F 2022 ~ PEGAWAI JALANAN

Senin, 27 Juni 2022

PEMBANTAIAN KEJI DAN BIADAB TERHADAP ORANG CINA DI BATAVIA (JAKARTA) 1740!!!

 


 “Setiap tempat bersimbah darah dan kanal-kanal dipenuhi dengan mayat-mayat. Sebagian besar kota diselimuti abu dan lima ribu warga Cina yang terkenal rajin dan penuh pengabdian itu telah tewas.” Demikian kisah memilukan dari sebuah catatan akhir abad ke-18 yang pernah tersimpan di perkumpulan komunitas Cina di Jakarta.

Sebuah kota membutuhkan warga yang menghidupkan kegiatan perekonomian. Salah satu komunitas perintis yang bermukim di dalam tembok kota adalah masyarakat Cina yang kelak menjadi cikal bakal budaya peranakan di kota itu. Bahkan, VOC menunjuk seorang kapitan pertama untuk mengatur masyarakat Cina di Batavia pada awal abad ke-17.

Pada awal abad ke-18 perekonomian dunia yang melesu dengan turunnya harga gula turut mempengaruhi kehidupan Batavia. Pengangguran di Batavia meningkat, sementara itu pendatang dari Cina kian memadati kota tertua di Asia Tenggara itu. Setidaknya 4.000 orang Cina bermukim di dalam tembok kota, sedangkan sekitar 10.000 orang berada di luar tembok kota. 

Gubernur Jenderal VOC—Kongsi Dagang Hindia Timur— Adriaan Valckenier, melakukan kebijakan untuk mengirimkan kelebihan pengangguran itu ke Sri Langka karena di pulau tenggara India itu VOC juga mendirikan benteng dan kota persinggahan. Namun, terdapat desas-desus yang berkembang di Batavia bahwa orang-orang Cina yang dikirim dengan kapal ke Sri Langka itu dibunuh dengan menceburkan mereka ke laut lepas.

Komunitas Cina di pinggiran Batavia mulai resah dan mengancam untuk melakukan pemberontakan di kota. Mereka juga mendapat dukungan dari warga Cina dalam tembok kota, melengkapi diri dengan berbagai senjata. Di beberapa tempat, seperti Meester Cornelis—kini Jatinegara—telah dikuasai pemberontak Cina.

Pada 9 Oktober 1740, terjadilah huru hara di dalam tembok Kota Batavia. Para serdadu VOC melakukan perampokan dan pembersihan warga Cina. Permukiman Cina dibakar. Semua warga Cina dalam tembok kota, baik pria, maupun wanita, bahkan anak-anak yang lari berhamburan ke jalanan kota itu dibunuh dengan keji.

Bahkan, beberapa ratus orang Cina yang menjadi  tahanan  di Stadhuis—Balai Kota Batavia, kini Museum Sejarah Jakarta—dibebaskan, lalu disembelih di halaman belakang gedung itu. Diperkirakan antara 5.000 sampai 10.000 warga Cina telah dibantai. Rumah Kapitan Cina Ni Hoe Kong yang terletak di Roa Malaka—nama jalan itu masih ada hingga kini—dijarah dan dihancurkan. Sang Kapitan yang bertanggung jawab terhadap segala aktivitas orang-orang cina itu ditangkap dan akhirnya wafat dalam pembuangannya di Ambon.

Polemik kian membesar, bahkan turut melibatkan kalangan lokal setelah beredar isu bahwa orang-orang Cina berencana memperkosa perempuan lokal, membunuh para lelakinya, atau menjadikannya sebagai budak (Setiono, 2008:114). Maka, kaum pribumi dari berbagai suku yang ada di Batavia pun bergabung dengan VOC untuk membantai etnis Tionghoa. Valckenier memanfaatkan situasi ini dengan menggelar sayembara. Ia menjajikan hadiah besar untuk setiap kepala orang Cina yang berhasil dipancung (Hembing Wijayakusuma, Pembantaian Massal 1740: Tragedi Berdarah Angke, 2005:103).

Dampaknya signifikan. Ratusan orang Cina ditangkap dan disembelih di halaman Balai Kota Batavia, termasuk para tahanan. Pembantaian berlangsung setidaknya hingga 22 Oktober 1740, belum termasuk rangkaian upaya pembersihan setelahnya. Tidak kurang dari 10 ribu orang Cina tewas, dan 500 orang lainnya luka berat, juga lebih dari 700 rumah warga Tionghoa dijarah dan dibakar baik oleh serdadu VOC maupun kaum pribumi (W.R. van Hoevell, Batavia in 1740, 1840:447-557).

