Friday, August 16, 2019

Inilah 8 Tokoh Keturunan Arab Yang Turut Berjasa Membangun Indonesia | Pegawai Jalanan


Sejarah perkembangan bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran banyak pihak, salah satu di antara adalah keterlibatan sejumlah tokoh keturunan Arab.

Tidak hanya sekedar tinggal dan menetap, sejumlah tokoh keturunan Arab itu aktif dan berperan langsung dalam pembangunan bangsa Indonesia. Mereka bergerak di sejumlah bidang, mulai seni, budaya hingga politik. Artikel ini ditujukan untuk generasi muda yang mulai tidak mengenal sejarah bangsanya sendiri, karena terlalu asik mengikuti perkembangan zaman yang memang sudah membuat kita lupa untuk membaca dan menambah pengetahuan kita.  

Mungkin di antara kalian ada yang tidak mengetahui bahwa banyak keturunan arab yang berjasa untuk bangsa ini. Sebenarnya bukan hanya keturunan arab saja yang berjasa, tapi semua nya terlibat ada yang berbangsa eropa, orang-orang tionghoa yang sudah menetap di Indonesia dan lain sebagainya juga banyak yang berjasa untuk bangsa ini, tapi akan di bahas di lain artikel.
Berikut ini adalah delapan tokoh keturunan Arab yang yang turut Berjasa Membangun Indonesia.

1. Raden Saleh

Raden Saleh

Lahir di tahun 1807, pemilik nama lengkap Raden Saleh Sjarif Bustaman adalah pelukis Indonesia keturunan Arab-Jawa yang mempionerkan seni modern Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda).

Raden Saleh dilahirkan di keluarga Jawa ningrat. Dia cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari sisi ibunya. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab.  Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia.  Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).

Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia Belanda.  Raden Saleh mendapat beasiswa untuk belajar di negeri Belanda tahun 1829. Di sana ia berkenalan dengan kalangan ningrat dari banyak istana di Eropa, khususnya dengan Grojbherzog von Sachsen-Corburg-Gotha.

Hasil Karya Raden Saleh

Dialah pelukis Indonesia yang paling berbakat dan berhasil pada abad ke 19. Raden Saleh adalah pelukis Jawa pertama yang secara sistematis menggunakan cat minyak dan mengambil teknik-teknik Barat: realisme pada potret, pencarian gerak, perspektif dan komposisi berbentuk piramid dan sebagainya. Kini ia dikenal sebagai "bapak" ilmu seni lukis Indonesia.

Pada Jumat pagi 23 April 1880, dia jatuh sakit. Hasil pemeriksaan diketahui bahwa aliran darahnya terhambat karena pengendapan yang terjadi dekat jatungnya.  Pelukis ini meninggal di Bogor tahun 1880 dan dimakamkan di Jalan Bondongan (kini Jalan Pahlawan). Bersebelahan dengan makam istrinya RA Danurejo, putri dari Kesultanan Mataram.

2. Habib Abubakar bin Ali Shahab

Habib Abubakar bin Ali Shahab

Habib Abubakar bin Ali Shahab adalah tokoh keturunan Arab-Indonesia yang aktif dalam pergerakan dan pendidikan Islam pada masa prakemerdekaan Indonesia. Dia juga tercatat sebagai pendiri Jamiat Kheir dan Malja Al Shahab.  Lahir di Jakarta 24 Oktober 1870 dari ayah Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, kelahiran Damun, Tarim, Hadramaut dan ibu Muznah binti Syech Said Naum.  Dalam situasi dan tekanan kolonial yang keras, Habib Abubakar tampil untuk mendirikan sebuah perguruan Islam, yang bukan hanya mengajarkan agama, tetapi juga pendidikan umum.

Pada tahun 1901, bersamaan dengan maraknya kebangkitan Islam di Tanah Air, berdirilah perguruan Islam Jamiat Kheir. Pada saat pertama kali berdiri, perguruan ini membuka sekolah di kawasan Pekojan yang saat itu penghuninya banyak keturunan Arab.
Selain Habib Abubakar, turut serta mendirikan perguruan ini sejumlah pemuda Alawiyyin yang mempunyai kesamaan pendapat dan tekad untuk memajukan Islam di Indonesia, sekaligus melawan propaganda-propaganda Belanda yang anti Islam.  Di Tanah Abang, Habib Abubakar bersama-sama sejumlah Alawiyyin juga mendirikan sekolah untuk putra (aulad) di Jalan Karet dan putri (banat) di Jalan Kebon Melati (kini Jalan Kebon Kacang Raya), serta cabang Jamiat Kheir di Tanah Tinggi, Senen.
Habib Abubakar bin Ali Shahab meninggal pada 18 Maret 1944.

