Tuesday, March 10, 2020

Sejarah Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) 1926-2019 | Pegawai Jalanan


KH Hasyim Asy'ari
Nahdlatul 'Ulama (Kebangkitan 'Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikansosial, dan ekonomiPendirian NU digagas para kiai ternama dari Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, yang menggelar pertemuan di kediaman K.H. Wahab Chasbullah di Surabaya. Selain K.H. Wahab Chasbullah, pertemuan para kiai itu juga merupakan prakarsa dari K.H. Hasyim Asy’ari. Yang dibahas pada waktu itu adalah upaya agar Islam tradisional di Indonesia dapat dipertahankan. Maka, dirasa perlu dibentuk sebuah wadah khusus. 
Sebenarnya, upaya semacam itu sudah dirintis Kiai Wahab jauh sebelumnya. Bersama K.H. Mas Mansur, seperti ditulis Ahmad Zahro dalam buku Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999 (2004), Kiai Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan yang artinya “kebangkitan tanah air” pada 1914. Martin van Brulnessen dalam buku berjudul NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) menyebut bahwa, boleh dibilang, Nahdlatul Wathan merupakan sebuah lembaga pendidikan agama bercorak nasionalis moderat pertama di Nusantara. Sebagai catatan, Nahdlatul Wathan versi Kiai Wahab dan Kiai Mas Mansur berbeda dengan lembaga bernama serupa yang didirikan Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Lombok, Nusa Tenggara Timur, pada 1953.
Kehadiran NU merupakan salah satu upaya melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut jauh sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah wal Jamaah. Selain itu, NU sebagaimana organisasi-organisasi pribumi lain baik yang bersifat sosial, budaya atau keagamaan yang lahir di masa penjajah, pada dasarnya merupakan perlawanan terhadap penjajah. Hal ini didasarkan, berdirinya NU dipengaruhi kondisi politik dalam dan luar negeri, sekaligus merupakan kebangkitan kesadaran politik yang ditampakkan dalam wujud gerakan organisasi dalam menjawab kepentingan nasional dan dunia Islam umumnya.

Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bishri Sansoeri merupakan tiga kiai, di antara kiai-kiai lain, yang hadir saat mendirikan

Akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan terus menyebar - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.


Merespon kebangkitan nasional tersebut, Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dibentuk pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar).
Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Berangkat dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, karena tidak terakomodir kyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti konferensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya muncul kesepakatan dari para ulama pesantren untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) di Kota Surabaya. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasjim Asy'ari sebagai Rais Akbar.
Ada banyak faktor yang melatar belakangi berdirinya NU. Di antara faktor itu adalah perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala bentuk amaliah kaum Sunni. Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam "murni", yaitu dengan cara umat islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab. Bagi para kiai pesantren, pembaruan pemikiran keagamaan sejatinya tetap merupakan suatu keniscayaan, namun tetap tidak dengan meninggalkan tradisi keilmuan para ulama terdahulu yang masih relevan. Untuk itu, Jam'iyah Nahdlatul Ulama cukup mendesak untuk segera didirikan.
Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasjim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang teologi/Tauhid/ketuhanan. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: Imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: Imam Hanafi, Imam Maliki,dan Imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Syeikh Juneid al-Bagdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.
Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.
Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu diperjelas, yaitu: anggota, pendukung atau simpatisan, serta Muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada satu dokumen resmipun yang bisa dirujuk untuk itu. Hal ini karena sampai saat ini tidak ada upaya serius di tubuh NU di tingkat apapun untuk mengelola keanggotaannya.
Apabila dilihat dari segi pendukung atau simpatisan, ada dua cara melihatnya. Dari segi politik, bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau diasosiasikan dengan NU, seperti PKB, PNU, PKU, Partai SUNI, dan sebagian dari PPP. Sedangkan dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yaitu berkisar 48% dari Muslim santri Indonesia. Suaidi Asyari[7] memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau pengikut paham keagamaan NU. Jumlah keseluruhan Muslim santri yang disebut sampai 80 juta atau lebih, merupakan mereka yang sama paham keagamaannya dengan paham kegamaan NU. Namun belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau disebut berafiliasi dengan NU.
Berdasarkan lokasi dan karaktaristiknya, mayoritas pengikut NU terdapat di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. Pada perkembangan terakhir terlihat bahwa pengikut NU mempunyai profesi beragam, meskipun sebagian besar di antara mereka adalah rakyat jelata baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mereka memiliki kohesivitas yang tinggi, karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, serta selain itu juga sama-sama sangat menjiwai ajaran ahlussunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.
Basis pendukung NU ini cenderung mengalami pergeseran. Sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat ini di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan ini NU sudah memiliki sejumlah doktor atau magister dalam berbagai bidang ilmu selain dari ilmu ke-Islam-an baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk negara-negara Barat. Namun para doktor dan magister ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap kepengurusan NU.

Argha Sena
Sumber : https://www.nu.or.id/ dan https://id.wikipedia.org/ dan tirto.id


Sejarah Singkat Muhammadiyah dan Tujuannya didirikan | Pegawai Jalanan

KH Ahmad Dahlan dan Logo Muhammadiyah

Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.
 
Kata ”Muhammadiyah” secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”. Penggunaan kata ”Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbahan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: ”Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.”
 
Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di Ssudi Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi sekembalinya dari Arab Saudi, Kyai Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan, bukan malah menjadi konservatif.
 
Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa Kyai Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis Kyai Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.
 
Kweekschool

Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah” (kegiatan Kyai Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta tersebut, merupakan ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kyai Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum.
 
Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama ”MUHAMMADIYAH”. Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912 dengan mengirim ”Statuten Muhammadiyah” (Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. Dalam ”Statuten Muhammadiyah” yang pertama itu, tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November 1912, tidak mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan, ”Perhimpunan itu ditentukan buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November 1912. Namanya ”Muhammadiyah” dan tempatnya di Yogyakarta”. Sedangkan maksudnya (Artikel 2), ialah: a. menyebarkan pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta, dan b. memajukan hal Igama kepada anggauta-anggautanya.”
Terdapat hal menarik, bahwa kata ”memajukan” (dan sejak tahun 1914 ditambah dengan kata ”menggembirakan”) dalam pasal maksud dan tujuan Muhammadiyah merupakan kata-kunci yang selalu dicantumkan dalam ”Statuten Muhammadiyah” pada periode Kyai Dahlan hingga tahun 1946 (yakni: Statuten Muhammadiyah Tahun 1912, Tahun 1914, Tahun 1921, Tahun 1931, Tahun 1931, dan Tahun 1941). Sebutlah Statuten tahun 1914: Maksud Persyarikatan ini yaitu:
  1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama di Hindia Nederland,
  2. dan Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya.
Dalam pandangan Djarnawi Hadikusuma, kata-kata yang sederhana tersebut mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Yaitu, ketika umat Islam sedang dalam kelemahan dan kemunduran akibat tidak mengerti kepada ajaran Islam yang sesungguhnya, maka Muhammadiyah mengungkap dan mengetengahkan ajaran Islam yang murni itu serta menganjurkan kepada umat Islam pada umumnya untuk mempelajarinya, dan kepada para ulama untuk mengajarkannya, dalam suasana yang maju dan menggembirakan.
 
