Saturday, August 17, 2019

7 Tokoh Keturunan Tionghoa yang Berjasa Bagi Indonesia | Pegawai Jalanan


Warga keturunan Tionghoa sering mendapatkan perlakuan diskrimatif karena ras yang berbeda. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga negara-negara lain yang menjadi tujuan imigrasi nenek moyang mereka dari Tiongkok Daratan yang berlayar mengarungi samudera beratus-ratus tahun yang lalu.
Di Indonesia sendiri, bangsa Tiongkok pertama kali menjalin hubungan dengan pribumi lewat perdagangan. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak dari mereka yang menikahi warga pribumi dan mendapatkan keturunan sehingga akhirnya menetap di Tanah Air.  Setelah menjadi warga negara Indonesia, tak sedikit dari mereka yang menjelma menjadi seorang tokoh nasional.  Banyak di antaranya yang ikut serta mendirikan negara Republik Indonesia, walaupun tak banyak yang mengenalnya.
1. Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie
John Lie
Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie atau Jahja Daniel Dharma merupakan seorang perwira tinggi Angkatan laut yang sarat pengalaman dan juga jasa.  Mengawali perjalanan hidup sebagai seorang pelaut, John Lie ikut sebuah kapal dagang Belanda sebelum bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi dan akhirnya menjadi Kapten di Angkatan Laut Republik Indonesia.
Ia berjasa mengawal barang-barang yang ditukar dengan senjata di Singapura untuk melawan pemerintah Belanda. Oleh karena terlalu tenggelam dalam kehidupannya sebagai tentara Indonesia, ia baru sempat menikah ketika usianya menginjak 45 tahun.  Laksamana Muda John Lie meninggal pada 27 Agustus 2008. Ia mendapat gelar Bintang Mahaputera Utama dari mantan presiden Soeharto pada 1995 dan Bintang Mahaputera Adiprana serta Pahlawan Nasional oleh Presiden SBY pada 2009.
2.  Djiaw Kie Song
Djiaw Kie Song
Peristiwa Rengas dengklok mungkin tak akan pernah terjadi tanpa adanya campur tangun Djiaw Kie Song.  Ia rela membiarkan rumahnya dijadikan tempat “penyanderaan” Sukarno dan Hatta oleh para tokoh pemuda di antaranya Sukarni, Chaerul Saleh, dan Adam Malik pada Kamis, 16 Agustus 1945.
Djiaw Kie Song adalah seorang petani biasa yang tingal di Dusun Bojong, Rengasdengklok, Karawang. Sekarang rumah tersebut masih ditinggali oleh keluarganya. Sebelum meninggal pada 1964, Djiaw berpesan agar keluarganya tak boleh meminta imbalan apapun dari orang lain.  Setiap orang yang ingin tahu sejarah rumah itu harus dilayani. Djiaw pernah mendapatkan piagam penghargaan dari Mayjen Ibrahim Adjie pada 1961 ketika ia menjabat sebagai Pangdam Siliwangi.
3.  Abdurrahman Wahid
Abdurrahman Wahid
Mungkin tak banyak yang tahu, namun Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pernah menyatakan bahwa ia mempunyai darah Tionghoa mengalir dalam nadinya.  Dengan terbuka ia mengakui bahwa ia masih memiliki garis keturunan dari Tan Kim Han yang menikahi Tan A Lok yang merupakan saudara Raden Patah (Tan Eng Hwa) yang mendirikan Kesultanan Demak.
Menurut riset yang dilakukan seorang peneliti berkebangsaan Prancis, Louis Charles Damais, Tan Kim Han dikenal sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang dimakamkan di situs sejarah Trowulan.
4.  Lauw Chuan Tho
Lauw Chuan Tho
Bersama beberapa tokoh keturunan Tionghoa lain seperti sejarawan Ong Hok Ham dan pendiri harian Kompas, P.K. Ojong, Lauw Chuan Tho turut terlibat dalam pencetusan Piagam Asimilasi yang menganjurkan agar warga keturunan Tionghoa sepenuhnya berasimilasi dengan masyarakat Indonsia.
Lauw Chuan Tho memeluk Islam pada 1979 dan mulai dikenal sebagai Junus Jahja. Ia menjadi penyokong berdirinya Masjid Lautze di Jakarta serta Yayasan Haji Karim Oei. Junus Jahja yang pernah dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pernah dianugerahi gelar Bintang Mahaputra.
5.  Siauw Giok Tjhan
Siauw Giok Tjhan
Siauw Giok Tjhan yang lahir di Surabaya pada 1914 merupakan salah seorang tokoh pejuang yang berhasil membawa Indonesa keluar dari belenggu penjajahan Belanda.
Siauw Giok Tjhan yang juga ahli bela diri kung fu ini tercatat pernah menjadi Ketum Baperki, anggota BP KNIP, Menteri Negara, anggota parlemen RIS dan DPR, serta anggota DPRGR/MPRS juga anggota DPA.
Ia turut berkontribusi pada pendirian Universitas Trisakti yang dulu bernama Universitas Res Publika.
6.  Lie Eng Hok
Lie Eng Hok
Lie Eng Hok dikenal luas sebagai tokoh Perintis Kemerdekaan Indonesia pada masa pergerakan melawan penjajah Belanda. Ia adalah salah satu tokoh yang memimpin pemberontakan 1926 di Banten.
Waktu itu, bersama rekan-rekan seperjuangannya ia merusak jalan, rel kereta api, jembatan, rumah-rumah dan kantor-kantor Belanda untuk menunjukkan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial yang menindas masyarakat.
Eng Hok juga dikenal sebagai wartawan Surat Kabar Sin Po. Ia memilih menjadi penambal sepatu untuk menyambung hidup daripada mengabdikan diri pada penjajah Belanda. Pada 22 Januari 1959, Lie Eng Hok mendapat gelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI.
7.  Soe Hok Gie
Soe Hok Gie
Soe Hok Gie merupakan tokoh keturunan Tionghoa termuda dalam daftar ini. Walaupun meninggal pada usia muda (26 tahun), ia mewariskan idealisme kokoh khususnya kepada para mahasiswa Indonesia yang rajin berdemo di jalanan untuk menentang pemerintahan yang tidak mementingkan kepentingan rakyat.
Soe Hok Gie merupakan pemuda cerdas yang berani melontarkan kritik bahkan terhadap gurunya sendiri sewaktu ia mendapati gurunya bertindak otoriter.
Mantan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia ini sangat vokal dalam usaha penggulingan pemerintahan Orde Lama yang dianggapnya korup dan tidak lagi memedulikan rakyat.
Tulisan-tulisannya yang sudah dihimpun menjadi beberapa buku menjadi buku wajib para aktivis mahasiswa. Hok Gie yang merupakan seorang pecinta alam meninggal secara tragis pada 1969 sehari sebelum hari ulang tahunnya di Gunung Semeru akibat menghirup gas beracun. Seorang kawannya, Idhan Lubis, juga turut meninggal di lokasi yang sama.
Itulah 7 tokoh keturunan tionghoa yang berjasa bagi bangsa Indonesia, semoga informasi ini dapat menambah wawasan kita sebagai generasi penerus bangsa ini. Setiap orang baik asli pribumi ataupun keturunan non pribumi masing-masing mempunyai peran dalam sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Semoga kita terhindar dari fitnah yang terus mengadu domba anak bangsa untuk terus bergaduh satu sama lainnya. Pastinya pergaduhan itu hanya akan membuang energi positif kita, mari sama-sama kita mengenal sejarah bangsa sendiri agar tidak mudah di adu domba pihak lain.

