Sunday, February 16, 2020

Tragedi Pembantaian Bulungan di Perbatasan Malaysia | Pegawai Jalanan

  


Nama Bulungan berasal dari sebuah Kesultanan yang pernah ada di daerah tersebut yaitu Kesultanan Bulungan yang berkedudukan di Tanjung PalasKabupaten ini sebelumnya merupakan wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Sejak tahun 1999, kabupaten ini telah dimekarkan menjadi tiga kabupaten dan satu kota masing-masing Kabupaten Bulungan, Kabupaten MalinauKabupaten Nunukan dan Kota Tarakan. Pada tahun 2013, keempat wilayah otonom tersebut beserta Kabupaten Tana Tidung memisahkan diri dari Kalimantan Timur dan menjadi wilayah provinsi baru Kalimantan Utara.
2 Tahun sebelum pelarangan ideologi komunisme di Indonesia melalui Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966, ternyata pernah terjadi tragedi yang sangat memilukan bagi Kesultanan bulungan.   Suatu peristiwa teragis yang mungkin jarang diketahui oleh masyarakat umum, karena memang tidak pernah diajarkan dibangku sekolahan. Pada artikel kali ini bukan bermaksud mengorek luka lama, terutama keluarga kesultanan yang sampai hari ini masih ada serta masyarakat bulungan pada umumnya, akan tetapi tulisan ini dibuat hanya untuk mengingatkan kita semua, jangan sampai peristiwa tragis ini terulang kembali. Artikel ini kami kutip 80% dari media online tirto.id yang bisa diakses secara online disini https://tirto.id/tragedi-pembantaian-bulungan-di-perbatasan-malaysia-cu4N.  Bagimanakah rentetan tragedi memilukan tersebut, beginilah kisahnya.

”Waktu itu saya masih kecil, baru berumur 10 tahun. Saya melihat dengan mata kepala sendiri pembakaran itu. Tentara menculik dan membunuh kerabat istana,” sebut Ibrahim mengenang peristiwa kelam yang pernah dialaminya semasa bocah dulu (Lentera Timur, 26 Juni 2012).

Ibrahim beruntung lolos dari maut. Pria bernama lengkap Ibrahim Bin Datu Bendahara ini menjadi salah satu saksi hidup ketika serombongan prajurit TNI membakar istana Kesultanan Bulungan di Kalimantan bagian utara, dekat perbatasan Malaysia, pada 24 Juli 1964 silam.
”Peristiwa itu tidak akan kami lupakan. Tuhan yang akan membalasnya,” ucap Ibrahim lirih.
Kejadian berdarah tersebut dikenal juga dengan nama Tragedi Bultiken yang merupakan singkatan dari Bulungan, Tidung, dan Kenyah, tiga suku utama yang sejak dahulu kala menghuni kawasan itu.

Bertamu Sebelum Menyerbu Bulungan

Insiden pembakaran istana itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, dini hari 3 Juli 1964, sepasukan prajurit dari satuan yang sama mengepung Kesultanan Bulungan. Terjadilah peristiwa pembantaian yang memakan cukup banyak korban, banyak di antara mereka yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.

”Kerabat kami satu per satu diculik. Ada yang dibunuh. Setidaknya ada 58 orang korban keganasan tentara,” ungkap Ibrahim.
Ibrahim sepertinya memang tidak mengetahui berapa sebenarnya jumlah korban dalam aksi pembantaian tersebut. Namun, menurut laporan Koran Kaltim (14 Maret 2013), ada 87 orang yang menjadi korban, 37 orang di antaranya tewas.


Pada 24 April 1964 itu, Brigjen Soeharjo memerintahkan tentara menangkap seluruh bangsawan Bulungan. Mereka dibagi ke dalam beberapa grup. Seluruh bangsawan laki-laki disatukan dalam satu kelompok lalu dimasukkan ke dalam perahu, sedangkan anak-anak dan perempuan ditempatkan di perahu yang lain. Rencananya mereka akan dibawa ke Tarakan, dari sana berlanjut ke Balikpapan. Rencana itu tak dijalankan. Ada 30 orang yang akhirnya dieksekusi tim pengawal yang berasal dari Kodim Bulungan. Mayat mereka dilempar begitu saja ke lautan (Burhan Djabier Magenda, East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy, hal. 91).

