kampung-kampung. Daerah satu dengan daerah lain di Sulawesi Selatan tak begitu saja dengan mudah mereka jangkau. Berapapun jumlah pastinya, Mahkamah Militer Rakyat ala Westerling sudah memberi efek ngeri di kalangan rakyat Indonesia di Sulawesi.

           Berapapun jumlahnya, pembunuhan itu tak bisa dibenarkan. Memang sesuatu yang baik jika pemerintah Belanda mau meminta maaf. Bahkan ada kompensasi 20.000 euro kepada korban. Namun, seperti kata Anhar Gonggong, nyawa yang hilang tak akan kembali. Uang tak seharusnya menjadi penebus nyawa. Setelah kejadian, Westerling makin menjadi orang yang disegani di kemiliteran Belanda. Diakui atau tidak, Westerling adalah nama besar dalam sejarah pasukan khusus Belanda. Suka tidak suka, Westerling juga diingat oleh banyak orang Indonesia. Meski kekejaman Westerling dikutuk, tapi kekejaman dan teror dalam bentuk lain tidak dianggap dosa—selama pelaku atau tertuduhnya adalah orang Indonesia.

            Itulah sepenggal sejarah pembantaian yang sangat menyedihkan yang pernah dilakukan Belanda pada Bangsa Indonesia, semoga kisah sejarah ini dapat menguatkan kita agar kita sungguh-sungguh dalam menjaga kemerdekaan ini.


Penulis : Argha Sena

Sumber : tirto.id, wikipedia.org


usuhan

Selasa, 24 Agustus 2021

SEJARAH DUNIA #007 : BEGINILAH KESUSASTERAAN, SENI, DAN SAINS YANG BERKEMBANG PADA MASYARAKAT ORIENTALKUNO

Seni Musik Zaman Mesir Kuno

KESUSASTERAAN DAN SENI

            Agama menginspirasi sebagian besar kesusasteraan Oriental. Book of the Dead orang Mesir patut dimuliakan di 2000 S.M. Buku ini berupa kumpulan frase Hymne, doa, dan sihir yang dibaca oleh ruh dalam perjalanannya melampaui tanah makam dan tanah ruh. Seuah bab dari buku ini biasanya mencakup bagian dalam peti mumi, atau peti mati.

            Hal yang jauh lebih menarik adalah dua epik Babylonia, bagian-bagian dari epik ini telah ditemukan pada lembaran-lembaran tanah liat diperpustakaan kerajaan Nineveh. Epik penciptaan (Creation) menceritakan bagaimana dewa Marduk mengatasi seekor naga mengerikan, simbol kekacauan utama, dan kemudian mewujudkan ketertiban di alam semesta. Dengan separuh tubuh naga yang mati ia membuat pelindung untuk surge dan memasang bintang-bintang dipelindung surga ini. Karya terakhirnya adalah penciptaan manusia agar pelayanan dan penyembahan pada para dewa bisa diwujudkan selamanya. Epik kedua berisi penjelasan tentang Delude, yang dikirim oleh para dewa untuk menghukum manusia berdosa. Hujan turun siang dan malam selama enam hari dan membenamkan seluruh bumi. Semua orang tenggelam kecuali Nabi Nuh, keluarganya, dan kerabatnya yang naik perahu dengan aman. Naratif kuno ini begitu menyerupai cerita Injil dalam Genesis bahwa kedua naratif ini pasti berasal dari sumber yang sama.

            Buku-buku suci bangsa Yunani, yang kita namakan Perjanjian Lama, meliputi hampir setiap jenis kesusasteraan. Sejarah menyedihkan, cerita menarik, puisi-puisi sangat indah, peribahasa bijaksana, dan nubuat mulia ditemukan dalam koleksi buku ini. Pengaruh Perjanjian Lama pada orang-orang Yahudi begitu dalam. Melalui orang-orang Yahudi, Perjanjian Lama juga berpengaruh pada dunia Kristen selama abad kesembilan belas. Kita pasti tidak salah menganggap karya ini sebagai kontribusi tunggal paling penting yang dibuat oleh bangsa atau orang-orang kuno bagi peradaban.

           

        Kekayaan dan keterampilan orang Mesir tidak dicurahkan dalam pembangunan rumah-rumah pribadi yang mewah atau gedung-gedung publik yang sangat indah. Karya karakteristik arsitektur Mesir berupa makam-makam raja dan kuil-kuil dewa. Bahkan reruntuhan struktur bangunan ini membuat pengamat terkesan pada ukuran yang luar biasa besar, soliditas, dan kemegahan. Seperti piramid, bangunan-bangunan ini tampaknya dibuat untuk selamanya.

