F PEGAWAI JALANAN: SEJARAH ISLAM
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH ISLAM. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2022

PEMIMPIN MUSLIM TERBURUK DALAM SEJARAH!!!

 


Umat islam pasti pernah mendengar tentang terbunuhnya Husein pada tragedi karbala. Sebuah peristiwa pembantaian cucu rasulullah oleh Yazid bin Muawiyah. Seorang pemimpin yang dibutakan oleh kekuasaan yang sementara. Karena kerakusannya dengan kekuasaan, dia dengan sengaja membunuh cucu Rasulullah yang tidak mau membai’atnya menjadi khalifah. Ia bahkan membunuh siapa saja yang menolak dirinya menjadi khalifah. Yazid bin muawiyah menjadi salah satu sosok terkejam yang pernah tercatat namanya dalam sejarah umat islam.

Yazid bin Muawiyah adalah seorang Quraisy dari bani Umayyah. Ia satu kabilah dengan Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Hubungan kekerabatannya dengan Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma sangatlah dekat. Kedudukannya sebagai khalifah tidak diakui beberapa tokoh Muslim lantaran dianggap menyalahi perjanjian yang dilakukan antara Muawiyah dan Hasan pada tahun 661 M. Ketika Ali terpilih sebagai khalifah banyak pihak yang berselisih, termasuk Muawiyah yang ingin menjadi Khalifah dan juga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Maka terjadilah perpecahan antara kubu Muawiyah bin Abu Sofyan dan Ali bin abi Thalib.

Saat Ali terbunuh, Maka Muawiyah berusaha untuk menjadi khalifah menggantikan Ali. tetapi Hassan bin Ali berpendapat, jika ayahnya meninggal ia yang meneruskannya. Terjadi kembali dualisme kepemimpinan antara Hassan dan Muawiyah. Hingga terjadilah jalan damai, dengan kesepakatan bahwa Muawiyah membiayai kehidupan fakir miskin dan Hassan menyerahkan Khalifah kepada Muawiyah tanpa pertumpahan darah. Pada saat itu Muawiyah juga berjanji akan memberikan tahta kepada penerus Hassan setelah ia berkuasa.

Namun Muawiyah mengingkari janji dengan memberikan tahtanya kepada anaknya Yazid. Yazid meraih kekuasaan lewat penunjukkan ayahnya, Khalifah Mu’awiyah. Tindakan ini tentu melanggar kesepakatan antara Mu’awiyah dan Sayyidina Hasan dimana seharusnya dibentuk semacam dewan syura seperti yang sebelumnya dilakukan Khalifah Umar bin Khattab untuk memilih Khalifah. Yazid yang berjiwa keras telah menjadi penguasa,  pada saat itu terdapat tiga oposisi yaitu Abdullah bin Umar(Ibnu Umar) , Abdullah bin Zubair (Ibnu Zubair) dan Husein bin Ali.

Yazid kemudian menemui Ibnu Umar, apakah Ibnu Umar menerimanya sebagai khalifah. Jawaban Abdullah bin Umar diplomatik, jika seluruh penduduk Madinah menerima, maka dia akan menerimanya. Sedangkan Ibnu Zubair dan Husein tidak setuju karena sudah menyalahi perjanjian. Kedua cucu Rasulullah, dilaporkan menerima surat dukungan dari penduduk Kufah yang meminta beliau datang ke Kufah dan akan didukung menjadi Khalifah. Sahabat Nabi Ibn Abbas mencegahnya, sementara Abdullah bin Zubair mendukung rencana Sayyidina Husein beranjak dari Mekkah ke Kufah. Akhirnya Husein tetap bersikukuh untuk pergi ke kufah. Pergerakan ini tercium oleh Yazid yang kemudian memerintahkan pasukannya menghadapi Sayyidina Husein dan keluarganya. ketika itu Husein membawa keluarga dan pendukungnya terdiri dari wanita, lansia dan anak-anak namun di tengah jalan beliau di hadang oleh ribuan tentara dari Syam yaitu pasukan Yazid.

Saat itu Yazid memerintahkan pada pengawalnya untuk membunuh Husein bila ia tidak mau membai’at dirinya, tapi yang terjadi mereka semua dibantai dengan cukup keji. Hanya satu yang selamat yaitu Ali Zainal Abidin putra Husein, sedangkan ayahnya Husein jenazahnya hancur, bahkan kepalanya di tendang kesana kemari, lalu kepala Husein diserahkan kepada Yazid. sedangkan Tubuhnya dibiarkan tanpa kepala ditinggalkan di Karbala.

Imam al-Thabari dalam kitab Tarikhnya menceritakan dengan detil berpuluh-puluh halaman apa yang terjadi di Karbala, dan mencatat siapa saja keluarga Sayyidina Husein yang terbunuh lengkap dengan menyebutkan siapa pembunuh masing-masing, pada 10 Muharram di Karbala. Sejarah mencatat dengan pilu, jika sebelumnya demi politik kekuasaan terjadi perang saudara antara Siti Aisyah dan Ali bin Abi Thalib (perang jamal), dan antara Khalifah Ali dengan Mu’awiyah (perang shiffin), maka sejarah kembali mencatat dengan air mata dan darah bagaimana cucu Rasulullah dibunuh secara tragis.

Imam Suyuthi menulis: “Yazid mengirim surat kepada Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuh Husein. Maka dikirimlah 4 ribu pasukan di bawah pimpinan Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash.” Imam Suyuthi melanjutkan: “Husein dibunuh dan kepalanya diletakkan di bejana dan dibawa ke hadapan Ibn Ziyad. Semoga Allah melaknat mereka yang membunuhnya, begitu juga dengan Ibn Ziyad dan Yazid. Husein telah dibunuh di Karbala. Dalam peristiwa pembunuhan ini terdapat kisah yang begitu memilukan hati yang tidak sanggup kita menanggungnya. Inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. Terbunuh bersama Husein 16 orang lainnya dari anggota keluarganya.”

Sekitar dua tahun setelah pembantaian di Karbala, yaitu tepatnya pada tahun 63 H, sebagian penduduk Madinah diundang ke istana Yazid di Negeri Syam. Di sana mereka melihat sendiri tabiat dan kelakuan Yazid yang tidak menjalankan syariat Islam. Maka penduduk Madinah banyak yang hendak mencabut ba’iat yang telah mereka berikan kepada Khalifah Yazid. Pada saat ini, sekali lagi belum ada mekanisme pemakzulan khalifah yang sikapnya menyimpang dari ajaran Islam. Tindakan penduduk Madinah di bawah pimpinan Abdullah bin Hanzhalah yang hendak mencabut ba’iat membuat Khalifah Yazid meradang.

Khalifah Yazid mengirimkan 10 ribu pasukan di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah al-Murri. Terjadilah peristiwa al-Harrah, area sebelah timur laut Madinah. Sekali lagi, kita merujuk kepada Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa: “Apakah yang disebut peristiwa Harrah itu? Hasan al-Bashri menyebutkan: “Demi Allah, hampir saja tidak ada satupun yang selamat dari peristiwa itu. Sejumlah sahabat Rasulullah dibunuh, kota Madinah dihancurkan, seribu perawan dirusak kegadisannya, inna lilahi wa inna ilaihi raji’un.” Panglima Perang Muslim bin Uqbah sampai dijuluki sebagai Musrif alias orang yang melampaui batas, mengingat kekejaman yang dia lakukan. Ibn Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah juga mengonfirmasi kisah-kisah kekejian yang dilakukan Muslim bin Uqbah dalam peristiwa al-Harrah ini.

Semua lelaki yang ada di Madinah langsung dibunuh, dari pembantaian ini Sekitar 80 sahabat nabi ikut terbunuh. Kekejaman ini membantai banyak penghapal Qur’an dan sahabat-sahabat Rasulullah. Tidak hanya itu, dia juga berusaha melenyapkan Abdullah bin Zubair, keponakan Aisyah yang saat itu berada di Makkah. Setelah peristiwa al-Harrah, Yazid kemudian menyerang kota Mekkah. Mekkah berada dalam pengepungan pada September 683 setelah 'Abdullah bin Zubair menolak untuk menyerah.

