Selasa, 12 Oktober 2021

REZIM KOMUNIS PALING BERUTAL DI ASIA TENGGARA

       
Foto Korban Khmer Merah Sebelum dieksekusi

        Masa-masa berdarah di kawan Asia Tenggara tidak hanya terjadi di Indonesia, perbedaan politik antara komunis dan non komunis sering kali menjadi konflik berdarah yang mengerikan. Salah satunya adalah negara tetangga kita Kamboja yang dari segi bahasa sangat berbeda dengan kita, negara tersebut pernah mengalami babak yang sangat mengerikan dengan hantu komunis dibawah rezim komunis Khmer Merah.
        Kamboja pernah mengalami perubahan radikal di era kekuasaan rezim komunis-maois. Pada 1975-1979 negara itu dikelola pasukan Khmer Merah yang mendukung Communist Party of Kampuchea atau Partai Komunis Kampuchea (CPK), dan tercatat sebagai salah satu fase paling berdarah dalam sejarah Asia Tenggara. Khmer Merah dibangun pelan-pelan sepanjang dekade 1960-an di hutan-hutan sebelah timur Kamboja. Mereka didukung tentara Vietnam Utara, Viet Cong (organisasi berhaluan komunis penentang agresi Amerika Serikat dan Vietnam Selatan), dan Pathet Lao (gerakan komunis di Laos).
        Amerika Serikat melakukan pengeboman besar-besaran dari pesawat tempur selama Perang Vietnam, termasuk untuk menghancurkan basis kekuatan Khmer Merah. Meski demikian, Khmer Merah tetap mampu memenangkan Perang Sipil Kamboja yang telah berlangsung sejak 17 Januari 1968. Pada 17 April 1975, pasukan Khmer Merah sukses merebut ibu kota Phnom Penh. Time mencatatnya sebagai capaian yang tidak terlalu mengejutkan. Selama perang berlangsung, tentara komunis-maois itu terus-menerus meningkatkan kekuatannya. 
        Di sisi lain AS telah mundur dari ibu kota, sehingga kejatuhannya tinggal menunggu waktu. Pol Pot, Nuon Chea, Ieng Sary, Son Sen, dan Khieu Samphan memimpin rezim baru. Pol Pot menjadi yang paling berkuasa sebab memegang jabatan sebagai Perdana Menteri sekaligus Ketua Politbiro dan Komite Sentral CPK. Mereka mengubah nama negara menjadi Kampuchea (per 1976 menjadi Democratic Kampuchea), nama yang lebih disukai golongan komunis ketimbang “Cambodia” (Kamboja). Rekayasa Sosial Penuh Kekejaman Selanjutnya adalah apa yang para sejarawan sebut sebagai “rekayasa sosial” yang radikal. Masyarakat Kampuchea diisolasi dari semua pengaruh asing. Rakyat kota diungsikan semua ke area pedesaan. Bank diberhentikan operasionalnya. Sekolah, rumah sakit, dan sejumlah pabrik juga ditutup.
    Sebagaimana rezim menyatakan negara akan memulai “Tahun Nol”, Pol Pot ingin masyarakat Kampuchea “terlahir kembali” melalui kolektivisme dan swasembada absolut. Ia percaya kebijakan itu akan turut merangsang daya produksi kerajinan dan kemampuan industri negara di masa depan. Ada banyak literatur yang membahasnya secara rinci. Salah satunya Sean Bergin dalam The Khmer Rouge and the Cambodian Genocide (2008). Pertama-tama rezim Khmer Merah menjalankan evakuasi penduduk kota Phnom Penh ke wilayah perdesaan. Mereka dipaksa meninggalkan profesi lama untuk terjun membuka lahan persawahan serta mengelola dan memanen padi. Kecuali yang punya kemampuan teknis, mereka dibawa kembali ke kota untuk menjalankan pabrik-pabrik. Di titik ini genosida sebenarnya sudah berlangsung. 
        Long march yang dilakoni ribuan warga kota ke daerah pinggiran membunuh anak-anak, orang tua, dan orang sakit. Mereka yang akhirnya sampai di lokasi pun mendapat siksaan serupa karena setiap hari dipaksa kerja dalam waktu yang lama dan dalam kondisi yang mengenaskan. Istirahat dan makan adalah dua hal yang berharga amat mahal. Banyak yang akhirnya meregang nyawa karena tenaganya habis, kelaparan akut, atau diterpa penyakit mematikan seperti malaria. Para pekerja akan dieksekusi jika berusaha kabur dari komune-komune. Pelanggaran aturan, meski yang sepele, juga akan diganjar risiko berat. Pelanggar biasanya akan dipisahkan diam-diam dari pekerja lain, dibawa ke hutan atau persawahan terpencil setelah matahari terbenam, lalu dieksekusi mati.
     Entah di tataran elite atau rakyat biasa, pemerintahan Khmer Merah menangkap, menyiksa, maupun mengeksekusi orang-orang yang dianggap sebagai “musuh negara”. Seratus lima puluh penjara dibangun untuk para musuh politik, termasuk dengan mengalihfungsikan gedung-gedung sekolah. Para korban digolongkan mejadi lima kategori menurut Rebbeca Joyce Frey dalam Genocide and International Justice (2009). 


        Pertama, orang-orang yang punya koneksi dengan pemerintahan sebelumnya, entah itu Republik Khmer, militernya, atau wakil-wakil pemerintahan luar negeri. Kedua, kaum profesional dan intelektual, termasuk mereka yang mengenyam pendidikan tinggi dan mereka yang mengerti bahasa asing. Banyak dari mereka yang berstatus sebagai seniman, musisi, sastrawan, dan pembuat film. Ketiga, etnis Vietnam, etnis Cina, etnis Thailand, dan minoritas lain yang menghuni dataran tinggi sebelah timur. Termasuk juga minoritas Katolik, Muslim, dan biksu-biksu Buddha senior. Katedral Katolik di Phnom Penh dihancurkan. Rezim memaksa umat Islam untuk memakan daging babi. Mereka yang menolak menemui eksekusi mati. Keempat, para “penyabot ekonomi”, yakni mantan penduduk kota yang dianggap bersalah karena tidak mampu menjalankan tugas agrarisnya. Kelima, anggota partai yang dianggap sebagai pengkhianat. Mereka disiksa atau dihilangkan nyawanya—termasuk tokoh senior seperti Hu Nim.
        Menghabisi Nyawa Jutaan Manusia Ada banyak versi mengenai total korban jiwa akibat genosida selama kekuasaan Khmer Merah. The Cambodian Genocide Porgram di Yale University, misalnya, memperkirakan korban kematian mencapai 1,7 juta jiwa atau sekitar 21 persen dari total populasi Kamboja pada pertengahan 1970-an. Investigasi PBB menyebut perkiraan yang lebih tinggi: antara 2-3 juta. Sementara itu beberapa peneliti independen menyebut 1,17-3,45 juta jiwa. Jika memakai angka rata-rata, korban kematian Khmer Merah kerap ditampilkan di angka 2 juta. Setengahnya akibat eksekusi. Sisanya karena kelaparan atau penyakit. Rekayasa sosial rezim Khmer Merah dijalankan dengan begitu autokratis, xenofobik, paranoid, dan represif. 
    Sejarawan memandangnya sebagai jalan bunuh diri. Kenyataannya, Democratic Kampuchea memang hanya bertahan selama empat tahun. Pada April 1978 Pol Pot menyerukan invasi pendahuluan ke Vietnam. Pasukan Khmer Merah menyeberang ke perbatasan, menyerang desa-desa terdekat, membantai warganya, dan menjarah barang-barang berharga. Serangan itu, catat Stephen J. Morris dalam Why Vietnam Invaded Cambodia: Political Culture and the Causes of War (1999), memulai Perang Kamboja-Vietnam. Ada faktor-faktor lain seperti konflik darat dan maritim sepanjang 1975-1978 dan banjir pengungsi perang yang membuat hubungan kedua negara makin keruh.
        Vietnam mengerahkan kekuatan militer penuh dalam rangka penyerbuan ke jantung pertahanan Kamboja, termasuk dalam upaya merebut Phnom Penh. Vietnam dibantu oleh Front Bersatu Kampuchean untuk Keselamatan Nasional (FUNSK), organisasi militan yang terdiri dari eks anggota Khmer Merah yang tidak sepakat dengan bagaimana rezim mengelola Kamboja. Pada 7 Januari 1979 keduanya sukses merebut Phnom Penh, dan otomatis mengakhiri rezim Khmer Merah. 
        Pemerintahan baru yang diinisiasi aktivis anti-Khmer Merah segera terbangun, dan otomatis tidak diakui oleh sisa-sisa kekuatan Khmer Merah yang melarikan diri ke area dekat perbatasan dengan Thailand. Sisa-sisa kekuatan Khmer Merah bertahan di wilayah tersebut hingga satu dekade setelahnya. Mereka tidak lagi swasembada, tapi berbisnis penyelundupan kayu, berlian, dan makanan. Pendampingnya adalah militer Cina yang bekerja sama dengan militer Thailand. Era 1990-an adalah masa ketika sisa-sisa kekuatan Khmer Merah mulai kelelahan bertarung. 
        Anggota mereka makin sedikit. Banyak yang menyerahkan diri beserta senjatanya. Donor dari asing makin berkurang. Terjadi perpecahan internal di tataran elite—termasuk dipenjaranya Pol Pot hingga kematiannya pada 1998. Pemimpin lain menyerahkan diri ke otoritas Kamboja untuk kemudian menjalani sidang dengan dakwaan hukuman seumur hidup atau eksekusi mati. Mereka menyatakan permintaan maaf terkait genosida selama berkuasa dulu. Sebelum berganti ke abad-21, Khmer Merah sudah benar-benar habis.

