Thursday, November 5, 2020

Sejarah Singkat Partai Komunis Indonesia dari Lahir Sampai Hancur | Pegawai Jalanan

 

Henk Sneevliet

Ideologi komunis mulai masuk ke Indonesia tahun 1914 yang di bawa oleh Hendricus Joshepus Franciscus Marie Sneevliet atau Henk Sneevliet. Pria kelahiran Rotterdam, Belanda adalah seorang komunis Belanda yang aktif. Pada tahun 1911 dia menjadi ketua serikat buruh di Belanda. Sneevliet adalah seorang pemimpin yang radikal dengan ideologi komunisnya. Ketika terjadi pemogokan pelaut internasional pada tahun 1911, beberapa serikat buruh yang radikal ikut serta, tetapi mayoritas serikat buruh tidak sependapat dengannya.  Dia memutuskan untuk meninggalkan Belanda dan berlayar ke Hindia Belanda (Indonesia) pada bulan Februari tahun 1913. Dia bekerja sebagai staff editor Soerabaiaasch Handelsblad lalu pindah ke Semarang pada mei 1913 untuk menggantikan D.M.G. Koch  sebagai sekretaris Semarang Handelsvereeniging (Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1927 : 1997).

Pada tanggal 9 mei 1914, Sneevliet bersama J.A. Brendsteder, H.W. Dekker dan Piet Bersama mengadakan perkumpulan di Marine Gebouw, Surabaya. Sneevliet dan kawan-kawan mendirikan perkumpulan sosialis demokrat Hindia Belanda dengan nama Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). ISDV merupakan sebuah organisasi yang radikal. Sneevliet dan kawan-kawan melakukan propaganda untuk menyebarkan ideologi marxisme/komunis dengan menerbitkan surat kabar pertamanya pada tanggal 10 Oktober 1915. ISDV inilah yang menjadi awal mula ideologi komunis di Indonesia. Awalnya ISDV hanyalah klub debat kaum sosialis Belanda yang kecil. Karena pada awal pendirian organisasi ini hanya berjumlah 85 orang saja. Sneevliet yang berusaha mengembangkan ideologi komunisnya mencari cara agar dapat mempengaruhi bumiputra dengan cara memprotes hukuman terhadap Mas Marko Kartodikromo dan peraturan pers Hindia.(tirto.id)

Awal pertemuan antara Sneevliet dan semaoen terjadi pada tahun 1915. Semaoen adalah seorang pemuda belasan tahun yang namanya cukup terkenal di Semarang.  Pertemuan pertama mereka di Surabaya ketika melakukan pembelaan terhadap Mas Marko Kartodikromo. Dari pertemuan mereka, Semaoen belajar banyak dari Sneevliet, dimana dia bukan hanya belajar membaca, tetapi juga belajar menulis dan berbicara dalam bahasa belanda. Sneevliet yang memiliki kesempatan untuk menanamkan ideologi komunis juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dimana seorang yang besar namanya tentu memiliki pengaruh yang cukup besar pula. Maka dari itu Sneevliet mengajarkan ideologi komunis kepada Semaoen.

Karena perkembangan ISDV tidak terlalu banyak, maka ISDV menjalin hubungan dengan Insulinde. Insulinde merupakan organisasi kelas menengah yang berisi kaum sosialis. Hubungan ini tidak berlangsung lama karena perbedaan pemikiran. ISDV berpendapat bahwa perjuangan melawan penjajah Belanda harus di dukung kaum sosialis karena  sama-sama berjuang melawan sistem kapitalis. Pimpinan Insulinde yang merupakan organisasi kaum sosialis tentu menolak pemikiran tersebut. Pada tahun 1916, di dalam organisasi ISDV mengalami perpecahan, aliran reformis meninggalkan ISDV dan mendirikan Partai Sosial Demokrat Indonesia (ISDP). Setelah kedua organisasi tersebut tidak lagi bersekutu, Sneevliet berhasil masuk ke dalam organisasi Sarekat Islam (SI). Tak berselang lama, Sneevliet menjadi orang yang berpengaruh di dalam SI. pada tahun 1916 Sneevliet mengangkat Semaoen dan Darsono menjadi Pemimpin ISDV. Semaoen yang merangkap jabatan di ISDV dan SI, berhasil mengembangkan keanggotaan SI Semarang yang semula 1.700an orang menjadi 20.000. keberadaan Sneevliet di dalam SI tidak semua orang dapat menerimanya. Salah satunya adalah Abdoel Moeis.  Abdoel Moeis adalah orang yang gigih menentang komunisme.  Bahkan dalam tulisannya yang di muat di dalam surat kabar Neratja (1917), ia menulis bahwa ia (Sneevliet) berbahaya bagi kami dan tanah air. Abdoel Moeis juga meminta bantuan kepada pemerintah Batavia untuk menyingkirkan Sneevliet.

Ketika terjadi revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917, ISDV telah sepenuhnya mulai pada Ideologi komunis. Hal ini disebabkan oleh kemenangan Bolshevik dalam mendirikan Negara komunis. Pada tahun ini ISDV memprovokatori angkatan laut Belanda yang berjumlah 3.000 serdadu untuk ikut dalam demonstrasi menerapkan Negara Komunis. Bentrokan pun tidak dapat di hindari, Namun pemerintah Belanda dapat meredamnya dengan menjanjikan perubahan yang luas. Setelah bentrokan ini reda, pemerintah mengambil tindakan terhadap organisasi ISDV. Pemerintah belanda berhasil menangkap Semaoen dan Darsono, sedangkan Sneevliet di usir dari Hindia Belanda (Indonesia) pada bulan desember 1918. ISDV seakan tak berdaya setelah kejadian tersebut. Sneevliet memang telah pergi dari Hindia Belanda (Indonesia), namun ideologi komunis telah melekat di dalam ingatan Semaoen dan juga Darsono.

Setelah keterpurukan ISDV, pada tanggal 23 mei 1920 Semaoen dan Darsono mengganti nama organisasi tersebut menjadi Partai Komunis di Hindia (PKH). Dalam hal ini, Semaoen masih merangkap jabatan sebagai ketua Sarekat Islam Semarang. Abdoel Moeis yang berusaha membersihkan ideologi Komunis mengadakan Kongres Sarekat Islam menjelang akhir 1920. Dalam kongres tersebut, yang dibahas adalah kedisiplinan partai agar anggotanya tidak merangkap jabatan di organisasi politik lainnya. Hal ini tentu saja membuat anggota yang tergabung dalam organisasi PKH menolak gagasan tersebut. Hingga pada pertengahan februari 1923, Sarekat Islam mengganti namanya menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) serta melakukan pemecatan kepada Semaoen dan kawan-kawan yang tidak sepakat dengan gagasan pendisiplinan tersebut. Akibat diberlakukannya disiplin partai, jumlah anggota SI merosot drastis. Orang-orang yang di pecat dari PSI lalu membentuk organisasi yang bernama Sarekat Rakyat (M. Nasruddin Anshoriy Ch., Bangsa Gagal: Mencari Identitas Kebangsaan , hal 108 : 2008). Hubungan Sarekat Rakyat dan PKH semakin erat karena memiliki ideologi yang sama, maka  pada tahun 1924 secara resmi PKH diganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).


Kepemimpinan PKI kala itu telah beralih dari Alimin-Musso kepada Aliarcham dan Sardjono. Hal ini dikarenakan pemimpin yang lebih senior tidak bersedia memimpin PKI. Pada tahun 1924 pemerintah Hindia belanda memperketat pengawasan dan mempersempit aktivitas para tokoh-tokoh partai. Pada akhir Desember 1924 PKI membuat keputusan untuk melakukan pemberentokan dengan cara melakukan pemogokan. Namun rencana PKI dapat dikalahkan dengan mudah, hal ini yang membuat PKI harus bergerak di bawah tanah karena semakin ketatnya pemerintah Belanda mengawasi partai-partai di Indonesia. Pada tahun 1925 Darsono di usir dari Indonesia,Aliarcham di asingkan ke Digul, sedangkan Musso, Alimin dan Tan malaka harus menyingkir ke luar negeri. Para pemimpin PKI yang masih bebas mulai mengadakan rapat membahas tentang keadaan PKI yang mulai terancam. Dalam rapat inilah menjadi awal pemberontakan PKI untuk mendirikan Negara Komunis di Indonesia. Pemberontakan ini akan dimulai pada tanggal 18 Juni 1926.(G30S-PKI.COM)

 Awal pemberontakan PKI tahun 1926 memang tidak tercium oleh pemerintah Belanda, Namun pemerintah Belanda pada bulan Januari mencoba menangkap Musso, Budi Sutjitro dan Sugono. Sebelum berhasil ditangkap, tokoh-tokoh PKI tersebut telah melarikan diri ke Singapura dan berkumpul dengan tokoh PKI lain yang telah lebih dahulu meninggalkan Indonesia. Alimin dan tokoh yang baru datang menyampaikan hasil rapat pada bulan Desember tentang pemberontakan yang akan dilakukan kepada pemerintah Belanda. Namun beberapa tokoh PKI salah satunya Tan Malaka menolak rencana tersebut. Hal ini dikarenakan PKI belum kuat mengakar pada masyarakat Indonesia. Namun gagasan Tan Malaka tidak disetujui oleh Alimin dan Musso. Pada bulan November, pemberontakan terjadi serentak di beberapa daerah seperti Jakarta, Jatinegara, Tangerang, Banten, Bandungdan juga Surakarta. Kemudian terjadi kembali pemberontakan di Sumatra Barat pada awal tahun 1927. Namun karena kurangnya koordinasi, maka pemberontakan ini mengalami kegagalan. Semaoen yang panik dan frustasi merapat kepada Bung Hatta. Akibat pemberontakan PKI ini, banyak warga yang terbunuh oleh pemerintah Belanda yang telah marah besar atas pemberontakan ini. Bahkan warga yang tidak terlibat pun ikut menjadi sasaran kemarahan pemerintah Belanda. Di tahun 1927 inilah pemerintah Belanda menyatakan bahwa PKI adalah organisasi terlarang.

            Setelah kekalahan serta dilarangnya PKI oleh pemerintahan Belanda, PKI hanya bias bergerak di bawah tanah. Hal ini dikarenakan banyaknya pemimpin PKI yang di buang oleh pemerintah Belanda. Pada tahun 1935, Musso yang di asingkan pemerintah Belanda kembali ke Indonesia. Musso kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan kebangkitan PKI kembali. Seperti strategi mereka dulu, Musso menggerakan kader PKI untuk menyusup kedalam organisasi lain. Hingga pada tahun 1948, pemberontakan PKI kembali terjadi. Hal ini dikarenakan perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda yang menghasilkan kesepakatan yang sangat merugikan Indonesia karena dipersempitnya wilayah Indonesia. Karena dampak perjanjian itu adalah di turunkannya Amir Syarifudin dari jabatannya di kabinet dan di gantikan kabinet Hatta. Amir Syarifuddin yang merupakan aktivis PKI meluapkan kekecewaannya dengan cara membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) tanggal 28 juni 1948. FDR berencana melakukan kudeta atas pemerintah dengan cara melakukan aksi terror, propaganda anti pemerintah, pemogokan dan melakukan adu domba antar anggota pejabat militer. FDR dan PKI menginginkan  hancurnya NKRI dan menggantinya dengan ideologi Komunis. Pemberontakan ini terjadi di Madiun  tanggal 18 September 1948. Pemberontakan ini memperparah keadaan bangsa Indonesia di karenakan anggota militer yang sedang menghadapi agresi militer Belanda. Rakyat Indonesia menjadi benci dengan PKI di karenakan anggota PKI yang nekat membunuh para alim ulama dan beberapa tokoh penting. Dalam perang melawan PKI, anggota TNI dan Polri berhasil membunuh Musso yang mendalangi pemberontakan ini. Sedangkan Amir Syarifuddin dan beberapa pejabat lainnya di jatuhi hukuman mati, hukuman yang pantas untuk para penghianat.(sejarahlengkap.com)

            Keberadaan PKI tidak berhenti sampai disini. Setelah vakum dari dunia politik, PKI bangkit dengan wajah baru. Mereka mendukung  kebijakan–kebijakan Presiden Soekarno yang menentang keras kolonialisme. Tampil dengan pemimpin baru, Dipa Nusantara Aidit memimpin dengan semangat membara hingga mendapat simpati rakyat yang cukup besar bahkan sampai ratusan ribu. Namun PKI sempat redup karena aksinya melakukan pemogokan. Namun di tahun 1955 PKI berhasil menduduki urutan keempat dalam pemilu. Hal ini dikarenakan partai-partai besar yang sibuk mencari suara di pusat, sedangkan PKI berhasil mengambil suara dari para rakyat di daerah pelosok. PKI terus menunjukan prestasinya sehingga mendapat kepercayaan rakyat. Pada tahun 1960 PKI merasa di atas angin karena Presiden Soekarno membuat konsep NASAKOM (Nasionalis, Agama , Komunis), Sehingga ideologi Komunis dapat terlembagai. PKI semakin merapat ke Soekarno dan menyusup ke dalam pemerintahan.

Soekarno dan D.N. Aidit

            Pada perkembangannya, PKI menginginkan agar para buruh dan tani di persenjatai. TNI AD merasa curiga dengan keinginan PKI yang takut akan disalahgunakan jika di setujui. Karena ketidakpuasan dengan beberapa kebijakan Soekarno, PKI merencanakan sebuah pengkhianatan. Pada tanggal 30 September 1965 dini hari, PKI di bawah pimpinan D.N Aidit dan Syam Kamaruzzaman melakukan pembunuhan berencana terhadap 7 Jendral yang menjadi Pahlawan Revolusi Indonesia. Aksi pembantaian di lubang buaya menewaskan 6 Jendral TNI AD, dan satu perwira menengah. Seorang Jenderal yang menjadi target penculikan yaitu Jenderal A.H Nasution berhasil selamat dari gerakan tersebut.

            PKI yang melakukan pembantaian di beberapa daerah, membuat citra PKI menjadi semakin Buruk. A.H Nasution yang berhasil lolos dari pembantaian mulai mengatur siasat dan menggerakan Presiden Soeharto dari balik layar. Soeharto dengan memimpin TNI AD mengambil tindakan tegas dengan menghancurkan organisasi PKI karena dinilai berbahaya bagi Indonesia. Setelah perjuangan panjang dan mendapat kemenangan melawan PKI, Presiden Soeharto melakukan pembersihan PKI sampai ke akar-akarnya pada tahun 1966. Untuk mencegah munculnya kembali ideologi Komunis, pemerintah mengeluarkan tap MPRS Nomor 25 tahun 1966 tentang pembubaran PKI yang terus berlaku hingga saat ini. Selain mengeluarkan tap MPRS Nomor 25 tahun 1966, pelaku penyebaran ideologi Komunis dapat ditindak  dengan dasar Undang-Undang Nomor 27 tahun 1966 tentang perubahan pasal 107 KUHP.(netralnews.com)

         Itulah sejarah singkat lahir dan berkembangnya Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai kehancurannya. Sejarah tentang penghinatan PKI dan pemberontakan PKI sekarang sudah tidak kita temui di bangku sekolah karena sudah dihapuskan. Maka dalam artikel ini kami sengaja mengingatkan kepada generasi muda bahwa sejarah ini harus dan wajib diketahui, agar kita faham kisah masa lalu kita dan menjadi pelajaran berharga dimasa-masa yang akan datang.

Penulis : Risky Arisandi

Editor   : Argha Sena

Sumber : 

tirto.id

G30S-PKI.COM

sejarahlengkap.com

netralnews.com


0 komentar:

Post a Comment