Dalam pengepungan selama beberapa pekan ini, pihak Umayyah menggunakan ketapel untuk membombardir Mekkah. Pada 31 Oktober, Ka'bah terbakar dan Hajar Aswad pecah. Sebagian berpendapat bahwa penyebab kebakaran dikarenakan lontaran katapel pihak Umayyah, sedangkan yang lain menyatakan bahwa api berasal dari obor pengikut 'Abdullah bin Zubair yang terkena angin. Pengepungan Mekkah berakhir setelah Yazid meninggal mendadak pada November 683 dan pasukan Umayyah mundur ke Syria. Dengan meninggalnya Yazid, 'Abdullah bin Zubair kemudian menyatakan dirinya sebagai khalifah. Ia menjadi khalifah pesaing bagi Umayyah yang berpusat di Syria. Di Syria sendiri, kedudukan khalifah diwariskan pada putra Yazid, Muawiyah bin Yazid, yang tidak begitu tertarik dengan urusan pemerintahan.

Itulah kisah kekejaman pemerintahan Yazid bin Muawiyah yang hanya berlangsung singkat. Kekejaman itu antara lain Pembunuhan Husain di Karbala, penjarahan Madinah setelah Perang Al-Harrah, dan rusaknya Ka'bah pada pengepungan tahun 683 dipandang sebagai tanggung jawab dari Yazid. Secara kepribadian, Yazid juga dipandang buruk lantaran akhlak dan perilakunya yang tidak mencerminkan pemimpin umat Islam, seperti gemar mabuk, berburu, dan memelihara hewan seperti kera dan anjing.

 

Sumber referensi :      

id.wikipedia.org

kaskus.co.id

panrita.id

Kamis, 09 Juni 2022

PERANG SALIB III : PERANG TANPA DENDAM!!!

 


Perang salib menjadi perang panjang antara kaum muslimin dan orang-orang nasrani. Pada awalnya, perang ini adalah perang agama antara Islam dan Kristen. Namun seiring berjalannya waktu, perang ini tidak lagi hanya berlandaskan agama. Saat kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi pada perang salib kedua, Shalahuddin berhasil merebut wilayah Jerusalem dari tangan pasukan Salib. Berita mengenai jatuhnya wilayah Jerusalem ke tangan pasukan Muslimin telah menyebar di daratan Eropa. Peristiwa ini kemudian memicu berkobarnya perang salib III yang berlangsung pada 1189 sampai 1192.

Saat raja Henry II meninggal dunia pada tahun 1189, kepemimpinan pasukan Inggris digantikan oleh Richard I, yang dikenal dengan julukan “Richard the Lion Heart”. Maka dari itu, Perang Salib III menjadi kisah tentang dua tokoh sejarah besar, yakni Shalahuddin Al-Ayyubi dan Richard The Lionheart. Selain menjadi perang berdarah antara umat islam dan Kristen, perang ini juga menjadi kisah persahabatan terselubung antara Richard The Lionheart sang pemimpin Pasukan Salib dan Shalahuddin Al Ayyubi sang pemimpin Muslimin.

Persahabatan antara Richard dan Shalahuddin sudah mulai terjalin saat Richard menyamar untuk mencari informasi. Richard memasuki Jerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Shalahuddin, mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Shalahuddin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi terkadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurut Richard, Shalahuddin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran.

Namun karena Paus Gregorius VIII mengeluarkan seruan terkenalnya yang disebut Bull Audita Tremendi, orang-orang Di seluruh Eropa sangat tersentuh akan maklumat Paus tersebut. Banyak yang tertarik untuk bergabung mengabdikan diri sebagai bagian dari Tentara Salib karena jaminan penebusan dosa yang ada dalam Bull Audita Tremendi. Selain itu, perang salib itu merupakan aliansi dari negara-negara eropa yang membuat Richard secara terang-terangan berdamai dengan umat muslim. Hal itu membuat perang salib III harus terjadi, persahabatan Shalahuddin dan Richard kemudian dilakukan secara tersembunyi.

Diceritakan pada masa perang Salib itu, ada seseorang yang cukup berpengaruh di pasukan Muslim. Tidak diketahui namanya, namun seseorang ini berusaha melakukan pemberontakan untuk menghancurkan Salahuddin. Orang ini berupaya melakukan negosiasi dengan Richard yang saat itu tengah mengepung benteng kaum muslimin. Dia ingin memberikan informasi tentang kelemahan benteng yang dijaga oleh kaum muslimin. Sebagai imbalannya, dia meminta agar dia tidak dibunuh jika kaum nasrani memenangkan peperangan. Namun sebelum dia berbicara tentang kelemahan benteng kaum muslimin, Richard lalu memenggal kepalanya kemudian mengirimkannya disertai sepucuk surat kepada Shalahuddin. Shalahuddin kemudian menerima kepala pengkhianat dan sepucuk surat yang berbunyi “Aku tidak ingin orang ini mengacaukan permainan kecil kita”.


Pertempuran antara Shalahuddin dan Richard berulang kali terjadi, terkadang dimenangkan oleh kaum muslimin dan kadang-kadang oleh kaum nasrani. Namun pada suatu ketika, saat kedua kubu telah saling berperang, Richard melihat gelagat pergerakan pedang Shalahuddin yang lain dari biasanya. Pada saat itu pedang sang pemimpin Muslim tumpul lantaran belum diasah. Tanpa basa-basi Richard menyuruh pasukannya untuk berhenti dan memberikan waktu sehari bagi Shalahuddin untuk mengasah pedangnya. Pertempuran hari itupun akhirnya ditunda, dan kedua kubu kembali ke kamp masing-masing dan berperang kembali dikeesokan harinya.

Pada saat akhir perang salib III, yaitu pertempuran Jaffa pada tahun 1992. Richard memutuskan untuk memimpin sendiri perang terhadap pasukan Muslim. Kala itu ia memimpin kavaleri tombak, pasukan berkuda elit pasukan Salib. Menghadapi pasukan Muslim Richard benar-benar sangat maksimal. Shalahuddin menyerang dengan kavalerinya, namun Richard menangkis mereka dengan tombak dan tembakan anak panah.

Kemudian Richard melakukan serangan balasan, semua ini terjadi dengan disaksikan oleh Shalahuddin. Hingga akhirnya terlihat sekali jika Richard kelelahan, dan kudanya saat itu sudah terluka. Sehingga kudanya tersebut seperti sudah tidak bisa dipaksa untuk bergerak lincah. Shalahuddin kemudian menyuruh pasukan berkudanya untuk menyerahkan dua ekor kuda yang masih segar kepada Richard. 

Pertempuran Jaffa, yang terakhir dari perang salib ketiga berakhir imbang. Shalahuddin mundur ke Jerusalem, meninggalkan Richard yang terserang demam karena kelelahan. Pada akhirnya, bukan kemenangan atau kekalahan yang mengakhiri perang Salib III, tetapi kelelahan belaka. Pertempuran ini berakhir dengan perjanjian damai antara kedua kubu. Richard yang jatuh sakit dan pasukannya yang kelelahan menyetujui perjanjian tersebut. Saat sedang sakit itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaik untuk mengobati Richard. Shalahuddin juga mengirimkan buah persik dan pir serta minuman sedingin es dari perbekalan saljunya dari Gunung Hermon.

Pada 2 september 1192, Richard menandatangani perjanjian Jaffa mengakhiri perang salib III, dan pada hari berikutnya Shalahuddin menandatangani perjanjian tersebut. Perang salib III akhirnya benar-benar selesai kala itu. Sekelompok kecil tentara salib melakukan kunjungan terakhir ke Jerusalem dimana Shalahuddin menerima mereka dan mengobrol dengan riang. Atas permintaan uskup, Shalahuddin mengizinkan empat orang wali gereja untuk melayani kebutuhan para peziarah Kristen di Jerusalem, Betlehem, dan Nazareth.

Itulah kisah persahabatan yang terjalin pada perang salib III antara Shalahuddin Al-Ayyubi dan Richard the Lion Heart. Meskipun mereka berdua sangat dekat dan saling menghormati, tapi dalam perang keduanya benar-benar maksimal. Bahkan keduanya berperang secara adil tanpa adanya kecurangan. Hal itu menyebabkan perang salib III menjadi perang tanpa dendam dan berakhir dengan perdamaian. Bahkan terjadi pernikahan monumental dengan Baitul Maqdis (Yerusalem) sebagai hadiah pernikahan. Saudara perempuan Richard The Lionheart dinikahkan dengan saudara Saladin, Malik al Adil. Peristiwa ini mengakhiri pertikaian antara Islam dan Kristen waktu itu.

Sumber Referensi :     boombastis.com

guru gembul channel

Shalahuddin Al-Ayyubi, John Man

AL-MANSUR KHALIFAH ISLAM YANG TERKENAL KEJAM

 


Kekuasaan dapat membuat seseorang menjadi pemimpin yang diktator. Kediktatoran membuat seorang pemimpin tidak perduli siapa saja orang yang dianiayanya. Ketakutan akan kehillangan jabatannya membuat mereka melakukan berbagai macam cara untuk mempertahankannya. Bahkan ia dapat dengan mudah menyingkirkan orang-orang yang menurutnya dapat mengganggu kekuasaannya. Salah satu pemimpin diktator yang pernah tercatat dalam sejarah  kekhalifahan islam adalah Al-Mansur.

