Sabtu, 31 Juli 2021

WORLD HISTORY #002: BANGSA-BANGSA TIMUR DEKAT (NEAR EAST)

 

Kehidupan Mesir Kuno di Sungai Nil

        Lembah Nil sepertinya telah di huni di periode sangat kuno oleh manusia Neolitikum di tahap kebudayaan barbarian.  Mereka membuat peralatan indah dari batu api yang dipoles, gerabah dengan berbagai bentuk membuat batu bata,  berlayar dengan perahu di dungai Nil, memelihara sejumlah binatang bermanfaat seperti sapi, keledai, kambing dan mengolah tanah.  Pada masa itu, mereka melebur tembaga dan menulis tanda-tanda phonetic, Metalurgi dan tulisan bunyi muncul di Mesir lebih awal dari pada di tempat lainnya di dunia.  Seperti bangsa bar-bar lainnya, orang Mesir Neolitikum pada awalnya pasti hidup sebagai suku-suku terpisah, di bawah kekuasaan pimpinan.  Saat peradaban berlanjut, organisasi suku membentuk sebuah negara kota, yaitu komunitas kecil dan independent, masing-masing berpusat pada kota besar dan kota kecil, negara-negara kota menjelang 4000 S.M.  telah bersatu menjadi dua kerajaan, satu di delta, yang lainnya di Upper Egypt.  Semua kemajuan ini berlangsung sebelum di mulainya era sejarah.

       Orang-orang Mesir menyimpan catatan-catatan tertulis sekitar 3000 S.M.  Masa ini bertepatan sangat dekat dengan waktu penyatuan upper Egypt dengan Lower Egypt menjadi sebuah negara nasional, di bawah seorang penguasa bernama Menes.  Ia adalah pendiri dari deretan panjang para raja, atau firaun atau "pharaoh" (sebagaimana mereka di sebut di dalam injil), yang selama hampir tiga ribu tahun memegang kekuasaan atas Mesir.

        Studi peta menunjukan bahwa Mesir terletak di wilayah terisolasi, yang dilindungi oleh padang pasir di setiap sisinya.  Di bagian utara, Mesir di lindungi oleh laut maditerania dan di sebelah selatan di lindungi oleh arus deras sungai Nil.  Terlindungi dari jalan masuk bangsa-bangsa asing, Mesir mengalami kemajuan dalam kedamaian selama berabad-abad.  Namun demikian, sekitar 1800 S.M. Mesir berada di bawah kekuasaan suku-suku semit barbar, bernama Hyksos, yang masuk mesir melalui suez.  Setelah berhasil menyerbu para penyerbu ini, bangsa Mesir sendiri melakukan penaklukan atas bangsa lain.  Para firaun membangun Angkatan  Bersenjata yang kuat untuk menginvasi palestina, Phoenicia, dan Syria, dan memperluas kekuasaan mereka hingga Eufrats.  Bahkan kepulauan Siprus dan Kreta, menjadi sangat bergantung pada Mesir.  Wilayah-wilayah yang di taklukkan membayar upeti besar berupa logam mulia dan barang dagangan, sementara ribuan tawanan perang dijadikan buruh paksa dipekerjakan oleh Ramses II dan para firaun lainnya untuk membangun monumen-monumen besar di setiap wilayah kekuasaan mereka.  Namun demikian, secara perlahan Mesir mengalami penurunan energi untuk berperang wilayah-wilayah kekuasaan Mesir di Asia melepaskan diri, dan Mesir sendiri di abad enam sebelum masehi menjadi bagian dari Kekaisaran Persia.  Orang-orang Mesir tetap berada di bawah penguasa asing dari saat itu hingga saat ini.

Lukisan Mesir Kuno

        Lembah Tigris-Eufrat, tidak seperti lembah Nil, tidak terisolasi.  terbuka di pegunungan dan padang rumput yang luas.  Lembah ini adalah rumah bagi bangsa-bangsa pemburu dan penggembala.  Migrasi mereka kedaratan subur yang di lalui dua sungai ini membentuk ciri konstan sejarah Babylonia.  Penghuni paling awal ‘’dataran Shinar’’ ini adalah bangsa Sumeria.  Mereka masuk ke lembah ini  melalui terusan di pegunungaan timur dan utara, sekitar empat ratus tahun sebelum Kristus.  Mereka secara bertahab menetap dangan menjalani kehidupan agricultural, dan membentuk sejumlah negara kota independent, masing-masing dengan raja dan dewa panutannya sendiri.  Setelah bangsa Sumeria, masuklah bangsa-bangsa yang berbicara Bahasa Semit dari Arabia utara.  Di bawah pimpinan Bernama Sargon sekitar 2800 S.M. Bangsa Semit menundukan Sumeria dan mulai mengadopsi peradaban mereka.  Sargon menyatukan semua negara-kota Sumeria.  Ia juga menaklukan wilayah-wilayah hingga jauh ke barat di syria dan menguasai wilayah-wilayah di mediterania.  Sesungguhnya, Sargon adalah penakluk pertama di dunia.  Beberapa abad kemudian penguasa Semit besar lainnya, Hammurabi (sekitar2100 S.M), menjadikan kota tempat tinggalnya, Babylon, yang sebelumnya merupakan kota yang tidak jelas dan tidak penting, menjadi ibu kota yang di namakan kerajaan Babylonia.

        Wilayah antara Maditerania dan padang pasir Arabia terdiri tiga negara kecil yaitu Syria, Phoenicia, dan palestina.  Dilihat dari letaknya, ketiga negara ini menjadi jalur utama di Timur Dekat, dan rute-rute caravan yang menghubungkan Nil dan Eufrat melalui ketiga negara ini.  Penduduk ketiga negara ini berbicara Bahasa semit dan mungkin berasal dari Arabia utara.  Mereka di kenal sebagai Aramaean atau Syrian, Phoenicia, dan Yahudi.  Tidak seorangpun dari bangsa-bangsa ini pernah memainkan peran penting dalam sejarah Oriental, tetapi masing-masing memberikan kontribusi penting bagi peradaban Oriental.  Orang-orang Aramaean adalah pedagang yang hebat, yang membeli dan menjual di seluruh Asia Barat.  Bahasa Aramaean dengan cara ini bisa tersebar luas dan pada akhirnya menggantikan Bahasa Ibrani sebagai Bahasa umum di Palestina.  Beberapa bagian perjanjian lama ditulis dalam Bahasa Aramaic.  Pusat utama bangsa Aramaean adalah kota Damaskus, salah satu kota tertua di dunia dan masih menjadi tempat yang berkembang.

          Bangsa Phoenician menempati wilayah sempit di sepanjang pantai dengan panjang seratus dua puluh mil dan lebar sekitar dua belas mil, di antara pegunungan Lebanon dan laut.  Daratan kecil ini tidak mampu menampung populasi besar untuk bertani, maka bangsa Phoenicia menjadi bangsa pelaut.  Mereka menggunakan kayu cedar Lebanon yang lunak dan putih. Sebagian bahan untuk membuat perahu, dan mereka meniru perahu-perahu Mesir yang pernah memasuki Pelabuhan mereka sebagai contoh untuk membuat perahu mereka.  Kota-kota besar di Phoenicia seperti Sidon dan Tyre menjadi pusat perdagangan di seluruh Mediterania.

