Sunday, June 28, 2020

Misteri Kematian Tanpa Pusara DN Aidit yang Sangat Mengenaskan | Pegawai Jalanan

Penangkapan DN Aidit

Malam semakin larut, namun Ilham Aidit tidak kunjung bisa memejamkan matanya. Bocah enam tahun itu hanya membolak-balikkan badannya di atas ranjang. Deru mesin jip dan derap sepatu yang mendekat ke rumahnya semakin membuat Ilham terjaga.
Dia kemudian mendengar derik suara pintu dibuka. Ilham menangkap suara ibunya dengan nada tinggi berbicara dengan tamu yang datang. Karena penasaran, Ilham kecil merosot dari ranjang ibunya dan mengendap-endap ke ruang depan.  Ilham tak ingat seluruh pembicaraan ibunya dan tamu yang datang. Yang masih terlintas malam itu, 30 September 1965, Ilham kecil melihat ibunya membentak dua orang berseragam militer warna biru di depan rumahnya. 
"Ini sudah malam!"
"Maaf, tapi ini darurat. Kami harus segera," jawab tamu tak diundang itu.
Dengan kesal, perempuan itu menuruti kemauan tamu dan memanggil suaminya di ruang kerja. Dia adalah Dipa Nusantara Aidit atau yang dikenal DN Aidit, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI). Ilham yang kepergok berada di ruang tengah ikut didamprat.
"Kamu, anak kecil, tidur kamu. Sudah malam begini masih kelayapan." Namun Ilham tidak bergerak dan memilih bertahan di ruang tengah rumahnya.
Ilham mendengar kedua orangtuanya berdebat. DN Aidit kemudian keluar menemui tamu. Tak lama berselang, dia kembali ke kamar memasukkan beberapa pakaian dan buku ke dalam tas. Ia sempat terlihat ragu. Ilham melihat ayahnya meletakkan tas dan kembali ke ruang depan berbicara sekilas dengan penjemputnya. Aidit lalu kembali ke kamar dan ribut dengan Soetanti, istrinya.
"Ibu ngotot minta ayah tak usah berangkat ke istana malam-malam," kata Ilham dikutip dari Seri Buku Tempo: Orang Kiri Indonesia berjudul Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara.
Namun Aidit tetap pergi. Sebelum meninggalkan rumah, dia mencium kening istrinya. Aidit juga mengangkat tubuh kecil Ilham dan mengusap rambutnya. Kepada adiknya bernama Murad Aidit yang tinggal di rumahnya, pentolan PKI itu berpesan agar mengunci pagar.
"Matikan lampu depan," perintah Aidit kepada Murad.
Sejak saat itu, DN Aidit tak pernah kembali lagi. Ke mana saja Aidit pergi malam itu dan apa yang dilakukan masih belum ada jawaban yang pasti hingga kini.
Kesaksian Mayor Udara Sudjono di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), dialah yang menjemput Aidit di rumahnya, bukan pasukan Cakrabirawa. Lalu dibawa ke rumah Syam Kamaruzzaman, Kepala Biro Chusus PKI yang dibentuk Aidit tanpa sepengetahuan pimpinan pusat PKI lainnya. Di kawasan Jalan Salemba, Jakarta Pusat itu, sudah menunggu sejumlah anggota Biro Chusus PKI.
Menurut Victor Miroslav Fic, penulis buku Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi, di rumah Syam, Aidit melakukan cek akhir Gerakan 30 September atau G30S. Aidit rencananya menemui Soekarno di rumah Komodor Susanto di Halim Perdanakusuma.
Skenarionya, Aidit akan memaksanya membersihkan Dewan Jenderal, lalu memintanya mengundurkan diri dari jabatan presiden. Namun pertemuan dengan Bung Karno gagal. Aidit lalu mengutus Brigjen Supardjo menemui Soekarno.
Versi surat Aidit yang ditulis dalam pelariannya 6 Oktober 1965, malam itu ia dijemput pasukan Cakrabirawa untuk rapat darurat kabinet di Istana Negara. Tapi dia malah dibawa ke Jatinegara dan Lanud Halim Perdanakusuma. Di sana, Aidit ditempatkan di rumah kecil dan diberi tahu akan ada penangkapan terhadap anggota Dewan Jenderal.
Esok harinya, Aidit mendapat kabar Soekarno memberikan restu terhadap penyingkiran Dewan Jenderal. Lalu Aidit diminta terbang ke Yogyakarta --lokasi yang dianggap tepat untuk pemerintahan sementara-- untuk mengatur kemungkinan mengevakuasi Soekarno.
Tidak jelas versi mana yang lebih benar. Hingga kini tidak ada kejelasan apa yang terjadi pada Aidit setelah dia memerintahkan Murad mematikan lampu depan rumahnya. Pihak keluarga bahkan baru tahu beberapa tahun kemudian bahwa Aidit pernah dibawa ke Halim Perdanakusuma. Sisanya masih gelap.