Pada AD Tahun 1946 itulah pencantuman tanggal Hijriyah (8 Dzulhijjah 1330) mulai diperkenalkan. Perubahan penting juga terdapat pada AD Muhammadiyah tahun 1959, yakni dengan untuk pertama kalinya Muhammadiyah mencantumkan ”Asas Islam” dalam pasal 2 Bab II., dengan kalimat, ”Persyarikatan berasaskan Islam”. Jika didaftar, maka hingga tahun 2005 setelah Muktamar ke-45 di Malang, telah tersusun 15 kali Statuten/Anggaran Dasar Muhammadiyah, yakni berturut-turut tahun 1912, 1914, 1921, 1934, 1941, 1943, 1946, 1950 (dua kali pengesahan), 1959, 1966, 1968, 1985, 2000, dan 2005. Asas Islam pernah dihilangkan dan formulasi tujuan Muhammadiyah juga mengalami perubahan pada tahun 1985 karena paksaan dari Pemerintah Orde Baru dengan keluarnya UU Keormasan tahun 1985. Asas Islam diganti dengan asas Pancasila, dan tujuan Muhammadiyah berubah menjadi ”Maksud dan tujuan Persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata’ala”. Asas Islam dan tujuan dikembalikan lagi ke ”masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” dalam AD Muhammadiyah hasil Muktamar ke-44 tahun 2000 di Jakarta.
 
Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah Kyai Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari. Kyai Dahlan, sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi dengan tipikal yang khas, memiliki cita-cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid (pembaruan) yang meliputi aspek-aspek tauhid (‘aqidah), ibadah, mu’amalah, dan pemahaman terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan kepada sumbernya yang aseli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih, dengan membuka ijtihad.
Mengenai langkah pembaruan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya sebagai berikut:”Dalam bidang tauhid, K.H A. Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik, dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bid’ah, dalam bidang mumalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.”.
 
Adapun langkah pembaruan yang bersifat ”reformasi” ialah dalam merintis pendidikan ”modern” yang memadukan pelajaran agama dan umum. Menurut Kuntowijoyo, gagasan pendidikan yang dipelopori Kyai Dahlan, merupakan pembaruan karena mampu mengintegrasikan aspek ”iman” dan ”kemajuan”, sehingga dihasilkan sosok generasi muslim terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah kepribadiannya (Kuntowijoyo, 1985: 36). Lembaga pendidikan Islam ”modern” bahkan menjadi ciri utama kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah, yang membedakannya dari lembaga pondok pesantren kala itu. Pendidikan Islam “modern” itulah yang di belakang hari diadopsi dan menjadi lembaga pendidikan umat Islam secara umum.
Langkah ini pada masa lalu merupakan gerak pembaruan yang sukses, yang mampu melahirkan generasi terpelajar Muslim, yang jika diukur dengan keberhasilan umat Islam saat ini tentu saja akan lain, karena konteksnya berbeda.
 
Pembaruan Islam yang cukup orisinal dari Kyai Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan pengamalan Surat Al-Ma’un. Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun, merupakan contoh lain yang paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosial-kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU). Langkah momumental ini dalam wacana Islam kontemporer disebut dengan ”teologi transformatif”, karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-ibadah dan ”hablu min Allah” (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi manusia. Inilah ”teologi amal” yang tipikal (khas) dari Kyai Dahlan dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari gagasan dan amal pembaruan lainnya di negeri ini.
 
Kyai Dahlan juga peduli dalam memblok umat Islam agar tidak menjadi korban misi Zending Kristen, tetapi dengan cara yang cerdas dan elegan. Kyai mengajak diskusi dan debat secara langsung dan terbuka dengan sejumlah pendeta di sekitar Yogyakarta. Dengan pemahaman adanya kemiripan selain perbedaan antara Al-Quran sebagai Kutab Suci umat Islam dengan kitab-kitab suci sebelumnya, Kyai Dahlan menganjurkan atau mendorong ”umat Islam untuk mengkaji semua agama secara rasional untuk menemukan kebenaran yang inheren dalam ajaran-ajarannya”, sehingga Kyai pendiri Muhammadiyah ini misalnya beranggapan bahwadiskusi-diskusi tentang Kristen boleh dilakukan di masjid (Jainuri, 2002: 78) .
 
Kepeloporan pembaruan Kyai Dahlan yang menjadi tonggak berdirinya Muhammadiyah juga ditunjukkan dengan merintis gerakan perempuan ‘Aisyiyah tahun 1917, yang ide dasarnya dari pandangan Kyai agar perempuan muslim tidak hanya berada di dalam rumah, tetapi harus giat di masyarakat dan secara khusus menanamkan ajaran Islam serta memajukan kehidupan kaum perempuan. Langkah pembaruan ini yang membedakan Kyai Dahlan dari pembaru Islam lain, yang tidak dilakukan oleh Afghani, Abduh, Ahmad Khan, dan lain-lain (mukti Ali, 2000: 349-353). Perintisan ini menunjukkan sikap dan visi Islam yang luas dari Kyai Dahlan mengenai posisi dan peran perempuan, yang lahir dari pemahamannya yang cerdas dan bersemangat tajdid, padahal Kyai dari Kauman ini tidak bersentuhan dengan ide atau gerakan ”feminisme” seperti berkembang sekarang ini. Artinya, betapa majunya pemikiran Kyai Dahlan yang kemudian melahirkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam murni yang berkemajuan.
 
Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, menurut Djarnawi Hadikusuma (t.t: 69) telah menampilkan Islam sebagai ”sistem kehidupan mansia dalam segala seginya”. Artinya, secara Muhammadiyah bukan hanya memandang ajaran Islam sebagai aqidah dan ibadah semata, tetapi merupakan suatu keseluruhan yang menyangut akhlak dan mu’amalat dunyawiyah. Selain itu, aspek aqidah dan ibadah pun harus teraktualisasi dalam akhlak dan mu’amalah, sehingga Islam benar-benar mewujud dalam kenyataan hidup para pemeluknya. Karena itu, Muhammadiyah memulai gerakannya dengan meluruskan dan memperluas paham Islam untuk diamalkan dalam sistem kehidupan yang nyata.
 