Al-Mansur memiliki nama asli Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al Mansur merupakan Khalifah kedua Bani Abbasiyah. Ia dilahirkan di al-Humaymah, kampung halaman keluarga Abbasiyah setelah migrasi dari Hejaz pada tahun 687-688M. Ia dibai’at sebagai khalifah karena penobatannya sebagai putera mahkota oleh adiknya, As-Saffah pada tahun 754, dan berkuasa sampai 775. Pada tahun 762 ia mendirikan ibu kota baru dengan istananya Madinat as-Salam, yang kemudian menjadi Baghdad.

Imam Suyuthi mendeskripsikan karakternya bahwa “Dia orang yang terpandang, kharismatik, pemberani dan punya tekad yang kuat, pengumpul harta, meninggalkan senda gurau dan permainan, sempurna akalnya, terlibat aktif dalam hal ilmu dan adab, memahami soal kejiwaan. Namun, dalam rangka menegakkan kekuasaanya, dia telah melakukan pembunuhan yang amat banyak. Dia pula yang mencambuk Imam Abu Hanifah rahimahullah ketika menolak diangkat menjadi hakim, memenjarakannya hingga wafat di penjara. Dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah wafat karena diracun akibat telah berfatwa membolehkan memberontak melawan Abu Ja’far al-Manshur. Ucapan al-Manshur fasih, seorang orator yang mempesona dan inspiratif, dan sangat berhati-hati, dan juga terkenal kikir. Gelarnya Abu ad-Dawaniq karena menghitung harta sampai hal-hal yang paling kecil.”

Dari karakteristik yang dijelaskan oleh imam Suyuthi, Al-Mansur adalah orang yang memiliki sifat kontroversial. Pada saat itu, Ada dua jenderal yang sangat berjasa merebut kekuasaan dari Dinasti Umayyah dan pada kilauan pedang kedua jenderal inilah kekuasaan Dinasti Abbasiyah dapat tegak berdiri. Jenderal pertama bernama Abdullah bin Ali, paman sang Khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Jasa pasukan Abdullah bin Ali adalah mengalahkan pasukan Marwan, khalifah terakhir Umayyah. Jenderal kedua bernama Abu Muslim al-Khurasani. Dialah jenderal yang memulai pemberontakan terhadap Dinasti Umayyah hingga tegaknya Abbasiyah. Abu Muslim juga mengejar dan membantai keluarga Umayyah demi mengamankan kekuasaan as-Saffah, khalifah pertama Abbasiyah.

Abdullah bin Ali tidak bisa menerima kenyataan bahwa al-Manshur yang diangkat sebagai khalifah menggantikan as-Saffah. Abdullah menganggap as-Saffah pernah berjanji menjadikannya sebagai khalifah berikutnya. Abdullah kemudian memberontak kepada Khalifah al-Manshur dan mulai menerima bai’at dari pasukannya di Syiria sebagai khalifah.

Al-Manshur dengan cerdik mengirim Jenderal Abu Muslim menghadapi pemberontakan Abdullah bin Ali. Kedua jenderal ini akhirnya saling bertempur dengan sengit. Pemberontakan itu mampu dipadamkan oleh Abu Muslim. Abdullah kemudian pergi berlindung di kota lain, dan kemudian wafat dibunuh pada usia 52 tahun. Al-Manshur yang khawatir dengan popularitas Abu Muslim, mengundangnya untuk datang menghadap. Ketika sampai di Baghdad, Abu Muslim dijatuhi hukuman mati oleh Khalifah Al-Mansur pada tahun 755 M. Tidak hanya itu, jasadnya dimutilasi kemudian dibuang ke Sungai Tigris. Pembunuhan Abu Muslim yang teramat brutal mendapat kecaman dari masyarakat Khurasan. Kedua jenderal yang berjasa besar itu dihabisi dengan keji oleh al-Manshur. Imam Thabari dalam kitab Tarikh-nya menjelaskan dengan detail kisah tragis kedua jenderal ini.

Kekejamannya juga pernah terjadi kepada Muhammad dan Ibrahim. Keduanya adalah anak keturunan Ali bin Abi Thalib dari Sayyidina Hasan. Awalnya, Al-Manshur memerintahkan kepada gubernur Madinah agar mencari Muhammad dan Ibrahim untuk di bawa menghadap kepadanya. Tabari dalam "The History of al-Tabari, Abbasid Authority Affirmed", menjelaskan sebenarnya tidak ada satu hal yang terlalu serius dengan perintah ini. Tapi pasukannya mencari dengan seksama kedua orang tesebut seperti mencari seorang buronan. Melihat ini, Muhammad dan Ibrahim curiga dengan proses yang terjadi begitu janggal. Akhirnya mereka memilih bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain.

Ketika sudah lama berusaha mencari Muhammad dan Ibrahim, keduanya masih belum ditemukan. Al-Manshur panik, dan memerintahkan agar segera menemukan mereka, apapun caranya. Prajurit Al-Manshur pun mulai mencari dan memburu seluruh sanak keluarga Muhammad dan Ibrahim untuk dimintai keterangan. Di samping itu, Al-Manshur juga memerintahkan agar menahan semua sanak keluarga mereka yang lainnya. Mereka kemudian dibawa ke hadapan Al-Manshur dan diinterogasi.

Setelah berhasil membawa sanak keluarga Muhammad dan Ibrahim, pencarian terhadap mereka terus dilanjutkan secara lebih intensif. Menurut Al-Tabari, bahwa ketika itu kondisi Muhammad dan Ibrahim semakin terdesak, hal inilah yang akhirnya membuat mereka memberontak. Kisah tentang perburuan aparatur Abbasiyah terhadap dua keturunan Hasan bin Ali tersebut segera menyebar. Dalam waktu singkat, dukungan pun bermunculan terhadap mereka. Muhammad bin Abdullah pun bangkit memimpin pemberontakan. Al-Manshur langsung mengerahkan pasukannnya untuk memadamkan pemberontakan Muhammad. Dan dalam waktu singkat, pemberontakan tersebut bisa dihancurkan. Tanpa ampun, Al-Manshur memperlakukan musuh-musuhnya ini dengan cara di luar batas.

Abul A’la Al-Maududi mengisahkan, Ibrahim dan Muhammad bin Abdullah gugur dalam peperangan. Kepalanya dipenggal lalu di arak ke seluruh Kota Madinah. Kemudian mereka menggantung jasadnya dan juga jasad para pengikutnya selama tiga hari di hadapan orang yang berlalu lalang. Setelah itu, jasad-jasad tersebut mereka lemparkan ke pekuburan orang Yahudi di dekat Gunung Sila. Sedangkan para kerabat Muhammad dan Ibrahim yang sebelumnya ditahan, mereka di belenggu kemudian di paksa berjalan kaki dari Madinah hingga ke Kufah. Harta mereka dirampas, lalu dilelang.

Kekejaman Al-Mansur juga terjadi pada Imam Malik. Imam Malik pada saat itu mengeluarkan fatwa bahwa boleh keluar memberontak terhadap al-Manshur mengingat kekejaman yang dilakukannya. Gubernur Madinah kemudian menangkap dan mencambuk Imam Malik akibat fatwa itu. Tindakan Khalifah al-Manshur kepada Imam Malik terjadi juga pada imam Abu Hanifah seperti yang pernah dikatakan oleh Imam Suyuthi. Kekejaman terhadap ulama tidak berhenti pada dua nama besar Imam Mazhab ini. kekejamannya juga menimpa ulama lainnya, yaitu Sufyan ats-Tsauri yang merupakan seorang ahli fiqh dan Abbad yang merupakan seorang perawi hadits.

Namun, Sufyan dan Abbad selamat, meski sudah dimasukkan dalam penjara dan menunggu waktu eksekusi. Imam Suyuthi mengatakan bahwa “Orang-orang telah khawatir bahwa Abu Ja’far al-Manshur akan membunuh kedua ulama itu saat menunaikan haji, namun Allah tidak memberi kesempatan khalifah sampai di Mekkah dengan selamat. Dalam perjalanan dia sakit dan wafat. Allah telah mencegah kekejamannya terhadap kedua ulama itu.”  Abu Ja’far al-Manshur wafat dalam usia 61 tahun pada 7 Oktober tahun 775 Masehi dalam perjalanan menuju Mekkah dan dikuburkan secara rahasia dengan membuat 100 kuburan yang berbeda.