Pelarian Aidit dan Senyum Soeharto

Soeharto dan Soekarno

Dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Aidit bertolak ke Yogyakarta. Dia tiba di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta pada 2 Oktober 1965 dini hari. Angkatan Udara menangkap kedatangan Aidit sebagai utusan negara dan menawarkan mengantarkannya ke Kepala Daerah Yogyakarta Sri Paku Alam, tapi Aidit memilih pergi ke pimpinan PKI di daerah tersebut.
Dalam sehari, Aidit rapat bersama kader-kader PKI di Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Di Yogyakarta, Aidit bertemu petinggi partai dan memutuskan bahwa PKI setempat akan melancarkan aksi-aksi massa untuk membela Presiden Soekarno.
Di Semarang, Aidit bergabung dengan pimpinan PKI Jawa Tengah yang mengadakan rapat darurat. Rapat menghasilkan sikap politik yang menyatakan bahwa Gerakan 30 September adalah masalah internal Angkatan Darat. PKI tidak ada sangkut pautnya dengan gerakan itu. Tugas utama partai adalah melakukan konsolidasi.
Berlawanan dengan Semarang, rapat di Solo justru mendukung operasi Gerakan 30 September. Pertemuan yang dihadiri Wali Kota Solo Utomo Ramelan itu menyatakan, PKI harus melancarkan perjuangan bersenjata untuk mendukung gerakan Letkol Untung merebut kekuasaan pemerintah setempat.
Perbedaan keputusan inilah, menurut Victor Miroslav Fic dalam bukunya Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi, menjadi pemicu pendukung PKI terbelah menjadi golongan radikal dan moderat. Namun yang juga menjadi belum jelas dalam rangkaian peristiwa itu adalah bagaimana Aidit bisa mengadakan rapat di tiga kota dalam waktu sehari.
Dalam keadaan genting ini, politbiro PKI bertemu di Blitar, Jawa Timur pada 5 Oktober 1965. Pertemuan di Blitar simpang siur karena para elite PKI masih di Jakarta dan sibuk menyelamatkan diri. Menurut Victor, memang tidak semua elite PKI hadir di Blitar. Selain Aidit, hanya ada MH Lukman, Wakil Ketua I CC PKI yang juga Wakil Ketua DPR Gotong-royong.
Dalam surat tertanggal 6 Oktober 1965 yang diyakini ditulis di Blitar, Aidit menyampaikan peristiwa 30 September versinya. Dia menceritakan penjemputan terhadapnya oleh pasukan Cakrabirawa, dibelokkan ke Halim Perdanakusuma, hingga dikirim ke Yogyakarta.
Aidit juga menulis 6 poin usulan menyelesaikan krisis politik akibat penculikan dan pembunuhan para jenderal. PKI tetap beranggapan bahwa peristiwa itu merupakan persoalan internal di tubuh Angkatan Darat. Aidit mengaku tidak tahu sebelumnya soal gerakan itu. Kepada Soekarno, Aidit mengusulkan agar peristiwa itu diselesaikan presiden secara politik.
Di tengah gencarnya perburuan terhadap tokoh dan simpatisan PKI yang dilakukan pasukan Soeharto, Aidit masih sempat mengeluarkan instruksi. Salah satu instruksinya dibuat pada 10 November 1965, Aidit menyampaikan wasiat setelah melihat perkembangan keadaan.
Merujuk buku wartawan TVRI Hendro Subroto, Dewan Revolusi PKI: Menguak Kegagalannya Mengkomuniskan Indonesia, Aidit mengakui kerusakan pada partainya akibat G30S, meski semua sudah diperhitungkan. Surat wasiat itu juga mengisyaratkan kemungkinan Aidit mencari perlindungan ke RRC. Surat itu juga mengisyaratkan optimisme bahwa Sosro--yang diyakini sebagai nama samaran Soekarno--belum meninggalkan PKI.
Dalam sidang kabinet terakhir Kabinet Dwikora 6 Oktober 1965, Soekarno bisa meyakinkan kabinet untuk menerima usul Aidit. Tapi perkembangan yang terjadi justru berujung pada kekalahan PKI. Selang 12 hari setelah berkirim surat wasiat, nasib Aidit berakhir di tangan anak buah Komandan Brigif IV Kodam Diponegoro Kolonel Yasir Hadibroto.
Yasir, dalam Kompas edisi 5 Oktober 1980, menuturkan, Mayjen Soeharto menyebut yang melakukan pemberontakan G30S adalah anak-anak PKI yang pernah memberontak di Madiun pada 1948. Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad merangkap Panglima Kopkamtib memerintahkan Yasir membereskan semua. Disebutkan pula, DN Aidit sedang berada di Jawa Tengah.
Brigif IV sebenarnya tengah melakukan operasi di Kisaran, Sumatera Utara. Namun mereka kembali ke Jakarta setelah mendengar peristiwa 30 September 1965. Di hari pertemuan itu, 2 Oktober 1965, tentara telah memburu orang-orang PKI yang dituduh terlibat dalam peristiwa G30S. Namun DN Aidit, pucuk pimpinan PKI menghilang.
Atas perintah Soeharto, Yasir dan pasukan pun berangkat ke Solo. Di sana, mereka bertemu Sri Harto, orang kepercayaan pimpinan PKI sedang meringkuk di sel tahanan. Dia dilepas untuk mencari keberadaan Aidit. Hanya beberapa hari, Harto melapor Aidit berada di Kloco dan akan segera pindah ke Desa Sambeng belakang Stasiun Balapan pada 22 November 1965.
Operasi pun dimulai. Sekitar pukul 9 malam, Letnan Ning Prayitno memimpin pasukan Brigif IV menggerebek rumah milik bekas pegawai PJKA itu. Yasir memantau dari jauh. Para tentara menemukan Aidit tengah bersembunyi di balik lemari di salah satu sudut rumah. Aidit kemudian dibawa ke markas mereka di Loji Gandrung.
Malam itu juga Yasir menginterogasi Aidit. Kabarnya, pentolan PKI itu membuat pengakuan tertulis setebal 50 halaman. Isinya antara lain, hanya dia yang bertanggung jawab atas peristiwa G30S. Namun sayang, menurut Yasir, Pangdam Diponegoro kemudian membakar dokumen itu.
Menjelang dini hari Yasir kebingungan karena Aidit berkali-kali minta bertemu Soekarno. Namun Yasir tidak mau. "Jika diserahkan kepada Bung Karno, pasti akan memutarbalikkan fakta sehingga persoalannya akan jadi lain," kata Yasir dikutip Abdul Gofur dalam bukunya, Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia.
Akhirnya pada pagi buta, Yasir membawa Aidit meninggalkan Solo ke arah barat menggunakan iring-iringan tiga jip. Aidit yang diborgol berada di jip terakhir bersama Yasir. Saat terang, rombongan itu tiba di daerah Boyolali. Tanpa sepengetahuan dua jip pertama, Yasir berbelok masuk ke Markas Batalion 444.
"Ada sumur?" tanya Yasir kepada Komandan Batalion 444 Mayor Trisno. Trisno kemudian menunjuk sebuah sumur tua di belakang rumahnya.
Yasir membawa tahanannya ke tepi sumur tua. Dia mempersilakan Aidit mengucapkan pesan terakhir, namun Ketua Comite Central (CC) PKI itu justru pidato berapi-api. Hal itu membuat Yasir dan anak buahnya marah. Dan, dor! Timah panas menembus dada tubuh gempal Aidit. Menteri Koordinasi sekaligus Wakil Ketua MPRS itu tewas dan terjungkal masuk sumur pada 23 November 1965.
24 November 1965 pukul 3 sore, Yasir bertemu Soeharto di Gedung Agung, Yogyakarta. Setelah melaporkan tugas, sekaligus keputusannya membunuh Aidit, sang kolonel memberanikan diri bertanya kepada sang jenderal. "Apakah yang Bapak maksudkan dengan bereskan itu seperti sekarang ini, Pak?" Soeharto tersenyum.
Ada beberapa versi tentang cerita akhir hidup DN Aidit. Selain tewas ditembak di sumur tua, versi lain menyebut Aidit diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui secara pasti di mana jenazahnya dimakamkan.