        Arsitektur bangsa-bangsa Tigris-Eufrat sangat berbeda dari arsitektur bangsa Mesir, karena mereka menggunakan batu bata, bukannya batu seperti di Mesir, sebagai material bangunan utama. Di Babylonia sebagian besar struktur karakteristiknya berupa kuil. Kuil ini berupa menara persegi empat, dan solid, menjulang tinggi dalam tingkatan-tingkatan (biasanya tujuh tingkat) hingga ke puncak, dimana dewa kuil berdiri. Tingkatan-tingkatan yang berbeda dihubungkan dengan jalan naik yang berputar. Kuil-menara ini pasti telah menjadi obyek yang sangat mencolok mata di dataran Shinar. Keberadaan kuil-kuil ini memunculkan cerita Yahudi tentang “Menara Babel” (atau Babylon). Di Assyria sebagian besar struktur karakteristiknya berupa istana. Batu bata yang dijemur di bawah sinar matahari digunakan sebagai bahan utama untuk membuat istana, sehingga daya tahannya tidak sekuat batu.

            Contoh struktur pahatan Mesir yang masih ada terdiri dari relief-relief timbul dan figure-figur yang diukir pada abut kapur dan granit atau dicetak dengan perunggu. Walau banyak patung ini terlihat kaku bagi mata kita, patung-patung lainnya terlihat sangat hidup. Beberapa relief timbul Assyria juga menunjukan perkembangan rasa artistik yang cukup bagus, terutama dalam representasi binatang.

            Lukisan tidak mencapai martabat sebagai seni independen. Lukisan hanya digunakan untuk tujuan dekoratif. Relief timbul dan permukaan dinding sering dicat dengan warna cerah. Senian tidak memiliki pengetahuan tentang perspektif dan menggambar semua figurnya dalam profil, tanpa perbedaan cahaya dan bayangan. Sungguh, lukisan Oriental, dan juga pahatan Oriental, memhuat sedikit pretensi pada keindahan. Keindahan dilahirkan ke dunia dengan seni orang-orang Yunani.

SAINS

            Kemajuan mencolok terjadi pada ilmu eksakta. Manuskrip-manuskrip Mesir sangat kuno berisi masalah-masalah aritmatika dengan pecahan-pecahan dan juga seluruh angka, dan teori-teori geometri untuk menghitung kapasitas gudang dan area ladang. Sebuah table Babylonia menampilkan bentuk-bentuk persegi empat dan kubus yang secara tepat dihitung dari 1 hingga 60. Angka 12 adalah dasar dari semua perkiraan. Pembagian lingkaran menjadi derajat, menit, dan detik (360◦,60’,60”) adalah sebuah alat yang mengilustrasikan sistem duodesimal ini. Erat dan ukuran juga berkembang pesat di antara orang-orang babylonia.

           

         Langit tak berawan dan tenang, malam hangat di lembah sungai besar memantik munculnya penelitian astronomi. Sebelum 4000 S.M. orang-orang Mesir berhenti memperkirakan waktu dengan bulan-bulan lunar dan telah menciptakan sebuah kalender solar yang terdiri dari dua belas bulan dengan tiga puluh hari setiap bulannya, dengan lima hari tambahan di akhir tahun. Kalender ini diambil alih oleh orang-orang Roma dan kalender ini sampai kepada kita sekarang ini. Orang-orang Babylonia membaut kemajuan yang patut dicatat dibeberapa cabang astronomi. Mereka dapat mengetahui jalur matahari melalui dua belas konstelasi zodiac, dapat memebdakan lima planet, dan dapat memprediksi gerhana matahari dan bulan. Kita tidak tahu alat apa yang digunakan orang-orang babylonia untuk observasi hebat mereka ini.

            Seni pertukangan  batu muncul di Mesir di akir millennium keempat S.M. – lebih awal dari tempat lainnya di dunia. Seni  pertukangan batu ini segera menghadirkan piramid agung, struktur batu terbesar yang pernah dibangun dijaman kuno atau (hingga saat ini) di jaman modern. Orang-orang Mesir juga merupakan orang pertama yang mempelajari bagaimana membuat bangunan dengan aula luas, yang atapnya ditopang deretan kolom. Bagian atas yang berisi jendela-jendela, membuat cahaya bisa masuk ke bagian dalam aula. Kolom, deretan panjang pilar dan dinding tinggi dengan bagian atasnya dilengkapi jendela-jendela besar, sebagai penemuan arsitektural, diadopsi oleh ahli bangunan Yunani dan Roma, dan mereka menurunkannya diabad pertengahan dan Eropa modern. Eropa berhutang pada orang babylonia dalam membuat kubah bundar dan melengkung, seabgai cara meletakan dinding atau atap di atas sebuah void (ruang kosong antara lantai bawah dan lantai atas). Baik di Mesir maupun di Babylonia pemindahan batu-batu besar dalam membuat monumen menunjukan pengetahuan tentang tuas, puli, dan bidang miring.