Sumber : tirto.id


CERITA MALAYSIA HORMATI PAK HARTO


        Indonesia dan Malaysia ibarat kakak dengan adik yang sering bertengkar satu sama lainnya, akan tetapi pertengkaran saudara hanya sesaat saja. Bahkan jika salah satunya diusik oleh negara lain maka yang satunya lagi akan merasa jengkel. Bahkan netizen Indonesia sering mengatakan "hanya Indonesia yang boleh mengganggu Malaysia" seperti saat terjadi singgungan antara Israel dan Malaysia beberapa bulan yang lalu. Israel sempat mengeluarkan ancaman terhadap negara Jiran kita Malaysia, akan tetapi netizen Indonesia yang biasanya ribut bergaduh dengan netizen Malaysia tanpa diduga beramai-ramai membela Malaysia dengan bersemangat.

           Sebagai negara bertetangga, hubungan Indonesia dan Malaysia sering panas dingin.    Dulu Presiden Soekarno mengobarkan perang gerilya dengan Malaysia pada periode 1963 dengan selogan Ganyang Malaysia. Karena Bung Karno menganggap malaysia adalah negara boneka bentukan Inggris yang akan sangat mengganggu kawasan Asia Tenggara. Namun setelah Soekarno jatuh, Soeharto tak berniat melanjutkan peperangan itu karena Pak Harto lebih melihat permasalahan dalam negeri yang saat itu sedang morat-marit ekonominya. Inflasi tidak terkendali, bahan-bahan makanan pokok melambung tinggi harganya dan rakyat menjerit karena mengalami kesulitan ekonomi. Kemudian Soeharto secara perlahan menggagas perdamaian antar kedua negara serumpun tersebut. Malaysia menyambut dengan sangat baik uluran perdamaian Indonesia. Kala itu Malaysia pun kewalahan menghadapi gerilyawan Kalimantan yang sebenarnya merupakan pasukan elite TNI. Malaysia bahkan sampai meminta bantuan pada pasukan elite inggris dan negara persemakmuran Inggris lainnya.

        Perdana Menteri Malaysia Tun Mahatir bin Mohamad kemudian menjadi sahabat Soeharto. Dia memuji kepemimpinan Soeharto yang berwibawa dan disegani tersebut. Kala itu Malaysia sangat menghormati Indonesia.

        "Saya merasa terhormat dapat diterima Pak Harto sebagai sahabat," kenang Mahatir dalam buku 'Pak Harto The Untold Stories' terbitan Gramedia Pustaka Utama.

    Dalam artikel ini akan kami paparkan beberapa cerita penghormatan Malaysia untuk presiden Soeharto karena melalui beliaulah persahabatan negara serumpun ini dapat terwujud:

Kampung Soeharto di Malaysia

        Kampong Soeharto semula bernama Sungai Dusun. Perubahan nama terjadi setelah kunjungan Presiden Soeharto bersama lbu Siti Hartinah Soeharto yang disambut Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak pada 18 Maret 1971. Presiden Soeharto mengunjungi kawasan tersebut adalah untuk melihat keberhasilan perkebunan kelapa sawit. Lebih dari itu, kunjungan tersebut merupakan momentum adanya normalisasi hubungan bilateral antara Republik Indonesia dengan Malaysia. Seperti diketahui pada era tahun 1960an, hubungan Indonesia-Malaysia tidak harmonis.

            Kampong Soeharto terletak di Hulu Selangor merupakan sebuah daerah yang terletak di sebelah utara Selangor. Secara geografis, Hulu Selangor berada di sebelah utara Lembah Klang dengan luas sekitar 174,047 hektar. Pada tahun 2005 jumlah penduduknya mencapai 178.500 jiwa. Penduduk Kampong Soeharto terdiri dari etnis Melayu (Kedah, Kelantan, Johor, Pulau Pinang, Perak), Jawa, Banjar dan India. Tidak mengherankan apabila penduduk Kampong Soeharto ada yang berasal dari Pulau Jawa dan telah bermukim sejak tahun 1960-an.

       Perubahan nama dari Sungai Dusun menjadi Kampong Soeharto adalah untuk mengenang kunjungan tersebut. Menariknya, seluruh fasilitas umum di Kampong Soeharto dinamakan pula Soeharto. Seperti sekolah-sekolah dinamakan Soeharto. Begitu pula poliklinik (Puskesmas) dinamakan Soeharto.

    Kampung ini dirubah namanya Kampong Soeharto atau Felda Soeharto untuk menghormati Presiden kedua RI. Kunjungan Soeharto ke Selangor tersebut sekaligus mencairkan hubungan Indonesia-Malaysia yang sempat tegang akibat konfrontasi Ganyang Malaysia yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno.

'Seorang yang benar-benar, sungguh-sungguh'

        Pada pertemuan yang berlangsung tahun 1970, Tunku Abdul Rahman selaku Perdana Menteri Malaysia sempat berdialog dengan Presiden Soeharto mengenai Selat Malaka. Namun, secara tiba-tiba, Tunku Abdul Rahman melontarkan sebuah pernyataan berupa pujian yang ditujukan untuk Presiden Soeharto. ” Seorang yang benar-benar, sungguh-sungguh. ” puji Tunku Abdul Rahman.

    Kala itu, Tunku Abdul Rahman memuji Soeharto karena komitmennya mewujudkan perdamaian antara Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, Soeharto berperan besar untuk mengembangkan hubungan baik antara Indonesia dengan Malaysia. Sampai saat ini hubungan baik itu tetap terjaga diteruskan oleh pemimpin kedua belah pihak dari masing-masing negara.

Menghormati Pak Harto sebagai pemimpin ASEAN

        Pujian ini dicetuskan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia yaitu Mahatir Mohamad. Menurut Mahatir, Presiden Soeharto sangat disegani para pemimpin di ASEAN. Indonesia kala itu memegang peranan penting di Asia Tenggara,

"Di ASEAN, Pak Harto memainkan peranan yang sangat penting. Para pemimpin negara ASEAN mendudukkan Pak Harto sebagai orang tua. Kejatuhan Pak Harto merupakan kerugian yang besar di Asia Tenggara karena beliau sangat dihormati oleh para pemimpin ASEAN lainnya," kenang Mahatir dalam buku Pak Harto The Untold Stories terbitan Gramedia Pustaka Utama.

        Indonesia pun digelari Big Brother di ASEAN. Mereka sering menunjuk Indonesia untuk menjadi penengah bila ada konflik diantara anggota ASEAN.

'Indonesia lebih jaya dari Malaysia'

        Saat Presiden Soeharto berkuasa, Perdana Menteri Mahatir Mohammad tak pernah meremehkan Indonesia. Dia membenarkan infrastruktur di Malaysia lebih maju. Tetapi itu disebabkan wilayah Malaysia yang jauh lebih kecil.

        "Kita tidak boleh membandingkan Indonesia dengan Malaysia. Indonesia adalah negara yang luas dengan banyak pulau, jumlah penduduk yang besar dengan suku-suku yang dimiliki. Sedangkan Malaysia adalah negara kecil sehingga lebih mudah kami mengurus sesuatu. Jadi kejayaan Pak Harto lebih besar dibandingkan kejayaan di Malaysia," kenang Mahatir di buku Pak Harto The Untold Stories terbitan Gramedia Pustaka Utama.

        Begitu pula dengan Singapura yang merupakan negara paling maju di Asia Tenggara. Mahatir menilai Singapura hanya negara kota.