Kyai Dahlan dalam mengajarkan Islam sungguh sangat mendalam, luas, kritis, dan cerdas. Menurut Kyai Dahlan, orang Islam itu harus mencari kebenaran yang sejati, berpikir mana yang benar dan yang salah, tidak taklid dan fanatik buta dalam kebenaran sendiri, menimbang-nimbang dan menggunakan akal pikirannya tentang hakikat kehiduupan, dan mau berpikir teoritik dan sekaligus beripiki praktik (K.R. H. Hadjid, 2005). Kyai Dahlan tidak ingin umat Islam taklid dalam beragama, juga tertinggal dalam kemajuan hidup. Karena itu memahami Islam haruslah sampai ke akarnya, ke hal-hal yang sejati atau hakiki dengan mengerahkan seluruh kekuatan akal piran dan ijtihad.
 
Dalam memahami Al-Quran, dengan kasus mengajarkan Surat Al-Ma’un, Kyai Dahlan mendidik untuk mempelajari ayat Al-Qur’an satu persatu ayat, dua atau tiga ayat, kemudian dibaca dan simak dengan tartil serta tadabbur (dipikirkan): ”bagaimanakah artinya? bagaimanakah tafsir keterangannya? bagaimana maksudnya? apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan ini? apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? sudahkah kita menjalankannya?” (Ibid: 65). Menurut penuturan Mukti Ali, bahwa model pemahaman yang demikian dikembangkan pula belakangan oleh KH.Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, lulusan Al-Azhar Cairo, cerdas pemikirannya sekaligus luas pandangannya dalam berbagai masalah kehidupan.
 
Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan. Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain:
  1. Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi;
  2. Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;
  3. Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman;
  4. Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme;
  5. dan Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam, serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat
(Junus Salam, 1968: 33).
 
Karena itu, jika disimpulkan, bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah karena alasan-alasan dan tujuan-tujuan sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar (H.A. Mukti Ali, dalam Sujarwanto & Haedar Nashir, 1990: 332).
 
Kendati menurut sementara pihak Kyai Dahlan tidak melahirkan gagasan-gagasan pembaruan yang tertulis lengkap dan tajdid Muhammadiyah bersifat ”ad-hoc”, namun penilaian yang terlampau akademik tersebut tidak harus mengabaikan gagasan-gagasan cerdas dan kepeloporan Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, yang untuk ukuran kala itu dalam konteks amannya sungguh merupakan suatu pembaruan yang momunemntal. Ukuran saat ini tentu tidak dapat dijadikan standar dengan gerak kepeloporan masa lalu dan hal yang mahal dalam gerakan pembaruan justru pada inisiatif kepeloporannya.
 
Kyai Dahlan dengn Muhammadiyah yang didirikannya terpanggil untuk mengubah keadaan dengan melakukan gerakan pembaruan. Untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai latarbelakang dan dampak dari kelahiran gerakan Muhammadiyah di Indonesia, berikut pandangan James Peacock (1986: 26), seorang antropolog dari Amerika Serikat yang merintis penelitian mengenai Muhammadiyah tahun 1970-an, bahwa: ”Dalam setengah abad sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara yang berbeda di bermacam macam daerah. Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat sejumlah pergerakan kecil kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Asia Tenggara. Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni, Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah sebagai lembaga non-Kristen dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia. ‘Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia.”
Kelahiran Muhammadiyah secara teologis memang melekat dan memiliki inspirasi pada Islam yang bersifat tajdid, namun secara sosiologis sekaligus memiliki konteks dengan keadaan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia yang berada dalam keterbelakangan. Kyai Dahlan melalui Muhammadiyah sungguh telah memelopori kehadiran Islam yang otentik (murni) dan berorientasi pada kemajuan dalam pembaruannya, yang mengarahkan hidup umat Islam untuk beragama secara benar dan melahirkan rahmat bagi kehidupan. Islam tidak hanya ditampilkan secara otentik dengan jalan kembali kepada sumber ajaran yang aseli yakni Al-Qur‘an dan Sunnah Nabi yang sahih, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia dari serba ketertinggalan menuju pada dunia kemajuan.
 
Fenomena baru yang juga tampak menonjol dari kehadiran Muhammadiyah ialah, bahwa gerakan Islam yang murni dan berkemajuan itu dihadirkan bukan lewat jalur perorangan, tetapi melalui sebuah sistem organisasi. Menghadirkan gerakan Islam melalui organisasi merupakan terobosan waktu itu, ketika umat Islam masih dibingkai oleh kultur tradisional yang lebih mengandalkan kelompok-kelompok lokal seperti lembaga pesantren dengan peran kyai yang sangat dominan selaku pemimpin informal. Organisasi jelas merupakan fenomena modern abad ke-20, yang secara cerdas dan adaptif telah diambil oleh Kyai Dahlan sebagai “washilah” (alat, instrumen) untuk mewujudkan cita-cita Islam.
 
Mem-format gerakan Islam melalui organisasi dalam konteks kelahiran Muhammadiyah, juga bukan semata-mata teknis tetapi juga didasarkan pada rujukan keagmaan yang selama ini melekat dalam alam pikiran para ulama mengenai qaidah “mâ lâ yatimm al-wâjib illâ bihi fa huwâ wâjib”, bahwa jika suatu urusan tidak akan sempurna manakala tanpa alat, maka alat itu menjadi wajib adanya. Lebih mendasar lagi, kelahiran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam melalui sistem organisasi, juga memperoleh rujukan teologis sebagaimana tercermin dalam pemaknaan/penafsiran Surat Ali Imran ayat ke-104, yang memerintahkan adanya “sekelompok orang untuk mengajak kepada Islam, menyuruh pada yang ma‘ruf, dan mencegah dari yang munkar”. Ayat Al-Qur‘an tersebut di kemudian hari bahkan dikenal sebagai ”ayat” Muhammadiyah.
 
Muhammadiyah dengan inspirasi Al-Qur‘an Surat Ali Imran 104 tersebut ingin menghadirkan Islam bukan sekadar sebagai ajaran “transendensi” yang mengajak pada kesadaran iman dalam bingkai tauhid semata. Bukan sekadar Islam yang murni, tetapi tidak hirau terhadap kehidup. Apalagi Islam yang murni itu sekadar dipahami secara parsial. Namun, lebih jauh lagi Islam ditampilkan sebagai kekuatan dinamis untuk transformasi sosial dalam dunia nyata kemanusiaan melalui gerakan “humanisasi” (mengajak pada serba kebaikan) dan “emanisipasi” atau “liberasi” (pembebasan dari segala kemunkaran), sehingga Islam diaktualisasikan sebagai agama Langit yang Membumi, yang menandai terbitnya fajar baru Reformisme atau Modernisme Islam di Indonesia.