            Bangsa-bangsa Oriental melakukan sebuah kemajuan dalam bidang kedokteran. Perawatan-perawatan medis yang ditemukan di Mesir membedakan berbagai jenis penyakit dan mencatat gejala-gejalanya. Para ahli obat menunjukan kesatuan ukuran yang merupakan hasil ciptaan orang Mesir. Dimasa awal pemerintahan Hammurabi, ada dokter dan ahli bedah di Babylonia. Seni penyembuhan, namun demikian, selalu banyak bercampur dengan sihir, seperti halnya astronomi, studi ilmiah tentang surga yang dikelirukan dengan astrologi.

            Sekolah, baik di Mesir dan Babylonia, digabungkan dengan kuil dan dikelola oleh pendeta. Membaca dan menulis menjadi mata pelajaran utama. Pendidikan berlangsung selama bertahun-tahun untuk menguasai simbol-simbol baji (runcing) atau hieroglif yang lebih sulit. Setelah belajar membaca dan menulis, murid siap memasuki karir sebagai ahli menulis. Ketika orang ingin mengirim sebuah surat, ia bisa minta bantuan seorang ahli menulis untuk menuliskan surat, menandainya sendiri dengan membubuhkan stempelnya. Ketika ia menerima sebuah surat, ia biasanya mempekerjakan seorang ahli menulis untuk membacakan surat itu. Ahli menulis juga disibukkan dengan menyalin buku-buku di atas kertas papyrus atau lembaran tanah liat yang berfungsi sebagai alat tulis. Orang Mesir dan Babylonia memiliki perpustakaan, biasanya berdampingan dengan kuil dan di bawah kendali pendeta.

            Sekolah dan perpustakaan ini tidak dibuka secara bebas bagi publik. Sesuai aturan, hanya orang-orang yang bisa bekerja dengan baik yang diterima di sekolah. Orang awam tetap tidak peduli. Ketidakpedulian mereka mencakup ikatan intelektual mereka dengan masa lalu; mereka lambat meninggalkan takhayul dan enggan mengadopsi kebiasaan baru bahkan ketika kebiasaan baru itu jauh lebih baik dari kebiasaan lama. Ketiadaan pendidikan populer, lebih daripada yang lainnya, cenderung membuat peradaban Oriental tidak progresif.

Penulis : Riskyrito
Editor  : Argha Sena

Sumber : World History Sejarah Dunia Lengkap Karya HUTTON WEBSTER, PHD

SEJARAH DUNIA #006 : BAGAIMANA DENGAN AGAMA MASYARAKAT ORIENTAL KUNO???

 

Dewa dan Dewi Mesir Kuno

            Ide-ide agama Oriental, lebih daripada hukum dan moralitas,berasal dari keyakinan-keyakinan yang muncul di jaman prasejarah. Dimana saja persembahan pada alam lebih unggul. Surge, bumi dan samudera dan matahari, bulan, dan bintang semuanya dianggap sebagai keilahian diri mereka sendiri atau sebagai tempat tinggal keilahian. Matahari menjadi objek yang dipuja secara khusus. Kita mendapati dewa matahari, di bawah beberapa nama berbeda, diseluruh Oriental.

   Orang-orang Mesir, yang sangat konservatif dalam masalah agama, selalu mempertahankan persembahan binatang yang dulu dilakukan oleh leluhur barbar mereka. Beberapa dewa diwakili dalam monumen-monumen yang sebagian dalam bentuk binatang; ada dewa yang memiliki kepala Baboon, dewa lainnya yang memiliki kepala singa betina, yang lainnya memiliki kepala kucing. Binatang-binatang seperti serigala, sapi, biri-biri jantan, elang dan buaya juga juga mendapat penghormatan tertinggi, namun lebih sedikit digunakan seabgai symbol dewa-dewa yang berbeda.

Di Babylonia dan Assyria sebuah keyakinan tentang eksistensi spirit jahat membentuk ciri utama agama. Orang-orang menganggap diri mereka secara terus-menerus dikelilingi oleh setan-setan, yang menyebabkan kegilaan, penyakit, kecelakaan, dan kematian-semua penyakit manusia.

