Rabu, 01 Desember 2021

(EP 03) PETA KEKUATAN POLITIK DUNIA PADA ABAD 15 MASEHI YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA

 


DINASTI MING CINA ABAD 15 dan LAKSAMANA CHENG HO

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa berdirinya kekuasaan politik Islam di nusantara dipengaruhi juga oleh kekuasaan politik Islam di China. Khususnya saat kekuasaan di China beralih ke dinasti Ming yang cenderung membela Islam. Saat itu laksamana Cheng Ho (Zheng He) ditugaskan ke berbagai negeri untuk membawa pesan perdamaian antara tahun 1405-1433 M.


Laksamana Cheng Ho mengarungi samudera luas dan berkunjung ke lebih dari 20 kerajaan se-Asia dan Afrika dengan mengerahkan lebih dari 27.000 awak kapal.  Pelayarannya sebanyak 7 kali dan setiap kali pelayaran pasti pertama kali singgah ke Champa lalu ke Jawa sebanyak 6 kali. Hanya pelayaran yang ke-6 saja yang tidak berkunjung ke Jawa.

Menurut catatan Ma Huan menyebutkan, “apabila ada kapal luar negeri menuju Jawa, umumnya mereka berlabuh secara berturut-turut di Tuban,gresik, suroboyo, dan Mojopahit (Trowulan)”. Di kerajaan Majapahit terdapat pedagang muslim yang datang dari Arab. Di samping itu, ada perantara Tionghoa yang berasal dari Zhengzhou, Quanzhou, dan propinsi Guangdong (tiongkok selatan). Kebanyakan mereka adalah muslim. (Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho)

Bahkan pada tahun 1411 M seorang pejabat China di Gresik mengirimkan utusan yang membawa surat menuju kerajaan kaisar di China. Utusan tersebut juga membawa bulu bhakti glondhong pengareng-areng, guru bakal guru dadi, peni-peniu raja peni dan mas picis raja brana. Dengan demikian, saat itu terjalin hubungan antara Tiongkok China, Champa dengan Majapahit sebagaimana yang pernah terjadi di masa sebelumnya. Bahkan putri China yang dihadiahkan kepada Bhre Kertobhumi yang kemudian melahirkan sultan Fattah, hampir dapat dipasstikan adalah bangsawan Tiongkok China di masa setelah laksamana Cheng Ho ini.

Selain itu, dari catatan Ma Huan menunjukkan betapa nusantara saat itu telah menjadi bagian pusat pelayaran dan perdagangan internasional yang menghubungkan berbagai suku bangsa untuk saling mengenal, meskipun pada awalnya berbeda bahasa dan peradaban. Jalur pelayaran dan perdagangan di Asia ini menghubungkan antara bangsa Arab, India, Afrika Utara, Melayu, dann China.

Di Jawa terdapat kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit yang pengaruh kekuasaannya sampai ke kerajaan Champa. Di kerajaan inilah terjadi hubungan pernikahan antar keluarga para bangsawan kerajaan. Ketika raja Champa mendapat hidayah untuk masuk Islam, dari Champa ini pula cahaya penyebaran Islam semakin bersinar di tanah Jawa pada awal abad ke-15 M.

NEGERI CHAMPA DI AWAL ABAD KE-15 M

Sebuah wilayah yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa sejak awal abad ke-15 M adalah negeri Champa (Campa/Cam Pha/Cempa/Cempo). Oleh karena seorang bernama Ibrahim Asmarakandi telah berhasil mengajak raja Champa masuk Islam lalu menikahi putrinya. Sedangkan putri raja yang lebih muda, bernama Dworowati (Andorowati) di ambil sebagai permaisuri oleh kerajaan Majapahit. Kerajaan Champa pada saat itu memang tunduk di bawah kerajaan Majapahit dengan rajanya saat itu bernama Wikromo Wardhono.

Ibrahim Asmarakandi memiliki murid bernama ki Dampu Awang, seorang saudagar kaya dari Champa. Istrinya bernama Nyai Roro Rudo, kakak Ki Gedeng TopoJumajan Janti, penguasa pantai Cirebon. Hasil pernikahan Ki Dampu Awang dengan Nyai Roro Rudo adalah seorang putri bernama Nyai Aciputih yang kemudian diperistri oleh Prabu Siliwangi. Pasangan Prabu Siliwangi dan Nyai Aciputih memiliki putri bernama Nyai Lara Bedoyo yang dibawa kakeknya, Ki Ampu Awang ke Champa, untuk belajar Islam kepada Ibrahim Asmarakandi.

Tentang letak negeri Champa, pendapat terkuat adalah apa yang ditulis oleh Ma Huan dan Fei Xin. Oleh karena keduanya pernah mengarungi samudera luas bersama perjalanan Muhibah Laksamana Cheng Ho pada tahun 1407 M, masih dalam satu masa dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Dalam perjalanan itu Ma Huan menuliskan petualangannya dalam buku berjudul Ying Ya Sheng yang berart pemandangan indah di seberang samudera.