Argha Sena 
Sumber  :http://suara-muhammadiyah.com/

Monday, March 9, 2020

Sejarah Penemuan Vaksin Yang Sudah Menyelamatkan Jutaan Nyawa | Pegawai Jalanan

Edward Jenner Penemu Vaksin Cacar

Pemberian vaksin atau imunisasi dapat mencegah manusia terkena berbagai penyakit berbahaya yang bisa saja mematikan. Vaksin merupakan pencegahan paling penting terhadap penyakit-penyakit yang mudah sekali menular atau mewabah. Pemberian vaksin juga telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling berhasil dan efektif di dunia.
Mengutip laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi bisa mencegah kecacatan dan kematian dari beberapa penyakit berbahaya, seperti tuberkulosis, hepatitis B, difteri, pertusis (whooping cough, batuk rejan), tetanus, polio, campak, pneumonia, gondongan, diare akibat rotavirus, rubella, dan kanker serviks.Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2018, imunisasi diperkirakan telah mencegah 2 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya. Jumlah kematian tersebut bahkan bisa berkurang lagi, bila cakupan imunisasi global meningkat.
Pernahkah terbayang dalam benak kita, bagaimana temuan super dahsyat ini pertama kali diciptakan?
Istilah vaksin pertama kali dikenal pada tahun 1796, ketika vaksin cacar pertama berhasil ditemukan. Kala itu, cacar atau variola adalah penyakit yang sangat mematikan. Vaksin tersebut dibuat oleh Edward Jenner, seorang dokter dari Berkeley, suatu daerah pedesaan di Inggris pada tahun 1796.

Hal itu berawal saat Jenner memperhatikan penduduk lokal yang mayoritas bekerja sebagai peternak. Mereka yang memerah susu sapi, sering kali terinfeksi oleh cacar sapi (cow pox) yang menyebabkan munculnya lesi pada tangan dan lengannya.
Yang menarik dari pengamatan itu, mereka yang pernah terinfeksi cacar sapi, ternyata menjadi kebal terhadap infeksi cacar air yang saat itu mewabah di desanya. Kondisi itulah yang kemudian dijadikan Jenner untuk memulai penelitian klinis pertamanya, yaitu membuat vaksin.
Dalam penelitian itu, Jenner mengambil nanah lesi cacar sapi dari tangan seorang pemerah susu. Ia kemudian menularkannya kepada seorang anak berusia 8 tahun, yang bernama James Phipps, dengan virus cacar sapi. Dugaannya benar, anak itu ternyata langsung terkena cacar sapi, tetapi dapat segera sembuh.
Beberapa minggu setelahnya, Jenner menyuntik Phipps dengan materi cacar air. Keajaiban pun terjadi, karena tidak ada tanda-tanda sakit yang tampak pada tubuhnya.
Istilah vaksin sendiri digunakan oleh Jenner karena substansi ini berasal dari sapi yang dalam bahasa latin adalah vacca. Sejak saat itu, istilah vaksin dikenal sebagai suspensi berisi mikoorganisme yang telah dilemahkan. Fungsinya untuk menimbulkan kekebalan pada tubuh dan mencegah manusia terinfeksi dari suatu penyakit berbahaya.
Selama berabad-abad, penyakit cacar menjadi ancaman bagi umat manusia. Namun kini, kita tidak terlalu mengkhawatirkannya lagi, karena penanganan dan pencegahan penyakit cacar telah ditemukan.
Tapi tak hanya sampai di situ, terobosan baru tentang vaksin juga mulai bermunculan setelahnya. Pada akhir abad ke-19, Louis Pasteur, seorang ahli Kimia asal Prancis, mengembangkan teknologi untuk mengisolasi virus dan melemahkannya, yang efeknya dapat dipakai sebagai vaksin.
Kala itu, ia membuat vaksin untuk menangkal penyakit rabies. Sayangnya, ia sempat mendapat banyak protes keras oleh ahli jiwa dan masyarakat, karena memasukkan vaksin rabies ke tubuh manusia.
Pada 1954, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat yang merupakan Kepala Laboratorium Penelitian Virus di University of Pittsburgh, mengembangkan vaksin polio untuk pertama kalinya. Penyakit polio merupakan hal yang sangat menakutkan di negara industri karena menyebabkan anak lumpuh setiap tahunmnya, yang jika tidak ditangani wabahnya maka akan melahirkan generasi cacat yang sangat berbahaya bagi manusia.
Wabah polio pun menjadi pandemi di Eropa, Amerika Utara, Australia dan Selendia Baru. Di Amerika Serikat pada 1952, wabah polio tercatat menelan korban hingga 58 ribu kasus, dengan 3 ribuan pasien meninggal dunia. Vaksin yang dikembangkan Salk akhirnya diuji coba pada anak-anak dan hasilnya sungguh luar biasa. Dengan mendapatkan bantuan dari Pemerintah AS, vaksin ini bisa menjadi solusi untuk melawan polio.
Setelah uji coba pada 1954, semua orang mengagumi vaksin yang memiliki tingkat keberhasilan 60 hingga 70 persen ini. Kinerja vaksin dan standar produksinya terus ditingkatkan, hingga pada Agustus 1955 sekitar 4 juta suntikan anti-polio telah diberikan. Kasus polio di AS turun dari 14.647 pada 1955 menjadi 5.894 pada 1956. Kemudian, pada 1959 sekitar 90 negara lain menggunakan vaksin polio dari Salk.
Vaksin polio selanjutnya dikembangkan oleh Albert Sabin, menggunakan bentuk virus hidup yang dilemahkan yang kemudian diberikan dengan cara ditelan. Vaksin ini mendapat lisensi pada 1962 dan menjadi lebih populer dari vaksin Salk karena lebih murah dan lebih mudah diterapkan.
Sejak itu, vaksin terus berkembang dan menjadi salah satu pilar utama untuk mencegah penyakit menular. Salah satu tanda kesuksesan vaksin yang paling besar adalah ketika WHO berhasil menghapuskan cacar dengan cara memperluas cakupan vaksinasi cacar hingga ke seluruh dunia pada tahun 1956. Pada tahun 1980 akhirnya cacar dinyatakan telah tereradikasi, salah satu pencapaian terbesar dunia kedokteran.
Mengutip laman resmi Departemen Kesehatan, sejarah imunisasi di Indonesia sendiri dimulai dengan imunisasi cacar (1956), imunisasi campak (1963), imunisasi BCG untuk tuberculosis (1973), imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil (1974) imunisasi difteri, pertusis, tetanus (DPT) pada bayi (1976), polio (1981), campak (1882), hepatitis B (1997), hingga inisiasi imunisasi Haemophilus Influenza tipe B dalam bentuk vaksin pentavalen.



