F Juni 2021 ~ PEGAWAI JALANAN

Selasa, 01 Juni 2021

Akhir Hidup Tragis Presiden Soekarno

 


Seluruh rakyat indonesia pasti mengenal Presiden Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia dan juga seorang proklamator kemerdekaan. Namun tak banyak yang mengetahui bagaimana kehidupan Soekarno setelah dia tidak lagi menjadi seorang presiden. Semua berawal dari pemberontakan PKI yang melakukan aksi pembantaian di lubang buaya yang menewaskan 6 Jendral TNI AD, dan satu perwira menengah. Ketika TNI AD berhasil meredam pemberontakan PKI yang saat itu di bawah komando Soeharto, menjadi pukulan mematikan untuk PKI dan antek-anteknya.

Saat itu tanggal 6 Oktober 1965, Presiden Soekarno mengumpulkan menteri-menteri Kabinet Dwikora di Istana Bogor untuk melakukan sidang mengenai pembunuhan 6 Jendral utama angkatan darat. Dalam sidang itu, PKI yang dituding berada di balik layar Peristiwa G30S, diwakili oleh Njoto dan M.H. Lukman. Sedangkan D.N. Aidit, sang ketua, belum diketahui keberadaanya. Njoto membela PKI dan menyatakan bahwa PKI tak terlibat dan peristiwa itu adalah masalah internal Angkatan Darat. Wartawan secara terbatas dibolehkan meliput sidang itu, dan saat itu TVRI pun menyiarkannya. Di layar TV Soekarno tampak tenang dan banyak senyum, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Soekarno tampak santai guyonan dengan wartawan dan merokok. Dewi kecewa dengan tingkah Soekarno di TV kemudian menulis surat untuk memperingatkan Soekarno. Di tengah situasi yang tak menentu seperti saat itu, sikap Soekarno jelas rawan disalahartikan. Terlebih Soekarno tak hadir dalam pemakaman para jenderal sehari sebelumnya.

Dua hari kemudian, Soekarno membalas surat Dewi. Sebagaimana dikutip Willem Oltmans dalam Bung Karno Sahabatku (2001: 226), Soekarno menjawab, “Kamu jangan salah memahami saya. Pada rapat kabinet itu saya tersenyum untuk menunjukkan kepada dunia bahwa saya aman dan bahwa situasi sudah kukendalikan. Saya juga tertawa untuk memberi kepercayaan dan kekuatan kepada rakyat saya.” Ternyata Soekarno salah perhitungan dan kekhawatiran Dewi pun terjadi. Desas-desus bahwa presiden kemungkinan terlibat atau minimal tahu lebih dulu Peristiwa G30S segera tersebar liar. Dan lagi, sejak itu Soekarno tak lagi punya kendali penuh atas politik sebagaimana yang dia yakini.

Setelah PKI dan semua bawahan-bawahannya di babat habis, TNI Angkatan Darat seakan tak terbendung. Soeharto perlahan-lahan mengambil alih panggung kekuasaan dan mengikis kekuasaan Soekarno. Setelah Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966. Besoknya Soeharto membubarkan PKI dan pada tanggal 18 Maret menangkap 15 menteri yang memihak Soekarno. Lalu pada 27 Maret, Soekarno dengan sangat terpaksa mengumumkan kabinet baru bentukan Soeharto.

John D. Legge dalam Soekarno: Sebuah Biografi Politik (1996) menyebut "itulah tengara kematian karier politik Sukarno. Selanjutnya Soeharto yang memegang kendali dan mulai menjalankan kebijakan-kebijakan yang sebagian besar bertolak belakang dengan kebijakan Soekarno. Ia bahkan dibatasi berbicara di hadapan publik."

Pada tanggal  22 Juni 1966, di hadapan MPRS, Soekarno menyampaikan pidato pertanggungjawaban selama jadi presiden dan soal Peristiwa G30S. Pidato berjudul Nawaksara itu ditolak MPRS. Soekarno lalu menyampaikan Pelengkap Nawaksara pada 10 Januari 1967 yang lagi-lagi ditolak MPRS. Itu adalah usaha terakhirnya untuk mempertahankan diri dan ia kalah. Pada 12 Maret 1967 MPRS mengumumkan secara resmi pencabutan mandat Soekarno sebagai presiden dan kemudian menunjuk Soeharto sebagai pejabat presiden. Setahun kemudian Soeharto baru dilantik jadi presiden.

Pasca terjadinya G30S sekitar tahun 1966 hingga 1967, ibukota dipenuhi aksi demonstrasi dengan tuntutan memberhentikan Soekarno dari jabatannya sebagai presiden. Adapun di dalam memorandumnya pada tanggal 23 Februari 1967, pemerintah Orde Baru menyimpulkan bahwa Soekarno telah terlibat G30 S. Atas perintah Soeharto, Soekarno dan keluarganya diultimatum untuk angkat kaki dari Istana Merdeka dan Istana Bogor sebelum 17 Agustus 1967. Jika dulu Presiden Soekarno masuk istana dengan seluruh kebesarannya sebagai pemimpin. Kini, ia keluar dari istana dengan hanya berkaos oblong dan celana piyama. Segala kekayaan yang ia bawa adalah bendera merah putih, beberapa botol minuman ringan, kue-kue, dan obat-obatan.

Status Soekarno saat itu adalah tahanan Orde Baru. Mulanya ia ditahan di rumahnya di daerah Batu Tulis, Bogor, lalu dipindahkan ke Wisma Yasoo (sekarang Museum Satria Mandala), di Jakarta pada 1969. Penahanan itu rupanya berefek buruk bagi kesehatan Bung Besar. Ini karena tim dokter kepresidenan sebelumnya, yang tahu detail soal kondisi medis Bung Karno, telah dibubarkan.

Soekarno diketahui mengidap sakit ginjal parah. Ginjal kanannya sudah mati, sedangkan ginjal kiri hanya berfungsi 25 persen. Selain itu, ia juga mengidap sakit jantung dan darah tinggi. Sejak ditahan, diagnosis baru muncul seperti rematik dan gejala katarak. Dalam kondisi demikian, ia pun masih harus menjalani interogasi dari Kopkamtib soal keterlibatannya dalam G30S. Tapi yang paling tragis dari Presiden Soekarno kini adalah kenyataan bahwa ia harus menghadapi semua itu nyaris sendirian. Ia dijaga demikian ketat dan diputus dari dunia luar. Bahkan anak-anak dan istrinya harus dapat ijin khusus untuk sekadar menemuinya itu pun dengan waktu terbatas.


         Dalam keadaan seperti itu Bung Karno mendesak Dewi untuk pergi ke Jepang demi keamanannya. Tak berapa lama Dewi melahirkan bayi perempuan buah cintanya dengan Soekarno di sana. Pada awal 1970 keduanya bercerai. Begitu juga Haryati dan Yurike Sanger. Fatmawati, meski tak bercerai, sudah putus hubungan dengan Soekarno sejak menikahi Hartini pada 1953. Sejak itu hanya sekali ia bertemu lagi dengan Soekarno, saat pernikahan Guntur Soekarno putra pada 1970. Pada akhirnya pun keduanya bercerai setelah itu. Hanya Hartini yang bertahan hingga saat-saat terakhir Soekarno. Terpencil dan kesepian, itulah warna dunia Soekarno saat itu. “Sampai akhirnya Bung Karno terkena depresi. Setiap hari hanya duduk sambil termenung. Malah kadang-kadang ngomong sendirian. Memorinya berubah, kesehatannya terus-menerus semakin merosot,” kenang Ketua Tim Dokter Kepresidenan yang merawat Bung Karno, Mahar Mardjono, sebagaimana dikutip Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang (2011:80).

Pada 6 Juni 1970 Soekarno merayakan ulang tahunnya yang ke-69. Kelima anaknya dari Fatmawati serta Hartini dan dua anaknya, Bayu dan Taufan, hadir di Wisma Yasoo di hari bahagia itu. Tak ada karangan bunga, ucapan selamat, atau hadiah-hadiah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Yang ada hanyalah Soekarno yang semakin ringkih digerogoti penyakit dan depresi.