Kematian Tanpa Pusara Sang Muazin

Ilustrasi Sumur

Selain kematiannya, kelahiran Aidit pun bermacam-macam versi. Beberapa mengatakan Aidit kelahiran Medan, 30 Juli 1923 dengan nama lengkap Dja'far Nawi Aidit. Keluarga Aidit konon berasal dari Maninjau, Sumatra Barat yang pergi merantau ke Belitung. Namun banyak masyarakat Maninjau tidak pernah mengetahui dan mengakui hal itu.
Versi lain menyebut, DN Aidit lahir di Jalan Belantu 3, Pangkallalang, Belitung pada 30 Juli 1923 dengan nama Achmad Aidit --ia biasa disapa Amat oleh orang-orang yang akrab dengannya. Anak sulung pasangan Abdullah Aidit dan Mailan ini lahir di lingkungan yang religius. Dia berasal dari keluarga berada, kakek dari ayah adalah pengusaha yang cukup berhasil sedangkan ibu dari keluarga ningrat sekaligus tuan tanah di Pulau Belitung.
Berasal dari keluarga berada, Aidit mudah bergaul dengan siapa saja. Aidit mendapat pendidikan dalam sistem kolonial Belanda. Sepulang sekolah, Aidit dan adik-adiknya belajar mengaji ke paman mereka.  Orang-orang di Belantu juga mengenal Aidit sebagai tukang azan atau muazin.
Seperti daerah-daerah di Indonesia saat itu, Belitung juga belum memiliki pengeras suara untuk azan. "Karena suara Bang Achmad keras, dia kerap diminta mengumandangkan azan," kata Murad Aidit.
Achmad Aidit memiliki tiga adik kandung yakni Basri Aidit (1925-1992), Ibrahim Aidit (1926, usianya tak sampai sehari), Murad Aidit (1927-2008), serta dua adik tiri yakni Sobron Aidit (1934-2007) dan Asahan Aidit (lahir 1938). Achmad Aidit memiliki lima anak yakni Ibaruri Putri Alam (1949), Ilya Aidit (1951), Iwan Aidit (1952), serta si kembar Ilham Aidit dan Irfan Aidit (1959).
Achmad banyak berubah sejak ia hijrah ke Jakarta di usia 13 tahun. Dia melanjutkan studi di Batavia dan aktif di sejumlah organisasi kepemudaan. Hingga akhirnya dia terjun ke politik, mengenal PKI, dan mengubah namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Di usianya yang masih muda, dia mampu menjadi pemimpin tertinggi PKI dan membesarkan partainya.
Namun karir cemerlang dan hidupnya berakhir setelah peristiwa berdarah 30 September 1965. DN Aidti diburu dan hingga kini jenazahnya masih misteri.
Sumur tua di bekas Markas Batalion 444 di Boyolali kini tak terlihat lagi. Hamparan tanah berkerikil di dekat gedung tua itu kini ditumbuhi labu siam, ubi jalar, serta pohon mangga dan jambu biji di kanan-kirinya. Meski tak berbekas, banyak orang meyakini di sepetak halaman itu pernah ada sumur tua, tempat jasad DN Aidit terkubur. Salah satunya Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) Boyolali, Tamam Saemuri (lahir 1936).
Pada suatu malam di tahun berdarah 1965, Tamam muda pernah bertemu Kolonel Yasir Hadibroto dalam sebuah rapat. Saat itu Tamam aktif di Gerakan Pemuda Ansor NU, organisasi yang banyak terlibat 'operasi pembersihan'. Kepada Tamam, Yasir mengumumkan pasukannya telah menembak mati DN Aidit. "Dia diberondong senapan AK sampai habis 1 magasin," kata Tamam.
Sejumlah sumber lain membenarkan cerita Tamam. Setelah puluhan tahun, cerita itu sampai juga ke telinga putra DN Aidit, Ilham. Sekitar tahun 2000, Ilham memutuskan sendiri datang ke lokasi diduga pusara ayahnya. Saat itu, dia hanya berbekal sepotong informasi dari koran bahwa ayahnya tewas ditembak di Boyolali.
"Sejak lulus kuliah sampai 1998, saya selalu mencari kuburan Ayah dengan sembunyi-sembunyi," katanya akhir September 2007.
Menemukan makam Aidit bukan perkara mudah, bahkan bagi anaknya. Ada upaya sistematis untuk membuat peristirahatan pentolan PKI itu dilupakan. Sumur tua itu misalnya, sampai dua kali diuruk setelah November 1965. Kompleks markas Batalion 444 juga dibongkar dan kini hanya menyisakan gedung tua yang digunakan sebagai mes pegawai Kodim Boyolali.
Batalion 444 dikenal sebagai kesatuan tentara prokomunis. Salah satu komandan kompinya yakni Letkol Untung Syamsuri yang kemudian memimpin operasi penculikan sejumlah jenderal pada malam 30 September 1965.
Pencarian Ilham baru berbuah setelah dia dihubungi lembaga swadaya masyarakat lokal Boyolali. LSM itu menerima informasi dari sumber-sumber kredibel yang terlibat langsung dalam pembunuhan anggota PKI saat itu. Sumber-sumber di Boyolali membenarkan, lokasi itu tempat jasad DN Aidit ditimbun tanah.
Tak sampai 100 meter dari halaman yang disebut bekas sumur tua, ada lokasi lain yang disebut berkaitan dengan kematian Aidit. Di sanalah, konon, pucuk pimpinan PKI itu ditembak mati. Pekarangan itu bagian dari satu rumah berarsitektur tua yang sekarang menjadi gedung Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah.
"Jadi, setelah ditembak di sana, baru jenazahnya dimasukkan ke sumur sebelahnya," kata Ilham kepada Tempo.
Ketika akhirnya berdiri di samping pusara ayahnya pada 2003 lalu, Ilham mengaku tak kuasa menahan getaran hatinya. "Naluri saya mengatakan memang di sinilah tempatnya," katanya tercekat.
Ilham yang menyaksikan detik-detik DN Aidit dijemput 'tamu tak diundang' pada malam 30 September 1965 itu mengaku memendam keinginan untuk menguburkan jenazah ayahnya ke tempat yang lebih layak. "Tapi mungkin belum bisa sekarang," katanya pelan. "Kami harus bersabar."


Sumber : https://www.liputan6.com/
x

Saturday, June 6, 2020

Tan Jing Sing Bupati Pertama Yogyakarta Pendiri Trah Secodiningrat | Pegawai Jalanan


Kami berani bertaruh kalian pasti tidak banyak yang mengenal nama Tan Jin Sing, kecuali masyarakat Tionghoa yang berada di Yogyakarta karena Tan Jin Sing adalah tokoh yang sangat dibanggakan. Bukan sekedar kebanggaan di masa lalu tetapi juga sebagai bukti pengabdian masyarakat Tionghoa dalam perjalanan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Maka rasanya kami pantas untuk mengangkat materi ini sabgai bahan pengetahuan tambahan bagi kalian pecinta sejarah nusantara terutama kalian orang jawa dan tionghoa agar lebih lagi mencintai negeri ini.
Bukti pengabdian masyarakat Tionghoa yang sangat besar adalah terdapat tiga keturunan Tionghoa di lingkungan Keraton Yogyakarta. Antara lain Trah Secodiningrat, Trah Honggodrono, dan Trah Kartodirjo.
Trah Secodiningrat adalah trah yang diturunkan Kanjeng Raden Temenggung Secodiningrat yang merupakan Bupati Nayoko (menteri) pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono III (Sultan Raja).
KRT Secodiningrat adalah gelar Kapitan Tan Jin Sing yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono III. Sebagai kapitan pimpinan masyarakat Tionghoa, Tan Jin Sing adalah tokoh yang mempertemukan budaya Jawa dengan budaya Tionghoa pertama kali.
Tan Jin Sing secara fisik memiliki wajah yang tampan, gagah, berwibawa, berkulit hitam manis, bermata tidak sipit, sekaligus memiliki sorot mata yang tajam dan bersih layaknya bangsawan di masa itu.
Tan Jin Sing tumbuh di lingkungan keluarga Oei The Long yang merupakan juragan gadai di Wonosobo (Jawa Tengah). Banyak yang meragukan kalau Tan Jin Sing adalah keturunan Oei The Long karena berbeda warna kulit. Beliau merupakan keturunan asli dari bangsawan Jawa yaitu cicit dari Adipati Danurejo I, yang merupakan patih pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Bupati Banyumas Raden Temenggung Yudonegoro III yang merupakan keturunan dari Sultan Amangkurat Agung memiliki banyak keturunan. Hal yang lumrah bagi kalangan elit waktu itu karena diterapkannya tradisi memiliki banyak istri. Anak ke-16 yang bernama Raden Ayu Pratrawijaya dipinang Demang Kalibeber, Wonosobo. Dari pernikahan dengan Demang Kalibeber, mereka memiliki tiga putra dan anak bungsunya diberi nama Raden Luwar.
Sepeninggal Demang Kalibeber bersamaan dengan remajanya Raden Luwar, teman dekat Kalibeber yaitu Oei The Long (juragan gadai) mengasihani Raden Luwar karena yatim. Lalu Oei The Long meminta Raden Ayu Pratawijaya agar mengasuh Raden Luwar.
Setelah Raden Luwar diangkat sebagai anak, hampir setiap hari Raden Ayu Pratawijaya bertemu dengan anaknya, seperti halnya Raden Luwar yang selalu merenung dan menangis ingin bersama ibunya.
Karena pertemuan sering terjadi, tumbuhlah benih cinta antara Oei The Long dengan Raden Ayu Pratawijaya. Akhirnya Oei The Long menikahi Raden Ayu Pratawijaya dengan cara islam, karena kebetulan Oei The Long adalah Tionghoa penganut agama Islam. Setelah resmi menjadi anak tiri, Oei The Long memberi nama Tionghoa kepada Raden Luwar yaitu Tan Jin Sing.

