Kamis, 22 Juli 2021

BANYAK YANG TIDAK PERCAYA!!! PSK Punya Peran Dalam Usaha Kemerdekaan Indonesia

 


Kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah kemerdekaan yang mudah untuk diraih. Semua elemen masyarakat saling bahu membahu demi mencapai kebebasan dari penjajahan. Bahkan semua dikorbankan agar terciptanya kehidupan yang lebih baik. Harta, tenaga, bahkan nyawa harus mereka relakan agar anak cucunya tidak hidup dalam keadaan dijajah. Prajurit berada pada garda terdepan dalam perjuangan, merekalah yang memegang semangat perjuangan para masyarakat. Baik tua maupun muda, lelaki maupun perempuan, yang kaya ataupun yang miskin, dan yang sehat maupun yang sakit tetap harus meneruskan perjuangan. Bahkan ternyata Pekerja Seks Komersil (PSK), pencopet, pengemis dan pencuri juga memiliki perannya dalam kemerdekaan.

Cukup aneh memang ketika mendengar pekerjaan yang banyak merugikan masyarakat itu  memiliki peran dalam kemerdekaan kita. Kita tahu pekerjaan-pekerjaan itu selalu memiliki tanggapan-tanggapan negatif karena memang selalu meresahkan masyarakat. Namun kita harus menerima kenyataan bahwa memang seperti itu keadaannya, dimana mereka juga memiliki peran tersendiri. Karena dalam buku "Soekarno: An Autobiography as told to Cindy Adams", mengutip salah satu pernyataan Bung Karno dalam buku tersebut: "Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia."(intisari.grid.id)

Bukan tanpa alasan ketika Soekarno mengatakan hal yang terdengar tidak rasional itu. Pertengahan 1946, ketika tentara Sukutu berangsur pergi dari Indonesia dan tentara Belanda mulai menguat, Moestopo dijadikan perwira Pendidikan Politik Tentara (Pepolit) di Subang. Ia tiba di sana dengan unit bersenjata yang tidak biasa disebut Pasukan Terate. Terate adalah akronim dari Tentara Rahasia Tertinggi. Selain terdiri dari taruna-taruna Akademi Militer Yogyakarta, ada pula pelacur dan pencopet dari Surabaya dan Yogyakarta. Mereka dikerahkan untuk menciptakan kekacauan dan kebingungan di kalangan serdadu-serdadu Belanda di sekitar Bandung.

Para pencuri dan para pelacur ini, menurut Abdul Haris Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda (1990), diberi pesan: “Boleh bergiat di daerah musuh terutama terhadap prajurit-prajurit musuh.” Itu satu rencana yang cukup brilian, sebetulnya: Pihak Republik berusaha mengirim penyakit masyarakat ke daerah lawan. Bekerja di daerah pendudukan Belanda, dalam masa revolusi, agaknya bisa lebih mendatangkan untung mengingat perekonomian daerah pendudukan lebih baik daripada daerah Republik. Selain itu, pelacur-pelacur pro-Indonesia bisa menjadi mata-mata bagi Republik.

Bagaimanapun, tentara-tentara yang dikirimkan ke Indonesia adalah pemuda-pemuda Belanda yang jauh dari pacar atau istri. Mereka butuh kehangatan dan tak jarang para PSK jadi penuntasan birahi. Pelacuran di daerah pendudukan Belanda maupun medan perang lain di dunia adalah efek dari peperangan juga. Kesulitan bahan makanan dan sumber uang membuat banyak perempuan rela jadi pelacur. Mengutip kesaksian seorang mantan veteran tentara Belanda di Indonesia, Frans Bentschap Knook: “Ketika kami memasuki kota dengan truk militer berkapasitas tiga ton, di sana-sini terdapat perempuan yang sudah siap bercinta dengan tentara-tentara Belanda.” “Tetapi Kami sudah mendapat peringatan, dan takut setengah mati akan dampak perkencanan itu,” ujar Knook, sebagaimana dicatat dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 (2017) yang disusun Gert Oostindie.(tirto.id)

Para PSK tak hanya mengumpulkan informasi, tapi juga ikut membantu menyabotase musuh. Sementara, anggota Barisan lain punya tugas masing-masing. Pengemis bertugas mendengar pembicaraan musuh, pencopet ditugaskan mencopet orang kaya di pasar dan menggondol perlengkapan milik tentara Belanda, sementara perampok biasanya menyambangi rumah orang kaya untuk menggasak harta mereka untuk membiayai revolusi. Tindak-tanduk barisan ini, tulis Robert Cribb dalam Gejolak Revolusi di Indonesia 1945-1949, menimbulkan keresahan dan kekacauan di kalangan tentara Belanda. Sialnya, ide “Moestopo tersebut kemudian ternyata menjadi ibarat senjata makan tuan. Karena adanya pelacur di front itu menyebabkan prajurit kita yang kesepian di front terkena getahnya, terkena wabah penyakit kotor,” tulis Moehkardi dalam Pendidikan Perwira TNI-AD di Masa Revolusi (1979).(historia.id)