        Bangsa Yahudi tinggal di selatan Aramaean dan Phoenicia.  Sejarah Yahudi di mulai dengan imigrasi dua belas suku Bernama Israelites ke Palestina.  Disini mereka berhenti menjalani kehidupan sebagai penggembala dan menjadi petani dan orang kota.  Dua belas suku ini pada mulanya hanya membentuk konfederasi lepas dan lemah.  Otoritas tunggal di pegang oleh para kepala suku dan pemberi hukum seperti Samson, Gideon, Dan Samuel, yang bertindak sebagai hakim di antara rakyat dan sering membimbing rakyat melawan musuh.

Ilustrasi Bangsa Yahudi Saat Menyebrangi Laut Merah

        Menjelang akhir abad kesebelas S.M., suku-suku Yahudi bersatu membentuk kerajaan, di bawah penguasa bernama Saul.  Kekuasaannya di warnai dengan peperangan melawan philistine yang menguasai pantai barat daya palestina.   David, pengganti Saul, menggulingkan kekuasaan Philistine.  Untuk ibu kota David memilih benteng kuno Jerusalem, yang kemudian menjadi pusat kehidupan bangsa Yahudi.  Kekuasaan anak David, Solomon sekitar tahun 955-925 S.M., pembentuk periode paling gemilang dalam sejarah Yahudi.  Kekuasaan Solomon membentang mulai dari semenanjung Sinai di utara hingga pegunungan Lebanon dan Eufrats.  Ia menikah  dengan seorang puteri Mesir, anak dari firaun yang berkuasa.  Solomon bergabung dengan Hiram, raja Tyre, dalam ekspedisi perdagangan di laut merah dan samudera Hindia.  Monarki yang sama menyuplainya dengan pekerja Phoenicia yang terampil, yang membangun sebuah kuil yang sangat indah di Jerusalem untuk ibadah Jehovah.

        Setelah kematian Solomon, sepuluh suku utara mendirikan sebuah kerajaan Israel yang independen, dengan ibu kota Samaria.  Dua suku selatan, Judah dan Benjamin, membentuk kerajaan Judea dan mempertahankan kesetiaannya pada suksesor atau penerus Solomon.  Negara-negara kecil ini menjalani eksistensi bermasah selama berabad-abad.  Bangsa Assyria akhirnya menaklukkan Israel, Babylonia dan Judea.  Kedua negara ini akhirnya di masukan ke dalam Kekaisaran Persia.

        Assyria terletak di sebelah utara Babylonia dan sisi sungai Tigris.  Penduduk Assyria berbicara Bahasa Semit seperti bangsa Babylonia.  Kota utama mereka pada awalnya  adalah Assur, dan setelah itu adalah kota Nineveh yang lebih besar dan bagus.  Mereka adalah orang-orang yang kasar, keras dan sangat suka berburu dan berperang.  Setelah mengadopsi kuda dan kereta militer, dan kemudian senjata besi, bangsa Assryia memulai serangkaian penaklukan.  Kekuatan mereka sampai puncaknya selama abad ke delapan dan tujuh sebelum masehi.  Raja-raja yang kemudian memerintah di Nineveh memperluas dominasinya dari laut hitam dan Kaspia hingga Teluk Persia, laut Merah dan Nil.  Salah satu monarki terbesar di Assyria adalah Sennacherib (706-681 S.M.), yang Namanya familiar dari referensi-referensi tentang dirinya di Perjanjian lama.

       Kekuatan besar negara Assyria bisa menyatukan Assyria.  Karena itu, Ketika Assryia mengalami penurunan kekuatan, negara-negara jajahan mulai beraksi untuk memperoleh kemerdekaan.  Badai besar terjadi di tahun 606 S.M.  Di tahun tersebut raja Babylonia dan raja Mendes dan bangsa Persia bergerak ke Nineveh, dan menguasai kota, dan kemudian menghancurkannya.

Bangsa Persia Melakukan Invasi

        Para pemenang ini kemudian membagi wilayah kekuasaannya.  Bangsa Media menguasai Sebagian besar Assryia, dan deretan panjang pegunungan yang membentangi dari teluk Persia hingga Asia kecil.  Babylonia memperoleh wilayah di bagian barat kekuasaan Assyria, dan semua wilayah hingga ke Mediterania.  Di bawah Nebuchadenezzar (604-561 S.M.), Babylonia lagi menjadi kekuatan besar di wilayah Oriental.  Nebuchadnezzar adalah penguasa yang mengakhiri kerajaan Judea, menguasai Jerusalem, membakar kuil Solomon, dan menawan merupakan cerita mengerikan tentang kota-kota yang dibakar, tentang penghancuran wilayah-wilayah subur, tentang pembantaian pria, wanita, dan anak-anak, tentang perbudakan seluruh populasi.  Umat manusia saat itu telah melewati karakteristik liar dan barbar yang ditandai dengan perampokan kecil, pembunuhan, dan perselisihan perbatasan menuju perang yang terorganisir, dimana negara melawan negara dan bangsa melawan bangsa.  Sungguh, perdamain menjadi sangat langka di Oriental kuno.  Akibatnya, tidak ada yang namanya hukum internasional mengatur hubungan satu komunitas dengan komunitas lainnya dan tidak ada konsepsi kerja sama internasional untuk kesejahteraan manusia.  Setiap komunitas mementingkan dirinya sendiri, jika bisa, satu komunitas menaklukkan komunitas lainnya.  Namun demikian bangsa-bangsa Oriental membuat banyak kemajuan dalam bidang sosial dan ekonomi, hukum dan moralitas, agama, kesusasteraan, seni, sains, dan bidang-bidang lainnya selama tiga puluh tahun abad pertama sejarah yang tercatat.

Penulis : Ela N.H.
Editor  : Argha Sena
Sumber : World History Sejarah Dunia Lengkap Karya HUTTON WEBSTER, PHD

Kamis, 29 Juli 2021

WORLD HISTORY #001: DARATAN DI TIMUR DEKAT INILAH WILAYAHNYA

    Sejarah dunia sangat menarik untuk kita bahas sebagai bahan pengetahuan yang dapat menambah wawasan kita. Sejarah menggambarkan peristiwa masa lalu yang dapat kita gunakan sebagai pelajaran berharga di masa sekarang. Peradaban-peradaban maju pada masa lalu telah banyak dikaji dan diteliti oleh para ilmuwan untuk dapat menarik benang merah agar semua menjadi jelas. Dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang "Daratan Timur di Dekat," area mana saja yang masuk dalam wilayah tersebut dan peradabannya seperti apa. Langsung saja kita paparkan dalam materi berikut ini. 

    Oriental kuno meliputi Asia dan sebagaian Afrika, yaitu Mesir yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari Asia.  Studi kita tentang sejarah Oriental mungkin menghilangkan pertimbangan tentang Timur Jauh.  Lautan luas, deretan pegunungan yang Panjang, dan padang pasir memisahkan India, China, Indo-China, dan Jepang dari wilayah lain Asia.  Sungguh, India tidak sepenuhnya terisolasi di jaman kuno, karena bagian barat laut India pertama kali dilakukan oleh Persia dan kemudian oleh bangsa Yunani.  Bahkan setelah akhir pemerintahan ASING, India tetap menjadi negara penting melalui perdagangan batu permata, gading, kayu-kayu berkualitas tinggi, dan kapas.  China selama masa kuno juga telah melakukan perdagangan asing dan di kenal sebagai Daratan Sutera (serica), dimana barang-barang yang terbuat dari sutera biasa sampai kepasar-pasar di Asia barat dan Eropa.  Tetapi tidak sampai hingga abad ke Sembilan belasa era kita bahwa Timur Dekat (Near East) muncul dari siklusi yang sangat lama dan mulai  berperan aktif Dalam urusan dunia.

