F November 2019 ~ PEGAWAI JALANAN

Sabtu, 30 November 2019

Kisah Fir'aun dan Arsiteknya Haman Membangun Menara Langit untuk Melihat Tuhan | Pegawai Jalanan



Istana Fir'aun

Istana Fir'aun terguncang hebat. Sang raja dikalahkan begitu saja oleh pemuda belia bernama Musa. Tipu dayanya memanggil para ahli sihir dari penjuru negeri Mesir berakhir kekalahan. Alih-alih mengalahkan Musa, para penyihir malah tertunduk sujud menyembah Tuhan Musa dan enggan lagi menuhankan Fir'aun.

Fir'aun geram bukan kepalang. Ia mengamuk di atas singgasananya. Para menteri dan orang-orang disampingnya menjadi luapan kemarahannya. Semuanya dicaci kemudian diusir dari istananya. Fir'aun menyendiri sembari menenggak anggur. Namun kemarahannya tak kunjung reda. Ia pun memanggil kembali semua menteri dan pejabat kerajaan untuk menghadapnya segera.

Takut-takut, para pejabat memasuki istana. Melihat rajanya yang masih emosional, makin takut hati mereka. Sebentar lagi, raja negeri Mesir ini pasti meledak. Wajah sang raja tertekuk geram. Ia seakan baru saja ditampar keras oleh Musa. Sang nabiyullah membuktikan ketuhanan Fir'aun palsu belaka. Ia sekedar manusia lemah yang berdusta mengaku Tuhan.
Fir'aun

Ketika semua pembesar telah berkumpul, Fir'aun tiba-tiba bertanya pada perdana menterinya, "Hai Haman, Apakah aku ini seorang pendusta?" teriak Fir'aun.

Hamman, pengikut setia Fir'aun pun langsung bertekuk lutut kemudian meyahut, "Siapa yang berani menuduh baginda Fir'aun sebagai pembohong?!" ujarnya membela.

Fir'aun pun berkata, "Bukankah Musa mengatakan bahwa ada Tuhan di Surga?" ujar penguasa negeri piramida, geram.

"Musa telah berdusta!" ujar Hamman segera. Ia tak ingin tuannya marah.

Namun Fir'aun tak puas dengan jawaban Hamman. Ia pun memalingkan wajahnya dengan wajah masih merah padam. "Saya tahu Musa itu hanyalah tukang sihir yang berdusta," ujar Fir'aun.

Fir'aun kembali memandang Hamman dengan ide tipu daya yang lain, "Wahai pembesarku, akulah Tuhan kalian. Bersama Hamman, bagunlah untukku sebuah menara yang menjulang tinggi supaya aku sampai hingga pintu-pintu langit. Aku ingin melihat Tuhan Musa, dan aku tahu bahwa Musa itu hanyalah seorang pendusta," ujar Fir'aun.

Fir'aun dan Haman

Hati Fir'aun benar-benar tertutup. Ia terhalang menuju jalan yang lurus. Pun para pembesarnya tak dapat menolak perintah sang raja. Hamman pun segera memperintahkan para pembesar lain untuk memenuhi keinginan Fir'aun. Namun itu hanyalah sifat munafik Hamman.

Ia sebenarnya tahu betul bahwa mustahil membangun menara seperti yang diinginkan Fir'aun. Bahkan meski peradaban Mesir kala itu dipandang maju, membangun menara hingga pintu langit merupakan perkara ajaib yang tak mampu dilakukan. Kendati demikian, ia mengiyakan perintah Fir'aun agar sang raja tak murka padanya.

Hingga kemudian, Hamman dengan kedudukannya memberikan pengaruh bagi keputusan raja. Ia dengan mulut manisnya berusaha memuja Fir'aun. "Namun paduka, utuk pertama kalinya saya merasa keberatan. Kendati Anda telah membangun menara menjulang, Anda tak akan pernah menemukan siapapun di langit. Karena memang tidak ada Tuhan selain Anda," ujar Hamman.

Menara Langit

Mendengarnya, Fir'aun langsung berbangga diri dan memuja diri sendiri dengan ucapan Hamman. Fir'aun pun kemudian mendeklarasikan diri kembali sebagai Tuhan. "Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku," ujar Fir'aun.

Fir'aun pun kemudian menyebarkan rumor di tengah masyarakat. Setiap orang yang berani melawannya dan menyembah selainnya, maka akan mendapat hukuman mati. Fir'aun memperketat militernya. Ia menyebar semua aparat untuk menjaga eksistensinya sebagai Tuhan. Bani Israil pun dirundung teror Fir'aun tersebut. Apalagi Hamman mengusulkan agar Fir'aun membunuh setiappria dan menodai setiap wanita diantara para pengikut Musa.

Semakin hari, Bani Israil tak kuat dengan siksaan Fir'aun. Mereka tak lagi sabar dengan keimanan. Bukan Bani Israil jika tak melawan nabi mereka. Bebondong, mereka pun menemui Nabi Musa dan berkata, "Kami memang telah menderita masalah sebelum Anda datang kepada kami. Namun kami juga tetap menderita setelah Anda datang pada kami," keluh mereka.

Dengan sabar, Musa hanya menjawab, "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumiNya, maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu,"jawab nabiyullah. Sebagaimana diketahui dalam kisah Nabi Musa, Allah di kemudian hari menyelamatkan Bani Israil dan membinasakan Fir'un, Hamman dan semua bala tentara mereka.
Fir'aun

"Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan," surah Al Qashshash ayat 6. Keterangan ayat menyebutkan bahwa yang dimaksud kekhawatiran Fir'aun dan Hamman ialah kerajaan yang akan hancur oleh Bani Israil. Oleh karena kekhawatiran tersebut, pemerintahan Fir'aun menyiksa Bani Israil. Namun Allah selalu menyelamatkan hambaNya dan membela nabiNya.