Adapun keunggulan vaksin Pentavalen (DPT-HB-Hib) jika dibandingkan dengan program imunisasi sebelumnya adalah mengurangi risiko lima penyakit sekaligus, mengurangi kesakitan pada anak, dan mengurangi kunjungan ke Posyandu/Puskesmas/Rumah Sakit.
Belakangan ini, Kemenkes mulai menginisiasi vaksin Rubella (2017) ke dalam program imunisasi nasional dan melakukan program demonstrasi vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks bagi siswi dan remaja putri (2016) di beberapa provinsi.
Pelaksanaan Expanded Program on Immunization (EPI) yang dikenal di Indonesia sebagai Program Pengembangan Imunisasi (PPI), secara resmi dimulai di 55 Puskesmas pada tahun 1977, meliputi pemberian vaksin kekebalan terhadap empat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), yaitu Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Tetanus. Saat ini program nasional Imunisasi berkembang dengan menambah 5 lagi PD3I yang dapat dilindungi yaitu Campak, Polio, Hepatitis B.
Melihat lebih jauh, imunisasi sebenarnya sudah sampai ke Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Dalam bukunya Sejarah Kedokteran di Bumi Indonesia (2005), A A Loedin menjelaskan bahwa vaksin cacar pertama datang ke Batavia pada Juni 1804.
Menurut Peraturan Dinas Kesehatan Sipil tahun 1820, program imunisasi dilaksanakan rutin setiap minggu di bawah pengawasan seorang inspektur. Menurut Loedin, pola tersebut masih jauh dari kata sempurna.
Vaksin-vaksinnya pun masih didatangkan dari Eropa, sehingga jangkauan imunisasinya masih sangat terbatas. Baru pada 1884, dr. Schucknik Kool berhasil membuat vaksin dengan menggunakan sapi sebagai tempat pembiakan di Meester Cornelis (Jatinegara).
Sejak saat itu ilmu vaksinasi cacar terus disempurnakan oleh pribumi terdidik. Bahkan saat ini, Indonesia menjadi salah satu basis produksi vaksin yang diakui WHO lewat BUMN Biofarma.
Keberhasilan pemberian vaksin atau program imunisasi di Indonesia tak perlu diragukan lagi. Menurut catatan WHO, pada 14 Desember 1971, Indonesia mengalami wabah cacar di Sepatan, Tangerang.
Wabah itu berawal dari banyaknya kasus cacar yang tidak dilaporkan petugas setempat ke pemerintah pusat. Alasannya, mereka takut dihukum karena dianggap tidak mampu mengendalikan wabah di daerahnya.
Setelah diketahui, pemerintah segera menangani kasus tersebut agar wabah tidak tersebar luas. Tidak ada catatan pasti soal bagaimana penanganan dilakukan, namun, wabah berhasil dihentikan ketika baru mencapai 3 desa. Akhirnya, pada 23 Januari 1972, Desa Gaga dan Kuhandap menjadi dua desa terakhir yang terkena wabah cacar di Indonesia.
Imunisasi polio secara massal di Indonesia pertama kali dilakukan pada 1995, dan sejak saat itu pula, Indonesia dinyatakan bebas polio. Kasus terakhir polio di Indonesia ada di Probolinggo, Jawa Tengah. Pengidapnya hanya satu orang pada 23 Juni 1995.
Selain itu, Kementerian Kesehatan memastikan, penyakit tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir pun sudah berhasil ditekan sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hal ini merupakan keberhasilan yang didapatkan dari pemberian vaksin atau imunisasi secara nasional.
Bila dilihat dari sejarahnya, jelas sudah bahwa vaksin dibuat untuk menyelamatkan manusia dari berbagai penyakit menular dan mematikan. Perjalanan panjang vaksin pun membuktikan bagaimana tujuan ini dapat dicapai.
Namun, masih ada lebih dari 19 juta anak di dunia yang tidak divaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap. Dari anak-anak ini, 1 dari 10 anak tidak pernah menerima vaksinasi apapun, dan umumnya tidak terdeteksi oleh sistem kesehatan.
Sementara berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan, di Indonesia sendiri pada kurun waktu tahun 2014-2016, terdapat 1.716.659 anak yang belum mendapat imunisasi dan imunisasinya tidak lengkap sehingga sangat berisiko untuk menderita penyakit-penyakit yang berpotensi mematikan.
Itulah kenapa pemberian imunisasi bagi seluruh anak tanpa kecuali masih jadi 'PR' bagi seluruh pihak. Tak hanya pemerintah atau organisasi profesi, tapi juga kita semua sebagai masyarakat khususnya para orang tua yang sudah memiliki anak. Belum lagi hambatan dari informasi-informasi yang tidak benar tentang imunisasi yang katanya konspirasi yahudi yang ingin membuat sakit generasi lain yang non yahudi dan penyesatan informasi yang lainnya.