       Perbatasan-perbatasan di Timur Dekat adalah Laut Hitam dan Laut Kaspia di utara, Laut Merah, Teluk Persia, dan Samudra Hindia di barat. Bagian Asia ini secara mendasar terdiri dari tiga sabuk vegetasi, yang terentang melintasi seluruh benua.  Pertama adalah hutan-hutan di distrik-distrik pegunungan di Asia Kecil, Armenia dan Iran (Persia).  Selanjutnya adalah padang rumput , yang meliputi Sebagian besar daratan tinggi Asia Kecil, Iran, dan Arabia.  Terakhir, Ketika curah hujan berkurang, padang rumput menjadi lebih dan lebih kering dan masuk ke wilayah semi-padang pasir dan padang pasir.  Seperti padang pasir di Syria dan Arabia Dalam.  Sabuk hutan menjadi tempat hidup bagi para pemburu.  Padang rumput menjadi tempat suku-suku nomad dan penggembala.  Sementara untuk padang pasir, tempat yang bisa di huni hanya di wilayah oasis.  Tidak ada tempat yang bisa dihuni dan kehidupan agrikultural tidak bisa mereka lakukan kecuali dimana mereka mendapatkan jaminan pasokan air.  Memperoleh jaminan ini di lembah-lembah Tigris Eufrat dan Nil.      


    Dua sungai terkenal muncul di pegunungan Armenia sungai Tigris dan sungai Eufrat.  Mengalir ke selatan, kedua sungai ini saling mendekat satu sama lain untuk membentuk sebuah lembah, berlanjut Dalam saluran paralel untuk wilayah yang lebih luas yang mereka lewati, dan hanya menyatu dalam jarak pendek sebelum sampai ke teluk Persia.  Pada jaman dahulu masing-masing sungai memiliki mulut sungai sendiri.  Tanah yang dibawa aliran sungai Tigris dan Eufrat menumpuk di Teluk Persia dengan membentuk daratan seluas tiga mil setiap seratus tahun.  Karena itu delta ini jauh sedikit ekstensif lima atau enam ribu tahun yang lalu dari pada saat ini.

       Delta ini membentuk sebuah daratan dengan panjang sekitar seratus tujuh puluh mil dan lebar empat puluh mil.  Dalam perjanjian lama, delta ini di namakan daratan Shinar (Land of Shinar).  Kita mengenalnya dengan lebih baik sebagai Babylonia, meniru nama Babylon, yang menjadi kota utama dan ibu kota.

        Daratan Babylonia dulu sangat subur.  Tanah alluvia, Ketika mendapat cukup air, bisa menghasilkan panen gandum, barley, dan millet yang melimpah.  Buah dari pohon kurma menyediakan makanan yang bergizi.  Walaupun tidak ada batu, tanah liat ada di mana-mana.  Dicetak menjadi batu bata dan setelah itu dikeringkan di bawah cahaya mata hari, tanah liat ini menjadi semacam batako,  bahan bangunan paling murah yang bisa di bayangkan.  Sungguh, alam telah memberi banyak keuntungan bagi Babylonia.  Karena itu, kita bisa memahami mengapa dari jaman prasejarah berbagai bangsa telah tertarik dengan wilayah ini, dan mengapa di sini kita menemukan dasar peradaban awal.

      Sungai Nil adalah suangai terpanjang di Afrika.  Nil Putih terbentuk di danau-danau Nyanza, mengalir ke utara, dan mendapat air dari Nil Biru dekst kota modern Khatum.  Dari titik ini, aliran sungai terpecah menjadi lima aliran deras sungai berbatu, yang secara salah dinamakan cataracts (air terjun yang terjal sekali), yang bisa di lintasi dengan perahu.  Cataracts berhenti di dekat kepulauan Philae, dan membentuk Mesir Atas ( Uper Egypt).  Uper Egypt adalah sebuah lembah dengan panjang lima ratus mil dan lebar tiga puluh mil.  Garis tanah yang bisa diolah disetiap sisi sungai rata-rata lebarnya hanya delapan mil.  Tidak jauh dari kaki kota modern Kairo, perbukitan mengelilingi lembah, Nil terbagi menjadi beberapa cabang, dan membentuk delta Lower Egypt (Mesir Bawah).  Arus sungai yang yang lamban melewati wilayah berawa-rawa, dan akhirnya tiga sungai besar berakhir di laut Mediteriania.

     Mesir sangat bergantung pada keberadaan sungai Nil. Semua lower Egypt merupakan hasil bentukan sungai melalui akumulasi sedimen di mulut sungai.  Uper Egypt berbentuk dari pasir padang pasir dan lapisan bebatuan melalui proses erosi selama berabad-abad.  Dahulu sungai Nil mengisi semua tempat antara perbukitan yang membatasi sisi-sisinya.   Sekarang sungai Nil mengalir mulai lapisan tebal lumpur yang telah terkumpul melalui penggenangan tahunan.

       Di Mesir, seperti Babylonia, setiap kondisi menjadi mudah bagi orang-orang untuk tinggal dan berkembang.  Tanah Mesir, mungkin tanah tersubur di dunia, menghasilkan panen tiga kali Dalam setahun.  Tanaman kurma yang mengagumkan adalah tanaman asli mesir.  Tanah liat lembah dan bebatuan dari pegunungan terdekat menyediakan bahan bangunan.  Iklim panas dan kering membuat penduduk Mesir bisa hidup dengan sedikit tempat tinggal dan pakaian.  Nil menjadi jalur perdagangan domestic.  Hal-hal yang menguntungkan ini membuat jumlah penduduk Mesir meningkat dan berkumpul Dalam komunitas yang padat.  Pada saat Ketika bangsa-bangsa di sekitar mereka, bahkan Babylonia, masih berada di Dalam kegelapan jaman prasejarah, Mesir telah mamasuki cahaya sejarah.


Penulis  : Ela Nur H.

Editor    : Argha Sena

Sumber : "World History Sejarah Dunia Lengkap Karya Hutton Webster PHD"


Rabu, 28 Juli 2021

TIDAK SEMUA Sifat KURAWA Adalah Kejatan dan Keburukan!!! Berukut ini 6 Tokoh Pewayangan Kurawa yang Patut Dicontoh!!!

   
      Hampir tiap orang pasti mengetahui kisah Baratayudha dan dapat menjawab pertanyaan “Bagaimana watak Kurawa?” dan dapat dipastikan 100% akan menjawab jahat, buruk, jelek, liar dan sebagainya. Lalu apakah itu berarti bahwa orang yang berwatak Kurawa penjahat? Apakah saat kita berlaku seperti Kurawa disebut jahat? Ada pendapat bahwa baik dan buruk itu masalah moral, tapi ada pendapat lain bahwa baik dan jahat tergantung pada tujuan dan maksud serta hasil akhir yang terjadi. 
    Mungkinkah pada diri Kurawa, walau sedikit, terselip hal-hal baik? Kurawa adalah anak 100 bersaudara dari Prabu Destarata yang buta dengan Dewi Gendari. Mereka lahir di negeri Hastina, tepatnya di istana Hastinapura dan merupakan saudara Pandawa. Dalam kisah pewayangan, tokoh Kurawa memiliki sifat buruk, jahat dan tidak pantas ditiru. Namun ternyata, di sisi lain Kurawa memiliki perilaku yang patut dicontoh; Berikut ini adalah 6 Tokoh Pewayangan Kurawa yang patut kita contoh: 