Kisah Hamman tersebut dikisahkan dlam kitabullah dalam beberapa surat, diantaranya dalam Surah Al Qashshash ayat 6 dan ayat 38, Surah Al Mu'min ayat 36-37, serta Surah Al Ankabut ayat 38. Rujuklah kitab tafsir "Qashshashul Anbiya" karya Ibnu Katsir untuk kisah lengkap perjalanan hidup dan dakwah Nabiyullah Musa Alaihissalam.


Penyunting : Admin PJ

Sumber :

Kisah Raja Namrud Menikahi Ibu Kandungnya, WTF | Pegawai Jalanan

Ilusterasi

Perilaku menyimpang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, dan bahkan sampai hari ini masih banyak yang melakukannya. Tidak heran, saudara yang masih satu kandungan saling mencintai dan berhubungan fisik. Inilah kisah raja Namrud menikahi ibu kandungnya sendiri, seorang pemimpin keturunan kelima dari nabi Nuh.  Namanya dikenal sebagi Namrudz bin KanÊ»an bin Kush bin Ham bin Nuh. Seorang raja yang populer diperadaban dunia sekitar tahun 2275 hingga 1943 SM. Negara bekas pemerintahannya kini disebut Irak, sebuah peradaban Mesopotamia kuno yang banyak disebutkan dalam kitab suci.

Ayah Namrud adalah Kush yaitu cucu Nabi Nuh as, sedangkan ibunya adalah Semiramis. Ibunya pada usia remaja telah menikah dengan ayahnya. Konon, sehari setelah berhubungan kelamin dengan Semiramis, ayahnya meninggal dunia. Oleh karena itu, saat Namrud lahir ia tidak mempunyai ayah. Ibunya adalah seorang wanita yang cantik dan bijaksana. Setelah ia lahir, konon dia tidak pernah disentuh oleh manusia dan Namrudz dianggap anak yang suci. Ini telah menambah keyakinan Namrud bahwa ia adalah anak tuhan. 
Ilusterasi Babilonia

Raja Namrud telah dianugerahi dengan daya intelektual yang tinggi dan menjadi ahli dalam berbagai bidang seperti seni desain, matematika dan ilmu falak.
Dia telah menemukan sistem sexagesimal yang membagi lingkaran ke 360 derajat, satu jam ke 60 menit dan 1 menit ke 60 detik. Selain itu dia menetapkan bahwa satu hari dibagi menjadi 24 jam setiap jam ke 60 menit dan 1 menit ke 60 detik. Menurut dia hari dimulai pada waktu tengah malam dan bukannya pada waktu matahari terbenam seperti yang dipercaya oleh kaum sebelumnya.

Disamping itu, Namrud mahir dalam perhitungan matematika dalam konstruksi bangunan-bangunan besar, jembatan, kuil, istana dan bendungan. Antara lain kontribusinya adalah konstruksi sistem saluran irigasi di lembah Tigris dan Euphrates. Dialah orang pertama yang menggunakan batu-bata dari tanah liat yang dibakar (burnt clay) sebagai bahan bangunan. Bahkan Namrud terkenal sebagai arsitek Menara Babel yaitu bangunan pencakar langit yang pertama di dunia.

Sayangnya sebagai seorang ateis, dia telah menyalahgunakan kemampuan itu untuk menyesatkan rakyatnya. Antara lain menggunakan ilmu falak untuk menciptakan berbagai sistem meramal nasib seperti horoskop dan meramal nasib palmistry. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa manusia tidak perlu Tuhan karena manusia mampu memprediksi dan mengubah nasibnya dengan sendiri. Selain itu, ia membangun banyak bangunan dan berhala yang megah dan indah agar manusia kagum dengan kehebatan ciptaannya sendiri. Menara Babel yang berarti "Pintu Gerbang yang Sempurna" merupakan kuil dimana pendeta-pendeta memuji Namrud. Tujuannya dibangun adalah untuk menaikkan sebuah bangunan yang mampu mencapai kayangan. Menurut buku "Sejarah Para Rasul dan Raja" pada abad ke-9 oleh ahli sejarah Islam terkenal al-Tabari, menara tersebut telah dihancurkan oleh Allah. Awalnya para pendahulunya menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Suryani, tetapi ia memecahnya ke 72 bahasa yang berbeda. Akibatnya mereka tidak dapat berkomunikasi satu sama lain dan tidak dapat melanjutkan pembangunan menara tersebut.

Ilusterasi Namrudz

Ia juga sangat meminati ilmu sihir dan menggunakannya untuk mempengaruhi pikiran rakyatnya. Konon, dia mempelajari ilmu tersebut dari dua malaikat Harut dan Marut yang pernah disebut dalam Al-Quran. Selain itu, Namrud telah memulai suatu era yang baru dimana manusia memandang rendah pada tuhan. Rakyatnya tidak dianjurkan untuk melakukan kebaikan demi tuhan, karena baginya tuhan yang ghaib adalah lemah. Oleh itu orang-orang dibawah pemerintahannya bisa mengikuti nafsu manusia seperti berpesta, seks bebas, arak dan segala kemungkaran yang lain. Oleh karena itu, Namrud diberi gelar Bacchus atau Dewa Anggur karena ia 'mabuk' dengan keduniaan. Ia juga mengklaim dirinya Tuhan karena, sebagai seorang manusia dia merasa lebih tahu tentang kelemahan manusia lain dibandingkan Tuhan yang jauh terpisah dari makhluknya sendiri.

