Friday, February 26, 2021

KISAH TRAGIS AJUDAN TAMPAN Yang Rela Menjadi Martir Atasannya SAAT PERISTIWA G30S/PKI!!!

        


        Mengingat kembali ke masa silam dimana indonesia pernah mengalami masa yang kelam. Peristiwa itu bernama Gerakan 30 September (G30S/PKI), merupakan peristiwa yang sangat tragis dan masih menyimpan pilu bagi masyarakat Indonesia. Pada tanggal 30 September 1965 dini hari, PKI di bawah pimpinan D.N Aidit dan Syam Kamaruzzaman melakukan pembunuhan berencana terhadap 7 Jendral yang menjadi Pahlawan Revolusi Indonesia. Aksi pembantaian di lubang buaya menewaskan 6 Jendral TNI AD, dan satu perwira menengah.

        Jendral yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut di antaranya Panglima TNI Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayjen MT Haryono, dan Brigjen TNI DI Pandjaitan menjadi korban yang dibunuh di rumahnya. Sedangkan, Mayjen Soeprapto, Mayjen S. Parman, dan Brigjen Sutoyo dibawa hidup-hidup. Jendral yang menjadi target penculikan lain adalah Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan serta Kepala Staf TNI Jenderal Abdul Haris Nasution. Pada keadaan malam yang gelap saat penculikan, jendral A.H. Nasution berhasil melarikan diri walaupun keluarganya yang lain menjadi korban penembakan. Selain anggota keluarganya di rumah saat itu, ada seorang ajudan yang sangat setia bahkan harus menjadi korban penculikan. Karena keadaan yang gelap dia ditangkap karena dia mengaku sebagai Jendral A.H. Nasution, sehingga ia dibawa oleh orang-orang yang ingin menculik jendral A.H. Nasution. Nama ajudan tersebut adalah Kapten Pierre Tendean.

                                                Biografi Singkat Kapten Pierre Tendean


        

        Kapten Anumerta Pierre Tendean lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di Jakarta. Dia merupakan salah satu korban pada peristiwa Gerakan 30 September dan merupakan pahlawan nasional Indonesia. Kapten Pierre Tendean adalah Putera dari DR. A.L Tendean yang berasal dari Minahasa, sedang ibunya seorang berdarah Perancis bernama Cornel ME. Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakak dan adiknya masing-masing bernama Mitze Farre dan Rooswidiati. Dia mengawali sekolah dasarnya di Magelang, lalu melanjutkan SMP dan SMA di Semarang. Sejak kecil dia memang bercita-cita untuk menjadi tentara, namun kedua orangtuanya berharap agar dia dapat menjadi seorang dokter seperti ayahnya. Karena tekadnya yang kuat maka dia dapat bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat di Bandung pada tahun 1958. Sewaktu menjadi taruna, Pierre pernah ikut tugas praktik lapangan dalam operasi militer penumpasan pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Dari sinilah awal permulaan kisah cintanya dengan seorang gadis asal Deli Sumatera Utara, bernama Rukmini.

        Setelah lulus dari akademi militer pada tahun 1961 dengan pangkat letnan dua, Tendean menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan. Setahun kemudian, ia mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor. Setamat dari sana, dia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Dia bertugas memimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyusup ke Malaysia. Berkat kerja keras dan kemampuannya, Pierre Andreas Tendean dipandang sebagai TNI yang unggul. hal ini terbukti dari berebutnya tiga jenderal untuk menjadikan Pierre Andreas Tendean sebagai ajudan. Mereka adalah Jenderal AH Nasution, Jenderal Hartawan, dan Jenderal Kadarsan. Dan akhirnya Jendral A.H. Nasution yang mendapatkan Kapten Pierre Tendean sebagai Ajudannya.

        Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution. Saat diangkat menjadi ajudan dia menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB). Dia adalah sosok ajudan termuda Jendral A.H. karena saat itu berusia 26 tahun. Dia menggantikan posisi kapten Manullang yang gugur saat bertugas di Kongo. Tak hanya sebagai ajudan sang Jendral, dia juga menjadi teman akrab bagi putri Jendral A.H. Nasution.
Mengemban tugas sebagai ajudan mengharuskan Pierre ikut ke mana saja Nasution bertugas. Menurut biografi resmi Pierre Tendean dalam Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi, kegiatan Nasution yang paling sering di kawal Pierre adalah agenda main tenis. Keluarga Nasution biasanya main tenis dua kali seminggu di lapangan tenis Menteng dan Senayan. Selain kegiatan di dalam kota, Pierre pun harus siaga sewaktu-waktu Nasution dinas ke kota lain. Nasution acap kali menjadi tamu undangan sebagai pembicara dalam konferensi atau seminar nasional. Biasanya, Pierre lah yang sering diminta Nasution untuk mendampingi dalam kunjungan di luar kota.

                                                        Peristiwa G30S/PKI



           Sebelum tanggal 30 september,  Lettu Pierre Tendean biasanya pulang ke Semarang merayakan ulang tahun sang ibu. Namun, ia menunda kepulangannya karena tugasnya sebagai pengawal Jenderal AH Nasution. Pada pagi hari pada 1 Oktober 1965, Pierre sedang tidur di ruang belakang rumah Jenderal Nasution. Suara tembakan dan ribut-ribut membuatnya terbangun dan berlari ke bagian depan rumah. keberingasan tembakan gerombolan itu mengenai anak perempuannya, Ade Irma Nasution yang masih berusia 5 tahun. Saat itu Ade baru bangun dan keluar kamar, dan salah satu peluru mengenai dirinya. Nasution sendiri mulanya ingin menyelematkan anaknya, namun oleh istrinya Jonna, dipaksa untuk segera menyelematkan diri. Sementara gerombolan pasukan Tjakrabirawa yang sudah kelabakan karena tidak menemukan Nasution yang sudah melarikan diri, kemudian bertemu dengan Pierre Tendean.
            

Kapten Pierre Tendean mengaku bahwa dia adalah Jendral A.H. Nasution, Kemudian dia diikat kedua tangannya dan dibawa dengan truk ke Lubang Buaya. Di lubang Buaya Pierre besama dengan Brigjen TNI Sutoyo dimasukan ke dalam rumah yang terletak dekat sumur tua. Setelah disiksa secara kejam oleh anggota-anggota G 30 S/PKI berdasarkan giliran paling akhir dibunuh dan dimasukan ke dalam Lubang Buaya bersama Pimpinan TNI AD lainnya. Tendean bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Untuk menghargai jasa-jasanya, Pierre dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965. Pasca kematiannya, ia secara anumerta dipromosikan menjadi kapten.