Itulah Sejarah kekejaman Al-Mansur sebagai pemimpin kedua bani Abbasiyah. Sejarah juga mengatakan bahwa Al-Mansur sangat mencintai ilmu. Gerakan penerjemahan kitab-kitab asing ke dalam bahasa Arab mulai dilakukan pada masanya. jika ulama pada masa Dinasti Umayyah lebih sering menyebarkan ilmu secara verbal, maka pada masa Al-Manshur ini para ulama didukung untuk menuliskan kitabnya agar penyebaran pengetahuan semakin luas. Kepeduliannya akan ilmu pengetahuan membuatnya menjadi pemimpin negara yang pertama kali meminta Imam Malik untuk menjadikan kitabnya, al-Muwattha’, sebagai panduan resmi negara. Namun, Imam Malik menolak permintaan tersebut dengan alasan Islam telah berkembang. Namun, karena sikap kediktatorannya, dia tidak segan-segan membunuh siapapun yang memberontak pada masa kepemimpinannya. Ia berusaha tetap mempertahankan kekuasaannya yang bersifat sementara.

Sumber Referensi :   geotimes.id

id.wikipedia.org

kalam.sindonews.com

Jumat, 11 Februari 2022

PENAKLUKAN KONSTANTINOPEL OLEH SULTAN MUHAMMAD AL FATIH!!! GEREJA MENJADI MASJID!!!



Penaklukkan Konstatinopel oleh Muhammad Al-Fatih merupakan peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Penaklukan Konstantinopel dimulai pada 6 April 1453 Masehi. Pasukan Utsmani di bawah pimpinan Al-Fatih berjumlah kurang lebih 150.000 pasukan dengan senjata-senjata raksasa seperti meriam Basilika yang dibuat dengan teknologi terbaru pada masa itu.

Terkait penaklukan Konstatinopel oleh kaum muslimin, diriwayatkan dalam hadis. Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabat. ”Ya Rasul, mana yang lebih dahulu jatuh ke tangan kaum Muslimin, Konstantinopel atau Romawi?” Nabi menjawab,”Kota Heraklius (Konstantinopel). (HR Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim).

Nabi SAW juga bersabda: “Istanbul pasti akan ditaklukkan; sang penakluk adalah komandan terbaik, pasukannya adalah prajurit yang terbaik.”

Pemimpin dari pasukan itu Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II. Mehmed lahir pada 30 Maret 1432 di Edirne, ibu kota Utsmaniyah kala itu. Dia merupakan anak dari Sultan Murad II dan Huma Hatun. Saat Mehmed berusia sebelas tahun, dia dikirim untuk memerintah Amasya, sesuai tradisi Utsmani untuk mengutus para şehzade (pangeran) yang sudah cukup umur untuk memerintah di suatu wilayah sebagai bekal bila naik tahta kelak. Murad juga mengirimkan banyak guru untuk mendidik putranya, di antaranya adalah Molla Gurani dan Syaikh Muhammad Syamsuddin bin Hamzah.

Setelah mengadakan perjanjian damai dengan Kadipaten Karaman di Anatolia pada tahun 1444, Murad yang sebenarnya lebih tertarik dalam masalah agama dan seni daripada politik turun tahta dan menyerahkan kepemimpinan negara kepada Mehmed yang saat itu masih dua belas tahun. Pada periode pertama masa kekuasaan Mehmed, pihak Utsmani diserang oleh Kerajaan Hongaria yang dipimpin Janos Hunyadi. Penyerangan ini melanggar gencatan senjata yang tertuang dalam Perjanjian Szeged (1444). Dalam keadaan seperti ini, Mehmed meminta ayahnya untuk kembali naik tahta, tetapi Murad menolak. Mehmed lalu menulis surat, "Bila Ayah adalah sultan, datanglah dan pimpinlah pasukan Ayah. Bila aku adalah sultan, aku memerintahkan Ayah untuk datang dan memimpin pasukanku." Murad kemudian datang dan memimpin pasukan, mengalahkan pasukan gabungan Hongaria-Polandia dan Wallachia yang dipimpin oleh Wladysław III, Raja Hongaria dan PolandiaJanos Hunyadi, komandan pasukan gabungan Kristen; dan Mircea II, Voivode (Adipati/Pangeran) Wallachia dalam Pertempuran Varna (1444).

Murad kemudian didesak untuk kembali naik tahta oleh Çandarlı Halil Pasya yang tidak senang dengan kuatnya pengaruh Syaikh Syamsuddin pada masa kekuasaan Mehmed. Sultan Murad lalu kembali naik tahta dan berkuasa hingga wafatnya pada tahun 1451. Setelah wafatnya Sultan Murad, Mehmed kembali naik tahta dan dinobatkan di Edirne pada usia sembilan belas tahun. Saat Mehmed kembali naik tahta pada 1451, dia memusatkan perhatiannya untuk memperkuat angkatan laut Utsmani untuk persiapan penaklukan Konstantinopel.

Tidak mudah untuk dapat menaklukkan Konstantinopel. Bahkan upaya penaklukan sudah dilakukan sejak tahun 44 Hijriah pada masa Muawiyah bin Abu Sofyan. Konstantinopel memiliki benteng pertahanan yang sangat kuat sampai tiga lapis, sehingga saat itu hampir tidak mungkin ditembus.

Pada tahun 1453, Mehmed memulai pengepungan Konstantinopel dengan pasukan berjumlah kurang lebih 150.000 orang, kereta api artileri, dan 320 kapal. Kota ini dikelilingi oleh laut dan darat, armada ditempatkan di pintu Bosporus dari pantai ke pantai dalam bentuk bulan sabit untuk menghadang bantuan untuk Konstantinopel dari laut. Pada awal April, upaya penaklukan Konstantinopel dimulai. Awalnya, tembok kota dapat menahan pasukan Utsmani, meskipun Sultan Mehmed telah menggunakan meriam yang dibuat oleh Orban, insinyur dari Transilvania.

Pasukan artileri Al-Fatih gagal menusuk dari sayap barat lantaran dihadang dua lapis benteng kukuh setinggi 10 meter. Mencoba mendobrak dari selatan Laut Marmara, pasukan laut Al-Fatih terganjal militansi tentara laut Genoa pimpinan Giustiniani. Setelah pertempuran demi pertempuran yang tersebut, Al-Fatih menyadari titik lemah Konstantinopel adalah sisi timur yakni selat sempit Golden Horn. Selat ini dibentang rantai besar dan dijaga dua puluh delapan kapal, menyulitkan armada kecil sekali pun untuk melewatinya.

Dalam pengepungan ini, pihak Romawi Timur sempat meminta bantuan dari Barat, tetapi Paus memberikan persyaratan agar Gereja Ortodoks Timur bersedia bergabung di dalam kewenangan kepausan di Roma. Seperti yang kita ketahui Ketika kekaisaran Roma menguasai dunia, pada masa kekaisaran kaisar Konstatin (penguasa tunggal 324-337), ia membentuk ibukota lain bagi dunia Roma di kota Yunani tua, Byzantium, di sisi Eropa Bosporus. Kota ini segera berganti nama menjadi konstatinopel, kota Konstatin. System Deocletian tentang Kerjasama para kaisar dan pemindahan ibukota dari Italia ke semenanjung Balkan oleh Konstatin menimbulkan pemisahan barat dan timur. Kekaisaran Roma cenderung terbagi menjadi dua kekaisaran, dan setelah kematian Konstatin, kedua kekaisaran ini tidak pernah bisa dipersatukan. Mereka sekarang memiliki sejarah dan agama yang berbeda.

Konstatinopel menolak untuk menerima persyaratan dari Paus, warga dan pemuka agama Ortodoks mengabaikannya karena kebencian mereka pada kewenangan Roma dan ritus liturgi Latin dalam Katolik, juga lantaran perbuatan umat Katolik pada masa pendudukan mereka atas Konstantinopel saat Perang Salib Keempat. Beberapa pasukan Barat memang datang memberikan bantuan, tapi sebagian besar penguasa di Barat sibuk dengan urusan masing-masing dan mengabaikan nasib Konstantinopel.

Pada 22 April, Muhammad Al-Fatih menggusur kapal-kapalnya dari laut ke darat, demi menghindari rantai besar, menaiki bukit di sekitar koloni Genova di Galata, dan ke pantai utara Tanduk Emas. Sebanyak 70-80 kapal digotong ramai-ramai ke sisi selat dalam waktu singkat pada malam hari. Sebuah ide yang tidak pernah terpikirkan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Bahkan dari pihak Konstatinopel pun tidak pernah mengira bahwa ide itu dapat dilakukan.