Tan Jin Sing
Di tahun 1757, Pangeran Mangkubumi berhasil menguasai sebagian wilayah Mataram sesuai dengan perjanjian Giyanti dan mendirikan Kesultanan Ngayogyakartadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Ia kemudian membawa Bupati Banyumas Yudonegoro III ke Yogyakarta sekaligus diangkat sebagai Patih dan diberi gelar Kanjeng Adibapati Danurejo I.
Alasan pengangkatan Yudonegoro III menjadi patih karena jasanya yang besar pada Mangkubumi dalam memperjuangkan haknya di Mataram. Putra sulung Yudonegoro III menggantikan kedudukannya sebagai Bupati Banyumas yang bergelar Yudonegoro IV.
Kepindahan Yudonegoro III ke pusat pemerintahan Yogyakarta dengan memangku gelar baru sebagai Patih tentu diikuti sejumlah anggota keluarganya termasuk menantunya (juragan Oei The Long). Pada saat itu juga Tan Jin Sing (Raden Luwar) menetap di pusat Kesultanan Yogyakarta.
Setelah Tan Jin Sing beranjak dewasa, ia menikahi putri seorang Kapitan Yap Sa Ting Ho (Kapitan Cina di Yogyakarta) pada masa itu. Pernikahan ini menjadikan naiknya derajat Tan Jing Sing. Karena Tan Jin Sing menantu seorang kapitan, maka ia cukup disegani masyarakat Tionghoa apalagi ia dipercaya merupakan orang yang cakap dan memiliki kesaktian yang tinggi. Setelah Kapitan Yap Sa Ting Ho wafat, diangkatlah Tan Jin Sing sebagai penggantinya dengan gelar Kapitan(Lurahing Pacino) di Yogyakarta.
Pada tahun 1813-1815, terjadi kegoyahan di Kesultanan Yogyakarta karena perselisihan antara Sri Sultan Hamengku Buwono II dengan putra mahkotanya (Sultan Raja).  Saat itu Raffles tengah menjabat gubernur jendral di Jawa. Penolakan Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk tunduk kepadanya membuat Raffles mengirim pasukan dari India dan Gurkha untuk menghukum Sultan. Pasukan itu disebut pasukan Sepehi oleh rakyat Yogyakarta. Campur tangan Raffles untuk menyingkirkan Sri Sultan Hamengku Buwono II dari kedudukannya ini dikenal sebagai “Geger Sepehi” di Yogyakarta.
Perselisihan tersebut berlanjut antara prajurit pengikut Sultan Raja dan pengikut setia Sri Sultan Hamengku Buwono II yang disebut Sultan Sepuh. Dalam peperangan tersebut Tan Jin Sing mengikuti pihak Sultan raja dengan cara memberikan bantuan berupa segala kebutuhan perang hingga logistik.
Setelah Raffles berhasil mengasingkan Sultan Sepuh ke pulau Penang, Sultan Raja naik tahta dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono III. Bersamaan dengan kenaikan Sultan Raja sebagai Sultan, derajat Tan Jin Sing pun ikut naik. Karena bantuan yang besar dari Kapitan Tan Jin Sing, Sri Sultan mengangkatnya menjadi Bupati Nayoko di Yogyakarta yang diberi nama Raden Temenggung Secodiningrat.
Tak hanya itu Tan Jin Sing juga mendapat bantuan dari Sri Sultan sebanyak 1000 ringgit setiap bulan. Keputusan tersebut dikarenakan tunjangan tersebut diberikan turun temurun, jika yang menjadi raja berdarah Sultan Raja.
Selain itu Sri Sultan juga menghadiahi Tan Jin Sing tanah yang terletak di Desa Padokan, Bantul, di wilayah tertentu di bawah pengawasannya. Wilayah tersebut diberikan seiring dengan pemberian pada Tan Jing Sing gelar KRT (Kanjeng Raden Temenggung) Secodinigrat sehingga wilayah ini disebut tlatah atau Bumi Secodiningrat yang wilayahnya meliputi Pecinan (Malioboro), Pajeksan, Gondomanan dll.
Setiap anak laki-laki keturunan KRT Secodiningrat diberi gelar Raden, bila anak pertama laki-laki diwajibkan menggunakan nama kebangsaan Jawa. Sedangkan untuk anak perempuan diberi gelar Raden Roro , jika menikah dengan bangsawan mendapat gelar Raden Nganten.
Hingga tahun 1760-1831 Kapitan Tan Jin Sing mempunyai tiga pendamping. Istri pertama keturunan asal Tionghoa Peranakan yang disebut Nyonya kapitan, istri kedua keturunan Jawa bergelar Mas Ajeng Secodiningrat, sedangkan istri ketiga juga perempuan Jawa yang dipanggil Raden Nganten Secodiningrat. Keturunan KRT Secodiningrat berkembang karena ketiga orang istrinya ini.
Pada tanggal 10 Mei 1831 Kapitan Tan Jin Sing meninggal dunia, dan dimakamkan secara Islam. Kedudukannya sebagai Kapitan Cina sekaligus Bupati Nayoko digantikan putranya yang bernama Raden Dagang, yang memiliki gelar Tumenggung Secodiningrat II. Raden Dagang dilahirkan dari istri pertama atau dari Nyonya Kapitan yang bernama Yap Sa Ting Ho.
Karena lahir dari ibu yang berbeda, dari Tionghoa dan Jawa menjadikan keturunan Secodiningrat tersebar menjadi dua kelompok yaitu budaya Tionghoa dan Budaya Jawa. Meskipun terdapat perbedaan budaya, namun mereka tetap bersatu dalam keluarga besar KRT Secodiningrat dalam wadah Trah Secodiningrat.
Keluarga Trah Secodiningrat banyak tersebar diberbagai kota terutama Jawa. Dan tak hanya beragama Islam, tetapi juga agama lain seperti Katholik, Kristen, dan Budha. Keturunan KRT Secodiningrat menjunjung tinggi perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa, sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Penyunting : Argha Sena
Sumber : kekunoan.com

Tan Jin Sing, Keturunan Tionghoa Pembuka Jalan Pertama ke Candi Borobudur | Pegawai Jalanan

Tan Djin Sing
Pada tanggal 3 Agustus 1812, Tan Jin Sing bertamu ke rumah Residen Inggris di Yogyakarta, John Crawfurd yang sedang bersama atasannya, Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Tan Jin Sing memberi tahu Raffles dan Crawfurd bahwa dirinya sebagai bupati Yogyakarta yang diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono III, akan menggunakan nama Secodiningrat. Sultan memberinya gelar Tumenggung, sehingga nama lengkapnya Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat.
Raffles menyatakan gelar itu pantas karena Tan Jin Sing berjasa kepada Sultan Hamengkubuwono III. Dia menyerahkan surat kuasa penarikan pajak di daerah Kedua kepada Tan Jin Sing.
Selain itu, Raffles juga mengungkapkan ketertarikannya pada candi-candi peninggalan nenek moyang orang Jawa dan ingin menelitinya. Dia telah melihat Candi Prambanan dan akan memerintahkan Letkol Colin Mackenzie untuk meneliti dan memugarnya dengan bantuan dari Crawfurd. Mackenzie berpengalaman dalam hal pengumpulan data geografis, sejarah dan artefak purbakala kala di India. Namun, Mackenzie keburu kembali ke India pada Juli 1813.
Tan Jin Sing menanggapi minat Raffles akan candi. “Tan Jin Sing mengatakan bahwa salah seorang mandornya pernah mengatakan bahwa di Desa Bumisegoro deket Muntilan, dia melihat sebuah candi besar. Memang kejadian ini telah puluhan tahun silam ketika mandor itu masih kecil,” tulis TS Werdoyo, salah seorang keturunan Tan Jin Sing, dalam biografi Tan Jin Sing: Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta.

