Thursday, November 5, 2020

Apakah Rusia Adalah Negara Komunis? | Pegawai Jalanan

Gereja Katedral St. Basil

Mungkin kita pernah menemukan komentar atau anggapan dari netizen yang mengatakan Rusia adalah negara komunis, sama seperti Korea Utara, China, dan Vietnam? Padahal Rusia bukanlah negara komunis, Rusia adalah negara Liberal sedangkan China dan Vietnam hanya labelnya saja yang Komunis, akan tetapi mereka sudah menghianati Komunisme makanya negaranya menjadi makmur. Satu-satunya negara yang tidak berhianat dengan komunisme adalah Korea Utara, makanya sampai sekarang negara tersebut mengalami kesulitan ekonomi karena tidak mau move on. Kembali ke tema kita kali ini, apakah Rusia itu negara komunis?

Tentu saja, jawabannya bukan. Meski pun gerakan komunis dan sayap kiri masih ada di Rusia, mereka tak lagi menentukan kebijakan negara, alias impoten dan tidak punya gigi lagi alias ompong.

Komunisme sebagai ideologi negara telah mati di Rusia. Ini keputusan mutlak, tak ada tawar-menawar. “Sebuah ideologi tidak bisa dibuat sebagai dasar negara atau kewajiban,” bunyi Pasal 13 Konstitusi Rusia yang disahkan pada 1993. Ini adalah perbedaan yang sangat mencolok dibandingkan dengan Konstitusi Uni Soviet yang menekankan bahwa Partai Komunis Uni Soviet (KPSS) adalah “kekuatan pemimpin dan penuntun rakyat Soviet dan inti dari sistem politiknya.”

Partai Komunis Uni Soviet atau dalam bahasa RusiaКоммунистическая партия Советского СоюзаKommunisticheskaya partiya Sovetskogo Soyuza; disingkat КПСС, KPSS) adalah partai politik yang mendirikan dan pernah menguasai Uni Republik Sosialis Soviet. KPSS merupakan satu-satunya partai yang berkuasa di Uni Soviet hingga tahun 1990 saat Majelis Agung Uni Soviet membatalkan peraturan perundang-undangan yang melegalkan monopoli politik Partai Komunis di Uni Soviet. Partai yang didirikan oleh faksi Bolshevik pimpinan Vladimir Lenin pada tahun 1912 ini tumbuh pesat dan pada tahun 1917 telah berhasil mengambil alih kekuasaan Pemerintahan Sementara Rusia melalui Revolusi Oktober. KPSS dibubarkan pada tanggal 29 Agustus 1991 sebagai akibat dari gagalnya percobaan kudeta sepuluh hari sebelumnya.

KPSS resmi bubar setelah runtuhnya Uni Soviet pada akhir 1991. Boris Yeltsin, presiden pertama Rusia dan sekaligus mantan anggota KPSS, melarang partai yang di hari-hari terakhirnya memiliki 18 juta anggota tersebut beraktivitas. Meski ini merupakan akhir kisah Rusia sebagai negara komunis, yang sudah terpatri sejak 1917, tak berarti komunisme sepenuhnya lenyap di negara ini.

Yesus yang Komunis?

“Kata ‘komunisme’ berarti ‘rakyat’ atau ‘publik’, yaitu ketika kepentingan masyarakat lebih penting daripada kepentingan individu. Komunisme sudah ada sejak zaman dulu, ketika orang-orang berburu secara berkelompok dan membagikan hasil buruan untuk semua kawanan. Jika Anda membaca Khotbah di Bukit (khotbah Yesus yang paling terkenal -red.) dan Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Tesalonika, Anda akan melihat moto dan akhlak komunisme. Komunisme akan bertahan selamanya, lebih lama daripada orang-orang seperti Trump, Amerika, dan kita semua karena inilah jalur utama perkembangan umat manusia.” kata Gennady Zyuganov, pemimpin Partai Komunis Rusia (KPRF), yang didirikan segera setelah pendahulunya, KPSS — yang keberadaannya pernah tak tergoyahkan — menghilang dari tatanan politik negara itu pada 1991.

Zyuganov dan partainya tetap menjadi pendukung utama komunisme di Rusia. Di setiap pemilu legislatif sejak 2003, KPRF telah menjadi tantangan serius bagi partai penguasa, Rusia Bersatu, dan selalu mengekor di urutan kedua dengan mengantongi hasil yang solid. Meski begitu, komunis tak dapat merapatkan barisan mereka. Dalam pemilu legislatif 2016, KPRF hanya memenangkan 13 persen suara (dibandingkan dengan 19 persen suara pada 2011) dan pada pilpres 2018, hanya 11 persen warga Rusia saja yang memilih Pavel Grudinin, calon presiden dari KPRF.

Tak dipungkiri, komunisme dalam bentuk Sovietnya memang masih menjadi daya tarik bagi jutaan orang di seluruh Rusia. Sebagaimana yang diungkapkan Sergey Chibineyev, seorang pemugar seni yang mengumpulkan memorabilia Soviet, dalam sebuah wawancara dengan Radio Liberty, “(Komunisme Soviet) adalah gagasan yang terhormat — (ia) menciptakan masa depan yang lebih baik, menyatukan semua orang tanpa mengindahkan latar belakang suku atau agama mereka.”

Masa Lalu yang Tak Akan Pernah Hilang

Pengalaman Rusia sangat berbeda dengan negara kita Indonesia dengan Komunisme yang sudah dilarang untuk kembali muncul berpolitik. Secara umum, Rusia tidak benar-benar berupaya menyingkirkan masa lalu komunisnya. Misalnya, terdapat 5.400 patung Vladimir Lenin, sang pendiri Uni Soviet, di seluruh negeri. Namun, para ahli politik dan sejarawan, serta masyarakat pada umumnya, yakin bahwa tak peduli serindu apa pun rekan-rekan kompatriot mereka pada Uni Soviet, ide-ide komunisme tak mungkin laku di masa kini.

“Pemimpin-pemimpin kita saat ini tak ingin kembali ke era revolusi, komunisme militer, dan sebagainya,” tulis Dmitry Drize, pengamat politik Kommersant, seraya menambahkan bahwa sisa-sisa masa lalu berupa patung-patung Lenin dan mausoleumnya di Lapangan Merah merupakan upaya pemerintah untuk menenangkan mereka yang belum bisa melupakan era Soviet. Ini sama sekali tak berarti mereka terpikat oleh kebijakan atau paradigma komunis di bidang politik dan ekonomi.

Menyingkap Nostalgia

Ada lelucon tentang Uni Soviet yang berbunyi, “Ketika saya dulu seorang Pionir (gerakan kepanduan di Uni Soviet -red.) saya diberitahu bahwa kehidupan di masa depan akan luar biasa! Sekarang, saya diberitahu bahwa kehidupan benar-benar luar biasa saat saya menjadi seorang Pionir Muda.”

Menurut Sergey Balmasov, seorang analis politik dari Moskow, “Kami senang mengulangi mitos-mitos lama tentang bagaimana sejahteranya kehidupan di bawah kepemimpinan tsar, lalu di bawah Komunis … di masa depan, mereka akan mengatakan hal yang sama tentang Putin. Ini adalah mitos-mitos ‘kehilangan surga’ yang sudah lazim di tengah masyarakat.”

Meski begitu, tak semua orang bernostalgia semacam ini. Jadi, sudah pasti bahwa Rusia tidak akan kembali ke periode komunis. Ilya Venyavkin, seorang sejarawan budaya Soviet pernah berceramah, “Dalam budaya Soviet, masa depan (komunis) ada ‘di sini, saat ini juga’ — bersama dengan kelangkaan barang kebutuhan hidup, represi, dan krisis hunian.”