Aksi berdarah yang mirip genosida alias pemusnahan etnis ini kemudian dikenal dengan istilah Chinezenmoord (Pembunuhan Orang Tionghoa), selain Geger Pacinan atau Tragedi Angke dalam ungkapan lokalnya. Angke sendiri konon berasal dari dua kata dalam bahasa Hokkian: ang yang artinya “merah” dan ke yang berarti “sungai” (Alwi Shahab, Betawi: Queen of the East, 2002:103). Dengan demikian, "angke” dapat diartikan “sungai merah”, semerah banjir darah kaum Tionghoa yang dibantai di Batavia pada 1740 itu.

Seorang pelaku pembantaian dan perampokan, G. Bernhard Schwarzen, berkisah dalam bukunya Reise in Ost-Indien yang terbit pada 1751. Ironisnya, dia juga membunuh orang Cina yang dia kenal baik dan kerap mengundangnya makan malam. Menurutnya, baru empat hari kemudian pembantaian berhenti. Tak tersisa lagi orang Cina di dalam tembok kota. “Seluruh jalanan dan gang-gang dipenuhi mayat, kanal penuh dengan mayat,” tulisnya. “Bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu.”

Dua tahun kemudian, Gubernur Jenderal Valckenier yang dianggap bertanggung jawab atas tragedi di Batavia, dijatuhi hukuman penjara di Kastil Batavia selama 9,5 tahun sebelum akhirnya meninggal dan dimakamkan tanpa upacara.

Menurut Mona Lohanda, pemerhati sejarah peranakan Cina dan penulis buku Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia, kerusuhan 1740 meluas hingga ke Jawa. Bahwa tragedi orang-orang Cina bukan hanya berdampak kepada kehidupan di Batavia, tetapi juga berakibat pada ketidakstabilan politik di Kasultanan Mataram.

Bagaimana peristiwa itu meluas hingga ke Jawa? Dampak tragedi Oktober 1740, telah membuat Kasultanan Banten bersiaga dengan tiga ribu prajuritnya untuk menghadang orang-orang Cina yang melarikan diri dari Batavia. Gagal memasuki Banten, para pelarian itu bergerak ke timur. Sejumlah seribu orang bertemu di pantai sisi utara Pati, kota kecil di Jawa Tengah. Akhirnya, sebagai tindakan balasan, mereka bergabung dengan komunitas Cina asal Semarang dan mengepung benteng VOC di kota itu. Tak hanya itu, mereka juga menyerang pertahanan VOC di Rembang, sebuah benteng pinggir pantai. Tampaknya, inilah perlawanan terhebat dan terheroik orang-orang Cina kepada VOC dalam sejarah  peranakan Indonesia yang terlupakan.

Jikalau Raja Kartasura, Susuhunan Pakubuwana II, menyatukan antara kekuatan pemberontakan orang-orang Cina dan kekuatan prajurit keratonnya, mungkin saja VOC bisa hengkang dari Jawa Tengah. Namun, sang raja tampaknya menyia-nyiakan momentum sehingga VOC berhasil menguasai keadaan dengan campur tangan dalam urusan kerajaan. Meskipun konspirasi Cina-Jawa dalam “Geger Pacinan” dapat dipatahkan VOC, perseteruan keluarga itu baru berakhir pada 1755 dengan terbaginya Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. 

Usai tragedi kebiadaban itu, tidak ada warga Cina yang kembali ke Batavia. Lalu, VOC memberikan izin tinggal bagi orang-orang Cina di sebelah selatan tembok kota, daerah ladang tebu dan berawa milik Arya Glitok, seorang adiwangsa asal Bali. Kelak, pecinan baru itu dikenal dengan sebutan mirip nama belakang bekas pemiliknya: Glodok. Inilah salah satu cerita paling berdarah, juga perih, dalam sejarah Nusantara.

 

Referensi :

nationalgeographic.grid.id

tirto.id

 

WAYANG PRODUK ASLI NUSANTARA!!! ALAT DAKWAH YANG DIHARAMKAN SEBAGIAN GOLONGAN!!!