Raffles langsung tertarik dan meminta Tan Jin Sing pergi ke Bumisegoro untuk melihat keberadaan candi tersebut. Hari minggu, Tan Jin Sing dan mandornya, Rachmat, berangkat naik kereta kuda ke Bumisegoro. Sesampainya di sana, mereka mengajak warga desa bernama Paimin, sebagai penunjuk jalan.
Paimin berjalan di muka, membuka jalan sembari membabat semak belukar dengan parangnya. Setelah menaiki bukit, mereka sampai di lokasi candi. “Menurut Paimin namanya candi Borobudur,” tulis Werdoyo. Keadaannya menyedihkan, tubuhnya ditumbuhi tanaman, bagian bawahnya terkubur dalam tanah, sehingga candi itu seolah-olah berada di atas bukit, Sekelilingnya penuh semak belukar. Selesai mengamati monumen kuno itu, mereka kemudian kembali.
Setelah memberi upah secukupnya kepada Paimin, Tan Jin Sing dan Rachmat berangkat pulang. Sepanjang perjalanan, dia mengutarakan ketakjubannya akan Borobudur kepada Rachmat. Dia menaksir candi itu sudah berumur 1000 tahun dan merupakan peninggalan orang Jawa yang beragama Hindu dan Budha.
“Setelah orang Jawa menganut Islam, upacara di candi ditinggalkan sehingga pemeliharaan candi itu terabaikan. Dia juga berpikir tentang orang Belanda yang sudah lebih dari 100 tahun di Pulau Jawa tetapi kurang memberi perhatian pada candi-candi itu. Atas dasar ini dia merasa heran dan kagum bahwa orang Inggris yang justru tertarik pada monumen itu,” tulis Werdoyo.
Setiba di rumah, Tan Jin Sing membuat peta lokasi Borobudur dan menulis secara singkat laporan pandangan mata tentang keadaan sekeliling candi. Dalam suratnya, dia mengusulkan supaya diperkenankan membersihkan pepohonan dan semak belukar di sekitar candi, serta membuat akses jalan menuju candi supaya tim yang akan dikirim Raffles tidak kesulitan dalam menelitinya. Laporan itu dikirim kepada Raffles di Batavia.
Pada November 1813, Raffles mengirim surat kepada Tan Jin Sing. Dia mengizinkan Tan Jin Sing membersihkan hutan belukar yang menutupi candi dan membuat jalan menuju candi. Dia ingin bertemu dengan Tan Jin Sing di Semarang pada 12 Januari 1814. Setelah itu, dia dan tim ahli purbakala akan meneruskan perjalanan ke Bumisegoro.
Setelah membaca surat tersebut, keesokan harinya, Tan Jin Sing dan Rachmat berangkat ke Bumisegoro. Sesampainya di sana, mereka meminta Paimin dan penduduk setempat membersihkan 20 meter sekitar candi. Mereka juga membuat jalan selebar lima meter dari Bumisegoro menuju candi. Pekerjaan harus selesai sebelum akhir Desember 1813.

Pagi 11 Januari 1814, Tan Jin Sing dan Rachmat berangkat menuju Semarang. Rachmat turun di Bumisegoro. Tan Jin Sing berpesan kepada Rachmat bahwa lusa dia dengan Raffles dan rombongannya akan meninjau candi Borobudur. Untuk itu, Rachmat diminta tetap tinggal di situ sambil melakukan persiapan.
Di Semarang, Tan Jin Sing diperkenalkan kepada Mayor Herman Christian Cornelius, arkeolog berkebangsaan Belanda dan ketiga stafnya. Raffles tidak bisa ikut dengan rombongan karena harus segera ke Surabaya. Keesokan harinya, Tan Jin Sing beserta Cornelius dan stafnya bertolak menuju Bumisegoro.
Sesampainya di lokasi candi, Tan Jin Sing berkata kepada Cornelius: “Seperti tuan lihat, candi ini tampaknya berada di atas bukit. Kaki candi ada di bawah tanah, tetapi saya tidak berani menyuruh mandor saya, Rachmat, untuk melakukan penggalian karena khawatir bila tidak dilakukan dengan pengawasan yang cermat, bisa merusak batu-batu yang tertimbun di bawahnya. Di atas candi itu masih ada tetumbuhan. Saya tidak berani menyuruh mencabutnya takut kalau batu-batu itu akan runtuh.”
Cornelius mengapresiasi pekerjaan Tan Jin Sing. “Tuan sudah bersihkan tanah dua puluh meter di sekeliling candi. Ini cukup bagus, tetapi saya pikir perlu diperluas hingga lima puluh meter. Siapa yang tuan minta mengerjakan ini?” Tanya Cornelius.
Tan Jin Sing meminta Rachmat dan Paimin mengerahkan penduduk untuk memperluas areal yang dibersihkan sampai lima puluh meter. Setelah pekerjaan itu selesai, Cornelius dan stafnya mulai bekerja melakukan pengukuran dan membuat gambar. Cornelius menargetkan pekerjaannya selama dua bulan.
Frederik Coyett boleh jadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Borobudur pada 1733 dan mencuri sejumlah patung. Begitu pula dengan Raffles yang berperan dalam menugaskan Cornelius dan stafnya untuk melakukan penelitian di candi Borobudur. Namun, pembuka jalan pertama ke Borobudur adalah seorang Tionghoa, Tan Jin Sing dibantu mandornya, Rachmat dan Paimin serta penduduk setempat.
Tan Jin Sing atau Raden Tumenggung Secodiningrat menjabat bupati Yogyakarta sampai meninggal pada 10 Mei 1831. Namanya sempat diabadikan menjadi Jalan Secodiningratan, namun kemudian diganti menjadi Jalan P. Senopati.
Penyunting : Argha Sena
Sumber : historia.id dan wikipedia.com


Tuesday, May 19, 2020

8 Ramalan Jayabaya yang Kebetulan Terbukti Kebenarannya | Pegawai Jalanan


Dalam perjalanan sejarah nusantara, nama Kediri tak bisa dipisahkan dari tokoh yang sangat terkenal dan melegenda, yakni Prabu Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudana Wataranindita Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalancana.
Jayabaya adalah tokoh yang melahirkan kitab ramalan yang hingga kini masih dianggap memiliki 'tuah' dan dipercaya masih berlaku, yakni Jangka Jayabaya. Salah satu ramalan Jayabaya yang paling kesohor adalah soal para pemimpin negeri ini. Ramalan Jayabaya menyebut bahwa pemimpin Indonesia yang berarti presiden adalah No-To-No-Go-Ro.
Banyak yang percaya dan meyakini dengan ramalan tersebut. Hal ini karena pemimpin di negeri ini sesuai dengan apa yang ditulis Jayabaya, yakni Notonogoro. Namun selain Notonogoro, Raja Kediri ini juga memiliki beberapa ramalan lainnya. Ramalan itu pun diyakini dan benar-benar terjadi.

Berikut delapan ramalan Jangka Jayabaya yang sudah terbukti terjadi di Tanah Air:

Jawa akan terpecah-pecah


Sundaland
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Prof Arysio Santos, Ph.D dalam bukunya Atlantis The Lost Continent Finally Found disebutkan atlantis adalah negeri tropis yang berlimpah mineral dan kekayaan hayati.
Namun segala kemewahan itu lenyap tersapu bencana maha besar yang memisahkan Jawa dari Sumatera, menenggelamkan lebih dari separuh wilayah nusantara. Kejadian itu diperkirakan pada 11.600 tahun yang lalu.
Apa yang diteliti oleh Arysio tersebut menurut ahli sejarah Kediri, sebenarnya sudah dijelaskan dalam Kitab Jangka Jayabaya.
Bencana tersebut masuk dalam periodesasi zaman besar kedua yang disebut dalam Jangka Jayabaya adalah Zaman Kalijaga yang memiliki arti zaman tumbuhan. Di Jawa yang saat itu masih menyatu dengan pulau-pulau lain mengalami perubahan, yakni terpecah menjadi pulau-pulau kecil.

Marak seks bebas


apa ini?
Raja Jayabaya juga banyak memberikan perlambang dan sindiran yang bisa dibuktikan hingga sekarang, contohnya fenomena seks bebas yang hingga kini masih sering terjadi di masyarakat. Kemahiran Prabu Jayabaya ini diyakini dia dapatkan dari Syaikh Syamsuddin Al-Wasil.
Dalam Kitab Jangka Jayabaya pernah diungkapkan bahwa nanti akan banyak kaum laki-laki dan perempuan yang akan kehilangan rasa hormat sampai rasa malu.
Ada lagi yang menarik ungkapan dalam Jangka Jayabaya yakni wong wadon ilang kawirangane wong lanang ilang prawirane. Artinya banyak perempuan hilang rasa malunya dan banyak laki-laki hilang kehormatannya. Dengan tidak mendahului kehendak Allah, namun prediksi ini sudah terbukti.
Yang terakhir ada nukilan dari Jangka Jayabaya yakni akeh udan salah mangsa, akeh prawan tua, akeh randa nglairake anak, akeh jabang bayi lahir nggoleki bapa'e. Artinya banyak hujan turun bukan pada musimnya, banyak perawan tua yang terlambat menikah karena terlalu memilih-milih pasangan dan juga mementingkan karier. Banyak janda melahirkan anak (akibat hubungan bebas) dan banyak yang lahir mencari siapa ayahnya.
Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua agar tetap eling lan waspada yang artinya agar tetap ingat dan waspada.