 1. Duryudana
      Anak sulung dari Kurawa yang sangat bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Ia sudah harus berfikir dewasa pada saat usianya sebagai anak-anak. Ia harus tersadar bahwa ia memiliki adik berjumlah 99. Dan pada saat yang sama ia juga tersadar bahwa ayahnya memiliki keterbatasan tidak mampu melihat. Sementara ibunya, Gendari, seolah tidak peduli pada kehadiran anak-anaknya. Gendari terlalu sibuk dengan rasa kecewa akan hidupnya, marah dan benci atas takdir yang terjadi padanya. Durudana harus memikul tanggung jawab atas keberadaan adik-adiknya yang tak tersentuh sedikitpun pendidikan budi pekerti. Hingga menginjak usia dewasapun ia masih merasa bertanggung jawab pada masa depan adik-adiknya. Dasar kecintaan dan tanggung jawab terhadap adik-adiknya diterjemahkannya sebagai upaya agar adik-adiknya dapat memiliki harta dan tahta untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ia juga berharap dapat menjadikan mereka ksatria terhormat. Sungguh upaya kakak yang berkeinginan mulia.

2. Dursasana
        Adik yang patuh, suatu kebiasaan yang mungkin kebanyakan tidak banyak yang tahu. Seolah dia sadar bahwa seluruh hidupnya diambil tanggung jawabnya oleh Duryudana. Dia seperti memiliki kepekaan betapa kakaknya selalu melindungi dan membelanya lalu Dursasana begiti patuh dan setia pada kakaknya, Duryudana. Tidak ada sedikitpun dalam kisah hidupnya, ia melawan kehendak kakaknya, Duryudana. Ia selalu mendahulukan kakaknya atas kesenangan lebih dulu, salah satu contohnya ketika para Kurawa bersenang-senang di taman istana sedangkan Duryudana menyendiri adalah Dursasana yang menghampiri dan mengambilkan sekeranjang buah. Begitulah Dursasana begitu lugu, tapi keluguannya pada lingkungan tanpa perhatian dan kasih sayang orang tua.

3. Citraksa-Citraksi
        Adalah kurawa yang sopan. Orang yang tidak tahu pastilah menganggap mereka kembar. Hampir tidak ada yang membedakan kecuali cara berbicara, Citraksa berbicara dengan normal sedangkan Citraksi berbicara gagap. Ketika Resi Drona dijamu oleh Resi Bisma adalah Citraksa dan Citraksi, yang tidak mengenal Resi Drona, bakal muridnya yang menyambutnya. Citraksa dan Citraksi menghampiri Drona kemudian memberi hormat lalu menjabat tangan Drona dan mencium tangannya. Walaupun mereka tidak tahu itu adalag bakal guru mereka, mereka tetap santun dalam bertutur. Hal itu merupakan suatu kesopanan yang dilakukan oleh anggota Kurawa.

4. Kartamarma
     Anggota Kurawa yang gemar nginum ini bersahabatkan Aswatama, putra Resi Drona. Mereka hampir selalu muncul bersamaan, dimana ada Kartamarma pasti ada Aswatama. Beberapa tahun setelah persahabatannya dengan Aswatama, Kartamarma menjadi menantu di kerajaan kecil selatan Hastinapura, kerajaan Banyutinilang. Tak berapa setelah itu, ia diminta menggantikan tahta mertuanya. Negeri yang walau kecil itu, kehidupan penduduknya cukup makmur. Kartamarma-pun cukup dihormati dan hidup tentram di Banyutinalang.

5. Dursilawati
        Satu-satunya perempuan dari 100 kurawa, sementara saudaranya kesemuanya laki-laki. Dursilawati merasa sendiri, tak ada teman sebaya perempuan, sebgian besar saudaranya tidak menghiraukannya. Semasa kecil, ingin sekali Dursilawati menghabiskan waktu bersama sang ibu, Gendari, tapi Gendari seolah tidak menghiraukannya. Ia juga ingin mendekati ayahnya yang selalu menyendiri namun ia takut. Dursilawati menikah dengan Prabu Arya Tirtanata yang lebih dikenal sebagai Jayadrata. Suatu ketika Dursilawati harus merelakan suaminya berangkat ke padang Kurusetra. Dalam peperangan, Jayadrata mati di tangan Bima. Beberapa bulan kemudian, berita kematiannya sampai di telinga Dursilawati di negeri Sindu. Ia perempuan yang sangat tegar, berita kematian suaminya tidak juga meluruhkan air matanya. Seakan air matanya telah terlalu kering terkuras dengan perlakuan orang tuanya saat kecil yang membuat hatinya membatu. Dan hatinya memang begitu luhur, ia tidak mengajarkan dendam kepada anak-anaknya. Bahkan ia memprakarsai silaturahmi anak-anaknya dengan keluarga Pandawa.

6. Yuyutsu
      Yuyutsu Adalah salah satu saudara Kurawa yang mau belajar untuk melihat kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya serta berusaha untuk berubah. Sekian lama ia merasa bahwa apa yang terjadi di lingkungan Hastina melawan hati nuraninya. Dan saat terusirnya Pandawa dari Hastinapura, membuatnya berani menghadapi Duryudana yang selama ini ditakuti untuk mengutarakan ketidaksetujuannya. Namun kakaknya tetap keras kepala dan akhirnya Yuyutsu mundur lalu pergi keluar istana untuk menenangkan diri. Sesampainya di perbatasan sebelah barat Cempalareja, ia dijamu oleh saudaranya, Durmuka dan Drestaketi. Mereka berdua tinggal di situ, di sebuah gubug. Mereka meninggalkan Hastinapura karena mereka tidak setuju dengan Duryudana dan Sangkuni, pamannya, yang bersikap aniaya dan selalu memfitnah Pandawa. Adalah Yuyutsu yang berpendirian sama dengan mereka, yang kemudian sering mengunjungi mereka untuk mencurahkan isi hatinya dan bertukar pikiran. Durmuka dan Drestaketiadalah 2 dari sekian banyak Kurawa, yang tidak melibatkan diri secara langsung pada kancah perang Baratayudha. Selama Baratayudha, mereka menjalani hidup di gubug seperti biasa. Ketika Baratayudha usai dan Pandawa kembali menduduki Hastinapura, tersebar pengumuman agar seluruh Kurawa yang tersisa menyerahkan diri atau akan diburu dan ditangkap. Durmuka dan Drestaketi secara sukarela menyerahkan diri ke Hastinapura, adalah sikap seorang ksatria terhormat. Mereka menjadi tawanan beberapa hari dan kemudian diampuni Yudistira serta diperbolehkan kembali ke gubug. Mereka menjalani keseharian mereka di desa itu hingga akhir hayat. Yuyutsu yang melarikan diri dari perangpun, ia sukarela berangkat ke Hastinapura untuk menyerahkan diri. Setibanya di depan gapura, ia berhenti sejenak untuk membaca daftar nama-nama Kurawa yang diperkirakan masih hidup dengan seksama. Namun namanya tidak tertera pada daftar, ia dianggap mati. Diapun memutuskan untuk kembali ke tempat tinggalnya di sebuah pegunungan terpencil. Disana ia mendirikan padepokan silat sederhana, melatih penduduk di desa itu. Dia mengakhiri jalan hidupnya dengan bertapa di puncak gunung hingga ia menghembuskan nafas terakhir dalam posisi yang masih duduk bersila dan tangan bersedaku. 