Cita-cita Soviet tak pernah terwujud karena Venyakin mengingatkan, “Proyek komunis kalah bersaing dengan negara-negara Barat.” Kekecewaan besar terjadi, dan komunisme di Rusia akhirnya ditinggalkan di tong sampah sejarah.

Jadi sudah jelas bukan Rusia bukanlah negara komunis seperti yang beberapa orang kira, Rusia sangat berbeda dengan China bahkan Korea Utara. Rusia Adalah negara terluas didunia yang luas wilayahnya membentang dari Eropa sampai asia, bermacam etnik hidup diwilayah Rusia sehingga keadaanya sangat mirip dengan negara kita yaitu Indonesia, bedanya Rusia mayoritas penduduknya beragama Kristen Ortodox sedangkan Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca yang haus akan informasi dunia.


Editor : Argha Sena

Sumber : 

id.rbth.com

https://id.wikipedia.org/



Sejarah Singkat Partai Komunis Indonesia dari Lahir Sampai Hancur | Pegawai Jalanan

 

Henk Sneevliet

Ideologi komunis mulai masuk ke Indonesia tahun 1914 yang di bawa oleh Hendricus Joshepus Franciscus Marie Sneevliet atau Henk Sneevliet. Pria kelahiran Rotterdam, Belanda adalah seorang komunis Belanda yang aktif. Pada tahun 1911 dia menjadi ketua serikat buruh di Belanda. Sneevliet adalah seorang pemimpin yang radikal dengan ideologi komunisnya. Ketika terjadi pemogokan pelaut internasional pada tahun 1911, beberapa serikat buruh yang radikal ikut serta, tetapi mayoritas serikat buruh tidak sependapat dengannya.  Dia memutuskan untuk meninggalkan Belanda dan berlayar ke Hindia Belanda (Indonesia) pada bulan Februari tahun 1913. Dia bekerja sebagai staff editor Soerabaiaasch Handelsblad lalu pindah ke Semarang pada mei 1913 untuk menggantikan D.M.G. Koch  sebagai sekretaris Semarang Handelsvereeniging (Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1927 : 1997).

Pada tanggal 9 mei 1914, Sneevliet bersama J.A. Brendsteder, H.W. Dekker dan Piet Bersama mengadakan perkumpulan di Marine Gebouw, Surabaya. Sneevliet dan kawan-kawan mendirikan perkumpulan sosialis demokrat Hindia Belanda dengan nama Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). ISDV merupakan sebuah organisasi yang radikal. Sneevliet dan kawan-kawan melakukan propaganda untuk menyebarkan ideologi marxisme/komunis dengan menerbitkan surat kabar pertamanya pada tanggal 10 Oktober 1915. ISDV inilah yang menjadi awal mula ideologi komunis di Indonesia. Awalnya ISDV hanyalah klub debat kaum sosialis Belanda yang kecil. Karena pada awal pendirian organisasi ini hanya berjumlah 85 orang saja. Sneevliet yang berusaha mengembangkan ideologi komunisnya mencari cara agar dapat mempengaruhi bumiputra dengan cara memprotes hukuman terhadap Mas Marko Kartodikromo dan peraturan pers Hindia.(tirto.id)

Awal pertemuan antara Sneevliet dan semaoen terjadi pada tahun 1915. Semaoen adalah seorang pemuda belasan tahun yang namanya cukup terkenal di Semarang.  Pertemuan pertama mereka di Surabaya ketika melakukan pembelaan terhadap Mas Marko Kartodikromo. Dari pertemuan mereka, Semaoen belajar banyak dari Sneevliet, dimana dia bukan hanya belajar membaca, tetapi juga belajar menulis dan berbicara dalam bahasa belanda. Sneevliet yang memiliki kesempatan untuk menanamkan ideologi komunis juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dimana seorang yang besar namanya tentu memiliki pengaruh yang cukup besar pula. Maka dari itu Sneevliet mengajarkan ideologi komunis kepada Semaoen.

Karena perkembangan ISDV tidak terlalu banyak, maka ISDV menjalin hubungan dengan Insulinde. Insulinde merupakan organisasi kelas menengah yang berisi kaum sosialis. Hubungan ini tidak berlangsung lama karena perbedaan pemikiran. ISDV berpendapat bahwa perjuangan melawan penjajah Belanda harus di dukung kaum sosialis karena  sama-sama berjuang melawan sistem kapitalis. Pimpinan Insulinde yang merupakan organisasi kaum sosialis tentu menolak pemikiran tersebut. Pada tahun 1916, di dalam organisasi ISDV mengalami perpecahan, aliran reformis meninggalkan ISDV dan mendirikan Partai Sosial Demokrat Indonesia (ISDP). Setelah kedua organisasi tersebut tidak lagi bersekutu, Sneevliet berhasil masuk ke dalam organisasi Sarekat Islam (SI). Tak berselang lama, Sneevliet menjadi orang yang berpengaruh di dalam SI. pada tahun 1916 Sneevliet mengangkat Semaoen dan Darsono menjadi Pemimpin ISDV. Semaoen yang merangkap jabatan di ISDV dan SI, berhasil mengembangkan keanggotaan SI Semarang yang semula 1.700an orang menjadi 20.000. keberadaan Sneevliet di dalam SI tidak semua orang dapat menerimanya. Salah satunya adalah Abdoel Moeis.  Abdoel Moeis adalah orang yang gigih menentang komunisme.  Bahkan dalam tulisannya yang di muat di dalam surat kabar Neratja (1917), ia menulis bahwa ia (Sneevliet) berbahaya bagi kami dan tanah air. Abdoel Moeis juga meminta bantuan kepada pemerintah Batavia untuk menyingkirkan Sneevliet.

Ketika terjadi revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917, ISDV telah sepenuhnya mulai pada Ideologi komunis. Hal ini disebabkan oleh kemenangan Bolshevik dalam mendirikan Negara komunis. Pada tahun ini ISDV memprovokatori angkatan laut Belanda yang berjumlah 3.000 serdadu untuk ikut dalam demonstrasi menerapkan Negara Komunis. Bentrokan pun tidak dapat di hindari, Namun pemerintah Belanda dapat meredamnya dengan menjanjikan perubahan yang luas. Setelah bentrokan ini reda, pemerintah mengambil tindakan terhadap organisasi ISDV. Pemerintah belanda berhasil menangkap Semaoen dan Darsono, sedangkan Sneevliet di usir dari Hindia Belanda (Indonesia) pada bulan desember 1918. ISDV seakan tak berdaya setelah kejadian tersebut. Sneevliet memang telah pergi dari Hindia Belanda (Indonesia), namun ideologi komunis telah melekat di dalam ingatan Semaoen dan juga Darsono.

Setelah keterpurukan ISDV, pada tanggal 23 mei 1920 Semaoen dan Darsono mengganti nama organisasi tersebut menjadi Partai Komunis di Hindia (PKH). Dalam hal ini, Semaoen masih merangkap jabatan sebagai ketua Sarekat Islam Semarang. Abdoel Moeis yang berusaha membersihkan ideologi Komunis mengadakan Kongres Sarekat Islam menjelang akhir 1920. Dalam kongres tersebut, yang dibahas adalah kedisiplinan partai agar anggotanya tidak merangkap jabatan di organisasi politik lainnya. Hal ini tentu saja membuat anggota yang tergabung dalam organisasi PKH menolak gagasan tersebut. Hingga pada pertengahan februari 1923, Sarekat Islam mengganti namanya menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) serta melakukan pemecatan kepada Semaoen dan kawan-kawan yang tidak sepakat dengan gagasan pendisiplinan tersebut. Akibat diberlakukannya disiplin partai, jumlah anggota SI merosot drastis. Orang-orang yang di pecat dari PSI lalu membentuk organisasi yang bernama Sarekat Rakyat (M. Nasruddin Anshoriy Ch., Bangsa Gagal: Mencari Identitas Kebangsaan , hal 108 : 2008). Hubungan Sarekat Rakyat dan PKH semakin erat karena memiliki ideologi yang sama, maka  pada tahun 1924 secara resmi PKH diganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).


