Kamis, 02 Desember 2021

AWAL MULA MITOS LARANGAN MENIKAH JAWA DAN SUNDA!!!

        


        Pernahkah kalian mendengar bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya? Ternyata hal itu hingga ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa sebabnya?

        Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitos tersebut.  Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larang perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.

        Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara. Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.

        Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.  Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

        Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

            Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.

    Sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertemakan; 'Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah' di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng mengatakan, "Soal pernikahan itu, teori saya tentang Gajah Mada, Gajah Mada tidak bersalah. Gajah Mada hanya melaksanakan titah sang raja. Gajah Mada hendak menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Ingin sekali untuk menyatukan antara Raja Sunda dan Raja Jawa lalu bergabung. Indah sekali".

      Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

        Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.

        Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.


        Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

        Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.

        Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

        Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki 'Prabu Wangi' (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

      Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama 'Gajah Mada' atau 'Majapahit'. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.

        Kisah itu kemudian dipercaya secara turun-temurun dan menjadi penyebab memburuknya hubungan antara suku Jawa dan Sunda. Meski tak sedikit yang menganggapnya hanya mitos atau cerita yang tidak sesuai degan fakta, cerita ini dipercaya sebagai awal mula larangan menikah antar suku Jawa dan Sunda.
        Namun adanya larangan pernikahan Jawa dan Sunda ternyata bukan cuma persoalan historis dan tradisi belaka tapi juga telah bergeser menjadi sebuah stereotip. Stereotip menurut KBBI memliki arti konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Hingga saat ini masih banyak orang yang mempercayai larangan Suku Sunda untuk menikah dengan Suku Jawa.

        Larangan menikah antara kedua suku itu dipercayai bahwa nantinya hubungan pernikahan antar Suku Sunda dan dan Suku Jawa tidak akan bahagia. Di beberapa kalangan masyarakat, larangan menikah antar Suku Sunda dengan Suku Jawa masih sangatlah kental, bahkan menjadi sesuatu yang tabu. Tak jarang, beberapa pasangan dengan terpaksa harus membatalkan pernikahanya, hanya karena tetua atau sepuh dalam keluarga tidak bisa merestui hubungan antar suku Sunda dengan Jawa tersebut.

        Namun benarkah Larangan menikah bagi Suku Sunda dengan Suku Jawa bisa menyebabkan tidak bahagia dan berujung kegagalan dalam berumah tangga. Konon, jika ada dua orang antara Suku Sunda dengan Suku Jawa menikah, kehidupan mereka tidak akan bahagia dan sering diterpa masalah dan berujung kegagalan dalam berumah tangga.

        Larangan Suku Sunda dan Suku Jawa masih banyak diperbincangkan dan dipercayai, namun hal itu hanyalah mitos semata. Apalagi kini juga banyak pasangan dari suku Jawa dan Sunda yang tetap bisa hidup bahagia dan langgeng, buktinya silahkan lihat sekeliling kalian pasti ada pernikahan antara orang jawa dan sunda. Asalkan sama-sama saling cinta mengapa harus berpisah, menikah dan berumah tangga membangun keluarga dan saling menjaga. Semoga Artikel kali ini ada manfaatnya untuk kita.

Argha Sena

PETA KEKUATAN POLITIK DI JAWA ABAD 15 (EP 04)

 


Sebelum membahas tentang peta kekuatan politik di Jawa abad 15, penting untuk dijelaskan terlebih dahulu tentang keadaan pulau Jawa ada masa itu. Pulau Jawa dikenal juga dengan tana (tanah) Jawa atau nusa (pulau) Jawa. Pulau ini sering dianggap sebagai salah satu dari kepulauan Malaya, yangmembentuk gugusan kepulauan Oriental, yang kemudian disebut juga dengan kepulauan Asiatik.

Tanah Jawa terbentang ke arah timur laut dan sedikit ke arah selatan, sejauh 105 derajat 11’ sampai 114 derajat 33’ lintang timur dan sedikit ke arah selatan. Di daerah selatan dan barat berbatasan dengan samudera hindia, arah timur laut dibatasi Selat Sunda yang memisahkan dengan Sumatera dengan jarak ujung hanya 14 mil, dan di arah tenggara dibatasi Selat Bali selebar 2 mil, yang memisahkan dengan pulau Bali. (Thomas Stamford Raffles, History of Java)

Di pesisir utara Jawa, terdapat kota-kota pelabuhan penting. Di antaranya dari ujung barat terdapat banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Di daerah pesisir utara Jawa bagian tengah terdapat pelabuhan Semarang, Demak, dan Jepara. Di pesisir pantai utara Jawa bagian timur terdapat pelabuhan di Tuban, Gresik dan Ampel Dento serta Blambangan.

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa peta kekuatan politik internasional menjelang abad 15 sangatlah berpengaruh diberbagai Negara-negara dunia di 5 benua. Sebagaimana kekuasaan politik Hindu dan Buddha  di India berpengaruh di hampir seluruh kepulauan nusantara sejak sebelum abad 7 hingga abad 15, demikian pula kekuasaan politik Islam yang puncaknya di bawah kepemimpinan Khilafah Turki Utsmani sangat berpengaruh terhadap perkembangan Islam di nusantara secara besar-besaran, termasuk Jawa pada awal abad 15.

Pada paruh abad 13 di Sumatera Utara atau Aceh, para penguasa telah menganut Islam. Ada masa ini, hegemoni politik di Jawa Timur masih ditangan raja-raja Syiwo- Buddha di Singosari dan Kediri, di daerah pedalaman Jawa bagian timur. Sedangkan saat itu, Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan telah berdiri. Meskipun demikian, pada masa ini telah ada orang-orang Islam di Jawa bagian timur sejak akhir abad 11 yang ditunjukkan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun maupun orang-orang Islam di Trowulan sebagaimana keterangan Ma Huan dan Fei Xin. Hal ini diperkuat pula laporan perkembangan Islam di Jawa yang di bawa oleh para pedagang sekaligus para pelayar muslim dari Gujarat kepada Sultan Muhammad I pada awal abad 15.

Di nusantara ada abad 15, kekuatan politik di pulau Sumatera di antaranya adalah Aceh yang berada di bawah Kerajaan Islam Samudera Pasai. Sedangkan di Sumatera Selatan, jauh sebelumnya telah berdiri Kerajaan Hindu Syiwo- Buddha Srivijaya (Sriwijaya) yang berpusat di Palembang. Menurut catatan hikayat Raja-Raja Pasai, menyebutkan bahwa ketika Majapahit berkuasa di atas tanah Jawa, Raja yang berkuasa adalah Hayam Wuruk dengan patihnya bernama Gadjahmada.