3. Abdurrahman Baswedan


Abdurrahman Baswedan

Abdurrahman Baswedan atau AR Baswedan adalah pejuang kemerdekaan sekaligus diplomat dan sastrawan Indonesia. Beliau adalah kakek dari Anis Baswedan yang sekarang sedang menjabat sebagai gubernur Jakarta menggantikan Basuki Cahaya Purnama atau yang lebih dikenal dengan Ahok.
Lahir di Surabaya, 9 September 1908, AR Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante.  AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia, yaitu dari Mesir.
AR Baswedan merupakan keturunan Arab yang fasih berbahasa Jawa. Dalam perjuangannya, dia sering menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia.  Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli, di mana saya lahir, di situlah tanah airku.  AR Baswedan meningga di Jakarta, 16 Maret 1986 pada umur 77 tahun.

4. Faradj bin Said

Faradj bin Said bin Awad Martak

Tidak banyak yang tau siapa Faradj bin Said bin Awad Martak bahkan mungkin ada yang tidak mau tahu. Dia adalah pedagang Indonesia keturunan Arab yang merelakan rumahnya Jalan Pegangsaan Timur nomor 56 digunakan untuk upacara proklamasi.
Bahkan, selama Bung Karno di sana, beliau memberikan pelayanan, termasuk membantu menyembuhkan penyakit dari Bung Karno.

Faradj bin Said lahir di Hadramaut, Yaman Selatan dan menetap di Indonesia dengan menjalankan sebuah perusahaan. Sebagai pebisnis sukses di masanya, Faradj bin Said ternyata juga aktif berjuang untuk Indonesia.  Atas jasanya itu, pemerintah RI kemudian memberinya ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Faradj bin Said Awad Martak. Ucapan tersebut disampaikan secara tertulis atas nama Pemerintah Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1950, yang ditandatangani oleh Ir HM Sitompul selaku Menteri Pekerdjaan Umum dan Perhubungan Republik Indonesia.

5. Ali Alatas

Ali Alatas


Ali Alatas adalah diplomat Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia tahun 1988-1999 era Presiden Soeharto dan BJ Habibie. Hingga wafatnya, pria kelahiran Jakarta 4 November 1932 ini menjabat sebagai Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Myanmar, Utusan Khusus Presiden RI untuk masalah Timur Tengah, dan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.

Ali Alatas merupakan keturunan blasteran dari Arab Hadhrami (Yaman) dan Sunda. Alex, begitu dia akrab dipanggil, menikah dengan Junisa dan pasangan ini dikaruniai tiga orang anak.  Sebagai diplomat, ia akrab kepada semua kalangan, baik pejabat maupun petugas keamanan. Ia dilaporkan biasa mengobrol dengan petugas keamanan di PBB sewaktu merokok di luar gedung.  Ia wafat di Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura pada 11 Desember 2008 setelah mendapat serangan jantung. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

6. Asad Shabab

Asad Shahab

Asad Shahab lahir di Jakarta pada 23 September 1910 dari keluarga Betawi berdarah Arab. Ayahnya, Ali Shahab adalah juragan tanah yang termasuk salah seorang tokoh perintis Jamiat Kheir. Menurut Alwi Alatas, sejarawan yang mengkaji komunitas Hadrami di Indonesia, Jamiat Kheir merupakan organisasi Islam modern pertama di Hindia Belanda.

Pada masa pergerakan, Asad Shahab aktif di perkumpulan Hizbu Shabab. Perkumpulan pemuda-pemuda Hadrami ini dalam bahasa Belanda disebut Partij van de Jongere Arabieren (Partai Arab Muda). Pada 1938, Asad Shahab tercatat sebagai sekretaris pertama.
Tujuan organisasi ini cukup banyak yaitu memberikan bantuan beasiswa, menolong keluarga Hadrami yang miskin, melakukan pembelaan terhadap Islam, hingga mengorganisir klub sepak bola.