Praktik korupsi di mana-mana


Koruptor
Kitab Jangka Jayabaya memprediksi akan terjadi praktik korupsi di tanah air yang dulu masih bernama Nusantara. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya pejabat yang haus akan kekuasaan dan melanggar sumpah-sumpah jabatannya.
Perlambang itu antara lain adalah, akeh janji ora ditetepi, akeh wong nglanggar sumpahe dewe (artinya - banyak orang melanggar janji dan sumpah jabatan yang diartikan untuk para pejabat banyak dilanggar, misalnya hakim berkhianat, pejabat yang korupsi dan lain sebagainya).
Akeh menungso mung ngutamakke duwit, lali kemenungsan, lali kebecikan lali sanak lali kadang (Banyak manusia yang hanya mengutamakan uang, lupa perikemanusiaan, lupa kebaikan dan lupa saudara.
Silakan kalian nalar sendiri, kejadian-kejadian yang diprediksi Sang Prabu Jayabaya sudah terbukti.

Munculnya pesawat terbang dan kereta api, hilangnya pasar pagi


Pesawat
Dalam Kitab Jangka Jayabaya banyak mengeluarkan sindiran untuk kehidupan di masa depan seperti sekarang. Jayabaya bisa memprediksi pasar rakyat yang biasanya ramai di pagi hari kini sudah tak bisa didengar lagi dalam radius 5 km.
Beberapa sindiran tersebut antara lain, Mbesuk yen ana kereta mlaku tanpa jaran, tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing duwur awang-awang, kali ilang kedunge pasar ilang kumandange. Iku tanda yen tekane jaman Joyoboyo wis cedak.
Kalau diterjemahkan artinya kurang lebih adalah - besok kalau sudah ada kereta berjalan tanpa kuda, tanah Jawa berkalung besi - artinya adanya kereta api, perahu berjalan di atas angkasa - artinya terciptanya pesawat terbang. Sungai hilang kedungnya artinya kehilangan sumber air dan ini sudah terbukti, termasuk pasar hilang kumandangnya, di mana zaman dahulu pasar di pagi hari seperti suara lebah karena suara pedagang dan pembeli bisa terdengar di radius 5 km. 
Sekarang tidak semua orang pergi kepasar karena banyak sekali toko online, makanan online, bahkan kita sekarang sedang menghadapi virus corona dan menerapkan Social Distancing yang tentunya mewajibkan kita untuk semakin membatasi interaksi social kita.

Tren orang mencari pesugihan


Ilusterasi
Selain memprediksi munculnya teknologi pesawat terbang dan kereta api, dalam Kitab Jangka Jayabaya juga mengatakan akan maraknya fenomena orang-orang tergila-gila dengan pesugihan karena malas untuk bekerja mencari uang.
Perlambang tersebut mengatakan - Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin, luwih utama ngapusi. Wegah nyambut gawe kepengen kepenak, ngumbar nafsu angkara murka, nggedekake duraka.
Artinya dalam bahasa Indonesia adalah, banyak orang yang bekerja baik-baik merasa malu, lebih utama menipu. Banyak yang malas bekerja tapi ingin kaya (mungkin dengan mencari pesugihan atau tumbal,red). Banyak orang mengumbar nafsu angkara murka dan memperbesar perbuatan durhaka.
Kita bisa saksikan sendiri pada zaman kita ini, apakah kejahatan semakin berkurang? atau malah semakin bertambah? bagaimana dengan pesugihan yang ada di tempat tertentu? Mungkin orang yang tinggal di Pulau Jawa lebih tahu informasi ini.

Pulau Jawa sering terjadi banjir


Pulau Jawa
Ramalan ini benar-benar terjadi parah di pulau Jawa hingga kini. Raja Jayabaya sudah memprediksi sejak dulu bahwa pulau Jawa akan banyak digenangi banjir. Zaman itu disebut olehnya Zaman Kalatirto.
Zaman Kalatirto atau zaman air, di Jawa sering terjadi banjir karena Sang Hyang Raja Kano yang bertahta di Negara Purwocarito sering menata batu besar untuk membendung kali dan bengawan. Ini dihitung mulai tahun 301-400 tahun surya atau mulai tahun 310-412 tahun candra.
Bagaimana dengan prediksi kali ini? Apakah banjir sudah terjadi di Jawa? Jawabannya sudah apalagi di Jakarta langganan banjir setiap tahunnya.

No-To-No-Go-Ro


Pejuang Kemerdekaan
Salah satu ramalan Jayabaya yang paling tersohor adalah soal para pemimpin negeri ini. Ramalan Jayabaya menyebut bahwa pemimpin Indonesia yang berarti presiden adalah No-To-No-Go-Ro.
Banyak yang percaya dan meyakini dengan ramalan tersebut. Hal ini karena pemimpin di negeri ini sesuai dengan apa yang ditulis Jayabaya, yakni Notonogoro. Kata No dan To adalah merujuk pada presiden pertama Republik Indonesia yaitu Sukar-No dan presiden kedua Republik Indonesia yaitu Suhar-To. 
Sedangkan untuk kata setelahnya yaitu No beberapa orang yang ahli ada yang berpendapat adalah Presiden Habibie dengan menterjemahkan kata Habibi dalam bahasa arab yang artinya adalah cinta, cinta dalam bahasa jawa adalah Tres-NO jadi cocok dengan prediksi Prabu Jayabaya, yaitu Tres-No yang di maksud adalah presiden Habibi. Sedangkan sisanya Go dan Ro sampai sekarang belum ada yang cocok dengan prediksi ini.

Akan ada kulit kuning lepaskan Indonesia dari kekejaman kulit putih
Penjajahan
Dalam sebuah kisah, Sakari Ono takjub merasakan kesegaran air kelapa yang membasahi tenggorokannya. Inilah pertama kalinya anggota Batalyon 153 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang itu merasakan air kelapa muda. Ono muda begitu terkesan dengan keramahan penduduk di Cilacap, Jawa Tengah. Walau tak banyak interaksi dan terbatas karena kendala bahasa, Ono merasa disambut baik di Pulau Jawa.
Ono kemudian mengerti masyarakat begitu mempercayai ramalan Jayabaya. Akan ada orang-orang kate berkulit kuning yang akan melepaskan pendudukan Indonesia dari kekejaman bangsa kulit putih. Mereka percaya orang kate itulah para Tentara Jepang yang dahulu memiliki postur pendek dan berkulit kuning.
Selama bertugas di Indonesia, Ono lebih banyak kecewa melihat sikap para tentara Jepang lain. Pada masa tahun 1943 sampai awal 1945 di mana tidak ada perang di Pulau Jawa. Kemudian, Ono melarikan diri dari militer Jepang dan bergabung dengan tentara Indonesia.

Ono pun mengubah namanya menjadi Shigeru. Sehingga para veteran Jepang mengenalnya sebagai Rahmat Shigeru Ono. Dia kemudian berjuang bersama para pemuda. Dia melatih mereka dan memimpin gerilyawan Indonesia berperang melawan Belanda.
Rahmat Ono adalah tentara Jepang terakhir yang memihak Republik Indonesia. Samurai terakhir ini tutup usia tanggal 25 Agustus 2014 di Malang. Di tengah keluarga dan tanah air yang dicintainya.
Dari Sekelumit kisah ini, jelas Jepang mempunyai andil dalam mengusir Belanda di Indonesia dan Inggris di Semenanjung Malaya. Jika tidak karena Jepang yang mengobrak abrik kekuatan sekutu di Asia Tenggara, sudah pasti Indonesia kan lebih sulit lagi untuk mendapatkan kemerdekaannya. Karena saat jepang kalah perang dan menyerah, senjata-senjata peninggalan Jepang banyak digunakan oleh pejuang kita untuk melawan sekutu yang ditumpangi Belanda saat berusaha kembali menduduki Indonesia.