Kepemimpinan PKI kala itu telah beralih dari Alimin-Musso kepada Aliarcham dan Sardjono. Hal ini dikarenakan pemimpin yang lebih senior tidak bersedia memimpin PKI. Pada tahun 1924 pemerintah Hindia belanda memperketat pengawasan dan mempersempit aktivitas para tokoh-tokoh partai. Pada akhir Desember 1924 PKI membuat keputusan untuk melakukan pemberentokan dengan cara melakukan pemogokan. Namun rencana PKI dapat dikalahkan dengan mudah, hal ini yang membuat PKI harus bergerak di bawah tanah karena semakin ketatnya pemerintah Belanda mengawasi partai-partai di Indonesia. Pada tahun 1925 Darsono di usir dari Indonesia,Aliarcham di asingkan ke Digul, sedangkan Musso, Alimin dan Tan malaka harus menyingkir ke luar negeri. Para pemimpin PKI yang masih bebas mulai mengadakan rapat membahas tentang keadaan PKI yang mulai terancam. Dalam rapat inilah menjadi awal pemberontakan PKI untuk mendirikan Negara Komunis di Indonesia. Pemberontakan ini akan dimulai pada tanggal 18 Juni 1926.(G30S-PKI.COM)

 Awal pemberontakan PKI tahun 1926 memang tidak tercium oleh pemerintah Belanda, Namun pemerintah Belanda pada bulan Januari mencoba menangkap Musso, Budi Sutjitro dan Sugono. Sebelum berhasil ditangkap, tokoh-tokoh PKI tersebut telah melarikan diri ke Singapura dan berkumpul dengan tokoh PKI lain yang telah lebih dahulu meninggalkan Indonesia. Alimin dan tokoh yang baru datang menyampaikan hasil rapat pada bulan Desember tentang pemberontakan yang akan dilakukan kepada pemerintah Belanda. Namun beberapa tokoh PKI salah satunya Tan Malaka menolak rencana tersebut. Hal ini dikarenakan PKI belum kuat mengakar pada masyarakat Indonesia. Namun gagasan Tan Malaka tidak disetujui oleh Alimin dan Musso. Pada bulan November, pemberontakan terjadi serentak di beberapa daerah seperti Jakarta, Jatinegara, Tangerang, Banten, Bandungdan juga Surakarta. Kemudian terjadi kembali pemberontakan di Sumatra Barat pada awal tahun 1927. Namun karena kurangnya koordinasi, maka pemberontakan ini mengalami kegagalan. Semaoen yang panik dan frustasi merapat kepada Bung Hatta. Akibat pemberontakan PKI ini, banyak warga yang terbunuh oleh pemerintah Belanda yang telah marah besar atas pemberontakan ini. Bahkan warga yang tidak terlibat pun ikut menjadi sasaran kemarahan pemerintah Belanda. Di tahun 1927 inilah pemerintah Belanda menyatakan bahwa PKI adalah organisasi terlarang.

            Setelah kekalahan serta dilarangnya PKI oleh pemerintahan Belanda, PKI hanya bias bergerak di bawah tanah. Hal ini dikarenakan banyaknya pemimpin PKI yang di buang oleh pemerintah Belanda. Pada tahun 1935, Musso yang di asingkan pemerintah Belanda kembali ke Indonesia. Musso kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan kebangkitan PKI kembali. Seperti strategi mereka dulu, Musso menggerakan kader PKI untuk menyusup kedalam organisasi lain. Hingga pada tahun 1948, pemberontakan PKI kembali terjadi. Hal ini dikarenakan perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda yang menghasilkan kesepakatan yang sangat merugikan Indonesia karena dipersempitnya wilayah Indonesia. Karena dampak perjanjian itu adalah di turunkannya Amir Syarifudin dari jabatannya di kabinet dan di gantikan kabinet Hatta. Amir Syarifuddin yang merupakan aktivis PKI meluapkan kekecewaannya dengan cara membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) tanggal 28 juni 1948. FDR berencana melakukan kudeta atas pemerintah dengan cara melakukan aksi terror, propaganda anti pemerintah, pemogokan dan melakukan adu domba antar anggota pejabat militer. FDR dan PKI menginginkan  hancurnya NKRI dan menggantinya dengan ideologi Komunis. Pemberontakan ini terjadi di Madiun  tanggal 18 September 1948. Pemberontakan ini memperparah keadaan bangsa Indonesia di karenakan anggota militer yang sedang menghadapi agresi militer Belanda. Rakyat Indonesia menjadi benci dengan PKI di karenakan anggota PKI yang nekat membunuh para alim ulama dan beberapa tokoh penting. Dalam perang melawan PKI, anggota TNI dan Polri berhasil membunuh Musso yang mendalangi pemberontakan ini. Sedangkan Amir Syarifuddin dan beberapa pejabat lainnya di jatuhi hukuman mati, hukuman yang pantas untuk para penghianat.(sejarahlengkap.com)

            Keberadaan PKI tidak berhenti sampai disini. Setelah vakum dari dunia politik, PKI bangkit dengan wajah baru. Mereka mendukung  kebijakan–kebijakan Presiden Soekarno yang menentang keras kolonialisme. Tampil dengan pemimpin baru, Dipa Nusantara Aidit memimpin dengan semangat membara hingga mendapat simpati rakyat yang cukup besar bahkan sampai ratusan ribu. Namun PKI sempat redup karena aksinya melakukan pemogokan. Namun di tahun 1955 PKI berhasil menduduki urutan keempat dalam pemilu. Hal ini dikarenakan partai-partai besar yang sibuk mencari suara di pusat, sedangkan PKI berhasil mengambil suara dari para rakyat di daerah pelosok. PKI terus menunjukan prestasinya sehingga mendapat kepercayaan rakyat. Pada tahun 1960 PKI merasa di atas angin karena Presiden Soekarno membuat konsep NASAKOM (Nasionalis, Agama , Komunis), Sehingga ideologi Komunis dapat terlembagai. PKI semakin merapat ke Soekarno dan menyusup ke dalam pemerintahan.

Soekarno dan D.N. Aidit

            Pada perkembangannya, PKI menginginkan agar para buruh dan tani di persenjatai. TNI AD merasa curiga dengan keinginan PKI yang takut akan disalahgunakan jika di setujui. Karena ketidakpuasan dengan beberapa kebijakan Soekarno, PKI merencanakan sebuah pengkhianatan. Pada tanggal 30 September 1965 dini hari, PKI di bawah pimpinan D.N Aidit dan Syam Kamaruzzaman melakukan pembunuhan berencana terhadap 7 Jendral yang menjadi Pahlawan Revolusi Indonesia. Aksi pembantaian di lubang buaya menewaskan 6 Jendral TNI AD, dan satu perwira menengah. Seorang Jenderal yang menjadi target penculikan yaitu Jenderal A.H Nasution berhasil selamat dari gerakan tersebut.