Pada abad 15, di Jawa telah berdiri Kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran di bagian barat dan Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit di bagian timur. Setelah runtuhnya Kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran dan Majapahit ini, berdirilah kekuasaan politik Islam di Demak,. Pengaruh kekuasaan Kerajaan Demak ini sampai di Jawa bagian barat hingga ke Cirebon dan banten, serta di Jawa bagian timur hingga ke Tuban, Gresik, dan Ampel Dento. Berdirinya Kerajaan Islam Demak tidak lepas dari peran wali songo angkatan pertama yang perjuangan mereka dilanjutkan oleh dewan ulama walisongo angkatan berikutnya.

Sebagaimana yang telah diketahui, Islam pertama kali masuk ke tanah Jawa bukanlah pada masa wali songo pada abad ke-15 saat Syekh Maulana Malik Ibrahim sampai ke Gresik. Akan tetapi Islam telah masuk ke Jawa pada masa sebelum itu. Paling tidak, batu nisan pada makam Fatimah Hibatullah binti Maimun berangka 478 H/1082 M menjadi bukti nyata bahwa masuknya Islam di Jawa telah terjadi sebelum abad 11 M. ditambah lagi kesaksian Ma Huan dan Fei Xin tentang keberadaan orang-orang Islam berdarah Arab di Trowulan, Majapahit pada 1407 M, semakin menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, telah ada orang-orang Islam di Jawa bagian timur.

KERAJAAN SYIWO- BUDDHA PADJAJARAN DI JAWA BARAT



Pada abad 15 sebelum berdirinya Kesultanan Islam Demak, di Jawa bagian barat telah berdiri Kerajaan Syiwo Buddha Pakuwan Padjajaran sejak tahun 1030-1579 M. ibukotanya berada di Pakuwan (Bogor). Pendiri Kerajaan Padjajaran adalah Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Luas wilayahnya saat itu mencapai wilayah Jawa Barat sekarang, termasuk Tegal dan Banyumas.

Sistem kekuasaan di Kerajaan Padjajaran adalah seperti desentralisasi. Oleh karenanya, Kerajaan Padjajaran terdiri dari gabungan Kerajaan-Kerajaan kecil yang memiliki semacam otonomi sendiri. Wilayah Kerajaan Padjajaran terbagi menjadi 2 wilayah, yaitu pedalaman dan pesisir pantai. Wilayah pedalaman seperti di Pakuwan yang merupakan pusat kerajaannya, sedangkan di pesisir pantai seperti daerah banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.

Pada awal abad 16, jumlah penduduk Pakuwan sekitar 50.000 orang. Dominasi agama mayoritas adalah Syiwo- Buddha. Sedangkan kepercayaan asli orang-orang Sunda adalah animisme, sebagai kaum minoritas. Kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran sebelum itu, wajar jika memiliki pasukan perang sekitar 100.000 orang prajurit sebagai angota pasukan bersenjatanya. (Drs. Edi S. Ekadjati, Fatahillah, Pahlawan Arif Bijaksana)

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa Karya Ustadz Rachmad Abdullah,          S.Si, M.Pd

Rabu, 01 Desember 2021

PETA KEKUATAN POLITIK DUNIA PADA ABAD 15 MASEHI YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA (EP 03)

 


DINASTI MING CINA ABAD 15 dan LAKSAMANA CHENG HO

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa berdirinya kekuasaan politik Islam di nusantara dipengaruhi juga oleh kekuasaan politik Islam di China. Khususnya saat kekuasaan di China beralih ke dinasti Ming yang cenderung membela Islam. Saat itu laksamana Cheng Ho (Zheng He) ditugaskan ke berbagai negeri untuk membawa pesan perdamaian antara tahun 1405-1433 M.


Laksamana Cheng Ho mengarungi samudera luas dan berkunjung ke lebih dari 20 kerajaan se-Asia dan Afrika dengan mengerahkan lebih dari 27.000 awak kapal.  Pelayarannya sebanyak 7 kali dan setiap kali pelayaran pasti pertama kali singgah ke Champa lalu ke Jawa sebanyak 6 kali. Hanya pelayaran yang ke-6 saja yang tidak berkunjung ke Jawa.

Menurut catatan Ma Huan menyebutkan, “apabila ada kapal luar negeri menuju Jawa, umumnya mereka berlabuh secara berturut-turut di Tuban,gresik, suroboyo, dan Mojopahit (Trowulan)”. Di kerajaan Majapahit terdapat pedagang muslim yang datang dari Arab. Di samping itu, ada perantara Tionghoa yang berasal dari Zhengzhou, Quanzhou, dan propinsi Guangdong (tiongkok selatan). Kebanyakan mereka adalah muslim. (Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho)

Bahkan pada tahun 1411 M seorang pejabat China di Gresik mengirimkan utusan yang membawa surat menuju kerajaan kaisar di China. Utusan tersebut juga membawa bulu bhakti glondhong pengareng-areng, guru bakal guru dadi, peni-peniu raja peni dan mas picis raja brana. Dengan demikian, saat itu terjalin hubungan antara Tiongkok China, Champa dengan Majapahit sebagaimana yang pernah terjadi di masa sebelumnya. Bahkan putri China yang dihadiahkan kepada Bhre Kertobhumi yang kemudian melahirkan sultan Fattah, hampir dapat dipasstikan adalah bangsawan Tiongkok China di masa setelah laksamana Cheng Ho ini.

Selain itu, dari catatan Ma Huan menunjukkan betapa nusantara saat itu telah menjadi bagian pusat pelayaran dan perdagangan internasional yang menghubungkan berbagai suku bangsa untuk saling mengenal, meskipun pada awalnya berbeda bahasa dan peradaban. Jalur pelayaran dan perdagangan di Asia ini menghubungkan antara bangsa Arab, India, Afrika Utara, Melayu, dann China.

Di Jawa terdapat kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit yang pengaruh kekuasaannya sampai ke kerajaan Champa. Di kerajaan inilah terjadi hubungan pernikahan antar keluarga para bangsawan kerajaan. Ketika raja Champa mendapat hidayah untuk masuk Islam, dari Champa ini pula cahaya penyebaran Islam semakin bersinar di tanah Jawa pada awal abad ke-15 M.

NEGERI CHAMPA DI AWAL ABAD KE-15 M

Sebuah wilayah yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa sejak awal abad ke-15 M adalah negeri Champa (Campa/Cam Pha/Cempa/Cempo). Oleh karena seorang bernama Ibrahim Asmarakandi telah berhasil mengajak raja Champa masuk Islam lalu menikahi putrinya. Sedangkan putri raja yang lebih muda, bernama Dworowati (Andorowati) di ambil sebagai permaisuri oleh kerajaan Majapahit. Kerajaan Champa pada saat itu memang tunduk di bawah kerajaan Majapahit dengan rajanya saat itu bernama Wikromo Wardhono.

