Monday, March 9, 2020

Sejarah Penemuan Vaksin Yang Sudah Menyelamatkan Jutaan Nyawa | Pegawai Jalanan

Edward Jenner Penemu Vaksin Cacar

Pemberian vaksin atau imunisasi dapat mencegah manusia terkena berbagai penyakit berbahaya yang bisa saja mematikan. Vaksin merupakan pencegahan paling penting terhadap penyakit-penyakit yang mudah sekali menular atau mewabah. Pemberian vaksin juga telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling berhasil dan efektif di dunia.
Mengutip laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi bisa mencegah kecacatan dan kematian dari beberapa penyakit berbahaya, seperti tuberkulosis, hepatitis B, difteri, pertusis (whooping cough, batuk rejan), tetanus, polio, campak, pneumonia, gondongan, diare akibat rotavirus, rubella, dan kanker serviks.Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2018, imunisasi diperkirakan telah mencegah 2 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya. Jumlah kematian tersebut bahkan bisa berkurang lagi, bila cakupan imunisasi global meningkat.
Pernahkah terbayang dalam benak kita, bagaimana temuan super dahsyat ini pertama kali diciptakan?
Istilah vaksin pertama kali dikenal pada tahun 1796, ketika vaksin cacar pertama berhasil ditemukan. Kala itu, cacar atau variola adalah penyakit yang sangat mematikan. Vaksin tersebut dibuat oleh Edward Jenner, seorang dokter dari Berkeley, suatu daerah pedesaan di Inggris pada tahun 1796.