        Itulah cerita singkat Kapten Pierre Tendean seorang pahlawan revolusi yang menjadi korban kekejaman PKI. Selain menjadi kisah sedih bagi kedua orangtuanya, kematian Kapten Pierre Tendean juga menjadi pukulan menyakitkan bagi Rukmini. Rencananya pada bulan November 1965 Tendean dan Rukmini akan melangsungkan pernikahan. Namun sayang cinta itu tak pernah sampai karena peristiwa G30S/PKI yang merenggut nyawa Pierre. Rukmini yang mendengar kabar bahwa kekasihnya meninggal tentu saja hancur hatinya. Butuh waktu hingga 5 tahun sebelum dia move on dan menikah dengan pria lain.

 
Penulis         : Riskyrito

Penyunting     : Argha Sena

Referensi        : brilio.net, historia.id, merdeka.com, sosok-tokoh.blogspot.com,                                                   tribunnews.com, Wikipedia.org

Thursday, February 25, 2021

BUKAN MITOS! INILAH JAWABAN SECARA LOGIS MENGAPA Presiden Selalu Orang Jawa???



Sejak awal kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Pemimpin Indonesia adalah orang jawa atau setidaknya memiliki garis keturunan orang Jawa. Mulai dari Soekarno yang berasal dari Blitar, Soeharto dari Bantul, Abdurrahman Wahid dari Jombang, Megawati Soekarnoputri kelahiran Yogyakarta, Susilo Bambang Yudhoyono dari Pacitan, dan Joko Widodo asal Surakarta. Satu perkecualian adalah saat BJ Habibie menjadi presdien menggantikan Soeharto yang mundur dari jabatannya pada 1998. Hingga saat ini, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan itu menjadi satu-satunya presiden Indonesia yang bukan beretnis Jawa. Walaupun demikian, B.J. Habibie yang lahir di Pare-Pare ternyata ibunya masihlah keturunan orang Jawa.

Tentu menjadi sebuah pertanyaan pada sebagian masyarakat, baik dari suku Jawa maupun suku-suku lain yang ada di Indonesia. Indonesia  adalah bangsa yang besar dengar bermacam-macam suku dan budaya, dari Sabang hingga Merauke. Jika meruntut dari keadaan sebelum kemerdekaan ketika masih menjadi nusantara,  Indonesia memiliki kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, Singosari, Mataram, Samudra Pasai, hingga Tidore. Walaupun memang di dominasi kerajaan besar dari Jawa, tetapi kerajaan lain juga tidak dapat dianggap remeh. Hal ini tentu menjadi pertimbangan bahwa pemimpin Indonesia bisa saja dari daerah lain. Setiap daerah memiliki potensi untuk menduduki jabatan Presiden karena Negara kita adalah Negara demokrasi yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Persepsi yang mengatakan bahwa presiden harus orang Jawa tidaklah selamanya benar, bahkan adapula yang menyangkutpautkan dengan mitos yang ada. Mitos mengenai kepemimpinan biasanya banyak dipercayai orang-orang Jawa seperti Ramalan Jayabaya tentang perkembangan kepemimpinan Indonesia. Selain mitos tersebut, adapula mitos tentang keterkaitannya dengan trah sunan Giri (Dinasti Giri Kedaton) mengenai pemimpin.

Dalam mitosnya,  ketika Ki Ageng Giring yang berkedudukan di Gunung Kidul, suatu ketika pernah mendapatkan bisikan gaib saat Ki Ageng sedang memanjat pohon untuk menyadap getah. Di tempat itu ada sebatang pohon kelapa, dekat dengan pohon yang dipanjat Ki Ageng. Pohon kelapa tadi selamanya belum pernah berbuah, namun akhirnya berbuah. "Pada saat itu buahnya hanya satu dan masih muda (degan). Ki Ageng sedang memasang tabung bambu di atas pohon kelapa, kemudian mendengar suara. Ki Ageng Giring, ketahuilah, siapa yang minum air degan itu habis seketika, kelak seanak keturunannya akan menjadi Raja Agung di tanah Jawa," demikian bunyi bisikan gaib itu. Maka telah dipetiklah kelapa muda itu dan dibawa turun.

Namun karena ada klausul 'harus habis seketika', sedangkan Ki Ageng Giring pada saat itu belum haus-haus amat, maka dia memilih untuk meminum air kelapa itu pada siang harinya. Ki Ageng Giring memutuskan untuk pergi dulu ke hutan, dan kemudian meminum air kelapa itu sekali tenggak. Pada saat Ki Ageng Giring pergi ke hutan demi mendapatkan rasa haus yang teramat sangat, sahabatnya, Ki Ageng Pemanahan tiba di kediaman Ki Ageng Giring. Ki Ageng Pemanahan yang sangat haus setelah berjalan jauh lantas menenggak air kepala 'gaib' , yang rencananya akan diminum oleh Ki Ageng Giring.

Ki Ageng Giring ketika kembali dari hutan hanya bisa meratapi ketika mendapati air degan 'gaib' yang dia petik sudah tidak ada di tempatnya. Dan kemudian Ki Ageng Pemanahan yang ada di situ mengakui dia yang meminum air kelapa muda tersebut. Ki Ageng Giring setelah mendengar perkataan Ki Ageng Pamenahan merasa seakan hancur hatinya, sedih dan sangat kecewa. Lama ia terdiam. Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka ia pun mengetahui akan takdir, bahwa sudah takdir Tuhan, Ki Ageng Pamenahan akan menurunkan raja yang menguasai tanah Jawa.

Melalui penyelusuran lebih mendalam, diperoleh informasi yang mengagetkan bahwa ke - 6 Presiden Republik Indonesia, ternyata berasal dari anak keturunan Sunan Giri.

1.   Soekarno Merupakan putra dari Raden Soekemi Sosrodiharjo. Raden Soekemi, berdasarkan buku " Ayah Bunda Ir.Soekarno ", merupakan keturunan Sultan Hamengkubuwono II.

2.   Soeharto, Istrinya bernama Siti Hartinah yang merupakan keturunan dari KGPAA Mangkunegara I. Selain itu juga, berdasarkan buku " Jejak Perlawanan Bengawan Pejuang '', Sumitro Djojohadikusumo menulis bahwa Soeharto pernah mengatakan memiliki kekerabatan dengan keluarga Keraton, yang diduga merupakan keturunan dari Sultan Hamengkubuwono II.