Ibrahim Asmarakandi memiliki murid bernama ki Dampu Awang, seorang saudagar kaya dari Champa. Istrinya bernama Nyai Roro Rudo, kakak Ki Gedeng TopoJumajan Janti, penguasa pantai Cirebon. Hasil pernikahan Ki Dampu Awang dengan Nyai Roro Rudo adalah seorang putri bernama Nyai Aciputih yang kemudian diperistri oleh Prabu Siliwangi. Pasangan Prabu Siliwangi dan Nyai Aciputih memiliki putri bernama Nyai Lara Bedoyo yang dibawa kakeknya, Ki Ampu Awang ke Champa, untuk belajar Islam kepada Ibrahim Asmarakandi.

Tentang letak negeri Champa, pendapat terkuat adalah apa yang ditulis oleh Ma Huan dan Fei Xin. Oleh karena keduanya pernah mengarungi samudera luas bersama perjalanan Muhibah Laksamana Cheng Ho pada tahun 1407 M, masih dalam satu masa dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Dalam perjalanan itu Ma Huan menuliskan petualangannya dalam buku berjudul Ying Ya Sheng yang berart pemandangan indah di seberang samudera.

Champa yang telah dikunjungi sebanyak 7 kali ini adalah sebuah tempat yang terletak di seberang laut sebelah propinsi Guangdong (Tiongkok Selatan). Nama ibukotanya adalah Campapura yang di dalamnya terdapat istana raja. Di sebelah barat Champa terdapat kerajaan Kamboja dan di sebelah barat daya berbatasan dengan Laos dan di sebelah timur laut terdapat laut besar. (Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho)

Dengan demikian, negeri Champa merupakan suatu kawasan yang terletak di daerah Indocina ataupun Hindia Belakang.tempat itu merupakan kawasan di sebelah timur Kamboja, di teluk Siam, yaitu kawasan Anam berdekatan dengan Siam atau Muang Thai. Lebih tepatnya lagi bagian tengahnya Negara Vietnam sekarang. (Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa)

Menurut Sejarah Melayu bab 21 menceritakan secara ringkas tentang kerajaan Champa. Di kerajaan ini, para penduduk tidak memakan daging sapid an tidak menyembelih sapi. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka menganut Hindu atau Buddha. Semula kerajaan Champa takluk kepada raja Bathara dari kerajaan Hindu Syiwo- Buddha- Islam Majapahit. Raja Champa yang terakhir adalah Pau Kubah, yang menikah dengan putri dari Lakiu. Padahal raja kerajaan Kuci (Koci) meminang salah seorang putri mereka, akan tetapi pinangannya ditolak.

Akhirnya kerajaan Champa diserang raja Koci dan mengalami kehancuran. Pau Kubah gugur dalam perang  ini. Sedangkan dua putranya yang bernama Pau Liang dan Indra Berma berhasil meloloskan diri. Pau Liang melarikan diri ke Aceh sedangkan Indra Berma bersama istrinya yang bernama Keni Mernam melarikan diri ke Malaka, lalu masuk Islam di bawah suaka perlindungan sultan Mansur (1458-1477 M). Kerajaan Champa diserang raja dari Annam bernama Le Nhantong pada tahun 1446 dan berhasil dikuasai sepenuhnya oleh orang-orang Annam (Vietnam) pada tahun 1471 M.(Th. G. Th. Pigeud, Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa,)

Pembahasan tentang negeri Champa menunjukkan arti penting peranannya dalam proses penyebaran Islam di Jawa. Kerajaan Champa yang saat itu masih bercorak Hindu Syiwo- Buddha telah lama tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Syiwo Buddha Majapahit masa Prabu Hayam Wuruk dengan Patihnya yang terkenal bernama Gajahmada. Sebagai bentuk persahabatan, pada masa Wikromo Wardhono bernama Bhre Kertobhumi (Brawijoyo V). tidak lain Brawijoyo V ini adalah ayah Sultan Fattah.

Setelah masa itu, raja Champa masuk Islam melalui Ibrahim Asmarakandi. Meskipun putri raja Champa yang bernama Dworowati diambil sebagai permaisuri Majapahit, adik dewi Dworowati yang bernama Dewi Candrawulan masuk Islam dan dinikahi oleh Ibrahim Asmarakandi sebagai istri kedua.

Dari pernikahan ini, lahirlah Raden Santri (Ali Musada) dan Raden Rahmat (Ali Rahmatullah, Sunan Ampel). Raden Santri memiliki putra bernama Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri. Sedangkan Raden Rahmat memiliki putra bernama Makhdum Ibrahim (Sunan Mbonang) dan Maseh Munat (Sunan Drajat).

Raden Santri dan Raden Rahmat menuju Jawa bersama Abu Hurereh, putra sulung raja Champa, untuk menemui saudara ibunya yang bernama Dwi Dworowati di Majapahit. Bertiga singgah di pelabuhan Tuban dan menjadi pecat tandha si Syahbandar, sebuah jabatan yang setara dengan adipati, penguasa kadipaten.

Dengan berita di atas, dapat dijelaskan bahwa ketika kerajaan Champa ditaklukkan oleh kerajaan Koci, Raden Rahmat telah berada di Ampel Dento. Dari Sunan Ampel berlanjut ke Sunan Mbonang, Sunan Drajat yang bersahabat dengan Sunan Giri dan seperjuangan pula dengan Sunan Kudus, Sunan Kalijogo, Raden Patah, Sunan Gunung Jati, dan yang lainnya.

Dari para wali pemula inilah kelak Islam tersebar dengan begitu cepatnya hingga berhasil mendirikan kerajaan Islam Demak pada tahun 1482 M/1404 C. di bawah kepemimpinan raja Islam Sultan Fattah, kejayaan Islam di Jawa mencapai puncaknya. Pada tahun 1511 M Portugis menguasai Malakadan hendak memperluas pengaruh imperialismenya dengan menguasai sunda Kelapa. Pada masa Sultan Trenggono, Portugis dapat dihancurkan oleh Fatahillah pada 22 juni 1527 M.

Bangsa Portugis dan Spanyol inilah perintis pertama jalan masuknya penjajahan kolonialisme dan imperialism bangsa Eropa di nusantara hingga kedatangan Belanda, Prancis, maupun Inggris dimasa berikutnya.

KERAJAAN KATOLIK PORTUGIS DAN SPANYOL DI EROPA ABAD 15

Di Eropa, jauh sebelum terjadinya peperangan antara pasukan Portugis dan Spanyol melawan pasukan Islam di Malaka tahun 1511 Mdan di Minahasa nusantara, di semenanjung Iberia telah berdiri pemerintahan Islam antara tahun 711-1492 M. awalnya salah seorang panglima terkenal khilafah Umayyah bernama Thariq bin Ziyad, memimpi pasukan Islam melawan pasukan katolik dari kalangan Visigoth dalam pertempuran Guadalete, Thariq bin Ziyad bersama pasukan Islam berhasil menguasai semenanjung Iberia, mencakup wilayah Spanyol dan Portugis.