Untuk menghadapi musuh-musuh spiritual ini, orang-orang Bagylonia menggunakan sihir. Ia membuat citra berupa dewa pelindung di pintu masuk rumahnya dan menggunakan mantra pada dirinya. Jika ia jatuh sakit, ia memanggil seorang penyihir untuk membacakan mantera yang akan mengusir setan keluar dari dalam tubuhnya.

Orang-orang Babylonia memiliki banyak cara dalam memprediksi masa depan. Para peramal meramalkan dari mimpi dan dari banyak peran. Tanda-tanda tentang kemakmuran dan penderitaan juga diperoleh dari tampilan isi perut binatang yang disemelih untuk kurban. Untuk tujuan ini hati domba sering digunakan. Ramalan melalui hati binatang dipelajari selama berabad-abad di sekolah-sekolah kuil di Babylonia. Praktik semacam ini kemudian menyebar ke Yunani dan Roma.


    Astrologi mendapat banyak perhatian di babylonia. Lima planet, demikian juga komet dan gerhana, dianggap memiliki pengaruh untuk kebaikan atau kejahatan pada kehidupan manusia. Astrologi Babylonia menyebar hingga ke wilayah barat dan menjadi populer di sebagian besar wilayah Eropa. Ketika kita menyebut nama-nama hari seperti Saturday (sabtu), Sunday (minggu), dan Monday (senin), kita tanpa sadar adalah astrolog, karena menurut keyakinan kuno hari pertama milik planet Saturn (saturnus), hari kedua milik sun (matahari), dan hari ketiga milik moon (bulan). Orang-orang yang mencoba membaca nasib mereka pada bintang-bintang sebenarnya sedang mempraktikan sebuah seni yang berasal dari Babylonia.

Di tengah-tengah begitu banyak kedewaan alam, binatang suci dan spirit jahat, sungguh mengagumkan bahwa keyakinan pada satu tuhan mulai muncul. Dan beberapa pemikir Mesir mencapai ide keilahian utama tunggal. Salah satu Firaun Mesir, Amenhotep IV (sekitar 1375-1358 S.M.), yang melihat matahari sebagai sumber utama semua kehidupan di bumi, memerintahkan semua rakyatnya untuk menyembah matahari. Nama-nama dewa lainnya dihapus dari monumen-monumen, gambar-gambar mereka dihancurkan, kuil-kuil mereka ditutup, dan pendeta-pendeta mereka diusir. Tidak ada keyakinan begitu tinggi semacam ini yang pernah ada sebelumnya, tetapi ini terlalu abstrak dan impersonal untuk menjadi populer. Setelah kematian raja, keilahian lama dikembalikan ke tempat terhormat.


    Orang-orang Medes dan Persia menerima ajaran agama Zoroaster, seorang nabi besar yang kehidupannya sangat beragam antara 1000 dan 700 S.M. Menurut Zoroaster, Ahuramazda, dewa surge, adalah pembuat dan penegak alam semesta ini. Ia adalah dewa cahaya dan keteraturan, dewa kebenaran dan kemurnian. Lawan dari dewa Ahuramazda adaah Ahriman, personifikasi dari kegelapan dan kejahatan. Kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan ini terlibat dalam perselisihan abadi. Manusia, yang melakukan kebaikan dan menghindari keburukan, yang mencintai kebenaran dan membenci kepalsuan, bisa membantu kebaikan menang atas kejahatan. Pada akhirnya Ahuramazda akan mengalahkan Ahriman dan akan berkuasa atas dunia yang baik. Zoroastrianisme adalah satu-satunya agama monotheis yang dikembangkan oleh orang-orang Indo-Eropa. Agama ini masih berrtahan hidup dibeberapa bagian Persia, walaupun Negara ini sekarang utamanya menganut agama Islam, dan juga di antara orang-orang Parsae (Persia) di Bombay, India.