Pada 2 September 1945, Asad Shahab mendirikan kantor berita Arabian Press Board (APB). Kata Arab dibubuhkan guna mengelabui Belanda yang berupaya menekan atau membubarkan setiap gerakan berbau Indonesia. Kantor berita APB terletak di Jalan Gang Tengah No. 19 yang kini dikenal sebagai kawasan Salemba. Berita yang diterbitkan APB berupa buletin harian yang diterjemahkan ke dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris.

Asad Shahab

Produk media APB cukup beragam. Mulai dari buletin harian, suratkabar, dan majalah berkala. Selain koreponden di berbagai negara, pendistribusian APB terbantu oleh Kementerian Luar Negeri yang mengirimkan buletin harian ke seluruh perwakilan RI di luar negeri. Dari berita APB, negara-negara Timur Tengah mengetahui keadaan yang terjadi di Indonesia.


Dokumen-dokumen APB semasa revolusi sempat lenyap. Tentara NICA melakukan penggerebekan yang mengakibatkan kantor berita APB ditutup. Siaran APB pun dibredel. 
Pasca pengakuan kedaulatan, Arabian Press Board berganti nama menjadi Asian Press Board. Di masa Sukarno, APB menjadi pers yang kritis menentang komunisme dan politik Demokrasi Terpimpin. Asad Shahab menolak konsepsi Sukarno tentang Nasakom. Lagi pula, kecendrungan pers komunis saat itu tengah kuat-kuatnya. Pertentangan politik menyebabkan APB dibubarkan pada 1962 dan dileburkan ke dalam Antara. Muncul desas-desus Asad Shahab menjadi target sasaran untuk diadili.

Asad Shahab kemudian meninggalkan Indonesia dan menghabiskan sekian lama waktunya di Arab Saudi. Dia berkecimpung dalam organisasi Islam Rabithah al-Alam al-Islami yang aktif dalam kegiatan dakwah. Pada 1980, Asad Shahab kembali ke Tanah Air. Di masa tuanya, dia dikenal sebagai tokoh pers pejuang sekaligus tokoh keturunan Arab terkemuka. Pada usianya yang ke-90, Assad Shahab wafat, tepatnya pada 5 Mei 2001.

7. Sultan Syarif Kasim II Siak

Sultan Syarif Kasim II

Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri IndrapuraRiau1 Desember 1893 – meninggal di RumbaiPekanbaruRiau23 April 1968 pada umur 74 tahun) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Ia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik.

Uang sebesar 13 juta gulden tentu saja bukan jumlah yang kecil. Jika ditakar dengan ukuran sekarang, nominalnya kira-kira setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Segepok uang itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno.

Tak hanya itu, Sultan Syarif Kasim II juga tidak segan-segan menyerahkan mahkota dan nyaris seluruh kekayaannya. Ini dilakukan sebagai penegas bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura yang dipimpinnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sedari era pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Sultan Syarif Kasim II sudah menempatkan dirinya sebagai penentang kaum penjajah. Lahir di Siak Sri Inderapura, Riau, pada 1 Desember 1893, sang sultan memperlihatkan perlawanannya terhadap Belanda melalui cara-cara yang elegan dan cerdas.
Sultan Syarif Kasim II dan Istri

Sultan Syarif Kasim II sadar, melawan Belanda lewat fisik atau menentang dengan frontal sama saja bunuh diri. Apalagi, Kesultanan Siak Sri Inderapura masih terikat perjanjian yang diteken pendahulunya di masa lampau.

Jauh sebelumnya, Sultan Said Ismail (1827-1864), kakek buyut Sultan Syarif Kasim II, terpaksa menandatangani Traktat Siak yang isinya sangat menguntungkan Belanda (Sapardi Djoko Damono & Marco Kusumawijaya, Siak Sri Indrapura, 2005: 71).

Traktat Siak merupakan konsekuensi yang dijalani Sultan Said Ismail karena meminta bantuan Belanda untuk mengusir Inggris dari Riau pada pertengahan abad ke-19. Terbelenggu oleh Traktat Siak tidak lantas membuat Sultan Syarif Kasim II, yang bertakhta sejak 3 Maret 1915, sepenuhnya takluk kepada bangsa kolonial.
Pengorbanan Sultan Syarif Kasim II untuk Republik amat besar. Namun, pemerintah RI baru memberinya gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1998. Nama Sultan Syarif Kasim II diabadikan sebagai nama bandar udara internasional di Pekanbaru, Riau.