            PKI yang melakukan pembantaian di beberapa daerah, membuat citra PKI menjadi semakin Buruk. A.H Nasution yang berhasil lolos dari pembantaian mulai mengatur siasat dan menggerakan Presiden Soeharto dari balik layar. Soeharto dengan memimpin TNI AD mengambil tindakan tegas dengan menghancurkan organisasi PKI karena dinilai berbahaya bagi Indonesia. Setelah perjuangan panjang dan mendapat kemenangan melawan PKI, Presiden Soeharto melakukan pembersihan PKI sampai ke akar-akarnya pada tahun 1966. Untuk mencegah munculnya kembali ideologi Komunis, pemerintah mengeluarkan tap MPRS Nomor 25 tahun 1966 tentang pembubaran PKI yang terus berlaku hingga saat ini. Selain mengeluarkan tap MPRS Nomor 25 tahun 1966, pelaku penyebaran ideologi Komunis dapat ditindak  dengan dasar Undang-Undang Nomor 27 tahun 1966 tentang perubahan pasal 107 KUHP.(netralnews.com)

         Itulah sejarah singkat lahir dan berkembangnya Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai kehancurannya. Sejarah tentang penghinatan PKI dan pemberontakan PKI sekarang sudah tidak kita temui di bangku sekolah karena sudah dihapuskan. Maka dalam artikel ini kami sengaja mengingatkan kepada generasi muda bahwa sejarah ini harus dan wajib diketahui, agar kita faham kisah masa lalu kita dan menjadi pelajaran berharga dimasa-masa yang akan datang.

Penulis : Risky Arisandi

Editor   : Argha Sena

Sumber : 

tirto.id

G30S-PKI.COM

sejarahlengkap.com

netralnews.com


Monday, November 2, 2020

Menanti Satria Piningit ke-7 Versi Ramalan Ronggowarsito | Pegawai Jalanan



Ronggowarsito, sosok pujangga Indonesia yang lahir di tanah jawa pada Senin Legi, 15 Maret 1802. Salah satu karya besarnya bernama Serat Kalatidha.  

Bakat menulis Ronggowarsito diperoleh dari Raden Tumenggung Sujanaputra, yang juga terkenal dengan sebutan Pangeran Karanggayam, pujangga Kraton Pajang, yang pernah mengarang kitab bernama Nitisruti.

Selain itu kegemaran membaca Ronggowarsito diperoleh dari R.T. Sastranagara, kakeknya yang juga seorang pujangga kraton Surakarta.

Semasa hidupnya dari 1826 hingga 1873, Ronggowarsito telah berhasil menulis 60 judul buku dengan beragam bahasa. Kebanyakan tulisannya berisi tentang falsafah, kebatinan, lakon-lakon wayang, cerita Panji, Dongeng, babad, sastra, bahasa, kesusilaan, adat istiadat, pendidikan, primbon, ramalan, dan sebagainya.

Dalam Ramalannya Ronggowarsito menceritakan tentang bakal datangnya 7 Satria Piningit yang akan muncul sebagai tokoh di kemudian hari dan memimpin sebuah wilayah seluas “bekas” kerajaan Majapahit. Ketujuh satria yang dimaksud oleh Ronggowarsito tersebut masing-masing bernama: Satria Kinunjara Murwa Kuncara, Satria Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar, Satria Jinumput Sumela Atur, Satria Lelana Tapa Ngrame, Satria Piningit Hamong Tuwuh, Satria Boyong Pambukaning Gapura, dan Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu.

Dari ketujuh Satria yang digambarkan oleh Ranggawarsita itu beberapa kalangan lalu menafsirkannya sebagai berikut:

1. SATRIA KINUNJARA MURWA KUNCARA

  • Tokoh pertama ini digambarkan oleh Ronggowarsito adalah sosok pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjara), pemimpin ini kelak akan membebaskan negeri ini dari belenggu keterpenjaraan (penjajah) dan tokoh ini menjadi sangat terkenal sebagai sosok pemimpin yang tersohor di seluruh jagad (Murwa Kuncara). Banyak tokoh menafsirkan bahwa sosok yang dimaksud oleh Ronggowarsito ini adalah Presiden Soekarno. Berkuasa dari 18 Agustus 1945 – 12 Maret 1967.

2. SATRIA MUKTI WIBAWA KESANDHUNG KESAMPAR

  • Tokoh kedua adalah seorang pemimpin yang dikisahkan memiliki harta yang berlimpah (Mukti), disamping itu, sosok pemimpin ini juga memiliki wibawa yang besar/ditakuti (Wibawa). Namun sosok pemimpin ini akan mengalami keadaan yang selalu dipersalahkan, serba dikaitkan dengan segala hal buruk/kesalahan (Kesandhung Kesampar).  Banyak orang lalu menafsirkan tokoh tersebut adalah Presiden Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua, pemimpin Orde Baru. Berkuasa dari 12 Maret 1967 – 21 Mei 1998.

3. SATRIA JINUMPUT SUMELA ATUR

  • Tokoh ketiga yang digambarkan oleh Ronggowarsito adalah seorang pemimpin yang diangkat/terpungut keadaan (Jinumput). Jadi sosok ini diangkat jadi pemimpin karena situasi pada saat itu. Namun masa kepemimpinan tokoh ini hanya sebentar, sekadar penyambung di masa jeda atau transisi atau sekadar menyelingi saja (Sumela Atur). Banyak orang pun menafsirkan tokoh yang dimaksud adalah Presiden B.J. HABIBIE. Presiden Indonesia ketiga. Berkuasa dari 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999.

4. SATRIA LELONO TAPA NGRAME

  • Satria Piningit keempat digambarkan sebagai sosok yang suka mengembara / keliling dunia (Lelana). Tokoh keempat ini juga digambarkan memiliki tingkat kejiwaan yang cukup Religius / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh ini oleh banyak orang ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia keempat. Berkuasa tahun 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001.

5. SATRIA PININGIT HAMONG TUWUH

  • Tokoh kelima ini muncul dengan membawa kharisma keturunan dari orang tuanya (Hamong Tuwuh). Dan tokoh ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri. Menjadi Presiden Republik Indonesia dari 23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004.

6. SATRIA BOYONG PAMBUKANING GAPURA 

  • Tokoh keenam ini digambarkan sebagai seseorang yang menempati puncak Kepemimpinannya melalui tahapan berjenjang (Boyong), berpindah tempat (sebelumnya pernah menjabat). Untuk itu, tokoh keenam ini dapat ditafsirkan sebagai mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo. Soesilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai presiden setelah “Boyong” (pindah tempat) dari seorang menteri lalu menjadi Presiden. Dan Presiden Joko Widodo “Boyong” dari Walikota, Gubernur, lalu Presiden. Tokoh keenam ini akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan spiritualis sejati seorang satria piningit, yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berkuasa dari 20 Oktober 2004 – 20 Oktober 2014 dan Presiden Joko Widodo menjadi Presiden Indonesia dari 20 Oktober 2014 – sekarang.

7. SATRIA PINANDHITA SINISIHAN WAHYU 

  • Tokoh ketujuh digambarkan oleh Ronggowarsito sebagai sosok pemimpin yang sangat Religius. Sampai-sampai digambarkan seperti seorang Resi Begawan (Pinandhito) dan tindakannya selalu berdasar pada hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Mungkinkah setelah presiden Joko Widodo muncul Satri Pinandhita Sinisihan Wahyu? Yang bakal membawa Indonesia menjadi negara yang “Gemah Ripah Loh Jinawi”. Siapa Satria Piningit dimaksud? kita tunggu saja kehadirannya.

Demikian gambaran 7 sosok pemimpin Indonesia yang banyak orang mengatakan masuk dalam enam kriteria Ramalan Ronggowarsito 2 abad lalu. Untuk kriteria Satria Piningit ke-7, sosok tersebut belum hadir di tengah kita. Entah benar atau tidaknya ramalan itu, setidaknya Ramalan Ronggowarsito ini telah memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia. 

Sumber: suaramerdeka.com

Saturday, September 19, 2020

Sejarah Pahit Orang Jawa di Suriname, Dianggap Bodoh dan Mudah Ditipu | Pegawai Jalanan



Siapa yang tidak kenal dengan Suriname? Suriname adalah sebuah negara yang berada di Amerika Selatan. Di Suriname, bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari di negara bekas jajahan Negara Belanda ini. Bahkan warga negara di sana banyak yang merupakan keturunan Jawa. Meski bahasa Jawa sudah menjadi bahasa sehari-hari warga di sana, tapi bahasa nasional di Suriname adalah bahasa Belanda.  Luas wilayah Suriname sekitar 163.265 kilometer persegi. Jumlah penduduknya sekitar 563.402 jiwa sesuai data tahun 2017.