Akan tetapi di Spanyol pada 1236 M, benteng terakhir umat Islam di Granada jatuh ke tangan Fernando III dari Kastilia. Sampai pada tahun 1492 M Los Reyes Catolicos (kerajaan katolik Spanyol) melalui Fernando II dari Aragon dan Isabel I dari Kastilia akhirnya berhasil menguasai wilayah Islam kembali dan memaksa umat Islam agar masuk katolik. Jika tidak bersedia, umat Islam diusir dari Spanyol tanpa membawa putra-putri mereka. Akibatnya banyak yang tidak sanggup meninggalkan putra-putrinya. Jika tidak mau juga hengkang dari Spanyol, umat Islam akan dibakar hidup-hidup (Autadafe). (Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1)

Pada akhir abad 15, tepatnya 7 juni 1494 M, Paus Alexander VI telah membuat perjanjian Tordesillas Spanyol. Perjanjian antara kerajaan katolik Portugis dan kerajaan katolik Spanyol ini menandai awal mula lahirnya imperialism barat. Dalam perjanjian ini, paus Alexander VI memberi kewenangan kepada kerajaan katolik Portugis untuk menguasai dunia belahan timur. Sebaliknya, kepada kerajaan katolik spanyoldiberi kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat.

Paus Alexander VI membenarkan imperialisme dengan tujuan 3-G yaitu gold (menguasai kekayaan alam), Gospel (menyebarkan ajaran katolik), dan Glory (mencapai kejayaan). Seluruh bangsa selain Negara Vatikan yang tidak beragama katolik dipandang sebagai bangsa biadab. Wilayahnya dinyatakan sebagai terra nullius (wilayah kosong tanpa pemilik). Mereka juga menyalakan semangat Reconquista, yaitu penaklukkan wilayah-wilayah Islam diseluruh dunia. (Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1)

Sebagai realisasi pelaksanaan perjanjian teordesilas, Portugis mulai melakukkan pelayaran ke arah timur. Pada tahun 1497 M Portugis menguasai Goa India, yang berakibat runtuhnya kekuasaan politik Hindu dan Buddha di India selatan. Pada tahun 1511 M, Alfonso Albuquerque merebut kerajaan Islam Malaka dari Sultan Mahmud. Pada tahun 1522 M Portugis berusaha menguasai Sunda Kelapa di Jawa dengan diawali membuat perjanjian kerja sama dengan kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran. Akan tetapi, pada 22 juni 1527 M pasukan Portugis berhasil dihancurkan Fatahillah.

Memperhatikan peta kekuatan politik, ekonomi, dan peradaban dunia di beberapa benua menjelang abad 25, menunjukkan bahwa hegemoni kekuasaan politik internasional telah didominasi oleh peradaban Islam, katolik, Hindu, dan Buddha. Peradaban Islam berkuasa di Asia tengah, yaitu khilafah abbasiyah, di Eropa barat berpusat di cordova dan Andalusia, di Asia timur ada dinasti Jengis Khan dan Dinasti Ming China, sedangkan di Afrika Utara adalah kekuasaan Islam di Mesir. Sedangkan dominasi kekuatan politik Hindu dan Buddha berada di India dan nusantara.

Adapun peradaban Kristen katolik mendominasi benua Eropa yang berpusat di Vatikan Roma di Eropa barat dan katolik ortodoks di Konstatinopel Eropa Timur. Hingga pada akhirnya, ditahun 1453 M Konstatinopel jatuh ditangan Sultan Muhammad Al-Fatih, sebagai tanda semakin kuatnya dominasi politik Islam khilafah Turki Utsmani. Pengaruhnya pun hingga ke Jawa, karena adalam waktu yang hampir bersamaan berikutnya, berdiri pula kerajaan Islam Demak di Jawa tahun 1482 M, dengan selisih 29 tahun.

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd

Jumat, 26 November 2021

PENGARUH PETA KEKUATAN POLITIK DUNIA TERHADAP PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA : DINASTI JENGIS KHAN MONGOLIA ABAD 13 M (EP 02)

  


Peta kekuatan politik Negara-negara dunia dari abad 13 hingga menjelang abad 15 M sangat penting dijelaskan disini, meskipun secara sekilas untuk mengetahui latar belakangnya. Sebab, nusantara yang merupakan bagian dari sejarah internasional, tidak akan mungkin lepas dari berbagai pengaruh-pengaruh kekuasaan politik dunia saat itu.

Ibarat dunia adalah sebuah pohon, maka Negara-negara diberbagai belahan bumi ini seperti batang, cabang, ranting, daun, bunga, dan buahnya. Sedangkan akarnya adalah Negara super power yang berupaya keras memperluas pengaruh ideologi, sistem politik, militer, hukum, ekonomi serta peradabannya ke Negara-negara lainnya. Nusantara sebagai bagian dari dunia ini, tidak akan pernah lepas pula dari berbagai pengaruh perubahan-perubahannya. Misalnya adalah banyaknya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-buddha di nusantara akibat pengaruh peradaban Hindu sekte Syiwo maupun Buddha di India sejak sebelum abad 7 M.

Oleh karenanya, tumbuhnya kekuasaan politik Islam di nusantara tidak dapat dilepaskan pula dari sebab timbulnya kekuasaan politik di luar nusantara. Tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Timur Tengah: Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Turki Utsmani, diikuti runtuhnya pengaruh Hindu dan Buddha di India oleh kekuatan Mongol.

Di benua Asia, menjelang abad 13 hingga abad 15 terdapat beberapa kekuasaan besar seperti Khilafah Abbasiyah, Turki Bani Seljuk, Jengis Khan di Mongolia, dan dinasti Ming di China. Timbulnya kekuasaan politik Islam yang dibangun oleh kaisar Jengis Khan, besar pengaruhnya terhadap perubahan kebijakan politik kaisar Kubilai Khan dan kaisar Ming di China yang lebih cenderung berpihak kepada Islam. (Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1)

Meskipun dalam buku ke-2 serial Trilogi Revolusi Islam Jawa membahas sekilas sejarah perluasan wilayah kekuasaan politik Islam hingga nusantara, dalam bab 1 ini membahas sekilas kekuasaan politik Islam masa dinasti Jengis Khan di Mongolia, dinasti Ming di China, kerajaan Champa dan munculnya kekhilafan di Turki Utsmani yang pengaruhnya sampai ke Jawa di masa kekuasaan akhir kerajaan Hindu Syiwo- Buddha Singosari dan awal berdirinya kerajaan Majapahit di Mojokerto hingga keruntuhannya.