Kisah Raja Namrud Menikahi Ibu Kandungnya

Namrud merupakan seorang yang cerdas, menguasai ilmu matematika dan ahli bangunan. Salah satu karyanya yang terkenal sampai hari ini adalah Menara Babel, membangun kota Babel, Erekh, Akad, Asyur dan Niniwe. Sisa peninggalannya bisa ditemukan di Mosul (Bagdad) dan Gunung Namrudz yang tak jauh dari kota Adiyaman.  Disebutkan dalam sejarah bahwa Semiramis menikahi Kush, cucu Nuh. Saat itu usia gadis ini masih remaja dan wajahnya sangat cantik dan pintar. Tak lama setelah menikah, Kush wafat dan Namrud lahir tanpa kehadiran seorang ayah. 
Ilusterasu Namrudz

Tetapi menurut pengakuan Semiramis, dia melahirkan Namrud tanpa ayah dan menganggap dirinya suci tanpa pernah disentuh pria. Sehingga menggap anaknya, Namrud sebagai anak yang suci yang lahir dari seorang perawan. Setelah Namrud menginjak usia dewasa, Semiramis sering tampak cemburu ketika gadis-gadis mendekati anaknya. Hingga pada suatu ketika, dia menikah dengan anak kandungnya sendiri.
Kisah ini kemudian menjadi menarik, Namrud yang diangggap sebagai Tuhan disalibkan dengan domba dan ditempatkan dalam sebuah gua. Tiga hari kemudian, batu yang menutupi terguling dan pintu masuk gua tampak terbuka. Dikatakan bahwa jasad Namrud telah menghilang. 

Peradaban mulai mengagungkan namanya menjadi Osiris, Isis dan Horus. Sebagai bentuk dewa yang disembah dan dipuja pengikutnya. Orang-orang Babilonia kemudian mengadakan upacara musim semi untuk memperingati kematian dan kebangkitan. Setelah tiga hari kepergian Namrud, mereka menawarkan roti bertuliskan lambang salib surya.
Semiramis, ibu sekaligus isterinya, menyebarkan ajaran bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya. Untuk mengingatkannya, sebuah pohon Evergreen (atau cemara) ditafsirkan sebagai bukti kehidupan baru bagi Namrud. Untuk mengenang hari kelahirannya, Namrud akan hadir di pohon ini dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-rantingnya. Penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut "Mistletoe".

Pohon cemara adalah lambang kesuburan penting untuk upacara. Peradaban kuno percaya bahwa dengan mendekorasi rumah dan kuil dengan tanaman hijau, seperti holly, ivy dan mistletoe, dapat membantu membawa cahaya matahari yang berkurang di akhir tahun. Mistletoe adalah tanaman yang paling sakral oleh pengikut Druid. Tanaman ini sangat dihormati karena tumbuh di pohon Oak.

Kebiasaan berciuman di bawah Mistletoe berasal dari gagasan kuno bahwa mistletoe adalah alat kelamin kayu Oak. Jadi, diyakini bahwa pelukan di bawah buah yang berkilauan pasti menjamin pembuahan pasangannya. Selama berabad-abad, tradisi ini digunakan untuk merayakan pertengahan Saturnalia.

Agama Babilonia yang diajarkan Namrud dan Semiramis terdiri dari tiga elemen yaitu api, ular dan Matahari. Para pengikutnya fokus pada Matahari karena merupakan bagian penting. Sebagian besar mereka menyembah matahari, dengan harapan mendapatkan cahaya yang berujung pada kesejahteraan. 

Penyunting : Admin PJ

Sumber :



The Two Babylons: Or, the Papal Worship Proved to Be the Worship of Nimrod, by 
x

Namrud Raja Sombong Yang Mengaku Tuhan, Mati Oleh Seekor Makhluk Kecil | Pegawai Jalanan