Suriname merupakan Negara Republik yang terletak di benua Amerika, tepatnya di Amerika Selatan. Dilansir dari situs resmi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Suriname sudah ada dan dikenal sejak abad ke-15. Saat itu, bangsa Eropa berlomba-lomba untuk menguasai Guyana, yang merupakan nama awal Suriname. Wilayah Suriname merupakan suatu dataran luas yang letaknya di antara Samudera Atlantik, Sungai Amazon, Rio Negro, Cassiquiare dan Orinocco.


Mulanya dataran luas itu diberi nama Guyana Karibania oleh para kartografi. Arti Guyana adalah dataran luas yang dialiri banyak sungai. Karibania berasal dari kata Caribs yang merupakan nama penduduk pertama. Suriname berbatasan dengan Guyana Perancis di sebelah timur dan Guyana di sebelah barat. Di sebelah selatan berbatasan dengan Brazil dan Samudera Atlantik di sebelah utara. Dilansir dari Encyclopaedia Britannica (2015), Suriname adalah tanah jajahan Belanda yang memperoleh kemerdekaan pada 25 November 1975. Suriname juga pernah dijajah oleh Spanyol, Inggris, Perancis, hingga Portugal.

Sampai awal abad ke-19 Suriname diwarnai bunga-bunga etnis.

Penduduk aslinya sendiri, orang Amerindian, ditambah lagi oleh golongan Bush Negro.

Terakhir, orang-orang Eropa dan keturunannya yang mereka namakan orang Kreol.

Orang Kreol inilah yang kemudian mendominasi populasi Suriname hingga kini.

Tadinya, Kreol hanya sebutan untuk orang Eropa yang dilahirkan di Amerika Selatan atau India Barat, tapi kemudian berkembang menjadi sebutan untuk orang asing yang dilahirkan di Suriname.

Kemudian kedatangan sekitar 32.000 emigran Jawa di Suriname menjadi tonggak awal lahirnya variasi etnis Jawa di tengah-tengah populasi Suriname yang sudah beraneka ragam.

Hingga 1972, populasi orang Jawa sudah mencapai 58.863 jiwa (sekitar 13%) dari 348.903 penduduk Suriname.

Dengan jumlah itu, orang Jawa menempati urutan ketiga, setelah India (38%) dan orang Kreol (31%).

Walau demikian, dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa tidak lebih dianggap suku minoritas.

Pada saat itu, hanya segelintir orang Jawa di sana yang tahu baca-tulis.

Rasa tertekan ini semakin terasa akibat sikap dan tegur sapa kasar golongan lain yang menganggap orang Jawa bodoh, pandir dan mudah ditipu.

Ini menyebabkan semakin ketatnya kelompok Jawa ke dalam isolasi yang kental sebagai reaksi kelompok minoritas.

Rasa berlainan ras juga timbul dengan sadar dalam diri orang-orang Jawa itu.

Pergaulan sesama orang Jawa tetap dipelihara dengan derajat pemakaian bahasa Jawa yang ngoko dan krama.

Slametan, sesajen, pesta tayub, joget, wayang, orkes terbang, ludruk, tetap menjadi titik sentral dalam aktivitas mereka.

Orang Kreol yang suka mengejek orang Jawa, 'digelari' mereka buto, raksasa kasar dan jahat.

Sedangkan orang India, yang gigih berdagang dan pelit, digelari Anoman, monyet sakti dari kisah Ramayana atau sebagai manungsa ambune kaya setan, manusia yang baunya seperti setan.

Bukan itu saja. Meski jauh dari Indonesia, orang Jawa Suriname tetap merasa diri bagian dari Indonesia.

Dalam setiap pertemuan, termasuk pesta perkawinan dan sunatan, lagu Indonesia Raya dikumandangkan keras-keras dan bendera merah-putih dikibarkan.

Tidak hanya lewat sosok bendera, bahkan sampai ikat kepala pun dibuat berdwiwarna. Demikian catatan Dr. Yusuf Ismael.

Suriname berasal dari kata Surinamo, yaitu nama sungai di sana yang diberikan oleh penduduk asli Amerindian (Indian Amerika).

Tapi beberapa penulis Inggris ada yang mengklaimnya berasal dari kata Inggris, surrey dan ham, yang kira-kira berarti  tanah milik Lord Surrey.

Daerah di pantai utara Amerika Selatan yang luasnya hampir sebesar Pulau Jawa ditambah Madura itu, tadinya-bernama Guyana.

Akibat kolonialisme kemudian terpecah menjadi tiga, Guyana Prancis di Timur, Suriname di Tengah dan Guyana di Barat.

Tanah luas Suriname aslinya milik orang-orang Amerindian dari kelompok suku bangsa Arawak, Carib, Wama, Trio dan Oajana.

Baru pada akhir abad ke-15 Suriname didatangi orang-orang Spanyol dan diklaim sebagai wilayah Spanyol pada tahun 1593.

Pada tahun 1667, orang-orang Belanda di bawah pimpinan Abraham Crynsen datang ke Suriname dan mengusir orang-orang Inggris dan Portugis.

Tahun 1682 wilayah Suriname dihibahkan kepada VOC. Gubernur Belanda di Suriname, Cornelis van Aersen kemudian mendatangkan emigran dari Eropa.

Hasilnya, puluhan keluarga Prancis menetap di Suriname. Tibanya emigran Prancis di Suriname mengakibatkan pemerintah Prancis mulai melirik Suriname.

Namun baru 23 tahun kemudian, yaitu tahun 1712, Prancis berhasil merebut Suriname dari Belanda.

Akibataya timbul kekacauan di perkebunan-perkebunan Suriname. Ini dimanfaatkan oleh para budak Negro untuk melarikan diri kabur masuk hutan.

Para Negro inilah yang kemudian berhasil mendirikan semacam suku tersendiri, Bush Negro, Negro hutan atau biasa juga disebut Maroon.

Mereka ini sering membuat keributan. Para penguasa Prancis kelabakan menghadapinya.

Akhimya Belanda yang berhasil menundukkan Bush Negro dan memaksa mereka mengakui pemerintahan kolonial Belanda.

Karena VOC sejak tahun 1791 sudah dibubarkan, maka Suriname langsung di bawah kontrol pemerintah pusat Belanda.

Pemerintah kembali membenahi perkebunan-perkebunan Suriname. Budak-budak pun didatangkan lagi, meski sejak 1608 perdagangan budak dinyatakan terlarang.

Walau kemudian Suriname sempat jatuh ke tangan Inggris, tapi kemudian diserahkan kembali kepada Belanda.

Di bawah undang-undang baru Belanda, Suriname dinyatakan sebagai negara koloni Belanda, sehingga ada yang menyebutnya Guyana Belanda.

Di bawah panji negara koloni Belanda ini juga produksi perkebunan di Suriname meningkat dengan pesatnya.

Sejak awal abad ke-19 produknya selain gula juga mencakup kopi, coklat dan nila.


Sumber : https://nakita.grid.id/ dan https://www.kompas.com/

Asa Orang Jawa Suriname Ambyar di Nagara Asal | Pegawai Jalanan



Di sudut ruang pamer Erasmus Huis, Jakarta, di mana sekira 60 foto orang Jawa-Suriname dipamerkan dari 20 September-15 November 2014, film pendek berjudul Javaanse Jongen: Its Way of Life diputar berulang-ulang. Soundtrack-nya lagu pop Jawa-Suriname berjudul “Lagu Tentrem”, dinyanyikan Stanlee Rabidin yang juga tokoh sentral film tersebut. Dalam pameran ini juga tersedia belasan buku mengenai Jawa-Suriname yang bisa dibaca pengunjung.

Tahun 2015, genap 125 tahun migrasi orang Jawa ke Suriname, koloni Belanda. Mereka menjadi pekerja kontrak di perkebunan sebagai pengganti budak yang dilarang tahun 1863. Sebelum mereka, pekerja kontrak berasal dari India-Britania, yang banyak ulah dan menuntut upah besar.

Gelombang pertama imigran dari Jawa datang pada 1890. Mereka, berjumlah seratus orang Jawa, ditempatkan di Marienburg, perkebunan tebu terbesar di Suriname. Periode 1890-1916, rerata orang Jawa datang ke Suriname berjumlah 700 orang per tahun. Jumlahnya berlipat pada 1916 setelah pekerja kontrak India-Britania tak lagi dipakai.

Pekerja kontrak dari Jawa meneken kontrak kerja selama lima tahun. Gajinya 60 sen untuk pekerja pria dan 40 sen untuk pekerja perempuan. Setelah kontrak selesai, mereka diizinkan pulang ke Jawa. Jika ingin menetap, mereka diberi uang 100 gulden dan sepetak tanah.

Kehidupan kuli kontrak mengenaskan. Pemerintah tak menyediakan sarana pendidikan. Pemerintah khawatir, jika mereka menjadi pandai, mereka keluar dari perkebunan dan bekerja dikota.

Johannes Coenraad Kielstra, mantan wakil jaksa di Hindia Belanda yang jadi gubernur Suriname (1933-1944), membuat kebijakan baru terhadap pekerja kontrak. Dia ingin membuat Suriname menjadi lebih berasa Asia. Imigran yang datang tidak ditempatkan langsung di perkebunan, melainkan disiapkan desa-desa khusus. Di desa ini, para imigran, termasuk dari Jawa, berhak membuat aturan sipil sendiri dan mengembangkan budaya asli mereka.

Hingga jelang Perang Dunia II, jumlah imigran dari Jawa mencapai 30 ribu orang. Tercatat 7.684 orang kembali ke Jawa ketika perang berakhir.

Gema kemerdekaan Indonesia sampai ke Suriname. Muncul keinginan kembali ke Jawa karena mereka merasa seperti di pengasingan. Namun mereka juga dihadapkan pada masalah kewarganegaraan. Pemerintah Belanda memberi waktu dua tahun kepada orang Jawa untuk memilih kewarganegaraan: warganegara Indonesia atau Belanda.

Situasi politik Suriname pun mendukung hal ini. Partai politik bisa dibentuk berdasarkan etnis. Orang Jawa membentuk dua partai: Persekutuan Bangsa Indonesia Suriname (PBIS) dan Kaum Tani Persatuan Indonesia (KTPI).

KTPI, dipimpin Iding Soemita, memiliki komitmen memperbaiki nasib orang Jawa di Suriname dan menganjurkan anggotanya menjadi warganegara Indonesia. Sementara PBIS, dengan pentolannya, Salikin Hardjo, menganjurkan pendukungnya memilih warganegara Belanda. Ketika Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949, Salikin ditunjuk sebagai wakil masyarakat Jawa di Suriname.

Pendirian Salikin berubah setelah pengakuan kedaulatan. Dia mendirikan Jajasan ke Tanah Air (JTA) pada Mei 1951, yang mendorong orang Jawa Suriname kembali ke Jawa. Dalam waktu singkat dia berhasil menghimpun 2.000 keluarga.

Pemerintah Indonesia menerima permintaan JTA dengan syarat repatriasi tidak ditujukan ke Jawa karena sudah padat. Pemerintah memberi lahan seluas 2.500 hektar di daerah Tongar, sebelah utara Pasaman, Sumatra Barat. Mereka tiba di Tongar dengan kapal Lengkoeas pada 1954 dan mendirikan desa.

Asa membangun kehidupan yang lebih baik di negeri asal, buyar. Mereka menghadapi kesulitan keuangan. Tanah juga sulit diolah. Beberapa dari mereka akhirnya memilih kembali ke “tanah pengasingan”.

“Hanya hutan. Tak ada rumah, tak ada tempat buang hajat. Hanya barak besar yang disediakan. Setiap keluarga diberi jatah 4x4 meter. Tahun 1959, kami pindah ke Padang, sebab keadaan di sana tidak aman. Dan bulan Oktober 1964, kami memutuskan pulang kembali ke Suriname,” ujar Roemdjinah Wagina Soenawi, seperti dikutip Yvette Kopijn dan Harriette Mingoen dalam Stille Passanten: Levensverhalen van Javaans-Surinaamse Ouderen in Nederland.

Karena kesulitan itu, Salikin kena hujat. Orang Jawa di Suriname pun memutuskan tidak pulang ke Indonesia dan memilih menjadi warganegara Belanda.

Sumber : https://historia.id/


Saturday, September 12, 2020

Kebiadaban Komunisme Yang Harus Kita Ketahui | Pegawai Jalanan

Galeri Pembantaian Rezim Pol Pot Komunis

Sejarah mencatat ideologi ini melakukan pemberontakan/kudeta di 75 negara, negara bagian, pulau, dan kota sepanjang masa 69 tahun (1918-1987); berhasil 28, gagal di 47 tempat. Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme-Hoisme-Aiditisme-PolPotisme ini mendapat kesempatan berkuasa di dunia selama 74 tahun (1917-1991) di 28 negara.


Pemberontakan di 75 negara itu umumnya satu kali saja. Komunis Indonesia pegang rekor dunia: tiga kali berontak dan kudeta, 1926, 1948, dan 1965. Ketiga-tiganya gagal. Pemberontakan terpanjang berlangsung di Malaysia: 40 tahun, dan setiap tahun makan korban dari kedua pihak 200 orang.

Dasar ideologi ini diletakkan oleh dua anak muda, Karl Marx (30) dan Friedrich Engels (28), dalam buku Manifesto Komunis (1848). Tujuan ideologinya, "Merebut kekuasaan dengan kekerasan, menggulingkan seluruh kekuatan sosial yang ada." Tujuan ideologi yang digariskan pada abad 19 itu tetap berlaku, tidak pernah diralat sampai abad 21 ini.

Dalam perebutan kekuasaan dengan kekerasan itu apa pedoman praktisnya? Untuk bisa berhasil (Colegrove: 1957, Schwarz: 1972, Zagladin: 1973, Conquest: 1990, Nihan: 1991) ada 18 butir patokan yang menjadi tuntunan praktis: berdusta, memutar balik fakta, memalsukan dokumen, memfitnah, memeras, menipu, menghasut, menyuap, intimidasi, bersikap keras, membenci, mencaci maki, menyiksa, memerkosa, merusak-menyabot, membumi hangus, membunuh sampai membantai. Aktivis partai mulai dilatih berdusta sampai ahli, akhirnya membunuh dan membantai. Bagi orang komunis berdusta itu bukan dosa.

Ringkasnya, dalam satu kalimat pegangan aktivis partai adalah tujuan menghalalkan cara. Apa saja cara adalah halal, asal tujuan bisa tercapai. Angka 18 di atas belum total mencakup semua cara bisa yang dilakukan aktivis partai. Dalil "tujuan menghalalkan cara" ini dipatuhi aktivis partai, dan sangat memudahkan kerja mereka.

Dengan tujuan begitu jelas dan teknis cara mencapainya terperinci, Marxis-Leninis itu bergeraklah dengan semangat tinggi. Selama kurun 1917-1991 itu Partai Komunis membantai 120 juta manusia di 76 negara sehingga rata-rata 4.500 orang sehari selama 74 tahun (Courtois: 2000, Chang & Halliday: 2006).