        "Melihat Indonesia tidak bisa sama dengan melihat Malaysia. Sama halnya melihat Malaysia dengan Singapura, karena Singapura hanya sebuah bandar (kota). Dengan demikian, mengelola sebuah negara yang kecil lebih mudah dibandingkan mengelola sebuah negara yang besar." Kata Mahatir Mohammad.

'Indonesia dan Malaysia satu bangsa'

        Menurut mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Mohamad Indonesia dan Malaysia adalah satu bangsa. Begitu juga Soeharto yang menganggap Indonesia dan Malaysia bersaudara.

        "Pak Harto menganggap Malaysia sebagai bangsa yang serumpun, begitu pula saya menempatkan Indonesia sebagai bangsa serumpun. Hanya karena sejarah yang membuat Indonesia dan Malaysia terpisahkan, namun sesungguhnya kedua bangsa berasal dari satu bangsa."

        "Dimana-mana, dalam hubungan dua negara selalu ada konflik. Secara geografis Malaysia berada di tengah-tengah di antara lima negara ASEAN. Dengan setiap negara, Malaysia memiliki masalah. Malaysia memiliki masalah dengan Thailand, Singapura, Philipina, Brunei Darussalam, dan Indonesia, tetapi yang paling mudah diselesaikan adalah dengan Indonesia. Jadi saya merasa berutang budi terhadap Indonesia dan Pak Harto," puji Mahatir.

Itulah beberapa cerita yang menyebutkan negara jiran terdekat kita menghormati Pak Harto, dan akhirnuya hubungan baik yang dirintis Pak Harto bertahan sampai hari ini dan masa-masa yang akan datang. Dengan hubungan baik itu akhirnya kedua negara dapat memetik hasilnya dengan saling bekerja sama dalam bidang ekonomi, militer, pendidikan dan lain sebagainya. 

Argha Sena

Minggu, 10 Oktober 2021

DUA TOKOH PAHLAWAN DARI KALANGAN KOMUNIS!!!

        


        Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, ternyata Belanda tidak mengakui kemerdekaan tersebut. Bahkan Belanda ingin kembali menjajah Indonesia pasca kekalahan Jepang karena di jatuhi Bom Atom oleh Amerika Serikat. Pasukan sekutu mendarat di Indonesia untuk mengevakuasi orang Belanda yang menjadi tahanan Jepang, sekaligus meminta pihak Indonesia untuk menyerahkan senjata-senjata Jepang yang sudah dirampas oleh rakyat Indonesia. Pihak sekutu mengultimatum Indonesia untuk menyerahkan senjata yang sudah dirampas tersebut. Akhirnya ribuan rakyat Indonesia memutuskan melawan pasukan Sekutu yang dituding berpihak kepada Belanda dengan pasukan NICA. Lebih dari belasan ribu penduduk Surabaya dan sekitarnya tewas dalam pertempuran itu.

        Sejak era pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia telah menganugerahi gelar pahlawan bagi sejumlah tokoh-tokoh nasional, baik yang mengangkat senjata, tulisan atau pemikirannya untuk melawan penjajahan.

        Dari sejumlah nama yang dipublikasikan, ada dua tokoh komunis yang pernah menerima gelar tersebut, siapa saja mereka?  Keduanya adalah Alimin dan Tan Malaka. Mereka berdua adalah tokoh perjuangan sekaligus tokoh komunis pertama.

        Alimin bin Prawirodirdjo, dianugerahi sebagai pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden No. 163 Tahun 1964 tertanggal 26-6-1964. Sejak remaja, Alimin aktif dalam pergerakan nasional. Dia pernah menjadi anggota Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Insulinde.

            Setelah berpisah dengan Sarekat Islam, Alimin bersama-sama dengan Semaoen dan Darsono mendirikan Perserikatan Komunis di Hindia (PKH) dan kemudian berganti menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Alimin kemudian dipilih sebagai salah satu pemimpin dalam organisasi tersebut.

        Awal 1926, Alimin berangkat ke Singapura untuk berunding dengan Tan Malaka untuk mempersiapkan pemberontakan melawan Belanda. Belum juga menginjakkan kakinya di Indonesia, ternyata pemberontakan sudah dimulai pada 12 November 1926. Dia dan Musso ditangkap polisi Inggris.

        Setelah keluar dari penjara, Alimin pergi ke Moskow dan bergabung dengan Komintern. Di sana dia bertemu dengan Ho Chi Minh dan diajak ke Kanton (Guangzhou). Saat itu, ia terlibat secara ilegal mendidik kader-kader komunis di Vietnam, Laos, dan Kamboja untuk melawan penjajah dan merebut kemerdekaan dari jajahan Prancis.

        Dia kembali ke Indonesia pada 1946 setelah naskah proklamasi dibacakan. Dia kembali bergabung dengan PKI, sebagai tokoh senior. Sempat menjadi anggota konstituante di era Orde Lama.   DN Aidit menghidupkan kembali PKI di awal tahun 1950-an dan menjadi Ketua Komite Sentralnya. Namun Alimin tak diajak bergabung. Alimin lalu meninggal tahun 1964.

        Tan Malaka juga merupakan salah satu tokoh berpengaruh, baik dalam pergerakan Indonesia maupun komunis. Pria bernama asli Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka ini semula bergabung dengan Sarekat Islam (SI), di organisasi inilah dia ditawari untuk bergabung dengan PKI.  Akibat rongrongan Semaoen dan Darsono, SI kemudian pecah menjadi SI Putih dan SI Merah. Di sinilah awal bergabungnya Malaka bersama PKI. Akhir 1921, dia diangkat menjadi ketua PKI menggantikan Semaoen yang meninggalkan Indonesia menuju Moskow, Uni Soviet. Berbeda dengan Semaoen yang berhati-hati, Malaka memiliki pemikiran yang radikal.

        Meski memimpin PKI, dia tetap membangun hubungan baik dengan Sarekat Islam. Malaka beranggapan, komunis dan Islam memiliki tujuan yang sama dan bisa dipakai dalam revolusi Indonesia. Sebuah pemikiran yang bertentangan dengan kelompok komunis di Barat, mereka menganggap agama adalah alat oleh kelas penguasa.  Pemikirannya yang radikal membuatnya ditangkap pemerintah Hindia Belanda, dia lantas ditangkap saat mendatangi sekolah yang didirikannya dan dibuang ke Kupang. Namun, dia meminta agar dibuang ke Belanda.

        Di negeri Kincir Angin itu, dia bergabung dengan Partai Komunis Belanda, dan sempat menjadi kandidat terkuat mengisi kursi kepemimpinan di organisasi itu. Setelah itu, dia pernah mendatangi beberapa negara sebelum kembali ke Indonesia. Silahkan baca buku karya Tan Malaka "Dari Penjara ke Penjara" untuk mengetahui perjalanan hidup Tan Malaka.

        Usai proklamasi dibacakan, dia kembali menggunakan nama aslinya setelah 20 tahun memakai nama palsu. Dia menuju Pulau Jawa dan menyaksikan perjuangan rakyat melawan tentara Inggris. Dia melihat adanya perbedaan cara pandang terhadap bentuk perjuangan antara rakyat dengan pemerintah. Dia menganggap pemerintah terlalu lemah menghadapi bangsa Barat. Tan Malaka terkenal dengan sikapnya yang tidak mau kompromi terhadap Penjajah, Merdeka 100% menjadi tujuan hidupnya untuk menjadikan Rakyat Indonesia benar-benar sejahtera.

        Dia pun mendirikan Persatuan Perjuangan, dan menggabungkan 140 organisasi kecil tanpa mengundang PKI. Dalam sebuah kongres, organisasi bentukannya hanya menginginkan kemerdekaan sebagai satu-satunya solusi, mendesak Soekarno-Hatta memenuhi harapan rakyat dan menasionalisasi perusahaan perkebunan dan industri asing.

        Malaka pernah bertemu dengan Soekarno, tokoh proklamasi Indonesia ini meminta Malaka agar ikut membantunya dalam perjuangan melawan Belanda. Konon, Soekarno pernah memintanya untuk menjadi penggantinya jika ditangkap sekutu.

        Agresi militer yang dilancarkan Belanda membuat Malaka tak mampu membesarkan Partai Murba yang didirikannya. Tujuan utamanya adalah menjadikan Indonesia merdeka 100% tanpa harus beramah tamah terhadap maling yang menjajah dan mengeruk sumber daya alam kita. Dengan alasan tersebut makanya dia tak mau bernegosiasi dengan barat demi kemerdekaan Indonesia.