Ilusterasi Kematian Namrud
Di masa Nabi Ibrahim, hidup seorang raja yang tiran dan dzalim di Babilonia. Ia bernama Namrud bin Kan’an. Namrud memiliki kekayaan yang luar biasa, ia memiliki istana megah dan tinggi mencakar langit, cadangan makanan yang berlimpah, serta bala tentara yang banyak. Pada zamannya, Namrud merupakan seorang raja yang cerdas, namun kecerdasannya itu membuatnya bersikap sombong bahkan mengaku sebagai Tuhan, akan tetapi usahanya selalu mendapatkan tantangan dari Nabi Ibrahim asNamanya terkenal karena usahanya sebagai pendiri Menara Babel. Ia adalah orang yang berkuasa di Babilonia yang menjadi pusat perdaban dunia setelah banjir bah pada zaman Nabi Nuh, yang wilayahnya meliputi Asia Barat dan Timur Tengah.
Namrud adalah raja yang dzalim, ia akan serta merta membunuh rakyatnya yang tidak mematuhinya. Konon menurut cerita, Namrud adalah raja pertama yang berbuat lalim di muka bumi. 
Tidak hanya karena kekuasaannya Namrud mengaku sebagai tuhan. Tetapi juga karena ia dikaruniai kecerdasan dan kesehatan yang sangat baik. Konon, Raja Namrud tidak pernah terserang penyakit selama ratusan tahun selama hidupnya.
Karena kekayaannya yang berlimpah, orang-orang biasa datang menemuinya untuk meminta perbekalan makanan. Ketika itu, Nabi Ibrahim datang bersama beberapa orang lain untuk meminta perbekalan makanan kepada Namrud.
Menara Babilon
Setiap orang yang datang ke sana akan ditanya “Siapakah tuhanmu?” Maka mereka semua menjawab “Engkau wahai rajaku.” Maka Namrud pun memberikan persediaan makanan kepada mereka.
Hingga tibalah giliran Nabi Ibrahim, Namrud bertanya “Siapakah tuhanmu?”
“Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” jawab Nabi Ibrahim.
Namrud kemudian berkata “Akulah yang dapat menghidupkan dan mematikan” (Maksudnya dengan kekuasaannya ia dapat membiarkan seseorang untuk hidup atau membunuhnya).
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitlah ia dari Barat,” sanggah Nabi Ibrahim. Mendengar jawaban itu, Namrud hanya terdiam. Lalu diusirlah Nabi Ibrahim tanpa diberikan makanan sedikit pun.
Nabi Ibrahim pun kembali dengan tangan kosong. Di perjalanan pulang, Nabi Ibrahim melewati sebuah bukit pasir yang berdebu, maka diambillah pasir berdebu itu untuk dibawa kepada keluarganya agar dapat menghibur hati mereka. Sesampainya di rumah, Nabi Ibrahim meletakkan bawaannya dan langsung beristirahat.
Keesokan harinya, sang istri bangun dan melihat apa yang dibawa suaminya. Ternyata di dalamnya ada bahan makanan yang sangat baik, ia pun mengolah bahan itu dan disuguhkan kepada suaminya. Nabi Ibrahim begitu terkejut melihat makanan di hadapannya, ia pun bertanya pada istrinya “Dari mana engkau mendapatkan makanan ini?” “Dari bungkusan yang engkau bawa,” jawabnya. Nabi Ibrahim pun menyadari bahwa itu adalah rezeki dari Allah SWT.
Allah SWT kemudian mengutus malaikat kepada Namrud agar ia beriman kepada Allah. Namun raja sombong itu menolak mentah-mentah dan menyangkal “Memangnya ada tuhan selain diriku?!!” Ucapnya dengan angkuh.
Malaikat datang untuk kedua kalinya, namun Namrud tetap tak mau beriman. Hingga datanglah Malaikat ketiga kalinya dan jawaban Namrud tetap sama. Maka malaikat pun berkata “Kumpulkanlah seluruh bala tentaramu hingga tiga hari.” Maka Namrud mengumpulkan seluruh tentaranya, lalu Allah mengirimkan jutaan nyamuk menuju bala tentara Namrud. Saking banyaknya, mereka bahkan tak dapat melihat sinar matahari karena tertutup oleh gerombolan nyamuk.
Nyamuk-nyamuk itu kemudian menghisap darah pasukan Namrud dan memakan daging mereka. Maka habislah pasukan Namrud, sedangkan Namrud tetap selamat. Lalu Allah mengutus seekor nyamuk untuk masuk ke kepala Namrud melalui lubang hidungnya.
Nyamuk itu terus bertahan di kepala Namrud dan menyiksanya selama 400 tahun. Tak kuat dengan perihnya, Namrud akhirnya memukul-mukul kepalanya dengan tongkat kecil. Disebutkan dalam suatu kisah, bahwa ia menjadi raja yang dzalim selama 400 tahun, maka Allah pun mengadzabnya selama 400 tahun hingga akhirnya ia mati karena wasilah seekor nyamuk kecil.
Begitulah Allah SWT memberikan pelajaran kepada raja angkuh nan sombong melalui seekor nyamuk yang kecil. 
Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah kita sebagai manusia tidak ada apa-apanya, kita tidak diperkenankan untuk menjadi orang angkuh dan sombong, karena jika Allah ingin membinasakan kita maka itu sangat mudah. Bahkan bukan dengan nyamuk kecil ada lagi makhluk Allah yang lebih kecil lagi yaitu virus-virus mematikan yang dapat membunuh kita kapan saja. Mari kita ambil kisah ini sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga.
Wallahu a’lam bisshawab

Penyunting Ulang : Admin PJ
Sumber : 

Jumat, 22 November 2019

Kesultanan Sambas Pengaruh Awal Majapahit Sampai Hubungan Darah Dengan Brunei Darussalam | Pegawai Jalanan

Wilayah Kesultanan Sambas

Kesultanan Melayu Sambas adalah kesultanan yang terletak di wilayah pesisir utara Provinsi Kalimantan Barat atau wilayah barat laut Pulau Kalimantan dengan pusat pemerintahannya adalah di Kota Sambas sekarang. 

Sambas adalah penerus pemerintahan dari kerajaan-kerajaan Sambas sebelumnya. Kerajaan yang bernama "Sambas" di wilayah ini paling tidak telah berdiri dan berkembang sebelum abad ke-14 M sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca

Pada masa itu rajanya bergelar "Nek", salah satunya bernama Nek Riuh. Setelah masa Nek Riuh, pada sekitar abad ke-15 M muncul pemerintahan raja yang bernama Tan Unggal yang terkenal sangat kejam. Karena kekejamannya ini Raja Tan Unggal kemudian dikudeta oleh rakyat dan setelah itu selama puluhan tahun rakyat di wilayah Sungai Sambas ini tidak mau mengangkat raja lagi. 

Pada masa kekosongan pemerintahan di wilayah Sungai Sambas inilah kemudian pada awal abad ke-15 M datang serombongan besar orang-orang dari Pulau Jawa (sekitar lebih dari 500 orang) yaitu dari kalangan Bangsawan Kerajaan Majapahit yang masih beragama Hindu, yaitu keturunan dari Raja Majapahit sebelumnya yang bernama Wikramawardhana.