Champa yang telah dikunjungi sebanyak 7 kali ini adalah sebuah tempat yang terletak di seberang laut sebelah propinsi Guangdong (Tiongkok Selatan). Nama ibukotanya adalah Campapura yang di dalamnya terdapat istana raja. Di sebelah barat Champa terdapat kerajaan Kamboja dan di sebelah barat daya berbatasan dengan Laos dan di sebelah timur laut terdapat laut besar. (Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho)

Dengan demikian, negeri Champa merupakan suatu kawasan yang terletak di daerah Indocina ataupun Hindia Belakang.tempat itu merupakan kawasan di sebelah timur Kamboja, di teluk Siam, yaitu kawasan Anam berdekatan dengan Siam atau Muang Thai. Lebih tepatnya lagi bagian tengahnya Negara Vietnam sekarang. (Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa)

Menurut Sejarah Melayu bab 21 menceritakan secara ringkas tentang kerajaan Champa. Di kerajaan ini, para penduduk tidak memakan daging sapid an tidak menyembelih sapi. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka menganut Hindu atau Buddha. Semula kerajaan Champa takluk kepada raja Bathara dari kerajaan Hindu Syiwo- Buddha- Islam Majapahit. Raja Champa yang terakhir adalah Pau Kubah, yang menikah dengan putri dari Lakiu. Padahal raja kerajaan Kuci (Koci) meminang salah seorang putri mereka, akan tetapi pinangannya ditolak.

Akhirnya kerajaan Champa diserang raja Koci dan mengalami kehancuran. Pau Kubah gugur dalam perang  ini. Sedangkan dua putranya yang bernama Pau Liang dan Indra Berma berhasil meloloskan diri. Pau Liang melarikan diri ke Aceh sedangkan Indra Berma bersama istrinya yang bernama Keni Mernam melarikan diri ke Malaka, lalu masuk Islam di bawah suaka perlindungan sultan Mansur (1458-1477 M). Kerajaan Champa diserang raja dari Annam bernama Le Nhantong pada tahun 1446 dan berhasil dikuasai sepenuhnya oleh orang-orang Annam (Vietnam) pada tahun 1471 M.(Th. G. Th. Pigeud, Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa,)

Pembahasan tentang negeri Champa menunjukkan arti penting peranannya dalam proses penyebaran Islam di Jawa. Kerajaan Champa yang saat itu masih bercorak Hindu Syiwo- Buddha telah lama tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Syiwo Buddha Majapahit masa Prabu Hayam Wuruk dengan Patihnya yang terkenal bernama Gajahmada. Sebagai bentuk persahabatan, pada masa Wikromo Wardhono bernama Bhre Kertobhumi (Brawijoyo V). tidak lain Brawijoyo V ini adalah ayah Sultan Fattah.

Setelah masa itu, raja Champa masuk Islam melalui Ibrahim Asmarakandi. Meskipun putri raja Champa yang bernama Dworowati diambil sebagai permaisuri Majapahit, adik dewi Dworowati yang bernama Dewi Candrawulan masuk Islam dan dinikahi oleh Ibrahim Asmarakandi sebagai istri kedua.

Dari pernikahan ini, lahirlah Raden Santri (Ali Musada) dan Raden Rahmat (Ali Rahmatullah, Sunan Ampel). Raden Santri memiliki putra bernama Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri. Sedangkan Raden Rahmat memiliki putra bernama Makhdum Ibrahim (Sunan Mbonang) dan Maseh Munat (Sunan Drajat).

Raden Santri dan Raden Rahmat menuju Jawa bersama Abu Hurereh, putra sulung raja Champa, untuk menemui saudara ibunya yang bernama Dwi Dworowati di Majapahit. Bertiga singgah di pelabuhan Tuban dan menjadi pecat tandha si Syahbandar, sebuah jabatan yang setara dengan adipati, penguasa kadipaten.

Dengan berita di atas, dapat dijelaskan bahwa ketika kerajaan Champa ditaklukkan oleh kerajaan Koci, Raden Rahmat telah berada di Ampel Dento. Dari Sunan Ampel berlanjut ke Sunan Mbonang, Sunan Drajat yang bersahabat dengan Sunan Giri dan seperjuangan pula dengan Sunan Kudus, Sunan Kalijogo, Raden Patah, Sunan Gunung Jati, dan yang lainnya.

Dari para wali pemula inilah kelak Islam tersebar dengan begitu cepatnya hingga berhasil mendirikan kerajaan Islam Demak pada tahun 1482 M/1404 C. di bawah kepemimpinan raja Islam Sultan Fattah, kejayaan Islam di Jawa mencapai puncaknya. Pada tahun 1511 M Portugis menguasai Malakadan hendak memperluas pengaruh imperialismenya dengan menguasai sunda Kelapa. Pada masa Sultan Trenggono, Portugis dapat dihancurkan oleh Fatahillah pada 22 juni 1527 M.

