F 2021 ~ PEGAWAI JALANAN

Rabu, 15 Desember 2021

ASAL USUL DAN BUDAYA SUKU DAYAK KALIMANTAN

      


        "Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata," itu adalah kalimat ucapan salam khas masyarakat dayak yang mendiami pulau Kalimantan. Secara harafiah, Adil Ka'Talino artinya adil terhadap sesama manusia, Bacuramin Ka'Saruga artinya becermin/berpedoman/berpandangan hidup pada surga, dan Basengat Ka' Jubata artinya selalu mengingat Tuhan sebagai pemberi kehidupan. Dalam artikel kali ini kita akan membahas "Asal-usul Suku dayak" dari mana asalnya, penyebarannya dan budayanya, agar kita semakin mengenal suku-suku yang ada di Nusantara ini. Ingatlah dengan pepatah ini, "Tak kenal maka tak sayang", dengan mengenal sejarah ini, diharapakan akan membuat kita semakin cinta dan sayang kepada sesama manusia, dengan mengenal asal usul saudara kita yang berasal dari kalimantan. Mari kita simak ulasannya.

       Kata Dayak berasal dari kata "Daya" yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan Barat pada khususnya. Ada berbagai pendapat tentang asal-usul orang Dayak, tetapi sampai saat ini belum ada yang betul-betul memuaskan. Namun, pendapat yang diterima umum menyatakan bahawa orang Dayak ialah salah satu kelompok asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan (Kalimantan Memanggil: Alam dan Kebudayaan. Yogyakarta: Tiara Wacana.1993: 231).

        Gagasan tentang penduduk asli ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan. Bertolak dari pendapat itu adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Dayak berasal dari China Selatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mikhail Coomans dalam Manusia Daya Dahulu, Sekarang, Masa Depan tahun 1987 halaman 3, "Semua suku bangsa Daya termasuk pada kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan daripada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah kelompok kecil mengembara melalui Indo China ke jazirah Malaysia yang menjadi loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia, selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit, kerana pada zaman glazial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyeberangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu."

        Orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati, dahulu mereka ini mendiami pulau Kalimantan, baikpun pantai-pantai baikpun sebelah ke darat. Akan tetapi tatkala orang Melayu dari Sumatera dan Tanah Semenanjung Melaka datang ke situ terdesaklah orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama, bertambah jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan, Teori tentang migrasi ini sekaligus bisa menjawab persoalan: mengapa suku bangsa Dayak kini mempunyai begitu banyak sifat yang berbeda, sama ada dalam bahasa maupun dalam ciri-ciri budaya mereka. Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, iaitu Apokayan yaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan atau kalimantan dan Punan.  Keenam rumpun ini terbagi lagi kepada lebih kurang 405 sub suku. 

        Meskipun terbagi kepada ratusan sub suku, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu salah suatu sub suku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak. Ciri-ciri tersebut ialah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit beliong (kapak Dayak) pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem perladangan) dan seni tari. 

        Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya pulau ini tidak hanya merupakan "daerah asal" orang Dayak semata karena di sana ada orang Banjar (Kalimantan Selatan) dan orang Melayu. Dan, di kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. 

        Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau. Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol seseorang (kehormatan dan jati diri). Sebagai catatan, dahulu mandau dianggap memiliki unsur magis dan hanya digunakan dalam acara ritual tertentu seperti: perang, pengayauan, perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan upacara. 

      Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian. Kekuatan saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala lawan). Ketika itu (sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya sebagian digunakan untuk menghias gagangnya. Mereka percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau, maka rohnya akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti. 

        Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan bertani. Sedangkan Bagian-bagian Mandau  yaitu;

1.  Bilah Mandau 

          Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa        hingga berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing (menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar). Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Ada beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. 

        Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu. Pembuatan bilah mandau diawali dengan membuat bara api di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi. Kayu yang digunakan untuk membuat bara api adalah kayu ulin. Jenis kayu ini dipilih karena dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Setelah kayu menjadi bara, maka besi yang akan dijadikan bilah mandau ditaruh diatasnya agar memuai. Kemudian, ditempa dengan menggunakan palu. Penempaan dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk bilah mandau yang diinginkan. 

        Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau. Konon, pada zaman dahulu banyaknya lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya korban yang pernah kena tebas mandau tersebut. Cara membuat hiasan sama dengan cara membuat bilah mandau, yaitu memuaikan dan menempanya dengan palu berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. Setelah itu, barulah bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gerinda. 

2. Gagang (Hulu Mandau) 

        Gagang (hulu mandau) terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya. 

3. Sarung Mandau. 

        Sarung mandau (kumpang) biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan. 

        Nilai Budaya Pembuatan mandau, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna. 

        Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang pada mulanya tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya.  Pada Sebelum zaman es benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan "Muller-Schwaner". 

        Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati dan paling awal menempati pulau kalimantan. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaya datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam. Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama.

          Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608). Sebagian besar suku Dayak yang memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus masuk ke pedalaman pulau. 

        Orang Dayak yang pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Maanyan atau Ot Danum).

    Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming sekitar tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam. 

        Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. 

        Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik. Sejak awal abad ke-5 bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad ke-15 Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Laksamana Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. 

        Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963).

       Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia;

Upacara Tiwah 

        Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia. Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung). 

Dunia Supranatural 

    Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia atau sering dikenal dengan sebutan Kanibal. Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. 

        Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan. 

Mangkok merah

        Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. Panglima" atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya. 


    Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber Tariu" ( memanggil roh leluhur untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu. 

        Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti. 

        Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. 

        Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah. Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. Pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia. Kemudian yang terakhir terjadinya konfik horizontal antara Suku Dayak dan Madura.

        Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan Palangka Bulau" ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan Ancak atau Kalangkang" ).

    Itulah sekelumit pembahasan tentang Asal Usul Suku Dayak, semoga materi kali ini dapat bermanfaat untuk kita semua.


    Sumber : wikipedia.org, kompasiana.com, kompas.com, jejakrekam.com, respository.uksw.edu


MELAYU VS JAWA!!! SEJARAH YANG HARUS KITA UBAH

        


        Sebuah Arca yang sangat terkenal adalah Arca Amoghapasa, Arca yang menjadi bukti tanda persahabat Jawa dan Melayu pada masa lalu.  Arca itu dengan mudah ditemukan oleh pengunjung jika sedang berkunjung ke Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Selain karena penempatan di lokasinya yang strategis, Arca Amoghapasa juga menjadi satu-satunya arca yang diberi sinar lampu, sehingga pasti langsung menyita perhatian siapa pun yang melihatnya.