Setelah pengepungan selama 54 hari dan sebuah ide brilian yang tak pernah terpikirkan, mulai terlihat cahaya kemenangan. Konstatinopel yang tidak memiliki banyak pasukan bantuan. Sedangkan pasukan Muhammad Al-Fatih telah masuk ke Jantung pertahanan pertahanan Konstatinopel dan melakukan serangan penuh membuat kemenangan kaum muslimin pasti terjadi. Pada 29 Mei 1453, Al-Fatih bersama pasukan Utsmani dapat menaklukan Konstantinopel secara keseluruhan. Penaklukan itu mengakhiri Kekaisaran Bizantium yang berusia 1.058 tahun.

Hanefi Bostan, asisten profesor di departemen Sejarah Universitas Marmara di Istanbul, menjuluki penaklukan tersebut sebagai “salah satu pencapaian terbesar dan paling penting dalam sejarah Turki dan Islam”. Jatuhnya Konstantinopel menjadi pintu gerbang bagi kekalifahan Utsmani untuk melebarkan sayap kekuasaanya ke Mediterania Timur hingga ke semenanjung Balkan. Peristiwa ini menjadi titik krusial bagi stabilitas politik Ustmani sebagai kekuatan adikuasa kala itu. Tanggal 29 Mei 1453 juga ditandai sebagai era berakhirnya Abad Pertengahan.

Setelah mengambil alih kepemimpinan Konstantinopel, Mehmed mengubah Hagia Sophia (dieja Aya Sofya dalam bahasa Turki) yang semula adalah Basilika Ortodoks menjadi masjid. Mehmed juga segera memerintahkan pembangunan ulang kota, termasuk memperbaiki dinding, membangun benteng, dan membangun istana baru. Untuk mendorong kembali orang-orang Yunani dan Genova yang pergi dari Galata, Mehmed memerintahkan pengembalian rumah-rumah mereka dan memberikan jaminan keamanan.

Sebuah keputusan yang sangat bijak untuk membangun Kembali kota konstatinopel bahkan membawa Kembali orang-orang Yunani dan Genova ke konstatinopel. Hal ini menunjukkan toleransi dari umat islam bahwa islam adalah agama yang damai. Namun keputusan untuk menjadikan gereja Basilika Ortodoks sebagai Masjid adalah keputusan yang berbeda dengan yang dilakukan oleh Umar bin Khattab.

Pada saat itu, Setelah Umar menandatangani perjanjian penyerahan Yerusalem, dirinya diajak berkeliling kota dan mendapat sambutan hangat dari warga Yerusalem. Saat singgah di Gereja Makam Kudus, Umar Bin Khattab kemudian meminta izin kepada Uskup Agung Sophronius untuk melaksanakan salat karena telah tiba waktu melaksanakan salat zuhur. Uskup Agung Sophronius menawarkan kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menunaikan salat di ruangan dasar Gereja Makam Kudus. Tetapi, Umar Bin Khattab menolak secara halus ajakan tersebut dan kemudian melaksanakan salat zuhur di luar gereja tersebut.

Setelah dirinya melaksanakan salat, Umar Bin Khattab kemudian memberikan alasannya menolak menunaikan salat di dalam gereja. Sikap penolakan Umar Bin Khattab tersebut bukan ditujukan pada persoalan lokasi pelaksanaan salat melainkan ia memikirkan hal yang lebih besar dan maslahat.

Dirinya menolak salat di gereja agar rumah ibadah agama Kristen di Yerusalem tidak dirampas untuk dijadikan masjid karena alasan pemimpin besar umat Islam pernah melaksanakan salat di tempat itu. “Kalau saya salat di situ, dikhawatirkan di kemudian hari umat Islam merampas gereja Tuan untuk dijadikan masjid,” (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 689).

Dari kisah Umar kita diajarkan agar kita tidak merampas tempat ibadah agama lain, karena Umar sangat menghargai hubungan antar agama. Umar juga menjamin keamanan hidup dan kebebasan beribadah bagi agama lain. Namun kita tetap harus bangga karena salah satu perkataan Rasulullah yang mengatakan bahwa Konstatinopel akan dapat ditaklukkan oleh umat Islam benar terjadi. Yang lebih hebat pula bahwa yang memimpin penaklukkan tersebut adalah seorang anak muda yang sangat cerdas dengan pasukan terbaiknya.

Nama Konstantinopel kemudian diubah menjadi Istanbul yang berarti kota Islam. Istanbul, kerap dilafalkan Istambul, kemudian sebagai ibu kota kekalifahan Utsmani hingga kejatuhannya pada 1923. Kota pelabuhan laut ini menjadi pusat perdagangan utama Turki modern saat ini. Secara geografis, wilayah Istanbul ‘terbelah’ dua dan masing-masing terletak di Asia dan Eropa. Berpenduduk hingga 16 juta jiwa, Istanbul adalah salah satu kota terpadat di Eropa.

 

Sumber referensi        : bekasi.pikiran-rakyat.com

      HUTTON WEBSTER, PHD, World History Sejarah Dunia Lengkap

      islampos.com

      kompas.com

      wikipedia.org


PANGLIMA PERANG TERHEBAT DALAM SEJARAH ISLAM!!! MENGALAHKAN 2 ALIANSI TENTARA TERKUAT PADA ZAMANNYA!!!



    Kalau ada negeri Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan bangsa Mongol, baik serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk, maka negeri itu adalah Mesir yang ketika itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mamalik/Mamluk. Seperti yang kita ketahui kekaisaran Mongol adalah salah satu kekaisaran yang memiliki pasukan-pasukan kuat yang terkenal pada masa itu. Kekaisaran Mongol mencakup Mongolia di Asia Timur, membentang hingga Eropa Timur dan sebagian Eropa Tengah ke Laut Jepang, Arktik, anak Benua India, Asia Tenggara Daratan, dataran tinggi Iran, Levant, Pegunungan Carpathia dan ke perbatasan Eropa Utara.
 Selain kekaisaran Mongol dengan pasukan kuatnya, adapula pasukan salib yang tidak kalah hebatnya kala itu. Namun tidak satupun pasukan kuat itu yang dapat menghancurkan dinasti Mamluk di Mesir.

Sultan yang paling sering kita dengar ketika berbicara dinasti Mamluk adalah Saifuddin Al-Qutuz. Saifuddin Al-Qutuz dikenal karena dapat menghancurkan pasukan Mongol yang dibantu oleh kesatria Templar. Pada tanggal 3 September 1260, Qutuz memimpin pasukannya mengalahkan pasukan Mongol dibawah pimpinan Kitbuqa dalam pertempuran yang sangat terkenal yaitu Ain Jalut. Pasukan Mongol yang tidak pernah terkalahkan sebelumnya berhasil dihancurkan dengan sangat meyakinkan dan kemudian dipukul mundur dari wilayah Syria.

Namun dibalik hebatnya kepemimpinan Qutuz, dia didukung oleh panglima kuatnya yang bernama Baybars. Baybars menjadi sultan selanjutnya menggantikan Qutuz tidak lama setelah terjadinya perang besar tersebut. Baybars inilah pemimpin perang yang tidak banyak dikenal namun dialah salah seorang pemimpin militer yang tangguh dan cerdas. Ia pula yang dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti Mamalik.

Baybars adalah seorang Kipchak yang diperkirakan lahir di Dashti Kipchak antara sungai Volga dan Ural, pantai utara Laut Hitam. Ia termasuk dalam suku Barli. Menurut Badrudin Baysari, seorang saksi mata dizamannya, Barli melarikan diri dari tentara Mongol, dan menetap di Kekaisaran Bulgaria Kedua.

Mereka menyeberangi Laut Hitam dari tempat asal mereka , menuju Bulgaria sekitar tahun 1242. Tidak lama setelah itu, bangsa Mongol menyerbu Bulgaria, termasuk wilayah tempat para pengungsi baru ini menetap. Baybars, yang menyaksikan orang tuanya dibantai, bersama Baysari masuk di antara tawanan yang dijual sebagai budak kepada Kesultanan Rum di pasar budak Siwas. Setelah itu, ia dijual ke Hama kepada ‘Alauddin dikin al-Bunduqar. Ia lalu dibawa oleh seorang Mesir berpangkat tinggi ke Kairo. Pada tahun 1247, al-Bunduqar ditangkap oleh sultan Mesir Najmuddin Ayyub, dan menyita budak-budaknya, termasuk Baybars. Hingga akhirnya Baybars sukses berkarir di dunia militer, pada masa dinasti Ayyubiyah.