3.   BJ Habibie, Ibunya bernama RA Tuti Marini Puspowardojo binti Rr. Goemoek binti Raden Ngabehi Tjitrowardoyo, yang berasal dari keluarga priyayi di Purworejo, yang diduga kuat merupakan keturunan dari pendiri kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senapati.

4.   KH Abdurrahaman Wahid ( Gus Dur ), Terhitung sebagai keturunan ke -8 dari Ki Ageng Muhamad Besari.

5.   Megawati Soekarnoputri, Merupakan putri dari presiden pertama Soekarno, termasuk dalam keturunan Sultan Hamengkubuwowno II.

6.   Susilo Bambang Yudhoyono, Merupakan putra dari Raden Soekotjo, beliau adalah keturunan dari Nyai Ageng Ibnu Umar binti Ki Ageng Muhammad Besari.

Padahal tanpa berpatokan pada mitos, kita dapat menebak alasan kenapa selalu orang jawa yang menjadi Presiden. Kita dapat melihat dari jumlah penduduk Indonesia, hampir setengah dari jumlah penduduk di Indonesia merupakan penduduk di pulau Jawa. artinya, pemilih terbesar dalam pemilu, pulau jawa masih pemegang pemilih terbesar, selain itu suku Jawa juga tersebar di banyak Provinsi di Indonesia. Rakyat Indonesia juga terbiasa untuk mengutamakan suku-suku mereka, hal ini semakin memperbesar peluang orang-orang Jawa untuk menjadi Presiden. Walaupun akan ada kemungkinan suatu saat  suku tidak terlalu dipermasalahkan, mungkin suatu saat yang dicari adalah orang-orang yang memiliki jiwa kepemimpinan tinggi tidak perduli dari suku apa.

Selain itu, di Negara Demokrasi seperti Indonesia yang menggunakan Partai Politik sebagai batu loncatan untuk memperoleh suara terbanyak. Partai Politik  yang mayoritas berasal dari pulau Jawa juga dapat dijadikan persepsi mengapa Presiden berasal dari Jawa. Partai Politik tentu memiliki pengaruh kuat untuk memperoleh suara dalam pemilihannya. Apalagi Partai-partai yang telah lama berpolitik di Indonesia mulai dari awal-awal kemerdekaan. Kaum orang tua yang telah lama menjadi pemilih suatu partau tertentu biasanya membuat kaum muda untuk mengikuti pilihan para orangtua. Orangtua biasa keukeuh dengan partai politik yang telah lama dipilihnya, walaupun begitu biasanya kaum yang muda memilih bukan lagi pada partai tetapi melihat siapa calon yang memang pantas untuk mereka pilih. Partai Politik biasanya memilih calon Presiden dari orang-orang yang memiliki pengaruh besar pada masyarakat sehingga dapat meraih suara maksimal agar dapat menang dalam pemilihan.

Selain pada suku dan Parpol, banyak juga yang menentukan pada agama yang dianut calon tersebut. Tentunya setelah Parpol mengusung jagoan yang akan maju ke RI 1 sebagai pesaing dalam perebutan calon Presiden. Agama juga jadi pengaruh besar dalam memperoleh suara, maka dalam setiap parpol biasanya mengusung agama mayoritas dan minoritas. Hal ini bertujuan mengambil simpati dari setiap agama. Namun patokan dasarnya adalah orang yang memang berasal dari pulau Jawa sehingga dapat memperoleh suara yang banyak dari daerah yang padat penduduk tersebut. Semoga suatu saat akan ada pemimpin dari luar pulau Jawa agar tidak adanya kecemburuan sosial dalam masyarakat Indonesia dari daerah lain. Tentunya yang terpenting adalah kemampuan dalam kepemimpinannya dan bukan lagi hanya karena suku tertentu.


Penulis             : Riskryto

Penyunting       : Argha Sena

Referensi        : detik.com, kompas.com, kompasiana.com, qoura.com

                         

INILAH PENYEBAB MENGAPA BALI tidak Memeluk Islam saat Islam Berjaya di Pulau Jawa!!!

 


Beberapa dari kita mungkin tidak menyadari bahwa pulau jawa hampir sepenuhnya islam kala masih zaman kerajaan. Mulai dari berdirinya kerajaan demak hingga kerajaan Islam lain yang mulai menyebar ke seluruh pulau jawa. Namun yang mengherankan adalah kerajaan di pulau Bali yang saat itu masih menganut agama hindu. Padahal kala itu Islam memiliki kerajaan-kerajaan besar yang selepas runtuhnya kerajaan Majapahit. Hal ini tentu menjadi tanda tanya besar apakah islam tidak pernah berdakwah di Bali ataukah ada masalah lain yang membuat agama Islam tidak berkembang pesat di pulau ini seperti kerajaan-kerajaan lain di pulau Jawa. Adapun kerajaan di pulau Bali saat itu adalah kerajaan Gelgel, sebelum akhirnya di pecah menjadi kerajaan- kerajaan kecil yang tersebar di pulau Bali.

Kerajaan Gelgel

Kerajaan Gelgel adalah salah satu kerajaan yang pernah didirikan di Pulau Bali. Wilayah kekuasaannya mencakup seluruh Pulau Bali, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kerajaan Gelgel menerapkan sistem pemerintahan yang disesuaikan dengan Kerajaan Majapahit. Masyarakatnya terbagi menjadi Bali Hindu dan Bali Aga. Raja Kerajaan Gelgel yang pertama adalah Dalem Ketut Ngelesir. Ia adalah keturunan dari dinasti Kerajaan Majapahit. Wilayah awal dari Kerajaan Gelgel mencakup seluruh Pulau Bali. Wilayah ini diperoleh dari penaklukan Kerajaan Majapahit pada tahun 1434 terhadap kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Bali. Pada abad ke-17, wilayah Kerajaan Gelgel mencakup seluruh Pulau Bali, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kerajaan Gelgel berakhir pada masa pemerintahan Ki Agung Maruti setelah diserang oleh pasukan Dewa Agung Jamber pada tahun 1687. Kerajaan Majapahit saat itu adalah kerajaan yang besar hingga sampai ke pulau Bali. Hampir semua bidang kehidupan, utamanya setelah ekspansi besar Maha Patih Gajah Mada di Bali pada 1343, terpengaruh oleh kebudayaan Jawa yang dibawa Majapahit. Begitu kentalnya pengaruh tersebut, hingga penyebaran pertama agama Islam di Pulau Bali itu juga tidak terlepas dari campur tangan Prabu Hayam Wuruk (1350–1389), raja yang membawa Majapahit pada puncak kejayaannya. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit mewajibkan kerajaan bawahannya di Pulau Bali untuk menerapkan sistem pemerintahan yang sama dengan kerajaannya, yaitu Manawa Sasana. Sistem ini mengikuti ajaran agama Hindu, sehingga raja memiliki kekuasaan tertinggi dalam kerajaan.

