Kamis, 22 Juli 2021

Semar, Eyang Ismaya dan Togog Apakah Orang yang Sama! Berikut Beberapa Naskah Kuno yang Menceritakan Tentang Semar

 

Hampir semua orang-orang yang sudah sepuh dari suku jawa mengenal sosok Semar. Semar merupakan tokoh Punakawan dalam pewayangan, selain mengetahui dari pewayangan, adapula yang mengenalnyamelalui dunia mistis dan juga kebatinan. Namun, generasi sekarang banyak yang tidak tau mengenai Semar yang dikatatakan sebagai pamomong tanah Jawa. Dalam cerita wayang, Semar dikatakan sebagai tokoh asli Indonesia karena tidak ditemukan dalam cerita Mahabharata atau Ramayana dari India. Lantas, apakah sama antara Semar dan juga Eyang Ismoyo yang makamnya ada di Gunung Tidar.

Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439. Asal-usul Semar juga memiliki beberapa versi, namun semua percaya Semar sebagai dewa turun dari langit dan menyatu dengan kehidupan manusia. Semar memiliki tugas membimbing manusia untuk memiliki budi pekerti dan menjunjung tinggi kebenaran. Karena tugasnya, Semar juga disebut sebagai dewa pamonging satriya, sinamar dadi kawula (dewa pengasuh kesatriya yang menyamar sebagai hamba). Seperti dikisahkan dalam kitab-kitab Manikmaya, Kandha dan Paramayoga, Semar berasal dari alam kadewatan (jagad dewa).

Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, putera Sang Hyang Wenang yang bernama Sang Hyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati. Sepasang suami-isteri tersebut melahirkan putera berupa sebuah telur ajaib, yang melesat ke hadapan kakeknya, Sang Hyang Wenang. Oleh sang kakek telur ajaib tersebut disabda-cipta menjadi tiga dzat hidup yang bersifat dewa.

Bagian kulit dari telur yang keras menjadi Sang Tejamantri/Antaga, bagian putih telur menjadi Sang Ismaya, dan bagian kuning telurnya menjadi Sang Manikmaya. Dalam sayembara memakan gunung, Sang Tejamantri dan Sang Ismaya kalah melawan Sang Manikmaya. Sehingga mereka berdua harus turun ke Arcapada untuk menjadi pengasuh manusia-manusia keturunan Sang Manikmaya. Di Arcapada, Sang Tejamantri/Antaga beralih rupa dan nama menjadi Togog yang mengasuh manusia-manusia yang bersifat serakah. Sedangkan Sang Ismaya beralih rupa dan nama menjadi Semar yang menjadi pamomong kesatriya-kesatriya berdarah biru yang bergelimang wahyu.

Togog dikisahkan selalu gagal membujuk majikannya untuk bersikap dan berbuat baik dan benar. Dan Semar berhasil membimbing asuhannya ke arah perbuatan benar dan luhur. Semar berhasil membimbing asuhannya ke arah perbuatan benar, bijaksana dan luhur. Haryono Haryoguritno, ahli Budaya Jawa dari Lembaga Javanologi Jakarta, dalam makalahnya Semar, siapa dan di mana dia? juga membeberkan, dalam pandangan aliran kepercayaan di Jawa ada yang meng-kiblat-kan ajaran-ajarannya kepada ketokohan Semar. Dalam pengembaraan spiritual mencari tempat sangkan paraning dumadi, sebagian orang Jawa secara spiritual sempat bertemu dengan tokoh Semar. Hal ini karena pengaruh mitologi dunia pewayangan yang cukup berpengaruh dalam menciptakan kerangka pemikiran mistis orang Jawa.


Sisa-sisa faham anismisme dan dinamisme juga sangat berpengaruh terhadap keyakinan ini. Sehingga muncul pemahaman, Semar adalah nenek moyang orang Jawa Purba yang roh-rohnya telah menjadi danyang yang mengawal kawasan Pulau Jawa dan seluruh Nusantara berikut penghuninya sampai akhir jaman nanti. Karena itu dia ada kemungkinan untuk bisa dan terus ‘hadir’ pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Di daerah Magelang, sejarah awal masuknya agama Islam ke tanah Jawa juga tidak terlepas dari kisah legenda yang ada di tengah masyarakat daerah ini, yaitu peran ulama Syekh Subakir, Syekh Jumadil Qubro, Syekh Maulana Maghribi, dan kerabatnya yang bertemu dengan Ki Semar di puncak sebuah gunung. Menurut riwayatnya, sebelum Pusaka Kalimasada ditanam di puncak Gunung Balak, Syekh Subakir bermusyawarah dengan Kyai Semar di puncak sebuah gunung. Di puncak gunung inilah peti tempat menyimpan dan membawa Pusaka Kalimasada itu dibuka yang dalam bahasa Jawa: pethi-ne diudhar.

tempat membuka peti itu kemudian dinamakan Gunung Tidar, Dari puncak gunung Tidar inilah kemudian Pusaka Kalimasada dibawa ke arah timur, sejauh 17 kilometer (yang kini tempat ini bernama Pakis), dan diusung ke puncak sebuah gunung untuk ditanam sebagai tumbal kanggo wong sak alak-alak atau tumbal untuk orang banyak. Itulah sebabnya, tempat menanam tumbal ini sampai kini disebut Gunung Balak. Penanaman Pusaka Kalimasada di puncak gunung Balak oleh Syekh Subakir dan kawan-kawannya, bermakna sebagai penancapan Kalimah Syahadat di jantungnya Tanah Jawa, sebagai tanda masuknya ajaran agama Islam bagi penghuni tanah Jawa. Makam petilasan Eyang Ismoyo Jati di puncak Gunung Tidar berupa sebuah pusara yang di tengahnya berdiri tegak sebuah wujud keris pusaka luk sembilan setinggi kira-kira dua meter. Bilah keris pusaka ini dari bahan tembaga berwarna kuning emas yang dihiasi sembilan buah bintang.

Nama-nama yang ada di puncak Gunung Tidar ini mempunyai makna yang tersamar. Sebutan Eyang, maknanya elinga padha sembahyang (ingat untuk melakukan sholat). Ismaya maknanya aja padha semaya (jangan menunda). Kata jati artinya kabeh ana jati dhirimu (semua ada pada jati dirimu). Sedangkan kata Semar, maknanya Sira Eling Marang Allah lan Rasul (kamu ingat pada Allah dan Rasul). Di pucuk tugu Puser Tanah Jawa yang berada di tengah lapangan di puncak Gunung Tidar ada tulisan aksara Jawa tiga buah sa. Ini maknanya, sapa salah seleh (barang siapa yang bersalah akhirnya akan ketahuan). Juga bermakna sapa sholat slamet (siapa yang menegakkan sholat akan selamat).

            Selain versi tersebut, ada beberapa versi mengenai Semar yang mengatakan bahwa Semar bukanlah Eyang Ismoyo. Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.

Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.

Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.

Itulah beberapa versi tentang Semar yang merupakan salah satu tokoh pewayangan. Menurut beberapa Naskah mengatakan bahwa Semar bukanlah Eyang Ismoyo. Ada naskah mengatakan bahwa Eyang Ismoyo adalah cucu dari Semar. Sulit memang untuk membuktikan sesuatu yang tidak pernah kita lihat secara langsung. Maka dari itu kita hanya bisa berasumsi dengan pendapat dan keyakinan kita masing-masing. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita.


Penyusun           : Riskiryto

Penyunting         : Argha Sena 

Referensi           : blogpunyawisnu.blogspot.com, harianmerapi.com




0 komentar:

Posting Komentar