 

Wayang kulit adalah salah satu budaya seni tradisional Indonesia, pada masa lampau, terutama di Jawa. wayang juga ikut berperan penting terhadap perkembangan agama Islam di negeri ini. Penyebaran agama islam yang dilakukan oleh para Walisongo melalui wayang terbukti efektif. Sunan Kalijaga menginspirasi para walisongo untuk memadukan antara kesenian dan ajaran agama islam.

Sunan Kalijaga yang memiliki nama asli Raden Said dilahirkan pada tahun 1450 Masehi. Ia adalah salah satu anggota wali songo yang menyebarkan siar Islam di wilayah Jawa Tengah. Pada saat itu, masyarakat Jawa Tengah masih kental dengan budaya Jawa seperti gamelan dan wayang. Sunan Kalijaga mengawali dakwahnya di Desa Kalijaga, Cirebon. Ia mengislamkan penduduk sekitar termasuk Indramayu dan Pamanukan. Model dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga dengan pendekatan lewat kesenian dan kearifan lokal.

Sunan Kalijaga terlebih dahulu mempelajari watak dan budaya penduduk sekitar. Kalau mereka adalah tatanan masyarakat yang mudah lari jika dipaksa untuk mengikuti sesuatu yang baru bagi mereka. Hal inilah yang dimanfaatkan Sunan Kalijaga sebagai strategi dakwahnya, memasukkan unsur ajaran agama Islam dalam seni pewayangan. Dia pun mulai mempelajari karakteristik masyarakat di sana serta turut mendalami ilmu mendalang hingga kesusatraan.

Wayang adalah jenis seni pertunjukan yang mengisahkan seorang tokoh atau kerajaan dalam dunia perwayangan. wayang berasal dari kata Ma Hyang yang berarti menuju kepada roh spiritual, dewa atau Tuhan Yang Maha Esa. Wayang juga berasal dari kata Wad an Hyang, artinya "leluhur", tapi ada juga yang berpendapat wayang artinya "bayangan".

menurut R. Gunawan Djajakusumah dalam bukunya Pengenalan Wayang Golek Purwa di Jawa Barat mengatakan Wayang adalah kebudayaan asli Indonesia (khususnya di Pulau Jawa). Adapun yang berpendapat bahwa wayang berasal dari negeri India mungkin melihat dari asal ceritanya yaitu mengambil dari cerita Ramayana dan Mahabrata. Tetapi selanjutnya cerita-cerita itu diubah dan direkayasa disesuaikan dengan kebudayaan di Jawa.

Wayang kulit merupakan produk budaya yang dihasilkan jauh sebelum agama Islam masuk di Indonesia yang keberadaannya masih dipertahankan. Namun dalam kelangsungannya wayang kulit ini mengalami perubahan drastis baik menyangkut bentuk maupun pemaknaannya.
Wayang kulit purwa yang telah menemukan bentuknya pada masa Hindu di Jawa, di masa Islam ini mengalami perubahan di segala bidang dari tampilan wujud maupun fungsi disesuaikan dengan ajaran-ajaran dan aturan dalam agama Islam.

Ada sejumlah perbedaan wayang asli dari budaya Jawa dengan wayang hasil sentuhan Sunan Kalijaga. Sebelumnya, wayang masih berupa gambar di atas kertas dengan wujud manusia. Satu lukisan wayang menggambarkan isi satu adegan. Mengingat wayang berbentuk manusia dan diharamkan oleh Sunan Giri, Sunan Kalijaga pun sedikit mengubah tampilan wayang yang telah ada. Berkat hasil rombakan dari Sunan Kalijaga, wayang dibuat di atas kulit kambing hingga disebut dengan wayang kulit.

Gambar yang ditampilkannya juga cenderung mirip karikatur tidak nyata, bukan berwujud manusia. Kemudian, satu lukisan wayang milik Sunan Kalijaga sudah menjelaskan isi satu wayang. Dengan demikian wayang kulit purwa sudah dapat diterima dalam agama Islam, karena tidak lagi menggambarkan manusia atau binatang secara realistis. Contohnya, orang yang menghadap ke depan diukir dengan letak bahu di depan dan di belakang. Tangan wayang kulit dibuat panjang hingga menyentuh kakinya. Meski menghadap ke depan, matanya dibuat tampak utuh. Hasilnya, wujud wayang kulit purwa sudah berbeda jauh dengan gambaran manusia, walau wayang kulit memiliki mata, hidung, dan mulut orang.

Dalam pertunjukan wayang, kehadiran Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong selalu dinanti-nanti para penonton. Keempatnya merupakan karakter khas dalam wayang Jawa ( Punakawan ). Pendekatan ajaran islam dalam kesenian wayang juga tampak dari nama-nama tokoh punakawan. Barang kali tak banyak orang yang tahu kalau nama-nama tokoh pewayangan, seperti Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong sebenarnya berasal dari bahasa Arab.

Ada yang menyebutkan, Semar berasal dari kata Sammir yang artinya "siap sedia". Namun, ada pula yang meyakini bahwa kata Semar berasal dari kata Ismar. tokoh semar selalu tampil sebagai pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada, ia selalu tampil sebagai penasihat. Gareng berasal dari kata Khair yang bermakna kebaikan atau kebagusan. Petruk berasal dari kata Fatruk yang berarti meninggalkan. Ada yang berpendapat kata petruk diadaptasi dari kata Fatruk kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf, " Fat-ruk kulla maa siwallaahi" (tinggalkan semua apapun yang selain Allah). Sedangkan Tokoh Bagong diyakini berasal dari kata Bagho yang artinya kejelekan. pendapat lain menyebutkan Bagong berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak, Yakni berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan. Jika Punakawan ini disusun secara berurutan Semar, Gareng, Petruk, Bagong secara harfiah bermkna " Berangkatkan menuju kebaikan, maka kamu akan meninggalkan kejelekan". 

Pada awal kemunculannya, kesenian wayang kayu lahir dan berkembang di wilayah pesisir utara pulau Jawa. pada awal abad ke-17 dimana kerajaan Islam tertua di pulau jawa tumbuh disana, dengan menggunakan bahasa sunda dalam dialognya. Menurut legenda yang berkembang, sunan kudus menggunakan  bentuk wayang golek awal ini untuk menyebarkan islam dimasyarakat. Wayang golek tersebut lalu diubah menjadi wayang kulit oleh Sunan Kalijaga karena tidak sesuai dengan syariat islam. Mengingat cerita itu sarat dengan unsur Hindu-Budha, maka Sunan Kalijaga pun berusaha memasukkan unsur-unsur islam dalam pewayangan. Ajaran-ajaran dan jiwa keislaman itu dimasukan sedikit demi sedikit. Bahkan lakon atau kisah dalam pewayangan tetap mengambil cerita Pandawa dan Kurawa yang mengandung ajaran kebaikan dan keburukan.

Kondisi inilah yang mendorong para walisongo merombak bentuk wayang kulit dan memasukkan unsur baru berupa ajaran islam dengan membuat "Pakem Pewayangan baru" yang bernafaskan Islam, seperti cerita Jimat Kalimasodo, atau dengan cara menyelipkan ajaran islam dalam pakem pewayangan yang asli. Dengan demikian masyarakat yang menonton wayang dapat menerima langsung ajaran islam dengan sukarela dan mudah.

Akhir-akhir ini wayang sempat diperbincangkan antara pro dan kontra tentang kesenian wayang tersebut. Jika kita melihat histori kesenian wayang, wayang adalah salah satu media dakwah penyebaran agama islam terutama di tanah jawa. Maka wayang adalah salah satu kesenian yang memiliki sejarah sendiri bagi kita. Saat ini tugas kita adalah untuk tetap melestarikan kesenian wayang yang menjadi kesenian masyarakat jawa agar tidak hilang. Saat ini kesenian wayang cukup sulit untuk ditemukan karena rendahnya minat pemuda kita untuk belajar kesenian tradisional. Tanpa kita sadari wayang bisa saja musnah jika tidak ada lagi yang melestarikan kesenian wayang tersebut.

Itulah kesenian wayang yang berasal dari Indonesia. Banyaknya peranan wayang dalam sejarah bangsa Indonesia terutama pada penyebaran agama seperti hindu, buddha dan juga islam. Semoga kita dapat terus melestarikan kesenian nenek moyang kita. Sehingga anak cucu tetap bisa menyaksikan wayang sebagai peninggalan nenek moyang kita pada masa lampau.

Sumber Referensi       : academia.edu

  detik.com

  id.wikipedia.org

                                      kompas.com

  merdeka.com

  republika.co.id

 

KESAKTIAN EDDY TANSIL BERHASIL MENGHILANG TANPA JEJAK!!!