Penyunting : Admin PJ
Sumber Literasi : 

Friday, August 16, 2019

Fakta Sejarah yang Disembunyikan: Ternyata Adolf Hitler Tidak Sejahat Yang Digambarkan Barat | Pegawai Jalanan

Adolf Hitler

Secara umum orang-orang dunia lebih mengenal Hitler sebagai penghasut perang, pemicu rasisme, dan seorang diktator. Orang yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan, bahkan hampir setiap orang mengutuknya. 

Sampai membuat kita penasaran apakah Hitler memang benar-benar manusia yang haus dengan peperangan? Mungkin kita pernah mendengar sebuah ungkapan "pemenang peranglah yang menuliskan sejarah" artinya sejarah bisa dibuat di bentuk oleh pemenang perang. Bukankah kita tahu bahwa tentara merah uni soviet melakukan kekejaman saat perang dunia II? Bukankah Amerika membantai rakyat sipil dengan bom atom saat perang dunia ke II? Bukankah Inggris, Perancis, Spanyol, dan negara barat lainnya membantai penduduk pribumi di daerah jajahannya? Apakah itu bukan sebuah kejahatan? Tentu saja itu adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang sangat luar biasa, akan tetapi kita terbuai dengan sejarah yang barat tuliskan yaitu mengatakan mereka adalah penyelamat yang menumpas kejahatan. 

Ada informasi tentang Hitler yang ternyata berbalik arah dengan apa yang kita pelajari selama ini. Sebuah fakta lain mengungkapkan bahwa Hitler adalah satu-satunya pemimpin perang Eropa yang menawarkan perdamaian.

Tulisan tentang sisi lain yang dilakukan Hitler dan upayanya ini ditulis dalam sebuah jurnal Internasional berjudul "Hitler’s Peace Offers, 1933- 1939" yang dipublikasikan pada situs www.Ihr.org, kalian bisa membacanya sendiri pada sumber aslinya disini (http://ihr.org/other/what-the-world-rejected.html).



Upaya-upaya yang dilakukan Hitler pada waktu itu terjadi pada tahun 1933 hingga 1939, waktu itu ia mengirim proposal dan pidato tentang tawaran perdamaian di Eropa. 
Pidato besar pertama Hitler tentang kebijakan luar negeri, terjadi setelah menjabat sebagai Kanselir, lalu ia dikirim ke Reichstag pada 17 Mei 1933.

Dalam pidato tersebut berisikan tentang permohonan perdamaian, persamaan hak dan saling pengertian antar negara.
Tak hanya itu dua tahun kemudian, ia kembali berpidato di Reichstag pada 21 Mei 1935, pemimpin Jerman itu sekali lagi menekankan perlunya perdamaian atas dasar saling menghormati dan persamaan hak.
Bahkan sebuah media di Inggris, bernama London Times mengganggap pidato ini sangat masuk akal, lugas, dan komprehensif.

London Times

Permohonan seperti itu bukan hanya retorika semata pada 31 Maret 1936, misalnya, pemerintah Hitler mengumumkan rencana komprehensif untuk memperkuat perdamaian di Eropa. 

Makalah rinci ini mencakup banyak proposal spesifik, termasuk demiliterisasi seluruh wilayah Rhineland, perjanjian keamanan Eropa Barat, dan larangan kategori bom pembakar, gas beracun, tank berat dan artileri berat.
Meski demikian, tawaran Hitler ini ditolak mentah-mentah oleh pemerintah dunia seperti Inggris dan Prancis.

Selama bertahun-tahun, sejarawan cenderung mengabaikan inisiatif Hitler untuk mengurangi ketegangan dalam mempromosikan perdamaian, atau mengabaikannya sebagai sikap yang menipu. 
Tetapi jika para pemimpin yang bertanggung jawab di Inggris dan Perancis selama tahun 1930-an benar-benar menganggap proposal ini sebagai gurauan atau kepura-puraan yang tidak tulus. Sikap mereka yang tidak responsif menunjukkan bahwa mereka memahami proposal Hitler tulus.
Mereka juga menolak kesepakatan tersebut karena baginya hal itu dapat membahayakan dominasi militer Inggris di Eropa.

Hitler, Pidato, dan Perjanjian : 
Hampir segelintir orang menganggap Adolf Hitler adalah pengacau perdamaian terbesar yang diketahui sejarah.  Ia mengancam setiap bangsa dengan serangan dan penindasan, ia juga telah menciptakan mesin perang yang mengerikan untuk membawa kesengsaraan dan kehancuran di mana-mana. 
Pada saat yang sama mereka dengan sengaja menyembunyikan fakta yang sangat penting: mereka sendiri mendorong pemimpin orang Jerman itu untuk akhirnya menarik pedang. 
Mereka melakukan ini tidak hanya dengan mendeklarasikan perang terhadapnya pada 3 September 1939.  Tetapi juga dengan memblokir langkah demi langkah selama tujuh tahun melalui jalan menuju diskusi damai.
Anak-anak Wanita Jerman 
Pada saat itulah, untuk pertama kali Adolf Hitler mengutarakan akal sehatnya, pada 17 Mei 1933, beberapa bulan setelah pengangkatannya ke pos Reich Chancellor.
Ia menyampaikan pidatonya di Reichstag Jerman yang mencakup bagian-bagian berikut:

“Jerman akan siap untuk membubarkan seluruh kekuatan militernya dan menghancurkan sejumlah kecil senjata yang tersisa untuknya, jika negara-negara tetangga akan melakukan hal yang sama dengan ketelitian yang sama."
“... Jerman juga sepenuhnya siap untuk melepaskan senjata agresif dari segala jenis. Jika negara-negara bersenjata, pada bagian mereka, akan menghancurkan senjata agresif mereka dalam jangka waktu tertentu, dan jika penggunaannya dilarang oleh konvensi internasional."
“... Jerman siap kapan saja untuk melepaskan senjata agresif jika seluruh dunia melakukan hal yang sama. Jerman juga siap untuk menyetujui pakta non-agresi yang serius karena dia tidak berpikir untuk menyerang siapa pun, tetapi hanya untuk mendapatkan keamanan. ”

Anehnya, dalam pidatonya tersebut, tidak ada jawaban dari pihak manapun, alih-alih jawaban percayapun tidak.  Negara lain justru semakin seibuk mengisi gudang senjata mereka, menumpuk bahan peledak dan meningkatkan jumlah pasukan mereka. 
Pada saat yang sama, Liga Bangsa-Bangsa, instrumen kekuatan-kekuatan yang menang, menyatakan bahwa Jerman harus terlebih dahulu menjalani "masa percobaan."
Hal itu dilakukan sebelum kemungkinan untuk membahas tentang perlucutan senjata negara-negara lain. 
Pada tanggal 14 Oktober 1933, Hitler mengundurkan diri dari Liga Bangsa-Bangsa, yang tidak mungkin mencapai suatu kesepakatan. 

Namun tidak lama kemudian, pada 18 Desember 1933, dia maju dengan proposal baru untuk peningkatan hubungan internasional, proposal ini termasuk enam poin berikut:
1. Jerman menerima kesetaraan hak sepenuhnya.
2. Negara-negara bersenjata sepenuhnya tidak meningkatkan persenjataan mereka di luar tingkat mereka saat ini.
3. Jerman menaati perjanjian ini, dengan bebas melakukan untuk hanya menggunakan begitu banyak penggunaan yang sebenarnya dari persamaan hak yang diberikan kepadanya karena tidak akan mewakili ancaman terhadap keamanan kekuatan Eropa lainnya.
4. Semua negara mengakui kewajiban tertentu dalam hal melakukan perang terhadap prinsip-prinsip manusiawi, atau tidak menggunakan senjata tertentu terhadap penduduk sipil.
5. Semua negara bagian menerima pengawasan umum yang seragam yang akan memantau dan memastikan pelaksanaan kewajiban-kewajiban ini.
6. Negara-negara Eropa menjamin satu sama lain pemeliharaan perdamaian tanpa syarat dengan kesimpulan pakta non-agresi, yang akan diperbarui setelah sepuluh tahun. 

Dengan cara ini poisis Jerman kala itu menjadi lebih buruk dari sebelumnya, bahaya bagi Jerman semakin besar sehingga pada Maret 1935 Hitler terpaksa bertindak dan memperkenalkan kembali wajib militer.

Sebaliknya, Prancis membuat aliansi dengan Rusia untuk lebih meningkatkan dominasinya di benua itu, dan untuk meningkatkan tekanan terhadap Jerman dari Timur.
Mengingat niat destruktif yang jelas dari musuh-musuhnya, Adolf Hitler harus mengambil langkah-langkah baru untuk keamanan Jerman. Nasib banding ini sama dengan semua yang sebelumnya dibuat oleh Adolf Hitler dengan alasan demi kepentingan kebangkitan Eropa yang sesungguhnya.  Musuh-musuh Hitler tidak menghiraukannya. Pada kesempatan ini juga tidak ada jawaban yang datang dari mereka. Mereka dengan teguh berpegang pada sikap yang telah mereka ambil di awal yaitu memulai perang dan mendominasi dunia. 
Hitler dan Anak-Anak Jerman

Semoga informasi ini bisa membuka pikiran kita tentang anggapan selama ini bahwa Htler adalah di posisi manusia terjahat. Ternyata sebenarnya yang menginginkan perang dan mendominasi dunia kita sudah tahu siapa, bukan Hitler tapi negara-negara yang selama ini kita tahu menjadi polisi dunia yang telah memporakporandakan negara lain dengan alsan yang tidak masuk akal. Hitler tidak sejahat yang kita bayangkan, dia juga manusia yang juga seorang pemimpin yang berusaha melindungi rakyatnya dari serangan dan keroyokan negara-negara barat yang haus dengan kekuasaan, ketamakan dalam mengusai dunia.




Inilah 8 Tokoh Keturunan Arab Yang Turut Berjasa Membangun Indonesia | Pegawai Jalanan


Sejarah perkembangan bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran banyak pihak, salah satu di antara adalah keterlibatan sejumlah tokoh keturunan Arab.

Tidak hanya sekedar tinggal dan menetap, sejumlah tokoh keturunan Arab itu aktif dan berperan langsung dalam pembangunan bangsa Indonesia. Mereka bergerak di sejumlah bidang, mulai seni, budaya hingga politik. Artikel ini ditujukan untuk generasi muda yang mulai tidak mengenal sejarah bangsanya sendiri, karena terlalu asik mengikuti perkembangan zaman yang memang sudah membuat kita lupa untuk membaca dan menambah pengetahuan kita.  

Mungkin di antara kalian ada yang tidak mengetahui bahwa banyak keturunan arab yang berjasa untuk bangsa ini. Sebenarnya bukan hanya keturunan arab saja yang berjasa, tapi semua nya terlibat ada yang berbangsa eropa, orang-orang tionghoa yang sudah menetap di Indonesia dan lain sebagainya juga banyak yang berjasa untuk bangsa ini, tapi akan di bahas di lain artikel.
Berikut ini adalah delapan tokoh keturunan Arab yang yang turut Berjasa Membangun Indonesia.

1. Raden Saleh

Raden Saleh

Lahir di tahun 1807, pemilik nama lengkap Raden Saleh Sjarif Bustaman adalah pelukis Indonesia keturunan Arab-Jawa yang mempionerkan seni modern Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda).

Raden Saleh dilahirkan di keluarga Jawa ningrat. Dia cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari sisi ibunya. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab.  Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia.  Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).

Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia Belanda.  Raden Saleh mendapat beasiswa untuk belajar di negeri Belanda tahun 1829. Di sana ia berkenalan dengan kalangan ningrat dari banyak istana di Eropa, khususnya dengan Grojbherzog von Sachsen-Corburg-Gotha.

Hasil Karya Raden Saleh

Dialah pelukis Indonesia yang paling berbakat dan berhasil pada abad ke 19. Raden Saleh adalah pelukis Jawa pertama yang secara sistematis menggunakan cat minyak dan mengambil teknik-teknik Barat: realisme pada potret, pencarian gerak, perspektif dan komposisi berbentuk piramid dan sebagainya. Kini ia dikenal sebagai "bapak" ilmu seni lukis Indonesia.

Pada Jumat pagi 23 April 1880, dia jatuh sakit. Hasil pemeriksaan diketahui bahwa aliran darahnya terhambat karena pengendapan yang terjadi dekat jatungnya.  Pelukis ini meninggal di Bogor tahun 1880 dan dimakamkan di Jalan Bondongan (kini Jalan Pahlawan). Bersebelahan dengan makam istrinya RA Danurejo, putri dari Kesultanan Mataram.

2. Habib Abubakar bin Ali Shahab

Habib Abubakar bin Ali Shahab

Habib Abubakar bin Ali Shahab adalah tokoh keturunan Arab-Indonesia yang aktif dalam pergerakan dan pendidikan Islam pada masa prakemerdekaan Indonesia. Dia juga tercatat sebagai pendiri Jamiat Kheir dan Malja Al Shahab.  Lahir di Jakarta 24 Oktober 1870 dari ayah Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, kelahiran Damun, Tarim, Hadramaut dan ibu Muznah binti Syech Said Naum.  Dalam situasi dan tekanan kolonial yang keras, Habib Abubakar tampil untuk mendirikan sebuah perguruan Islam, yang bukan hanya mengajarkan agama, tetapi juga pendidikan umum.

Pada tahun 1901, bersamaan dengan maraknya kebangkitan Islam di Tanah Air, berdirilah perguruan Islam Jamiat Kheir. Pada saat pertama kali berdiri, perguruan ini membuka sekolah di kawasan Pekojan yang saat itu penghuninya banyak keturunan Arab.
Selain Habib Abubakar, turut serta mendirikan perguruan ini sejumlah pemuda Alawiyyin yang mempunyai kesamaan pendapat dan tekad untuk memajukan Islam di Indonesia, sekaligus melawan propaganda-propaganda Belanda yang anti Islam.  Di Tanah Abang, Habib Abubakar bersama-sama sejumlah Alawiyyin juga mendirikan sekolah untuk putra (aulad) di Jalan Karet dan putri (banat) di Jalan Kebon Melati (kini Jalan Kebon Kacang Raya), serta cabang Jamiat Kheir di Tanah Tinggi, Senen.
Habib Abubakar bin Ali Shahab meninggal pada 18 Maret 1944.

3. Abdurrahman Baswedan


Abdurrahman Baswedan

Abdurrahman Baswedan atau AR Baswedan adalah pejuang kemerdekaan sekaligus diplomat dan sastrawan Indonesia. Beliau adalah kakek dari Anis Baswedan yang sekarang sedang menjabat sebagai gubernur Jakarta menggantikan Basuki Cahaya Purnama atau yang lebih dikenal dengan Ahok.
Lahir di Surabaya, 9 September 1908, AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante.  AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia, yaitu dari Mesir.
AR Baswedan merupakan keturunan Arab yang fasih berbahasa Jawa. Dalam perjuangannya, dia sering menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia.  Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli, di mana saya lahir, di situlah tanah airku.  AR Baswedan meningga di Jakarta, 16 Maret 1986 pada umur 77 tahun.

4. Faradj bin Said

Faradj bin Said bin Awad Martak

Tidak banyak yang tau siapa Faradj bin Said bin Awad Martak bahkan mungkin ada yang tidak mau tahu. Dia adalah pedagang Indonesia keturunan Arab yang merelakan rumahnya Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 digunakan untuk upacara proklamasi.
Bahkan, selama Bung Karno di sana, beliau memberikan pelayanan, termasuk membantu menyembuhkan penyakit dari Bung Karno.

Faradj bin Said lahir di Hadramaut, Yaman Selatan dan menetap di Indonesia dengan menjalankan sebuah perusahaan. Sebagai pebisnis sukses di masanya, Faradj bin Said ternyata juga aktif berjuang untuk Indonesia.  Atas jasanya itu, pemerintah RI kemudian memberinya ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Faradj bin Said Awad Martak. Ucapan tersebut disampaikan secara tertulis atas nama Pemerintah Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1950, yang ditandatangani oleh Ir HM Sitompul selaku Menteri Pekerdjaan Umum dan Perhubungan Republik Indonesia.

5. Ali Alatas

Ali Alatas


Ali Alatas adalah diplomat Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia tahun 1988-1999 era Presiden Soeharto dan BJ Habibie. Hingga wafatnya, pria kelahiran Jakarta 4 November 1932 ini menjabat sebagai Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Myanmar, Utusan Khusus Presiden RI untuk masalah Timur Tengah, dan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.

Ali Alatas merupakan keturunan blasteran dari Arab Hadhrami (Yaman) dan Sunda. Alex, begitu dia akrab dipanggil, menikah dengan Junisa dan pasangan ini dikaruniai tiga orang anak.  Sebagai diplomat, ia akrab kepada semua kalangan, baik pejabat maupun petugas keamanan. Ia dilaporkan biasa mengobrol dengan petugas keamanan di PBB sewaktu merokok di luar gedung.  Ia wafat di Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura pada 11 Desember 2008 setelah mendapat serangan jantung. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

6. Asad Shabab

Asad Shahab

Asad Shahab lahir di Jakarta pada 23 September 1910 dari keluarga Betawi berdarah Arab. Ayahnya, Ali Shahab adalah juragan tanah yang termasuk salah seorang tokoh perintis Jamiat Kheir. Menurut Alwi Alatas, sejarawan yang mengkaji komunitas Hadrami di Indonesia, Jamiat Kheir merupakan organisasi Islam modern pertama di Hindia Belanda.

Pada masa pergerakan, Asad Shahab aktif di perkumpulan Hizbu Shabab. Perkumpulan pemuda-pemuda Hadrami ini dalam bahasa Belanda disebut Partij van de Jongere Arabieren (Partai Arab Muda). Pada 1938, Asad Shahab tercatat sebagai sekretaris pertama.
Tujuan organisasi ini cukup banyak yaitu memberikan bantuan beasiswa, menolong keluarga Hadrami yang miskin, melakukan pembelaan terhadap Islam, hingga mengorganisir klub sepak bola.

Pada 2 September 1945, Asad Shahab mendirikan kantor berita Arabian Press Board (APB). Kata Arab dibubuhkan guna mengelabui Belanda yang berupaya menekan atau membubarkan setiap gerakan berbau Indonesia. Kantor berita APB terletak di Jalan Gang Tengah No. 19 yang kini dikenal sebagai kawasan Salemba. Berita yang diterbitkan APB berupa buletin harian yang diterjemahkan ke dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris.

Asad Shahab

Produk media APB cukup beragam. Mulai dari buletin harian, suratkabar, dan majalah berkala. Selain koreponden di berbagai negara, pendistribusian APB terbantu oleh Kementerian Luar Negeri yang mengirimkan buletin harian ke seluruh perwakilan RI di luar negeri. Dari berita APB, negara-negara Timur Tengah mengetahui keadaan yang terjadi di Indonesia.


Dokumen-dokumen APB semasa revolusi sempat lenyap. Tentara NICA melakukan penggerebekan yang mengakibatkan kantor berita APB ditutup. Siaran APB pun dibredel. 
Pasca pengakuan kedaulatan, Arabian Press Board berganti nama menjadi Asian Press Board. Di masa Sukarno, APB menjadi pers yang kritis menentang komunisme dan politik Demokrasi Terpimpin. Asad Shahab menolak konsepsi Sukarno tentang Nasakom. Lagi pula, kecendrungan pers komunis saat itu tengah kuat-kuatnya. Pertentangan politik menyebabkan APB dibubarkan pada 1962 dan dileburkan ke dalam Antara. Muncul desas-desus Asad Shahab menjadi target sasaran untuk diadili.

Asad Shahab kemudian meninggalkan Indonesia dan menghabiskan sekian lama waktunya di Arab Saudi. Dia berkecimpung dalam organisasi Islam Rabithah al-Alam al-Islami yang aktif dalam kegiatan dakwah. Pada 1980, Asad Shahab kembali ke Tanah Air. Di masa tuanya, dia dikenal sebagai tokoh pers pejuang sekaligus tokoh keturunan Arab terkemuka. Pada usianya yang ke-90, Assad Shahab wafat, tepatnya pada 5 Mei 2001.

7. Sultan Syarif Kasim II Siak

Sultan Syarif Kasim II

Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri IndrapuraRiau1 Desember 1893 – meninggal di RumbaiPekanbaruRiau23 April 1968 pada umur 74 tahun) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Ia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik.

Uang sebesar 13 juta gulden tentu saja bukan jumlah yang kecil. Jika ditakar dengan ukuran sekarang, nominalnya kira-kira setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Segepok uang itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno.

Tak hanya itu, Sultan Syarif Kasim II juga tidak segan-segan menyerahkan mahkota dan nyaris seluruh kekayaannya. Ini dilakukan sebagai penegas bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura yang dipimpinnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sedari era pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Sultan Syarif Kasim II sudah menempatkan dirinya sebagai penentang kaum penjajah. Lahir di Siak Sri Inderapura, Riau, pada 1 Desember 1893, sang sultan memperlihatkan perlawanannya terhadap Belanda melalui cara-cara yang elegan dan cerdas.
Sultan Syarif Kasim II dan Istri

Sultan Syarif Kasim II sadar, melawan Belanda lewat fisik atau menentang dengan frontal sama saja bunuh diri. Apalagi, Kesultanan Siak Sri Inderapura masih terikat perjanjian yang diteken pendahulunya di masa lampau.

Jauh sebelumnya, Sultan Said Ismail (1827-1864), kakek buyut Sultan Syarif Kasim II, terpaksa menandatangani Traktat Siak yang isinya sangat menguntungkan Belanda (Sapardi Djoko Damono & Marco Kusumawijaya, Siak Sri Indrapura, 2005: 71).

Traktat Siak merupakan konsekuensi yang dijalani Sultan Said Ismail karena meminta bantuan Belanda untuk mengusir Inggris dari Riau pada pertengahan abad ke-19. Terbelenggu oleh Traktat Siak tidak lantas membuat Sultan Syarif Kasim II, yang bertakhta sejak 3 Maret 1915, sepenuhnya takluk kepada bangsa kolonial.
Pengorbanan Sultan Syarif Kasim II untuk Republik amat besar. Namun, pemerintah RI baru memberinya gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1998. Nama Sultan Syarif Kasim II diabadikan sebagai nama bandar udara internasional di Pekanbaru, Riau.

8. Sultan Hamid II Pontianak

Sultan Hamid II

Sultan Hamid II, lahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak ke-6, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (lahir di PontianakKalimantan Barat12 Juli 1913 – meninggal di Jakarta30 Maret 1978 pada umur 64 tahun) adalah Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia. Ia beristrikan seorang perempuan Belanda kelahiran Surabaya, yang memberikannya dua anak yang sekarang tinggal di Negeri Belanda.

Pada tanggal 17 Desember 1949, Sultan Hamid II diangkat oleh Soekarno ke Kabinet RIS tetapi tanpa adanya portofolio.  Kabinet ini dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta dan termasuk 11 anggota berhaluan Republik dan lima anggota berhaluan Federal. Pemerintahan federal ini berumur pendek karena perbedaan pendapat dan kepentingan yang bertentangan antara golongan Unitaris dan Federalis serta berkembangnya dukungan rakyat untuk adanya negara kesatuan.

Sejarah seringkali milik para pemenang, dan di sisi lain pihak yang kalah acapkali dilupakan.  Dalam sejarah kontemporer Indonesia, sosok Sultan Hamid II -yang pernah menjabat menteri negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pertama- barangkali termasuk kategori yang kalah.

Jasanya dalam merancang lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila, seperti dilupakan begitu saja setelah dia diadili dan dihukum 10 tahun penjara terkait rencana kudeta oleh kelompok eks KNIL pimpinan Kapten Westerling pada 1950.
Dia dilupakan, karena dituduh terlibat peristiwa Westerling, termasuk ingin membunuh Sultan Hamengkubowo (Menteri Pertahanan saat itu).


Lambang Garuda adalah ciptaan Sultan Hamid II

Dalam buku Nationalism dan Revolution in Indonesia (1952), George Mc Turnan Kahin, menulis setelah upaya kudeta itu digagalkan, temuan pemerintah RIS menyimpulkan Sultan Hamid "telah mendalangi seluruh kejadian tersebut, dengan Westerling bertindak sebagai senjata militernya.  Walaupun ia membantah terlibat dalam kasus itu, pengadilan menyatakan dirinya bersalah. Kemudian dia dihukum penjara sepuluh tahun. Di situlah namanya habis karena ia dianggap pengkhianat.

Sejarah resmi Indonesia kemudian melupakannya. Ketika pria kelahiran 1913 ini meninggal dunia lebih dari 35 tahun silam, jasadnya bahkan tidak dikubur di makam pahlawan.  Sosok penyokong konsep negara Federal ini seperti dihilangkan, walaupun dia adalah perancang lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila. 

Setelah reformasi bergulir, sejumlah intelektual muda Kota Pontianak, Kalimantan Barat -tempat kelahiran Sultan Hamid II- menggugat yang mereka sebut sebagai kebohongan sejarah.  Anshari Dimyati, yang juga Ketua Yayasan Sultan Hamid II, melalui penelitian tesis master di Universitas Indonesia, menyimpulkan Ketua Majelis permusyawaratan negara-negara Federal (BFO) ini tidak bersalah dalam peristiwa Westerling awal 1950.
Sultan Hamid II dan Istri

"Sultan Hamid II memang mempunyai niat untuk melakukan penyerangan dan membunuh tiga dewan Menteri RIS, tapi tidak jadi dilakukan dan penyerangan pun tidak terjadi. Itu yang harus diluruskan," kata Anshari Dimyati, Selasa (02/06).  Hasil temuan Anshari juga menyimpulkan, bahwa perwira lulusan Akademi militer Belanda itu bukan "dalang" peristiwa APRA di Bandung awal 1950. 

Bagaimanapun, Sultan Hamid II hidup dalam masa-masa gelap revolusi Indonesia, ketika banyak kelompok yang masih bersemangat membawa Indonesia ke arah yang sesuai persepsinya masing-masing.  Sejarah memang bukan matematika yang terukur jelas dan acapkali hanya dimiliki para pemenang. Namun tak semestinya sejarah meniadakan jasa para pesakitan.

Itulah 8 Tokoh keturunan arab yang sudah ikut berjasa dalam perjalanan bangsa Indonesia, semoga tidak ada lagi ungkapan-ungkapan bernada rasial bagi keturunan arab atau habaib di negeri ini. Masih banyak lagi sebenarnya orang-orang keturunan arab yang berjasa banyak untuk negeri ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga informasi ini bisa menambah pengetahuan dan membuka luas cara berfikir kita. 

Penulis : Admin PJ
Sumber Literasi :