Dalam karir militer, Baybars memiliki sahabat yang saling bersaing bernama Aybak. Aybak dan Baybars memiliki kelebihan masing-masing pada diri mereka. Kehebatan mereka dalam bidang militer ini menjadikan mereka pengawal Sultan al-Malik al-Salih. Ketika al-Malik al-Salih meninggal (1249 M), anaknya, Turansyah, naik tahta sebagai Sulthan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat kepada tentara asal Kurdi dari pada mereka.

Istri al-Malik al-Salih, Syajarat al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamalik berusaha menghasut Aybak agar membunuh Turansyah. Syajarat mengatakan jika ia membunuh Sultan, maka dia dapat menaikan derajat dirinya dengan menjadi sultan, dan ia juga dapat mempersunting dirinya, serta menikmati kekayaan sebagai sultan Mesir.

Aybak yang telah bersekongkol dengan ibu tiri Turansyah ini, kemudian membunuh Turansyah yang kala itu menjadi Sultan. Syajarat kemudian mengambil kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik itu. Kepemimpinan Syajarat al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Kemudian Aybak menagih janji, dan menikahlah Aybak dengan Syajarat.

Dari sinilah awal berdirinya dinasti Mamalik/Mamluk, Mamalik adalah jamak dari Mamluk yang berarti budak. Dinasti Mamalik memang didirikan oleh para budak. Mereka pada mulanya adalah orang-orang yang ditawan oleh penguasa dinasti Ayyubiyah sebagai budak, kemudian dididik dan dijadikan tentaranya.

Dengan meninggalnya Sultan Turansyah maka berakhirlah dinasti Ayyubiah. Aybak yang kala itu memiliki pemikiran jika Syajarat memiliki niat untuk menyingkirkan Sultan agar ia dapat menjadi pemimpin di mesir maka ada kemungkinan ia akan disingkirkan pula. Maka Aybak pun akhirnya membunuh Syajarat agar ia tidak dibunuh oleh Syajarat. Syarajat pun mati dibunuh namun tidak diketahui siapa pembunuhnya.

Aybak saat itu telah menjadi sultan dan berniat menjadikan Baybars sebagai Jenderal pasukannya. Namun Baybars yang mengetahui bahwa kini sahabatnya masuk ke dalam intrik politik, maka Baybars pun menolak dan memilih pergi ke Suriah. Aybak berkuasa selama tujuh tahun (1250-1257 M). Setelah meninggal ia digantikan oleh anaknya, Ali yang masih berusia muda. Ali kemudian mengundurkan diri pada tahun 1259 M dan digantikan oleh wakilnya, Qutuz. Setelah Qutuz naik tahta, Baybars yang mengasingkan diri ke Syria karena tidak senang dengan kepemimpinan Aybak kembali ke Mesir. Hal ini dikarenakan di awal tahun 1260 M Mesir terancam dari serangan bangsa Mongol yang sudah berhasil menduduki hampir seluruh dunia Islam.

Baybars yang telah Kembali ke Mesir merasa heran karena yang berkuasa saat itu bukan lagi sahabatnya. Yang menjadi Sultan kala itu ialah Saifuddin Al-Qutuz, seorang juniornya Ketika berada di Korps Mamluk. Setelah bercerita panjang lebar kepada Sultan Qutuz, Sultan kemudian mengangkat Baybars sebagai komandan pasukan yang berada di barisan paling depan sedangkan Sultan Qutuz berada di barisan belakang.

Pada tahun 1260, seorang utusan dari Mongol tiba di Kairo. Ia menyampaikan bahwa Gerombolan Mongol yang tak terkalahkan sedang dalam perjalanan ke Mesir, dan hanya penyerahan tanpa syarat dari Sultan yang mampu mencegah kehancuran. Baybars yang saat itu telah diangkat menjadi Jendral besar dari Sultan Al-Mudzaffar Saifudin Qutuz menolak untuk menyerah. Utusan Mongol itupun akhirnya dipancung dan kepalanya dikirim kembali untuk Khan dalam sebuah kotak. Sebuah Isyarat bahwa mereka bersiap untuk perang.

Saat itu Mongol berada di bawah komando cucu Jenghis Khan, Hulagu Khan. Mereka telah menghancurkan Kekaisaran Asia Tengah, Kekaisaran China, 8 hari menjarah Baghdad, kemudian membunuh Khalifah (pemimpin Muslim) dengan menggulungnya di karpet Persia dan menginjak-injaknya dengan kuda.

Mereka meratakan Damaskus. Dan sekarang satu-satunya hal yang berdiri di antara Kekaisaran Mongol dan Yerusalem, Mekah, dan Kairo adalah pasukan Sultan Mesir Saifudin Qutuz dan Baybars. Baybars menjadi komando seluruh Tentara Mesir, bertemu dengan orang-orang Mongol di tempat yang disebut Ain Jalut – “Kolam Goliat” – di utara Yerusalem.

Qutuz dan Baybars berperang bersama di Ain Jalut melawan kekaisaran Mongol. Kedua belah pihak berkemah di tanah suci Palestina pada bulan Juli 1260 dan akhirnya berhadapan di Ain Jalut pada tanggal 3 September dengan kekuatan yang hampir sama. Taktik yang dipakai oleh panglima Baybars adalah dengan memancing keluar pasukan berkuda Mongol yang terkenal hebat sekaligus kejam kearah lembah sempit sehingga terjebak baru kemudian pasukan kuda mereka melakukan serangan balik dengan kekuatan penuh yang sebelumnya memang sudah bersembunyi di dekat lembah tersebut. Akhirnya taktik ini menuai sukses besar. Pihak Mongol terpaksa mundur dalam kekacauan bahkan panglima perang mereka, Kitbuqa berhasil ditawan dan akhirnya dieksekusi.

Bangsa Mongol berhasil ditumpas. Dalam perjalanan pulang ke Mesir, Baybars meminta kenaikan kekuasaan, dengan Syiria sebagai wilayah kekuasaannya permintaan ini ia ajukan langsung kepada Sultan Saifudin Qutuz, tapi Sultan menolak dan Baybars membunuhnya lalu merebut Benteng Kairo, dan memilih gelar untuk dirinya yaitu Al-Malik al-Zahir, yang berarti “Raja Penakluk.” Pendapat lainnya mengatakan bahwa Baybars mengetahui bahwa sahabatnya yaitu Aybak, sebenarnya mati karena dibunuh oleh Qutuz.

Setelah Baybars naik ke Kesultanan, otoritasnya segera dikonfirmasi tanpa perlawanan serius, kecuali dari salah satu amir Mamluk lain yang populer dan cukup kuat untuk mengklaim Damaskus, yaitu Sinjar al-Halabi. Pada tanggal 17 Januari 1261, pasukan Baybars berhasil mengusir pasukan Sinjar keluar Damaskus, dan melanjutkan serangan ke kota, di mana warganya banyak yang setia kepada Sinjar dan melawan Baybars, meskipun demikian, perlawanan mereka segera dapat dihancurkan.

Sebagai sultan, Baybars terlibat seumur hidupnya dalam perjuangan melawan Tentara Salib di kerajaan kerajaan kristen di Suriah. Salah satu sebabnya Karena orang-orang Kristen disana telah membantu Mongol. Baybars memulai ekspedisi atas Kerajaan Antokhia , yang telah menjadi wilayah bawahan Mongol dan telah berpartisipasi dalam serangan terhadap wilayah – wilayah Islam di Damaskus dan Suriah.

Pada tahun 1263, Baybars mengepung Acre, ibu kota Kerajaan Yerusalem, lalu kemudian Nazaret. Dia melancarkan pengepungan panjang untuk mengalahkan kerajaan Salib seperti pengepungan Arsuf, yang berlangsung selama 40 hari, sejak 21 Maret hingga 30 April. Setelah berhasil menerobos masuk ke kota, Baybars menawarkan jaminan keamanan kepada para Knights yang bertahan jika mereka menyerahkan benteng mereka yang tangguh. Ksatria Arsuf pun menerima tawaran Baybars, lalu Baybars meratakan kastil mereka hingga rata dengan tanah.

Selanjutnya Baybars menyerang Etlith dan Haifa, di mana dia berhasil merebut kedua kota tersebut setelah menghancurkan pusat kekuatan tentara salib di Arsuf, dan meruntuhkan bentengnya. Pada tahun yang sama, Baybars mengepung benteng Safed, yang berada dibawah kekuasaan ksatria Templar. Benteng ini pernah ditaklukkan oleh Shalahuddin pada tahun 1188, akan tetapi kembali ke Kerajaan Yerusalem pada tahun 1240.