        Jika kita memerhatikan secara detail Arca Amoghapasa yang ditempatkan pengelola di sisi kanan tidak jauh dari pintu masuk utama museum. Arca yang terbuat dari batu andesit dan berukuran tinggi 163 sentimeter (cm) dan lebar 97-139 cm, ini ditempatkan di atas alas yang dinamakan Prasasti Padang Roco.

        Bagian arca dan alas ditemukan secara terpisah, tetapi aslinya keduanya dulunya merupakan satu kesatuan yang dikirim dari Jawa oleh Kertanegara ke Sumatra. Bagian arca ditemukan sekitar tahun 1880-an di Situs Rambahan yang terletak dekat sungai Langsat, sekitar 10 kilometer arah ke hulu Sungai Batanghari.

        Sedangkan Prasasti Padang Roco baru ditemukan di kompleks Percandian Padang Roco pada 1911. Dalam tulisan huruf Jawa kuno serta bahasa campuran antara Sansekerta dan Melayu kuno di Prasasti Padang Roco, menjelaskan patung ini merupakan hadiah dari Raja Singasari (periode 1268-1292) Kertanegara kepada Raja Melayu (1286–1316), Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa yang berkuasa di Dharmasraya dikirim pada 22 Agustus 1208 saka atau 1286 masehi.

        Isi Prasasti Padang Roco dibuka dengan kata: “Bahagia!” "Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di Bhumi Malayu, termasuk brahmana, ksatria, waisa, sudra, dan terutama pusat segenap para arya, Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa." Sedangkan pada bagian belakang arca terdapat tulisan yang disebut dengan Prasasti Amoghapasa bertarikh 1347 masehi, yang tambahan tulisan tersebut dipahat oleh Raja Adityarwan dari Dinasti Mauli selaku penerus penguasa Kerajaan Melayu.

     Arca Amoghapasa menjadi bukti adanya hubungan erat antara Kerajaan Singasari dengan Kerajaan Melayu. Arca Amoghapasa bisa menjelaskan mengapa saat itu Kerajaan Singasari yang berkuasa di Jawa Timur melakukan Ekspedisi Pamalayu untuk menemui penguasa Kerajaan Melayu di Sumatra. Dari berbagai bukti terkini menunjukkan bahwa ekspedisi itu lebih sebagai upaya untuk menjalin kerja sama antardua kerajaan yang berkuasa di Jawa dan Sumatra.

        Misi Kerajaan Singasari mendatangi Kerajaan Melayu, bisa bermacam-macam, termasuk membawa perdagangan, keagamaan, hingga ingin menunjukkan kekuasaannya sebagai penguasa Jawa yang berpengaruh. Jadi bisa dikatakan tidak benar ekspedisi Kerajaan Singasari ke Kerajaan Melayu bersifat untuk penaklukkan. Kita jangan sampai mendefinisikan atau membuat statemen sejarah bahwa Kerajaan Singasari berusaha melakukan ekspansi penaklukan kepada Kerajaan Melayu.


    Walaupun memang ada tafsir sejarah yang menggambarkan Ekspedisi Pamalayu pada pertengahan abad ke-13 dari Jawa Timur ke Sumatra sebagai upaya penaklukan raja Jawa atas kekuasaan Melayu. Akan tetapi faktanya hal itu tidak didukung dengan argumen dan bukti yang kuat. Kedatangan rombongan Kerajaan Singasari ke Kerajaan Melayu bisa jadi untuk menjalin relasi dua penguasa yang memerintah sebuah wilayah untuk saling mendekatkan diri satu sama lain.

        Tidak ada catatan sejarah yang membuktikan antara dua kerajaan itu saling ingin mengalahkan satu sama lain. Sehingga, memang lebih tepat kalau disebut Ekspedisi Pamalayu untuk menjalin rasa persatuan antara Kerajaan Singasari dan Kerajaan Melayu yang sama-sama beraliran Hindu-Buddha.

    Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono mengatakan, "ditemukannya Arca Amoghapasa menunjukkan kedatangan utusan Kerajaan Singasari ke Dharmasraya untuk menjalin persahabatan. Ekspedisi Pamalayu memang ada muatan Kerajaan Singasari ingin memperbesar pengaruh kekuasaannya di luar Pulau Jawa. Namun, langkah mewujudkan itu tidak melulu dengan mengirim armada perang."

"Patung Amoghapasa itu memberikan bukti tidak ada peperangan dengan Kerajaan Melayu, ekspansi iya, tapi tidak ada penaklukkan sama sekali. Malah semacam ada akulturasi budaya dua kerajaan ini," 

    Kalau kita tarik garis sejarah, sangat mungkin Kerajaan Singasari malah ingin bersekutu dengan Kerajaan Melayu untuk menghadapi serbuan pasukan Mongol dari Dinasti Yuan yang secara agresif memperluas kekuasaannya ke selatan hingga masuk wilayah Nusantara.

    Hal itu tidak terlepas dari upaya Raja Kertanegara yang menolak tunduk terhadap kekuasaan Mongol. Bahkan, dalam sebuah riwayat, Kertanegara sampai menolak utusan utusan Kublai Khan, Meng Khi pada 1289, dan memotong salah satu telinganya, sebelum balik ke negaranya di Cina daratan.

       Sadar dengan risiko yang diperbuatnya pasti akan membuat tentara Mongol dengan armada besar akan menyerbu Singasari, Kertanegara akhirnya berupaya menjalin hubungan baik dengan beberapa penguasa, salah satunya Kerajaan Melayu. Kertanegara sadar posisi Kerajaan Melayu yang menguasai Selat Malaka sangat strategis untuk mengadang kedatangan pasukan Mongol yang ingin ke Jawa.  Sehingga kalau Singasari dapat bersekutu dengan Melayu maka ancaman serbuan prajurit Kublai Khan yang ingin menghancurkan Jawa bisa dicegah di tengah jalan. Jadi Singasari sepertinya ingin benar-benar menyiapkan beberapa tempat untuk menahan serangan dari Mongol, dan Kerajaan Melayu di Sumatra itu salah satunya yang diajak bekerja sama.


       Sejarawan Universitas Andalas (Unand) Gusti Asnan mengatakan, "Penulisan sejarah Ekspedisi Pamalayu selama ini memang memuat beberapa informasi yang tidak akurat. Sejarah selama ini yang dipercaya tentang kedatangan Kerajaan Singasari ke Dharmasraya adalah untuk menaklukkan Kerajaan Melayu. Versi sejarah itu dibuat oleh pemerintah Kolonial Belanda yang sengaja memuat ajaran adu domba kepada rakyat Indonesia."

        Dan kita ketahui bersama bahwa versi isejarah itu terus diajarkan di sekolah dalam kurikulum pendidikan sejarah sampai tahun 1950-an, karena memang pada awal kemerdekaan RI, sebagian besar literatur masih merujuk kepada warisan Belanda. Sekarang lahir sumber-sumber dan interprestasi baru. Ternyata Ekspedisi Pamalayu tidak ada unsur penaklukkan, yang ada adalah (dua kerajaan) bersama untuk menjaga keamanan laut dari serangan Mongol yang ekspansif ke wilayah selatan.

        Rombongan Kerajaan Singasari yang membawa Arca Amoghapasa untuk diserahkan kepada Kerajaan Melayu menjadi bukti nyata bahwa dua kerajaan tersebut sebenarnya memiliki hubungan persaudaraan yang kuat. Apalagi kala itu pengaruh agama Hindu-Buddha sangat besar di Jawa dan Sumatra, sehingga ada faktor yang membuat kedua kerajaan itu bisa saling bekerja sama.

        Sangat mungkin pula, Kerajaan Singasari dan Melayu memutuskan bersatu untuk menghadapi serbuan pasukan Mongol yang memiliki kekuataan besar. Dari sejarah itu, dapat disimpulkan bahwa, ada sejarah kontradiksi yang sengaja diciptakan oleh Belanda untuk diwariskan kepada generasi berikutnya bahwa sejak lama antara penguasa Pulau Jawa dan Sumatra maupun Pulau Jawa dan non-Jawa tidak pernah akur, karena saling berperang.

        Mengacu pada hal itu, sudah seharusnya versi baru sejarah hubungan erat antara Kerajaan Singasari dan Melayu diajarkan di sekolah. Tujuannya, adalah agar generasi sekarang ini memahami bahwa rasa persatuan yang terjalin di Nusantara itu sudah dicontohkan sejak lebih dari tujuh abad lalu oleh nenek moyang kita.

        Gusti Asnan menambahkan "Ekspedisi Pamalayu itu digambarkan sangat Kolonial sentris ceritanya, mengandung sejarah pecah belah. Karena itu perlu diadakan rewriting karena Kerajaan Singasari datang membawa misi perdamaian. Karena kalau mau invasi kok malah membawa cenderamata?"

        Bupati Dharmasraya Sutan Riska mengatakan, pada kenyataannya memang belum ada bukti otentik yang mengatakan kehadiran Kerajaan Singasari ke Kerajaan Melayu bertujuan untuk menduduki suatu wilayah. Dia menuturkan, narasi penaklukan yang terbangun dan selama ini dipercaya sebagian kalangan memang perlu diluruskan. “Bagaimana mungkin bisa dikatakan sebagai penaklukan, sedangkan ada pengiriman Arca Amoghapasa. Amoghapasa sendiri melambangkan kasih sayang, bagaimana bisa dikatakan sebagai penaklukan?” ujar Sutan Riska saat peluncuran Festival Pamalayu di Museum Nasional.

        Arca Amoghapasa memiliki prasasti di punggung arca, yang dapat diartikan sebagai matahari terbit yang indah. Prasasti yang ada di balik punggung arcanya pun menjelaskan tentang keindahan dan kebajikan serta harapan-harapan pesan damai. Bisa kita duga bahwa masih adanya narasi yang mengatakan Ekspedisi Pamalayu sebagai sebuah penaklukan Jawa terhadap Sumatra adalah sengaja dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda agar generasi kita tertanam sikap saling bermusuhan. Sama persis dengan sejarah perang Bubat yang dibuat untuk memecah belah Jawa dan Sunda agar mudah bagi Belanda untuk tetap kuat berkuasa di Indonesia.

        Melalui video ini mari kita mengajak masyarakat untuk dapat mempererat kembali persatuan, kesatuan, dan persahabatan yang sebenarnya telah lama dijalin peradaban nenek moyang dari berbagai daerah yang tergabung dalam Nusantara. Tidak hanya sesama kita bangsa Indonesia tapi bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara lainnya, karena persatuan disuatu kawasan yang luas akan melahirkan kekuatan yang luar biasa, baik dibidang pertahanan, ekonomi, sosial maupun budaya. Sudah cukup kita diadu domba oleh kolonial eropa selama berabad-abad, sekarang saatnya kita yang mengubah sejarah di kawasan kita sendiri.

Sumber : republika.co.id

Minggu, 12 Desember 2021

LEGENDA ASAL-USUL GUNUNG MERAPI!!!

        


    Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia yang terletak di Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah seperti Klaten, Boyolali, dan Magelang. Ketinggian Gunung Merapi mencapai 2.930 mdpl dan dianggap sebagai gunung api paling berbahaya di Indonesia. Hal ini dikarenakan berdasarakan penelitian para ahli, Gunung Merapi akan mengalami erupsi setiap dua sampai lima tahun sekali. Sejak tahun 1548 Gunung Merapi tercatat mengalami erupsi sebanyak 68 kali.

    Nama Merapi diambil dari penyingkatan antara meru (=gunung) dan api, sehingga secara bahasa Merapi dapat dimaknai sebagai gunung api. Gunung Merapi menjadi gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan Pulau Jawa dari Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi. Secara geologis, pembentukan Gunung Merapi disebabkan karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak kebawah lempeng Eurasia sehingga memunculkan aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. 

        Sama seperti gunung-gunung lain di Indonesia, Gunung Merapi juga memiliki kisah mitologi tersendiri terkait pembentukaannya. Konon menurut cerita yang beredar di masyarakat, Gunung Merapi adalah penyeimbang Pulau Jawa agar tidak miring. Alkisah, dahulu Pulau Jawa adalah pulau yang miring. Para dewa di kayangan berencana menyeimbangkan Pulau Jawa dengan memindahkan sebuah gunung di laut selatan yaitu Gunung Jamurdipa.

        Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu daerah yang kini ditempati oleh Gunung Merapi masih berupa tanah datar. Oleh karena suatu keadaan yang sangat mendesak, para dewa di Kahyangan bersepakat untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang ada di Laut Selatan ke daerah tersebut. Namun setelah dipindahkan, Gunung Jamurdipa yang semula hanya berupa gunung biasa (tidak aktif) berubah menjadi gunung berapi. Apa yang menyebabkan Gunung Jamurdipa berubah menjadi gunung berapi setelah dipindahkan ke daerah tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Gunung Merapi berikut ini!

        Alkisah, Pulau Jawa adalah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia. Konon, pulau ini pada masa lampau letaknya tidak rata atau miring. Oleh karena itu, para dewa di Kahyangan bermaksud untuk membuat pulau tersebut tidak miring. Dalam sebuah pertemuan, mereka kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah gunung yang besar dan tinggi di tengah-tengah Pulau Jawa sebagai penyeimbang. Maka disepakatilah untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang berada di Laut Selatan ke sebuah daerah tanah datar yang terletak di perbatasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Boyolali, serta Klaten Provinsi Jawa Tengah.