DINASTI JENGIS KHAN MONGOLIA ABAD 13 M

Di Mongolia, telah berdiri kerajaan di bawah kekuasaan Jengis Khan. Dia memilikin semboyan: “hanya ada satu Tuhan di surge dan hanya satu penguasa di bumi”, sehingga Jengis Khan ingin menguasai seluruh bumi. Kerajaan Mongolia memperluas daerah jajahannya kea rah barat sampai Eropa. Seluruh Eropa gentar menghadapi kekuasaan Jengis Khan. Seluruh daratan Asia dia kuasai. Penguasaan daratan Asia mengakibatkan penguasaan mutlak atas lautan, dari tiongkok hingga Arabia.

Ketika Kubilai menjadi raja bergelar Khan di kekaisaran Mongolia (1260-1294 M) dan kaisar Cina dinasti Yuan (1279-1294 M), ia menginginkan agar seluruh Negara di sepanjang Asia mengakui kekuasaannya. Barangsiapa tidak mau mengakui kekuasaannya dengan menyerahkan upeti ke Syang, akan diperangi dengan kekerasan.(Prof. Dr. Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan)

Kubilai Khan pernah menghancurkan kekhilafahan Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1258 M. lalu Kubilai Khan hendak memperluas pengaruh dinasti Mongolia dengan melanjutkan perang untuk menguasai Tiongkok Cina. Dalam tahun yang sama Kubilai Khan berhasil menguasai Korea pada 1258M. dilanjutkan menyerang Jepang pada 1274 M tetapi tidak berhasil. Upaya menguasai dunia terus menerus dilakukan Kubilai Khan hingga memerangi Negara-negara di Asia Tenggara, yaitu Jawa, Vietnam, dan Kamboja, termasuk daerah Champa. Pada tahun 1280 M raja Annam (Vietnam Utara) dan raja Champa pada tahun 1287 M menyerah kepada Kubilai Khan. Pada tahun 1287 M Kubilai Khan juga berhasil menghancurkan pasukan gajah dari Burma (Myanmar).

Saat Kubilai Khan berusaha memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara, di Jawa telah berdiri kerajaan Singosari di bawah raja Kertonegoro. Pusat kerajaannya berada di Jawa sebelah timur, diperkirakan di daerah Singosari. Wilayah kekuasaan Singosari cukup besar meliputi Jawa, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura. Raja Kertonegoro ingin mencegah penerapan politik Kubilai Khan yang juga memaksa agar kekuasaan di nusantara tunduk kepadanya. Pada tahun 1275 M Kertonegoro mengirimkan ekspedisi tentara Singosari ke Melayu. Kemudia pada tahun 1286 M, dia mengirimkan arca Amoghapaca ke Melayu agar mereka tetap tunduk di bawah kekuasaan Singosari, bukan tunduk kepada Kubilai Khan.

Kubilai Khan mengetahui kekuasaan raja Kertonegoro atas beberapa kepulauan nusantara dan Melayu berikut pelabuhan serta perniagaannya. Menurut Kubilai Khan, salah satu hal yang akan mengurangi kewibawaannya dan menurunkan kemuliaannya adalah jika Prabu Kertonegoro tidak mau tunduk kepadanya. Oleh karenanya, pada tahun 1289 M Kubilai Khan mengutus Meng Ki menghadap Prabu Kertonegoro agar kerajaan Singosari tunduk kepada putra langit dengan menyerahkan upeti. Akan tetapi prabu Kertonegoro sadar akan keagungannya dengan luasnya wilayah kerajaannya, sehingga ia tidak sudi untuk tunduk kepada Kubilai Khan. Bahkan Meng Ki telah dipermalukan oleh prabu kertonegoro, penguasa kerajaan Hindu Syiwo- Buddha Singosari.

Setelah Meng Ki kembali menghadap Kubilai Khan, ia marah besar atas penghinaan prabu Kertonegoro kepadanya. Pada akhir tahun 1292 M angkatan perang bangsa Mongol di kirim ke Jawa. Mereka sampai dirembang tahun 1293 M, lalu mereka menuju ke arah Jawa bagian timur. Akan tetapi, pasukan Tartar yang dipimpin Shin Pi dan Iki Mese tidak mengetahui bahwa prabu Kertonegoro sudah tidak berkuasa lagi akibat serangan Joyokatwang, penguasa Daha Kediri. Sehingga pasukannya dimanfaatkan oleh Wijoyo untuk menghancurkan kerajaan Syiwo- Buddha Kediri yang dipimpin oleh Joyokatwang pada 1293 M.

Sejarah serangan bangsa Tartar Mongol atas Jawa tahun 1293 M adalah penting untuk memahami sebab berdiri (1294 M) dan puncak runtuhnya Majapahit masa Brawijoyo V tahun 1478 M. sesungguhnya runtuhnya Majapahit di bawah raja Brawijoyo V yang berpusat di Trowulan, Mojokerto bukanlah karena serangan kerajaan Islam Demak masa sultan Fattah yang merupakan putranya. Akan tetapi, lebih disebabkan oleh karena serangan balasan Girindho Wardhono, penerus Joyokatwang sebagai penguasa di Kediri yang runtuh akibat serangan Raden Wijoyo dengan memanfaatkan pasukan Kubilai Khan ini. Sedangkan raden Wijoyo sendiri adalah menantu raja Kertonegoro yang pernah mempermalukan utusan Kubilai Khan, Meng Ki.

Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan, “Didongengkan keruntuhan keradjaan Hindoe madjapahit akibat serangan Kesoeltanan Demak pada 1400 Saka atau 1478 M. akibat serangan ini maka sang Praboe mengutuk Soenan Fattah dari kesultanan Demak sebagai putra yang tidak tahu hormat kepada orang tuanya. Kemudian, Sang Praboe terbang ke langit. Ketika laskar Demak membanjiri halaman Kraton Madjapahit, dalam dongeng tersebut dikatakan sinar matahari terkalahkan oleh kilauan cahaya ribuan pedang laskar Demak. Dongeng ini dimanfaatkan oleh sementara sejarawan Barat untuk menguatkan teori dan analisis sejarahnya bahwa Islam di nusantara dikembangkan dengan pedang. Artinya dikembangkan melalui pemaksaan dan penindasan.” (Op. Cit., Api Sejarah 1).