    Hidupnya berakhir akibat ditembak mati pasukan TNI ketika sedang bertahan saat menghadapi serangan Belanda. Dalam keadaan terluka, dia berjalan ke sebuah pos TNI dan tewas akibat peluru dari saudara sebangsanya sendiri tepatnya pada 21 Februari 1949. Dia ditembak mati oleh Letda Sukotjo dari Batalion Sikatan.

Argha Sena

Minggu, 03 Oktober 2021

DUKUN SAKTI PKI YANG KEBAL, TAPI AKHIRNYA MATI BERSAMA 80 PENGIKUTNYA

            

        Pasca 1965, perburuan terhadap anggota atau simpatisan PKI terjadi di mana-mana. Sangat jarang anggota PKI yang sanggup memberikan perlawanan. Perkecualian terjadi di beberapa tempat yang terbatas, seperti Madiun dan Blitar selatan. Selebihnya: para anggota PKI dan simpatisannya, maupun yang dituduh, dengan mudah ditangkap. Sebagian dipenjara dan dibuang ke Pulau Buru, sisanya diburu sampai mati, dihabisi.

            Salah satu kisah menarik pasca 1965 adalah tentang Mbah Suro. Saat para anggota dan simpatisan PKI kebanyakan lari dan bersembunyi, ia malah mendirikan padepokan yang kemudian didakwa menampung pelarian PKI.

        Waktu muda, Muljono juga ikut revolusi. Muljono, menurut Hersri Setiawan dalam Kamus Gestok (2003), adalah anggota pasukan Brigade Yadau dari Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI). Menurut Ramelan, dalam buku Mbah Suro Nginggil: Kisah Hantjurnja Petualangan Dukun Klenik Mbah Suro (1967), pemuda lulusan Sekolah Rakjat ini berpangkat sersan di masa revolusi. Komandan brigadenya, Ahmad Wiro Sardjono alias Ahmad Yadau, adalah tokoh militer yang punya peran dalam Kudeta Madiun 1948. Muljono alias Surodihardjo lahir di desa Nginggil pada 17 Maret 1921. Muljono dibesarkan tidak begitu jauh dari tempat tinggal orang-orang Samin di Blora.

      Buku Kisah Njata Hantjurnja Mbah Suro (1967) yang diterbitkan oleh Andalusi, menyebut: “Muljono mempunyai 6 orang adik, semuanya perempuan, yaitu Surip, Suti, Sudji, Surem, Sumi dan Kaminah.” Soal sifatnya, Muljono disebutkan: “Sejak kecilnya pemuda Muljono itu mbandel, pemalas, sangat bodoh di sekolahnya.” Kemalasan itu bisa jadi karena ia tidak dibesarkan dalam kemiskinan. Ayahnya, Resosemito, adalah seorang kepala desa. Pada masa kolonial, menjadi kepala desa adalah privilese tersendiri, menempati kelas sosial yang berbeda dari kebanyakan, dan hidup relatif berkecukupan. Seperti ayahnya, Muljono kelak juga pernah jadi kepala desa Nginggil. Muljono, menurut Ramelan, jadi kepala desa lebih dari 16 tahun. Ia menjabat kepala desa hingga 31 Juli 1962. Dia mulai jadi kepala desa sekitar1946. Jadi sebelum Kudeta Madiun 1948, Muljono sudah pulang kampung. Jadi kepala desa tentu membuatnya lebih banyak tinggal di desanya. Posisinya sebagai kepala desa membuatnya jadi orang terpandang. Banyak perempuan rela diperistri. Setidaknya, menurut buku terbitan Andalusia, perempuan-perempuan bernama Sumini, Munatun, Samidjah, Rukmini dan Suwarni, pernah jadi istrinya. Ketika masih jadi kepala desa, Muljono sudah merintis diri jadi dukun. Menurut Reports Service: Southeast Asia series (1967), Muljono memulainya sejak 1952, tetapi baru tahun 1959 dia sepenuhnya mulai mendapat pengakuan sebagai ahli kebatinan, guru juga orang sakti.

          “Muljono dibebaskan dari tugasnya sebagai lurah (kepala desa), karena sesuatu urusan. Kata orang ia terlibat dalam suatu penyerobotan tanah-tanah milik Jawatan Kehutanan,” tulis Ramelan. Setelah lengser pada 1962, dia sepenuhnya dukun dan panggilannya adalah: Mbah Suro. “Pergantian nama baru menjadi Mbah Suro, diikuti dengan penampilannya memelihara kumis tebal dan rambut panjang,” tulis Hendro Subroto dalam Sintong Pandjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009). Selain kegiatan kleniknya, dia juga dianggap menyebarkan ajaran Djawa Dipa. Sebagai dukun, dia memberi banyak jampi-jampi dan jimat. Jimatnya dipercaya membuat orang-orang jadi kebal senjata tajam juga senjata api. Padepokan Pasca 1965 Pasca 1965, desa Nginggil mendadak ramai. Banyak orang berkunjung, jumlahnya hampir ribuan. 
           Padepokan itu kemudian dianggap membahayakan. Kala itu sedang ramainya pengejaran terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Diperkirakan padepokan Mbah Suro juga didatangi pelarian PKI. Kelompok Mbah Suro, menurut Soegiarso Soerojo dalam Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai (1988), “Berani memproklamasikan kembalinya PKI pada tanggal 3 Maret 1967 dengan menetapkan Suradi, anggota CDB Jawa Timur, sebagai cantriknya dengan dibantu beberapa anggota eks PKI lainnya, seperti Mulyono, Legi, Suyoto Kobra, dan Suyitno.” Di dalam kelompok Mbah Suro, ada juga mantan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Beberapa pucuk senjata berhasil dibawa mantan-mantan ABRI itu. Dalam kelompok Mbah Suro itu, terdapat beberapa pasukan yang dinamai macam-maca: Banteng Wulung dan Banteng Sarinah.

        Menurut Singgih Trisulistya dalam "Lembaran Hitam dalam Sejarah Hutan Jati" yang termaktub dalam buku Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian II (2012), jumlah pengikut aliran kebatinan Mbah Suro ditaksir mencapai jumlah sekitar 500.000. Jumlah yang agak ganjil karena sebuah desa rasa-rasanya sulit menampung orang-orang yang jumlahnya ratusan ribu itu. Menurut Hersri, pasukan Banteng Wulung jumlahnya 200 orang sedangkan pasukan perempuan jumlahnya hanya 30 orang. Tak menutup kemungkinan jumlahnya lebih namun hanya ukuran ratusan orang. Menurut tulis Solemanto dkk., dalam Feisal Tanjung, Terbaik Untuk Rakyat Terbaik Bagi ABRI (1999), “Orang- orang yang tidak sealiran atau dianggap musuh, tanpa ampun dibunuh oleh pasukan-pasukan ini.” “Melihat perkembangan (padepokan) Mbah Suro ditunggangi oleh PKI, Panglima Kodam VII/Diponegoro memerintahkan penutupan padepokan itu. 

 Pangdam terpaksa memerintahkan agar penutupan dilakukan dengan jalan kekerasan, karena segala upaya jalan damai yang ditempuh telah menemui jalan buntu,” tulis Hendro Subroto. Menyerbu Padepokan Mbah Suro Dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Letnan Dua Sintong Pandjaitan hendak ikut dalam penyerbuan Mbah Suro yang terkenal sakti itu. Karena Sintong hendak dikirim ke Papua, ia pun tidak jadi berangkat. Akhirnya hanya ada pasukan dari Kompi yang dipimpin Letnan Satu Feisal Tanjung. Dalam misi menyerbu Mbah Suro pada 5 Maret 1967 itu, pasukan RPKAD dibantu pasukan Angkatan Darat yang lain. Seperti dari Batalyon 408, 409 dan 410. Operasi itu dipimpin Mayor Soemardi. “Setelah mengamati kekuatan lawan, dalam waktu relatif singkat, Feisal memerintahkan anak buahnya melakukan serbuan mendadak, langsung ke sasaran. Serbuan tersebut memporakporandakan anak buah Mbah Suro,” tulis Solemanto dkk.

           Dalam serbuan itu banyak pengikut Mbah Suro terbunuh. Mbah Suro sendiri ditangkap dan tak ada rimbanya lagi. Mbah Suro ditembak ketika hendak kabur di tepi Bengawan Solo. Dalam operasi militer ini, RPKAD, menurut Ramelan, kehilangan tiga prajurit yakni: Sersan Dua Soerkarno, Kopral Satu Herdi dan Kopral Satu Darmanto. Sementara Kopral Satu Biman dan Prajurit Suwito luka berat. Pasukan RPKAD meninggalkan Nginggil pada pukul 17.45 sore. Dari 80 anggota banteng Wulung yang terbunuh, hanya 4 orang saja yang betul-betul asli desa Nginggil.