Orang-orang Yahudi, bangsa Semit, juga mengembangkan sebuah agama monotheis. Perjanjian lama menunjukan bagaimana agama ini muncul. Jehovah pada mulanya dianggap oleh orang-orang Yahudi seabgai tuhan bangsa mereka sendiri; mereka tidak membantah keberadaan tuhan-tuhan milik bangsa lain, walaupun orang-orang Yahudi menolak untuk menyembahnya. Para Nabi, dari abad kedelapan belas dan seterusnya, mulai mengubah konsepsi terbatas dan sempit ini. Bagi orang-orang Yahudi, Jehovah adalah tuhan bagi seluruh dunia, Bapa semua umat manusia. Setelah orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dari tahanan di Babylonia, keyakinan para Nabi yang menyublim secara perlahan menyebar ke seluruh bangsa, memuncak dalam doktrin Jesus bahwa Tuhan adalah sebuah spirit dan bahwa mereka yang menyembah Jesus harus menyembah dalam spirit dan dalam kebenaran. Doktrin Tuhan Kristen secara langsung tumbuh dari monotheisme Yahudi.

Orang-orang Mesir dan juga bangsa-bangsa kuno lainnya percaya bahwa manusia memiliki jiwa yang tetap hidup dari tubuh yang sudah mati. Namun demikian, mereka menganggap perlu untuk melindungi tubuh dari kehancuran, sehingga tubuh tetap ada hingga akhir jaman. Karena itulah muncul praktik-praktik pembalseman. Mayat yang dibalsem (mumi) kemudian diletakkan di dalam makam, yang orang-orang Mesir sebut sebagai “rumah abadi.” Pikiran orang Mesir mewakili masa datang sebagai tempat penghargaan dan hukuman, dimana, seperti yang telah kita pelajari, ruh mengalami siksaan dari pengadilan terakhir. Karena manusia hidup dalam kehidupan ini, maka ia juga akan hidup di kehidupan berikutnya. Orang-orang Babylonia beranggapan bahwa setelah kematian ruh manusia, baik atau buruk, melewati eksistensi tanpa keceriaan di neraka yang muram. Ide orang-orang Yahudi awal tentang Sheol, “tanah kegelapan dan bayangan kematian,” sangat mirip dengan ide orang-orang Babylonia. Pemikiran tentang kehidupan masa datang tidak meninggalkan apa-apa bagi rasa takut atau harapan. Orang-orang Yahudi percaya dengan kebangkitan orang mati dan pengadilan terakhir, gambaran yang diambil oleh orang-orang Kristen.

Penulis : Riskyrito
Editor  : Argha Sena

Sumber : World History Sejarah Dunia Lengkap Karya HUTTON WEBSTER, PHD

SEJARAH DUNIA #005 : INILAH HUKUM, MORALITAS, ORIENTAL DAN OCCIDENTAL ORIENTAL KUNO

 

Lukisan Taman Gantung Babilonia pada abad 16

HUKUM DAN MORALITAS

Aktivitas manusia di Timur Dekat (Near East) tampaknya telah berjalan secara teratur. Sejauh yang bisa kami ceritakan, kehidupan berlangsung cukup aman, dan orang-orang dilindungi ditempat tinggal mereka. Kita tahu Mesir memiliki pengadilan, buku hukum (sayang musnah), dan aturan-aturan jelas mengenai kontrak, pinjaman, sewa, hipotek, persekutuan, perkawinan, dan keluarga. Posisi wanita sangat tinggi; wanita memiliki hak kepemilikan dan warisan dan dia oleh menjalankan bisnisnya sendiri. Walaupun poligami telah eksis, utamanya di antara kelas-kelas atas, istri adalah sahabat suami dan tidak hanya sekedar pelayan rumah tangga. Penghormatan anak-anak pada ayah dan ibu secara terus-menerus dituntut, dan bakti (kepatuhan) bagi orang Mesir diranking di antara nilai-nilai kebajikan tertinggi.


            Petunjuk paling mencerahkan tentang standar moral Mesir ditemukan pada karya sangat kuno yang dikenal sebagai Book of the Dead. Salah satu bab buku ini mendeskripsikan pengadilan ruh di dunia lain, jika ruh ingin menikmati keabadian yang penuh kebahagiaan, ruh harus bisa mengaku secara sungguh-sungguh dihadapan para hakim yang bernama Pengakuan Negatif (Negative Confession). Berikut ini adalah beberapa pengakuan yang ada; “Aku tidak mencuri”; “aku tidak membunuh”; “aku tidak berbohong”; “aku tidak membunuh binatang suci”; “aku tidak merusak ladang”; “aku tidak melakukan sihir”; “aku tidak mengutuk dewa”; “aku tidak membuat tuduhan palsu”; “aku tidak mencaci ayahku”; “aku tidak menyebabkan seorang budak diperlakukan buruk oleh majikannya”; “aku tidak membuat seseorang menangis.” Setelah memberi pengakuan tidak bersalah atas semua empat puluh dosa yang dikutuk oleh etika Mesir, ruh menamahkan, “akuilah bahwa ia mungkin datang kepadamu . . . ia yang telah memberikan roti pada yang lapar dan memberikan minum pada yang haus, dan bahwa ia telah memberikan pakaian pada yang telanjang.” Beberapa klausa pengakuan negative berhubungan dengan beberapa klausa Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandments), sementara pernyataan afirmatifdi bagian akhir memiliki kedekatan dengan moralitas kristiani.