Argha Sena

Wednesday, March 4, 2020

Kisah Tang Nunggal (Tan Unggal) dan Bujang Nadi Dare Nandung | Pegawai Jalanan

ASAL USUL TANG NUNGGAL

Siapa sebenarnya Tang Nunggal itu? Ia adalah seorang laki-laki yang giginya seperti gigi “labi-labi” (tunggal). Ia ditemukan oleh Ratu Muda (Ratu Sepudak) Sambas pada tahun 1296 ketika Ratu berziarah ke Pulau Lemukutan dan Pulau Kabung beberapa tahun berselang sejak peristiwa Sambas diserang Majapahit. 
Diceritakan bahwa asal mula nama Pulau Lemukutan adalah berasal dari nama Lay Muk Tan. Seorang pelaut Cina yang gagah berani dan perkasa, yang dipercayakan oleh Raja Cina untuk mengawal dan menjaga puterinya yang sedang menderita penyakit Po Lay Kho (lepra), suatu penyakit yang memang ditakuti pada masa itu. Putri Cina ini sedang menjalani pengobatan yang dilakukan di sebuah Pulau yang tidak berpenghuni. Pulau inilah yang nantinya dinamakan Pulau Lemukutan. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa pulau ini selalu ditanam padi tapi selalu tidak subur dan tidak bisa menjadi beras (gagal panen) sehingga hancur menjadi “mukut”, maka dari itu pulau ini disebut Pulau Lemukutan.
Dari Pulau inilah Lay Muk Tan melaporkan kepada Baginda Raja bahwa di pulau tempat ia tinggal ada bunyi suara bayi jika menjelang malam hari, tepatnya dirumpun bambu pulau tersebut. Bersama pengiringnya Ratu Muda (Ratu Sepudak) berangkat menuju pulau tersebut. Setelah sampai di pulau tersebut maka diambillah bambu (aor tongsan) itu yang diduga ada makhluk didalamnya. Bambu itu dibawa pulang oleh Ratu. Setelah dibelah di Istana, keluarlah seorang bayi laki-laki mungil yang hanya memiliki gigi satu. Sejak itulah ia diberi nama Tang nunggal, yang artinya gigi satu (tunggal) seperti gigi “labi-labi”. Ia diasuh bersama Putera Ratu dengan kasih sayang pula. Hingga dewasa Tang Nunggal tetap memiliki postur tubuh yang tegap dan mengagumkan.
Asal kata Tang Nunggal berasal dari bahasa Sambas, yaitu : “tang” berarti hanya dan “nunggal” berarti tunggal/satu.
TANG NUNGGAL MENJADI RAJA

Kisah ini dimulai sekitar tahun 1342, ketika Raja Sambas meninggal dunia (wafat). Tentang siapa yang menggantikan sudah ditentukan yaitu sesuai dengan adat istiadat didaerah Sambas adalah Putra Mahkota Artaqhan . Tang Nunggal yang merasa dirinya lebih kuat, menganggap ia lebih berhak menjadi raja karena selama itu ia yang selalu mendapat tugas dari alamarhum Raja.
Tang Nunggal yang melihat ada peluang kesempatan untuk merebut Tahta kerajaan berusaha keras untuk mencari perhatian di depan masyarakat. Untuk Petinggi Negri ia memberikan upeti agar mendukung dirinya menjadi raja. Bagi rakyat yang merasa tidak setuju mereka diintimidasi dan ditindas. Alhasil Tang Nunggal pun mengangkat dirinya sendiri menjadi Raja Sambas dengan mengadakan pesta perayaan selama 40 hari 40 malam. Putera Mahkota Artaqhan mengalah kepada Tang Nunggal, karena khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kerajaan jika keinginan Tang Nunggal dihalangi. Meskipun ia mengalah Putera, Mahkota Artaqhan menyusun strategi sambil menunggu kesempatan untuk menguasai Istana dengan persetujuan para Hulubalang dan pengawal yang masih setia. Beliau mengungsi dibukit Piantus daerah Sejangkung disebuah gua.
Ketika Tang Nunggal menjadi Raja pemerintahan dijalankan dengan kekerasan. Banyak perempuan yang dijadikan istrinya tetapi selalu meninggal tanpa meninggalkan anak dan banyak pula orang tua yang menyembunyikan anak gadisnya karena takut dijadikan isteri oleh Tang Nunggal. Isteri terakhir Tang Nunggal yang dikaruniai anak berasal dari daerah Sebedang. Anak tersebut diberi nama Bujang Nadi untuk yang laki-laki dan Dare Nandung untuk yang perempuan.
Dalam masa pemerintahan Tang Nunggal rakyat merasa resah oleh tingkah lakunya yang aneh-aneh. Misalnya jika dia ingin menjala ikan tempatnya berpijak adalah kepala manusia yang berendam di air dan tidak boleh bergerak meskipun dinginnya air sampai ketulang sumsum. Bila ingin menurunkan/ngulur perahu yang menjadi pendorongnya adalah perempuan yang sedang hamil tua. Kalau ada yang berzinah keduanya disuruh menumbuk padi sampai menjadi beras dengan tidak berpakaian dan dipertontonkan kepada orang banyak. Jika ketahuan meminum minuman keras atau mabuk-mabukan maka orang tersebut direndam didalam tong yang berisi arak kemudian dipanaskan sampai mati.
TANG NUNGGAL MENGUBUR ANAKNYA SENDIRI
Peraturan yang dijalankan oleh Tang Nunggal tetap keras walaupun terhadap anak kandungnya sendiri. Hal ini terbukti dari peristiwa buruk yang dialami oleh anaknya yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandung. Memang kedua kakak beradik ini dianugerahi wajah yang indah menawan, sehingga masing-masing telah menyatakan bahwa si kakak tidak akan kawin apabila orang tidak seperti adiknya begitu pula si adik tidak akan bersuami, kalau suaminya itu tidak seperti kakaknya sendiri. Pernyataan mereka ini didengar oleh Hulu Balang Raja dan dilaporkan kepada ayahnya, Tang Nunggal. Tang Nunggal menjadi sangat berang ketika mengetahui perbuatan anaknya yang dikiranya telah berbuat kurang baik, sehingga seketika itu juga Tang Nunggal memerintahkan agar anaknya ditangkap.
Walaupun dibujuk dengan ratap tangis dan dengan permohonan yang berhiba dari sang anak, dan denagn pengakuan bahwa mereka tidak pernah melakukan perbuatan keji seperti  apa yang dituduhkan, Tang Nunggal tetap pada pendirian dan keputusannya bahwa anaknya telah berdosa dan mereka harus dihukum. Hukuman itu adalah agar mereka dikubur hidup-hidup. Kemudian Tang Nunggal memberikan perintah kepada orang- orang agar menggali sebuah lubang ditempat yang agak tinggi agar anaknya nanti tidak terendam oleh air. Maka digalilah sebuah lubang yang agak dalam, yaitu di sebuah bukit bernama Sibadang. Disanalah kedua kakak beradik itu dikubur hidup-hidup, dengan dibekali barang-barang, makanan, alat-alat tenun yang terbuat dari emas milik Dare Nandung dan ayam jantan milik Bujang Nadi. Sampai sekarang bukit tersebut dinamakan Dare Nandung atau gunung Sibadang dan dijadikan sebagai salah satu objek wisata di Sambas.
Di zaman Belanda dan Jepang pernah dicoba untuk menggali tempat kedua anak itu dikubur untuk mengambil barang-barang alat tenun yang terbuat dari emas, tetapi baru sekali dua cangkul, tanah yang digali itu tertutup seakan-akan tidak memberi kesempatan kepada manusia untuk mengambilnya. Dan  kadang-kadang orang mendengar suara kokok ayam yang berderai-derai dari dalam bukit atau bunyi “gemerentung” alat tenun pada malam hari. Seakan memberi tanda tanya kepada penduduk setempat, benarkah ayam yang berkokok itu kepunyaan Bujang Nadi dan “gemerentung” bunyi alat tenun itu kepunyaan Dare Nandung?
Konon setelah mengubur anaknya hidup-hidup Tang Nunggal merasa menyesal, ia banyak termenung dan selalu “nyap-nyap”, tidak karuan serta selalu “ngangat”, cepat marah.
TANG NUNGGAL MULAI SUKA MINUM DARAH