Ilusterasi rombongan Majapahit

Pada saat itu di pesisir dan tengah wilayah Sungai Sambas ini telah sejak ratusan tahun didiami oleh orang-orang Melayu yang telah mengalami asimilasi dengan orang-orang Dayak pesisir di mana karena saat itu wilayah ini sedang tidak ber-Raja (sepeninggal Raja Tan Unggal) maka kedatangan rombongan pelarian Majapahit ini berjalan mulus tanpa menimbulkan konflik. Rombongan Majapahit ini kemudian menetap di hulu Sungai Sambas yaitu di suatu tempat yang sekarang disebut dengan nama "Kota Lama". Setelah sekitar lebih dari 10 tahun menetap di "Kota Lama" dan melihat keadaan wilayah Sungai Sambas ini aman dan kondusif maka kemudian para pelarian Majapahit ini mendirikan sebuah Kerajaan hindu yang kemudian disebut dengan nama "Panembahan Sambas". Raja Panembahan Sambas ini bergelar "Ratu" (Raja Laki-laki) di mana Raja yang pertama tidak diketahui namanya yang kemudian setelah wafat digantikan oleh anaknya yang bergelar Ratu Timbang Paseban, setelah Ratu Timbang Paseban wafat lalu digantikan oleh adindanya yang bergelar Ratu Sapudak. Pada masa Ratu Sapudak inilah untuk pertama kalinya diadakan kerjasama perdagangan antara Panembahan Sambas ini dengan VOC yaitu pada tahun 1609.

Pada masa Ratu Sapudak inilah rombongan Sultan Tengah (Sultan Sarawak ke-1) bin Sultan Muhammad Hasan (Sultan Brunei ke-9) datang dari Kesultanan Sukadana ke wilayah Sungai Sambas dan kemudian menetap di wilayah Sungai Sambas ini (daerah Kembayat Sri Negara). Anak laki-laki sulung Sultan Tengah yang bernama Sulaiman kemudian dinikahkan dengan anak bungsu Ratu Sapudak yang bernama Mas Ayu Bungsu sehingga nama Sulaiman kemudian berubah menjadi Raden Sulaiman. Raden Sulaiman inilah yang kemudian setelah keruntuhan Panembahan Sambas di Kota Lama mendirikan Kerajaan baru yaitu Kesultanan Sambas dengan Raden Sulaiman menjadi Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Shafiuddin I yaitu pada tahun 1671.

Sebelum berdirinya Kesultanan Sambas pada tahun 1671, di wilayah Sungai Sambas ini sebelumnya telah berdiri kerajaan-kerajaan yang menguasai wilayah Sungai Sambas dan sekitarnya. Berdasarkan data-data yang ada, urutan kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Sungai Sambas dan sekitarnya sampai dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah:
  1. Kerajaan Wijaya Pura sekitar abad 7 M - 9 M.
  2. Kerajaan Nek Riuh sekitar abad 13 M - 14 M.
  3. Kerajaan Tan Unggal sekitar abad 15 M.
  4. Panembahan Sambas pada abad 16 M.
  5. Kesultanan Sambas pada abad 17 M - 20 M.
Secara otentik Kerajaan Sambas telah eksis sejak abad ke 13 M yaitu sebagaimana yang tercantum dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada masa Majapahit. Kemungkinan besar bahwa Kerajaan Sambas saat itu rajanya bernama Nek Riuh. Walaupun secara otentik Kerajaan Sambas tercatat sejak abad ke-13 M, namun demikian berdasarkan benda-benda arkeologis (berupa gerabah, patung dari masa Hindu) yang ditemukan selama ini di wilayah sekitar Sungai Sambas menunjukkan bahwa pada sekitar abad ke-6 M atau 7 M di wilayah ini diyakini telah berdiri sebuah kerajaan. Hal ini ditambah lagi dengan melihat posisi wilayah Sambas yang berhampiran dengan Selat Malaka yang merupakan lalu lintas dunia, sehingga diyakini bahwa pada sekitar abad ke-5 hingga 7 M di wilayah Sungai Sambas ini telah berdiri Kerajaan Sambas yaitu lebih kurang bersamaan dengan masa berdirinya Kerajaan Batu Laras di hulu Sungai Keriau yaitu sebelum berdirinya Kerajaan Tanjungpura.

Kedatangan rombongan bangsawan Majapahit di Sambas dapat berjalan mulus tanpa menimbulkan konflik bukanlah hanya karena wilayah Sambas pada waktu itu tidak be-raja (tidak mempunyai penguasa) setelah era Raja Tan Unggal, tapi lebih disebabkan karena penduduk Sambas pada waktu itu mempunyai kepercayaan yang sama dengan rombongan Majapahit tersebut, yakni Hindu. Hindu sudah berkembang di Nusantara sejak berdirinya Kerajaan Kutai (era pemerintahan Mulawarman) sampai kepada Kesultanan Kutai Kartanegara. Wajar kalau pengaruhnya sampai ke wilatah Sambas. Jadi pada waktu itu belum ada istilah “Melayu atau Dayak”. Istilah atau penyebutan itu ada setelah masuknya Islam. Penduduk yang kemudian masuk Islam dinamakan "Melayu" dan penduduk yang masih menganut Hindu (Kaharingan) dinamakan "Dayak" (Dayak artinya "orang hulu", yakni orang yang tinggal di hulu sungai atau pedalaman). Disebut orang pedalaman atau hulu bukan karena mereka terdesak oleh masuknya Islam tapi karena memang mereka belum tersentuh oleh syiar Islam, disebabkan mereka tinggal jauh di pedalaman. Pada waktu itu Islam umumnya memang disyiarkan oleh pedagang-pedagan dari GujaratHadramaut, dan dari Tiongkok. Pedagang-pedagang dan penjelajah lautan ini hanya singgah dan berdagang di daerah pesisir.
Keraton Peninggalan Kejayaan Kesultanan Sambas
Rombongan dari Jawa (Majapahit) ini pertama kali mendarat disebuah tempat yang dinamakan Pangkalan Jambu, sebuah tempat yang berada di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas sekarang. Itulah sebabnya daerah tempat mendaratnya rombongan bangsawan dari Jawa ini dinamakan Jawai sampai sekarang.
Sedangkan sejarah berdirinya Kesultanan Sambas bermula di Kesultanan Brunei yaitu ketika Sultan Brunei ke-9 --Sultan Muhammad Hasan—wafat pada tahun 1598, maka kemudian putranya yang sulung menggantikannya dengan gelar Sultan Abdul Jalilul Akbar. Ketika Sultan Abdul Jalilul Akbar telah memerintah puluhan tahun kemudian muncul saingan untuk menggantikan dari Adinda Sultan Abdul Jalilul Akbar yang bernama Pangeran Muda Tengah. Untuk menghindari terjadinya perebutan kekuasaan maka Baginda Sultan Abdul Jalilul Akbar membuat kebijaksanaan untuk memberikan sebagai wilayah kekuasaan Kesultanan Brunei yaitu daerah Sarawak kepada Pangeran Muda Tengah. Maka kemudian pada tahun 1629, Pangeran Muda Tengah menjadi Sultan di Sarawak sebagai Sultan Sarawak pertama dengan gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah yang kemudian Baginda lebih populer di kenal dengan nama Sultan tengah atau Raja Tengah yaitu merujuk kepada gelarnya sebelum menjadi Sultan yaitu Pangeran Muda Tengah.
Setelah sekitar 2 tahun memerintah di Kesultanan Sarawak yang berpusat di Sungai Bedil (Kuching sekarang), Sultan Tengah kemudian melakukan kunjungan ke Kesultanan Johor. Saat itu di Kesultanan Johor yang menjadi sultan adalah Sultan Abdul Jalil (Raja Bujang) di mana permaisuri Sultan Abdul Jalil ini adalah Mak Muda dari Sultan Tengah. Sewaktu di Kesultanan Johor ini terjadi kesalahpahaman antara Sultan Tengah dengan Sultan Abdul Jalil sehingga kemudian membuat Sultan Tengah dan rombongannya harus pulang dengan tergesa-gesa ke Sarawak sedangkan saat itu sebenarnya bukan angin yang baik untuk melakukan pelayaran. Oleh karena itulah maka ketika sampai di laut lewat dari Selat Malaka, kapal rombongan Sultan Tengah ini dihantam badai. Setelah terombang-ambing di laut satu hari satu malam, kapal Sultan Tengah tenyata telah terdampar di pantai yang adalah wilayah kekuasaan Kesultanan Sukadana. 
Pada saat itu yang menjadi sultan di Kesultanan Sukadana adalah Sultan Muhammad Shafiuddin (Digiri Mustika) yang baru saja kedatangan utusan Amir Makkah yaitu Shekh Shamsuddin yang mengesahkan gelaran Sultan Muhammad Shafiuddin ini. Sebelum ke Kesultanan Sukadana, Shekh Shamsuddin telah berkunjung pula ke Kesultanan Banten yang juga mengesahkan gelaran Sultan Banten pada tahun yang sama.
Sultan Tengah dan rombongannya kemudian disambut dengan baik oleh Sultan Muhammad Shafiuddin. Setelah tinggal beberapa lama di Kesultanan Sukadana, setelah melihat kepribadian Sultan Tengah yang baik, maka kemudian Sultan Muhammad Shafiuddin mencoba menjodohkan Sultan Tengah dengan putrinya yang bernama Putri Surya Kesuma. Sultan Tengah pun kemudian menerima perjodohan ini. Setelah menikah dengan Putri Surya Kesuma ini Sultan Tengah kemudian memutuskan untuk menetap sementara di Kesultanan Sukadana sambil menunggu situasi yang aman di sekitar Selat Malaka menyusul adanya ekspansi besar-besaran dari Kesultanan Johor dibawah pimpinan Sultan Abdul Jalil (Raja Bujang) di wilayah itu. Dari pernikahannya dengan Putri Surya Kesuma ini Sultan Tengah kemudian memperoleh seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Sulaiman.
Setelah sekitar 7 tahun menetap di Kesultanan Sukadana dan situasi di sekitar Selat Malaka masih belum aman dari ekspansi Sultan Abdul Jalil (Raja Bujang) itu, maka Baginda Sultan Tengah kemudian memutuskan untuk berpindah dari Kesultanan Sukadana untuk menetap di tempat baru yaitu wilayah Sungai Sambas karena sebelumnya Sultan Tengah telah mendengar sewaktu di Sukadana bahwa di sekitar Sungai Sambas terdapat sebuah Kerajaan yang berhubungan baik dengan Kesultanan Sukadana yaitu Panembahan Sambas.
Maka kemudian pada tahun 1638 berangkatlah rombongan Sultan Tengah beserta keluarga dan orang-orangnya dengan menggunakan 40 perahu yang lengkap dengan senjata dari Kesultanan Sukadana menuju Panembahan Sambas di Sungai Sambas. Setelah sampai di Sungai Sambas, rombongan Sultan Tengah ini kemudian disambut dengan baik oleh Raja Panembahan Sambas saat itu yaitu Ratu Sapudak. Rombongan Sultan Tengah ini kemudian dipersilahkan oleh Ratu Sapudak untuk menetap di sebuah tempat tak jauh dari pusat pemerintahan Panembahan Sambas.
Tidak lama setelah Sultan Tengah beserta keluarga dan orang-orangnya tinggal di Panembahan Sambas, Ratu Sapudak kemudian meninggal secara mendadak. Sebagai penggantinya maka kemudian diangkatlah keponakan Ratu Sapudak yang bernama Raden Kencana (Anak Ratu Timbang Paseban). Raden Kencana ini adalah juga menantu dari Ratu Sapudak karena mengawini anak Ratu Sapudak yang perempuan bernama Mas Ayu Anom. Setelah menaiki tahta Panembahan Sambas, Raden Kencana ini kemudian bergelar Ratu Anom Kesumayuda.