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd


AWAL MULA MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA ABAD 7 (EP 01)



Alam nusantara dikenal sangat indah dan kaya akan berbagai sumber daya alam. Ini sebagai salah satu bentuk nikmat Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa  yang wajib disyukuri dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Nusantara merupakan suatu gugusan pulau-pulau yang membentang dari barat ke timur di antara benua Asia dan Australia. Secara astronomis, nusantara terletak antara 95° BT - 141° BT dan 6° LU - 11° LS. Dengan letak astronomis tersebut, Indonesia termasuk ke dalam wilayah beriklim tropis. Wilayah tropis dibatasi oleh  lintang 23,5° LU dan 23,5° LS.

Di wilayah tropis seperti nusantara, sinar matahari selalu ada sepanjang tahun dan suhu udara tidak ekstrim sehingga masih sangat nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas. Lama siang dan malam juga hampir sama, yaitu sekitar 12 jam siang dan 12 jam malam.

Sedangkan secara geografis, nusantara terletak di antara dua benua dan dua samudera. Benua yang mengapit nusantara adalah benua Asia yang terletak disebelah utara dan benua Australia yang terletak di sebelah selatan. Samudera yang mengapit nusantara adalah samudera Pasifik di sebelah timur dan samudera hindia di sebelah barat.

Pola angina muson yang bergerak menuju wilayah nusantara pada saat angina barat dimanfaatkan oleh orang-orang masa lalu untuk melakukan perpindahan atau migrasi dari Asia ke berbagai wilayah di nusantara. Perahu yang digunakan untuk melakukan migrasi tersebut masih sangat sederhana dan pada saat itu masih mengandalkan kekuatan angina sehingga arah gerakannya mengikuti arah gerakan angina muson.

Kepulauan nusantara sejak dahulu telah menjadi pusat perdagangan internasional di Asia tenggara. Oleh karenanya, interaksi antar peradaban pun menjadi suatu hal yang niscaya. Di antara peradaban yang saling mempengaruhi diawali pelayaran dan perdagangan adalah bangsa China, melayu, India, timur tengah, Persia, dan Eropa. Nusantara terkenal sebagai penghasil rempah-rempah. Selain rempah-rempah, kepulauan nusantara juga memiliki komoditas lain seperti emas, perak, batu permata, kain katun, teh, kopi, dan hasil alam lainnya yang bermutu tinggi. Hal ini menjadi daya tarik bangsa-bangsa lain untuk membeli hasil bumi itu.

Interaksi peradaban yang terjadi antarbangsa dalam proses perdagangan tersebut tidak hanya mendorong terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya, melainkan juga benturan antar peradaban. Pedagang-pedagang yang datang dari berbagai penjuru dunia membawa peradaban mereka masing-masing. Pedagang-pedagang yang datang dari India membawa eradaban hindu-budha dan para pedagang China membawa peradaban konghuchu (Confisiusme). Pedagang-pedagang yang datang dari timur tengah seperti jazirah Arab dan Persia serta Gujarat membawa peradaban Islam. Begitu pula pedagang-pedagang dari Eropa dimasa berikutnya membawa ajaran nashrani.

Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia sekitar abad ke-2 dan abad ke-4 M. pedagang India yang datang dari Sumatra, Jawa, dan Sulawesi membawa agama dan peradaban mereka. Perkembangan agama Hindu mulai di pulau Jawa pada abad ke-5. Para pedagang juga mengembangkan ajaran Buddha. Hasilnya, kebudayaan Hindu dan Buddha mempengaruhi terbentuknya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha seperti kerajaan Kutai, Sriwijaya, Tarumanegara, Mataram Hindu, Padjajaran, dan Majapahit. Walaupun saat itu sudah cukup banyak orang-orang Islam yang hidup di Majapahit. Baik dari kalangan bangsawan, para pedagang, maupun rakyat jelata.

Sebelum membahas runtuhnya kerajaan Hindu Syiwo – Buddha Majapahit dan berdirinya kerajaan Islam Demak yang dirintis para wali, berikut ini disajikan sekilas beberapa teori tentang proses awal mula masuknya Islam ke nusantara.

Di antara teori-teori tersebut adalah teori Mekah oleh Prof. DR. Buya Hamka, teori Persia oleh Prof. DR. Abubakar Atjeh, teori China oleh Prof. Slamet Muljana, teori maritim oleh NA. Baloch, dan teori Gujarat oleh Orientalis Belanda Snouck Hurgronje.(Prof. DR. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1). Terkait mana yang lebih mendekati kebenaran, kiranya pendapat Prof. DR. Buya Hamka yang mendasarkan pada berita China dari dinasti T’ang adalah fakta sejarah yang paling valid (Rajih).

Prof. DR. Buya Hamka menuliskan, “Ahli sejarah ada yang berkata bahwa di jaman pemerintahan Yazid bin Muawiyah, khalifah bani Umayyah yang kedua, telah didapat sekelompok keluarga orang Arab di pesisir barat pulau Sumatra. Artinya sebelum habis seratus tahun setelah Nabi kita Muhammad. Tetapi dikurun-kurun ketiga dan keempat hijriyah, di jaman keemasan daulah Bani Abbas di Baghdad sudah banyak pelajar dan pengembara bangsa Arab itu menyebut-nyebut pulau Sumatra, ketika mereka membicarakan suatu kerajaan Buddha yang dikenal dalam kitab-kitab mereka dengan nama “Syarbazah” atau kerajaan Sriwijaya yang terletak di Palembang, ibu negeri Sumatra Selatan sekarang ini”.(Prof. DR. Buya Hamka, sejarah perkembangan pemurnian ajaran Islam di Indonesia)

Pendapat Prof. DR. Buya Hamka ini juga dikuatkan oleh pendapat beberapa sejarawan. Di antaranya adalah Prof. Ahmad Mansur Suryanegara yang berkesimpulan bahwa Islam masuk ke nusantara langsung dari Mekah sejak abad ke-7 M melalui Aceh.

Islam pertama kali masuk ke Sumatra sejak abad 7 juga telah disebutkan oleh W.P. Groeneveldt yang menjelaskan bahwa berdasarkan berita China zaman T’ang. Pada abad 7 masyarakat muslim telah ada, baik di Kanfu (Kanton) maupun di daerah Sumatra sendiri. Oleh karena Islam sendiri masuk ke China tiongkok pada abad ke-7, ketika khalifah ke-3, Utsman bin Affan (577-656 M) mengirim utusannya yang pertama menghadap kaisar Yong Hui dari dinasti T’ang pada 2 Muharram 31 H/25 agustus 651 M.(Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho)

Ini terjadi oleh karena kerajaan Sriwijaya di Sumatra mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad 7 dan 8 M sebagaimana dalam prasasti Ligor 775, berita China dan Arab, selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Perkembangan Islam melalui pelayaran dan perdagangan secara internasional antara  negeri-negeri di Asia bagian barat dipengaruhi oleh kuatnya dominasi kekuasaan Islam Bani Umayyah. Sedangkan perkembangan Islam di Asia bagian Tenggara maupun timur dipengaruhi oleh kuatnya dominasi Islam di kerajaan China masa dinasti T’ang.(Op.Cit., Sejarah Nasional Indonesia III)

Syed Naguib Al-Attas juga menjelaskan tentang masuknya Islam ke nusantara sejak abad 7. Pada abad ke-7 ini, orang-orang Islam telah memiliki perkampungan di Kanton, menunjukkan kegembiraannya menyaksikan derajat keagamaan yang tinggi dan otonomi pemerintahan, dimana mereka akan memelihara kelangsungan perkampungan serta organisasi di Kedah dan Palembang.