 Awal Mula Islam di Bali

Masyarakat Muslim di Bali muncul berkat hubungan yang baik antara Majapahit sebagai negara penguasa dengan Bali sebagai kerajaan yang dikuasai. Ketika Hayam Wuruk memerintah, Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460), putra raja pertama Samprangan Sri Aji Krisna Kepakisan alias Dalem Sri Kresna Kepakisan (memerintah 1352), mendapat undangan berkunjung ke Keraton Majapahit pada 1380-an. Hayam Wuruk sedang mengadakan konferensi di kerajaannya dengan mengundang kerajaan-kerajaan yang menjadi sekutunya.. Dalem Ngalesir datang mewakili Kerajaan Gelgel, pecahan dari Kerajaan Samprangan yang dikuasai kakak tertuanya.

Dalam buku Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) Dhurorudin Mashad menceritakan bahwa ketika kembali ke Gelgel, Dalem Ngalesir mendapat pengawalan dari pemerintah Majapahit. Ia diberi 40 orang pengiring dalam perjalanan pulangnya itu. Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai tentara, sementara sisanya berkerja sebagai juru kapal dan juru masak. Setelah sampai, 40 orang Islam itu tidak ingin kembali ke wilayah Majapahit dan memilih untuk tinggal di Bali. Akhirnya Dalem Ngalesir memberi satu daerah pemukiman khusus di Gelgel. Keempat puluh orang itu pun diperintahkan mengabdi kepada Kerajaan Gelgel, tanpa syarat apapun. Artinya mereka tidak harus berpindah kepercayaan mengikuti agama yang berkembang di Gelgel. Dari sinilah awal mula agama Islam di Bali. Komunitas Muslim pertama di Bali lalu membangun masjid di Gelgel, yang sekarang dikenal sebagai masjid tertua di tanah Bali. Dan Islam mulai berkembang dari daerah yang berpenduduk muslim di Gelgel. Menurut Hassan Ali, dalam pembangunan masjid sejak abad XIV hingga sekarang juga mengalami akulturasi dengan unsur arsitektur Bali atau menyerupai corak (style) wantilan (joglo). Akulturasi dua unsur seni yang diwujudkan dalam pembangunan masjid, menjadikan tempat suci umat Islam di Bali tampak beda dengan bangunan masjid di Jawa maupun daerah lainnya di Indonesia.



Banyak yang beranggapan Hayam Wuruk ingin mengurangi jumlah populasi Muslim yang terus berkembang di pusat pemerintahannya dengan mengirim orang islam ke Bali. Ia khawatir kaum minoritas itu akan mendominasi daerah kekuasaannya Mengingat Majapahit adalah kerajaan Syiwa-Buddha.

Menurut arkeolog dan epigraf Hasan Djafar, dalam tulisannya “Beberapa Catatan Mengenai Keagamaan pada Masa Majapahit Akhir” dimuat Pertemuan Arkeologi IV, di bawah kekuasaan Hayam Wuruk banyak penduduk Majapahit yang sudah memeluk Islam. Sebagai bukti, para arkeolog telah berhasil menunjuk pemakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trawulan, Mojokerto. “Mengingat pemakaman ini letaknya tak jauh dari kedaton, dapat disimpulkan ini adalah pemakaman bagi penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah beragama Islam,” ungkap Hasan.

 

Penyebaran Islam Terhalang

Kerajaan Gelgel-Klungkung diperintah oleh Dalem Waturenggong (1460/1480--1550) setelah Dalem Ngalesir turun tahta. Masa ini juga menjadi puncak kejayaan Islam di Nusantara karena kerajaan-kerajaan Islam mulai tersebar di pulau Jawa. Sementara Hindu-Buddha, termasuk Majapahit, pengaruhnya kian surut akibat banyak kerajaan yang mulai menerima keberadaan agama Islam di wilayahnya. Majapahit sendiri mendapat serangan dari Kesultanan Demak pada 1518 karena upaya mengislamkan kerajaan Majapahit. Akhirnya keruntuhan kerajaan besar itupun tidak lagi dapat dihindari. Momen kehancuran Majapahit lalu dimanfaatkan oleh Dalem Waturenggong untuk memerdekakan wilayah Bali dan memperluas wilayah kekuasaannya.

Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana (1521-1546), Demak mengirim utusan ke Kerajaan Gelgel-Klungkung. Menurut Dhurorudin ekspedisi damai itu bertujuan menjalin hubungan baik sebagai sesama mantan vasal (kerajaan yang dikuasai) Kerajaan Majapahit. “Namun, intinya tujuan ekspedisi ini adalah untuk menyebarkan Islam,” tulis Dhurorudin. Dalam hal ini kerajaan Demak ingin mengislamkan Bali melalui jalan perdamaian dan bukan melalui penaklukan.

Kerajaan Demak lalu mengirim utusan ke Bali, Namun Dalem Waturenggong tidak ingin kerajaannya di Islamisasikan. Utusan yang telah dikirim lebih memilih bergabung dengan komunitas muslim yang ada di Bali. Dalem Waturenggong mulai menyusun rencana agar dapat menghalangi pengaruh Islam di Bali. Dalam Babad Dalem: Warih Ida Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan karya Tjokorda Raka Putra disebutkan bahwa setelah menjadi negeri merdeka, Waturenggong segera memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Ia berhasil menguasai ketiga wilayah itu antara tahun 1512 sampai 1520.

Menurut I Made Sumarja, dkk. dalam Sejarah Masuknya Islam dan Perkembangan Pemukiman Islam di Desa Kecicang Kabupaten Karangasem Provinsi Bali perluasan wilayah Kerajaan Gelgel-Klungkung hingga ke Lombok merupakan usaha lain Waturenggong menghadang penyebaran ajaran Islam di negerinya. Namun selepas Dalem Waturenggong, tidak ada lagi raja yang mampu membangun Gelgel-Klungkung. Kerajaan itu pun akhirnya terpecah dan mulai menunjukkan kemunduran. Akibatnya, kekuasaan mereka di Lombok berhasil diruntuhkan. Penguasa Klungkung selanjutnya memilih menjalin hubungan baik dengan Lombok, bukan menaklukkan dengan paksaan. Setelah itu penyebaran masyarakat Muslim dari Lombok ke Bali mulai gencar terjadi. Meski pengaruhnya di masyarakat tidak dapat menggeser dominasi Hindu, yang telah berabad-abad menjadi kepercayaan utama rakyat Bali.