       Ada sebuah kata bijak yang berbunyi “Apa yang terlihat tidak seperti apa yang kamu lihat”, sebuah kata bijak yang dapat digunakan untuk menilai Kurawa. Agar kita bisa belajar untuk mengerti bahwa yang tampaknya jahat, bisa saja menyimpan suatu kebaikan yang tidak diketahui. Dan tidak selamanya orang jahat tidak memiliki kebaikan di sisi-sisi yang lain dalam kehidupannya. Sehingga dari orang jahat sekalipun kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang berharga. Sekurus-kurusnya ikan masih ada dagingnya, segemuk-gemuknya ikan masih ada tulangnya, ambil yang baik buang yang buruk.

        Semoga artikel kali ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.


Penyunting        : Argha Sena
Sumber             

                Buku     :  Kebaikan Kurawa: Mengungkap Kisah-kisah yang Tersembunyi (2007)
                Penulis  :  Pitoyo Amrih

Sabtu, 24 Juli 2021

KISAH TOGOG Dewa Malang yang Nasibnya Tidak Sebaik Saudaranya!!!

        

        Togog adalah tokoh wayang yang memiliki julukan sebagai ‘Dewa yang Malang’. Di mana tokoh ini ada di dalam kisah pewayangan purwa yang cukup populer. Dia memiliki mata juling, hidung yang pesek, mulut ndower atau lebar tak bergigi, kepala botak, bahkan rambutnya hanya di tengkuk saja, bergelang, dan memiliki suara nge-bass atau rendah besar. Keris adalah senjata utamanya yang selalu ia bawa ke mana-mana juga dalam menghadapi musuh. Walaupun di pewayangan, hampir tak pernah melihat Togog berkelahi.

           Togog merupakan tokoh pewayangan yang memiliki takdir untuk menemani majikannya yang memiliki hati sombong, keras kepala, otoriter, hiporkit, dan antidemokrasi. Karena suaranya yang rendah dan nge-bass, hampir kata-kata bijaknya tak didengar dan diindahkan oleh majikannya. Itu sebabnya Togog pun ikut kecipratan watak jahat dari majikannya. 

        Di sinilah kenapa Togog memiliki julukan sebagai ‘Dewa yang Malang’. Karena ia tak semujur saudaranya, Semar. Walaupun keduanya sama-sama cucu Sang Hyang Wenang.

        Saat zaman kadewatan, alkisah Sanghyang Wenang telah mengadakan sayembara untuk menjadi penguasa kahyangan. Sayembara ini pun diikuti ketiga cucunya yaitu Batara Antaga atau Togog, Batara Ismaya atau Semar, dan Batara Manikmaya atau Batara Guru. Sayembara itu syaratnya adalah menelang Gunung Jamurdipa dan memuntahkan kembali secara utuh.

        Togog pun menjadi peserta urutan pertama, karena ia adalah yang paling tua. Namun ternyata Togog gagal melakukannya, malah akibatnya ia mengalami robek pada mulutnya. Selanjutnya Semar melakukannya. Ia berhasil menelan gunung tersebut secara utuh, namun Semar gagal memuntahkannya, hingga perutnya membuncit. Karena Gunung tersebut musnah ditelan Semar, akhirnya yang memenangkan sayembara tersebut adalah Batara Guru yang merupakan cucu paling bungsu.

        Karena gagalnya Semar dan Togog, akhirnya mereka ditugaskan turun ke bumi untuk menjadi pamong dan penasihat alias pembisik arti kehidupan kepada manusia agar manusia berbuat kebajikan.



    Naasnya, Semar yang berhasil menelan gunung mendapatkan hadiah berupa menjadi penasihat para ksatria berwatak baik. Sedangkan Togog yang gagal menelannya mendapat hukuman menjadi pamong para ksatria yang berwatak buruk.

        Inilah nasib malang yang dialami Togog. Ia pun harus menemani kaum aristokrat yang berhati busuk dari masa ke masa. Namun kehadiran Togog dalam pewayangan ini hanya sebagai pelengkap penderita saja. Di dalam pementasan wayang, ia selalu gagal membisikan kebaijkan ke orang-orang yang diikutinya. Angkara murka pun terus mengalis, watak budi terapung. Togog pun dianggap gagal sebagai dewa.

        Togog memiliki kemampuan mengingat yang sangat kuat. Apalagi ia sudah mengarungi berbagai tempat. Dengan begitu, ia mendapat tugas sebagai pemandu jalan para raksasa yang diikutinya. Di sini Togog memiliki sifat jelek, yaitu tak memiliki kesetiaan. Terkadang Togog suka berganti-ganti majikan di setiap tempat dan setiap waktu. Togog yang memiliki nama lain Lurah Wijayamantri ini sering mendapat tugas mengantar bala tentara mengarungi negeri. Berpindah tempat dari negeri satu ke negeri lain.

     Pada setiap lakon pewayangan, Togog 'ditakdirkan' untuk mendampingi majikan berhati congkak, keras kepala, mau menang sendiri, hipokrit, otoriter, dan antidemokrasi. Suara-suara bijak dan pesan moral nyaris tak pernah didengar, sehingga dia ikut tercitrakan sebagai tokoh berwatak jahat.

        Tugas togog jelas lebih berat dari pada Semar.  Semar bertugas untuk memomong para kesatria yang pada dasarnya sudah bersifat baik, sedangkan Togog bertugas untuk memberi nasihat, peringatan dan menyadarkan para kesatria yang berwatak buruk.

        Tugas Togog sebenarnya adalah mencegah perilaku, tindakan dan aksi kejahatan.  Togog dalam posisi sebagai pengasuh (batur) dan tidak menjadi kehilangan jati dirinya.

            Uniknya, Togog tetaplah dianggap sebagai sosok yang memiliki kecerdasan sebagai dewata. Meski berada dalam lingkungan tokoh jahat, Togog dianggap tidak lebur dalam perilaku jahat. Togog juga dianggaptidaklebur dalam opini umum.

        Tokoh Togog lebih mudah dikenali dalam pewayangan Jawa. Karena ia memiliki ciri yang sangat khas sekali, yaitu mulutnya yang besar. Di mana mulut itu selalu digunakan untuk menasehati para majikannya, namun tak pernah diindahkan oleh majikannya. Padahal kata-kata yang diucapkan Togog cukup indah. Namun dengan simbol suaranya yang ngebas, bahkan kata-kata bijak pun tak terdengar sama sekali. Inilah nasib malang yang dialami Togog sebagai Dewa yang Malang.

Penyusun     : Argha Sena

Penyunting    :  Argha Sena

Referensi     : 

  1. https://jagad.id/
  2. http://wikipedia.org
  3. https://wayang.wordpress.com/




KISAH DARI TANAH PASUNDAN!!! Percintaan Sangkuriang dan Dayang Sumbi Berakhir Tragis

 
    Kisah mitologi yang tidak kalah menariknya adalah kisah yang bersasal dari tanah pasundan yang menceritakan tentang percintaan tokoh Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang ternyata setatus mereka adalah anak dan ibu. Berikut ini adalah kisahnya. 

Diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, lalu Sang Hyang Tunggal mengutuk mereka dan menurunkan ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan (celeng) yang bernama Celeng Wayung Hyang (atau Wayungyang), sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing dengan nama Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi dewa-dewi kembali.

Suatu hari, Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu bersama dengan para pengawalnya. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air seni sang raja tertampung dalam batok kelapa. Celeng Wayung Hyang yang merupakan jelmaan sang dewi yang tengah bertapa sedang kehausan. Ia kemudian melihat air yang tanpa diketahuinya adalah air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja yang tidak menyadari bahwa bayi itu adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa ke keraton oleh Raja dan diberi nama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.