 


Banyak dari kita yang pasti mengetahui tentang Eddy Tansil, seorang koruptor nomor satu pada masanya. Namun setelah kabur dari LP Cipinang pada tahun 1996, Eddy Tansil hingga saat ini tidak berhasil ditangkap kembali. Eddy Tansil sudah terbukti merugikan negara sebesar 565 juta dolar Amerika atau sekirtar 1,5 triliun rupiah saat itu. Mantan Juragan becak ini bahkan disemati dengan gelar sensasional tapi memalukan yakni Koruptor Legendaris Indonesia. Dia kabur bukan ketika hendak diperiksa atau diadili, melainkan setelah berada di dalam tahanan.

Ia bukanlah seorang pejabat negara seperti koruptor pada umumnya. Namun dia telah merugikan negara, sehingga pemerintah menangkapnya karena terbukti bersalah. Dia adalah koruptor Indonesia yang berhasil melarikan diri dari penjara Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta. Dia kabur saat tengah menjalani hukuman 20 tahun penjara karena terbukti menggelapkan uang sebesar 565 juta dolar Amerika (sekitar 1,5 triliun rupiah dengan kurs saat itu) yang didapatnya melalui kredit Bank Bapindo melalui grup perusahaan Golden Key Group.

Tidak banyak catatan soal masa-lalu Eddy Tansil. Menurut Sam Setya Utama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008:400), Eddy Tansil lahir pada 1948 di Makassar. Pada paspornya tertulis nama Tan Eddy Tansil alias Tan Tju Fuan, kelahiran Ujungpandang, 2 Februari 1934. Tapi semua koran mengutip: Eddy Tansil, terlahir Tan Tjoe Hong, 2 Februari 1953

Pada tahun 1970 ia mempunyai perusahaan becak, lalu sesudah becak dilarang, ia menjadi agen motor Kawasaki namun tidak bisa bersaing dengan Yamaha dan Honda. Kemudian  pada tahun 1980an, Eddy terlibat usaha perakitan sepeda motor di Tambun, Bekasi. Nama usahanya adalah Tunas Bekasi Motor Company (TBMC). Perusahaan itu bergerak di bidang perakitan sepeda motor Binter dan Bajaj. Belakangan pabrik yang di Tambun dimiliki Salim Group yang saat itu memiliki BCA. Binter sendiri adalah singkatan dari Bintang Terang. (Soebronto Laras, Meretas Dunia Automotif Indonesia (2005:152)

Selain bisnis motor, Eddy Tansil juga memiliki bisnis bir. Pada Tahun 1983, dia mendirikan PT Rimba Subur Sejahtera yang memproduksi Becks Beer yang disebut Bir Kunci di Indonesia. Partnernya adalah pensiunan jenderal bernama Koesno Achzan Jein. Bir itu tidak dijual di Indonesia, produksi birnya itu dikirimkan ke Fujian, Tiongkok. Bisnis bir itu berhasil menambah pundi-pundi uang Edy Tansil. Saking kuatnya pengaruh bir miliknya itu, ia bahkan sampai disebut Bapak Bir Fujian.

Eddy Tansil kemudian membangun PT Golden Key Group (GKG), perusahaan yang bergerak di bidang petrokimia. Perusahaan itu pun mengajukan kredit ke Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Karena bisnisnya terlihat menjanjikan, akhirnya kredit itu disetujui. Kredit yang mulai diberikan pada tahun 1991 dengan cara ilegal itu, telah membengkak sampai Rp 1,5 triliun pada tahun 1994. Dalam memperoleh kredit ini, Eddy Tansil sempat memanfaatkan katebeletje atau surat sakti yang ditulis Sudomo. (Kees Bertens dalam buku Pengantar Etika Bisnis (2000:220).

Kasus Eddy Tansil kemudian mulai bergulir sejak awal Februari 1994. Ahmad Arnold Baramuli, anggota Komisi VII DPR-RI, mempertanyakan soal pinjaman Eddy Tansil di bank pemerintah yang macet. Baramuli menyatakan ada yang salah dalam prosedur penyaluran kredit itu. Eddy Tansil saat itu berhasil memperoleh kredit ratusan juta dolar Amerika dari Bapindo. (Benny Setiono, Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2008:1063).

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pun akhirnya menjatuhkan vonis bersalah dan menghukum kepada Eddy Tansil dengan hukuman 20 tahun penjara, denda Rp 30 juta serta membayar uang pengganti Rp 500 miliar. Ia juga dihukum membayar kerugian negara sebesar 1,3 triliun rupiah. Eddy Tansil kemudian ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang. Selama satu setengah tahun berada dalam kurungan, Eddy Tansil beberapa kali keluar dari LP Cipinang.