     Sementara itu, di daerah di mana Gunung Jamurdipa akan ditempatkan terdapat dua orang empu yang sedang membuat keris sakti. Mereka adalah Empu Rama dan Empu Pamadi yang memiliki kesaktian yang tinggi. Oleh karena itu, para dewa terlebih dahulu akan menasehati kedua empu tersebut agar segera pindah ke tempat lain sehingga tidak tertindih oleh gunung yang akan ditempatkan di daerah itu. Raja para dewa, Batara Guru pun segera mengutus Batara Narada dan Dewa Penyarikan beserta sejumlah pengawal dari istana Kahyangan untuk membujuk kedua empu tersebut.

    Setiba di tempat itu, utusan para dewa langsung menghampiri kedua empu tersebut yang sedang sibuk menempa sebatang besi yang dicampur dengan bermacam-macam logam. Betapa terkejutnya Batara Narada dan Dewa Penyarikan saat menyaksikan cara Empu Rama dan Empu Pamadi membuat keris. Kedua Empu tersebut menempa batangan besi membara tanpa menggunakan palu dan landasan logam, tetapi dengan tangan dan paha mereka. Kepalan tangan mereka bagaikan palu baja yang sangat keras. Setiap kali kepalan tangan mereka pukulkan pada batangan besi membara itu terlihat percikan cahaya yang memancar.

“Maaf, Empu! Kami utusan para dewa ingin berbicara dengan Empu berdua,” sapa Dewa Penyarikan.

Kedua empu tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan kemudian mempersilakan kedua utusan para dewa itu untuk duduk.

“Ada apa gerangan, Pukulun?[1] Ada yang dapat hamba bantu?” tanya Empu Rama.

“Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada Empu,” jawab Batara Narada.

“Apakah permintaan itu?” tanya Empu Pamadi penasaran, ”Semoga permintaan itu dapat kami penuhi.”

Batara Narada pun menjelaskan permintaan para dewa kepada kedua empu tersebut. Setelah mendengar penjelasan itu, keduanya hanya tertegun. Mereka merasa permintaan para dewa itu sangatlah berat.

“Maafkan hamba, Pukulun! Hamba bukannya bermaksud untuk menolak permintaan para dewa. Tapi, perlu Pukulun ketahui bahwa membuat keris sakti tidak boleh dilakukan sembarangan, termasuk berpindah-pindah tempat,” jelas Empu Rama.

“Tapi Empu, keadaan ini sudah sangat mendesak. Jika Empu berdua tidak segera pindah dari sini Pulau Jawa ini semakin lama akan bertambah miring,” kata Dewa Penyarikan.

“Benar kata Dewa Penyarikan, Empu. Kami pun bersedia mencarikan tempat yang lebih baik untuk Empu berdua,” bujuk Empu Narada.

Meskipun telah dijanjikan tempat yang lebih baik, kedua empu tersebut tetap tidak mau pindah dari tempat itu.

“Maaf, Pukulun! Kami belum dapat memenuhi permintaan itu. Kalau kami berpindah tempat, sementara pekerjaan ini belum selesai, maka keris yang sedang kami buat ini tidak sebagus yang diharapkan. Lagi pula, masih banyak tanah datar yang lebih bagus untuk menempatkan Gunung Jamurdipa itu,” kata Empu Pamadi.

Melihat keteguhan hati kedua empu tersebut, Empu Narada dan Dewa Penyaringan mulai kehilangan kesabaran. Oleh karena mengemban amanat Batara Guru, mereka terpaksa mengancam kedua empu tersebut agar segera pindah dari tempat itu.

“Wahai, Empu Rama dan Empu Pamadi! Jangan memaksa kami untuk mengusir kalian dari tempat ini,” ujar Batara Narada.

        Kedua empu tersebut tidak takut dengan acaman itu karena mereka merasa juga sedang mengemban tugas yang harus diselesaikan. Oleh karena kedua belah pihak tetap teguh pada pendirian masing-masing, akhirnya terjadilah perselisihan di antara mereka. Kedua empu tersebut tetap tidak gentar meskipun yang mereka hadapi adalah utusan para dewa. Dengan kesaktian yang dimiliki, mereka siap bertarung demi mempertahankan tempat itu. Tak ayal, pertarungan sengit pun tak terhindarkan. Meskipun dikeroyok oleh dua dewa beserta balatentaranya, kedua empu tersebut berhasil memenangkan pertarungan itu.

       Batara Narada dan Dewa Penyarikan yang kalah dalam pertarungan itu segera terbang ke Kahyangan untuk melapor kepada Batara Guru.

“Ampun, Batara Guru! Kami gagal membujuk kedua empu itu. Mereka sangat sakti mandraguna,” lapor Batara Narada.

Mendengar laporan itu Batara Guru menjadi murka.

“Dasar memang keras kepala kedua empu itu. Mereka harus diberi pelajaran,” ujar Batara Guru.

“Dewa Bayu, segeralah kamu tiup Gunung Jamurdipa itu!” seru Batara Guru.

        Dengan kesaktiannya, Dewa Bayu segera meniup gunung itu. Tiupan Dewa Bayu yang bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Jamurdipa hingga melayang-layang di angkasa dan kemudian jatuh tepat di perapian kedua empu tersebut. Kedua empu yang berada di tempat itu pun ikut tertindih oleh Gunung Jamurdipa hingga tewas seketika. Menurut cerita, roh kedua empu tersebut kemudian menjadi penunggu gunung itu. Sementara itu, perapian tempat keduanya membuat keris sakti berubah menjadi kawah. Oleh karena kawah itu pada mulanya adalah sebuah perapian, maka para dewa mengganti nama gunung itu menjadi Gunung Merapi.

        Demikian cerita Asal Mula Gunung Merapi dari Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia. Hingga saat ini, kawah Gunung Merapi tersebut masih aktif dan sering mengeluarkan lahar disertai dengan hembusan awan panas. Sejak tahun 1548, gunung berapi ini sudah meletus sebanyak kurang lebih 68 kali.

        Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita atas adalah bahwa orang yang tidak mau mendengar nasehat akan mendapatkan celaka seperti halnya Empu Rama dan Empu Pamadi. Oleh karena enggan mendengar nasehat para dewa, akibatnya mereka tewas tertindih Gunung Jamurdipa.


Sumber : https://histori.id/, https://phinemo.com/


Selasa, 07 Desember 2021

ISLAM DI JAWA : DEDEMIT, MAKHLUK HALUS PENUNGGU SUATU TEMPAT

        


        Jika kita membicarakan adat, budaya dan kepercayaan orang jawa memang tidak ada habisnya. Sejarah masyarakat jawa tak terlepas dari cerita-cerita, kepercayaan dan filsafat yang sangat menarik yang membuat kita semakin penasaran jika kita mempelajarinya.