            Orang-orang Babylonia adalah orang-orang yang sangat taat hukum. Ketika seseorang menjual gandumnya, membeli seorang budak, menikahi seorang wanita, atau membuat sebuah surat wasiat, transaksinya dicatat dalam lembaran kontrak, yang kemudian disimpan di arsip umum. Daripada menuliskan namanya, orang Babylonia menyetempel segelnya pada lembaran tanah liat. Setiap orang yang memiliki properti harus memiliki sebuah segel. Lembaran kotrak dilindungi dari kerusakan dengan cara disimpan di dalam kotak tanah liat atau amplop.

           

    Penemuan terbaru telah memberi kita teks hampir lengkap tentang hukum yang Hammurabi, raja Babylonia, perintahkan untuk diukir pada monumen-monumen batu dan meletakannya di kota-kota utama di bawah kekuasaannya. Hukum Hammurabi menunjukan, secara umum, rasa keadilan yang mendalam. Seseorang yang mencoba menyuap seorang saksi atau seorang hakim akan dihukum berat. Seseorang petani yang ceroboh dengan saluran air dan menyebabkan air mengalir melalui dan membanjiri ladang milik orang lain harus mengganti kerugian yang ia sebabkan. Pemilik sapi ganas yang melukai seseorang haru membayar denda besar. Di satu sisi, undang-undang hukum berisi beebrapa ciri-ciri keras, terutama pembalasan dendam atas dendam -“mata untuk mata, gigi untuk gigi”- sebagai hukuman fisik. Misalnya, seorang anak yang memukul ayahnya tangannya akan dipotong. Sifat hukuman bergantung pada tingkat kerugian. Orang yang menyebabkan orang lain kehilangan mata maka matanya akan dicungkil; tetapi, jika luka dilakukan terhadap orang miskin, penjahat hanya harus membayar denda. Undang-undang hukum Hammurabi memberikan gambaran jelas tentang masyarakat Babylonia dua puluh satu abad sebelum masehi.

            Hukum-hukum yang kita temukan di bagian lebih awal perjanjian lama dianggap berasal dari orang-orang Yahudi pada pengikut Musa. Injil menyatakan bahwa ia telah menerima hukum-hukum ini dari Jehovah di Gunung Sinai. Hukum-hukum ini mencakup subyek yang luas. Hukum-hukum ini menetapkan semua upacara keagamaan, ketaatan setiap hari ke tujuh Sabbath, memberikan sejumlah aturan rumit untuk pengorbanan, dan bahkan menetapkan makanan yang harus dihindari seabgai “tidak bersih.” Tidak ada bangsa kuno lainnya yang memiliki system hukum yang begitu terperinci. Orang-orang Yahudi di seluruh dunia masih mengikuti ajaran ini. Dan Christendom modern masih menjalankan Sepuluh Perintah Tuhan, seuah ringkasan paling mulia tentang aturan-aturan hidup yang benar yang telah diturunkan kepada kita dari jaman Kuno Oriental.

ORIENTAL DAN OCCIDENTAL

            Studi kami tentang Oriental Kuno terbatas utamanya pada lembah Nil dan Tigris-Eufrat. Orang Mesir dan Babylonia menghasilkan peradaban selama ribuan tahun antara 4000 dan 3000 sebelum masehi, sementara dunia bagian lainnya baru sampai pada tahap Neolithikum Barbarisme atau keliaran Palaeolithikum. Di Mesir dan Babylonia manusia pertama kali berkembang dari kelompok suku dan kemudian membentuk kota, Negara, kerajaan, dan kekaisaran; disini manusia pertama-tama berburu, memancing dan beternak lalu mengolah tanah, membuat barang, dan melakukan perdagangan; disini manusia pertama kali menciptakan metalurgi, arsitektur, tulisan phonetic, matematika, astronomi, obat, dan banyak seni dan sains yang sangat diperlukan  bagi kehidupan umat manusia yang lebih tinggi.

            Setelah 3000 S.M. peradaban mulai menyebar dari pusat-pusat Mesir-Babylonia. Penaklukan, perdagangan, dan perjalanan selama dua puluh lima abad erikutnya meningkatkan kontak berbagai bangsa. Menjelang 500 S.M. hal-hal terbaik yang diciptakan bangsa Mesir dan Babylonia menjadi hal biasa di Timur Dekat.