Pada 11 Juni Soekarno dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto karena kondisi tubuhnya memburuk. “Sukarno terbaring lemah di sebuah ruangan yang terletak di ujung rumah sakit, bercat kelabu. Untuk mencapai kamar itu harus melalui beberapa koridor yang dijaga militer dengan persenjataan lengkap,” tulis Peter Kasenda dalam Hari-hari Terakhir Sukarno (2013: 230).

Di saat-saat kritis itu, datanglah tamu yang barangkali bisa memberi sedikit kelegaan di hati Soekarno. Tamu pertama adalah sahabat lamanya, Mohammad Hatta, yang datang menjenguk pada 19 Juni. Dua proklamator yang pecah kongsi sedari 1956 itu akhirnya bertemu dalam momen yang amat menyentuh. Perbedaan jalan politik tak melunturkan persahabatan mereka. Bagaimanapun, Soekarno dan Hatta pernah menghadapi masa sulit bersama-sama.

Rachmawati Soekarno putri begitu bahagia mendengar kabar bahwa Dewi telah diizinkan Soeharto untuk menjenguk Soekarno. Ia tahu benar perempuan jelita itulah yang bisa melipur hati Soekarno yang lama kering. Setidak-tidaknya di saat terakhir ada sedikit kebahagiaan untuk bapaknya. Dewi membawa serta buah hatinya dengan Soekarno, Kartika Sari Dewi. Kala itu Kartika, yang lebih akrab disapa Karina, baru berumur tiga tahun. Karena lahir di Jepang, Soekarno belum pernah melihat anaknya hingga saat itu.

Setelah keduanya bertemu, Dewi mengatakan pada Karina Bahwa Soekarno adalah ayahnya. Antara sadar dan tidak, tangan Soekarno bergerak seakan-akan ingin menggapai putri kecilnya. Sayang sekali Soekarno sudah tak punya daya apa-apa lagi. Bahkan untuk mempertahankan kesadaran adalah perjuangan tersendiri baginya. Usai kedatangan Dewi dan Karina, kesadaran Soekarno berangsung hilang. Menjelang tengah malam ia koma. Keesokan paginya, 21 Juni 1970, Soekarno menyerah dan meninggal.

“Bung Karno sewaktu hidupnya sangat mencintai ibunya. Beliau sangat menghormatinya. Kalau beliau bepergian jauh, ke mana pun beliau sungkem dahulu, meminta doa restu kepada ibunya. Melihat kebiasaan Bung Karno begitu, maka saya tetapkan alangkah baiknya kalau Proklamator itu dimakamkan di dekat makam ibunya di Blitar,” demikian yang dikatakan Soeharto. Pemakaman Soekarno dihadiri banyak warga simpatisan Soekarno, dan yang memimpin shalat adalah Buya Hamka sesuai dengan yang beliau wasiatkan.

Itulah keadaan Presiden Soekarno di akhir hidupnya, dimana dia menjadi tahanan Orde Baru. Terlihat tragis memang, tetapi di lain sisi Soeharto juga tak ingin PKI bangkit kembali dengan memanfaatkan keadaan Soekarno. Banyak media yang bahkan menyudutkan Soekarno ataupun Soeharto. Maka dari itu kita tidak boleh hanya melihat dari satu sisi saja, kita harus dapat memahami dari sudut pandang lainnya. Karena mencari kesalahan selalu menjadi kebiasaan orang-orang yang memiliki hati yang dengki. Mereka akan mencari kesalahan-kesalahan agar salah satunya terlihat buruk.

Tapi kita sebagai generasi penerus bangsa ini harus bisa mengambil hikmah dari kisah semua tokoh-tokoh masa lalu, ambil yang baik dan tentunya buang yang buruk. 


Editor               : Argha Sena

Referensi        : harapanrakyat.com, kompasiana.com, Liputan6.com, tirto.id, Tribunnews.com