Di sisi lain, kedatangan tentara nasional pada waktu subuh itu sebenarnya cukup aneh. Malam hari sebelum tragedi, tanggal 2 Juli 1964, Kesultanan Bulungan kedatangan tamu pejabat militer. Ali Amin Bilfaqih (2006) dalam buku Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa menyebut tamu itu adalah Letnan B. Simatupang dan Kapten Buntaran.
Disebut aneh karena kedua tamu tersebut datang secara baik-baik dan terlibat obrolan santai dengan Sultan Bulungan, bahkan tak jarang terdengar tawa penuh keakraban. Setelah beberapa lama berbincang, Letnan B. Simatupang dan Kapten Buntaran pamit undur diri. Sang Sultan pun berkenan mengantar kedua tamunya sampai ke tangga istana.
Dan, selepas tengah malam menjelang esok hari berikutnya, terjadilah operasi penyerbuan yang diikuti aksi pembantaian.

Bulungan Dituding Melawan Negara

“Para bangsawan Bulungan ingin memberontak terhadap pemerintah Republik Indonesia yang sah,” sebut Mayor Sumina Husain di hadapan warga yang telah berkumpul.
Dikutip dari Lentera Timur yang secara langsung mewawancarai Ibrahim pada tahun 2012, seruan Mayor Sumina Husain itu ditegaskan kembali oleh Letnan B. Simatupang, salah satu tamu Sultan Bulungan yang semalam bercengkerama di istana.
Sejumlah warga yang melihat Letnan B. Simatupang dan Kapten Buntaran bertamu dan diterima dengan baik oleh Sultan Bulungan tidak percaya dengan tudingan itu. Namun, aparat tetap bersikeras. Bahkan, menurut laporan Lentera Timur, Letnan B. Simatupang memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menembak mati seorang tokoh adat yang menyangkal tuduhan tersebut.

Setelah tragedi pada 3 Juli 1964 itu, beberapa hari setelahnya masih terjadi aksi lanjutan. Istana ditutup paksa, harta benda yang ada di dalamnya dijarah. Tak hanya itu, satu demi satu bangsawan Bulungan tiba-tiba raib tanpa diketahui sebabnya, termasuk sang sultan. Ada pula yang ditangkap, bahkan dibunuh – sebagaimana kesaksian Ibrahim – yang berpuncak pada pembakaran istana beberapa pekan kemudian.
Seluruh penduduk diperintahkan untuk turut membantu tentara membakar dan menghancurkan istana Kesultanan Bulungan. Jika ada warga yang tidak mau atau menghindar, maka akan dianggap melawan perintah negara dan dicap sebagai pemberontak.

Simpang-Siur Tuduhan Makar

Belum terungkap dengan pasti rincian makar yang dituduhkan TNI terhadap Kesultanan Bulungan. Yang jelas, kerajaan yang berdiri sejak abad ke-16 ini memang enggan mencari masalah karena memang tidak punya angkatan perang yang kuat. Bahkan, pada masa kolonial Belanda pun, Kesultanan Bulungan memilih berdamai ketimbang mengajak ribut.
“Bulungan dan Belanda itu bersahabat. Kami tidak berperang melawan Belanda,” jelas Jimmy Nasroen, tokoh pemuda Bulungan yang juga pengajar di salah satu perguruan tinggi di Kalimantan Utara (Lentera Timur, 19 Juni 2012).
Apa yang sebenarnya terjadi sehingga TNI menuding Bulungan hendak memberontak masih simpang-siur. Barangkali kedekatan dengan Belanda pada masa lalu (sesuatu yang sebenarnya juga terjadi di berbagai aristokrasi lain di Indonesia, termasuk di Jawa) yang membuat citra Kesultanan Bulungan setelah Indonesia merdeka dipersoalkan.
Atau, faktor wilayah yang tidak jauh dengan Malaysia di Borneo bagian timur bisa pula dijadikan sebagai indikatornya, meski Bulungan memilih bergabung dengan Indonesia ketimbang beralih ke negeri tetangga. Padahal, saat masih berjaya, wilayah kekuasaan Kesultanan Bulungan mencakup daerah Sabah, juga Pulau Sipadan dan Ligitan, yang saat ini menjadi bagian dari Malaysia.