Setelah sekitar 10 tahun Sultan Tengah menetap di wilayah Panembahan Sambas dan anaknya yang sulung yaitu Sulaiman sudah beranjak dewasa maka kemudian Sulaiman dijodohkan dan kemudian menikah dengan anak perempuan Almarhum Ratu Sapudak yang bungsu bernama Mas Ayu Bungsu. Karena pernikahan inilah maka Sulaiman kemudian dianugerahi gelar Raden oleh Panembahan Sambas sehingga nama menjadi Raden Sulaiman dan selanjuntnya tinggal di lingkungan Istana Panembahan Sambas bersama Mas Ayu Bungsu. Dari pernikahannya dengan Mas Ayu Bungsu ini, Raden Sulaiman memperoleh seorang anak pertama yaitu seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Bima. Raden Sulaiman kemudian diangkat oleh Ratu Anom Kesumayuda menjadi salah satu Menteri Besar Panembahan Sambas bersama dengan Adinda Ratu Anom Kesumayuda yang bernama Raden Arya Mangkurat.
Tidak lama setelah kelahiran cucu Sultan Tengah yaitu Raden Bima, dan setelah melihat situasi yang sudah mulai aman di sekitar Selat Malaka apalagi setelah melihat anaknya yang sulung yaitu Raden Sulaiman telah menikah dan mandiri bahkan telah menjadi Menteri Besar Panembahan Sambas, maka Baginda Sultan Tengah kemudian memutuskan sudah saatnya untuk kembali ke negerinya yang telah lama di tinggalkan yaitu Kesultanan Sarawak. Maka kemudian berangkatlah Sultan Tengah beserta istrinya yaitu Putri Surya Kesuma dan keempat anaknya yang lain (adik-adik dari Raden Sulaiman) yaitu Badaruddin, Abdul Wahab, Rasmi Putri dan Ratna Dewi beserta orang-orangnya yaitu pada sekitar tahun 1652.
Ditengah perjalanan ketika telah hampir sampai ke Sarawak yaitu di suatu tempat yang bernama Batu Buaya, secara tiba-tiba Sultan Tengah ditikam dari belakang oleh pengawalnya sendri, pengawal itu kemudian dibalas tikam oleh Sultan Tengah hingga pengawal itu tewas. Namun luka yang di tubuh Sultan Tengah terlalu parah sehingga kemudian Sultan Tengah pun wafat. Jenazah Baginda Sultan Tengah kemudian setelah di shalatkan kemudian dengan adat kebesaran Kesultanan Sarawak oleh Menteri-Menteri Besar Kesultanan Sarawak, dimakamkan di lereng Gunung Sentubong. Adapun Putri Surya Kesuma setelah kewafatan suaminya yaitu Almarhum Sultan Tengah, kemudian memutuskan untuk kembali ke Kesultanan Sukadana yaitu tempat di mana ia berasal bersama dengan keempat anaknya.
Di Panembahan Sambas, sepeninggal Ayahnya yaitu Baginda Sultan Tengah, Raden Sulaiman mendapat tentangan yang keras dari Adik Ratu Anom Kesumayuda yang juga adalah Menteri Besar Panembahan Sambas yaitu Raden Arya Mangkurat. Tentangan dari Raden Arya Mangkurat yang sangat fanatik Hindu ini karena iri dan dengki dengan Raden Sulaiman yang semakin kuat mendapat simpati dari para pembesar Panembahan Sambas saat karena baik pwrilakunya dan bagus kepemimpinannya dalam memagang jabatan Menteri Besar, disamping itu Raden Sulaiman ini juga sangat giat menyebarkan Islam di lingkungan Istana Panembahan Sambas yang mayoritas masih menganut Hindu, sehingga dari hari ke hari semakin banyak petinggi dan penduduk Panembahan Sambas yang masuk Islam.
Bendera Kesultanan Sambas
Tekanan terhadap Raden Sulaiman oleh Raden Arya Mangkurat ini kemudian semakin kuat hingga sampai pada mengancam keselamatan Raden Sulaiman beserta keluarganya, sedangkan Ratu Anom Kesumayuda tampaknya tidak mampu berbuat banyak. Maka Raden Sulaiman kemudian memtuskan untuk hijrah dari pusat Panembahan Sambas dan mencari tempat menetap yang baru. Maka kemudian pada sekitar tahun 1655, berangkatlah Raden Sulaiman beserta istri dan anaknya serta orang-orangnya, yaitu sebagian orang-orang Brunei yang ditinggalkan ayahnya (Sultan Tengah) ketika akan pulang ke Sarawak dan sebagian petinggi dan penduduk Panembahan Sambas yang setia dan telah masuk Islam.
Dari pusat Panembahan Sambas ini (sekarang disebut dengan nama Kota Lama), Raden Sulaiman dan rombongannya sempat singgah selama setahun di tempat yang bernama Kota Bangun dan kemudian memutuskan untuk menetap di suatu tempat lain yang kemudian bernama Kota Bandir. Setelah sekitar 4 tahun menetap di Kota Bandir ini, secara tiba-tiba, Ratu Anom Kesumayuda datang menemui Raden Sulaiman di mana Ratu Anom Kesumayuda menyatakan bahwa ia dan sebagian besar petinggi dan penduduk Panembahan Sambas di Kota Lama akan berhijrah dari wilayah Sungai Sambas ini dan akan mencari tempat menetap yang baru di wilayah Sungai Selakau karena ia (Ratu Anom Kesumayuda) telah berseteru dan tidak sanggup menghadapi ulah adiknya yaitu Raden Arya Mangkurat di Kota Lama. Untuk itulah Ratu Anom Kesumayuda kemudian menyatakan menyerahkan kekuasaan di wilayah Sungai Sambas ini kepada Raden Sulaiman dan agar melakukan pemerintahan di wilayah Sungai Sambas ini.
Sekitar 5 tahun setelah mendapat mandat penyerahan kekuasaan dari Ratu Anom Kesumayuda maka setelah berembug dengan orang-orangnya dan melakukan segala persiapan yang diperlukan, Raden Sulaiman kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah Kerajaan baru. Maka kemudian pada sekitar tahun 1671 Raden Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas dengan Raden Sulaiman sebagai sultan pertama Kesultanan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin. Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas ini adalah ditempat yang baru di dekat muara Sungai Teberrau yang bernama Lubuk Madung.
Lambang Kesultanan Sambas
Setelah memerintah selama sekitar 15 tahun yang diisi dengan melakukan penataaan sistem pemerintahan dan pembinaan hubungan dengan negari-negeri tetangga, pada tahun 1685 Sultan Muhammad Shafiuddin (Raden Sulaiman) mengundurkan diri dari tahta Kesultanan Sambas dan mengangkat anak sulungnya yaitu Raden Bima sebagai penggantinya dengan gelar Sultan Muhammad Tajuddin.
Sekitar setahun setelah memerintah sebagai Sultan Sambas ke-2, Sultan Muhammad Tajuddin (Raden Bima), atas persetujuan dari ayahnya (Raden Sulaiman), kemudian memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Sambas dari Lubuk Madung ke suatu tempat tepat di depan percabangan tiga buah Sungai yaitu Sungai Sambas, Sungai Teberrau, dan Sungai Subah. Tempat ini kemudian disebut dengan nama "Muara Ulakkan" yang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Sambas seterusnya yaitu dari tahun 1685 itu hingga saat ini.