Dayang Sumbi sangat bersedih mengetahui kenyataan bahwa para pangeran, raja dan bangsawan yang ditolaknya saling melakukan peperangan untuk memperebutkannya. Dia pun memohon kepada Raja Sungging Perbangkara untuk mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah balai-balai. Karena Dayang Sumbi sulit untuk mengambilnya, dia pun berjanji bahwa siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh, bila laki-laki akan dijadikan suaminya, dan jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Ternyata Si Tumang yang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Karena telah berjanji maka Dayang Sumbi pun menepati janjinya untuk menjadikan Tumang sebagai suaminya.

Karena kejadian tersebut diketahui  oleh Raja, maka Dayang Sumbi di asingkan ke hutan dan hanya ditemani olehTumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa. Dayang Sumbi mengira ia bermimpi ketika bercumbu dengan seseorang  yang tidak lain adalah wujud asli si Tumang. Setelah kejadian itu Dayang Sumbi hamil dan akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang kemudian tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.

Suatu hari Dayang Sumbi ingin makan hati menjangan (rusa), maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak tampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang, yang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri, maka si Tumang tidak mau menuruti perintah itu.

Karena kesalnya Sangkuriang kemudian menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panahnya terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk oleh anak panah. Sangkuriang menjadi bingung karena tidak memperoleh hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Oleh Sangkuriang, hati si Tumang itu diberikannya kepada Dayang Sumbi, yang kemudian dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang. Maka Dayang Sumbi pun marah kepada Sangkuriang, kemudian dayang sumbi  memukul kepala Sangkuriang dengan centong (sendok nasi) yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka.


Karena kesakitan dan ketakutan, Sangkuriang akhirnya lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya, berusaha mencari Sangkuriang ke hutan dan memanggil-manggil serta memohonnya untuk segera pulang. Akan tetapi Sangkuriang telah pergi jauh. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti dan banyak menimba ilmu. Setelah beberapa tahun, Sangkuriang telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa.

Sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah Sangkuriang di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi berada. Namun Sangkuriang tidak mengenali bahwa wanita cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun awalnya tidak menyadari bahwa lelaki tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu Dayang Sumbi dan Sangkuriang itu saling bermesraan. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, Dayang Sumbi melihat tanda luka di kepala Sangkuriang. Dayang Sumbi menanyakan asal luka itu kemudian ia mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya. Dayang Sumbi pun menceritakan kepada Sangkuriang bahwa dia adalah ibunya.

Walaupun Sangkuriang telah mengetahui bahwa wanita cantik itu adalah ibunya, ia tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka Dayang Sumbi menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung aliran Sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya karena sangkuriang memiliki kesaktian yang diperolehnya dari banyak guru.

Sangkuriang mulai bekerja, dibuatlah perahu dari sebuah pohon besar yang tumbuh di sebelah timur. kelak, tunggul atau pangkal pohon itu berubah menjadi gunung yang bernama Bukit Tunggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan kelak menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), lewat tengah malam bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi lalu membentangkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya) di atas bukit di timur, sehingga kain putih itu tampak bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur.

Sementara itu ia pun berulang-ulang memukulkan alu ke lesung, seolah-olah sedang menumbuk padi. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang pun ketakutan karena mengira hari mulai pagi, mereka lalu lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Dengan demikian pembuatan bendungan pun tidak terselesaikan. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Perahu yang telah dikerjakannya dengan bersusah payah lalu ditendangnya ke arah utara dan jatuh menangkup menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Di puncak kemarahannya, dinding bendungan yang berada di sebelah barat dijebolnya, kelak lubang tembusan air Citarum ini dikenal sebagai Sanghyang Tikoro. Sumbat aliran Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali, bekas danau ini kelak menjadi lokasi Kota Bandung.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi karena marah dan merasa dicurangi. Dayang Sumbi berlari menghindari kejaran Sangkuriang yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Itulah kisah tentang Sangkuriang yang juga merupakan legenda asal mula gunung tangkuban perahu. Kisah ini dulu merupakan salah satu legenda yang terkenal dikalangan anak-anak. Namun kini anak-anak lebih suka bermain smartphone mereka daripada membaca seperti anak-anak zaman dulu. Semoga kisah ini menjadi pengetahuan baru tentang legenda yang pernah terjadi di daerah Lembang sekitar 30 km dari kota Bandung.

Penyusun        : Riskyrito

Penyunting      : Argha Sena

Referensi       

  1. popmama.com
  2. ppid.bandung.go.id
  3. wikipedia.org



Kisah Sang Merpati Berpangkat Letnan!!! Menyerahkan Nyawanya Demi Kemerdekaan Indonesia!!!

 

Perjuangan rakyat Indonesia sangatlah berarti bagi masyarakat agar mendapatkan kemerdekaan dan terbebas dari penjajahan. Semua golongan masyarakat saling bahu membahu dalam perjuangan. Semua golongan saling melengkapi dalam mencapai kemerdekaan yang saat ini kita rasakan. Mulai dari para pejuang, ulama, santri, kaum buruh, petani, pencuri, pencopet dan bahkan pengemis juga memiliki perannya tersendiri. Selain itu, Adapula hewan yang turut membantu dalam perjuangan tersebut. Bahkan hewan yang dimaksud mendapat penghargaan sebagai Letnan Anumerta karena jasa dan perjuangannya. Hewan itu adalah seekor burung merpati yang menjadi ciri khas kantor pos.

Peran merpati ini sangat berpengaruh dalam perjuangan para pejuang terutama di Daerah Komando Ronggolawe. Burung merpati sengaja dilatih untuk dapat menyampaikan pesan-pesan ke beberapa daerah. Jika saat ini teknologi kita telah maju dan dapat mengirim pesan tanpa diketahui orang lain. Namun, ketika perang kemerdekaan teknologi belum secanggih saat ini. Alat untuk menyampaikan informasi saat itu hanyalah stasiun radio. Memang radio dapat menyampaikan pesan ke banyak daerah, namun kelemahannya adalah dapat didengar pula pihak musuh. Maka dari itu, menyampaikan pesan melalui burung merpati adalah cara terbaik. Berikut adalah kisah merpati yang menjadi salah satu hewan yang berjasa bagi kemerdekaan Republik Indonesia.

"Burung merpati pos yang pernah digunakan sebagai kurir di daerah Komando Ronggolawe, Lamongan/Bojonegoro dengan front Surabaya pada tahun 1946," demikian keterangan seperti dikutip dari Museum Brawijaya.Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, banyak burung merpati yang dipelihara dan dilatih agar dapat menyampaikan pesan.

Saat itu, burung merpati yang kini mendapat gelar letnan ini memiliki tugas sebagai penghubung antar satuan Tentara Republik Indonesia (TRI). Tempat  penugasan merpati ini berada di daerah komando Ronggolawe Lamongan ke satuan TRI yang berada di Surabaya tahun 1946. Belanda dibuat kerepotan oleh para pejuang bangsa Indonesia. Rencana Belanda seakan-akan selalu diketahui oleh para pejuang. Sang merpati ini berkali-kali terbang dan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan mengudara dilangit Surabaya.

Setelah sekian lama terbang menyampaikan pesan melalui udara sebagai tugasnya, akhirnya belanda menyadari tugas merpati ini. Mereka cukup lama baru menyadari peran penting dari sang merpati yang bertugas menyampaikan pesan. Belanda memang sudah mencurigai bahwa ada peran penting dari merpati itu sehingga pasukan Belanda kerap dibuat kewalahan menghadapi pejuang Indonesia. Hal ini dikarenakan ketika belanda menyusun rencana, sang merpati lalu terbang di angkasa dan melewati pasukan mereka. Belanda yang telah mengetahui peran penting merpati tidak tinggal diam dan berusaha menjatuhkan sang merpati sehingga rencana mereka tidak diketahui para pejuang Indonesia.

Pada saat itu Belanda langsung mengerahkan penembak jitunya untuk menjatuhkan sang merpati. Belanda pun menyusun rencana sehingga sang merpati pun melintasi para prajurit Belanda. Saat sang Merpati terbang, para penembak jitu telah bersiap untuk menembak jatuh sang merpati. Saat prajurit Belanda melihat sang merpati terbang, diapun menembak sang merpati. Salah satu peluru pun membuat sang merpati tertembak oleh prajurit Belanda pada bagian sayapnya.

Darah mulai merembes dari lubang peluru ke bulu-bulu di sayapnya. Meski berlumuran dengan darah, ia tetap menjalankan tugasnya yaitu membawa pesan. Dengan keadaan sayap tertembak dan dan sayap yang mulai melemah, sang merpati tetap terbang dengan semua tenaganya untuk menjalankan tugasnya. Ia tetap terbang agar pesan yang dibawanya sampai ke tempat tujuan.

Sang merpati terus berjuang agar dapat sampai ke tujuan dan menyampaikan pesan yang dibawanya. Hingga akhirnya dia sampai ke tempat yang dituju dengan pesan yang dibawanya. Sang merpati telah kehabisan semua tenaganya dan sampai ke komandan pasukan. kemudian  jatuh dan mati setelah pesan yang dibawanya telah sampai setelah kehabisan darah. Karena jasanya ini, merpati ini pun mendapat penghargaan sebagai letnan anumerta. Karena pesan yang dibawanya, membuat para pejuang tersebut mengetahui rencana Belanda.

Untuk mengenang jasanya merpati ini lalu diawetkan, kemudian menyerahkan kepada museum Brawijaya Malang. Hingga kini, kita masih dapat melihatnya dimuseum Brawijaya Malang. Keterangan lebih lengkap tentang merpati pos ini termuat dalam buku 'Album Perang Kemerdekaan 1945-1950', yang diterbitkan Badan Penerbit Almanak RI.

Itulah sekelumit kisah tentang hewan yang berjasa dalam membantu perjuangan Republik Indonesia karena perannya ini, Belanda dibuat kewalahan dan menahan perjuangan para pejuang republik Indonesia. Merpati menjadi penyampai pesan terbaik dalam kemerdekaan agar tidak diketahui musuh. Bahkan merpati juga telah digunakan pada Perang Dunia ke-2 karena perannya. Burung merpati ini mungkin menjadi satu pemandangan unik di Museum Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur. Burung ini satu-satunya makhluk hidup yang diberi air keras dan dipajang di museum.Semoga kisah ini dapat menambah wawasan kita tentang perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.membuat kita menyadari bahwa sulitnya kita meraih kemerdekaan karena harus mengerahkan semua yang dimiliki. Dan kita yang saat ini tengah merdeka harus banyak berterimakasih kepada para pejuang. Karena jasa-jasa mereka, kita tidak lagi dijajah oleh bangsa luar. Tentu semua adalah atas izin Allah kita dapat merasakan kemerdekaan kita saat ini.

 

Penyusun        : Riskiryto

Penyunting     :  Argha Sena

Referensi       

  1. koranmiliter.com
  2. kumparan.com
  3. viva.co.id

Jumat, 23 Juli 2021

Penjarahan Brutal Penjajah Inggris Terhadap Kesultanan Jojakarta

 

Geger sepehi merupakan salah satu peristiwa yang membuat keraton Yogyakarta kehilangan banyak manuskrip. Peristiwa ini terjadi pada bulan juni tahun 1811, geger sepehi adalah pertempuran antara inggris dan keraton Yogyakarta. Pada bulan Mei 1811, Daendels digantikan posisinya sebagai Gubernur Jendral oleh Jan Willem Jansens. Pada tanggal 4 Agustus 1811, balatentara Inggris menyerbu Batavia dan membuat Jawa akhirnya jatuh ke tangan Inggris.

Dikutip dari Anak Bangsawan Bertukar Jalan (2006) karya Budiawan, Belanda yang saat itu menjadi taklukan Perancis menyerah kepada Inggris dan harus menyerahkan wilayah kekuasaannya. Lewat Perjanjian Tuntang, Hindia (Indonesia) pun diambil alih Inggris. Karena Inggris telah mengalahkan Belanda, maka Inggris membuat kebijakan terkait pertanahan dan pengelolaan keuangan. Hal ini membuat Sri Sultan Hamengku Buwono II tidak berkenan. Sikap penentangan mulai muncul, bahkan ia menghimpun kekuatan secara terang-terangan. Bagi sultan, Belanda maupun Inggris sama-sama bangsa asing yang ingin menginjak-injak dan menguasai bumi Mataram. Terlebih lagi, sikap orang-orang Inggris cenderung arogan dan kurang bisa menghargai tradisi keraton saat menemui HB II di Keraton Yogyakarta.

Secara diam-diam, Pakubuwana IV dari Kasunanan Surakarta memberikan dukungan kepada Hamengkubuwana II untuk menghadapi Inggris. Di sisi lain, Inggris mendapatkan bantuan dari keluarga dinasti Mataram lainnya, yakni Kadipaten Mangkunegaran, yang merupakan pecahan Kasunanan Surakarta. Selain itu, Inggris juga didukung Pangeran Natakusuma. Orang ini adalah putra HB I atau paman HB II. Pangeran Natakusuma sudah sejak lama sering berselisih dengan keponakannya itu.

Menurut Merle Calvin Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), sebagai “musuh” dari HB II, Pangeran Natakusuma berusaha sekuat tenaga agar memperoleh status merdeka dari istana. Itulah alasan mengapa Natakusuma bersedia membantu Inggris.
Inggris mengerahkan tidak kurang dari 1.200 orang prajurit berkebangsaan Eropa, ditambah serdadu Sepoy dari India. Selain itu, bantuan juga datang dari Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta. Adipati Mangkunegara II memerintahkan Pangeran Prangwedana memimpin 800 orang prajurit menuju Yogyakarta.

Pada tanggal 17 Juni 1811 malam, pasukan Inggris memasuki Yogyakarta. Namun pasukan Yogyakarta berhasil melukai dan menghalau bala tentara Inggris. Keesokan harinya Inggris mengirim utusan untuk bernegosiasi dengan Sri Sultan Hamengku Buwono II, namun utusan tersebut ditolak. Sekembalinya utusan tersebut ke pasukan Inggris, api peperangan pun mulai berkobar. Tembakan meriam terdengar dari arah Keraton Yogyakarta, menandakan sikap tidak mau kompromi dari Sri Sultan Hamengku Buwono II.