Hal itu berawal saat Jenner memperhatikan penduduk lokal yang mayoritas bekerja sebagai peternak. Mereka yang memerah susu sapi, sering kali terinfeksi oleh cacar sapi (cow pox) yang menyebabkan munculnya lesi pada tangan dan lengannya.
Yang menarik dari pengamatan itu, mereka yang pernah terinfeksi cacar sapi, ternyata menjadi kebal terhadap infeksi cacar air yang saat itu mewabah di desanya. Kondisi itulah yang kemudian dijadikan Jenner untuk memulai penelitian klinis pertamanya, yaitu membuat vaksin.
Dalam penelitian itu, Jenner mengambil nanah lesi cacar sapi dari tangan seorang pemerah susu. Ia kemudian menularkannya kepada seorang anak berusia 8 tahun, yang bernama James Phipps, dengan virus cacar sapi. Dugaannya benar, anak itu ternyata langsung terkena cacar sapi, tetapi dapat segera sembuh.
Beberapa minggu setelahnya, Jenner menyuntik Phipps dengan materi cacar air. Keajaiban pun terjadi, karena tidak ada tanda-tanda sakit yang tampak pada tubuhnya.
Istilah vaksin sendiri digunakan oleh Jenner karena substansi ini berasal dari sapi yang dalam bahasa latin adalah vacca. Sejak saat itu, istilah vaksin dikenal sebagai suspensi berisi mikoorganisme yang telah dilemahkan. Fungsinya untuk menimbulkan kekebalan pada tubuh dan mencegah manusia terinfeksi dari suatu penyakit berbahaya.
Selama berabad-abad, penyakit cacar menjadi ancaman bagi umat manusia. Namun kini, kita tidak terlalu mengkhawatirkannya lagi, karena penanganan dan pencegahan penyakit cacar telah ditemukan.
Tapi tak hanya sampai di situ, terobosan baru tentang vaksin juga mulai bermunculan setelahnya. Pada akhir abad ke-19, Louis Pasteur, seorang ahli Kimia asal Prancis, mengembangkan teknologi untuk mengisolasi virus dan melemahkannya, yang efeknya dapat dipakai sebagai vaksin.
Kala itu, ia membuat vaksin untuk menangkal penyakit rabies. Sayangnya, ia sempat mendapat banyak protes keras oleh ahli jiwa dan masyarakat, karena memasukkan vaksin rabies ke tubuh manusia.
Pada 1954, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat yang merupakan Kepala Laboratorium Penelitian Virus di University of Pittsburgh, mengembangkan vaksin polio untuk pertama kalinya. Penyakit polio merupakan hal yang sangat menakutkan di negara industri karena menyebabkan anak lumpuh setiap tahunmnya, yang jika tidak ditangani wabahnya maka akan melahirkan generasi cacat yang sangat berbahaya bagi manusia.
Wabah polio pun menjadi pandemi di Eropa, Amerika Utara, Australia dan Selendia Baru. Di Amerika Serikat pada 1952, wabah polio tercatat menelan korban hingga 58 ribu kasus, dengan 3 ribuan pasien meninggal dunia. Vaksin yang dikembangkan Salk akhirnya diuji coba pada anak-anak dan hasilnya sungguh luar biasa. Dengan mendapatkan bantuan dari Pemerintah AS, vaksin ini bisa menjadi solusi untuk melawan polio.
Setelah uji coba pada 1954, semua orang mengagumi vaksin yang memiliki tingkat keberhasilan 60 hingga 70 persen ini. Kinerja vaksin dan standar produksinya terus ditingkatkan, hingga pada Agustus 1955 sekitar 4 juta suntikan anti-polio telah diberikan. Kasus polio di AS turun dari 14.647 pada 1955 menjadi 5.894 pada 1956. Kemudian, pada 1959 sekitar 90 negara lain menggunakan vaksin polio dari Salk.
Vaksin polio selanjutnya dikembangkan oleh Albert Sabin, menggunakan bentuk virus hidup yang dilemahkan yang kemudian diberikan dengan cara ditelan. Vaksin ini mendapat lisensi pada 1962 dan menjadi lebih populer dari vaksin Salk karena lebih murah dan lebih mudah diterapkan.
Sejak itu, vaksin terus berkembang dan menjadi salah satu pilar utama untuk mencegah penyakit menular. Salah satu tanda kesuksesan vaksin yang paling besar adalah ketika WHO berhasil menghapuskan cacar dengan cara memperluas cakupan vaksinasi cacar hingga ke seluruh dunia pada tahun 1956. Pada tahun 1980 akhirnya cacar dinyatakan telah tereradikasi, salah satu pencapaian terbesar dunia kedokteran.
Mengutip laman resmi Departemen Kesehatan, sejarah imunisasi di Indonesia sendiri dimulai dengan imunisasi cacar (1956), imunisasi campak (1963), imunisasi BCG untuk tuberculosis (1973), imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil (1974) imunisasi difteri, pertusis, tetanus (DPT) pada bayi (1976), polio (1981), campak (1882), hepatitis B (1997), hingga inisiasi imunisasi Haemophilus Influenza tipe B dalam bentuk vaksin pentavalen.