Itulah kedelapan ramalan Jayabaya yang sudah terjadi di tanah air, dalam pembahasan kali ini kami tidak menganjurkan kalian percaya dengan ramalan karena jelas percaya ramalan adalah perbuatan syirik. Akan tetapi kami hanya menganggap ini adalah sebuah sastra kuno yang memuat tentang sebuah prediksi yang kebetulan beberapa diantaranya pas dengan keadaan pada zaman modern ini. Kita ibaratkan dengan prediksi BMKG yang meramalkan cuaca dengan keilmuannya, begitu juga Prabu Jayabaya mungkin beliau mempunyai ilmu yang dapat menganalisa dan memprediksi sosiocultural masyarakat pada masa itu. 

Penulis : Argha Sena

https://www.merdeka.com


Saturday, May 16, 2020

55 Ramalam Joyoboyo Yang Harus KIta Cpocokan Dengan Situasi Saat Ini | Pegawai Jalanan

Sunda Land

Kali ini Pegawai Jalanan akan membagikan ramalan Tahun 2020 menurut JOYOBOYO. Sekilas tentang Joyoboyo bagi kalian yang belum mengerti. Joyoboyo atau Sri Aji Joyoboyo adalah salah satu Raja di Kerajaan Kediri yang sangat terkenal ampuh dengan Ramalan nya.
Joyoboyo memerintah dari Tahun 1130 sampai 1157, dan pada masa pemerintahanya, dunia sastra Jawa Kuno mengalami kemajuan dan masa keemasanya. Joyoboyo juga pernah meminta Empu Panuluh dan Empu Sedah menyadur cerita Mahabarata Sansekerta kedalam kakawin Jawa Kuno Bharatayudha.
Ramalan Joyoboyo sangat terkenal di Indonesia, setiap ada peristiwa besar yang terjadi di Indonesia, banyak masyarakat dan pejabat yang mengaitkanya dengan ramalan Joyoboyo tersebut. Hal ini mungkin dikarenakan saat membuat ramalan tersebut, Joyoboyo tidak asal sembarangan menerawang, melainkan juga melakukan Puasa, Semedi dan meditasi yang cukup lama dan sacral sehingga banyak ramalanya yang terbukti.

Prabu Joyoboyo

Berikut ini adalah cuplikan ramalan tersebut.
  • Besuk akan ada kereta tanpa kuda ( Mobil )
  • Pulau jawa akan berkalung besi ( Rel kerata )
  • Besuk akan ada perahu yang terbang ke Angkasa ( Pesawat )
  • Sungai akan kehilangan mata air
  • Pasar kehilangan keramaianya
  • Bumi akan tampak semakin kecil
  • Tanah sekilan dikenai pajak
  • Orang laki-laki berpakaian wanita, orang wanita berpakaian laki-laki
  • Banyak janji yang tidak ditepati
  • Banyak orang yang berani melanggar sumpahnya sendiri
  • Banyak orang yang saling lempar kesalahan dan tanggung jawab
  • Banyak orang akan melupakan Hukum Tuhan
  • Orang Jahat dipuji, orang suci dibenci
  • Banyak orang yang mengutamakan persolanan uang
  • Lupa akan kebaikan
  • Lupa sanak dan saudara
  • Banyak Ayah lupa pada anaknya
  • Banyak anak yang berani pada Ibunya
  • Saudara saling pecah belah
  • Antar keluarga saling curiga
  • Teman jadi lawan
  • Banyak manusia lupa asal usulnya
  • Banyak hukum yang tidak adik
  • Banyak pejabat jahat
  • Orang baik akan tersisih
  • Banyak orang malu untuk kerja halal
  • Lebih suka pekerjaan yang haram
  • Ingin hidup mewah
  • Orang baik ditolak, orang jahat naik pangkat
  • Perempuan kehilangan malunya
  • Orang laki-laki kehilangan kewibawannya
  • Banyak laki-laki tak punya istri
  • Banyak perempuan tidak setia pada suaminya
  • Banyak ibu menjual anaknya
  • Banyak perempuan menjual dirinya sendiri
  • Banyak orang bertukar pasangan
  • Banyak orang yang berdagang ilmu
  • Diluar putih dalamnya hitam
  • Banyak hujan yang tidak pada musimnya
  • Banyak perawan tua
  • Banyak janda melahirkan
  • Banyak anak lahir mencari anaknya
  • Agama banyak yang menantang
  • Rumah ibadah dibenci, rumah maksiat dipuja
  • Guru dimusuhi
  • Tetangga saling mencurigai
  • Angkara murka merajalela
  • Besuk akan ada perang yang datang dari Timur, Selatan, Barat dan Utara
  • Banyak orang baik semakin sengsara
  • Orang jahat semakin bahagia
  • Penghianat semakin nikmat
  • Orang lugu semakin terbelenggu
  • Pedagang banyak yang tenggelam
  • Perempuan melamar laki-laki
  • Pembeli membujuk penjual
Demikianlah ramalan Joyoboyo, dan sadar atau tidak, banyak sudah ramalan yang sudah dan sedang terjadi. Tentu ini semua menjadi pesan moral supaya kita semakin waspada akan segala tindak tanduk yang biasa kita lakukan. Sudah saatnya kita instropeksi diri, menyembuhkan pikiran dan batin kita dari keserakahan, kemunafikan, kejahatan, dan hal-hal buruk lainya.
Mari kita semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta yaitu Allah SWT, supaya kita senantiasa dilindungi dari bahaya dan cobaan yang dapat menyeret kita kedalam dosa dan akhirnya membawa kita ke Neraka. Tidak ada pilihan selain selain bertaubat, beribadah dan Percaya kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

6 Fakta Laksamana Kolchak, Pemimpin Anti-Bolshevik yang Terlupakan | Pegawai Jalanan


Sejarah dunia memang menarik untuk dibahas, karena dapat memberikan kita wawasan lebih tentang informasi sejarah baik beruba tokoh pemimpin, peristiwa-peristiwa dibelahan dunia, kisah-kisah masa lalu yang dapat kita jadikan pelajaran di masa saat ini dan lain sebagainya. Dalam sejarah Rusia mungkin semuanya sudah mengenal nama-nama seperti Tsar Nicholas II, Vladimir Lenin, Leon Trotsky, dan lain sebagainya, akan tetapi mungkin sedikit sekali yang tahu dengan Alexander Kolchak sang pemimpin tentara putih saat masa-masa revolusi di Rusia sedang berlangsung. Saat itu terjadi perang saudara antara Tentara Merah yang digerakan oleh partai bolshevik yang berhaluan komunis melawan tentara Putih yang menentang kaum komunis dan menentang revolusi Rusia.
Alexandr Vasilyevich Kolchak, lahir 16 November 1874 di sebuah desa di Sankt Petersburg atau Petrograd pada masa Kekaisaran Rusia. Kolchak sudah mulai menekuni dunia angkatan laut sejak usia muda. Namun, sejarahnya mengarungi lautan tenggelam seiring naiknya kekuasaan Bolshevik pada periode Revolusi Oktober 1917.
Upaya Kolchak menghalangi kaum Bolshevik untuk memegang kekuasaan tanah Rusia pasca Revolusi Oktober menyebabkan dia akhirnya dieksekusi oleh Tentara Merah. Banyak musuh dari negara lain yang sudah ia lawan, namun ia justru menemui ajal di tangan kaum sebangsanya sendiri dalam perang saudara.
Lalu, apa saja fakta dari kehidupan Laksamana Kolchak. Mulai dari awal kariernya di Angkatan Laut Kekaisaran Rusia hingga keterlibatannya dalam perlawanan Tentara Putih yang berujung pada akhir hidupnya. Mari kita bahas dalam 6 fakta berikut ini.