Ada pula yang menyebut bahwa aksi itu semata polah oleh oknum TNI yang dikendalikan PKI. Insiden tersebut terjadi atas perintah Pangdam IX Mulawarman, Brigadir Jenderal Suharjo, yang disebut-sebut dekat dengan sayap kiri (Ibnu Purna, eds., Membuka Lipatan Sejarah: Menguak Fakta Gerakan PKI, 1999:81).

Dalam buku East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy (hal. 90-91), Burhan Djabier Magenda menyebutkan Soeharjo dilaporkan menerima dokumen yang memperlihatkan indikasi keberpihakan Kesultanan Bulungan kepada Malaysia. Seringnya anggota keluarga kesultanan bepergian ke Sabah di saat sedang gencar-gencarnya kampanye "Ganjang Malaysia" menjadi dalih penguat.
Kunjungan-kunjungan itu sebenarnya bisa saja dianggap wajar. Keluarga Kesultanan Bulungan memang punya ikatan keluarga dengan Kesultanan Sabah. Konteks politik konfrontasi dengan Malaysia membuat tafsir bisa menjadi begitu lentur - untuk tidak mengatakan dibuat-dibuat secara post-factum.

Markas Besar Angkatan Darat yang, menurut Burhan Djabier Magenda, tidak sepenuhnya setuju terhadap tindakan brutal itu pun cenderung diam dan tidak mengambil langkah untuk menghentikan Soeharjo. Koneksi yang kuat di kawasan perbatasan dengan Malaysia, dalam situasi panas politik konfrontasi, membuat Soeharjo punya posisi yang kokoh dan tidak mudah disingkirkan begitu saja. Ia disebut-sebut mendapatkan dukungan yang kuat dari Jakarta.

Setelah peristiwa tragis pada 1964 itu terjadi, banyak warga Bulungan, terutama dari kalangan istana yang lolos dari pembantaian oleh tentara Indonesia, lari menyelamatkan diri ke negeri jiran yang memang letaknya tidak terlalu jauh. Hal tersebut diakui oleh Ibrahim.
“Kami dituduh makar, melawan pemerintahan yang sah. Akibatnya, banyak kerabat kami yang lari ke Malaysia dan memilih menjadi warga negara Malaysia ketimbang Indonesia,” kata Ibrahim.

Salah satu orang penting yang selamat dari insiden itu adalah pewaris takhta Kesultanan Bulungan, Datu Maulana Muhammad Al Ma'mun bin Muhammad Djalaludin, yang meminta suaka politik ke negeri seberang. Sampai saat ini, tokoh yang seharusnya dinobatkan menjadi Sultan Bulungan X itu masih menjadi warga negara Malaysia.
Sedangkan Sultan Bulungan yang saat peristiwa itu terjadi masih bertahta, serta sempat menerima kehadiran Letnan B. Simatupang dan Kapten Buntaran di istana, lenyap tanpa kabar. “Raja Muda (Sultan Bulungan) hilang. Sampai sekarang tidak jelas keberadaannya,” sebut Ibrahim. 

Kesimpang-siuran terkait insiden pembantaian keluarga Kesultanan Bulungan pada 1964 itu masih belum terkuak hingga kini. Desakan agar pemerintah melakukan penyelidikan dan rekonstruksi untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi mulai terdengar kendati belum mendapatkan respons yang berarti.
“Sayangnya, negara kita tidak memberikan perhatian kepada fakta-fakta keberadaan Kesultanan Bulungan ini,” sebut Wahab Kiak, pemerhati sejarah Bulungan (Koran Kaltim, 14 Maret 2013).



Istana dua tingkat yang semula berdiri megah itu hangus, hancur, lebur dengan tanah. Isinya pun dijarah dan dibawa pergi oleh kaum serdadu berlabel nasionalis yang ramai-ramai merubuhkannya. Para tentara dari satuan Brawijaya 517 tersebut tak hanya membakar istana, mereka juga menghancurkan permukiman di sekitarnya, termasuk rumah-rumah adat.