Bukti lainnya adalah sebuah literature kuno Arab yang berjudul A’jaib Al-Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar Al-Ramhurmuzi pada tahun 1000 M, memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan muslim yang terbangun di wilayah kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah terus berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ibnu Abdur Rabbih dalam karryanya Al-Iqud Al-Farid menyebutkan bahwa ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu, Sri Indravarman, dengan khalifah yang terkenal adil tersebut. Sedangkan telah diketahui bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah dari Bani Umayyah selama 3 tahun pada awal abad ke-8, yaitu 717-720 M.

Dari bukti-bukti sejarah tersebut, sangat jelas bahwa teori awal mula masuknya Islam ke nusantara, seperti teori China, teori Persia, teori maritim, apalagi teori Gujarat semuanya telah tertolak. Teori Mekah yang menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke nusantara melalui Aceh dari Mekah pada abad 7 adalah teori yang paling kuat dari semua teori lainnya.

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd




Kamis, 25 November 2021

RAMALAN JAYABAYA SEBUT ADA KABAR BAIK YANG AKAN MENGHAMPIRI INDONESIA DITAHUN 2022!!! COVI19 BERAKHIR ATAU MENJADI NEGARA MAJU???


        Tidak akan lama lagi warga dari seluruh penjuru dunia akan menyambut tahun baru 2022. 
Untuk saat ini tahun 2021 hanya tinggal menyisakan kurang lebih satu bulan lagi, yakni bulan Desember.

        Banyak orang yang berharap hingga akhir tahun 2021 tidak akan ada lagi banyak musibah serta halangan yang berarti. Meskipun gelombang ketiga Covid-19 masih mengancam dan bisa saja terjadi di akhir tahun, tetapi banyak yang berharap agar hal itu tidak benar terjadi. tergantung kita sendiri yang mengendalikannya, kalau kita bandel dan tidak taat pada aturan yang dibuat oleh pemerintah kita, maka bisa dipastikan hal yang kita takutkan tersebut benar-benar bisa terjadi.

        Pada materi yang sebelumnya kami pernah membahas tentang 20 ramalan yang hampir semuanya negatif yang akan terjadi pada tahun 2022. Ternyata ada yang terlewatkan dari materi ramalan yang berasal dari Prabu Jaya Baya yang sudah sangat mahsyur tersebut.

      Kabar baik itu pun hadir dari Ramalan Jayabaya yang menyebut jika di tahun baru 2022 mendatang Indonesia akan dihampiri hal positif, dan semoga ini mejadi aura positif bagi kita bangsa Indonesia, walaupun kita sebagai bangsa yang mengenal Tuhan tidak diperbolehkan mempercayai ramalan-ramalan apapun itu bentuknya karena hanya Tuhanlah yang mengetahui masa depan. Tapi seperti yang sudah kami sebutkan, bahwa ramalan itu akan tertanam dialam bawah sadar kita dan akan mempengaruhi psikologi kita, makanya jika ramalan itu positif maka hal positiflah yang akan kita dapatkan.

        Hal positif yang dimaksud dalam ramalan itu adalah di tahun 2022 akan menjadi tahun bahagia alias keemasan bagi Indonesia. Untuk diketahui bahwa Ramalan Jayabaya atau yang sering disebut tahu sebgaai Jangka Jayabaya adalah Ramalan yang ada di dalam tradisi Jawa.

        Ramalan Jayabaya ditulis sendiri oleh Pangeran Jayabaya, raja yang pernah memimpin Kediri, Jawa Timur mulai dari 1135 hingga 1157 Masehi. Menurut Ramalan Jayabaya yang menyebut bahwa tahun 2022 akan  menjadi tahun keemasan bagi Indonesia ada di Ramalan ke-7.

        Ramalan Jayabaya masih banyak dipercayai orang karena beberapa yang dituliskan memang ada yang benar-benar terjadi. Salah satunya yakni Ramalan Jayabaya pernah memprediksi adanya bencana banjir darah plus hilangnya nyawa.

        Dan kini faktanya hilangnya banyak nyawa disebabkan oleh adanya serangan pandemi Covid-19 yang masih terjadi sampai dengan saat ini. Akan tetapi ada kabar baik juga yang tertulis di dalam Ramalan Jayabaya, yakni disebutkan bahwa Indonesia akan meraih masa keemasan.

            Ramalan tersebut sudah tercantum dalam Ramalan ke-7 Jayabaya, yakni Tikus Putih Hanongko Baris. Maksud dari ramalan itu yakni Tikus lebih menggambarkan kalangan kecil dan putih sebagai suatu simbol kesucian, kebenaran, dan ketulusan.

        Dengan begitu ramalan “Tikus Putih Hanongko Baris” bisa diartikan sebagai rakyat kecil bersatu demi membenamkan banyak kezaliman yang merajalela. Dalam syair yang dimuat “Wong Jowo kari separo, Wong Cino kari sejodo, Wong Londo gulung gulung", Ramalan Jayabaya ke-7 itu dijelaskan.

          Jika melansir dari sumber-sumber internet, Ramalan Jayabaya itu mungkin saja benar terjadi. Ramalan tersebut bisa saja terjadi karena situasi di Indonesia sudah mendekati hal yang serupa dengan apa yang dijelaskan tadi.

    Saat ini sudah banyak terjadi kasus hukum yang membuat masyarakat terheran-heran. Banyak kasus korupsi dan criminal yang dibuat oleh para petinggi serta petugas negara tetapi tidak dapat benar-benar diselesaikan dengan baik.

        Justru banyak dari pelaku yang salah justru mendapat keringanan hukum sedangkan kasus kecil ditangani dengan serius. Meski demikian, belum dapat dipastikan dengan jelas apakah Ramalan Jayabaya ke-7 yang dimaksud di atas akan benar-benar terjadi atau tidak. Karena ramalan kuno ini adalah peninggalan orang terdahulu kita yang tetap kita lestarikan sebagai sumber literasi sastra dan budaya.  Selebihnya kita sebagai generasi muda hanya bisa menafsirkan dan mereka-reka apa yang sebenarnya menjadi maksud dari penggalan kalimat ramalan ke-7 Jayabaya tersebut.  