Adapun keunggulan vaksin Pentavalen (DPT-HB-Hib) jika dibandingkan dengan program imunisasi sebelumnya adalah mengurangi risiko lima penyakit sekaligus, mengurangi kesakitan pada anak, dan mengurangi kunjungan ke Posyandu/Puskesmas/Rumah Sakit.
Belakangan ini, Kemenkes mulai menginisiasi vaksin Rubella (2017) ke dalam program imunisasi nasional dan melakukan program demonstrasi vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks bagi siswi dan remaja putri (2016) di beberapa provinsi.
Pelaksanaan Expanded Program on Immunization (EPI) yang dikenal di Indonesia sebagai Program Pengembangan Imunisasi (PPI), secara resmi dimulai di 55 Puskesmas pada tahun 1977, meliputi pemberian vaksin kekebalan terhadap empat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), yaitu Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Tetanus. Saat ini program nasional Imunisasi berkembang dengan menambah 5 lagi PD3I yang dapat dilindungi yaitu Campak, Polio, Hepatitis B.
Melihat lebih jauh, imunisasi sebenarnya sudah sampai ke Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Dalam bukunya Sejarah Kedokteran di Bumi Indonesia (2005), A A Loedin menjelaskan bahwa vaksin cacar pertama datang ke Batavia pada Juni 1804.
Menurut Peraturan Dinas Kesehatan Sipil tahun 1820, program imunisasi dilaksanakan rutin setiap minggu di bawah pengawasan seorang inspektur. Menurut Loedin, pola tersebut masih jauh dari kata sempurna.
Vaksin-vaksinnya pun masih didatangkan dari Eropa, sehingga jangkauan imunisasinya masih sangat terbatas. Baru pada 1884, dr. Schucknik Kool berhasil membuat vaksin dengan menggunakan sapi sebagai tempat pembiakan di Meester Cornelis (Jatinegara).
Sejak saat itu ilmu vaksinasi cacar terus disempurnakan oleh pribumi terdidik. Bahkan saat ini, Indonesia menjadi salah satu basis produksi vaksin yang diakui WHO lewat BUMN Biofarma.
Keberhasilan pemberian vaksin atau program imunisasi di Indonesia tak perlu diragukan lagi. Menurut catatan WHO, pada 14 Desember 1971, Indonesia mengalami wabah cacar di Sepatan, Tangerang.
Wabah itu berawal dari banyaknya kasus cacar yang tidak dilaporkan petugas setempat ke pemerintah pusat. Alasannya, mereka takut dihukum karena dianggap tidak mampu mengendalikan wabah di daerahnya.
Setelah diketahui, pemerintah segera menangani kasus tersebut agar wabah tidak tersebar luas. Tidak ada catatan pasti soal bagaimana penanganan dilakukan, namun, wabah berhasil dihentikan ketika baru mencapai 3 desa. Akhirnya, pada 23 Januari 1972, Desa Gaga dan Kuhandap menjadi dua desa terakhir yang terkena wabah cacar di Indonesia.
Imunisasi polio secara massal di Indonesia pertama kali dilakukan pada 1995, dan sejak saat itu pula, Indonesia dinyatakan bebas polio. Kasus terakhir polio di Indonesia ada di Probolinggo, Jawa Tengah. Pengidapnya hanya satu orang pada 23 Juni 1995.
Selain itu, Kementerian Kesehatan memastikan, penyakit tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir pun sudah berhasil ditekan sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hal ini merupakan keberhasilan yang didapatkan dari pemberian vaksin atau imunisasi secara nasional.
Bila dilihat dari sejarahnya, jelas sudah bahwa vaksin dibuat untuk menyelamatkan manusia dari berbagai penyakit menular dan mematikan. Perjalanan panjang vaksin pun membuktikan bagaimana tujuan ini dapat dicapai.
Namun, masih ada lebih dari 19 juta anak di dunia yang tidak divaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap. Dari anak-anak ini, 1 dari 10 anak tidak pernah menerima vaksinasi apapun, dan umumnya tidak terdeteksi oleh sistem kesehatan.
Sementara berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan, di Indonesia sendiri pada kurun waktu tahun 2014-2016, terdapat 1.716.659 anak yang belum mendapat imunisasi dan imunisasinya tidak lengkap sehingga sangat berisiko untuk menderita penyakit-penyakit yang berpotensi mematikan.
Itulah kenapa pemberian imunisasi bagi seluruh anak tanpa kecuali masih jadi 'PR' bagi seluruh pihak. Tak hanya pemerintah atau organisasi profesi, tapi juga kita semua sebagai masyarakat khususnya para orang tua yang sudah memiliki anak. Belum lagi hambatan dari informasi-informasi yang tidak benar tentang imunisasi yang katanya konspirasi yahudi yang ingin membuat sakit generasi lain yang non yahudi dan penyesatan informasi yang lainnya.

Argha Sena

0 komentar:

Post a Comment