8. Sultan Hamid II Pontianak

Sultan Hamid II

Sultan Hamid II, lahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak ke-6, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (lahir di PontianakKalimantan Barat12 Juli 1913 – meninggal di Jakarta30 Maret 1978 pada umur 64 tahun) adalah Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia. Ia beristrikan seorang perempuan Belanda kelahiran Surabaya, yang memberikannya dua anak yang sekarang tinggal di Negeri Belanda.

Pada tanggal 17 Desember 1949, Sultan Hamid II diangkat oleh Soekarno ke Kabinet RIS tetapi tanpa adanya portofolio.  Kabinet ini dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta dan termasuk 11 anggota berhaluan Republik dan lima anggota berhaluan Federal. Pemerintahan federal ini berumur pendek karena perbedaan pendapat dan kepentingan yang bertentangan antara golongan Unitaris dan Federalis serta berkembangnya dukungan rakyat untuk adanya negara kesatuan.

Sejarah seringkali milik para pemenang, dan di sisi lain pihak yang kalah acapkali dilupakan.  Dalam sejarah kontemporer Indonesia, sosok Sultan Hamid II -yang pernah menjabat menteri negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pertama- barangkali termasuk kategori yang kalah.

Jasanya dalam merancang lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila, seperti dilupakan begitu saja setelah dia diadili dan dihukum 10 tahun penjara terkait rencana kudeta oleh kelompok eks KNIL pimpinan Kapten Westerling pada 1950.
Dia dilupakan, karena dituduh terlibat peristiwa Westerling, termasuk ingin membunuh Sultan Hamengkubowo (Menteri Pertahanan saat itu).


Lambang Garuda adalah ciptaan Sultan Hamid II

Dalam buku Nationalism dan Revolution in Indonesia (1952), George Mc Turnan Kahin, menulis setelah upaya kudeta itu digagalkan, temuan pemerintah RIS menyimpulkan Sultan Hamid "telah mendalangi seluruh kejadian tersebut, dengan Westerling bertindak sebagai senjata militernya.  Walaupun ia membantah terlibat dalam kasus itu, pengadilan menyatakan dirinya bersalah. Kemudian dia dihukum penjara sepuluh tahun. Di situlah namanya habis karena ia dianggap pengkhianat.

Sejarah resmi Indonesia kemudian melupakannya. Ketika pria kelahiran 1913 ini meninggal dunia lebih dari 35 tahun silam, jasadnya bahkan tidak dikubur di makam pahlawan.  Sosok penyokong konsep negara Federal ini seperti dihilangkan, walaupun dia adalah perancang lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila. 

Setelah reformasi bergulir, sejumlah intelektual muda Kota Pontianak, Kalimantan Barat -tempat kelahiran Sultan Hamid II- menggugat yang mereka sebut sebagai kebohongan sejarah.  Anshari Dimyati, yang juga Ketua Yayasan Sultan Hamid II, melalui penelitian tesis master di Universitas Indonesia, menyimpulkan Ketua Majelis permusyawaratan negara-negara Federal (BFO) ini tidak bersalah dalam peristiwa Westerling awal 1950.
Sultan Hamid II dan Istri

"Sultan Hamid II memang mempunyai niat untuk melakukan penyerangan dan membunuh tiga dewan Menteri RIS, tapi tidak jadi dilakukan dan penyerangan pun tidak terjadi. Itu yang harus diluruskan," kata Anshari Dimyati, Selasa (02/06).  Hasil temuan Anshari juga menyimpulkan, bahwa perwira lulusan Akademi militer Belanda itu bukan "dalang" peristiwa APRA di Bandung awal 1950. 

Bagaimanapun, Sultan Hamid II hidup dalam masa-masa gelap revolusi Indonesia, ketika banyak kelompok yang masih bersemangat membawa Indonesia ke arah yang sesuai persepsinya masing-masing.  Sejarah memang bukan matematika yang terukur jelas dan acapkali hanya dimiliki para pemenang. Namun tak semestinya sejarah meniadakan jasa para pesakitan.

Itulah 8 Tokoh keturunan arab yang sudah ikut berjasa dalam perjalanan bangsa Indonesia, semoga tidak ada lagi ungkapan-ungkapan bernada rasial bagi keturunan arab atau habaib di negeri ini. Masih banyak lagi sebenarnya orang-orang keturunan arab yang berjasa banyak untuk negeri ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga informasi ini bisa menambah pengetahuan dan membuka luas cara berfikir kita. 

Penulis : Admin PJ
Sumber Literasi :

0 komentar:

Post a Comment