Dua jenis sebab kematian itu, pertama, kegagalan program ekonomi yang  menyebabkan rakyat secara massal mati kelaparan (terutama Rusia Soviet dan RRC), dan kedua, pembantaian partai terhadap rakyat antikomunis. Yang dibunuh itu bukan bangsa lain, tapi bangsanya sendiri, yang tidak seideologi.

Dalam sejarah dunia, ideologi yang menjagal jutaan manusia adalah Nazisme. Ideologi Partai Nazi yang dipimpin Adolf Hitler (1934-1945) ini membunuh 11 juta orang, terutama orang Yahudi dari berbagai negara. Kejahatan dahsyat ideologi Nazisme ini ternyata cuma 1/10 kebiadaban ideologi komunisme.

Musnahnya manusia dalam jumlah besar, antara lain, karena penyakit menular. Tapi dalam sejarah dunia tak ada penyakit menular yang pernah membunuh manusia 4.500 orang sehari selama 74 tahun berturut-turut. Kini orang-orang KGB (Komunis Gaya Baru) sebagai penerus PKI yang sudah bubar, dengan dalih hak asasi manusia, gigih mengusung ideologi bangkrut yang lebih ganas ketimbang penyakit menular itu.

Sesudah sekitar 70 tahun komunisme berkuasa di 28 negara, ternyata mereka gagal memenuhi janji memakmurkan rakyat dengan ideologi Marxisme-Leninisme itu. Pemimpin partai, setelah memegang kekuasaan, ternyata lebih korup dan menindas rakyat ketimbang pimpinan negara nonkomunis. Seperti rumah-rumahan kartu domino ditiup kipas angin, negara-negara komunis itu runtuh bergeletakan. Mereka menyatakan meninggalkan ideologi itu.

Puncaknya pada Desember 1991 ketika Presiden Soviet Rusia Boris Yeltsin membubarkan Partai Komunis Soviet Rusia, partai komunis tertua di dunia. Dunia gempar. Diumumkan bahwa mereka tidak lagi memakai ideologi itu sebagai asas negara, yang dinyatakan sebagai ideologi bangkrut. Presiden Boris Yeltsin (dulu ketua partai) telah menyelamatkan 200 juta rakyatnya dari cengkeraman ideologi ganas itu.

RRC, Vietnam, Korea Utara, dan Kuba terguncang. Tapi RRC dan Vietnam licik. Mereka terang-terangan mengkhianati ekonomi sosialis-komunis dan mempraktikkan ekonomi kapitalistik, tapi merek kantornya tetap merek kantor komunis. Kedua negara ini gigih tak malu menyebut diri sebagai negara komunis, walaupun pengkhianat besar dasar ideologinya. Akibatnya, RRC dan Vietnam jadi makmur. Korea Utara dan Kuba tidak berkhianat sehingga tetap sengsara.

Bagaimana Komunis Gaya Baru di Indonesia? Kita 25 tahun lebih cepat bertindak. Muak dengan tiga kali berontak dan kudeta berdarah (1926, 1948, 1965), PKI dibubarkan dan terlarang pada 1966. Dibanding dengan apa yang dilakukan Boris Yeltsin pada 1991, kita 25 tahun lebih sigap bertindak.

Diukur dari cara mendendam, KGB membuat Indonesia jadi bangsa kecil. KGB tahu bahwa Marxisme-Leninisme-Aiditisme sudah bangkrut total, tapi mereka bergerak terus karena ingin membalas dendam. Ini yang mereka latihkan-ajarkan kepada generasi muda yang dikaburkan matanya terhadap fakta sejarah.

Gembar-gembor KGB adalah mereka dizalimi, tiba-tiba dibunuhi pada Oktober-November-Desember 1965 tanpa sebab. Lebih dahulu Aidit (1923-1965) melakukan taktik mengatakan PKI dizalimi dengan "provokasi Hatta" tentang pemberontakan Madiun September 1948. Apa yang dilakukan KGB dan Aidit berbentuk taktik serupa, yaitu dusta sangat besar.

Aidit menghapus/mengaburkan sejarah pembantaian oleh Moeso pada Oktober-November-Desember 1948 di Madiun, Soco, Cigrok, di 24 kota dan desa di sekitar Madiun, dengan sasaran ratusan kiai, santri, pamong praja, dan rakyat non-PKI. Kenapa Moeso menjadi begitu kejam?

Moeso melakukan pembantaian itu meniru Stalin (1925-1953). Moeso melarikan diri ke Rusia selama 21 tahun (1927-1948), sesudah gagal berontak 1927. Apa yang di Rusia diajarkan Stalin kepada Moeso, dipraktikkannya sesudah dia memproklamasikan Republik Soviet di Madiun, 18 September 1948.

Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu algojo PKI menggergaji badannya sampai putus dua, bergelimang darah-usus-daging, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

Dubur warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan berdiri di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Yel-yel PKI di Madiun: "Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati! Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati!"

Meniru PKUS yang di Rusia Soviet menghancurkan gereja dan masjid, PKI membakar dua masjid di kawasan Kembang Kuning, Surabaya (Masjid Rahmat, 1948), dan Masjid Agung Trenggalek (berumur 205 tahun, Maret 1949).

Kebiadaban PKI 1948, kemudian teror 1963-1965 tercatat dalam memori umat non-PKI. Sehingga ketika pembunuhan enam jenderal (Gestapu PKI) yang disusul dengan Kudeta 1 Oktober 1965 Dewan Revolusi pimpinan DN Aidit, perebutan kekuasaan yang gagal dan melarikan diri itu, umat bereaksi keras, didukung TNI AD. Terjadilah masaker itu.

Dalil sejarah yang sangat pahit adalah di mana pun bila Partai Komunis sukses merebut kekuasaan, mereka menjagal rakyat antikomunis. Tapi bila gagal kudeta, merekalah yang dijagal. Di Indonesia, secara pahit, PKI yang dimasaker. Jumlah korban masaker paling banyak 400 ribu orang (Matthew White: 2012). Tapi dalam berbagai publikasi dilebih-lebihkan sampai 1-2 juta korban.

Hal inilah yang dieksploitasi KGB terus-menerus. Rumus yang mereka gunakan adalah tiba-tiba, "ujug-ujug", dizalimi, dibunuhi tanpa sebab. Tentu ini tak masuk akal sehat. PKI yang memulai semua itu, awal sekali pada 1926, kemudian pada 1948 (September-November) dan 1963-1964-1965.

PKI yang memulai rangkaian teror, yang menjadi sebab masaker itu. Gerakan preemtif rakyat anti-PKI disebabkan dan dimulai oleh PKI sendiri. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia disebabkan dan dimulai oleh PKI sendiri. Ini dielakkan dan dengan semangat berdusta besar, bahkan tidak disebut sama sekali.