Lukisan Peradaban Babilonia

            Dari Timur Dekat peradaban dikirim ke barat. Empat bangsa, secara khusus, merupakan agen-agen dalam proses ini. Dua dari bangsa ini menggunakan jalur perairan antara Oriental dan Occidental. Bangsa Crete selama berabad-abad membawa barang dan seni dari Mesir dan Babylonia ke kepulauan Aegean dan daratan utama Yunani, dan bahkan lebih jauh ke Barat hingga Italia Selatan, Sisilia, dan Pantai Spanyol. Setelah kira-kira 1000 S.M. muncullah bangsa Phoenicia; pengaruh bangsa ini, seperti yang telah kita lihat, dirasakan disetiap Negara di wilayah Mediterania. Dua hangsa lainnya menggunakan jalur darat. Bangsa Hittite, yang berbicara bahasa Indi-Eropa, dari masa-masa awal menyebar ke Timur Asia Kecil dank e Utara Syria. Disana mereka belajar banyak dari bangsa-bangsa Semit dan setelah itu menyebarkan pengetahuan mereka ke orang-orang Lydia di bagian barat Asia Kecil, yang kerajaannya membentuk sebuah fragmen kekaisaran Hittite. Selanjutnya, dari orang-orang Lydia, berbagai  ciri peradaban Oriental menyebar ke Yunani.

Penulis : Riskyrito
Editor  : Argha Sena

Sumber : World History Sejarah Dunia Lengkap Karya HUTTON WEBSTER, PHD

Minggu, 22 Agustus 2021

SEJARAH LAGU "GENJER-GENJER" YANG DI CAP PKI

  
Tumbuhan Genjer yang biasa dikonsumsi

    Kalian pasti tahu dengan lagi ini, lagu yang sangat dilarang saat zaman Orde Baru berkuasa, lagunya bagus dari nadanya yang nyaman didengarkan serta liriknya yang mengandung cerita tentang susahnya rakyat sampai harus makan rumput yang bernama genjer. Sebenarnya terlepas dari masalah politik seni adalah seni, suatu karya manusia yang dapat kita nikmati sabagai hiburan, akan tetetapi untuk lagu satu ini mempunyai sejarah yang sangat panjang dan sampai menjadi lagu yang dilarang untuk diputar. Dalam artikel ini mari kita bahas bagaimana sejarahnya lagu Genjer-genjer sampai menjadi lagu yang terlarang.      

    Musik atau lagu menjadi salah satu ungkapan ekspresi seni manusia, melukiskan jejak tersendiri bagi kebudayaan manusia. Begitupula dengan lagu Genjer-Genjer yang diciptakan untuk menggambarkan situasi dan kondisi masyarakat Banyuwangi masa penjajahan Jepang. Seiring perkembangannya, lagu Genjer-Genjer yang semula merupakan lagu untuk mengisyaratkan penderitaan rakyat Indonesia mulai bergeser maknanya. Bahkan lagu Genjer-Genjer dilarang dinyanyikan pada masa Orde Baru, mungkin hingga sekarang.

    Jepang yang berhasil merebut kekuasaan Belanda kemudian membuat kebijakan-kebiajkan pemerintah yang ternyata lebih kejam. Hal tersebut mengakibatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin tidak mampu, bahkan berada digaris kemiskinan. Genjer yang merupakan jenis tanaman liar hidup dirawa atau persawahan biasanya digunakan untuk pakan ternak sampai harus dimakan untuk menjadi lauk saat menyantap nasi, karena hidup sangat sulit pada waktu itu. banyak rakyat yang kelaparan sehingga genjerpun akhirnya dimakan. Akan tetapi sampai saat ini genjer masih menjadi makanan favorit bagi sebagian orang, ditumis dengan ikan asin atau teri, dijadikan lalapan, dan berbagai olahan lainnya.