Pada suatu ketika isterinya mulai ngidam lagi, yaitu anaknya yang ketiga setelah Bujang Nadi dan Dare Nandung, ia ingin memakan rujak dari buah asam bacang. Ketika sedang mengiris asam bacang tersebut, Tang Nunggal yang sedang marah memangggil istrinya. Karena terburu- buru secara tidak sengaja sang isteri memotong ujung jari kirinya beserta kukunya, sehingga darahpun masuk ke asam bacang tadi.
Sambil marah- marah karena sang isteri yang dipanggil belum muncul juga Tang Nunggal mendekati isterinya yang sedang membuat rujak di dapur. Ia merasa tertarik untuk mencoba rujak yang dibuat isterinya dan ikut makan rujak dengan lahapnya sambil berteriak “nyama-nyaman” sambil tertawa terbahak-bahak. Marahnya pun hilang, sore harinya ia minta dibuatkan rujak lagi dengan alasan agar marahnya hilang, namun sepanjang malam marahnya tidak kunjung reda karena rujak yang dibuat tidak menggunakan darah manusia. Keesokan harinya sang isteri membuatkan rujak untuk Tang Nunggal, tentunya dengan darah luka bekas mengiris kemarin. Sang isteri pun merasa sedih, karena Tang Nunggal sudah mulai makan darah manusia, dasar hantu laut, celetuk isterinya.
Berkali-kali Tang Nunggal minta dibuatkan rujak tersebut, tentunya disertai dengan darah manusia. Tang Nunggal sudah mulai menghisap darah dari giginya yang mulai tumbuh semakin panjang, yaitu pada bagian  taringnya. Matanya mulai merah bagaikan biji saga. Hal ini pun diketahui oleh penjaga istana dan dayang pengasuh. Setelah darah isterinya kemudian berlanjut ke darah dayang-dayang. Satu demi satu dayangnya mati kehabisan darah. Menteri serta para  pengawal istana berkeluh kesah. Hal ini masih dirahasikan karena permaisuri masih dalam keadaan mengandung.
Beberapa  orang isterinya menyarankan ia untuk berhenti minum darah, tetapi Tang Nunggal menegaskan bahwa hal itu ia lakukan agar ia tidak cepat marah. Sang isteripun merasa sedih, ia raja yang kejam, mengubur anaknya hidup-hidup dan kini menghisap darah manusia. Dengan kesedihan itu genaplah usia mengandung sang permaisuri selama sembilan sepuluh hari, maka lahirlah sang bayi yang diberi nama Tok Kulub dan ibunya meninggal.
TANG NUNGGAL DISINGKIRKAN DAN DI BUNUH
Betapapun merajalelanya kezaliman pasti mempunyai batas, kekuasaan yang tak manusiawi pasti akan berakhir dan hancur. Secara diam-diam para Menteri memperhatikan gerak- gerik Tang Nunggal serta mencari kelemahan-kelemahan yang ia miliki. Akhirnya mereka menemukan titik lemah yang ada pada dirinya. Ketika ia menghidap penyakit bengkak pada kaki (gane/untut), ia tidak bisa berjalan dan hanya berbaring di tempat pembaringan. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan oleh para Menteri untuk menumbangkannya.
Mereka sepakat bahwa Tang Nunggal harus dibunuh. Para menteri juga mendapat bantuan dari Hulu Balang Raja. Salah satu dari ke empat Menteri yang sanggup menyingkirkan Tang Nunggal adalah Datok Galah. Mereka menyampaikan sebuah berita kepada Tang Nunggal bahwa negri Sambas telah diserang musuh dan pertempuran sedang berkecamuk, banyak penduduk Sambas yang terbunuh dan kemungkinan besar Sambas akan mengalami kekalahan total. Demikianlah laporan dari para Menteri yang merupakan siasat belaka.
Setelah mendengar berita tersebut Tang Nunggal menjadi bingung. Ia memerintahkan agar dirinya dibawa jauh-jauh dari Keraton. Dengan tidak menyia- nyiakan kesempatan, keempat menteri ini menyiapkan sebuah perahu serta sebuah keranda yang terbuat dari kayu besi dimana Tang Nunggal dimasukkan kedalamnya dan ditutup rapat dengan alasan agar tidak kelihatan oleh musuh. Didalam perahu itu disediakan beberapa buah tempurung kelapa yang ditelungkupkan dan diberi air agar terdengar bunyi yang keras saat perahu sedang berjalan nanti.
Ketika diperjalanan sekali-kali terdengar suara atau bunyi tempurung yang mereka telungkupkan itu. Tang Nunggal selalu bertanya, suara apakah gerangan wahai para Menteri? Menteri pun menjawab, itulah suara meriam musuh yang sedang menghampiri Keraton. Tang Nunggal  pun memerintahkan agar berdayung lebih cepat dan bila sampai ke tempat tujuan dirinya ditinggalkan saja. Setibanya di sebuah sungai kecil, yaitu Kuala Sabung, keranda Tang Nunggal kemudian dijatuhkan kedalam air yang setengah kering dengan kayu penahan disebelah kiri kanannya agar apabila air pasang keranda tersebut tidak goyang lagi. Demikianlah akhir hidup Tang Nunggal. Ia mati lemas didalam peti pada sekitar tahun 1345.
Kisah ini merupakan kisah yang bercampur antara sejarah dan dongeng yang berasal dari daerah sambas, yang jelas dalam setiap cerita legenda di nusantara ini pasti ada hikmah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran.

Argha Sena
Sumber buku Sejarah Kesultanan Sambas Penerbit Dinas Pariwisata Kab. Sambas

Sejarah Pemilu 1955: Tentara Punya Hak Pilih & Banyak Mencoblos PKI | Pegawai Jalanan

Pemilu 1955

Pemilu 1955 memperbolehkan Kolonel Alex Evert Kawilarang, Panglima Tentara Siliwangi, dan bawahan-bawahannya ikut memilih. Meski pangkatnya tergolong tinggi, Alex Kawilarang rela dan tidak masalah ketika harus mengantre di belakang prajurit-prajurit yang pangkatnya jauh lebih rendah. Begitulah yang tertangkap dari foto di autobiografinya yang disusun Ramadhan K.H., AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih (1988: 283).