Bangsa Portugis dan Spanyol inilah perintis pertama jalan masuknya penjajahan kolonialisme dan imperialism bangsa Eropa di nusantara hingga kedatangan Belanda, Prancis, maupun Inggris dimasa berikutnya.

KERAJAAN KATOLIK PORTUGIS DAN SPANYOL DI EROPA ABAD 15

Di Eropa, jauh sebelum terjadinya peperangan antara pasukan Portugis dan Spanyol melawan pasukan Islam di Malaka tahun 1511 Mdan di Minahasa nusantara, di semenanjung Iberia telah berdiri pemerintahan Islam antara tahun 711-1492 M. awalnya salah seorang panglima terkenal khilafah Umayyah bernama Thariq bin Ziyad, memimpi pasukan Islam melawan pasukan katolik dari kalangan Visigoth dalam pertempuran Guadalete, Thariq bin Ziyad bersama pasukan Islam berhasil menguasai semenanjung Iberia, mencakup wilayah Spanyol dan Portugis.

Akan tetapi di Spanyol pada 1236 M, benteng terakhir umat Islam di Granada jatuh ke tangan Fernando III dari Kastilia. Sampai pada tahun 1492 M Los Reyes Catolicos (kerajaan katolik Spanyol) melalui Fernando II dari Aragon dan Isabel I dari Kastilia akhirnya berhasil menguasai wilayah Islam kembali dan memaksa umat Islam agar masuk katolik. Jika tidak bersedia, umat Islam diusir dari Spanyol tanpa membawa putra-putri mereka. Akibatnya banyak yang tidak sanggup meninggalkan putra-putrinya. Jika tidak mau juga hengkang dari Spanyol, umat Islam akan dibakar hidup-hidup (Autadafe). (Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1)

Pada akhir abad 15, tepatnya 7 juni 1494 M, Paus Alexander VI telah membuat perjanjian Tordesillas Spanyol. Perjanjian antara kerajaan katolik Portugis dan kerajaan katolik Spanyol ini menandai awal mula lahirnya imperialism barat. Dalam perjanjian ini, paus Alexander VI memberi kewenangan kepada kerajaan katolik Portugis untuk menguasai dunia belahan timur. Sebaliknya, kepada kerajaan katolik spanyoldiberi kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat.

Paus Alexander VI membenarkan imperialisme dengan tujuan 3-G yaitu gold (menguasai kekayaan alam), Gospel (menyebarkan ajaran katolik), dan Glory (mencapai kejayaan). Seluruh bangsa selain Negara Vatikan yang tidak beragama katolik dipandang sebagai bangsa biadab. Wilayahnya dinyatakan sebagai terra nullius (wilayah kosong tanpa pemilik). Mereka juga menyalakan semangat Reconquista, yaitu penaklukkan wilayah-wilayah Islam diseluruh dunia. (Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1)

Sebagai realisasi pelaksanaan perjanjian teordesilas, Portugis mulai melakukkan pelayaran ke arah timur. Pada tahun 1497 M Portugis menguasai Goa India, yang berakibat runtuhnya kekuasaan politik Hindu dan Buddha di India selatan. Pada tahun 1511 M, Alfonso Albuquerque merebut kerajaan Islam Malaka dari Sultan Mahmud. Pada tahun 1522 M Portugis berusaha menguasai Sunda Kelapa di Jawa dengan diawali membuat perjanjian kerja sama dengan kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran. Akan tetapi, pada 22 juni 1527 M pasukan Portugis berhasil dihancurkan Fatahillah.

Memperhatikan peta kekuatan politik, ekonomi, dan peradaban dunia di beberapa benua menjelang abad 25, menunjukkan bahwa hegemoni kekuasaan politik internasional telah didominasi oleh peradaban Islam, katolik, Hindu, dan Buddha. Peradaban Islam berkuasa di Asia tengah, yaitu khilafah abbasiyah, di Eropa barat berpusat di cordova dan Andalusia, di Asia timur ada dinasti Jengis Khan dan Dinasti Ming China, sedangkan di Afrika Utara adalah kekuasaan Islam di Mesir. Sedangkan dominasi kekuatan politik Hindu dan Buddha berada di India dan nusantara.

Adapun peradaban Kristen katolik mendominasi benua Eropa yang berpusat di Vatikan Roma di Eropa barat dan katolik ortodoks di Konstatinopel Eropa Timur. Hingga pada akhirnya, ditahun 1453 M Konstatinopel jatuh ditangan Sultan Muhammad Al-Fatih, sebagai tanda semakin kuatnya dominasi politik Islam khilafah Turki Utsmani. Pengaruhnya pun hingga ke Jawa, karena adalam waktu yang hampir bersamaan berikutnya, berdiri pula kerajaan Islam Demak di Jawa tahun 1482 M, dengan selisih 29 tahun.

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd

0 komentar:

Posting Komentar