Sumber : tirto.id

Jumat, 01 Oktober 2021

DUA PERWIRA TNI-AD DIBUNUH MENGGUNAKAN KUNCI MORTIR!!! 02 OKTOBER 1965

           

Kolonel Soegijono dan Brigjen Katamso

        Peristiwa berdarah yang meregut 6 Jenderal dan 1 Perwira TNI-AD yang terjadi pada tanggal 30 September malam atau 01 Oktober pagi di Lubang Buaya, ternyata diikuti sampai daerah-daerah. Salah satunya adalah yang terjadi di Yogyakarta yang memakan korban yaitu Kolonel Katamso yang kemudian secara anumerta dinaikan pangkatnya setelah beliau gugur menjadi Brigadir Jenderal. Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Darmokusumo (5 Februari 1923 – 1 Oktober 1965) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia, Ia merupakan mantan Komandan Korem 072/Pamungkas. Katamso termasuk tokoh yang terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma NegaraYogyakarta. Bagimanakah kisah kematian tragis beliau karena dieksekusi oleh tentara yang berada pada kubu PKI? Berikut ini adalah ulasannya. 

        Tanggal 1 Oktober 1965 pagi itu kebingungan melanda kalangan tentara. Tak hanya di Jakarta, para prajurit di berbagai daerah pun turut bertanya-tanya. Di Yogyakarta, Katamso Darmokusumo selaku Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro juga belum mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya telah terjadi di ibukota. Kegelisahan bertambah ketika pukul 08.00 WIB, terdengar siaran RRI Semarang yang mengatakan bahwa Dewan Revolusi Daerah Jawa Tengah sudah terbentuk, menyusul Dewan Revolusi di Jakarta yang satu jam sebelumnya telah dideklarasikan oleh Letkol Untung dari pusat.

        Katamso, yang saat itu masih berpangkat kolonel, segera menggelar rapat staf dan akhirnya mengutus ajudannya berangkat ke Semarang untuk mencari informasi lebih lanjut. Kolonel Katamso sendiri sudah dijadwalkan menghadiri rapat penting dengan Pangdam Diponegoro, Brigjen Suryosumpeno, di Magelang pada hari itu juga. Bakal perginya Kolonel Katamso ternyata sudah diamati oleh sebagian orang militer di Yogyakarta sendiri, yakni para tentara yang ditengarai telah berkubu dengan orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam rantai Dewan Revolusi. 
        Ketiadaan Kolonel Katamso sebagai orang yang paling berwenang di Korem 072 Yogyakarta membuat Mayor Mulyono dan kawan-kawan dengan leluasa menjalankan rencana mereka. Upaya pengambilalihan kuasa militer di Yogyakarta justru direncanakan oleh bawahan Kolonel Katamso. Kepala Seksi (Kasi) Korem 72/Pamungkas Mayor Mulyono bertindak sebagai pimpinannya, dibantu oleh Mayor Kartawi, Mayor Daenuri, Kapten Kusdibyo, Kapten Wisnuaji, Sertu Alip Toyo, Peltu Sumardi, Pelda Kamil, Praka Anggara, Praka Sudarto, Praka Sugimin, dan lainnya (Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI 1965 di Yogyakarta dan Sekitarnya, 2000). 

        Kolonel Katamso yang tiba dari Magelang pada pukul 2 siang rupanya belum sadar betul bahwa beberapa anak buahnya sudah mengakuisisi Korem 72/Pamungkas. Ia tidak kembali ke kantor, melainkan langsung pulang ke rumah dinasnya yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 48 Yogyakarta.
        Dari kediamannya, Kolonel Katamso membahas hasil pertemuan dengan Pangdam Diponegoro bersama beberapa staf Korem 72/Pamungkas, termasuk Mayor Kartawi yang sebetulnya adalah bagian dari kelompok pengkhianat. Ada dua poin penting yang diperintahkan oleh Pangdam Diponegoro dalam pertemuan di Magelang pagi tadi, yakni (1) Pangdam sedang berusaha melakukan kontak dengan pusat atau Jakarta, dan (2) Pangdam memerintahkan kepada seluruh korem yang berada dalam wewenangnya untuk tetap waspada, tenang, dan jangan mengambil tindakan sendiri-sendiri.
        Kolonel Katamso sempat menerima dua tamu di rumahnya usai rapat tersebut, yakni Mayor Sutomo (Komandan Batalyon C/Klaten) dan Kapten Rahmat (Kepala Penerangan Korem 72/Pamungkas). Hingga kemudian, dimulailah rencana pembunuhan sang komandan pada sore harinya. Sekitar jam 5 petang tanggal 1 Oktober 1965 itu, sebuah mobil rantis berjenis Jeep Gaz memasuki halaman depan kediaman Kolonel Katamso. Kendaraan khas militer itu rupanya tak sendiri. Di belakangnya sudah bersiaga dua truk dengan bak yang dipenuhi oleh prajurit bersenjata lengkap. Dua orang bergegas turun dari mobil, yakni Peltu Sumardi dan Pelda Kamil. Keduanya masuk ke rumah dan langsung menodongkan senjata ke arah Kolonel Katamso, memintanya untuk ikut dengan mereka (Taufik Abdullah, dkk., Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional, 2012:117). 
        Kapten Rahmat yang masih ada di situ berusaha menenangkan situasi, namun justru kena bentak. Demi menghindari terjadinya kericuhan, Kolonel Katamso bersedia ikut dengan para penodong yang ternyata sudah dikenalnya itu. Kapten Rahmat turut dibawa, tapi kemudian dilepaskan. Jeep yang diikuti dua truk itu membawa Kolonel Katamso Markas Komando Yon L di daerah Kentungan, terletak di utara Kota Yogyakarta (Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional, 2008:273). Kolonel Katamso kemudian ditahan di ruang Komandan Batalyon.
        Dalam buku berjudul Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI 1965 di Yogyakarta dan Sekitarnya terbitan Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (2000) yang ditulis berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terkait para oknum militer yang terlibat, diceritakan bahwa pada malam harinya, sejumlah tentara berkumpul untuk membahas rencana pembunuhan Kolonel Katamso. Ada yang mengusulkan agar sang komandan langsung ditembak mati saja, namun ada pula yang menginginkan kematian dengan cara yang lebih sadis, seperti menjerat leher Kolonel Katamso dengan kawat, atau memukul kepalanya dengan benda berat. 
        Usai rundingan itu, beberapa tentara mulai menggali kubur di belakang markas. Rencana pembunuhan siap dilaksanakan. Sebagai eksekutor, ditunjuklah Sertu Alip Toyo, Komandan Regu Montir 8 Kompi Bantuan. Kolonel Katamso kemudian dibawa ke lokasi pembantaian dengan tangan terikat dan mata tertutup, ia dibiarkan berjalan. Baru beberapa langkah, Sertu Alip Toyo menghantam kepalanya dari belakang dengan kunci montir seberat 2 kilogram. Kolonel Katamso terjatuh dengan kepala berlumuran darah. Namun, sang komandan masih bernapas dan sempat mengucapkan kata-kata terakhirnya, bahwa ia masih mencintai Bung Karno, Presiden Republik Indonesia. 
            Pukulan kedua pun dilakukan, dan gugurlah Kolonel Katamso pada dini hari tanggal 2 Oktober 1965 itu. Eksekusi serupa juga terjadi kepada Letkol Sugijono yang menjabat sebagai Kepala Staf Korem 072/Pamungkas. Aksi pembunuhan dilakukan di tempat yang sama dalam waktu yang berdekatan, juga dengan rincian yang nyaris serupa. 

Kolonel Soegijono

            John Rossa (2008) melalui buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, juga menyinggung tragedi di Yogyakarta ini. Namun, tidak dikisahkan secara spesifik tentang kronologi pembunuhan Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono. Dengan versi yang sedikit berbeda, John Rossa hanya menyebutkan: “Mayor Mulyono memimpin pasukan pemberontak menggerebek rumah komandan mereka, Kolonel Katamso. Mereka menculiknya dan juga kepala stafnya, Letnan Kolonel Sugiyono, yang kebetulan ada di rumah itu ketika para pemberontak datang.” “Mereka membawa dua perwira itu ke sebuah kota kecil di utara Yogyakarta, Kentungan, dan menahan mereka di tangsi batalion militer di sana. Kemudian mereka membunuh kedua perwira tersebut.” Jasad Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono baru ditemukan pada 12 Oktober 1965. Sedangkan penggalian kubur di Kentungan itu dilakukan 8 hari berselang. Keduanya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta, dan kemudian ditetapkan sebagai pahlawan revolusi, serta memperoleh kenaikan pangkat anumerta, Brigadir Jenderal (Brigjen) untuk Katamso dan Kolonel untuk Sugijono.