Letnan Dua Raden Muhammad Yogie Suardi Memet—yang belakangan pernah menjadi Menteri Dalam Negeri di zaman Orba—ada di belakang Alex Kawilarang. Orang yang berdiri mengantre di depan Yogie bukan perwira, tapi prajurit yang pangkatnya lebih rendah lagi.

Kisah itu bukan satu-satunya cerita soal Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang memilih dalam Pemilu 1955.


Pengawal legendaris Presiden Sukarno, Mangil Martowidjojo, dalam Kesaksian tentang Bung Karno, 1945-1967 (1999: 191) menyebut, "Polisi Negara (juga) ikut serta dalam Pemilu 1955".

Tak hanya para anggota TNI dan polisi boleh mencoblos dalam pemilu. Di antara mereka pun ada yang mendirikan partai politik. Terdapat Persatuan Pegawai Polisi RI (P3RI) yang jadi peserta Pemilu 1955. Beberapa kolonel—Abdul Haris Nasution, Gatot Subroto, dan Azis Saleh—mendirikan suatu partai bernama Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Dari partai inilah sejarah Pemuda Pancasila bermula.

“Banyak tentara yang oleh karena latar-belakangnya, keyakinan pribadinya atau pengaruh lingkungan dan tradisi keluarga memilih partai-partai tertentu,” tulis Daud Sinjal dan kawan-kawan dalam Laporan Kepada Bangsa (1996: 195).



Banyak Tentara Pilih PKI

Peserta Pemilu 1955

Partai yang populer di era 1950-an itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), yang sudah berakar dari zaman kolonial. Lalu ada Masyumi, yang merupakan gabungan organisasi Islam. Ada pula Partai Komunis Indonesia (PKI), yang sangat populer di kalangan petani, buruh, dan kaum miskin.

Masih menurut Daud Sinjal, kala itu IPKI belum mengakar dan pendidikan politik tentara juga belum matang. Menurut Abdul kadir—yang belakangan menjadi Sekretaris Jenderal Penerangan dan berpangkat terakhir mayor jenderal—kalau tentara ikut mencoblos maka akan terpecah-pecah.


IPKI dan P3RI tidak sukses. IPKI cuma dapat lima kursi parlemen. P3RI juga tidak lebih dari IPKI. Mangil menyebut, “tidak ada seorang anggota polisi yang memaksa rakyat, menakut-nakuti rakyat untuk menyoblos tanda gambar P3RI.”

Dua partai itu tak semujur Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dinarasikan Orde Baru kerap berkampanye secara licik. Kemenangan PKI sebagai partai nomor 4 dalam perolehan suara adalah kejutan bagi para pembencinya.


"Tahun 1955, 30 persen tentara memilih PKI," kata Soemarsono dengan kagum dalam Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah (2008: 62). "TNI yang waktu Peristiwa Madiun baru menembaki kita atau disuruh menembaki kita, tetapi warga TNI memberikan suara 30 persen."

Bagi Soemarsono, Pemilu 1955 adalah pemilu demokratis karena tentara dibolehkan memilih.

Sementara itu, Achmadi Moestahal dalam Dari Gontor ke Pulau Buru: Memoar H. Achmadi Moestahal (2002) menyebut, “intelnya militer Zulkifi Lubis banyak mengawasi prajurit dari hasil coblosan, karena mereka tahu bahwa mayoritas Angkatan Darat nusuk PKI” (hlm. 143).

Lubis mengatakan sendiri hal itu sambil khawatir. Moestahal berkesimpulan di lingkaran tentara pilihan itu tidaklah bebas dan rahasia.


“Saya sendiri memilih PKI,” aku Moestahal, yang sejak lulus sekolah rakyat punya simpati dengan gerakan kiri sambil tetap memegang teguh ajaran Islam. “Karena saya melihat waktu itu program partai ini populis, membela buruh, membela orang kecil yang diperlakukan sewenang-wenang.”

Banyak perwira Angkatan Darat tidak senang dengan keberhasilan PKI. Dan yang paling memukul adalah banyaknya prajurit Angkatan Darat yang mencoblos PKI. Ada seorang komandan resimen yang malu setengah mati kepada atasan ketika hasil pemilihan menyebutkan bahwa mayoritas prajurit di bekas batalion yang pernah dipimpinnya memilih PKI.

Pernah terlintas di kepala perwira tertentu yang anti-komunis untuk menyerang kantor PKI. Seperti dicatat Daud Sinjal (1996), Achmad Nasuhi, perwira Siliwangi yang dikenal anti-komunis, pernah mengajak Kapten Abdul Kadir Besar untuk menggranat kantor CC PKI. Abdul Kadir tidak suka ide itu meski dia juga tak suka komunis. Namun penggranatan tetap terjadi pada Juli 1957 (hlm. 196).


Jualan Isu Kemiskinan

Dekade 1950-an adalah masa penuh kemiskinan. Jangankan kaum kuli, para abdi negara berpangkat rendah pun hidup dalam kemelaratan. Mereka jadi sasaran empuk kampanye PKI. Seperti dirilis Harian Rakjat (28/9/1955), PKI menyatakan: bagi para prajurit, polisi, dan pegawai negeri lainnya, memilih PKI berarti jaminan hak-haknya terpenuhi dan perbaikan gaji.

Harian Rakyat


Jualan isu kemiskinan yang dilakukan PKI ternyata cukup manjur. Partai-partai zaman sekarang, meski benci minta ampun pada PKI, meniru cara-cara PKI demi mendapat simpati massa.

Abdul Haris Nasution, yang sempat jadi pimpinan Partai IPKI, tidak memilih terjun berlama-lama sebagai politikus partai. Dia kemudian diaktifkan kembali oleh Bung Karno sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dan IPKI memang tidak punya masa depan sebagai partai besar. Tentu lebih baik menjadi pemimpin kaum bersenjata daripada jadi pemimpin partai kecil. Dengan jadi KSAD, Nasution semakin kuat dan punya posisi tawar tinggi, bahkan di hadapan Sukarno.

Setelah Orde Baru lahir, hak pilih tentara kemudian hilang. Pasal 11 UU nomor 15 tahun 1969 menyebut, “Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tidak menggunakan hak memilih.”

Pasal 14 UU tersebut juga menyebutkan, “Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tidak menggunakan hak dipilih.”

Dalam konsep Orde Baru, tentara dicanangkan untuk berdiri di atas semua golongan. Pada kenyataannya, "semua golongan" yang dimaksud adalah Golongan Karya (Golkar).


Admin PJ
https://tirto.id/sejarah-pemilu-1955-tentara-punya-hak-pilih-banyak-mencoblos-pki-dmbw