Kemudian, pada tahun 1266, Baybars menyerbu negara Kristen Armenia Kilikia yang berada di bawah Raja Hethum I, karena telah tunduk kepada Kekaisaran Mongol. Setelah mengalahkan pasukan Hethum I dalam Pertempuran, Baybars berhasil menguasai tiga kota besar wilayah hethum, yaitu Mamistra, Adana, dan Tarsus, hingga ketika Hethum tiba dengan pasukan Mongol, negara itu sudah hancur. Untuk itu hethum harus bernegosiasi atas pengembalian putranya Leo dengan memberikan kendali atas benteng perbatasan Armenia kepada Mamluk. Pada 1269, Hethum turun tahta demi putranya, dan menjadi seorang biarawan, lalu dia meninggal setahun kemudian.

Pertempuran demi pertempuran terus terjadi antara Islam melawan persekutuan antara Pasukan salib dan mongol, namun tidak ada satupun wilayah Kerajaan Islam yang jatuh ke tangan musuh pada waktu itu. Justru dibawah kepemimpinan Sultan Baybars, wilayah negara Islam semakin meluas. Membentang dari Antokia, Tripoli, Acre, sepanjang mesir, hingga Nubia. Jika hari ini wilayah terebut meliputi negara Syiria, Palestina, Mesir, Libia, dan Sudan. Baybars adalah penguasa populer di Dunia Islam yang telah mengalahkan tentara salib dalam tiga periode perang salib, dan mengakibatkan kekalahan besar bangsa Mongol dalam Pertempuran Ain Jalut, yang oleh banyak sejarawan dianggap sangat penting secara makro-historis.  Untuk mendukung kampanye militernya, Baybars memproduksi persenjataan, kapal perang, dan kapal kargo. Dia juga bisa dibilang orang pertama yang menggunakan meriam tangan dalam perang, pada Pertempuran Ain Jalut. Baybars meninggal di Damaskus pada 1 Juli 1277. Kematiannya telah menjadi bahan spekulasi para sejarawan. Banyak sumber setuju bahwa dia meninggal karena meminum minuman beracun yang ditujukan untuk orang lain. Catatan lain menunjukkan bahwa dia mungkin meninggal karena luka saat berkampanye, atau karena sakit. Ia dimakamkan di Perpustakaan Az-Zahiriyah di Damaskus.

Itulah kisah tentang Baybars, sang Sultan dari Mesir yang berhasil mengalahkan kekaisaran Mongol yang dikenal tidak terkalahkan. Bahkan pasukan Baybars adalah satu-satunya pasukan yang dapat menang ketika berhadapan langsung dengan kekaisaran Mongol. Memang kekaisaran pernah kalah di Jepang, Vietnam, dan Jawa, namun kekalahan di jepang karena cuaca badai, di Vietnam karena penyakit dan kelaparan. sedangkan di Jawa karena medan yang tidak cocok dengan pasukan berkuda dan dikatakan karena para pasukan yang dibuat mabuk. Bahkan kekuatan pasukan salib yang telah beraliansi dengan pasukan Mongol dapat dikalahkan. Baybars Albunduqdari adalah seorang pejuang Muslim bermata biru yang menjadikan kairo sebagai pusat pemerintahannya. Dia pula berupaya melakukan Islamisasi di Kekaisaran Mongol yang menyebabkan banyak dari pembesar Mongol yang memeluk Islam. 

 

Referensi : 

                    guru gembul channel, 

                    historia.id, 

                    ilalang.net, 

                    repository.ugm.ac.id,

                    wikipedia.org

 

 

Rabu, 05 Januari 2022

(EP 07) BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISTILAH WALI SONGO


Istilah wali berasal dari bahasa Arab, artinya adalah tercinta, pembantu, penolong, dan pemimpin. Bentuk pluralnya adalah auliya. Al-Quran menyifati para wali Allah sebagai orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Tidak ada kekhwatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Allah berfirman: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Q.S. Yunus : 62-64)

Dalam hadits disebutkan bahwa wali Allah adalah orang-orang yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan amalan wajib dan menambahnya dengan amalan sunnah hingga Allah mencintai mereka. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Allah berkalam, Barangsiapa yang memusuhi waliku berarti telah mengumumkan perang terhadap-Ku, atau Aku menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan apa yang telah Aku wajibkan atasnya dan hamba-Ku tetap terus  mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, niscaya Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, dan menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, dan menjadi tangannya yang dengannya dia memukul, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan. Dan sungguh jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan kepadanya. Dan sungguh jika dia memohon perlindungan-Ku niscaya Aku melindunginya. Dan Aku membimbingnya kepada sesuatu, maka Akulah pelaksananya. Jika hamba-Ku yang beriman selalu dalam bimbingan-Ku, ia membenci kematian dan Akupun membenci keburukan maut yang pasti menjemputnya.

Hadits shahih ini yang paling jelas menyebutkan sifat-sifat para wali Allah. Di antaranya adalah barangsiapa yang menyatakan permusuhan kepada wali Allah maka sama saja dirinya telah menyatakan perang kepada Allah, dan Allah pun juga menyatakan perang terhadapnya.

Sedangkan dalam pemahaman yang berkembang dalam ‘urf (tradisi) di Jawa, perkataan wali menjadi sebutan bagi orang yang dianggap keramat, yaitu orang suci yang memiliki karomah dalam bentuk kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman dan bertaqwa. Meskipun sering dirancukan dengan sakti mandraguna dalam pengertian ajaran Hindu Syiwo dan Buddha.

Dalam kaitan ini, ditemuilah istilah Wali Songo atau sembilan Waliyullah. Mereka adalah para penyebar Islam terpenting di tanah Jawa pada awal abad ke-15 dan ke-16. Mereka memiliki kelebihan daripada masyrakat mayoritas yang waktu itu masih menganut agama lama. Oleh karena itu, para Auliya dipandang sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah karena telah menegakkan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan serta mengerjakan amalan-amalan yang sunnah, sehingga mendapatkan berbagai karunia berupa kejadian luar biasa yang disebut karomah.

Mereka adalah symbol perintis jalan bagi  penyebaran Islam di nusantara, khususnya di Jawa. Tentu saja banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dengan dakwah ilallah secara langsung maupun seruan dalam jihad fisabilillah hingga mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, dan juga pengaruhnya terhadap pembentukan peradaban Islam di masyarakat, membuat para wali songo ini lebih sering disebut daripada yang lain.

Wali Songo adalah pembaharu masyrakat pada masanya. Pengaruh mereka terasa dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari perniagaan dagang, pelayaran nelayan dan perikanan, bercocok tanam di persawahan maupun perkebunan, pengobatan dalam kesehatan jasmani dan rohani, kebudayaan, kesenian, pendidikan, kemasyarakatan, hingga ke dalam masalah aqidah , politik, militer, hukum, dan pemerintahan di Kerajaan-Kerajaan Islam.

Sebagian penulis berpendapat bahwa istilah Wali Songo berasal dari bahasa Arab, yaitu wali (wali) dan tsana (mulia), sehingga berarti para wali yang mulia. Sebagian lagi berpendapat istilah wali Songo berasal dari bahasa Jawa, yaitu wali (wali) dan sana (baca: sono), yaitu tempat. Ada pula yang menyebut dengan wali Songo yang berarti sembilan wali atau bahkan ada yang menyatakan Wali Sangha.

Dari berbagai pendapat tersebut, yang paling kuat adalah berdasarkan istilah dan fakta sejarah, yaitu bahwa Wali Songo adalah sebuah dewan dakwah, dewan mubaligh, organisasi ulama dalam bentuk lembaga dakwah para wali yang berjumlah sembilan. Setiap ada yang wafat atau meninggalkan Jawa, maka diangkat wali lain sebagai gantinya sehingga tetap berjumlah sembilan. Berikut ini pembahasan tentang istilah wali songo.

1.     Wali Songo bermakna wali yang mulia (tsana’)

Menurut pendapat Prof. K.H. Moh. Adnan bahwa kata sanga merupakan perubahan atau kerancuan dalam mengucapkan kata sana yang menurutnya tsana’. Kata tsana’ berasal dari bahasa Arab yang berarti mulia yang semakna dengan mahmud yang berarti terpuji. Sehingga istilah Wali Songo menurutnya berasal dari kata Wali Tsana.