Sumber : wikipedia.org dan tirto.id

Rabu, 22 September 2021

TIPU MUSLIHAT PKI MEMBANTAI 62 PEMUDA ANSOR DAN BANSER NU PADA TAHUN 1965!!!

      

        Sebagian rakyat ada yang tidak tahu bahwa memang PKI melakukan kekejaman terlebih dahulu sebelum mereka mendapatkan balasan, terutama para generasi muda yang tidak mendapat pendidikan sejarah seperti generasi sebelum reformasi, bahkan sekarang ada yang berkampanye mereka adalah korban yang dihabisi pasca peristiwa 30 September 1965.  Dalam buku-buku yang terbit dan ditulis ada yang menceritakan kekejaman PKI, ada juga yang menceritakan anggota PKI atau simpatisan PKI yang menjadi korban, seperti buku "Palu Arit di Ladang Tebu : Sejarah pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966" Karya Hermawan Sulistyo. 
        Berapa perkiraan jumlah korbannya dibahas disana dengan berbagai versi dan angka yang berbeda-beda. Karena banyaknya korban yang berjatuhan, sekarang ada kelompok yang mendesak pemerintah meminta maaf terhadap PKI. Akan tetapi buku tersebut justru menjawab penyebab banyaknya korban yang berjatuhan, penyebabnya adalah akibat konflik horizontal yang terjadi di masyarakat saat itu. Karena kekerasan tersebut merupakan konflik horizontal maka menurut Bapak Hermawan Sulistyo pemerintah tidak boleh meminta maaf kepada PKI. Konflik yang siap meletus setiap saat akibat perilaku PKI yang sudah keterlaluan, sejak tahun 1926 sampai tahun 1968 yang tercatat dalam sejarah membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga Pulau Bali, terutama umat Islam khususnya NU dan Kesultanan-Kesultanan yang ada di Indonesia, karena memang PKI sangat anti dengan kaum feodal dalam hal ini keluarga kerajaan dan bangsawan. 
        Mengapa sampai rakyat bergerak membasmi PKI? jawabannya ada dalam buku "Banjir Darah : Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri dan Kaum Muslimin" Karya Anab Afifi & Thowaf Zuharon, dalam buku tersebut diceritakan kekejam-kekejaman PKI yang tercatat dan dikisahkan kembali. Karena kekejaman dan aksi-aksi sepihak mereka yang terjadi sejak lama, maka kaum Muslimin khususnya NU yang secara langsung bersinggungan secara fisik akhirnya marah dan meledak setelah mendengar kabar Pembunuhan Jenderal pada tanggal 1 Oktober 1965. Suasana saat itu menjadi panas dan sampai pada keadaan membunuh atau dibunuh. 
       Dalam pembahasan kekejaman PKI yang sering dibahas seperti kekejaman PKI madiun tahun 1948, pembunuhan Gubernur Soerjo 1948, Pembunuhan Jenderal TNI AD 1965, Peristiwa Bandar Betsy 1965, dan masih banyak lagi yang lainnya. Peristiwa kelam satu ini mungkin sedikit terlupakan karena berbagai hal, dalam artikel kali ini akan kami kisahkan kembali agar sejarah kekejaman PKI tidak terhapus dan hilang begitu saja.
    Pada Tanggal 18 Oktober 1965 terjadi pembantaian terhadap 62 pemuda Ansor oleh anggota PKI yang mengelabui pemuda Ansor. Para anggota PKI Cluring sengaja menyaru, menyamar dan melakukan dusta keji terhadap pemuda NU. Mereka berpura-pura membuat pengajian yang penuh dendang shalawat dan berbagai tradisi NU lainnya. 
        Kepolosan dan kejujuran pemuda Ansor Desa Muncar membuat mereka tidak menaruh curiga atas undangan tersebut. Para pemuda Ansor di undang untuk menghadiri acara pengajian di rumah Matulus, Kepala Desa Cluring. Padahal Matulus adalah salah satu pimpinan PKI di Cluring.
        Para pemuda rakyat PKI dan Barisan Tani Indoensia (BTI), mengaku sebagai pengurus Ansor Desa Cluring, bahkan mereka memakai seragam Ansor. Sedangkan para Gerwani desa itu, mereka berdandan layaknya anggota Fatayat dengan memakai kerudung.  Saat itu alat komunikasi tidak seeprti sekarang yang bisa langsung kita Whatsaap untuk memvaliadasi apakah mereka benar-benar anggota Ansor atau bukan. Dengan penuh prasangka baik dan positif, puluhan anggota Banser dan Ansor Desa Muncar, malam itu berangkat ke rumah Matulus. Setelah pengajian, mereka dijamu makan dan minum yang cukup enak dan melimpah.
        Setelah menikmati makanan dan minuman yang disediakan, berselang beberapa saat kemudian, puluhan pemuda Ansor yang hadir dalam acara pengajian itu, bertumbangan satu persatu. Mereka kelojotan terguling-guling dilantai memegangi leher, dada dan perut mereka yang seperti hendak meledak.  Beberapa di antaranya ada yang langsung keluar busa dari mulutnya.
        Para pemuda Ansor dan Banser ini ternyata dibuat sekarat oleh para PKI. Ternyata santapan hidangan yang disuguhkan sengaja diberi racun yang ganas untuk membunuh para pemuda Ansor tersebut. Para pemuda Rakyat, BTI dan Gerwani bersorak sorai saat melihat para Ansor dan Banser tersebut sedang sekarat. Lagu Genjer-Genjer pun mereka nyanyikan sambil menari. 
       Para PKI menyeret puluhan tubuh pemuda Ansor dan Banser tersebut beberapa saat kemudian untuk dibawa kerumah Mangun Lehar. Mangun Lehar adalah tokoh BTI yang diagung-agungkan oleh anggota PKI Cemethuk. Dalam perjalanan menuju rumah Mangun ternyata ada ada beberapa anggota Ansor yang tidak terlalu parah terdampak racun dan berhasil melawan lalu melarikan diri.  Mereka lolos dari kelicikan PKI dan berhasil memberitahukan kepada rekan-rekannya di Desa Muncar.


        Puluhan pemuda Ansor dan Banser yang berhasil di seret kerumah Mangun Lehar kemudian dibantai dengan membabi buta menggunakan celurit dan segala senjata yang telah mereka siapkan.  Darah pun tertumpah kelantai berliter-liter dan muncrat kedinding rumah Tokoh BTI tersebut. 62 Pemuda Ansor dan Banser pun gugur, menjadi syuhada akibat kekejaman PKI pada saat itu. Setelah aksi pembantaian selesai, jenazah para pemuda Ansor dan Banser NU tersebut di timbun di dalam tiga lubang yang berbeda. Lubang-lubang tersebut telah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya. Lubang pembantaian tersebut sengaja dibuat untuk menimbun mayat Pemuda Ansor dan Banser yang mereka bantai.
        Lubang pembantaian tersebut terletak di pinggir sungai, lubang pertama berisi sepuluh mayat, lubang kedua juga diisi sepulh mayat dan lobang yang ketiga diisi empat puluh dua mayat pemuda Ansor dan banser NU. Total keseluruhan yang menjadi korban kebiadaban PKI di desa Cluring tersebut berjumlah 62 orang pemuda Ansor dan Banser NU. Tanah yang digunakan untuk menimbun jenazah tersebut juga seadanya, lalu lubang-lubang tersebut diurug dan di tanami pohon bambu.
        Setelah peristiwa keji tersebut, beberapa jam setelahnya, pembalasanpun segera dilakukan oleh para anggota Ansor Desa Muncar, ormas Islam lainnya dan dibantu oleh pemuda Marhaen dari desa lain.  Para ormas pemuda ini ditemani oleh tim penyelidik dari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Tiga lubang pembantaian tersebut dinamai Lubang Buaya sama seperti tempat penyiksaan Jenderal-Jenderal TNI Angkatan darat.
        Tokoh PKI seperti Mangun Lehar, Supardi, Sutoyo serta para anggota BTI dan Gerwani tidak lupa lurah Matulus pun ditangkap, mereka akhirnya dieksekusi mati untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.  Mengikuti nasib para pemimpin terdahulu mereka seperti Musso yang memimpin pemberontakan Madiun 1948, pada saat itu kaum Ulama, santri, pejabat pemerintah, polisi dan tentara yang pro Republik Indonesia mereka bantai dengan kejam. Akhirnya Musso dan mereka yang terlibat juga dieksekusi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. D.N. Aidit dan semua yang terlibat dalam peristiwa G30S/PKI juga sudah menerima hukuman atas apa yang mereka perbuat. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita dapatkan, mereka para PKI sudah menanam kebiadaban, kekejaman, intimidasi, dan lain sebagainya yang bersifat negatif, maka hasilnya juga mereka akan diburu dan dikejar oleh orang-orang yang pernah mereka sakiti.
        Itulah Sedikit pembahasan tentang pembantaian 62 pemuda Ansor dan banser oleh anggota PKI. Semoga kisah sejarah ini bisa menjadi pengingat dan sebagai peringatan bangsa ini di masa depan.