Setelah empat kali keluar penjara, dalam izin keluar yang kelima, pada 4 Mei 1996 Eddy Tansil berhasil kabur. Setelah beberapa waktu lamanya mendekam di LP Cipinang, ia akhirnya melarikan diri bersama keluarganya. Dikatakan, Eddy menyiapkan sebuah mobil Suzuki Carry untuk menyelundupkannya keluar dari penjara. Kaburnya Eddy Tansil juga diduga lantaran adanya kerja sama dengan para penjaga pintu LP Cipinang yang tak memeriksa mobil Carry tersebut saat keluar dari LP Cipinang.

Para penjaga pintu tak memeriksa mobil tersebut karena memercayai komandan jaga bahwa mobil tersebut aman dan tak perlu diperiksa. Dugaan ini membuat sekitar 20-an petugas penjara Cipinang diperiksa atas dasar kecurigaan telah membantu Eddy Tansil melarikan diri. Setelah kaburnya Eddy, Kepala LP Cipinang kemudian dibebastugaskan. Eddy Tansil Tansil dan keluarga kemudian berpindah-pindah negara untuk menghindari kejaran aparat penengak hukum Indonesia yang semakin kalap untuk menangkap.

Pada 1999, sebuah Lembaga swadaya masyarakat (LSM) pengawas anti-korupsi, Gempita, memberitakan bahwa Eddy Tansil tengah menjalankan bisnis pabrik air di bawah lisensi perusahaan bir Jerman, Becks Beer Company, di kota Pu Tian, China. Keputusan untuk kembali melanjutkan pencariaan koruptor nomor satu di Indonesia saat itu, didasari adanya bukti dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang menunjukkan bahwa Eddy Tansil telah melakukan transfer sejumlah uang ke Indonesia satu tahun sebelumnya. Pada akhir 2013, Kejaksaan Agung mengungkapkan bahwa keberadaan Eddy Tansil sudah terlacak di China sejak 2011 dan kemudian mengajukan permintaan ekstradisi kepada pemerintah China. Tim Pemburu Koruptor (TPK), sebuah tim gabungan dari Kejaksaan Agung, Departemen Hukum dan HAM, dan Polri telah menyatakan akan segera memburu Eddy Tansil. Namun hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai ekstradisi dan penangkapan yang dilakukan oleh TPK.

Itulah kisah hilangnya koruptor nomor satu di Indonesia yang hilang sampai sekarang. Kasus pelarian Eddy turut mengungkap betapa lemahnya integritas aparat pemerintah ketika berhadapan dengan koruptor. Walaupun telah 26 tahun berlalu, buronan nomor satu tersebut masih dapat menghirup udara bebas. Padahal kerugian negara senilai 565 juta dolar Amerika, jika dikonversikan saat ini bisa mencapai 8 triliun rupiah. Banyaknya aparat yang masih bisa disuap, membuat negara kita seakan kebal hukum bagi orang-orang kaya. Hukum layaknya pisau yang tajam ke bawah mencekik rakyat miskin, sedangkan yang kaya dapat dengan mudahnya bermain dengan hukum. Dari kisah kaburnya Eddy Tansil, juga menjadi citra buruk bagi aparat penegak hukum di  Indonesia.  Selain itu, lemahnya pengawasan terhadap tersangka korupsi seakan menjadi citra buruk bangsa ini.

Sumber Referensi :     bogoronline.com

makassar.tribunnews.com

nasional.kompas.com

news.detik.com

tirto.id

PABLO ESCOBAR RAJA KOKAIN KOLOMBIA!!! GEMBONG NARKOBA TERKAYA DIDUNIA!!!

Saat itu, Chili adalah salah satu produsen utama kokain yang memasok kokain ke Amerika Serikat. Namun pada tahun 1973, Augusto Pinochet menggulingkan dan mengakhiri pemerintahan sipil Presiden Salvador Allende. Pinochet yang berkuasa sebagai diktator di Chili kemudian memberangus semua produksi kokain di negaranya. Karena perintahnya, sekitar 33 lokasi ditutup dan sekitar 350 orang pengedar ditangkap. Pada waktu yang sama, permintaan pasokan kokain justru makin meningkat di Amerika Serikat. Di tengah situasi itulah Pablo Escobar mengambil kesempatan untuk menjadi pemasok kokain di Negeri Paman Sam.