1. Angkatan laut dan peneliti

Alexander Kolchak Bersama Jajaran
Kariernya di Angkatan Laut Kekaisaran Rusia dimulai setelah dia lulus dari Korps Kadet Laut pada 1894. Pangkat Kolchak di Angkatan Laut terus meningkat. Salah satunya menjadi Laksamana Muda, memegang komando Armada Laut Baltik pada Perang Dunia I hingga menjadi Laksamada Muda untuk Armada Laut Hitam pada 1916.
Pada era Perang Saudara Rusia, ia menunjuk dirinya sendiri sebagai Laksamana pada tahun 1918 . 
Pada periode Perang Rusia-Jepang, Kolchak sempat menjadi tahanan perang selama 4 bulan di Nagasaki. Memasuki Perang Dunia I, Kolchak ditugaskan dalam misi penyebaran ranjau laut selama Perang Dunia I untuk menutup jalur Angkatan Laut Jerman. 
Selain di dunia militer, Kolchak juga menekuni bidang keilmuan. Selama bertugas di Angkatan Laut, Kolchak melakukan penelitian-penelitian ilmiah di bidang ilmu kelautan dan perairan. Dia telah melakukan penjelajahan di Samudra Arktik bersama penjelajah lainnya.

2. Revolusi Februari 1917

Revolusi Rusia
Meletusnya Revolusi Februari 1917 yang mengakhiri era Kekaisaran Rusia membuat Kolchak diperintahkan untuk kembali ke Petrograd. Kolchak memilih untuk bergabung dengan Pemerintahan Sementara Rusia pasca meletusnya Revolusi Februari 1917.
Namun, beberapa bulan kemudian ia melepaskan kepemimpinannya atas armada lautnya dan pergi ke Amerika Serikat sebagai Atase Angkatan Laut.
Kolchak menolak tawaran Amerika Serikat untuk tinggal disana dan menjadi kepala bagian ranjau laut di akademi laut mereka. Ia lebih memilih untuk kembali ke Rusia.
Kolchak sedang berada di Jepang dalam perjalanan pulang ke Rusia ketika Revolusi Oktober 1917 oleh kaum Bolshevik yang dipimpin oleh Vladimir Lenin meletus.

3. Revolusi Oktober 1917

Vladimir Lenin
Informasi tentang adanya Revolusi Oktober jelas membuat Kolchak marah. Selain karena Revolusi Oktober telah menggantikan Pemerintahan Sementara Rusia yang dibentuk pada Revolusi Februari, kaum Bolshevik melalui Revolusi Oktober juga menghendaki perjanjian damai Rusia dengan Jerman yang pada saat itu masih berperang.
Kolchak menganggap bahwa perjanjian damai tersebut adalah tindakan yang tidak pantas mengingat Rusia adalah bagian dari kubu Sekutu bersama dengan Britania Raya. Atas dasar tersebut, Kolchak menghubungi Britania Raya dan meminta agar ia bisa ditugaskan sebagai bagian dari militer Britania Raya untuk bisa terus berperang melawan Jerman.
Permintaan Kolchak disetujui oleh Britania Raya dan ia ditugaskan ke Mesopotamia pada Desember 1917 untuk melawan pasukan Turki Ottoman. Namun dalam perjalanan, Kolchak mendapat perintah baru dari Britania Raya untuk menuju ke Timur Jauh untuk menghimpun kekuatan anti-Bolshevik. Berangkatlah Kolchak menuju Rusia.

4. Pemimpin sementara Rusia 


  Alexandr Vasilyevich Kolchak

Upaya menghimpun kekuatan anti-Bolshevik di Timur Jauh tidak berhasil, Kolchak pun menuju Omsk. Pemerintahan Sementara Seluruh Rusia yang anti-Bolshevik akhirnya dibentuk pada akhir tahun 1918 dan Kolchak ditunjuk sebagai Menteri Perang.
Namun, November 1918 terjadi kudeta oleh pasukan Cossack yang mengakibatkan pimpinan Pemerintahan Sementara Seluruh Rusia ditangkap.
Dilansir Russia Pedia, peristiwa kudeta tersebut membuat Kolchak dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Pemerintahan Sementara Seluruh Rusia. Kolchak lantas menghimpun kekuatan Tentara Putih untuk melawan kekuatan Tentara Merah.
Tentara Putih berhasil meraih kemenangan di awal konflik. Namun, akhirnya Tentara Putih mengalami kekalahan dan terdesak di Omsk hingga akhirnya kota tersebut dikuasai Tentara Merah pada 19 November 1919.

5. Ditangkap dan dieksekusi

Alexandr Vasilyevich Kolchak dan Pasukan
Setelah Omsk jatuh ke tangan Tentara Merah, Kolchak memindahkan pusat pemerintahan ke Irkustk. Pada 4 Januari 1920, ia menunjuk Anton Denikin sebagai penggantinya. Beberapa hari kemudian, Kolchak dijanjikan oleh Cekoslovakia keamanan menuju lokasi militer Britania Raya.
Ternyata ia malah diserahkan kepada Tentara Merah. Kolchak kemudian dieksekusi mati pada 7 Februari 1920 oleh regu penembak tanpa melalui pengadilan dan jasadnya dibuang ke Sungai Angara.

6. Antara pahlawan dan penjahat


Kisah hidup Alexandr Kolchak sangat kontroversial. Ia bisa dianggap sebagai pahlawan Rusia karena berperang demi Rusia, namun bisa sebagai penjahat karena kejahatan yang telah ia lakukan. Kepemimpinan diktatornya saat ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Pemerintahan Sementara Seluruh Rusia bisa dianggap sebagai kejahatan.
Kolchak dikabarkan melakukan kejahatan perang sebagai penyebab pembunuhan 25.000 orang di Ekaterinburg. Kediktatorannya terlihat dari peringatan keras bagi siapa pun yang menjadi ancaman Pemerintahan Sementara Seluruh Rusia. Legiun Ceko juga dikabarkan akhirnya meninggalkan Tentara Putih akibat kepemimpinan Kolchak.
Dari sisi kaum Bolshevik, tindakan Kolchak mengembalikan tanah kepada pemiliknya yang sebelumnya direbut oleh Bolshevik adalah sebuah kejahatan yang telah mengganggu jalannya revolusi.
Alat-alat produksi juga ia kembalikan kepada pemiliknya. Tindakan-tindakan yang berkebalikan dengan apa yang sudah dilakukan kaum Bolshevik.
Hubungan Kolchak dengan negara lain dianggap oleh Tentara Merah sebagai bentuk pengkhianatan kepada Rusia. Bahkan dikabarkan bahwa kudeta Cossack ternyata dibantu oleh Britania Raya yang akhirnya melanggengkan Kolchak menjadi Pemimpin Tertinggi.
Pihak Sekutu lainnya, seperti Prancis, Jepang dan Amerika Serikat juga dikabarkan turut terlibat mendukung Tentara Putih selama Perang Saudara Rusia.
Itulah 6 fakta Laksamana Kolchak. Setidaknya Kolchak di mata kaum Bolshevik tidak lain sebagai pengkhianat, agen negara asing dan penghalang revolusi. Namun, bagi dirinya dan pengikutnya, ia adalah sosok pelindung Rusia. Tergantung dari sisi mana kita akan melihat Kolchak. Yang pasti, Kolchak adalah seorang tokoh yang berada dalam kondisi politik yang sangat rumit.
Bagaimana menurut kalian, apa jadinya jika Kolchak tidak pernah bergabung dalam Tentara Putih? Apa jadinya jika Kolchak mendukung Revolusi Oktober? Apakah dia bisa menjadi lawan yang mengkhawatirkan bagi Stalin?