Muhammad Arief    

    Adalah Muhammad Arief seorang seniman Using masyhur dari Banyuwangi yang aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Lekra ini dikenal sebagai organisasi underbow atau organisasi sayap dari PKI. Lekra didirikan pada bulan Agustus 1950 sebagai respons terhadap Gerakan Gelanggang sosial-nasionalis, dengan A.S. Dharta sebagai sekretaris jenderal pertama. Dengan menerbitkan Mukadimah, yang berarti "pengantar", sebagai panggilan nyata bagi orang-orang muda, terutama seniman dan penulis, untuk membantu dalam membangun republik rakyat demokratis. Pada 1942, Muhammad Arief menciptakan lagu "Genjer-Genjer" sebagai gambaran kondisi warga Banyuwangi saat penjajahan Jepang. Sebelum penjajahan Jepang, genjer (Limnocharis flava) adalah tumbuhan untuk makanan ternak. Ketika Jepang jadi penjajah, banyak warga kelaparan dan terpaksa memakan tumbuhan yang awalnya dianggap hama itu. Beberapa liriknya berbunyi seperti ini: 

    Emake jebeng padha tuku nggawa welasah  

    (Ibu si gadis membeli genjer sembari membawa wadah-anyaman-bambu)

    Genjer-genjer saiki wis arep diolah

    (Genjer-genjer sekarang akan dimasak)

    Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak

    (Genjer-genjer masuk periuk air mendidih)

    Setengah mateng dientas ya dienggo iwak

    (Setengah matang ditiriskan untuk lauk)

    Sego sak piring sambel jeruk ring pelanca

    (Nasi sepiring sambal jeruk di dipan) 

    Genjer-genjer dipangan musuhe sega

    (Genjer-genjer dimakan bersama nasi)

    “Genjer-Genjer” menjadi populer ketika dinyanyikan ulang oleh Bing Slamet, juga Lilis Suryani pada tahun 1962. Pada masa pemerintahan Sukarno, banyak musikus memainkan lagu ini di istana. Kepopuleran lagu ini lantas dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk berkampanye. Lagu yang menggambarkan penderitaan masyarakat desa ini lantas kembali populer di kalangan akar rumput. Begitu lekatnya lagu ini dengan PKI, maka stempel sebagai lagu komunis pun melekat. 

Bing Selamet

     Selepas Tragedi Gerakan 30 September (G30S) yang menyeret Partai Komunis Indonesia (PKI), lagu Genjer-Genjer juga turut dicekal. Lagu Genjer-Genjer dianggap sebagai lagu PKI karena si pecipta lagu bergabung ke dalam politik PKI.

       Dalam jurnal Genjer-Genjer dan Stigmanisasi Komunis (2003) oleh Paring Waluyo Utomo, kondisi sosial dan politik Indonesia pada 1960-1965 mengalami pergolakan. Berawal dari keinginan Muhammad Arief (penipta lagu Genjer-Genjer) untuk bergabung dengan Lekra. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) adalah lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan PKI. 

    Lagu Genjer-Genjer kemudian diusung sebagai salah satu bukti karyanya yang berkonspe pada "seni untuk rakyat" ke publik dan kalangan politik. Sejak saat itu, lagu Genjer-Genjer mendapat tempat di hati banyak orang dan kalangan politik. Ketika lagu Genjer-Genjer disuguhkan kepada para petinggi PKI yang sedang singgah di Banyuwangi, mereka tertarik oleh lagu tersebut. Perjalanan eksistensi lagu Genjer-Genjer memang tidak bisa lepas dari kedekatannya dengan PKI. Bahkan Utan dalam bukunya mengatakan, pada tahun 1964 D.N Aidit mengklaim bahwa lagu Genjer-Genjer sebagai lagu Mars PKI.

    Hal ini karena lagu Genjer-Genjer sebagai lagu pembukaan di setiap pertemuan-pertemuan PKI. Sehingga makna PKI dan ideologi komunis semakin tidak dapat dipisahkan oleh lagu Genjer-Genjer.

    Dalam jurnal Genjer-Genjer: Fungsi dan Peran (2010) oleh Ruddy Eppata Cahyono, terdapat beberapa alasan kenapa lagu Genjer-Genjer dilarang, di antaranya: Bertumpu pada kedekatannya dengan PKI yang secara langsung menanamkan konsekuensi dalam lagu tersebut. Isu-isu yang beredar di kalangan umum, baik yang dibangun pemerintah maupun masyarakat luas dan Orde Baru terhadap lagu Genjer-Genjer sebagai lagu yang mengandung stigma komunis, semkain menguatkan jalan pemerintah dan masyarakat untuk menghilangkan lagu tersebut dari kancah hiburan nasional. Susunan lirik pada lagu Genjer-genjer dianggap sebagai sebuah simbol atau bermakna ganda. Dari situlah, pemerintah Orde Baru merasa perlu mencekal adanya lagu Genjer-Genjer untuk menutup langkah PKI.


Penyusun : Argha Sena

Sumber     : tirto.id, kompas.com


TONTON VIDEONYA DISINI