Alasan Kerajaan Bali Tetap Beragama Hindu

Ringkasan dari buku Robert Pringle (2004) A Short History of Bali: Indonesia’s Hindu Realm. Alasan mengapa kerajaan Islam tetap beragama hindu adalah sebagai berikut:

1.      Penduduk Bali sebagian besar berasal dari luar Bali, kemungkinan berasal dari Jawa atau Lombok. Bahasa Bali lebih mirip bahasa Sasak di Lombok daripada bahasa Jawa. Bali tidak pernah putus hubungan dengan Jawa dan juga Kerajaan lainnya. Raja Airlangga adalah “setengah Bali” karena berayah Bali dan beribu Jawa (cucu Mpu Sindok). Bali selalu berada dalam pengaruh Kerajaan di Jawa terutama Majapahit. Bali tidak pernah secara nyata “anti Islam”, walaupun memiliki budaya yang berbeda. Ini sebabnya Bali tidak pernah merasa harus ditundukkan oleh Kerajaan Islam, terutama Mataram di Jawa. Minoritas Islam yang berdagang, terutama di Bali Utara, dan menjadi tentara tetap dapat singgah di Bali.

2.      Sejak runtuhnya Majapahit kemudian Pajang-Jipang-Demak sampai Mataram yang paling kuat, setidaknya ada jeda selama 100 tahun. Saat Majapahit runtuh dan Gelgel menguat, Mataram belum terlalu kuat. Walaupun Mataram dapat mengusir Gelgel dari Blambangan, Gelgel masih terlalu kuat untuk ditaklukkan.

3.      Ketika Mataram mulai menguat dan Gelgel mulai melemah, datang Belanda yang membuat Mataram harus membagi konsentrasi. Mataram juga dilemahkan oleh konflik-konflik internal.

4.      Mataram menjadi defensive saat kekuatan Belanda menguat, tak lagi memikirkan ekspansi. Mataram justru semakin kehilangan wilayah kekuasaannya seiring dengan menguatnya Belanda. Karena Mataram yang melemah, tidak ada keuntungan yang didapat dari penguasa di Bali untuk memeluk Islam.

Selain itu, Menurut Dhurorudin alasan Gelgel tidak dapat menerima pengaruh Islam di Bali adalah ikatan historis emosional dengan Majapahit. Meski terbebas dari kuasa vasal Majapahit, tetapi penyerangan Demak tidak bisa begitu saja diterima. “Mereka (para pangeran dan mantan pejabat Majapahit) yang lari ke Bali tentu menyebarkan informasi tentang nasib tragis mereka ke penduduk lokal, sehingga ikut menjadi kurang bisa menerima Islam,” tulis Dhurorudin.

Walaupun hingga kini muslim di Bali masih minoritas, namun akulturasi hindu-muslim di Bali terjalin semakin erat. Hal ini dikarenakan sifat saling menghargai untuk memeluk agamanya masing-masing. Islam memang tidak berkembang pesat di Bali selayaknya di Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan dari Kesultanan Demak berupaya mengislamisasikan Bali melalui jalur perdamaian dan bukan karena penaklukan. Selain itu bali juga telah melekat kuat memegang agama warisan turun-temurun sehingga tidak memiliki niat untuk berpindah agama. Selain itu juga banyak faktor lain yang membuat Bali tetap mayoritas dengan agama hindunya.

 

Penulis            : Riskyrito

Penyunting      : Argha Sena

Referensi      :bayudardias.staff.ugm.ac.id, historia.id, kompas.com, wikipedia.org

Wednesday, February 17, 2021

BERDALIH REVOLUSI!!! Pembantaian Sultan-Sultan dan Keluarga Bangsawan di Sumatera Timur!!!

Para Pejabat Kesultanan Langkat, Tanjung Pura (Tahun 1925)

Pada awal-awal kemerdekaan Indonesia, banyak sekali peristiwa-peristiwa berdarah yang melanda negeri ini. Banyak rakyat yang tak bersalah menjadi korban, bahkan para petinggi pun tak luput dari peristiwa berdarah itu. Salah satu peristiwa peristiwa berdarah itu adalah peristiwa pembantaian keji yang berdalih revolusi. Peristiwa ini terjadi di daerah Sumatera Timur yang kala itu masih menerapkan sistem kerajaan yang ingin dihapuskan. Revolusi Sosial Sumatera Timur merupakan gerakan sosial di Sumatera Utara Bagian Timur, terhadap penguasa Kesultanan dan Kerajaan Melayu yang mencapai puncaknya pada bulan Maret 1946. Menurut sebagian sumber, Revolusi ini dipicu oleh gerakan kaum komunis yang hendak menghapuskan sistem kerajaan dengan alasan anti feodalisme.

Pembantaian yang berdalih revolusi telah termobilisasi dan terorganisir ini menargetkan para anggota kesultanan, sutan-sultan dan kerajaan-kerajaan melayu yang ada di Sumatera. Beberapa saksi mata mengatakan, “Ini bukanlah Revolusi Sosial, tetapi pembantaian besar-besaran”. “Tak usahlah dikatakan nama peristiwa ini sebagai Revolusi Sosial. Tak ada itu! Ini Pembunuhan masal di Sumatera Timur yang mesti diusut dan kebenaran sejarah mesti diluruskan”. “Maret berdarah di Sumatera Timur adalah pembantaian masal”.

Dikatakan sebagai pembantaian dan bukan sepenuhnya revolusi sosial, karena para petinggi kerajaan dibunuh secara sadis, padahal mereka tidak sepenuhnya melakukan perlawanan. Selain itu bahkan anak-anak gadis diperkosa di depan ayahanda dan keluarganya dan harta juga dirampas. Layaknya gerombolan perampok yang berkedok revolusi sosial. Yang berhasil selamat harus pergi dari kampung ke kampung untuk bersembunyi dan menyelamatkan nyawanya. Kejadian ini menjadi kejahatan yang memilukan sehingga menimbulkan trauma bagi korban secara turun temurun. Kerajaan-kerajaan melayu di Sumatera Timur menjadi porak-poranda, keindahan kesultanan dengan ornament seni yang tinggi habis dihancurkan dan dibakar. Banyak kerajaan dan keraton yang mereka hancurkan di berbagai wilaya Sumatera Timur. Peristiwa pembantaian ini menjadi peristiwa menyedihkan dan tragis di pulau Sumatera. Para pembantai seakan dirasuki setan sehingga hilanglah sifat perikemanusiaan bahkan permintaan untuk shalat sebelum dibunuh juga tidak dikabulkan.

Berikut adalah beberapa tempat yang menjadi peristiwa kelam dengan dibunuhnya tengku dan sultan-sultan secara sadis.


Kesultanan Kualuh


Di Tanjung Pasir, kini berada di Kabupaten Labuhanbatu Utara, ada sebuah Kesultanan Melayu bernama Kualuh. Malam itu, 3 Maret 1946, sebagian besar penghuni Istana Kualuh sedang terlelap, dan ada pula yang sedang sholat. Tiba-tiba terdengar suara pintu dipukul-pukul keras dari luar. “Mana Tengku Besar? Mana Tengku Besar?” teriak orang-orang yang datang dengan senjata tajam. Tengku Besar adalah gelar bagi Tengku Mansoer Sjah, putra Sultan Kualuh. Rupanya, malam itu Tengku Mansoer Sjah tidak tidur di istana, tapi di rumah yang lain.

“Tuanku mana? Mana Tuanku?” Tuanku adalah panggilan bagi Tuanku Al Hadji Moehammad Sjah, Sultan Kualuh. Dengan paksa, Tuanku yang sedang beribadah shalat malam itu, mereka bawa ke kuburan Cina, Lalu Tengku Besar juga dijemput dan dibawa ke tempat yang sama. Tengku Darman Sjah, adik Tengku Besar, malam itu sedang berada di kuburan istrinya yang baru saja meninggal dunia. Dia tak henti membacakan ayat-ayat Al-Quran. Malam itu, dia pun ikut dibawa. Di kuburan Cina itu mereka disiksa Lalu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan sekarat.

Pagi harinya, seorang nelayan yang lewat melihat tubuh mereka terkapar tapi masih bernyawa. Dengan bantuan masyarakat, dibawalah ketiga keluarga kesultanan tadi ke istana untuk kemudian dirawat. Tapi, sekitar pukul 11 siang, datang lagi sekelompok orang yang ingin membawa sultan dan kedua putranya. Mereka orang yang berbeda dari yang datang di malam sebelumnya. “Rakyat menginginkan Tuanku dan kedua putranya dibawa ke rumah sakit,” kata salah seorang dari mereka. “Usahlah, biar kami saja yang urus,” ujar istri Sultan.

Tapi sekelompok orang yang datang itu memaksa tanpa ada adab sopan santun. Dan kerabat istana tak dapat berbuat apa-apa. Mereka pun dibawa entah ke mana dan hingga kita tak pernah terkabar. Kerabat istana yang lain, termasuk perempuan ditawan selama lebih dari satu bulan. Mereka dibawa ke sana kemari, dari Rantau Prapat hingga Siantar, mereka disiksa bathin dan kejiwaan. Bukannya dibawa ke rumah sakit, Al Hadji Moehammad Sjah dan kedua orang anaknya justru dibunuh secara kejam. “Saat hendak dibunuh, Tuanku Hasan sempat berkata “Bila kalian hendak membunuh kami, tunggulah Obang (Azan) selesai dikumandangkan, dan izinkan kami sembahyang sekejap.  Ini permintaan kami kepada kalian yang tak satupun kami kenal ini”, pinta Tuanku. “Ah, tak penting sholat. Bunuh mereka !”, perintah pemimpin pembunuhan  itu. Tak terhitung berapa banyak korban di Kualuh, Panai, Kota Pinang, atau juga Sultan Bilah, Tuanku Hasnan terbunuh beserta sekian banyak lainnya.


Kesultanan Langkat


Di Kesultanan Langkat, peristiwa ini pun tak kurang menyedihkan. Tak sedikit perempuan diperkosa dihadapan orangtuanya, lelaki dibantai teramat sangat mengejamkan. Di Kesultanan kaya ini, kehilangan banyak petinggi yang bermutu dan pakar. Adalah Tengku Amir Hamzah, seorang sastrawan, Pangeran Langkat hulu serta wakil Pemerintah Republik Indonesia, juga turut dibunuh.


Tengku Amir Hamzah ketika itu adalah Pangeran Langkat Hilir, kemudian menjadi Bendahara Paduka Raja, lalu Pangeran Langkat Hulu, lantas menjabat Ketua Pengadilan Kerapatan Kesultanan Langkat. Pada saat yang sama dan di tanah yang sama, Amir Hamzah juga menjadi Asisten Residen Langkat dalam pemerintahan Republik Indonesia. Meski bergelar bangsawan, Amir jarang sekali memakai gelar Tengku-nya. Ia seringkali hanya menuliskan namanya hanya dengan Amir Hamzah, termasuk ketika menulis puisi-puisi.

Pada 7 Maret 1946 dengan kendaraan terbuka, Tengku Amir Hamzah dan lainnya dijemput paksa. Saat itu ia berbaju putih lengan panjang, ia sempatkan melambaikan tangannya pada orang-orang yang ingin menyalaminya di jalan. Bersama tahanan lain, Amir dikumpulkan di Jalan Imam Bonjol, Binjai, lalu dikirim ke perladangan Kuala Begumit untuk disiksa dan dibunuh. Amir Hamzah awalnya ditahan di sebuah rumah bekas tahanan Kempeitai di tepi Sungai Mencirim, Binjai. Tiga belas hari kemudian, barulah ia dieksekusi.


Anehnya, beberapa orang pemuda ternyata sempat mendatangi Tengku Kamaliah, istri Amir Hamzah, untuk memintakan apa-apa yang kiranya perlu dikirimkan kepada Tengku Amir Hamzah di camp penyiksaan. “Ini lah daku titipkan teruntuk suamiku, juadah satu siya (rantang), masakan Melayu. Dan ini sehelai kain sembahyang, dan sepasang baju teluk belanga putih, kerana Ku Busu tak lepas dari menderas Al qur’an saban hari, bawakan lah ini Al qur’an untuk beliau”, ujar Tengku Kamaliah.


Di tempat yang lain di Kuala Begumit, nyatanya pakaian Tengku Amir Hamzah diambil, diganti dengan celana goni. Para tahanan diperintahkan menggali lubang; untuk kuburan mereka sendiri. Satu demi satu para tahanan ditutup rapat matanya. Tangan diikat kuat ke belakang. Sang algojo ternyata tak lain adalah Mandor Iyang Wijaya. Sebelum melakukan pembunuhan, ia mengabulkan permintaan terakhir Tengku Amir Hamzah yang meminta dua hal.