        Berikut ini adalah cuplikan dalam buku legendariss karya antropolog kondang asal Amerika Serikat Clifford Geertz dalam bukunya yang sangat fenomenal: Agama Jawa --Abangan, Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa.

        Pada tulisan ini kita akan mengkaji dunia batin orang Jawa dengan sangat menarik, yakni 'Kepercayaan Terhadap Makhluk Halus'. Bagi pembaca yang suka kisah horor dan aneka tayangan hantu atau makhluk halus lainnya, tentu saja menjadi penting dan menarik. 

        Ada banyak versi mitos penciptaan Jawa, Babad Tanah Jawi. Dalam sebuah dongeng yang biasanya dikisahkan oleh dalang dalam pementasan wayang kulit cerita tersebut dimulai dengan tokoh Semar, pelawak wayang kulit yang lucu dan bijak serta pahlawan kebudayaan Jawa yang tersohor, yang berbicara kepada seorang pendeta Hindu-Muslim, orang pertama dari rangkaian panjang kolonis Pulau Jawa.

    Pendeta itu berkata kepada Semar: “Ceritakan kepadaku kisah Pulau Jawa sebelum ada manusia”. Semar menjawab bahwa pada masa itu seluruh pulau diselimuti oleh hutan belantara, kecuali sebidang kecil sawah tempat Semar bertanam padi di kaki Gunung Merbabu (sebuah gunung berapi di Jawa Tengah), tempat ia hidup tenang bertani selama puluhan ribu tahun.

    “Apakah kau ini?” tanya pendeta itu keheranan. “Apakah kau ini manusia? Umurmu bukan main panjangnya! Aku tak pernah menjumpai orang yang berumur puluhan ribu tahun! Itu tidak mungkin! Tentu kau bukan manusia. Bahkan Nabi Adam hanya berusia 1.000 tahun! Makhluk apa kau ini? Akui saja yang sebenarnya!”

        “Sebenarnya”, kata Semar, “aku bukan manusia, aku adalah makhluk halus yang menjaga—danyang—Pulau Jawa. Aku adalah makhluk halus yang tertua, raja serta nenekmoyang semua makhluk halus dan melalui mereka, menjadi raja seluruh manusia”. Dengan nada yang berubah, ia melanjutkan,

    “Tetapi aku juga mempunyai sebuah pertanyaan untukmu. Mengapa kau hancurkan negeriku? Mengapa kau datang ke sini dan mengusir anak cucuku? Makhluk-makhluk halus itu, yang kalah oleh kekuatan spiritual dan ilmu agamamu, secara perlahan dipaksa melarikan diri ke kawah-kawah gunung berapi atau ke dasar Laut Selatan. Mengapa kau lakukan ini?”

        Pendeta itu pun menjawab, “Aku diperintahkan oleh raja Rome (sebuah negeri Arab di sebelah barat India) untuk mengisi pulau ini dengan umat manusia. Aku harus membabat hutan untuk dijadikan persawahan, membangun desa dan memukimkan 20.000 orang di sini sebagai kolonis. Ini adalah titah rajaku dan kau tak bisa menghentikannya. Namun, makhluk-makhluk halus yang mau melindungi kita akan tetap boleh tinggal di Jawa; aku akan menentukan apa yang harus kalian kerjakan.”

    Ia melanjutkan pembicaraan dengan menggambarkan garis besar seluruh sejarah bakal Jawa sampai dengan zaman modern dan menjelaskan peran Semar dalam proses itu, yakni sebagai penasihat spiritual serta pendukung ghaib dari semua raja dan pangeran yang akan datang—yaitu terns menjadi ketua danyang di Jawa.

        Dengan demikian, paling tidak dalam versi ini, dongeng orang Jawa dalam Babad Tanah Jawi (“pembersihan Jawa”) lebih patut disebut mitos kolonisasi daripada mitos penciptaan, yang memang tidak mengherankan, mengingat sejarah Jawa yang terus menerus mengalami “invasi” orang-orang Hindu, Islam dan Eropa.

      Mbabad berarti membersihkan sebidang hutan belantara untuk diubah menjadi sebuah desa lengkap dengan sawahnya, membangun pulau kecil pemukiman manusia di tengah lautan makhluk halus yang menghuni hutan. Meski demikian, istilah itu kini juga dipakai untuk persiapan umum mengolah sawah (membajak, meratakan tanah dengan garu dan sebagainya) yang hams dilakukan orang dalam masa awal siklus tanam padi setiap tahunnya.

        Gambaran yang disampaikan oleh mitos itu adalah mengenai masuknya para pendatang baru yang mendorong makhluk-makhluk halus jahat ke gunung, ke tempat-tempat liar yang belum dijamah dan Lautan Hindia, sementara mereka bergerak dari utara ke selatan, sambil mengangkat beberapa makhluk halus yang mau menolong Sebagai pelindung mereka dan pemukiman baru mereka.

        Nama yang lazim untuk makhluk halus dengan tempat tinggal tetap yang mungkin membantu keinginan orang adalah demit. Walaupun di sini, orang lagi-lagi tidak konsisten, mereka cenderung menggunakan istilah seperti demit, danyang, lelembut dan setan, baik dalam pengertian luas maupun sempit, untuk menyebut makhluk halus pada umumnya dan subjenis makhluk halus tertentu secara khusus.

        Demit dalam arti sempit tinggal di tempat-tempat keramat yang disebut punden, yang mungkin ditandai oleh beberapa reruntuhan Hindu (mungkin sebuah patung kecil yang sudah rusak), pohon beringin besar, kuburan tua, sumber air yang nyaris tersembunyi atau kekhususan topografis semacam itu.

        Ada sejumlah punden semacam itu di daerah Mojokuto; di berbagai pohon yang sangat besar atau berbentuk aneh, di berbagai reruntuhan Hindu yang tersebar di sana-sini. Akan tetapi, yang paling terkenal, paling sering dipuja dan dianggap paling berkuasa, adalah makhluk halus yang tinggal di pusat kota Mojokuto, di pinggir alun-alun, namanya Mbah Buda, yang secara harfiah berarti “Kakek Buddha”, tetapi “Buddha” di sini tidak merujuk ke “Gautama”. Ia hanya menunjuk pada kenyataan bahwa tempat tinggalnya yang keramat ditandai dengan sebuah peninggalan Hindu-Buddha.

        Tempat keramat itu, ditutup dengan pagar putih yang kuat, terletak di kaki sebuah pohon beringin yang lebat dan terdiri atas patung Ganesha—dewa kebijaksanaan agama Hindu yang berbentuk gajah—berukuran kecil dan setinggi kaki. Ada sebuah kisah tentang tempat itu. Dahulu kala, “pada zaman Buddha”, Sultan Solo, ibukota kerajaan Jawa Tengah, sedang berperang dengan raja Madura. Sultan Solo menang dan mengejar raja Madura yang melarikan diri, ke arah utara serta timur, ke tempat asal raja Madura.