        Tapi tidak bisa kita pungkiri negara kita saat ini memang sedang berusaha memantaskan diri untuk berkembang menjadi negara yang kuat dan sejahtera. pemerintah sudah berusaha membangun infrastruktur diberbagai lini dimana-mana walaupun memang harus berhutang yang jumlahnya tidak sedikit.  Kita adalah bangsa yang tinggal diwilayah yang sangat kaya, buktinya lihat disekeliling kita berapa banyak orang yang hanya bergaji di bawah dua juta rupiah, akan tetapi dengan gaji sebesar itu kita masih mampu untuk bertahan hidup, melanjutkan perjuangan. Hal itu hanya bisa terjadi karena kita memang tinggal di wilayah nusantara yang sangat kaya, ibarat kita lempar potongan tongkat dari batang ubi maka tongkat itu akan tumbuh dan subur, yang akhirnya ubinya bisa kita makan.

        itulah sekelumit materi tentang ramalan jayabaya ke-7 yang terdengar membawa angin positif bagi bangsa Indonesia. Kesimpulan dari materi ini kami serahkan kepada para pembaca yang budiman.


Argha Sena




20 RAMALAN BURUK JAYABAYA PADA TAHUN 2022???


        Menjelang tahun baru 2022, banyak orang yang mulai berbicara tentang ramalan, memprediksi apa yang akan terjadi di tahun 2022, informasi seperti ini mulai berserakan di youtube yang membahas ramalan seperti membahas pertandingan sepak bola. Dalam video kali ini sebenarnya pegawai jalanan tidak menganjurkan kita untuk mempercayai ramalan-ramalan, apapun itu, karena manusia bukanlah Tuhan yang tahu masa depan dengan pasti. Makanya dalam video pembuka ini kami tidak ingin para subscriber pegawai jalanan menjadi terlalu terjerumus kearah yang bisa menjauhkan kita terhadap keimanan kita terhadap Tuhan. karena dampaknya akan buruk jika kita mudah percaya ramalan, secara tidak langsung ramalan buruk akan tertanam di alam bawah sadar kita dan akhirnya perilaku kita menjadi negatif, cendrung berputus asa. 

        Akan tetapi video ini disajikan hanya sebatas sebagai sastra kuno peninggalan nenek moyang kita yang akan kami coba sampaikan, kemungkinan besar catatan-catatan tersebut dibuat menggunakan ilmu yang kita tidak bisa fahami sebagai manusia modern. Penulisnya mempunyai kemampuan memprediksi masa depan dengan mengamati perilaku sosial masyarakat pada zamannya, dan akhirnya apa yang dia prediksi sebagian besar menjadi kenyataan. 

Salah satu nama besar orang nusantara zaman dahulu yang terkenal dengan ramalannya ialah Prabu Jayabaya. Ramalannya hampir semuanya terjadi di zaman modern seperti saat ini. Jika kita perhatikan sepertinya tidak jauh berbeda antara tahun 2020 dan 2021 apa yang sudah terjadi, sama-sama tahun yang cukup melelahkan melawan pandemi covid-19 yang tidak kunjung selesai. Akan tetapi untuk tahun 2022 kira-kira apa yang diprediksikan oleh Prabu Jaya Baya? Kita bisa bersiap-siap menyiapkan diri untuk hal-hal yang buruk yang belum tentu terjadi, bahkan jika memang memungkinkan kita malah bisa menguasainya dan mendapatkan hasil positif dari prediksi buruk tersebut. 

            Diketahui, Jayabaya Memiliki kemampuan dapat membaca sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, hal ini dimanfaatkan oleh para peramal untuk mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati kedepannya.

            Benar atau tidaknya, isi ramalan tersebut telah dipercayai sebagian orang di Tanah Air atau Nusantara, khususnya masyarakat Jawa.

            Dalam prediksi ramalan orang-orang terdahulu, Misteri mengenai apa yang akan terjadi pada 2022 ternyata sudah digambarkan.

            Prabu Jayabaya telah menyebutkan bahwa 2022 masuk dalam tahun kolo suroto.

            Di tanah Jawa akan banyak orang-orang yang manis budi dan lemah lembut. Sehabis itu ganti zaman, yang dalam ramalan Jayabaya akan menemui kiamat kubro.

            Lalu apa saja kira-kira misteri ramalan Prabu Jayabaya pada tahun 2022 mendatang? Berikut ini sudah kami rangkum dari berbagai sumber literasi.

1. Umah ala soyo dipujo artinya rumah maksiat makin dipuji.

2. Wong wadon lacur ing endi-endi artinya banyak perempuan lacur dimana-mana.

3. Akeh Laknat artinya banyak kutukan.

4. Akeh pengkhianat artinya banyak penghianat.

5. Anak mangan bapak artinya anak berani pada bapaknya.

6. Sedulur podo mangan sedulur artinya saudara makan saudara tidak rukun.

7. Konco dadi musuh artinya kawan jadi lawan.

8. Guru disatru artinya banyak guru dimusuhi.

9. Tonggo lan curigo artinya tetangga saling curiga.

10. Pedagang akeh sing kepelarang artinya pedagang banyak yang tenggelam.

11. Wong utana akeh sing dadi artinya penjudi banyak yang merajalela.

12. Akeh barang kang harom artinya banyak barang haram.

13. Akeh anak kang harom artinya banyak anak haram.

14. Wong wadon ngelamar wong lanang artinya perempuan melamar laki-laki.

15. Wong lanang ngasura derajate dewek artinya laki-laki menghina derajatnya sendiri.

16. Akeh barang-barang melebuh luang artinya banyak barang-barang yang terbuang.

17. Akeh uwong kaliren lan wudo artinya banyak orang lapar dan telanjang.

18. Wong tuku ngelenik wong dodol artinya pembeli membujuk penjual.

19. Sing dodol akal okol artinya penjual membujuk si penjual.

20. Wong golek pangan koyok gabuh di intri artinya ibarat mencari rezeki ibarat gabuh ditampik.

        Itulah 20 butir ramalan atau prediksi yang berasal dari Prabu Jaya Baya dan kita renungkan sendiri apakah semua itu sudah terjadi? atau belum terjadi, silahkan jawab dalam hatim kita masing-masing. Jika tahun depan masih berjalan seperti ke-20 ramalan tersebut, sebisa mungkin kita harus menghindari berperan sebagai tokoh antagonisnya, sewajib mungkin kita harus menjadi orang yang baik. Sekali lagi kita tidak boleh menjadikan ramalan sebagai keyakinan, apalagi sampai melemahkan iman kita terhadap Tuhan yang Maha Esa. 


Argha Sena