2.     Wali Songo merupakan pemimpin di suatu tempat (Sana)

Walaupun banyak hal yang harus dikritisi, istilah wali tsana yang dikemukakan Prof. K.H. Moh. Adnan ini diperkuat oleh R. Tanojo secara asal istilah, sedangkan arti dari kata sana itu berbeda. Menurut R. Tanojo arti sana bukan berasal dari bahasa Arab yang berarti mulia. Akan tetapi sana (sono) berarti suatu tempat, daerah atau wilayah. Dalam pengertian ini, Wali Sana menurut R. Tanojo berarti wali yang berkuasa di suatu tempat, penguasa daerah atau penguasa wilayah. (Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa)

3.     Wali Songo adalah nama organisasi dakwah

Pendapat lain menyatakan bahwa Wali Songo sebenarnya bukanlah berartri wali yang jumlah keseluruhannya hanya sembilan (songo) saja sebagaimana yang dikenal masyrakat Jawa. Akan tetapi Wali Songo adalah sebuah nama bagi organisasi dakwah, dewan dakwah, dewan mubaligh, dewan ulama, majelis para wali, atau lembaga dakwah. Apabila salah seorang dari anggota dewan atau majelis tersebut pergi atau wafat, maka akan diganti noleh  wali yang lain. Oleh karenanya, jumlah wali dalam dewan ulama ini tetap sembilan dalam setiap angkatan. (H.M. Soenanto, Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Islam)

Pendapat tersebut sebagaimana pandangan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid, M.A. bahwa wali songo merupakan sebuah nama suatu lembaga bagi dewan dakwah atau dewan ulama. Sedangkan kata sembilan diidentifikasikan sebagai struktur kepemimpinan dalam lembaga dakwah tersebut.


Dengan demikian, menurut pendapat penulis bahwa istilah Wali Songo yang lebih dekat dengan fakta sejarah adalah berasal dari istilah Wali Songo. Wali berarti beriman dan bertaqwa kepada Allah dan dekat dengan-Nya. Sedangkan Songo artinya adalah bilangan angka sembilan dalam bahasa Jawa. Dengan demikian, Wali Songo adalah wali yang berjumlah sembilan dan tergabung dalam sebuah lembaga dakwah, dewan ulama, atau majelis wali. Setiap kali di antara wali ada yang wafat atau pergi, maka diangkatlah wali lain sebagai pengganti.

Berikut ini beberapa alasan yang memperkuat pendapat ini:

a.      Berdasarkan kitab Kanzul Ulum karya Ibnu Bathuthah yang penulisannya dilanjutkan oleh Syekh Maulana Maghribi. Di dalamnya disebutkan tentang pembagian wilayah dakwah, yaitu Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, dan Syekh Jumadil Kubra di Jawa Timur. Kemudian Syekh Subakir dan Syekh Maulana Maghrib menggarap wilayah Jawa tengah, sementara bagian barat ditugaskan kepada Maulana Malik Isra’il, Syekh Ali Akbar, Maulana Hasanuddin dan Maulana Aliyuddin.

b.     Berdasarkan dokumen Kropak Ferrara, disebutkan sarasehan dan musywarah Wali Songo tentang makrifatullah. Dalam musyawarah tersebut dipimpin oleh Sunan Giri sebagai pengganti Sunan Ampel sekaligus sebagai tuan rumah di Ampel Dento. Para Wali yang hadir secara keseluruhan sebanyak sembilan wali. Akan tetapi Sunan Kudus sebagai salah seorang anggota Wali Songo berhalangan hadir.

c.      Wali Songo yang merupakan nama organisasi dakwah ini menyelenggarakan sidang sebanyak tiga kali, yaitu tahun 1404 M, 1438 M, dan tahun 1463 M. menurut KH. Dachlan Abdul Qahhar, pada tahun 1466 M Wali Songo menyelenggarakan sidang ke-4 untuk membahas berbagai hal. Diantaranya adalah tentang wafatnya dua orang wali, yaitu Maulana Muhammad Al-Maghrabi dan Maulana Ahmad Jumadil Kubro serta masuknya dua orang wali menjadi anggota Wali Songo. (MB. Rahimsyah. AR, Kisah Perjuangan Wali Songo)

Demikianlah tentang Wali Songo sebagai perintis jalan penyebaran Islam di tanah Jawa secara revolusioner. Oleh karena terjadi perubahan mendasar dalam membentuk peradaban dengan waktu yang relative singkat. Atas kehendak Allah kemudian peran mereka, mayoritas umat di tanah Jawa dan juga nusantara adalah umat Islam.

Berita tentang sejarah revolusiislam  di Jawa padaabad 15 dan 16 ini tersebar luas diseantero dunia Islam hingga kini . salah satu sumber situs berbahasa Arab yang membahas secara singkat perkembangan Islam dunia menyebutkan tentang wali songo ini:

“Al-Auliya T-Tis’ah (Wali Songo)adalah orang-orang yang bergabung dalam Ahlul Halli wal-Aqdi wasy-Syura, mereka yang memiliki hak mengangkat pemimpin Islam melalui musyawarah. Wali Songo memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Jawa dan nusantara. Oleh karena mereka telah berjanji setia kepada Sultan Fattah sebagai khalifah bagi kaum muslimin, maka di kemudian hari, banyak sekali orang-orang yang mengikuti mereka dalam jumlah besar dari masyarakat Indonesia karena telah menaruh kepercayaan yang besar kepada mereka.(www.tareemyemen.net)

4.     Antara Wali dan Sunan

Ketika menyebut istilah Wali Songo, maka umumnya masyarakat Jawa mengenal mereka sebagai para ulama penyebar Islam yang jumlahnya sembilan wali. Kebanyakan menggunakan panggilan Sunan. Mereka adalah Maulana malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Mbonang, Sunan Kalijogo, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Tidak ada kepastian tentang siapa orang yang pertama kali hanya sembilan wali tersebut sebagai Wali Songo, tanpa yang lainnya. Padahal antara satu Sunan dengan Sunan lainnya berbeda masa dan bahkan ada yang belum pernah bertemu dalam satu masa. Oleh karena itulah muncul pendapat bahwa istilah Sunan tidak ditemukan penisbatannya kepada para wali mukmin di masanya.

Sunan kependekan dari kata susuhunan atau sinuhun yang biasa dinisbatkan bagi para Raja atau penguasa pemerintahan daerah di Jawa. Misalnya Sunan Gunung Jati sebagai penguasa di daerah bernama Gunung Jati, Cirebon. Sunan Ampel di daerah Ampel Dento. Sunan Giri sebagai penguasa di daerah Giri yang sampai meluas jauh ke timur hingga ke luar Jawa, seperti Makassar, Hitu (Ambon), dan Ternate.(R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia)

Oleh karena itulah menurut Prof. Dr. Hamka, bahwa istilah Sunan baru digunakan untuk menyebut para wali setelah wafatnya mereka, “Terang bahwa gelar-gelar Sunan itu baru dipasangkan atas diri para wali itu setelah mereka meninggal belaka. Karena mereka dipandang keramat dan kubur mereka dimuliakan  sebagaimana memuliakan berhala. Sebab itu dibahasakan Sunan.” Sunan berasal dari kata sesuhunan, artinya adalah yang disuhun atau dimohon, dimana disusun jari sepuluh buat menyembahnya. Sebutan ini bersifat kompromis yang digunakan untuk memuliakan ulama agar sesuai dengan para Raja.

Oleh karena penisbatan istilah Sunan ini sudah terlanjur  melekat kuat dalam ingatan masyarakat dalam waktu lebih dari empat abad, bahkan lebih terkenal daripada nama aslinya, maka penggunaan istilah Sunan dalam konteks ini tidaklah terlalu dipermasalahkan.

Apabila nama-nama anggota Wali Songo itu ditelusuri, akan didapati lebih dari sembilan wali. Adapun nama-nama Wali Songo yang dikenal masyarakat adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri), Makhdum Ibrahim (Sunan Mbonang), Raden Syahid (Sunan Kalijogo), Ja’far Shodiq (Sunan Kudus), Maseh Munat (Sunan Drajat), Raden Umar Said (Sunan Muria), dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Menurut Widji Saksono, nama-nama wali tersebut banyak yang telah menyepakatinya. Meskipun tidak jelas pula siapa saja yang membuat kesepakatan tersebut. Disepakati oleh siapa, sejak tahun berapa dan dalam momen seperti apa, tidak pernah terjelaskan. Menurutnya lagi, para wali lain yang masih diperselisihkan adalah Usman Haji (Sunan Ngudung), Raden Santri (Sunan Gresik), Raden Sayed Muhsin (Sunan Wilis), Haji Usman (Sunan Manyuran), Sultan Fattah (Sunan Bintoro), Raden Jakandar (Sunan Bangkalan), Khalif Husain (Sunan Kertosono), Raden Pandan Arang (Sunan Tembayat), Ki Cakrajaya (Sunan Geseng), Sunan Giri Prapen, Sunan Padhusan.(Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa).


Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd