Sunday, April 18, 2021

Tan Malaka Akhir Petualangan Sang Pahlawan Dibunuh Oleh bangsanya Sendiri

 


Rencananya dari Selopanggung, Kediri, jenazah Tan Malaka akan dipulangkan ke kampung halamannya di Nagari Pandam Gadang, Suliki. Sejak sekolah guru di Kweekschool Bukittinggi, ia tak pernah tinggal di kampung halamannya itu. Kampung halaman di Lima Puluh Kota itulah yang memberi gelar Datuk Tan Malaka pada pemuda bernama Sutan Ibrahim. Orang lebih banyak tahu nama Tan Malaka. Selain nama itu, ia punya banyak nama samaran lain: Ilyas Husein ketika di Indonesia, Alisio Rivera ketika di Filipina, Hasan Gozali di Singapura, Ossorio di Shanghai, dan Ong Soong Lee di Hong Kong.

Tak banyak tokoh pergerakan nasional yang pandai menyamar dan berkali-kali lolos dari kejaran aparat kolonial. Jika banyak tokoh pergerakan Indonesia terkenal karena pembuangannya, seperti Sukarno di Bengkulu, Hatta dan Syahrir di Boven Digoel, maka Tan Malaka terkenal karena gerakan bawah tanah dan penyamarannya. Waktu di Kweekschool ia siswa yang cerdas. Namun cerdas bukan segala-galanya bagi gadis impiannya di sekolahnya itu. Syarifah Nawawi, anak dari guru dan ahli bahasa terkenal Engku Nawawi, lebih memilih menolak cintanya. Kecerdasan Tan Malaka mengantarkannya sekolah di Belanda. Tentu saja dengan bantuan mantan gurunya dan orang-orang sekampungnya yang meminjami dana.

Tan Malaka berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Rusia yang menguat menjadi Uni Soviet pernah disinggahinya. Di sana Tan menjadi anggota dari Komunis Internasional (Komintern). Jika banyak kaum komunis tunduk pada Joseph Stalin sebagai penguasa Uni Soviet, Tan dikenal sebagai tokoh komunis Indonesia yang berani berbeda dengan Stalin. Ia kemudian dikeluarkan dari Komintern dan dikenal sebagai pemikir yang dicap Trotskys.

Setelah ke Rusia, Tan hidup berkelana dengan identitas lain ke Tiongkok, Filipina, dan daerah lain, demi menghindari kejaran aparat kolonial. Tan baru kembali ke Indonesia pada 1942. Ketika itu Hindia Belanda sudah ditekuk kekuasaannya oleh balatentara Jepang. Tan tentu merasa aman dari kejaran aparat kolonial yang sudah tiarap sepanjang Perang Pasifik.

Dari jazirah Malaya ia menyeberang ke Sumatra. Setelah tiba di Lampung, ia menuju Jawa. Setelah menumpang perahu layar Sri Renjet dari Lampung, Tan tiba di Banten. Daerah itu pertama kali diinjaknya setelah 20 tahun dibuang dari impian "Republik Indonesia" yang diperjuangkannya. Dari Banten, Tan ke Jakarta, menginap di Rawa Jati, dekat Pabrik Sepatu di Kalibata. Tan berusaha menyelami kehidupan rakyat jelata yang jadi buruh atau pedagang buah di pinggiran Jakarta. Atas saran Purbacaraka, Tan mendatangi Kantor urusan Sosial di Tanah Abang. Dari sana, ia dapat kerja di Bayah, Banten. Dengan nama samaran Ilyas Husein, ia bekerja di Bayah Kozan, salah satu bagian dari perusahaan Jepang Sumitomo. Ia sempat jadi juru tulis di pergudangan lalu pindah ke bagian yang mengurusi administrasi para romusa.

Persembunyiannya di masa pendudukan balatentara Jepang ini tertuang dalam autobiografi Dari Penjara Ke Penjara (1947). “Pada 6 Agustus 1945 Tan Malaka pergi ke Jakarta,” tulis Harry Albert Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid I (2008). Tan hanya beberapa hari dan kembali lagi ke Bayah. Ia menemui pemuda macam Chaerul Saleh maupun B.M. Diah. Pada 25 Agustus, Tan muncul di rumah Achmad Subardjo, yang semasa Jepang menjadi pengurus Asrama Indonesia Merdeka. Di tempat itu ia bertemu Wikana dan pemuda lain yang mengawal Proklamasi Indonesia, di daerah Cikini. Subardjo terkejut karena ia mengira Tan Malaka sudah mati.

Pada tanggal 21 Februari 1949 krang lebih 72 tahun silam, Tan Malaka tewas dieksekusi tanpa pengadilan oleh pasukan militer Indonesia di Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Eksekustor yang berasal dari Brigade Sikatan bertindak atas perintah petinggi militer Jawa Timur.

Tan Malaka dihabisi karena perlawanannya yang konsisten terhadap pemerintah Republik Indonesia yang dia anggap bersikap lunak dan kompromis terhadap Belanda. Dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 4: September 1948-Desember 1949 (2014: 214-24), Harry Albert Poeze mengungkapkan perintah eksekusi datang dari Letda Soekotjo. Setelah 1950, Sukotjo melanjutkan kariernya di dalam Divisi Brawijaya dan selanjutnya ditahbiskan sebagai Wali Kota Surabaya pada 1972-1974 dan mengakhiri kariernya dengan pangkat Brigadir Jenderal. Menurut Poeze, ia adalah orang kanan yang paling lantang beropini bahwa Tan Malaka harus dibunuh.


Semula, Tan Malaka telah terlebih dahulu disergap oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) saat berada di markasnya yang terletak di Pace, Jawa Timur. Namun, penangkapan itu urung dilakukan, hingga akhirnya Tan Malaka dan enampuluh orang pengikutnya dibebaskan, lalu melarikan diri ke selatan Jawa Timur. Tapi, selama perjalanan, rombongan ditembaki oleh sekelompok bersenjata, hingga akhirnya mereka memecah diri menjadi empat kelompok.

Tan Malaka bersama keempat pengikutnya lantas menyusuri kawasan Tulungagung untuk mencari batalyon tentara yang sekiranya masih bersimpati kepada mereka. Akan tetapi, selang dua hari perjalanan, tiba-tiba mereka disergap di suatu desa kecil bernama Selopanggung. Tan Malaka pun ditembak mati di tempat ini. Ia dimakamkan ditengah hutan (Poeze dalam buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 4: September 1948-Desember 1949 (2014: 219)).

Itulah perjalanan singkat Tan Malaka sang Pahlawan Nasional yang jasanya terhadap bangsa ini tidak bisa  kita pandang sebelah mata. Walau memang bapak bangsa ini terlahir dari pemikiran kiri akan tetapi memang pada masa revolusi kemerdekaan kapal inilah yang Tan Malaka gunakan untuk melawan penjajahan terhadap bangsa Indonesia.

Semoga artikel kali ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.


Editor : Argha Sena

Sumber : tirto.id

Saturday, April 10, 2021

CARA JITU PKI MENCARI PENGIKUT Dengan Jualan Isu Kemiskinan dan Sentimen Anti-Asing



Di luar citra buruk yang telah kita ketahui tentang sepak terjang PKI, PKI tergolong sebagai partai yang sukses sebelum diberangus pada tahun 1965. Kejayaan PKI terjadi sejak Pemilu 1955. Ketika itu PKI menempati urutan keempat dalam pemilu setelah PNI, Masyumi, PNU dan PKI sukses menempatkan 39 wakil di kursi DPR dan 80 wakil di Konstituante.

Muncul Pertanyaan, mengapa banyak yang memilih PKI di tahun 1955?

Salah satu kunci pentingnya adalah kampanye PKI soal isu kemiskinan. Meski PKI dibenci setengah hidup oleh kelompok-kelompok politik mayoritas di Indonesia, tapi jurus jualan kemiskinannya diamalkan dengan baik. Tak hanya kemiskinan di kota, tapi juga kemiskinan di desa. Di kota ada buruh, di desa ada tani. Karena kemiskinan mereka, dua golongan itu potensial jadi pemilih PKI dalam pemilu. PKI sendiri punya lambang palu dan arit. Palu merepresentasikan buruh, arit mewakili petani.

Menurut Jafar Suryomenggolo dalam Politik Perburuhan Era Demokrasi Liberal 1950an (2015), dengan mengutip Everett Hawkins di artikel "Labour in Developing Economics" (1962), kaum buruh adalah golongan miskin di Jakarta. Upah mereka sangat rendah.

Sementara itu pada 1953 terjadi kenaikan harga bahan pokok. Tak heran jika pada era 1950-an Tunjangan Hari Raya (THR) sudah mulai diperjuangkan kaum buruh.


Jualan Isu Kemiskinan


Soal desa, Hasim Adnan dalam tulisannya, "Membungkam Deru Bising Drumband di Bumi Parahiyangan" yang dimuat dalam buku Sisi Senyap Politik Bising (2007) menyebut, “[...] biasanya PKI hanya akan berkembang di kawasan pedesaan yang mengalami kemiskinan endemik” (hlm. 44).

Subang dan Indramayu, misalnya, adalah daerah miskin yang diincar PKI. Tapi tentu saja PKI tak cuma mengincar daerah miskin di Jawa Barat.

“Kaum tani Indonesia yang merupakan 70 % daripada penduduk masih tetap berada dalam kedudukan budak, hidup melarat dan terbelakang di bawah tindasan tuan tanah dan lintah darat,” kata Ahmad alias Dipa Nusantara Aidit, Ketua CC PKI, dalam pidatonya yang berjudul Jalan ke Demokrasi Rakyat bagi Indonesia.

“Kewajiban kaum Komunis yang pertama-tama ialah menarik kaum tani ke dalam front persatuan nasional,” tambah Aidit.



Lebih lanjut Aidit menjelaskan bahwa kaum komunis harus mengikis sumber-sumber penderitaan petani. “Kewajiban yang terdekat daripada kaum Komunis Indonesia ialah melenyapkan sisa-sisa feodalisme, mengembangkan revolusi agraria antifeodal, menyita tanah tuan tanah dan memberikan dengan cuma-cuma tanah tuan tanah kepada kaum tani, terutama kepada kaum tani tak bertanah dan tani miskin, sebagai milik perseorangan mereka,” katanya pula.

Dari sini terlihat PKI hendak melakukan bagi-bagi tanah kepada para petani di desa-desa. Harap diingat, tidak semua petani punya sawah. Banyak juga yang jadi petani penggarap bagi lahan-lahan petani kaya atau tuan tanah. Sudah pasti kemiskinan semacam ini adalah lahan basah pagi PKI. “Langkah pertama dalam pekerjaan di kalangan kaum tani ialah membantu perjuangan mereka untuk kebutuhan sehari-hari, untuk mendapatkan tuntutan bagian kaum tani,” seru Aidit.

Seperti dicatat Satriono Priyo Utomo dalam Aidit, Marxisme-Leninisme, dan Revolusi Indonesia (2016: 119), ada jargon “Tanah untuk kaum tani” dari Barisan Tani Indonesia (BTI) dalam Kongres Nasional V 1954. Semua tahu BTI terkait dengan PKI.

Aidit tak lupa memberi patokan. Menurutnya, selama belum banyak kaum tani (terutama yang miskin dan tak bertanah) masuk ke partai dan jadi kader partai, maka itu artinya PKI belum bekerja sungguh-sungguh.

Tak hanya di tahun 1955, pada 1965 PKI juga konsisten dengan isu kemiskinan meski tidak ada rencana pemilu di periode itu. Mereka gemar mengulang program partai yang dirumuskan pada 1955.

“Semua tanah yang dimiliki oleh tuan-tuan tanah asing maupun tuan-tuan tanah Indonesia harus disita tanpa penggantian kerugian. Kepada kaum tani, pertama-tama kepada kaum tani tak bertanah dan kaum tani miskin, diberikan dan dibagikan tanah dengan cuma-cuma,” demikian salah satu program PKI pada 1965.

Tentu saja tak semua orang setuju dengan ide PKI yang tak pernah terwujud ini. Tapi gagasan merangkul orang susah masih diterapkan hingga kini.


Kampanye Anti-Asing


PKI, lewat mulut Aidit dalam pidato Jalan ke Demokrasi Rakyat bagi Indonesia, menyebut: “Salah satu bentuk pertentangan dan permusuhan antara negara-negara imperialis ialah perang imperialis yang membawa kemiskinan, kesengsaraan, dan kematian berjuta-juta manusia.”

Negara imperalis era 1950-an yang dianggap mengganggu bagi PKI adalah Amerika Serikat. Menurut PKI, seperti ditulis Aidit dalam Revolusi, Angkatan Bersenjata & Partai Komunis (PKI dan AURI) II, modal asing (dari Amerika) yang masuk ke Indonesia pada 1952 ditaksir mencapai 350 juta dolar.

PKI sendiri alergi pada perusahaan Amerika yang beroperasi di Indonesia seperti Shell, Stanvac dan Caltex. Bagi PKI, itu adalah bentuk neokolonialisme Amerika di bidang ekonomi. PKI rupanya juga ingin terlihat anti-asing di masa itu. Semangat anti-asing dan menuduh pihak asing sebagai salah satu biang kerok masalah ekonomi masih terpelihara dan masih lumayan untuk jadi isu politik hingga kini.

Seperti umumnya partai jelang pemilu, PKI juga memberi janji-janji manis. Ideologi bukan jaminan utama kemenangan dalam pemilu. Lewat koran andalannya, Harian Rakjat (28 September 1955), sehari sebelum pemilu DPR pada 29 September 1955, PKI melempar banyak janji. Tak tanggung-tanggung, PKI memaparkan 19 janji.

Janji yang banyak itu ditujukan tak hanya ditujukan kepada kaum buruh dan tani, tapi juga nelayan, pengusaha kecil, kaum perempuan, seniman, bahkan kelompok agama. Hal terakhir terasa janggal bagi orang-orang Orde Baru, karena PKI sudah terlanjur diberi citra anti-agama.

“Bagi kaum agama, memilih PKI berarti djaminan kebebasan beragama,” demikian janji PKI nomor 10 di Harian Rakjat.




Janji yang paling krusial tentu janji soal kesejahteraan ekonomi. Seperti janji nomor 3: “Bagi kaum tani, memilih PKI berarti turunnja sewa tanah tuan-tanah, perbaikan upah buruh-tani, pentjegahan perampasan tanah kaum tani, hapusnja pologoro dan hapusnja rodi.”

Sementara bagi kaum nelayan, dalam janji No. 12 disebutkan, “memilih PKI berarti perlindungan terhadap saingan modal monopoli.”

Tak hanya kepada kaum-kaum tadi yang hingga kini masih sengsara hidupnya, para abdi negara pun tak luput diberi janji. “Bagi para pradjurit, polisi dan pegawai negeri lainnja, memilih PKI berarti djaminan hak-haknja dan perbaikan gadji,” begitu bunyi janji nomor 4.

Jurus berjanji ala PKI macam ini masih diterapkan hingga sekarang. Siapa yang tak suka gajinya diperbaiki agar besar, apalagi kalau ditambah tunjangan-tunjangan? Bukan tidak mungkin banyak PNS yang akan memilih PKI jika macam ini janjinya.

Penulis: Petrik Matanasi
Media : Tirto.id

Monday, April 5, 2021

Asal-Usul Suku Minang! Benarkah Suku Minang adalah Penduduk Asli Sumatra Barat?


Kita pasti tidak asing ketika mendengar suku minang atau suku padang, mungkin yang terpikir pertama kali adalah rumah makan. Karena memang suku minang terkenal dengan makanan yang memiliki banyak cita rasa, salah satunya adalah rendang. Suku minang adalah suku yang mendominasi penduduk di Sumatera Barat. Jika suku Batak banyak mendiami daerah dalam Sumatera, maka suku minang adalah suku yang banyak mendiami daerah pesisir pulau Sumatera.

Menurut isi Buku Kecil Sejarah Situs-situs Budaya Minangkabau di Jorong Batur, umumnya sejarah Minangkabau hanya dapat diketahui dari Tambo. Tambo merupakan hiyakat ataupun cerita yang menjelaskan tentang asal-usul nenek moyang orang Minangkabau, hingga tersusunnya berbagai peraturan yang tersusun hingga saat ini. Namun begitu, muncul sebuah penilaian bahwa hanya sekitar 2 persen isi cerita dalam tambo yang adalah fakta sejarah. Hal ini disebabkan karena isi tambo dipenuhi dengan interpretasi umum, maupun pribadi.

Jenis tambo sangatlah variatif, di antaranya tambo tulisan, lisan, asli, saduran, dan terjemahan. Sementara itu, tambo yang tersebar di Sumatera dinamakan dengan Tambo Layang. Tambo Layang telah berumur sekitar 200 tahun. Tambo jenis ini, berisi tentang tulisan Arab Melayu. Meski adanya ketiadaan sejarah Minangkabau yang tidak pasti, masyarakat Minangkabau percaya bahwa asal-usul nenek-moyang mereka berasal dari puncak gunung merapi di Sumatera Barat.(tirto.id)

A.  Asal-Usul Suku Minang

Dari tambo yang diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun secara sistematis dan lebih kepada legenda berbanding fakta serta cendrung kepada sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak. Namun kisah tambo ini sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka.

Masyarakat Minang merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Sumatra sekitar 2.500–2.000 tahun yang lalu. Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah timur pulau Sumatra, menyusuri aliran sungai Kampar sampai ke dataran tinggi yang disebut darek dan menjadi kampung halaman orang Minangkabau.[24] Beberapa kawasan darek ini kemudian membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan nama luhak, yang selanjutnya disebut juga dengan nama Luhak Nan Tigo, yang terdiri dari Luhak Limo Puluah, Luhak Agam, dan Luhak Tanah Data. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan luhak tersebut menjadi daerah teritorial pemerintahan yang disebut afdeling, dikepalai oleh seorang residen yang oleh masyarakat Minangkabau disebut dengan nama Tuan Luhak.

Sementara seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan penduduk, masyarakat Minangkabau menyebar ke kawasan darek yang lain serta membentuk beberapa kawasan tertentu menjadi kawasan rantau. Konsep rantau bagi masyarakat Minang merupakan suatu kawasan yang menjadi pintu masuk ke alam Minangkabau. Rantau juga berfungsi sebagai tempat mencari kehidupan, kawasan perdagangan. Rantau di Minangkabau dikenal dengan Rantau Nan Duo terbagi atas Rantau di Hilia (kawasan pesisir timur) dan Rantau di Mudiak (kawasan pesisir barat).

Pada awalnya penyebutan orang Minang belum dibedakan dengan orang Melayu, namun sejak abad ke-19, penyebutan Minang dan Melayu mulai dibedakan melihat budaya matrilineal yang tetap bertahan berbanding patrilineal yang dianut oleh masyarakat Melayu umumnya. Kemudian pengelompokan ini terus berlangsung demi kepentingan sensus penduduk maupun politik.(wikipedia.org)



Selain dari Tambo suku minang tersebut, Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa nenek moyang masyarakat Minangkabau berasal dari bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia dulu bermukim di daerah Yunan, Cina Selatan. Mereka datang ke Nusantara ini dalam dua gelombang;

1.     Gelombang pertama datang pada zaman Neolitikum ( Zaman Batu Baru) sekitar 2000 SM. Gelombang pertama ini oleh para ahli disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua). Dari bangsa Melayu Tua ini berkembang menjadi suku Barak, Toraja, Dayak, Nias, Mentawai, Kubu dan lain-lain.

2.     Gelombang kedua datang pada tahun 500 – 100 SM. Mereka yang datang pada gelombang kedua ini disebut Deutero Melayu(Melayu Muda). Dari bangsa Melayu Tua ini berkembang menjadi suku Minangkabau, Jawa, Makasar, Bugis dan lain-lain.(perpusbunghatta.com)

​Adapula yang berpendapat bahwa suku minang berasal dari India Selatan. Berikut adalah opininya tentang suku minang yang berasal dari India Selatan berdasarkan fakta-fakta antropologi .

  1. Kalau Anda cermat memperhatikan, orang Minang itu sangat beragam ciri fisiknya, namun secara umum, rata-rata bercirikan Asia Selatan (Orang Pesisiran Pariaman, Padang, Pasaman Barat, Ranah Pasisia), Asia Timur (Orang Luhak Nan Tigo, Pasaman, Solok, Alam Surambi Sungai Pagu, Kurinci) dan Asia Tenggara/Melayu (Orang Rantau Timur, Riau, Sawahlunto, Sijunjuang). Kalau Anda pernah berkunjung ke Srilanka, Tamil Nadu, Madras dan wilayah Benggala, Anda akan merasa mudah bersua dengan wajah-wajah yang akrab dengan Anda di wilayah Pariaman atau Padang. Kalau Anda sering bertandang ke Filipina atau Thailand, mungkin pula Anda akan menyangka bertemu salah-satu kenalan Anda yang asal Bukittinggi. Begitu pula jika Anda pernah berkunjung ke Semenanjung atau Sarawak.
  2. Pada masa penjajahan Kerajaan Pagaruyung Hindu (1347-1450) rata-rata prasasti ditulis dalam dua bahasa, yang terlihat dari dua jenis aksara yang dipakai. Yaitu aksara pallawa berbahasa sansekerta (bahasa resmi Kerajaan Singasari/Majapahit) dan satunya lagi aksara India Selatan yang sering ditemui dalam prasasti-prasasti terkait penyebaran agama Buddha. Adakah perlu dibuat prasasti dalam suatu bahasa (India Selatan) jika tidak ada pembacanya?
  3. Sebagaimana kita ketahui, gelar-gelar para nenek moyang itu seperti Maharaja Diraja, Cati Bilang Pandai, Harimau Campa dan lain-lain sangat beraroma daerah asalnya yaitu India Selatan, Siam dan Tiongkok.
  4. Layak juga Anda ketahui, ekspedisi penaklukan Kerajaan Macedonia ke dunia timur berakhir dengan keputusan tidak bulat pada tahun 327 SM di tepian sungai Hypasin (sungai Indus). Sungai ini sekarang berada didekat perbatasan Pakistan-India. Tentara Macedonia yang dalam perjalanannya berubah menjadi laskar multirasial (tidak semuanya orang Macedonia/Yunani asli) tidak semuanya mengikut perintah Iskandar Zulkarnain untuk menghentikan ekspedisi penaklukan ke timur. Beberapa faksi dengan tetap membawa panji-panji kehormatan Iskandar Zulkarnain meneruskan perjalanan menyusuri pesisiran pantai Malabar India, sampai India Selatan dan Srilanka, bahkan ada pula yang menyeberangi laut ke selatan sehingga sampai di Sumatra, seperti wilayah Pantai Barat dan Aceh. Jamak diketahui, penduduk Aceh sejatinya adalah pendatang dari India Selatan juga (kebanyakan dari Madras).
  5. Pada masa permulaan abad masehi (tahun 1) sampai beberapa abad kemudian, di India Selatan berkuasa kerajaan Cola Mandala yang pengaruhnya sampai ke Srilanka, Siam (Thailand), Myanmar dan tentu saja Sumatra. Pada saat bersamaan, kerajaan-kerajaan besar di Indonesia seperti Sriwijaya baru saja tumbuh. Imigran India Selatan banyak yang menyebar sampai Sumatra, terutama Aceh dan Pantai Barat. Pantai Barat adalah wilayah internasional yang ramai (untuk ukuran masa itu).
  6. Kalau dikait-kaitkan antara fakta sejarah Kerajaan Pagaruyung Hindu (masa Adytiawarman yang dikenal sebagai Dang Tuanku) dengan tokoh-tokoh dalam tambo, dengan asumsi tambo benar, maka selisih waktu antara Adityawarman dan Para niniak yang turun dari Gunung Marapi tidak akan lebih dari seribu tahun. Sehingga dengan asumsi itu, bisa diramal tahun turunnya niniak kita itu sekitar tahun 300-400 M.
  7. Suku Chaniago ada yang mengatakan berasal dari kata Cino Niago, atau orang Cino yang pandai berniaga. Sedangkan suku Bodi, tentu sangat erat dengan kata Boddhi (Bodhisatwa) yang lekat dengan ajaran Buddha dari India.
  8. Tahun 1550-an (berdasarkan buku Plakat Panjang), seorang utusan Portugis yang bertualang ke pedalaman Minangkabau, kaget melihat kemajuan pertanian dan tata kelola sistem pertanian di daerah pedalaman Sumatra, yang menurutnya sangat maju, mirip dengan yang dilakukan orang-orang berperadaban tinggi.
  9. Di Pariaman, sampai saat ini masih berlaku adat Uang Jemputan yang ternyata ditemukan pula di beberapa negara bagian di India.
  10. Di daerah Kerala, Tamil Nadu, India. Ditemukan komunitas yang menganut matrilineal sekaligus mengaku keturunan Iskandar Zulkarnain juga.(wordpress.com)

Itulah beberapa pendapat tentang asal-usul suku minang yang dapat kita jadikan referensi. Adapun penamaan suku Minang yang dipakai pada desa ini berawal dari adanya isu yang beredar bahwa Kerajaan Paguruyung akan diserang oleh Kerajaan Majapahit dari Jawa. Agar tidak terjadinya pertumpahan darah maka diusulkanlah adu kerbau. Peristiwa adu kerbau ini, akhirnya dimenangi oleh kerbau kerajaan Pagaruyung. Kemenangan tersebut, memunculkan kata manangkabau yang artinya menang kerbau. Sehingga selanjutnya, kedua kata tersebut dijadikan nama desa Minangkabau. Sebagai pengingat dari kemenangan peristiwa adu kerbau antara Kerajaan Paguruyung dan Kerajaan Majapahit, masyarakat Minangkabau mendirikan rangkiang atau rumah loteng yang atapnya mengikuti bentuk tanduk kerbau.

Penulis            : Riskyrito

Editor              : Argha Sena

Referensi        : perpusbunghatta.com, tirto.id, wikipedia.org, wordpress.com

Asal-Usul Suku Batak! Legenda Turun dari Langit hingga Keturunan Israel Kuno!



Suku Batak adalah salah satu suku yang cukup terkenal di Indonesia, hal ini karena ciri khas dari intonasi suara yang tinggi. Suku batak juga telah banyak tersebar ke seluruh penjuru Indonesia, sama seperti suku jawa yang tersebar di banyak daerah. Suku Batak banyak mendiami daerah Sumatra Utara dengan banyak marga yang lebih dari dua ratus. Mengulas lebih jauh tentang Suku Batak, asal usul tentang Suku Batak sangat sulit ditelusuri karena minimnya peninggalan sejarah yang mengulas tentang Suku ini. Berikut adalah beberapa pendapat tentang asal-usul Suku Batak yang dapat kita jadikan referensi untuk menambah wawasan.

Pada umumnya orang Batak percaya kalau Siraja Batak diturunkan langsung di Pusuk Buhit. Siraja Batak kemudian membangun perkampungan di salah satu lembah gunung tersebut dengan nama Sianjur Mula-mula Sianjur Mula Tompa yang masih dapat dikunjungi sampai saat ini sebagai model perkampungan pertama. Letak perkampungan itu berada di garis lingkar Pusuk Buhit di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Ada dua arah jalan daratan menuju Pusuk Buhit. Satu dari arah Tomok (bagian Timur) dan satu lagi dari dataran tinggi Tele.(kompasiana.com.

Pusuk Buhit dikenal sebagai tempat tertinggi yang sakral serta dipercaya sebagai tempat munculnya Mulajadi Na Bolon (dewa yang maha esa). Menurut orang Batak menampakkan diri pertama kalinya. Di sini pula, menurut warga sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mengambil dan belajar ilmu tertentu.(boombastis.com)

Menurut versi ahli sejarah Batak mengatakan bahwa si Raja Batak dan rombonganya berasal dari Thailand yg menyeberang ke Sumatera melalui Semenanjung Malaysia dan akhirnya sampai ke Sianjur Mula mula dan menetap disana. Sedangkan dari prasasti yang ditemukan di Portibi bertahun 1208 dan dibaca oleh Prof.Nilakantisari seorang Guru Besar ahli Kepurbakalaan yang berasal dari Madras, India menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya dan menguasai daerah Barus. Pasukan dari kerajaan Cola kemungkinan adalah orang-orang Tamil karena ditemukan sekitar 1500 orang Tamil yg bermukim di Barus pada masa itu.Tamil adalah nama salah satu suku yg terdapat di India.

Jika diulas lebih lanjut, Raja Sisingamangaraja ke-XII diperkirakan keturunan si Raja Batak generasi ke-19 yang wafat pada tahun 1907 dan anaknya si Raja Buntal adalah generasi ke-20. Dari kesimpulan tersebut, kemungkinan besar leluhur dari si Raja batak adalah seorang pejabat atau pejuang kerajaan Sriwijaya yang berkedudukan di Barus karena pada abad ke-12 yang menguasai seluruh nusantara adalah kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Akibat dari penyerangan kerajaan Cole ini maka diperkirakan leluhur si Raja Batak dan rombongannya terdesak hingga ke daerah Portibi sebelah selatan Danau Toba dan dari sinilah kemungkinan yang dinamakan si Raja Batak mulai memegang tampuk pemimpin perang, atau bisa jadi si Raja Batak memperluas daerah kekuasaan perangnya sampai mancakup daerah sekitar Danau Toba, Simalungun, Tanah Karo, Dairi sampai sebahagian Aceh dan memindahkan pusat kekuasaanya di daerah Portibi di sebelah selatan Danau Toba.

Pada akhir abad ke-12 sekitar tahun 1275 kerajaan Majapahit menyerang kerajaan Sriwijaya sampai ke daerah Pane, Haru, Padang Lawas dan sekitarnya yang diperkirakan termasuk daerah kekuasaan si Raja Batak. Serangan dari kerajaan Majapahit inilah diperkirakan yang mengakibatkan si Raja Batak dan rombonganya terdesak hingga masuk ke pedalaman di sebelah barat Pangururan di tepian Danau Toba, daerah tersebut bernama Sianjur Mula Mula di kaki bukit yang bernama Pusuk Buhit, kemudian menghuni daerah tersebut bersama rombongannya.

Terdesaknya si Raja Batak oleh pasukan dari kerajaan Majapahit kemungkinan erat hubungannya dengan runtuhnya kerajaan Sriwijaya di Palembang karena seperti pada perkiraan di atas si Raja Batak adalah kemungkinan seorang Penguasa perang di bawah kendali kerajaan Sriwijaya. Sebutan Raja kepada si Raja Batak bukanlah karena beliau seorang Raja akan tetapi merupakan sebutan dari pengikutnya atau pun keturunannya sebagai penghormatan karena memang tidak ada ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan adanya sebuah kerajaan yang dinamakan kerajaan Batak.(kompasiana.com)

Menurut Guru Besar Sosiologi-Antropologi Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof DR Bungaran Antonius Simanjuntak dalam makalahnya berjudul “Orang Batak dalam Sejarah Kuno dan Moderen” dalam seminar yang digagas DPP Kesatuan Bangso Batak Sedunia (Unity Of Bataknese In The World) di Medan beberapa waktu lalu, dengan menghadirkan Dr Thalib Akbar Selian MSc (Lektor Kepala/Research Majelis Adat Alas Kabupaten Aceh Tenggara), Drs S Is Sihotang MM (mantan Bupati Dairi), dan Nelson Lumban Tobing (Batakolog asal Universitas Sumatera Utara).



Dari sejumlah fakta dan hasil penelitian yang dilakukan Prof DR Bungaran Antonius Simanjuntak, mulai dari dataran pegunungan di Utara Tibet, Khmer Kamboja, Thailand, hingga Tanah Gayo di Takengon, Aceh, ternyata nenek moyang Bongso Batak menurutnya berasal dari keturunan suku Mansyuria dari Ras Mongolia. Nenek moyang orang Batak berasal dari keturunan suku Mansyuria (Manchuria) yang hidup di daerah Utara Tibet sekitar 7.000 tahun lalu. Pada masa itu, nenek moyang orang Batak diusir oleh suku Barbar Tartar dari tanah leluhurnya di Utara Tibet. Pengusiran itu menyebabkan suku Mansyuria bermigrasi ke pegunungaan Tibet melalui Tiongkok (China). Dari peristiwa migrasi di pegunungan Tibet tersebut dapat ditemukan sebuah danau dengan nama Toba Tartar. Suku Mansyuria memberikan nama danau itu untuk mengenang peristiwa pengusiran mereka oleh suku Barbar Tartar.

Setelah dari pegunungan Tibet, suku Mansyuria turun ke Utara Burma atau perbatasan dengan Thailand. Di sini, suku Mansyuria meninggalkan budaya Dongson. Yakni sebuah kebudayan asli suku bangsa ini yang mirip dengan budaya Batak yang ada sekarang ini. Tak bertahan lama di wilayah itu, suku Mansyuria yang terus dikejar-kejar suku Barbar Tartar kembali bergerak menuju arah Timur ke Kamboja, dan ke Indocina. Dari Indocina, suku Mansyuria berlayar menuju Philipina, kemudian ke Sulawesi Utara, atau Toraja (ditandai dengan hiasan kerbau pada Rumah Adat Toraja). Kemudian mereka turun ke Tanah Bugis Sulawesi Selatan (ditandai dengan kesamaan logat dengan orang Batak), dan mengikuti angin Barat dengan berlayar ke arah Lampung di wilayah Ogan Komering Ulu, dan akhirnya naik ke Pusuk Buhit, Danau Toba.

Saat berlayar dari Indocina, sebagian suku Mansyuria melewati Tanah Genting Kera di Semenanjung Melayu. Dari sini, mereka berlayar menuju Pantai Timur Sumatera, dan mendarat di Kampung Teluk Aru di daerah Aceh. Dari Teluk Aru ini, suku Mansyuria yang terus bermigrasi itu naik ke Tanah Karo, dan kemudian meneruskan perjalanan hingga sampai ke Pusuk Buhit.

Penerus keturunan suku Mansyuria yang kemudian menjadi nenek moyang orang Batak ini terus berpindah-pindah karena mengikuti pesan dari para pendahulunya bahwa untuk menghindari suku Barbar Tartar, maka tempat tinggal harus di wilayah dataran tinggi. Tujuannya agar gampang mengetahui kehadiran musuh. Fakta ini diketahuinya dan dibuktikan langsung melalui penelitian bersama dua rekannya dari Belanda dan Thailand. Pembuktian tentang asal usul nenek moyang orang Batak juga diperkuat melalui sejumlah literatur. Antara lain, Elizabeth Seeger, Sejarah Tiongkok Selayang Pandang, yang menegaskan nenek moyang orang Batak dari Suku Mansyuria, dan Edmund Leach (Rithingking Anhtropology ) mempertegas hubungan vertikal kebudayaan Suku Mansyuria dengan Suku Batak.(harmoni.or.id)

Selain pendapat-pendapat tersebut, adapula yang mengatakan bahwa suku Batak merupakan keturunan Israel Kuno. Dalam pendapatnya, mengatakan bahwa suku Batak memiliki kesamaan dengan Israel Kuno. Dalam tulisannya mengatakan bahwa semua berawal ketika Israel terpecah menjadi 2 bagian, dimana Israel yang kala itu memiliki 12 suku. Suku-suku yang terbagi ini kemudian mulai melakukan perjalanan ke arah timur hingga salah satunya tiba di Sumatera.(oborkeadilan.com)

Itulah beberapa pendapat mengenai asal-usul Suku Batak yang kini dapat kita temui sukunya disetiap daerah. Bahkan telah dilakukan penelitian bahwa suku Batak memang masih memiliki hubungan dengan Thailand. Namun semua kembali lagi kepada masyarakat yang meyakini asal-usul suku Batak, apakah memang berasal dari Indonesia atau dari tempat lain yang kemudian menetap di Indonesia. Namun yang pasti saat ini adalah suku Batak merupakan salah satu Suku yang di miliki Indonesia dengan ciri khasnya. Telah menjadi satu dengan Indonesia yang memiliki banyak keberagaman suku dan budaya.


Penulis       : Riskyrkito

Editor        : Argha Sena

Referensi  :  boombastis.com, harmoni.or.id, kompasiana.com, oborkeadilan.com

Sunday, March 14, 2021

4 Ajian Paling Gila dan Sakti dari tanah Jawa



Kesaktian pendekar atau tokoh-tokoh masa lalu seperti Patih Gajah Mada, Prabu Siliwangi, Syaikh Subakir, Sabdo palon dan lain sebagainya masih menjadi cerita yang populer di masyarakat, terutama di tanah jawa. Tidak dipungkiri mereka mempunyai ilmu kanuragan atau ajian tertentu yang dapat membuat musuh hancur berkeping-keping. Dalam kehidupan dan budaya masyarakat jawa, Ilmu kanuragan tak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka. Di samping untuk menjaga diri, ilmu kanuragan juga akan meningkatkan derajat seseorang yang memilikinya hingga nantinya mendapat gelar sebagai jawara atau pendekar.

Ada beberapa ajian kanuragan yang sangat terkenal dalam dunia persilatan, baik itu aliran ilmu hitam maupun ilmu putih. Bahkan konon saat ini masih ada orang yang memilki ilmu-ilmu tersebut dengan berbagai syarat "amalan" serta pantangan yang harus dijalani. Berikut ini adalah 4 ajian ilmu sakti yang akan menjadikan pemiliknya sebagai jawara persilatan. Apa sajakah ajian tersebut, berikut ini mari kita simak ulasannya. 

Waringin Sungsang

Waringin Sungsang merupakan ajian paling hebat dalam dunia persilatan. Ilmu kanuragan ini memiliki efek mematikan, siapa pun yang diserang ajian ini akan terserap energi kesaktiannya dan langsung lumpuh hingga roboh tidak berdaya.

Konon, ajian Waringin Sungsang diciptakan Sunan Kalijaga. Diciptakannya Waringin Sungsang untuk memerangi kejahatan para pendekar zaman dahulu yang menganut aliran ilmu hitam. Sebagai aliran ilmu putih, untuk mendalami ajian ini seseorang harus melakukan sejumlah "laku" dengan tak ketinggalan membaca "rapal-rapal" yang menyertakan nama Allah.

Waringin berarti pohon beringin, sedangkan Sungsang, yakni terbalik di mana akar berada di atas. Waringin Sungsang bermakna kehidupan berasal dari sumbernya yang akan terus hidup.