Situasi keraton kala itu digambarkan oleh Mayor William Thorn, seorang prajurit yang tergabung dalam pasukan Inggris, sebagai benteng pertahanan yang kokoh. Di sekeliling kraton terdapat parit-parit lebar dan dalam, dengan jembatan yang bisa diangkat sebagai pintu akses masuknya. Terdapat pula beberapa bastions tebal yang dilengkapi dengan meriam. Tembok-tembok tebal yang mengelilingi halaman-halaman istana dilengkapi dengan prajurit bersenjata. Pintu utama menuju kraton juga dilengkapi dengan dua baris meriam. William Thorn mencatat setidaknya ada 17.000 prajurit dan ratusan warga bersenjata tersebar di kampung-kampung, mempertahankan wilayah Yogyakarta.

Serangan-serangan kecil terus berlangsung hingga tanggal 19 Juni 1812 pukul 9 malam. Setelah itu, kondisi Yogyakarta kembali senyap. Tanpa ampun, pasukan gabungan Inggris menghujani istana dengan meriam dan peluru. Angkatan perang Kesultanan Yogyakarta telah kehabisan amunisi dan energi. Menurut Thorn, benteng ini, “hanya sedikit meninggalkan bubuk mesiu dari pabrik mesiu lawas tinggalan Belanda, sangat buruk,” ungkapnya, “sehingga tembakan kami ibarat hanya menghibur musuh.”Bantuan yang diharapkan dari Kasunanan Surakarta tidak kunjung datang. Pakubuwana IV ternyata tidak berbuat apa-apa kecuali hanya menempatkan pasukannya di seberang jalur-jalur komunikasi Inggris.

Dini hari tanggal 20 Juni 1812, meriam-meriam Inggris kembali ditembakan. Serangan meriam ini mengarah ke Alun-alun Utara, tepat ke arah pintu masuk keraton. Serangan besar-besaran kemudian menyusul pada pukul 5 pagi. Pasukan Inggris yang terdiri dari tentara Eropa dan pasukan Sepoy (India), dibantu pasukan dari Legiun Mangkunegaran, menyerang Keraton Yogyakarta. Kekuatan utama serangan pasukan Inggris diarahkan ke sisi timur laut benteng. Dalam Babad Sepehi disebutkan bahwa bagian ini tidaklah terjaga kuat. Serangan tidak berjalan terlalu lama, hanya beberapa jam saja sudut benteng ini runtuh dengan diawali meledaknya meriam dan gudang mesiu. Sekitar jam 8 pagi, benteng benar-benar jatuh ke tangan pasukan Inggris.

Segera setelah benteng ini direbut, pasukan Sepoy mengarahkan seluruh meriam ke arah Keraton Yogyakarta. Serangan ini kemudian disusul dengan masuknya pasukan dari arah Gerbang/Plengkung Nirbaya yang berhasil dikuasai. Sri Sultan Hamengku Buwono II kemudian menyerah ketika pasukan Inggris berhasil masuk ke Plataran Srimanganti dan akhirnya Yogyakarta menyerah. HB II dipaksa menyepakati perjanjian yang disodorkan Inggris. Salah satu isinya adalah Kesultanan Yogyakarta wajib menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Pangeran Natakusuma. Inilah yang kemudian menjadi Kadipaten Pakualaman.

Setelah menduduki Keraton Yogyakarta pada pertengahan 1812, Inggris dan pasukannya menjarah isi istana. Sejumlah besar uang dan harta diambil. Perpustakaan yang menyimpan berbagai koleksi manuskrip, kitab-kitab lama, foto-foto langka, karya-karya pujangga, serta bermacam arsip dan buku-buku berharga turut dirampas.

Tak hanya itu, Sultan HB II dimakzulkan dari takhtanya, lantas diasingkan ke Penang (kini wilayah Malaysia). Inggris kemudian menaikkan putra HB II, Raden Mas Surojo, sebagai raja baru dengan gelar Hamengkubuwana III. Soedarisman Poerwokoesoemo dalam Kadipaten Pakualaman (1985) menyebutkan, Inggris melantik Pangeran Natakusuma dengan gelar Pakualam I pada 29 Juni 1813. Inggris kemudian mengakui Pakualam I sebagai pangeran merdeka, diberikan tanah, tunjangan, pasukan, hak memungut pajak, serta hak takhta turun-temurun.

Pada 1 Agustus 1812, pemerintah Inggris memaksa Keraton Yogyakarta dan Surakarta untuk menandatangani perjanjian yang sangat merugikan bagi bangsawan-bangsawan Jawa. Perjanjian tersebut memangkas kekuatan militer kerajaan sampai sebatas yang diizinkan Inggris. Beberapa wilayah mancanegara dan negaragung, seperti Japan (Mojokerto), Jipang, dan Grobogan, diambil paksa sehingga membuat para pejabat yang memerintah di sana kehilangan jabatan dan penghasilan. Pengelolaan gerbang-gerbang cukai jalan dan pasar juga diserahkan kepada Inggris, ini tidak hanya menghilangkan pendapatan dari pungutan tapi juga membuat perdagangan dikuasai oleh pihak asing.

Selain itu, Inggris juga menetapkan bahwa semua orang asing dan orang Jawa yang lahir di luar wilayah kerajaan berada dalam hukum kolonial. Mereka tidak lagi dapat diadili di bawah hukum Jawa-Islam. Kebijakan-kebijakan tersebut membuat pergolakan besar dalam masyarakat Jawa. Ketidakpuasan dan rasa kekecewaaan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu Perang Jawa (1825-1830). Geger Sepehi tidak hanya sebuah sejarah kekalahan yang meruntuhkan kewibawaan, namun juga menjadi tonggak lahirnya tata dunia baru di tanah Mataram yang akibat-akibatnya masih dapat terus dirasakan hingga kini.

Menurut Peter Carey, tentara Inggris-Sepoy menjarah keraton besar-besaran. Peti berisi harta benda dari keraton hilir mudik diangkut dengan gerobak melalui alun-alun sampai empat hari lamanya. Barang jarahan diangkut ke kepatihan. Lalu semua yang berharga seperti manuskrip dibawa ke Rustenburg (keresidenan). Hasil jarahan dibagikan di antara para perwira. Peter Carey pun menyebut Inggris sebagai pencuri aset Indonesia nomor wahid. Bahkan, penjarahan dilakukan pada korban yang dihabisi secara brutal sebagaimana terungkap dalam babad Bedhah ing Ngayogyakarta (1816) karya Pangeran Panular, putra Sultan Hamengkubuwono I dari istri selir.

Dalam babad itu disebutkan bahwa Pangeran Sumodiningrat, keturunan sultan pertama dan panglima pasukan Yogyakarta, dibunuh pasukan yang dipimpin oleh John Deans, sekretaris Keresidenan Yogyakarta. Pakaian Sumodiningrat dilucuti dan badannya dimutilasi. "Lehernya ditebas. Anak buah John Deans lalu mempreteli semua pakaian dan perhiasan yang dipakai Sumodiningrat," kata Peter Carey.

Itulah peristiwa geger sepehi yang sangat merugikan keraton Yogyakarta karena banyak manuskrip dan barang-barang penting di keraton yang dibawa oleh Inggris. Hingga kini pihak keraton masih berusaha untuk mengambil kembali manuskrip yang masih tersimpan di British Library, London, Inggris. Hingga kini pihak Inggris telah mengembalikan beberapa manuskrip yang telah berbentuk digital. Pengembalian barang-barang bersejarah itu dipicu oleh dekolonisasi yang dicetuskan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pidatonya di Universitas Ougadougou, Burkina Faso, 28 November 2017.

 

Penyusun            : Riskiryto

Penyunting        : Argha Sena

Referensi          

  1. nationalgeographic.grid.id
  2. historia.id
  3. kompas.com
  4. kratonjogja.id
  5. tirto.id