ARGHA SENA
Sumber : 
Palu Arit di Ladang Tebu : Sejarah pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966" Karya Hermawan Sulistyo. 
Banjir Darah : Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri dan Kaum Muslimin" Karya Anab Afifi & Thowaf Zuharon.
https://www.gelora.co/




        

NASIB PASUKAN CAKRABIRAWA PASCA G30S/PKI

        


    Pasukan Cakrabiarwa pasukan pengawal presiden bergerak dengan misi menculik 7 Jenderal TNI Angkatan Darat pada pagi dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Mereka berhasil membunuh 6 Jenderal minus satu Jenderal yang lolos yaitu Jederal A.H. Nasution yang berlindung dimarkas kostrad yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto. Akan tetapi anak Jenderal Nasution yang masih kecil menjadi korban penembakan pada malam jahanam itu dan ajudan nya yaitu Kapten Pierre Tendean gugur karena mengaku kepada pasukan penculik bahwa dirinyalah Jenderal A.H. Nasution. Lalu bagaimanakah nasib Pasukan Cakrabirawa yang menculik dan membunuh putra-putra terbaik bangsa itu? Dalam video kali ini kita akan sajikan kisahnya untuk menjadi pelajaran berharga, bahwa apa yang kita tanam akan kita tuai. Jika kita menanam tebu maka kita akan menikmati manisnya es tebu, tapi jika kita menanam pohon rengas maka akan busuklah kulit kita terkena getah rengas.

        Pagi tanggal 16 Februari 1990 adalah pagi terakhir bagi empat orang mantan pasukan Cakrabirawa. Johannes Surono, Paulus Satar Suryanto, Simon Petrus Solaiman, dan Norbertus Rohayan dijemput dari selnya di Penjara Cipinang hendak dieksekusi. Satu regu tembak telah menunggu. Dalam catatan Amnesty International Report (1991:119), keempat tahanan itu hampir semuanya telah lansia. Ketika diekseskusi, Johannes Surono berusia 60 tahun, Paulus Satar Suryanto 57 tahun, Simon Petrus Solaiman 60 tahun, dan Norbertus Rohayan 49 tahun. Di antara mereka, hanya Rohayan yang mendapat kunjungan dari keluarga. Pamannya menjenguk Rohayan beberapa hari sebelum ia dieksekusi. Inside Indonesia nomor 14 April 1988 menyebut bahwa ia menderita diabetes dan penyakit lainnya.

        Dua dekade lebih mereka ditahan rezim Orde Baru karena terlibat G30S. Saat peluru satu persatu menghabisi hayat, kematian mereka terdengar hingga negeri Belanda seperti diberitakan oleh surat kabar De Volkskrant edisi 19 Februari 1990. Menurut Majalah Tapol nomor 98 April 1990, mereka ditangkap antara tanggal 4 hingga 8 Oktober 1965.

        Rohayan berasal dari Angkatan Udara. Ia ditangkap pada 5 Oktober 1965 dan dijatuhi hukuman mati oleh Mahkalah Militer distrik Bandung pada 8 November 1969. Ia sempat mengajukan banding, namun pada Februari 1987 bandingnya ditolak. Lalu pada 5 Desember 1989 ia mengajukan grasi, dan lagi-lagi ditolak. Pada malam 1 Oktober 1965, Rohayan adalah penembak Mayor Jenderal Raden Soeprapto. Sehari sebelum penangkapan Norbertus Rohayan, Satar Suryanto lebih dulu dicokok. Seperti terdapat dalam Gerakan 30 September dihadapan Mahmillub 2 Di Djakarta Perkara Untung (1966:21), Satar adalah sersan mayor dengan NRP 107453. Ia menjabat sebagai komandan peleton II Kompi C Batalyon II Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang tinggal di Asrama Tanah Abang. 

        Saat menjadi saksi dalam perkara Untung pada 1966, usianya sekitar 34 tahun dan masih beragama Islam. Satar memimpin penculikan Mayor Jenderal Suwondo Parman dan dijatuhi hukuman mati pada 29 April 1971 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Permohonan bandingnya ditolak, dan sebelum dieksekusi ia memakai nama Paulus Satar Suryanto. Sebagaimana kawannya, Johannes Surono pun sempat menjadi saksi dalam perkara Untung. Saat itu usianya 36 tahun dan beragama Islam dengan nama Surono Hadiwijono. Lelaki kelahiran Pucungsawit, Solo itu adalah komandan peleton III kompi C batalyon Untung di Cakrabirawa. Surono memimpin penculikan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo dan ditangkap pada 8 Oktober 1965. Lima tahun kemudian ia dijatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Pengajuan banding dan grasinya ditolak pada tahun 1986 dan 1989. 

        Jika Norbertus Rohayan adalah penembak Mayor Jenderal Raden Soeprapto, maka Simon Petrus Solaiman adalah orang yang diberi tugas oleh Letnan Satu Dul Arif untuk memimpin penculikan petinggi Angkatan Darat tersebut. Menurut sumber pemerintah, Solaiman kelahiran Cepu, Blora, Jawa Tengah, pada 1927. Ia ditangkap pada 5 Oktober 1965 ketika Mayor Jenderal Soeprapto dan perwira Angkatan Darat lainnya dikebumikan di Taman Makam Kalibata. Solaiman dijatuhi hukuman mati pada November 1969 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Seperti ketiga kawannya, banding dan grasi yang ia ajukan semuanya ditolak pemerintahan daripada Soeharto.

        Para Eksekutor dan Pemimpin Penculikan Lainnya Selain keempat orang tersebut, ada juga seorang prajurit bernama Anastasius Buang. Usia penembak Mayor Jenderal Suwondo Parman itu seumuran dengan Rohayan. Pertengahan 1980-an, Buang terancam dihukum mati. Namun ia baru meninggal secara misterius pada September 1989. Jenazah Buang berhasil ditemukan oleh keluarganya. Rohayan dan Buang punya kesalahan yang sama dengan Sersan Dua Gijadi Wignjosuhardjo, mereka sama-sama menjadi eksekutor operasi penculikan. Gijadi yang kelahiran Solo tahun 1928 adalah penembak Letnan Jenderal Ahmad Yani. Ia ditangkap pada 4 Oktober 1965 dan sempat menjadi saksi dalam perkara Untung. 

        Menurut Inside Indonesia nomor 14 April 1988, Gijadi dijatuhi hukuman mati pada 16 April 1968 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Bersama Sersan Mayor Soekardjo yang memimpin penculikan Brigadir Donald Izacus Panjaitan, Gijadi dieksekusi mati pada Oktober 1988. Setelah puluhan tahun menjadi tahanan Orde Baru, para pemimpin penculikan dan penembak dari pasukan Cakrabirawa itu pada akhirnya menyusul dua atasan mereka, Letnan Kolonel Untung dan Letnan Satu Dul Arif, ke alam kubur. 

        Untung adalah Komandan Batalion Kawal Kehormatan II Cakrabirawa, sementara Dul Arif Komandan Kompi C dari batalion yang dipimpin Untung. Sebagai prajurit penjaga presiden, para sersan dan kopral yang memimpin penculikan dan penembakan para jenderal tak dapat menolak perintah kedua atasannya. Maka pada malam menjelang Subuh 1 Oktober 1965, mereka bergerak menculik dan menghabisi para perwira Angkatan Darat yang dianggap tidak loyal kepada presiden lewat isu Dewan Jenderal. Puluhan tahun kemudian, parade kematian itu mereka hadapi sendiri.

        Itulah nasib pasukan penculik yang menghabisi banyak nyawa saat peristiwa berdarah G30S/PKI, apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Semoga artikel kali ini dapat kita ambil hikmahnya agar kita selalu berfikir panjang atas apa yang kita perbuat, dan apa dampaknya di masa depan.