Karena begitu tingginya falsafah yang terkandung dalam ajian Waringin Sungsang ini, maka hanya kepada para pendekar yang sudah menyelesaikan urusan diri sendirilah ilmu ajian ini boleh diwariskan.

Ajian ini diyakini sebagai puncaknya ilmu kanuragan yang dimiliki pendekar pada zaman dahulu. Untuk mendapatkal ajian ini, tentunya seseorang harus melakukan tirakat terlebih dahulu.

Segala tindak kejahatan yang dilakukan oleh para pendekar ilmu hitamlah yang membuat masyarakat merasa terancam. Dengan begitu, maka diciptakanlah ajian Waringin Sungsang. Amalan ajian Waringin Sungsang menggambarkan kekuasaan Tuhan, karena segala kekuatan yang dimiliki manusia tentunya berasal dari Tuhan.

Rawarontek

Ilmu Rawarontek termasuk aliran ilmu hitam yang banyak dimiliki jawara tanah Jawa kala itu. Mereka menggunakan ajian ini untuk memperoleh hidup kekal.

Rawarontek dianggap sebagai salah satu ilmu hitam paling legendaris dan sakti. Menurut cerita-cerita, si pemilik ilmu ini takkan bisa mati dengan cara macam apa pun. Entah dipenggal kepalanya atau dikubur hidup-hidup, penguasa ilmu Rawarontek dikatakan akan selalu bisa bangkit lagi.

Siapa pun yang menimba ilmu Rawarontek dan mencapai kesempuraan ajian ini maka ia tak bisa dikalahkan. Tubuhnya yang terluka saat duel bisa dengan sekejap kembali pulih, tubuhnya yang terputus bisa kembali menyatu.

Rawarontek juga dikatakan memiliki khasiat penyembuhan yang luar biasa. Tak hanya untuk penyakit dalam tapi juga luar. Misalnya ketika tangan terluka lantaran terkena sabetan parang, Rawarontek akan membuat lukanya menutup dalam sekejap. Lantaran memberikan khasiat tak bisa mati, maka ilmu ini dulu begitu banyak dipelajari para pendekar.

Rawarontek dikatakan sebagai ilmu hitam yang paling terlarang. Dan biasanya hal-hal yang berbau terlarang seperti ini memiliki semacam tuah atau kutukan di baliknya. Dan benar saja, Rawarontek dipercaya juga punya yang semacam itu.

Meskipun membuat si penggunanya bisa terus hidup, bukan berarti pemilik Rawarontek tak bisa mati. Dalam kondisi tertentu, si pemilik ilmu ini bisa dikalahkan. Nah, setelah mati ini baru kemudian kutukan Rawarontek-nya keluar. Kutukannya sendiri berbentuk semacam pengecilan jasad, mungki akan seperti jenglot tubuh pemilik ajian ini diakhir hayatnya.

Lembu Sekilan


Seorang yang memiliki ilmu Lembu Sekilan akan menjadi sakti mandraguna karena memiliki tameng kebal saat bertarung dengan musuh. Tubuh pendekar Lembu Sekilan tak akan tersentuh lawan, bahkan saking kuatnya perisai ghaib ini pukulan atau senjata lawan akan melenceng sekitar 50 cm atau sekitar satu jengkal tangan orang dewasa dan hanya pengantarkan angin saja. Konon, tameng ini sangat kuat dibanding baju besi atau perisai apapun. Katanya, tidak hanya melindungi dari serangan fisik tapi juga serangan spiritual macam guna-guna dan sejenisnya.

Selain memiliki kekebalan tubuh jika terkena serangan lawan, pemilik Ajian Lembu Sekilan juga dikatakan mempunyai ketahanan terhadap rasa sakit. Konon, fisik orang yang mempraktekkan ilmu ini juga tetap tegap dan tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya.

Untuk mendalami ilmu Lembu Sekilan seseorang harus menjalani puasa Ngidang selama 40 hari. Puasa Ngidang yakni puasa yang dimulai pada Kamis Wage dan dilakukan seperti puasa pada umumnya, yang membedakan hanya dalam hal buka dan sahur.

Dalam puasa Kidang, sahur dan buka hanya diperbolehkan makan dedaunan berbumbu garam dan minum menggunakan air kendi. Setelah selesai berpuasa 40 hari dilanjut dengan puasa ngebleng selama 3 hari 3 malam serta tidak boleh makan minum dan tidur.

Gelap Ngampar

Gelap Ngampar berasal dari kata yang dalam bahasa Jawa memiliki arti petir, sedangkan ngampar berarti menyambar. Maka kata Gelap Ngampar memiliki arti petir yang menyambar.

Ilmu kanuragan ini konon juga dimiliki Patih Gajahmada. Gelap Ngampar tergolong sebagai salah satu ilmu tingkat tinggi dan tak semua orang bisa mencapai tingkatan ajian ini.

Jika disalurkan lewat suara maka yang mendengar bentakannya akan langsung tuli dan bila ajian ini dibaca di tengah-tengah riuhnya peperangan, siapa pun yang mendengar teriakan dari pemilik ajian ini akan langsung bersimpuh menyerah atau melarikan diri. Bila ajian ini disalurkan lewat telapak tangan, tubuh yang terkena pukulannya akan terasa panas seperti tersambar petir.

Ragam ilmu kanuragan di Jawa ini memiliki mantra yang harus dibaca saat akan menggunakannya. Untuk dapat menguasai kemampuan ini, seseorang harus menjalani puasa 40 hari dengan makan hanya sekali setiap jam 12 malam. Setelah itu diteruskan dengan puasa Nglowong 7 hari 7 malam yan dimulai dari Sabtu Kliwon.

Aji Gelap Ngampar ini bukan sembarang ilmu, dimana si pemilik ilmu ini harus kuat menahan emosi serta tidak mudah marah ini dikarenakan jika suara yang dikeluarkan si pemilik ilmu ini bercampur emosi maka seketika akan menghasilkan daya serta kekuatan yang bisa menjadi salah guna.

Itulah 4 ajian atau ilmu kanuragan mengerikan yang bersasal dari tanah jawa, semoga artikel ini bisa menambah wawasan kita terhadap kekayaan budaya yang dimiliki nenek moyang kita.


Penulis : Argha Sena

Sumber : Internet dan Mengarang


Saturday, March 13, 2021

Sejarah Turkifikasi Anatolia dan Kontribusi bangsa Turki dalam Penyebaran Agama Islam di Eropa


Jauh berabad-abad yang lampau, daratan Asia Kecil atau Anatolia dihuni oleh masyarakat Romawi dan Yunani kuno. Di antara mereka terdapat bangsa Hatti, Hurriyah, Iberia, Lydia, dan Galatia. Bahasa yang mereka pertuturkan pun dulunya masuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa.

Akan tetapi, pemandangan tersebut kini berubah drastis. Tanah Anatolia kini hampir seluruhnya dihuni oleh orang-orang yang menamai diri mereka sebagai bangsa Turki. Meski sisa-sisa peninggalan peradaban Romawi dan Yunani kuno masih dapat kita jumpai di Anatolia, nilai-nilai yang mengakar di tengah-tengah masyarakat di kawasan tersebut hari ini hampir sepenuhnya Turki. Mulai dari bahasa, kesenian, hingga adat istiadat mereka.

Perubahan kultur masyarakat Anatolia dari corak Indo-Eropa menjadi Turki seperti sekarang ini tidak terjadi begitu saja. Melainkan, melalui proses asimilasi yang memakan waktu sangat panjang. Para ahli antropologi menyebut proses asimilasi ini dengan istilah “Turkification” alias Turkifikasi.

Sejarah Turkifikasi Anatolia dimulai dari kedatangan bangsa Turki di Asia Kecil pada abad kesebelas silam. Ketika itu, Tughril Beg, sang pendiri Kesultanan Turki Seljuk, ditugaskan Khalifah al-Qaim dari Dinasti Abbasiyah untuk menghambat pengaruh Kekaisaran Bizantium di wilayah utara kekhalifahan Islam.

Melemahnya kekuatan Bizantium di Anatolia Timur membuka jalan bagi orang-orang Turki Seljuk untuk masuk ke wilayah tersebut. Pada 1071, putra Tughril Beg, Alp Arslan, akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Bizantium. Sejak itu, Kesultanan Seljuk resmi menancapkan kekuasaannya di Anatolia. Pengaruh bangsa Turki di wilayah itu pun semakin menguat.

Pada masa itu, jumlah orang-orang Turki yang mendiami Anatolia tidaklah begitu banyak jika dibandingkan penduduk Indo-Eropa. Akan tetapi, mereka secara bertahap mulai melakukan Turkifikasi terhadap kebudayaan dan bahasa penduduk setempat. Banyaknya orang Kristen yang beralih memeluk Islam juga ikut membantu proses Turkifikasi Anatolia.

“Orang-orang Kristen yang masuk Islam mulai mengadopsi bahasa Turki dalam kesehariannya. Sementara, kebudayaan Yunani yang sebelumnya telah mengakar di kalangan masyarakat Anatolia semakin melemah pengaruhnya dari waktu ke waktu,” ungkap William Langer dan Robert Blake dalam buku The Rise of the Ottoman Turks and Its Historical Background.

Pada era Kesultanan Ottoman, proses Turkifikasi menyentuh hampir setiap aspek kehidupan masyarakat Anatolia. Adanya ikatan perkawinan antara orang Turki dan non-Turki melahirkan generasi masyarakat baru di wilayah tersebut. Dengan kata lain, pernikahan menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong terjadinya asimilasi bangsa Turki di Asia Kecil.

Bahkan, mayoritas sultan Ottoman terlahir dari rahim perempuan berkebangsaan Eropa. Sebut saja Murad I (beribukan orang Yunani), Bayezid II (Albania), Osman II (Serbia), dan Mehmed IV (Ukraina). Dari 36 sultan yang memegang tampuk kekuasaan Ottoman, hanya lima orang yang beribukan orang Turki asli.

Pada 1330-an, nama-nama kota atau tempat di Anatolia telah berubah dari bahasa Yunani menjadi bahasa Turki. Beberapa di antaranya Ankara (yang dalam versi Yunani disebut Angora), Izmir (Smyrna), Iznik (Nicaea), Konya (Iconium), Antakya (Antioch), dan Istanbul (Konstantinopolis/Konstantinopel).

Selama abad ke-19, penduduk yang mendiami wilayah Kesultanan Ottoman terdiri dari beragam etnis. Antara lain Persia, Arab, Albania, Yunani, Bulgaria, Bosniak, Armenia, Kurdi, Zazas, Kirkasia, Suriah, Yahudi, dan banyak lagi. Bahasa Turki menjadi semacam bahasa pemersatu bagi masyarakat majemuk tersebut, terutama di kalangan istana.

Di antara catatan yang bisa digunakan untuk menggambarkan kiprah bangsa Turki dalam membangun peradaban Islam ialah memoar yang pernah ditulis oleh petualang Muslim, Ibnu Bathutah, dalam bukunya yang berjudul ar-Rihlah.

Saat berkunjung ke Anatolia, ia pernah bertemu langsung dengan penguasa negara tersebut, Orhan, yang juga salah satu peletak Kesultanan Ottoman, Turki. Selama 30 tahun Ottoman berada di bawah kepemimpinan Orhan, dinasti ini memiliki karakteristik yang berbeda dari imperium yang ada pada abad 20. Kekuasaannya berdiri di atas daratan Eropa dan Asia. Pedesaan dan perkotaan dibangun sedemikian rupa dan mendirikan masjid. 

Ibnu Bathuthah menulis dalam memoarnya, “Orhan adalah penguasa Turki paling agung dengan jumlah harta, kekuatan militer, dan daerah kekuasaan yang besar dan luas. Ia mendirikan kurang lebih 100 benteng. Ia menyempatkan diri untuk mengawasi benteng-benteng tersebut, tak jarang ia tinggal di benteng beberapa hari. Budi pekertinya luhur dan ulet menciptakan stabilitas Kesultanan Ottoman begitu pula melebarkan peradaban Islam melalui penaklukkan-penaklukkan di berbagai wilayah.”

Deretan penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Turki di bawah Ottoman terhadap wilayah Eropa yang menuai puncak kesuksesan pada masa Sultan Muhammad al-Fatih, Sultan ke-7 Dinasti Ottoman, menyempurnakan misi serupa yang pernah dilakukan pada abad pertama dan kedua Hijriyah.

Setidaknya tercatat tujuh kali misi penguasaan Eropa, yaitu penaklukkan Muawiyah dan anaknya Yazid pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib  34 dan 47 H, Sufyah bin Aus pada masa Muawiyah (52 H), Musalamah saat Umar bin Abd al-Aziz berkuasa (97 H), Hisyam bin Abd al-Malik (121 H), dan Harun al-Rasyid pada 182 H. Penaklukkan oleh al-Fatih, oleh sebagian kalangan, dijadikan pembuktian dari hadis yang disandarkan kepada Rasulullah SAW bahwa kelak Konstantinopel akan ditaklukkan oleh penguasa dan militer yang tangguh. 

Rekam jejak bangsa Turki dalam peradaban Islam cukup besar. Rasulullah SAW pernah berperang bersama mereka di beberapa peperangan, seperti Perang Khaibar, meski jumlah mereka tak banyak. Perlahan masyarakat keturunan Turki memeluk Islam, terutama pascapenaklukkan Persia oleh Umar bin al-Khatab dan jumlahnya kian membeludak saat Ubaidillah bin Ziyad, khalifah Dinasti Umayyah, berkuasa.

Beberapa abad kemudian, Muslim Turki mendirikan rezim yang sangat kuat melalui otoritas kerajaan. Dua dinasti besar berdiri pada masa yang berbeda, yaitu Dinasti Saljuk dan Kesultanan Ottoman. Terdapat tiga kerajaan yang didirikan Muslim Turki, tetapi skalanya kecil dan nyaris terlupakan oleh sejarah. Kekuatan militer kerajaaan-kerajaan tersebut sangat diperhitungkan pada masa itu. Kelebihan itu menjadi faktor pendukung suksesnya penaklukkan Eropa.

Sebagian sejarawan lantas mengomentari tipikal dan karakter penyebaran Islam oleh bangsa Turki identik dan dominan melalui peperangan dan peperangan. Hal ini kemudian diduga dijadikan premis mengapa peradaban Islam di wilayah Eropa dan sekitarnya tak bertahan hingga sekarang. Berbeda dengan pola penyebaran Islam di Asia Tenggara, misalnya.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa peperangan merupakan bagian tak terlepaskan pada masa itu, tidak hanya dari sisi kerajaan Turki Islam, tetapi juga imperium non-Muslim. Perang adalah konsekuensi logis dari upaya penaklukkan secara politis yang gagal dengan cara damai. Begitulah sunah peradaban. 

Sejarah ternyata mencatat juga kontribusi Muslim Turki membangun fondasi intelektualitas peradaban Islam. Gerakan penerjemahan pemikiran dalam sejarah Islam memang telah diawali sejak Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, tetapi mencapai puncaknya saat Muslim Turki berkuasa. Kita mengenal al-Farabi dan al-Biruni, dua tokoh pakar filsafat dan matematika keturunan Turki. Keduanya menyumbangkan gagasan-gagasan yang belum pernah diungkap oleh para intelektual pada era sebelumnya.

Al-Farabi dianggap sukses mengawinkan rasionalitas filsafat dalam tradisi Yunani agar selaras dengan konsep teologi Islam. Pemikiran briliannya itu menghasilkan harmoni antara dua kutub pemikiran besar selama bertahun-tahun.  

Madrasah Nidhamiyah yang didirikan oleh salah satu menteri Dinasti Seljuk Nidham al-Mulk di Baghdad sangat tersohor. Lembaga ini menjadi contoh perdana bagi konsep ideal sebuah perguruan tinggi Islam. Lembaga ini tidak mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Sumber : republika.co.id

Friday, February 26, 2021

KISAH TRAGIS AJUDAN TAMPAN Yang Rela Menjadi Martir Atasannya SAAT PERISTIWA G30S/PKI!!!

        


        Mengingat kembali ke masa silam dimana indonesia pernah mengalami masa yang kelam. Peristiwa itu bernama Gerakan 30 September (G30S/PKI), merupakan peristiwa yang sangat tragis dan masih menyimpan pilu bagi masyarakat Indonesia. Pada tanggal 30 September 1965 dini hari, PKI di bawah pimpinan D.N Aidit dan Syam Kamaruzzaman melakukan pembunuhan berencana terhadap 7 Jendral yang menjadi Pahlawan Revolusi Indonesia. Aksi pembantaian di lubang buaya menewaskan 6 Jendral TNI AD, dan satu perwira menengah.

        Jendral yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut di antaranya Panglima TNI Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayjen MT Haryono, dan Brigjen TNI DI Pandjaitan menjadi korban yang dibunuh di rumahnya. Sedangkan, Mayjen Soeprapto, Mayjen S. Parman, dan Brigjen Sutoyo dibawa hidup-hidup. Jendral yang menjadi target penculikan lain adalah Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan serta Kepala Staf TNI Jenderal Abdul Haris Nasution. Pada keadaan malam yang gelap saat penculikan, jendral A.H. Nasution berhasil melarikan diri walaupun keluarganya yang lain menjadi korban penembakan. Selain anggota keluarganya di rumah saat itu, ada seorang ajudan yang sangat setia bahkan harus menjadi korban penculikan. Karena keadaan yang gelap dia ditangkap karena dia mengaku sebagai Jendral A.H. Nasution, sehingga ia dibawa oleh orang-orang yang ingin menculik jendral A.H. Nasution. Nama ajudan tersebut adalah Kapten Pierre Tendean.

                                                Biografi Singkat Kapten Pierre Tendean


        

        Kapten Anumerta Pierre Tendean lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di Jakarta. Dia merupakan salah satu korban pada peristiwa Gerakan 30 September dan merupakan pahlawan nasional Indonesia. Kapten Pierre Tendean adalah Putera dari DR. A.L Tendean yang berasal dari Minahasa, sedang ibunya seorang berdarah Perancis bernama Cornel ME. Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakak dan adiknya masing-masing bernama Mitze Farre dan Rooswidiati. Dia mengawali sekolah dasarnya di Magelang, lalu melanjutkan SMP dan SMA di Semarang. Sejak kecil dia memang bercita-cita untuk menjadi tentara, namun kedua orangtuanya berharap agar dia dapat menjadi seorang dokter seperti ayahnya. Karena tekadnya yang kuat maka dia dapat bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat di Bandung pada tahun 1958. Sewaktu menjadi taruna, Pierre pernah ikut tugas praktik lapangan dalam operasi militer penumpasan pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Dari sinilah awal permulaan kisah cintanya dengan seorang gadis asal Deli Sumatera Utara, bernama Rukmini.

        Setelah lulus dari akademi militer pada tahun 1961 dengan pangkat letnan dua, Tendean menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan. Setahun kemudian, ia mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor. Setamat dari sana, dia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Dia bertugas memimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyusup ke Malaysia. Berkat kerja keras dan kemampuannya, Pierre Andreas Tendean dipandang sebagai TNI yang unggul. hal ini terbukti dari berebutnya tiga jenderal untuk menjadikan Pierre Andreas Tendean sebagai ajudan. Mereka adalah Jenderal AH Nasution, Jenderal Hartawan, dan Jenderal Kadarsan. Dan akhirnya Jendral A.H. Nasution yang mendapatkan Kapten Pierre Tendean sebagai Ajudannya.

        Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution. Saat diangkat menjadi ajudan dia menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB). Dia adalah sosok ajudan termuda Jendral A.H. karena saat itu berusia 26 tahun. Dia menggantikan posisi kapten Manullang yang gugur saat bertugas di Kongo. Tak hanya sebagai ajudan sang Jendral, dia juga menjadi teman akrab bagi putri Jendral A.H. Nasution.
Mengemban tugas sebagai ajudan mengharuskan Pierre ikut ke mana saja Nasution bertugas. Menurut biografi resmi Pierre Tendean dalam Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi, kegiatan Nasution yang paling sering di kawal Pierre adalah agenda main tenis. Keluarga Nasution biasanya main tenis dua kali seminggu di lapangan tenis Menteng dan Senayan. Selain kegiatan di dalam kota, Pierre pun harus siaga sewaktu-waktu Nasution dinas ke kota lain. Nasution acap kali menjadi tamu undangan sebagai pembicara dalam konferensi atau seminar nasional. Biasanya, Pierre lah yang sering diminta Nasution untuk mendampingi dalam kunjungan di luar kota.

                                                        Peristiwa G30S/PKI



           Sebelum tanggal 30 september,  Lettu Pierre Tendean biasanya pulang ke Semarang merayakan ulang tahun sang ibu. Namun, ia menunda kepulangannya karena tugasnya sebagai pengawal Jenderal AH Nasution. Pada pagi hari pada 1 Oktober 1965, Pierre sedang tidur di ruang belakang rumah Jenderal Nasution. Suara tembakan dan ribut-ribut membuatnya terbangun dan berlari ke bagian depan rumah. keberingasan tembakan gerombolan itu mengenai anak perempuannya, Ade Irma Nasution yang masih berusia 5 tahun. Saat itu Ade baru bangun dan keluar kamar, dan salah satu peluru mengenai dirinya. Nasution sendiri mulanya ingin menyelematkan anaknya, namun oleh istrinya Jonna, dipaksa untuk segera menyelematkan diri. Sementara gerombolan pasukan Tjakrabirawa yang sudah kelabakan karena tidak menemukan Nasution yang sudah melarikan diri, kemudian bertemu dengan Pierre Tendean.
            

Kapten Pierre Tendean mengaku bahwa dia adalah Jendral A.H. Nasution, Kemudian dia diikat kedua tangannya dan dibawa dengan truk ke Lubang Buaya. Di lubang Buaya Pierre besama dengan Brigjen TNI Sutoyo dimasukan ke dalam rumah yang terletak dekat sumur tua. Setelah disiksa secara kejam oleh anggota-anggota G 30 S/PKI berdasarkan giliran paling akhir dibunuh dan dimasukan ke dalam Lubang Buaya bersama Pimpinan TNI AD lainnya. Tendean bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Untuk menghargai jasa-jasanya, Pierre dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965. Pasca kematiannya, ia secara anumerta dipromosikan menjadi kapten.

        Itulah cerita singkat Kapten Pierre Tendean seorang pahlawan revolusi yang menjadi korban kekejaman PKI. Selain menjadi kisah sedih bagi kedua orangtuanya, kematian Kapten Pierre Tendean juga menjadi pukulan menyakitkan bagi Rukmini. Rencananya pada bulan November 1965 Tendean dan Rukmini akan melangsungkan pernikahan. Namun sayang cinta itu tak pernah sampai karena peristiwa G30S/PKI yang merenggut nyawa Pierre. Rukmini yang mendengar kabar bahwa kekasihnya meninggal tentu saja hancur hatinya. Butuh waktu hingga 5 tahun sebelum dia move on dan menikah dengan pria lain.

 
Penulis         : Riskyrito

Penyunting     : Argha Sena

Referensi        : brilio.net, historia.id, merdeka.com, sosok-tokoh.blogspot.com,                                                   tribunnews.com, Wikipedia.org