Puluhan tentara bersenjata lengkap yang berdatangan pada dini hari 3 Juli 1964 itu mengejutkan penduduk Bulungan yang hendak bersembahyang Subuh. Tepat jam 6 pagi, warga dikumpulkan dan tampillah Mayor Sumina Husain, Komandan Kodim 0903, yang lantas berseru lantang.

Kenangan atas peristiwa tragis itu rupanya masih membekas bagi warga Bulungan dan keturunannya yang bermukim di sana. Meskipun masih berstatus sebagai warga negara Indonesia, tidak sedikit penduduk Bulungan yang cenderung menggantungkan hidupnya kepada negara tetangga.

Tragedi memilukan ini tidak pernah terkuak siapa yang harus bertanggung jawab atas hilangnya nyawa dari keluarga kesultanan dan bangsawan pada masa itu. Akan tetapi dari gaya dan cara yang digunakan kita sudah bisa menebak ideologi apa yang dipakai dalam menghancurkan kesultanan bulungan, yaitu ideologi yang sangat menentang sistem feodalisme seperti yang sudah-sudah. Semoga informasi ini bisa bermanfaat dan tentunya bisa mengingatkan kita jangan sampai tragedi Bulungan terulang kembali di negara yang sangat kita cintai ini.

Admin PJ

Sumber Kutipan :
1. http://tirto.id
2. http://lenteratimur.com

Sunday, February 9, 2020

Lonceng kematian untuk jenderal pendukung Gerakan 30 September | Pegawai Jalanan

Brigjen. Soepardjo
Tak banyak yang dikerjakan Brigadir Jenderal Mustafa Sjarif Soepardjo di perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia. Sebagai Panglima Komando Tempur II dalam Komando Mandala Siaga (Kolaga), ia tidak bisa banyak berbuat karena memang belum ada pasukan untuk disusupkan ke Malaysia dalam kampanye "Ganyang Malaysia" itu. 
Menurut catatan Hendro Subroto dalam Dewan Revolusi PKI (1997), di bandar udara Pontianak, bertemulah Soepardjo dengan Chalimi Imam Santoso, komandan Batalyon I Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang juga akan ke Jakarta.
Santoso bertanya: “Loh, katanya Pak Pardjo akan kembali ke Bengkayang, mengapa malah di sini?” Soepardjo hanya menjawab ada panggilan mendadak di Jakarta. Setiba di Jakarta, Soepardjo ikut serta kendaraan yang juga menjemput Mayor CI Santoso. Saat itu sudah memasuki akhir September, tepatnya 28 September 1965.
Setelah di Jakarta, Soepardjo melaporkan diri kepada atasannya di Kolaga, Marsekal Omar Dhani. Menurut John Roosa, Soepardjo melapor bahwa dia akan kembali ke Kalimantan sebelum 1 Oktober 1965. Namun, Omar Dhani minta Soepardjo bertahan di Jakarta hingga 3 Oktober 1965. Selain bertemu Omar Dani, Soepardjo langsung menuju rumah Sjam Kamaruzaman hanya beberapa jam setelah mendarat. Sjam dianggap sebagai orang PKI dan intel tentara.
Soepardjo pun jadi satu-satunya jenderal dari Angkatan Darat yang duduk dalam pimpinan Gerakan 30 September 1965 (G30S) itu. Walau jenderal, bukan dia yang menjadi pemimpin G30S, melainkan seorang Letnan Kolonel yang hanya dipandang sebagai jago tempur tapi secara ilmu kemiliteran di bawah Soepardjo. Letnan Kolonel Untung, si penerima Bintang Sakti atas aksinya di Irian Barat, yang menjadi pemimpin gerakan itu. Begitu pun dalam Dewan Revolusi yang diumumkan pada 1 Oktober 1965, Untung menjadi Ketua Dewan, sementara Soepardjo hanya jadi Wakil Ketua Dewan.
"Pangkat saya memang lebih tinggi dari saudara, tapi di gerakan ini, saya anak buah saudara," demikian kira-kira ucapan Brigadir Jenderal Soepardjo saat menyalami Letnan Kolonel Untung Samsuri tanggal 29 September 1965.

Brigjen Soepardjo baru saja tiba di Jakarta. Meninggalkan posnya di Bengkayang, Kalimantan Barat untuk bergabung dengan Gerakan 30 September.
Tubuhnya langsing dan tegap. Dia panglima yang membawahi ribuan pasukan tempur di perbatasan Kalimantan-Malaysia. Usianya baru 44 tahun dengan karir yang cemerlang sebagai komandan pertempuran dan ahli strategi.
Aneh, Soepardjo mau saja ikut gerakan yang dipimpin Letnan Kolonel Untung. Jelang G30S, Soepardjo kerap berdiskusi dengan Letkol Untung dan Sjam Kamaruzaman, Ketua Biro Chusus PKI. Di sini dia sudah merasa banyak hal yang berantakan. Hal itu dituliskannya dalam catatan evaluasi untuk G30S.
Seperti lazimnya gerakan komunis, komisariat politik mengendalikan militer. Begitu pula dalam G30S, Sjam Kamaruzaman lebih dominan dari Letkol Untung. Saat Brigjen Soepardjo bertanya rencana B jika aksi G30S gagal, Sjam malah emosi.
"Ya Bung kalau begini banyak yang mundur, kalau revolusi sudah berhasil banyak yang mau ikut," kata Sjam.
Brigjen. Soepardjo dalam persidangan
Dalam peperangan, skenario mundur bukan pengecut. Dalam setiap pertempuran selalu ada skenario mundur. Tapi ini tak berlaku untuk Sjam dengan gaya yang menggebu-gebu.
Dalam jam-jam awal 1 Oktober 1965, sebenarnya Gerakan Letkol Untung ini berada di atas angin. Namun Untung dan Sjam tak menggunakan kelebihan awal ini untuk momentum selanjutnya.
"Radio RRI yang kita kuasai juga tidak kita manfaatkan. Sepanjang hari hanya dipergunakan untuk membacakan pengumuman saja. Harusnya radio digunakan semaksimal mungkin oleh barisan agitasi propaganda," kata Soepardjo.
Satu kesalahan fatal lain adalah soal logistik. Untung kehilangan banyak pasukannya gara-gara nasi bungkus. Pasukan Bimasakti yang terdiri dari Yon 530 dan Yon 454 berjaga sehari penuh di Lapang Monas.
Tapi tak ada yang mencukupi kebutuhan mereka. Tanggal 1 Oktober 1965 dari pagi hingga petang, pasukan itu tak diberi makan. Maka ketika Soeharto mengutus utusannya untuk membujuk Yon 530 agar kembali ke Kostrad tawaran itu dipenuhi.
"Semua Kemacetan gerakan pasukan disebabkan di antaranya tidak ada makanan. Mereka tidak makan semenjak pagi, siang dan malam. Hal ini baru diketahui pada malam hari ketika ada gagasan untuk dikerahkan menyerang ke dalam kota," kata Supardjo kecewa.
Tapi terlambat. Yon 530 sudah bergabung dengan Kostrad dan Yon 454 sudah berada di sekitar Halim. Tak mungkin lagi memerintahkan mereka menyerang.
Setelah G30S gagal, Brigjen Soepardjo bersembunyi. Dialah tokoh kudeta yang tertangkap paling akhir. TNI khusus menggelar Operasi Kalong untuk mengejar Soepardjo. Berkali-kali mau ditangkap, Soepardjo selalu lolos.
Dinas Sejarah TNI AU menulis, tepat pada hari Idul Fitri 1967, Satgas Kalong mencium keberadaan Soepardjo di rumah seorang prajurit AURI di Halim. Intel gabungan bersama Polisi Militer AU menggerebek tempat itu.
Tak ada orang di sana. Namun petugas curiga karena menemukan kopi yang masih panas, jejak kaki di tembok mengarah ke atap dan KTP atas nama Moch Syarif dalam kantong baju yang digantung. Mereka yakin kali ini Soepardjo tak akan lolos.
Letnan Rosjadi berteriak "Ayo turun! Kalau tidak saya tembak!" Terdengar jawaban dari atas, "Baik saya turun."
Benar, sosok itulah Brigjen Soepardjo yang selama satu setengah tahun mereka kejar siang malam.
Soepardjo diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa. Hukuman yang menantinya sudah jelas, ditembak mati.
Soepardjo ditahan di Rumah Tahanan Militer Cimahi. Banyak tahanan lain yang terkesan dengan sikap Soepardjo selama di tahanan. Sebagai jenderal, dia tak mau diistimewakan. Kalau dikirimi makanan, selalu dibagi rata untuk tahanan lain.
Saat keluarganya datang menjenguk untuk terakhir kali, Soepardjo memberikan sepasang sepatu. "Bapak tak bisa memberi apa-apa. Cuma sepasang sepatu ini untuk kenang-kenangan," kata Soepardjo.
Dia juga sukarela menggosok seluruh toilet dan kamar mandi. Keinginannya untuk mati dengan seragam kebesaran militer jenderal bintang satu ditolak. Dia akhirnya memilih pakaian serba putih.
18 Maret 1967, seluruh tahanan dipaksa masuk dalam sel lebih cepat. Mereka tahu itu saatnya Soepardjo dijemput tim eksekusi. Dalam acara makan malam bersama, dia berkata: ”Kalau saya malam nanti menemui ajal saya, ajal Saudara-Saudara tak diketahui kapan. Itu perbedaan saya dengan kalian.”
Nasib jenderal muda ini berakhir tragis karena termakan hasutan Biro Chusus PKI.
Penulis : Admin PJ
Kutipan :

Sunday, February 2, 2020

Hal Yang Membuat Malaikat Tidak Mau Masuk Rumah Kita


Rumah adalah salah satu tempat tinggal manusia untuk berlindung dari panas dan hujan Namun, bagi umat Islam fungsi rumah tidak hanya sebatas itu saja, rumah juga menjadi tempat mencari pahala menuju surga dengan melakukan ibadah dan amalan baik.

Tapi, bagaimana jika rumah yang dibangun tanpa disadari menjadi tempat bersemayamnya para setan dan jin?. Tentu hal ini akan menghambat malaikat enggan masuk ke dalam rumah tersebut. Dengan kata lain, apabila Anda tidak menjaga atau merawat isi rumah dengan baik sesuai tuntunan agama Islam maka malaikat tidak akan datang untuk mendoakan.
Lantas apa yang menyebabkan malaikat tidak mau masuk ke rumah kita?

Memajang Gambar atau Lukisan di Rumah


Menyimpan lukisan atau gambar-gambar sebagai penghias rumah sudah merupakan hal yang lumrah dilakukan masyarakat. Gambar dan lukisan yang disimpan cenderung variatif, mulai dari gambar tokoh, hewan, pemandangan alam, dan aneka gambar serta lukisan lain sesuai selera pemilik atau desain interior rumah.

Dalam berbagai hadits memang dijelaskan tentang larangan menyimpan gambar atau lukisan di dalam rumah. Misalnya seperti dalam hadits berikut ini:

“Sesungguhnya Malaikat tidak masuk pada rumah yang terdapat gambar di dalamnya” (HR. Baihaqi).

Berdasarkan hadits di atas, dapat dipahami seolah-olah menyimpan gambar di dalam rumah merupakan sebuah larangan syariat yang tidak dapat ditoleransi. Namun, rupanya terdapat hadits lain yang mengindikasikan ditoleransinya menyimpan gambar di dalam rumah, seperti hadits berikut ini:

Diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bahwa ia berkunjung pada Abu Thalhah al-Anshari untuk menjenguknya. Di sana terdapat Sahl bin Hunaif, lalu Abu Thalhah memerintahkan seseorang untuk melepaskan tikar yang ada di bawahnya, melihat hal tersebut, Sahl bertanya: “Kenapa engkau melepasnya?”

“Sebab pada tikar itu terdapat gambar, dan Rasulullah telah mengatakan tentang larangan menyimpan gambar, seperti halnya yang engkau tahu” jawab Abu Thalhah.

“Bukankah Rasulullah mengatakan: ‘Kecuali gambar yang ada di pakaian?’” sanggah Sahl

“melepaskan (tikar) lebih menenteramkan hatiku” ungkap Abu Thalhah” (HR. An-Nasa’i).

Dari dua hadits di atas, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kategori lukisan atau gambar yang dilarang oleh syara’ untuk membuat ataupun menyimpannya. Namun para ulama sepakat atas keharaman suatu gambar.

“gambar yang disepakati keharamannya adalah gambar yang terkumpul di dalamnya lima hal. Pertama, gambar berupa manusia atau hewan. Kedua, gambar dalam bentuk yang sempurna, tidak terdapat sesuatu yang mencegah hidupnya gambar tersebut, seperti kepala yang terbelah, separuh badan, perut, dada, terbelahnya perut, terpisahnya bagian tubuh. Ketiga, gambar berada di tempat yang dimuliakan, bukan berada di tempat yang biasa diinjak dan direndahkan. Keempat, terdapat bayangan dari gambar tersebut dalam pandangan mata. Kelima, gambar bukan untuk anak-anak kecil dari golongan wanita. Jika salah satu dari lima hal di atas tidak terpenuhi, maka gambar demikian merupakan gambar yang masih diperdebatkan di antara ulama. Meninggalkan (menyimpan gambar demikian) merupakan perbuatan yang lebih wira’i dan merupakan langkah hati-hati dalam beragama” (Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani, Majmu’ fatawa wa ar-Rasa’il, hal. 213)

Menaruh patung atau berhala


Objek tiga dimensi ini semakin akrab di kalangan kita. Ya, saat ini patung seolah tak lagi asing ditemui. Di rumah-rumah, pinggir-pinggir jalan, ataupun sudut-sudut kota tampak jelas berdiri. Wujudnya bermacam-macam, baik dalam rupa makhluk hidup maupun benda mati. Ada yang dibuat sebagai hiasan, ataupun dipajang sebagai sesembahan atau sesuatu yang harus dihormati. Lantas, bagaimana Islam memandang hal ini?


Pada dasarnya, setiap Muslim pasti mengetahui syirik itu haram. Secara ringkas, syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Dalam banyak ayat, Allah SWT dengan tegas melarang manusia dari segala bentuk kesyirikan. Rasulullah SAW juga berulang kali menyampaikan tentang bahaya perbuatan ini dalam haditsnya. Syirik merupakan bentuk kezaliman yang paling besar di muka bumi dan ia tergolong dosa besar yang dapat menghapus setiap amal kebaikan.


“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65).


maka dari itu di agama kita larangan menaruh patung atau berhala adalah hal yang sangat dilarang. Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu dia berkata: Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:


“Para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat patung-patung atau gambar-gambar.”(HR. Muslim no. 5545).

Oleh karena itu, kewajiban seorang Muslim—setelah bertauhid—adalah membersihkan aqidahnya dari segala bentuk kesyirikan kepada Allah. Demi menjaga kemurnian aqidah tersebut, Islam menutup segala celah yang berpotensi seseorang terjerumus dalam kesyirikan. Salah satu pintu syirik yang cukup serius mendapat perhatian Islam adalah larangan membuat patung.

Rumah yang di dalamnya ada anjing

Rumah yang di dalamnya ada anjing?

Ada keterangan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar (patung).” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Ummul Mu’minin A’isyah radhiyallahu ‘anha juga pernah menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapat janji dari malaikat Jibril bahwa dia akan datang menemuinya, namun hingga waktu yang dijanjikan tiba, Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, demikian pula malaikat utusan-Nya.” Dalam pada itu beliau menoleh dan ternyata terlihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur, “Kapan anjing ini masuk?” tanya beliau. A’isyah menyahut “Entahlah.” Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril, “Kau berjanji akan datang dan aku sudah lama duduk menunggu.” Tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab “Karena tadi di rumahmu ada anjing. Sementara kami tidak memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar (patung).” (HR. Muslim)

Imam Nawawi bahkan dengan tegas menyatakan bahwa malaikat yang tidak mau memasuki rumah-rumah itu adalah malaikat rahmat yang biasa memintakan ampunan bukan malaikat Hafadzah atau penjaga yang mencatat amal manusia. Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Imam Al Munawi, ia berkata “Yang dimaksud dengan malaikat pada hadits tersebut adalah malaikat rahmat dan keberkahan atau malaikat yang bertugas berkeliling mengunjungi hamba-hamba Allah yang sedang berzikir, bukan malaikat pencatat amal manusia karena malaikat itu tidak akan pernah meninggalkan manusia sekejap pun sebagaimana bukan juga malaikat maut.”


Penyunting : elanurhidayah