Pertama, ia meminta tutup matanya dibuka karena ingin menghadapi ajalnya dengan mata terbuka. Kedua, Tengku Amir Hamzah meminta waktu untuk sholat sebelum hukuman dijatuhkan. Kedua permintaan Tengku Amir ini entah kenapa dikabulkan mereka. Usai sholat, Sang Pujangga pun menerima ajalnya. Parang Mandor Yang Wijaya kemudian berayun menebas tengkuk hingga memutus lehernya.


Malam itu, pada 20 Maret 1946, saat sang pujangga ternama meninggal. Ia seperti menggenapkan salah satu larik dalam sajaknya, Buah Rindu”: datanglah engkau wahai maut, lepaskan aku dari nestapa. Catatan tentang kematian Amir Hamzah itu dituliskan Tengku M. Lah Husny dalam bukunya berjudul Biografi-Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah (1978). Pada November 1949,sebuah kuburan dangkal dibongkar yang di dakamnya terdapat delapan mayat. Salah satunya memakai cincin kecubung dengan keadaan kedua giginya patah. inilah kerangka Amir Hamzah, kerangka itu lalu dikuburkan dipemakaman keluarga kerajaan di samping Masjid Azizi. Dengan keputusan Presiden nomor 106 tanggal 3 november 1975, Amir Hamzah ditetapkan sebagai pahlawan Nasional.


Bangsawan Melayu Batubara


Pada tanggal  7- 8 Maret 1946, para Bangsawan Melayu Batubara diculik dan dikumpulkan di Labuhan Ruku. Kemudian pada hari selasa 12 Maret,  mereka dibawa ke penjara di Pematang Siantar. Tak lama berselang,  pada 26 Maret 1946 mereka dibawa lagi di Kampung Merdeka Berastagi,  tanpa kepastian untuk apa bahkan diintimidasi.
Di tanggal 30 Juni,  mereka dibawa lagi ke Raya Simalungun. Selanjutnya pada 1 Juli 1946 dipindahkan ke Bah Birong.


Bangsawan Perempuan dibawa ke Tanjung Balai  pada 23 Maret 1946 – Juli 1946. Mereka ditawan dan hanya diberi makan dari bahan makanan ternak. Semua harta benda dirampas dan tanah mereka sudah dipancang. Kaum bangsawan yang dipulangkan, terpaksa hidup di ladang dan hutan. Penyiksaan dan pembunuhan tak terhitung jumlahnya. Ada yang matanya dicongkel, kemaluan disayat sayat. Bahkan ada yang dicincang dan dibuang ke laut. Beberapa korban diantaranya, yaitu: Tengku Nur bin Tengku Busu Abdul Somad Indrapura, Tengku Anif Indrapura, Wan Bakhtin kemanakan Wan Sakroni Tanah Datar, Orang Kayo Syahbandar Indrapura, Orang Kayo Achmad cucu Datuk Limo Puluh, Orang Kayo Musa juru tulis Datuk Limo Puluh, Saudagar Sohor dari Sungai Balai Kedatukkan Suku Duo.


Kesultanan Asahan


Maret 1946, azan subuh belum lagi berkumandang di Tanjung Balai, Kesultanan Asahan. Ketika itu, Tengku Muhammad Yasir – cucu Sultan Asahan yang ke X – Tuanku Muhammad Husinsyah, menyambut kedatangan ayahandanya yang baru tiba dari istana. Ayahnya baru pulang berjaga-jaga karena terdengar kabar akan ada penyerangan. Rumah keluarga Tengku Yasir tak jauh dari Istana Asahan. Kedua lokasi tersebut sama-sama berada dalam lingkaran Kota Raja Indra Sakti, yang di tengahnya terhampar lapangan hijau.

Ketika itu, Tengku Yasir, yang berusia 15 tahun, membukakan pintu untuk ayahandanya. Dia lalu menatap ke arah lapangan hijau di depan rumahnya. Ada sekelompok orang merayap ke arah istana. Yasir melihat pakaian mereka biasa saja. Tapi, mereka membawa senjata api juga senjata tajam. “Ontu(ayahanda) , tengoklah itu, Ntu!” ujar Yasir pada sang ayah sambil menunjuk ke arah lapangan. Melihat apa yang terjadi, mereka kemudian masuk ke rumah. Pukul enam pagi itu, istana diserang sekelompok orang. Tuanku Sjaiboen Abdoel Djalil Rachmatsjah, Sultan Asahan waktu itu, dapat melarikan diri dari belakang istana. Dia berlari disesuatu tempat yang tersembunyi.


Satu jam kemudian, sejumlah orang datang ke rumah Tengku Yasir. Dia dan ayahnya dibawa. Tapi Tengku Yasir kesulitan berjalan karena tapak kakinya sedang sakit dan diperban. Melihat kaki Yasir yang sakit dan mengeluarkan bau tak sedap, dia tak jadi dibawa. Tengku Yasir pun lari ditengah sakitnya, menyelamatkan diri ke rumah Tengku Haniah, kakak sepupunya. Rupanya, di rumah itu pun tak ada lagi lelaki. Semua sudah diculik sekelompok orang yang melakukan penyerangan. Dan tak lama datang lagi sekelompok orang untuk membawa mereka.


Itulah peristiwa berdarah yang terjadi di Sumatera Timur yang kala itu dikatakan sebagai revolusi sosial. Dengan begitu banyak pembunuhan yang dilakukan secara keji masihkah disebut sebagai revolusi sosial. Selain para sultan, Tengku Sortia bin T alhaji Jamta Melayu, cucu dari Tengku Tebing Pangeran, ia adalah Tengku Penasihat Negeri Padang di Tebing Tinggi. Pun tak luput dari korban kekejaman itu. Dia dibawa ketika tengah shalat Isya dalam keadaan bersujud. Istrinya hanya bisa melihat dari kejauhan ketika suaminya dibawa paksa ke tepi sungai yang sangat deras. Dan hilang tanpa kabar berita, kejadian ini membuat istrinya hilang kesadaran dan selalu menyusuri sungai dengan keadaan menangis, berharap suaminya kembali.


Bahkan Sebuah dokumen Belanda memperkirakan bahwa revolusi sosial 1946 ini menelan korban pembunuhan sebanyak 1200 orang di Asahan, belum lagi di negeri-negeri lain di Sumatera Timur. Dari Sungai Londir saat dievakuasi dikemudian hari, menemukan banyak kerangka korban yang terkubur tak teratur, bahkan ada di dinding-dinding tanah.

 

    Penulis            : Riskryto

    Penyunting      : Argha Sena

    Referensi        : gelora.co, langkatpedia.com, mandailingonline.com, tempo.co,                                                   wikipedia.org


RAHASIA TERBONGKAR!!! Ternyata Banyak Teks-Teks Jawa yang Menceritakan tentang Perilaku Seks

Ternyata hubungan intim layaknya suami istri banyak tertulis dalam catatan-catatan kuno peninggalan leluhur Jawa. Pada masa sastra Jawa Baru abad 18 hingga 19, banyak pujangga Jawa menulis serat yang bermuatan seks. Sebagian besar berisi ajaran dalam persenggamaan. Ada pula kisah-kisah tentang penyimpangan seks. 

Teks pertama adalah Babad Tanah Jawi, yang memuat banyak kisah asmaradahana atau api asmara di kalangan para raja dan bangsawan. Dalam babad ini perebutan wanita antara para raja adalah hal umum. Semisal, Sultan Amangkurat Mataram merebut Ratu Malang, istri Ki Dalem, yang berujung pada kematian Ki Dalem. Amangkurat juga pernah menyukai Rara Hoyi, anak Ki Mangunjaya dari Surabaya, yang masih kecil. Rara Hoyi ketika sudah dewasa juga dijadikan rebutan oleh Adipati Anom, putra Amangkurat.

Perebutan wanita kala itu merupakan hal umum dalam relasi antar-kerajaan bahkan antar-keluarga dan saudara yang berakhir pada pembunuhan-pembunuhan. Kisah persenggamaan antara Panembahan Senopati dan Ratu Pantai Selatan juga muncul dalam babad ini. Hal-hal semacam itu merupakan asmaradahana. Api asmara, perselingkuhan, percintaan dan lain sebagainya yang menyelimuti para bangsawan saat itu.

Teks kedua adalah Serat Centhini yang ditulis pada sekitar tahun 1814-1823. Serat yang diprakarsai oleh Kanjeng Pangeran Adipati Anom Amengkunagoro III yang kemudian bergelar menjadi Pakubuwono V ini sebenarnya merupakan sebuah ensiklopedia jawa. Seks hanya salah satu bagian di dalamnya.

Di situ diceritakan Seh Amongraga dan Ken Tambangraras dalam melakukan persetubuhan tidak langsung menikah langsung copot-copot baju langsung, berhubungan intim akan tetapi Menunggu 40 hari baru melakukan persetubuhan, cumbana seperti yang tertulis dalam Serat Centhini Kamajaya Jilid 6.

Dalam serat itu, diceritakan pula penyimpangan seks berupa persenggamaan dengan kuda yang disebut sebagai bentuk pegobatan. Dalam Centhini Kamajaya Jilid 10 dikisahkan bahwa Ki Kulawirya mendapat mimpi untuk menyembuhkan Nuripin yang terkena penyakit raja singa harus bersenggama dengan kuda.

Sementara, dalam Centhini Jilid 9 Pupuh 568-583 diceritakan tentang perilaku seks di luar nikah. Kisah itu dilakukan tokoh bernama Banem. Perempuan perawan itu mendatangi Jayengraga, tamu laki-laki di rumahnya, untuk diajari berhubungan seks. 

Serat Centhini juga berisi bagaimana cara bersenggama agar dapat menghasilkan anak laki-laki atau perempuan. Di dalam Centhini juga terdapat teks tentang seks bernama Saresmi. Namun, Saresmi ditulis kembali menjadi satu teks sendiri oleh beberapa pujangga. Saresmi berisi perintah dan larangan, tata-cara hingga anjuran waktu dalam bersenggama.

Teks ketiga adalah Narasawan yang ditulis pada 1930-an (Nara berarti laki-laki, sawan berarti kesurupan karena hal ghaib). Teks ini menceritakan persetubuhan manusia dengan hewan dan makhluk halus. Ada 10 hewan yang disebut dalam teks ini: lembu estri, mesa kapal, menda gembel estri, menjangan, menda jawi, maesa bule, lembu pohan, wawa estri, rangutan, munyuk gerang. Sementara, makhluk halus yang disebutkan ada tiga: genderuwo, peri sari, dan kuldi wadon.

Narasawan mirip dengan teks Cekruk Truno, dongeng yang berkisah tentang seorang pemuda pengangguran yang ingin menjadi ledhek, saudagar, hingga menjadi hakim namun tidak pernah melakukan usaha apapun.

Selain bersenggama dengan hewan, ada pula teks yang menyebut tentang penyimpangan seks, semisal Serat Trilaksita. Lima penyimpangan yang disebutkan dalam Trilaksita yakni ngoyag-oyag turus ijo atau menyukai anak wanita yang masih belum bersuami, ngrusak pager ayu atau menyukai istri dari saudara sendiri atau tetangga, anggege mangsa atau menyukai anak yang belum menginjak akhil balig, meksa saresmi atau memaksa berhubungan badan (memperkosa) dan anjejamah atau orang yang senang bersenggama tanpa memandang situasi.

Pembahasan seks juga dimuat Kawruh Sanggama, yang merupakan ajian asmaragama yang didapat Bathara Guru dari Sang Hyang Tunggal dengan bertapa. Karena sebelumnya mendapat empat putra yang berwatak tidak baik, Bathara Guru lalu mencari ajian asmaragama hingga kemudian berputrakan Sang Hyang Whisnu.

Kawruh Sanggama menjelaskan bagaimana cara agar mendapat anak yang baik, memuaskan wanita, tatacara bersenggama, hingga halangan-halangan dalam bersenggama. Terdapat pula catur brata untuk aji asmaragama. Catur brata merupakan empat hal yang harus dilakukan suami kepada istri dalam hubungan senggama. Yang pertama, lila atau mengikuti permintaan istri, kemudian narima atau menerima atas pelayanan yang disiapkan istri, temen atau menepati janji dan sabar atau tidak senang marah, dan selalu memberi maaf atas kesalahan istri.

Selain Babad Tanah Jawi, Centhini, dan Narasawan, masih banyak kisah-kisah lain yang sebagian juga disadur dari serat-serat induk itu. Teks-teks itu kebanyakan tersimpan di perpustakaan Keraton Surakarta dan Yogyakarta serta koleksi pribadi perpustakaan swasta atau yayasan.


Penulis                 : Andri Setiawan (Hisoria.id)

Penyunting           : Argha Sena

Sumber Narasi     : http://historia.id