Selama masa berdirinya Pemerintahan Kesultanan Sambas dari tahun 1671 M hingga tahun 1950 M, selama masa itu Kepala Pemerintahan Kesultanan Sambas terdiri dari 15 orang Sultan dan 2 orang Ketua Majelis Kesultanan (Plt Sultan).
Kesultanan Sambas selama 100 tahun yaitu dari paruh pertama abad ke-18 hingga paruh pertama abad ke-19 M merupakan Kerajaan Terbesar di wilayah pesisir barat Pulau Kalimantan (Kalimantan Barat) hingga kemudian Hindia Belanda masuk pada awal abad ke-19 M. Pihak Hindia Belanda ini yang membuat besar Kesultanan Pontianak sehingga kemudian Kesultanan Pontianak menggantikan posisi Kesultanan Sambas sebagai kerajaan terbesar di wilayah ini.
Pada sekitar awal abad ke-19 M (sekitar tahun 1805 M hingga tahun 1811 M) sering terjadi pertempuran di laut antara kapal-kapal Inggris dengan armada laut Kesultanan Sambas. Pada tahun 1812 M Hindia Inggris dibawah pimpinan T. S. Raffles mengirimkan armada dan pasukan untuk menyerang Kesultanan Sambas. Pertempuran sengit antara pasukan Inggris dan pasukan Kesultanan Sambas kemudian berlangsung disekitar percabangan Sungai Sambas (sekitar Kampung Sebatu) dan akhirnya pasukan Inggris itu dapat dikalahkan / dipukul mundur oleh pasukan Kesultanan Sambas (sebagaimana yang tercantum dalam buku sejarah tulisan Sir Graham Irwin / Sejarawan terkenal Inggris dalam bukunya yang berjudul "Borneo in Eighteen Century").
Dari sejak berdirinya Kesultanan Sambas pada tahun 1671 dengan Sultan pertama Kesultanan Sambas yaitu Sultan Muhammad Shafiuddin I hingga tahun 1818 yaitu dimasa pemerintahan Sultan Sambas ke-8 yaitu Sultan Muhammad Ali Shafiuddin I (Pangeran Anom), Kesultanan Sambas pada rentang masa itu (1671 M - 1818 M) adalah dalam kondisi berdaulat penuh yaitu pada rentang masa itu tidak ada satu pun kekuasaan asing yang menduduki atau mendirikan perwakilan pemerintahan di Kesultanan Sambas dan pada rentang masa itu Kesultanan Sambas tidak ada tunduk atau mengantarkan upeti apapun kepada pihak kekuasaan asing manapun.
Saat ini wilayah keultanan sambas menjadi wilayah kabupaten Sambas yang masuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Semoga informasi sejarah ini bisa meningkatkan pengetahuan dan menambah rasa persaudaraan di nusantara ini, karena pada awalnya nenek moyang kita sudah saling berhubungan khususnya antara Jawa dan Sambas serta Brunei dan Sambas. Semoga bermanfaat.

Penyunting : Admin PJ
Sumber Buku: Sejarah Kesultanan Sambas Oleh Drs. Ansar Rahman Dkk Penerbit Dinas Pariwisata Pemda Kab. Sambas Tahun 2001