Sumber : https://republika.co.id/berita/nvfco87/kebiadaban-komunisme

Friday, July 17, 2020

Nasib Tragis PKI Akibat Aksi-Aksi Sepihak Mereka | Pegawai Jalanan


Sejak lama NU antipati terhadap PKI. Menurut Greg Fealy dan Katharine McGregor dalam “Nahdlatul Ulama and the Killing of 1965-66: Religion, Politics, and Remembrance”, dimuat jurnal Indonesia 89, April 2010, sejak didirikan pada 1926, para pemimpin NU secara konsisten menentang komunisme, mencela doktrinnya sebagai ateis, serta cita-cita mengenai kepemilikan kolektif atas kekayaan dan properti sebagai laknat menurut ajaran Islam.
“Tapi anti-komunisme NU, sampai akhir 1940-an, kurang intens dibandingkan rekan agamawan mereka dari kelompok modernis dalam organisasi seperti Muhammadiyah dan Persis,” tulis mereka.
Sikap itu berubah setelah sejumlah kiai NU, yang saat itu tergabung dalam Masyumi, menjadi korban dalam Peristiwa Madiun 1948.
Setelah menjadi partai politik, dalam beberapa isu NU mempertahankan sikap oposisinya terhadap PKI. Antara lain ditunjukkan dengan menolak pelibatan PKI dalam kabinet pada 1953 dan 1956. NU juga memprotes pembukaan Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta, penggunaan tanda gambar “PKI dan orang-orang tak berpartai” dalam pemilu, dan dukungan menteri pertahanan terhadap dipersenjatainya veteran-veteran komunis untuk melawan Darul Islam.
Namun, tak seperti Masyumi, selama 1950-an NU cenderung akomodatif. NU, misalnya, mengutuk pembentukan Front Anti Komunis yang disokong sayap kanan ekstrem Masyumi. Ketika Masyumi menginisiasi acara Muktamar Ulama di Palembang pada 8-11 September 1957, yang menghasilkan rekomendasi mengharamkan komunisme, NU tak bersedia mengirimkan delegasi.
Menurut Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, NU secara politik memang tak setuju dengan keberadaan PKI, tapi banyak elite NU merasa bisa bersanding dengan pihak komunis, ketimbang terhadap kelompok muslim reformis.
PKI sendiri mengulurkan tangan atas kesediaan NU menjalin kerjasama dengan partai nasionalis dan kiri. Pada September 1954, PKI mengirimkan ucapan selamat atas penyelenggaraan Muktamar NU di Surabaya. Bahkan, editorial Harian Rakjat, koran PKI, selalu menempatkan NU di antara “partai-partai demokratik”.
Kekhawatiran NU mencuat setelah PKI meraih peningkatan luar biasa, termasuk di basis-basis NU, dalam pemilu DPRD. “Seusai pelaksanaan pemilu daerah, cabang-cabang NU di daerah lebih memandang PKI, dan bukan Masyumi, sebagai ancaman terbesar mereka,” tulis Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967.
Meningkatnya pengaruh PKI dan kedekatannya dengan Sukarno memaksa NU mengadopsi kebijakan akomodatif dan berpartisipasi dalam semua kabinet dan lembaga di era Demokrasi Terpimpin. Sikap ini mendapatkan kritik dari kelompok militan yang antikomunis seperti M. Munasir, Jusuf Hasyim, Subchan ZE, dan Bisri Syamsuri.
“Berbeda dengan para pemimpin moderat NU yang memandang PKI semata-mata sebagai masalah politik, kelompok militan memandang PKI sebagai ancaman fisik yang membahayakan Islam,” tulis Fealy.
Hubungan NU dan PKI memburuk pada 1960-an ketika PKI mengkampanyekan “aksi sepihak” sebagai upaya melaksanakan reformasi agraria (landreform) yang diamanatkan dalam UU No. 5/1960 atau Undang-undang Pokok Agraria (UUPA).
Pada Oktober 1961, sebulan setelah Panitia Landreform mulai bekerja, Pengurus Besar Syuriah NU menggelar Bahtsul Masail atau forum diskusi untuk membahas masalah agraria. Forum menghasilkan fatwa yang mengharamkan landreform. Alasannya, melanggar himayatul mal (perlindungan properti) yang menjadi salah satu tujuan syariah.
Gita Anggraini dalam Islam dan Agraria menyebut, pengharaman itu bukanlah terhadap program landreform, “tetapi terhadap hal-hal yang mencederai prinsip dasar landreform, karena program landreform itu sendiri mendapat dukungan dari kalangan ulama.” Salah satunya DPR-GR, yang mensahkan UUPA, diketuai KH Zainul Arifin dari NU.
Namun, sebulan kemudian, rapat Dewan Partai menyimpulkan, UUPA “boleh” hukumnya kalau memang diperlukan untuk membantu fakir miskin dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, sedangkan jalan lain tidak ada.
Dalam praktiknya, banyak kiai atau pemilik tanah muslim tak rela kehilangan tanah mereka.
Terkait keengganan tuan tanah muslim, Deliar Noer dalam Partai Islam di Pentas Nasional menekankan perlunya memahami persoalan tanah dalam hubungan dengan wakaf; bahwa tanah bisa dimiliki masyarakat, sedangkan pengelolaannya bisa dilakukan seseorang atau sekelompok orang. Mereka yakin tanah wakaf tak masuk kategori tanah landreform. Namun, kaum komunis punya cara pandang berbeda.
Karena pelaksanaan UUPA berjalan lamban, PKI menggiatkan aksi ofensif melalui aksi sepihak. Selain PNI, aksi ini mendapat perlawanan dari NU, terutama para kiai dan pemimpin Ansor di daerah. Bentrokan, bahkan disertai kekerasan, pun tak terelakkan.
Presiden Sukarno turun tangan dan mengundang partai-partai dalam pertemuan di Bogor, yang menghasilkan Deklarasi Bogor. Namun, bentrokan masih terjadi di sana-sini.
Dalam putusan sidang dewan partai 20 Desember 1964, NU menyatakan siap melaksanakan Deklarasi Bogor. Namun NU juga meminta pelaksanaan UUPA secara konsekuen, “yang di dalamnya mengatur pelaksanaan land reform dan land use dan menjamin hak milik wakaf, waris, dan hak-hak lain yang diatur oleh Agama Islam.
“Mengenai tanah wakaf, jika merupakan tanah hibah palsu akan dikutuk,” ujar Idham Chalid dalam rapat dengan Dewan Pertimbangan Agung (DPA), 19 Januari 1965.
Di jantung kekuatan NU di Jawa Timur, PKI bersikap defensif dan akhirnya menarik diri dari kampanye aksi sepihak. Bagi NU “kemenangan” itu peningkatan kepercayaan diri mereka dalam berhadapan dengan PKI.
Peristiwa 30 September 1965 mencemaskan para pemimpin NU. Beberapa kiai dan tokoh senior NU disembunyikan di tempat yang aman. Sementara yang lainnya, terutama tokoh-tokoh muda militan, pindah ke rumah Wahid Hasyim di Matraman dan Subchan ZE di Jalan Banyumas, Menteng; keduanya di Jakarta Pusat.
Sementara tokoh-tokoh senior bersembunyi, kelompok militan mengadakan pertemuan dengan para pejabat militer, yang dekat dengan Soeharto, yang merebut kembali kendali ibukota keesokan harinya. Pertemuan-pertemuan itu menghasilkan kampanye anti-PKI, termasuk pembentukan Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu (KAP-Gestapu) dan Badan Koordinasi Keamanan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (BKKJNU).
Inisiatif diambil kelompok militan tanpa berkonsultasi dengan Idham Chalid, yang masih bersembunyi, atau Wahab Chasbullah, yang sedang berada di Jombang. “Bahkan jika Idham dan Wahab ada, mereka mungkin tak berdaya menghentikan kelompok militan,” tulis Fealy dan McGregor.
Dengan dua organ itu dimulailah aksi pengerahan massa hingga pengganyangan PKI, dengan persetujuan Angkatan Darat. Yang terparah terjadi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menurut Fealy, ada beberapa faktor penyebab. Yang paling kuat adalah pengaruh psikologis bahwa mereka hanya punya dua pilihan: dibunuh atau membunuh. Mereka juga mengambil pelajaran dari Peristiwa Madiun dan aksi sepihak.
“Aksi kekerasan cenderung lebih banyak terjadi di daerah-daerah yang lebih sering mengalami aksi sepihak,” tulis Fealy.
Kekerasan terhadap PKI mulai berhenti pada Februari 1966.
Persoalan belum rampung karena Presiden Sukarno enggan membubarkan PKI. Tokoh-tokoh senior NU, yang sudah mengambilalih kendali partai, juga masih merapat ke Sukarno.
Namun kedudukan Sukarno terus melemah. NU akhirnya mengakhiri hubungannya dengan Sukarno dan mendukung rezim baru, Soeharto.