Dilansir dari buku Robert Cribb yang berjudul, "Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta", mengisahkan mengenai penyelamatan terhadap Bung Karno dan pejuang lainnya saat dalam pengintaian Belanda oleh para PSK. Para PSK-lah yang membantu menyembunyikannya di rumah bordil yang jadi sarang mereka. Selain membuat tempat persembunyian paling aman bagi para pejuang, hunian mereka juga dijadikan tempat penyelundupan senjata bagi para pejuang.


Selain itu,  saat tentara Jepang banyak memperkosa gadis-gadis baik yang tidak bersalah di Minangkabau, Bung Karno mengirimkan 120 PSK sebagai pengganti atau penyelamat gadis-gadis Minangkabau dari tindakan asusila tentara Jepang. Disisi lain, PSK juga berjasa untuk penyeludupan suplai senjata pada masa penjajahan. Hal ini terbukti saat para kaum Revolusioner dalam sebuah gerakan Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) ingin menyerang Jakarta untuk menaklukan Jepang dan Belanda. PSK inilah yang menjadi penunjang untuk memuluskan rencana penaklukan dengan menyeludupan senjata.  Untuk Bung Karno, PSK merupakan loyalis sejati yang mendukung tercapainya kemerdekaan.(kompasiana.com)

Tugas mereka menjadi sumber informasi mengenai musuh tak dapat digantikan oleh pihak manapun kala itu. "Tak satu pun laki-laki anggota partai yang terhormat dan sopan itu dapat mengerjakan tugas ini untukku," ujar Soekarno yang juga menyampaikan para PSK bukan saja penyumbang yang menyenangkan, tetapi juga penyumbang yang besar dalam revolusi Indonesia. Bahkan "Dalam keanggotaan PNI (Partai Nasional Indonesia) di Bandung, terdapat 670 orang perempuan yang berprofesi demikian dan mereka adalah anggota yang paling setia dan patuh," tulis Soekarno dalam buku berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, cetakan pertama tahun 1966.(nationalgeographic.grid.id)

Itulah sedikit ulasan tentang peran PSK dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Beberapa peran tersebut adalah, sebagai mata-mata bagi para pejuang, penyelundup senjata, penyumbang dana perjuangan, penghancur rumah tangga penjajah, dan pemberi penyakit kelamin kepada para penjajah bahkan sarang para PSK pernah dijadikan tempat untuk rapat oleh Soekarno untuk mengatur strategi melawan para penjajah. Memang lebih banyak hal negatifnya daripada hal positif dari sudut pandang tentang para PSK, namun setiap segala sesuatu pasti memiliki kelebihannya masing-masing.  Para PSK tersebut juga banyak yang berhenti dari pekerjaan itu setelah kemerdekaan karena mereka tidak ingin terus-terusan hidup dalam kenistaan. Selain masyarakat saat ini yang menilai buruknya PSK, saat itu ketika Soekarno mengikut sertakan PSK dalam revolusi, Soekarno juga pernah mendapatkan protes keras dari Ali Sastroamidjojo, tokoh PNI. Perdebatan sengit antar kedua tokoh PNI tersebut tak terelakkan, bahkan Ali sempat mempertanyakan keputusan Bung Karno merekrut 670 PSK masuk menjadi anggota PNI cabang Bandung. Sama seperti kita, terkadang manusia hanya menilai dari satu sisi saja, dan jarang manusia menilai dari sisi yang berbeda. Namun itu adalah keadaan kala itu, PSK terpaksa bekerja seperti itu untuk hidup dan juga perjuangan kemerdekaan. Berbeda jauh dengan keadaan sekarang yang hanya untuk memenuhi kebutuhan duniawi dan nafsu mereka saja.


Penyusun        : Riskiryto

Penyunting     : Argha Sena

Referensi       

  1. historia.id
  2. http://107.180.92.227/index.php/peran-psk-dalam-memperjuangkan-kemerdekaan-dari-mata-mata-hingga-penyelundup/
  3. intisari.gird.id
  4. kompasiana.com
  5. nationalgeographic.grid.id
  6. tirto.id



0 komentar:

Posting Komentar