        Namun, bagaimanapun asal-usulnya, yang jelas patung Ganesha itu sekarang dihuni oleh demit. Patung itu pernah dipindahkan ke Bragang, kurang lebih 24 kilometer jauhnya, tetapi ia kembali dengan kekuatannya sendiri. Pada sebuah kejadian lain, seorang kontrolir Belanda (pejabat Eropa paling bawah dalam birokrasi kolonial) yang ditugaskan di Mojokuto memukul patung Ganesha itu—tentu untuk menghina alat peribadatan para penyembah berhala—tetapi satu minggu kemudian, ia meninggal dengan leher patah. Dan dalam jangka waktu satu tahun, semua keluarganya menyusul ke alam baka.

        Kalau seseorang menginginkan Mbah Buda mengabulkan hajatnya, ia harus pergi ke tempat keramat itu—sekalipun beberapa mengatakan bahwa orang bisa melakukannya di rumah—meminta pengampunan serta maaf dari demit itu dan beijanji akan mengadakan slametan untuk menghormati demit itu apabila permohonannya dikabulkan.

      Apa yang sangat penting bagi keberhasilan permohonan itu adalah mengharap dengan sungguh-sungguh, memohon dengan pikiran tunggal dan tak tergoyahkan serta tidak memikirkan hal lain sampai permohonannya dikabulkan.

    Seorang pemohon membandingkannya dengan tangisan anak kecil yang menginginkan sesuatu: “Tetapi Anda tidak menangis di luar, Anda menangis di dalam, di hati Anda; Anda hams betul-betul menginginkannya seolah-olah Anda akan mati kalau permohonan Anda tidak dipenuhi; kalau keinginan Anda begitu kuat dan begitu lama, maka hampir dapat dipastikan keinginan Anda itu akan terpenuhi”.

    Yang biasa diinginkan orang adalah pulihnya kesehatan dirinya atau keluarganya, atau mungkin untuk menemukan sebuah benda yang hilang atau meminta keselamatan seseorang dalam perjalanan yang memakan waktu lama. Ada perbedaan pendapat tentang bisa tidaknya orang mengharapkan hal-hal seperti menang judi, meminta gong baru untuk orkes gamelannya, atau agar cintanya pada isteri orang lain kesampaian.

        Beberapa orang berpendapat bahwa Mbah Buda hanya mempertimbangkan permohonan yang serius; tetapi jelas orang terkadang meminta berkah yang agak kurang mulia;

        

        Sumber : Buku AGAMA JAWA : Abangan, Santri, Priyayi, Dalam Kebudayaan Jawa Karya                                     CLIFORD GEERTZ


MELETUSNYA GUNUNG SEMERU!! ISI PERJANJIAN SYEKH SUBAKIR!! SABDO PALON NAGIH JANJI AKHIR TAHUN 2021

       

        Fenomena alam, fenomena sosial yang terjadi di nusantara tidak bisa dilepaskan terhadap kisah-kisah masa lalu yang biasanya di kaitkan dengan fenomena yang terjadi pada saat ini. Kita tidak bisa pungkiri bahwa sebagian cerita itu ada yang cocok dengan kondisi pada zaman modern ini. Akhlak yang dahulu terjaga sekarang mulai memudar karena pengaruh budaya asing yang merusak generasi muda kita, kebebasan yang tidak terkontrol, wabah penyakit dan bencana yang bertubi-tubi menguji kita. Dari kecelakaan pesawat pada awal tahun 2021, wabah covid19, banjir, gempa bumi, tanah longsor, bahkan akhir tahun ini kita dikejutkan dengan meletusnya gunung semeru. Bencana-bencana tersebut sudah meregut korban yang tidak sedikit, kita doakan semoga yang meninggal terutama kerena sakit dan bencana ditempatkan di tempat terbaik disisi Tuhan.  

Jika kita mengingat tentang kisah yang penuh dengan filsafat ajaran moral dan toleransi, kita pasti teringat tentang kisah Syekh Subakir dan Sabdo Palon yang sudah sangat mahsyur tersebut. Dari kisah ini bisa kita ambil pelajaran berharga tentang musyawarah yang terjadi antara Ulama penyebar Agama Islam dan tokoh yang dianggap mempresentasikan penguasa atau penjaga tanah jawa yang berusaha mempertahankan adat, budaya dan agama yang terlebih dahulu ada di tanah Jawa. Dalam kisah itu diceritakan bagaimana Sabdo Palon sang penjaga tanah jawa memberikan kesempatan kepada Syekh Subakir untuk menyebarkan ajaran Islam, tetapi dengan syarat yang harus dipatuhi. 

Jika syarat tersebut tidak dipatuhi Sabdo Palon mengancam akan membuat goro-goro di masa yang akan datang, dan ternyata banyak masyarakat terutama orang Jawa yang mempercayai semua fenomena buruk yang terjadi tersebut adalah tanda bahwa janji Sabdo Palon akan segera terjadi, masyarakat jawa mengenalnya dengan Sabdo Palon Nagih Janji. 

Di antara ragam Serat Jangka Jayabaya, salah satu versinya bercerita tentang Syekh Subakir dan perannya dalam membangun peradaban bangsa manusia di Pulau Jawa. Hikayat syekh Subakir ini juga tersebut dalam tulisan lontar kuno yang diperkirakan ditulis oleh Kanjeng Sunan Drajad atau setidak-tidaknya oleh murid atau pengikut beliau.   

           Syekh Subakir adalah seorang ulama yang berasal dari Persia. Beliau adalah generasi awal Wali Songo, penyebar Islam di tanah Jawa. Beliau dianggap sebagai orang yang paling berjasa dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa ini. Diriwayatkan bahwa proses islamisasi di Jawa mengalami hambatan, disebakan kuatnya orang Jawa dalam memegang kepercayaan lama. Syaikh Subakir datang ke tanah Jawa bersama wali sanga generasi awal, setelah diperintahkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Istanbul, Turki. Kesembilan ulama ini mempunyai spesifikasi keahlian masing-masing. Ada yang ahli tata negara, ahli pengobatan, ahli tumbal, dan lain-lain. Wali Sembilan ini dibagi menjadi 3 kelompok dan di tempatkan pada tiga tempat, yakni di bagian barat, tengah dan timur tanah Jawa.  

           Konon, hambatan penyebaran Islam di Jawa pada masa sebelumnya, disebabkan oleh keberadaan bangsa jin yang menempati setiap sudut tanah jawa. Bangsa Jin ini dipimpin oleh Sabdo Palon atau Kyai Semar, yang bersemayam di puncak Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah.

         Syekh Subakir yang ahli dalam ilmu batin (baca: sakti) segera melakukan pembersihan, dengan menancapkan tumbal yang berupa batu hitam di puncak gunung Tidar. Seluruh Jawa bergolak, seluruh bangsa jin yang menguasi jawa merasakan kepanasan yang teramat sangat, hingga mereka lari tunggang langgang menyeberang ke lautan atau menepi ke sudut terpencil tanah Jawa. Sebagian jin yang lain ada yang harus mati akibat hawa panas dari tumbal yang dipasang Syekh Subakir. Karena itulah, Gunung Tidar dipercayai sebagai Pakunya Tanah Jawa.  

          Melihat hal itu, Sabdo Palon yang telah 9000 tahun bersemayam di puncak Tidar keluar dalam bentuk manusia, berdiri di hadapan Syekh Subakir. Setelah terjadi perdebatan mereka segera adu kesaktian. Konon petempuran antara keduanya selama 40 hari 40 malam, hingga Sabdo Palon merasa kewalahan dan menawarkan gencatan senjata. Sabdo Palon mensyaratkan beberapa point dalam upaya penyebaran Islam di Jawa. Syarat-syarat itupun disetujui Syekh Subakir.



Berikut ini adalah dialog antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir yang terjadi di atas Gunung Tidar yang kami sajikan dalam bentuk imajiner.

 Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.

Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala) Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala. Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu dikenal sebagai Ki Lurah Semar Bodronoyo dan sekarang jaman Majapahit ini namaku dikenal sebagai Sabdopalon.

Syeh Subakir : Oh, berarti Kisanak ini adalah Danyang (Penguasa) Tanah Jawa ini. Perkenalkan Kisanak, namaku adalah Syeh Subakir berasal dari Tanah Syam Persia.

Sabdopalon : Ada hajad apa gerangan Jengandiko (Anda) rawuh (datang) di Tanah Jawa ini ?

Syeh Subakir : Saya diutus oleh Sultan Muhammad yang bertahta di Negeri Istambul untuk datang ke Tanah Jawa ini. Saya tiadalah datang sendiri. Kami datang dengan beberapa kawan yang sama-sama diutus oleh Baginda Sultan.

Sabdopalon : Ceritakanlah selengkapnya Kisanak. Supaya aku tahu duduk permasalahannya.

Syeh Subakir : Baiklah. Pada suatu malam Baginda Sultan Muhammad bermimpi menerima wisik (ilham). Wisik dari Hyang Akaryo Jagad, Gusti Allah Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Luhur. Diperintahkan untuk mengutus beberapa orang ‘alim ke Tanah Jawa ini. Yang dimaksud orang ‘alim ini adalah sebangsa pendita, brahmana dan resi di Tanah Hindu. Pada bahasa kami disebut ‘Ulama.

Sabdopalon : Jadi Jengandiko ini termasuk ngulama itu tadi ?

Syeh Subakir : Ya, saya salah satu dari utusan yang dikirim Baginda Sultan. Adapun tujuan kami dikirim kemari adalah untuk menyebarkan wewarah suci (ajaran suci), amedar agama suci. Yaitu Islam.

Sabdopalon : Bukankah Kisanak tahu bahwa di Tanah Jawa ini sudah ada agama yang berkembang yaitu Hindu dan Buda yang berasal dari Tanah Hindu ? Buat apa lagi Kisanak menambah dengan agama yang baru lagi ?

 Syeh Subakir : Biarkan kawulo dasih (rakyat) yang memilih keyakinannya sendiri. Bukuankah Kisanak sendiri sebagai Danyangnya Tanah Jawa lebih paham bahwa sebelum agama Hindu dan Budha masuk ke Jawa ini, disinipun sudah ada kapitayan (kepercayaan) ? Kapitayan atau ‘ajaran’ asli Tanah Jawa yang berupa ajaran Budhi ?

Sabdopalon : Ya, rupanya Kisanak sudah menyelidiki kawulo Jowo disini. Memang disini sejak jaman sebelum ada agama Hindu dan Budha, sudah ada ‘kapitayan’ asli. Kapitayan adalah kepercayaan yang hidup dan berkembang pada anak cucu di Nusantara ini.

Syeh Subakir : Jika berkenan, tolong ceritakan bagaimana kapitayan yang ada di Tanah Jawa ini.

Sabdopalon : Secara ringkas Kepercayaan Jawa begini. Manusia Jawa sejak dari jaman para leluhur dahulu kala meyakini ada Sang Maha Kuasa yang bersifat ‘tan keno kinoyo ngopo’, tidak bisa digambarkan bagaimana keadaannya. Dialah pencipta segala-galanya. Bawono Agung dan Bawono Alit. Jagad besar dan jagad kecil. Alam semesta dan ‘alam manusia’. Wong Jowo meyakini bahwa Dia Yang Maha Kuasa ini dekat. Juga dekat dengan manusia. Dia juga diyakini berperilaku sangat welas asih.

Dia juga diyakini meliputi segala sesuatu yang ada. Karena itu masyarakat Jawa sangat menghormati alam sekelilingnya. Karena bagi mereka semuanya mempunyai sukma. Sukma ini adalah sebagai ‘wakil’ dari Dia Yang Maha Kuasa itu.

Jika masyarakat Jawa melakukan pemujaan kepada Sang Pencipta, mereka lambangkan dengan tempat yang suwung. Suwung itu kosong namun sejatinya bukan kosong namun berisi SANG MAHA ADA. Karena itu tempat pemujaan orang Jawa disebut Sanggar Pamujan. Di salah satu bagiannya dibuatlah sentong kosong (tempat atau kamar kosong) untuk arah pemujaan. Karena diyakini bahwa dimana ada tempat suwung disitu ada Yang Maha Berkuasa.

Syeh Subakir : Nah itulah juga yang menjadi ajaran agama yang kami bawa. Untuk memberi ageman (pegangan atau pakaian) yang menegaskan itu semua. Bahwa sejatinya dibalik semua yang maujud ini ada Sang Wujud Tunggal yang menjadi Pencipta, Pengatur dan Pengayom alam semesta. Wujud tunggal ini dalam bahasa Arab disebut Al Ahad. Dia maha dekat kepada manusia, bahkan lebih dekat Dia daripada urat leher manusianya sendiri. Ajaran agama kami menekankan budi pekerti yang agung yaitu menebarkan welas asih kepada alam gumebyar, kepada sesama sesama titah atau makhluk.

Lihatlah Sang Danyang, betapa sudah rusaknya tatanan masyarakat Majapahit sekarang. Bekas-bekas perang saudara masih membara. Rakyat kelaparan. Perampokan dan penindasan ada dimana-mana. Ini harus diperbaharui budi pekertinya.

Sabdopalon : Aku juga sedih sebenarnya memikirkan rakyatku. Tatanan sudah bubrah. Para pejabat negara sudah lupa akan dharmanya. Mereka salin sikut untuk merebutkan jabatan dan kemewahan duniawi. Para pandito juga sudah tak mampu berbuat banyak. Orang kecil salang tunjang (bersusah payah) mencari pegangan. Jaman benar-benar jaman edan.

Syeh Subakir : Karena itulah mungkin Sang Maha Jawata Agung menyuruh Sultan Muhammad Turki untuk mengutus kami ke sini. Jadi, wahai Sang Danyang Tanah Jawa, ijinkanlah kami menebarkan wewarah suci ini di wewengkon (wilayah) kekuasaanmu ini.

 Sabdopalon : Baiklah jika begitu. Tapi dengan syarat -syarat yang harus kalian patuhi.

 Syeh Subakir : Apa syaratnya itu wahai Sang Danyang Tanah Jawa ?

 Sabdopalon : Pertama, Jangan ada pemaksaan agama, dharma atau kepercayaan. Kedua, Jika hendak membuat bangunan tempat pemujaan atau ngibadah, buatlah yang wangun (bangunan) luarnya nampak cakrak (gaya) Hindu Jawa walau isi dalamannya Islam. Ketiga, jika mendirikan kerajaan Islam maka Ratu yang pertama harus dari anak campuran. Maksud campuran adalah jika bapaknya Hindu maka ibunya Islam. Jika bapaknya Islam maka ibunya harus Hindu. Keempat, jangan jadikan Wong Jowo berubah menjadi orang Arab atau Parsi. Biarkan mereka tetap menjadi orang Jawa dengan kebudayaan Jawa walau agamanya Islam. Karena agama setahu saya adalah dharma, yaitu lelaku hidup atau budi pekerti. Hati-hati jika sampai Orang Jawa hilang Jawanya, hilang kepribadiannya, hilang budi pekertinya yang adiluhung maka aku akan datang lagi. Ingat itu. Lima ratus tahun lagi jika syarat - syarat ini kau abaikan aku akan muncul membuat goro-goro.

 Syeh Subakir : Baiklah. Syarat pertama sampai keempat aku setujui. Namun khusus syarat keempat, betapapun aku dengan kawan-kawan akan tetap menghormati dan melestarikan budaya Jawa yang adiluhung ini. Namu jika suatu saat kelak karena perkembangan jaman dan ada perubahan maka tentu itu bukan dalam kuasaku lagi. Biarlah Gusti Kang Akaryo Jagad yang menentukannya.

Itulah dialog yang terjadi antara Syekh Subakir dan Sabda Palon, artikel ini jangan kita telan mentah-mentah, akan tetapi ada hikmah dan pesan yang dapat kita ambil dari dialog tersebut, bahwa penyebaran agama Islam tidak pernah di lakukan dengan paksaan di tanah Jawa, serta tidak membuang adat dan kebudayaan yang telah ada dan di jalankan oleh masyarakat jawa, asal tidak bertentangan dengan agama.  Mungkin karena dialog ini para ulama menyebarkan agama Islam dengan kearifan lokal sehingga agama Islam dapat di terima oleh masyarakat jawa dan menjadi agama mayoritas yang di anut oleh orang Jawa.

Yang sangat jelas bahwa kisah tersebut mengandung filsafat yang sangat luar biasa dan sangat relevan sampai saat ini, bahwa penyebaran agama tidak boleh dengan paksaan, menyaring segala bentuk faham, ideologi, budaya luar yang masuk ke tanah Jawa agar orang jawa tidak hilang jawanya, yang akan terus mempertahankan adat dan tradisi sampai kapanpun.



Kamis, 02 Desember 2021

AWAL MULA MITOS LARANGAN MENIKAH JAWA DAN SUNDA!!!

        


        Pernahkah kalian mendengar bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya? Ternyata hal itu hingga ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa sebabnya?

        Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitos tersebut.  Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larang perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.

        Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara. Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.

        Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.  Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

        Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

            Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.

    Sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertemakan; 'Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah' di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng mengatakan, "Soal pernikahan itu, teori saya tentang Gajah Mada, Gajah Mada tidak bersalah. Gajah Mada hanya melaksanakan titah sang raja. Gajah Mada hendak menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Ingin sekali untuk menyatukan antara Raja Sunda dan Raja Jawa lalu bergabung. Indah sekali".

      Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

        Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.

        Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.


        Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

        Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.

        Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

        Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki 'Prabu Wangi' (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

      Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama 'Gajah Mada' atau 'Majapahit'. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.

        Kisah itu kemudian dipercaya secara turun-temurun dan menjadi penyebab memburuknya hubungan antara suku Jawa dan Sunda. Meski tak sedikit yang menganggapnya hanya mitos atau cerita yang tidak sesuai degan fakta, cerita ini dipercaya sebagai awal mula larangan menikah antar suku Jawa dan Sunda.
        Namun adanya larangan pernikahan Jawa dan Sunda ternyata bukan cuma persoalan historis dan tradisi belaka tapi juga telah bergeser menjadi sebuah stereotip. Stereotip menurut KBBI memliki arti konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Hingga saat ini masih banyak orang yang mempercayai larangan Suku Sunda untuk menikah dengan Suku Jawa.

        Larangan menikah antara kedua suku itu dipercayai bahwa nantinya hubungan pernikahan antar Suku Sunda dan dan Suku Jawa tidak akan bahagia. Di beberapa kalangan masyarakat, larangan menikah antar Suku Sunda dengan Suku Jawa masih sangatlah kental, bahkan menjadi sesuatu yang tabu. Tak jarang, beberapa pasangan dengan terpaksa harus membatalkan pernikahanya, hanya karena tetua atau sepuh dalam keluarga tidak bisa merestui hubungan antar suku Sunda dengan Jawa tersebut.

        Namun benarkah Larangan menikah bagi Suku Sunda dengan Suku Jawa bisa menyebabkan tidak bahagia dan berujung kegagalan dalam berumah tangga. Konon, jika ada dua orang antara Suku Sunda dengan Suku Jawa menikah, kehidupan mereka tidak akan bahagia dan sering diterpa masalah dan berujung kegagalan dalam berumah tangga.

        Larangan Suku Sunda dan Suku Jawa masih banyak diperbincangkan dan dipercayai, namun hal itu hanyalah mitos semata. Apalagi kini juga banyak pasangan dari suku Jawa dan Sunda yang tetap bisa hidup bahagia dan langgeng, buktinya silahkan lihat sekeliling kalian pasti ada pernikahan antara orang jawa dan sunda. Asalkan sama-sama saling cinta mengapa harus berpisah, menikah dan berumah tangga membangun keluarga dan saling menjaga. Semoga Artikel kali ini ada manfaatnya untuk kita.

Argha Sena