ARGHA SENA

Sumber : tirto.id, kompas.com, wikipedia.org


Senin, 20 September 2021

PEMBUNUHAN GUBERNUR SURYO OLEH GEROMBOLAN PKI

        

        Masih ingat dengan Pasukan Maladi Jusuf yang pernah kami sebut dalam artikel yang lalu? Maldi Jusuf adalah Pasukan tentara pada zaman revolusi yang berhaluan kiri. Pasukan inilah yang menyiksa dan membunuh Gubernur Jawa Timur pertama yaitu Gubernur Suryo. Siapakah yang memerintahkan pasukan FDR PKI untuk membunuh Gubernur Suryo? Dalam artikel kali ini akan kita bahas siapa orangnya. 
        Waktu zaman Jepang, Maladi Jusuf adalah pelajar di Sekolah Bahasa Nippon. Setelah Agustus 1945, ia sudah jadi komandan kompi dalam laskar Pemuda Republik Indonesia (PRI) di bagian utara kota Surabaya. Laskar ini ikut terlibat dalam pertempuran 10 November. Belakangan, pasukan Maladi Jusuf makin banyak. Ia lalu menjadi pemimpin batalyon. Menurut Fransisca Fanggidaej dalam Memoar Perempuan Revolusioner (2006: 133), Batalyon pimpinan Maladi Jusuf berada di bawah komando Brigade 29 di tahun 1948. Komandan Brigadenya adalah Letnan Kolonel Dachlan. Di dalam brigade pimpinan Dachlan ini banyak sekali orang-orang kiri. Kebanyakan bekas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) bergabung di dalamnya. 
        Diungkapkan Harry Albert Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak (2011: 197), Brigade 29 bermarkas besar di Kediri. Sementara batalyon elite pimpinan Maladi Jusuf bermarkas di selatan Kediri. Brigade ini terlibat dalam Peristiwa Madiun dan belakangan dianggap melakukan pembangkangan. Mereka bertempur melawan tentara kiriman dari Pemerintah Republik di Yogyakarta.
        Di antara pasukan Dachlan, Batalyon Maladi Jusuf adalah yang paling unggul. Tentara pemerintah sulit menaklukannya. Setelah Brigade Dachlan disikat, Batalyon Maladi Jusuf selalu berhasil kabur. Menurut Himawan Soetanto dalam Perintah Presiden Soekarno: Rebut Kembali Madiun (1994: 215-217), batalyon ini kerap bertempur untuk melindungi rombongan mantan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, sang pemimpin Front Demokrasi Rakjat (FDR). Setelah Oktober 1948, sisa batalyon Maladi Jusuf belum hancur. Pasukan ini bertahan di sekitar jalan poros Ngawi-Sragen. Di jalan poros itu, sisa pasukan yang bersenjata, dan sudah pasti berbahaya, bisa mencegat siapa saja yang melewatinya.

Amir Sjarifoeddin yang Memerintahkan Menghabisi Gubernur Suryo

        Dalam bukunya yang lain, Madiun: Dari Republik ke Republik (2006: 181), Himawan Soetanto mengisahkan bahwa pada 9 November 1948 ada pergerakan pasukan dari arah Lawu menuju utara, menyeberangi jalan poros itu. Warga desa Plang Lor terheran-heran melihat banyaknya rombongan pasukan. Ada yang berseragam militer, ada juga yang berpakaian hitam seperti warok (pendekar Ponorogo). “Tiba-tiba dari arah barat meluncur suatu mobil sedan berwarna hitam. Dari mobil itu keluar tiga orang yang langsung ditodong dengan senapan, dilucuti dan diseret beramai-ramai,” aku Kromo Astro, seorang kamitua Prang Lor, seperti dicatat dalam Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun (1990: 156-157). 
        Para pengepung menebak bahwa mereka yang berada di mobil hitam itu adalah pembesar yang pulang dari Yogyakarta. “Wah, ini pembesar yang kerjanya makan enak tidur enak,” kata orang-orang FDR itu. Kromo Astro mengaku, ketika para penumpang mobil itu hendak dibunuh, ia berusaha mencegahnya. Jika dibunuh di pasar, maka warga desa akan merasa ngeri. Kemudian datanglah seseorang dengan mengendarai kuda. Para pengepung memanggilnya "Pak Amir". Dalam catatan kaki di buku Harry Poeze disebutkan bahwa beberapa sumber menyatakan Amir Sjarifoeddin berada di lokasi kejadian dan sempat berbincang-bincang dengan tawanan. 

Amir Syarifuddin saat tertangkap dan akan dieksekusi

        “Pak Amir memerintahkan agar ketiga orang itu dibunuh di saja di hutan yang lebih jauh. Ketiga orang itu kemudian diarak beramai-ramai ke dalam hutan sambil terus disoraki dan dicaci maki,” aku Kromo Astro. Tiga orang yang dibunuh itu memang pejabat negara. Belakangan diketahui, para korban adalah Komisaris Besar Doeryat, Komisaris Polisi Soeroko, dan Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo. Nama terakhir adalah mantan Gubernur Jawa Timur. Meski tak jadi gubernur lagi ketika disergap, orang-orang tetap mengenalnya sebagai Gubernur Soerjo. 
        Di sekitar tempat pembunuhan itu, kemudian dibangun sebuah monumen untuk mengenang Gubernur Ario Soerjo. “Laporan tentang peletakan batu pertama monumen pada 14 Juli 1973 mencantumkan tanggal 10 November, dan menyebut Maladi Jusuf sebagai pimpinan dari kelompok PKI yang menahan Soerjo dan rombongannya,” catat Poeze (2011: 265). 
        Menurut Suripno, salah satu pengepung, sebenarnya tak ada maksud untuk membunuh mereka. Para pengepung ingin memperlakukan Soerjo dengan baik untuk mengorek berita dari Yogyakarta. Rombongan itu ketinggalan banyak kabar terkini di akhir 1948 itu. Mereka merasa hidup dalam ketidakpastian. Para pengepung kemudian mendapat serangan mendadak dari TNI dan mereka yang tertawan kemudian dibunuh. 
        Cerita lain terkait kematian Soerjo ditulis Soebagijo I.N. dalam biografi mantan gubernur Jakarta, Sudiro: Pejuang Tanpa Henti (1981: 191) Di hari naas tersebut, dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta, Soerjo sempat singgah di rumah Sudiro yang saat itu menjabat Residen Solo. Sudiro menyebut, peristiwa itu terjadi pada 11 November. Buku biografi Soerjo yang dirilis pemerintah, Gubernur Suryo (1982: 160-161), yang disusun Sutjiatningsih, menyebut Soerjo baru pulang dari Yogyakarta dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1948. Soerjo sempat disarankan Hatta untuk menunda kepulangan, tapi dirinya bersikeras pulang. Di buku tersebut ditulis, “Setibanya di desa Bogo, Kedunggalar, Ngawi, mobil Pak Suryo berpapasan dengan sisa-sisa gerombolan PKI yang dipimpin Maladi Jusuf (hlm. 160-161).

Maladi Lenyap, Soerjo Dikenang

        Setelah kejadian, Maladi Jusuf tidak ikut dihabisi tentara pemerintah yang kerap gagal membekuknya. Berhubung ada Agresi Militer Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 atas Yogyakarta yang disusul penawanan pejabat RI, maka banyak sisa kombatan yang terlibat dalam Peristiwa Madiun terlupakan. Mereka dibiarkan masuk bergabung dengan TNI lagi. Termasuk Maladi Jusuf dan pasukannya. “Saya dengar bahwa batalyon itu direhabilitasi oleh Kolonel Gatot Subroto sebagai pasukan TNI, oleh karena aktif melawan Belanda dalam Perang Kemerdekaan Kedua,” aku Sayidiman Suryohadiprojo dalam Mengabdi Negara Sebagai Prajurit TNI: Sebuah Otobiografi (1997: 105). Sayidiman menaruh curiga pada Maladi Jusuf dan bawahannya waktu bertugas di Jawa Barat. 
            Sekitar 1965, Maladi Jusuf kena garuk aparat terkait G30S. Setelah itu tak ada lagi kabar tentangnya. Ario Soerjo tentu saja terus dikenang. Baik terkait jasa-jasanya pada Republik Indonesia dan juga sebagai korban kekejaman kombatan PKI Madiun. Pangrehpraja lulusan OSVIA yang pernah jadi mantri polisi di zaman kolonial ini pernah menjabat Bupati Magetan di waktu Jepang belum datang. 
           Di zaman Jepang, dia jadi Residen Bojonegoro. Pada akhir masa pendudukan Jepang, Soerjo termasuk salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, dia diangkat menjadi Gubernur Jawa Timur. Pada saat hari naas 10 November 1948 itu, Soerjo tidak lagi gubernur, melainkan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia.

Sumber : tirto.id, wikipedia.org