Sosoknya sangat kontroversial, Selain sebagai bandar narkotik, namanya terkenal di tengah masyarakat miskin Kolombia bahkan menganggapnya sebagai pahlawan. Pablo Emilio Escobar Gaviria lahir pada 1 Desember 1949 di sebuah pedesaan bernama Rionegro. Ibunya adalah seorang guru sekolah dasar, dan ayahnya adalah seorang petani. Di masa remaja, Escobar menjadi penjual rokok ilegal, pencuri kendaraan bermotor, hingga penjual tiket lotre palsu.

Pada tahun 1970an, kota Medellin mulai menjadi tempat para sindikat kejahatan terorganisir yang menghasilkan banyak uang dari penyelundupan berbagai jenis barang termasuk narkotika. Narkotika di kota Medellin saat itu belum menjadi barang utama dan umum di Kolombia. Karena sebelum tahun 1973 Chili masih menjadi pemasok kokain, sedangkan Kolombia berperan sebagai penghubung ke Amerika Serikat. Produksi kokain baru beralih ke Medellin pada tahun 1973, setelah Jenderal Augusto Pinochet menguasai Chili. Ia mengakhiri bisnis kokain di Chili dan para penyelundup Kolombia mengambil alih produksi kokain ke Kolombia khususnya Medellin.

Melimpahnya daun koka di hutan-hutan Kolombia, membuat Kartel Medellin bisa meningkatkan produksi kokain dengan cepat. Pablo Escobar yang ikut ambil bagian, langsung melejit sejak terjun ke bisnis kokain. Escobar mulai mendistribusikan bubuk kokain sendiri, serta membangun rute penyelundupan pertama ke Amerika Serikat pada tahun 1975. Beberapa tahun kemudian, Escobar yang menguasai kartel Medellin ini telah mampu mengirimkan 70 hingga 80 ton kokain per bulan dan jumlahnya semakin berlipat ganda. Kekayaannya terus berlipat, Kartelnya bisa meraup 420 juta dollar AS per minggu atau 22 miliar dollar AS per tahunnya.

Perjanjian ekstradisi kemudian ditandatangani pada tahun 1982, bahwa setiap orang Kolombia yang terbukti melanggar hukum Amerika Serikat bisa ditangkap dan diproses secara hukum di Amerika Serikat. Melihat potensi bahaya bagi bisnisnya, Escobar mengajukan diri menjadi anggota parlemen Kolombia dan terpilih pada 14 Maret 1982. Escobar berusaha masuk ke parlemen untuk menghapus perjanjian ekstradisi. Setelah terpilih, Escobar mulai membangun fasilitas yang dibutuhkan masyarakat seperti rumah ibadah, klinik, fasilitas olahraga, dan infrastruktur di pemukiman penduduk. Pekerjaan barunya itu membuat Escobar menjadi dekat dengan masyarakat miskin yang secara langsung merasakan manfaatnya. Akan tetapi, bagi pemerintah Kolombia dan AS, Escobar tetaplah gembong kokain yang harus ditangkap.

Laporan dari Boston Globe menyebut 600 polisi meregang nyawa di tangan anak buah Escobar. Belum lagi keterlibatannya dalam pembunuhan calon presiden Luis Carlos Galan yang difavoritkan menang dalam pemilu Kolombia tahun 1990 dan serangkaian aksi lainnya. Galan adalah masalah besar bagi Escobar karena misi utamanya memberantas perdagangan narkotika. Dalam kampanye, Galan bahkan berani menjanjikan untuk mengembalikan perjanjian ekstradisi jika menjadi presiden. Namun dalam sebuah kampanye publik pada 18 Agustus 1989, ia ditembak mati. Escobar juga disebut-sebut turut mendukung gerakan kelompok gerilyawan sayap kiri Kolombia bernama M-19 saat menyerbu Mahkamah Agung sebagai jawaban atas konstitusi perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat dan membunuh setengah dari seluruh hakim.

Escobar akhirnya semakin banyak melakukan pembunuhan dan penculikan terhadap para penegak hukum yang menolaknya. Pada tahun 1987 anak buah Escobar telah meledakkan sekitar 3000 mobil dengan bom, sekitar 22 ribu orang terbunuh dalam rangkaian insiden itu. Mahkamah Agung Kolombia tidak berdaya dan akhirnya mencabut perjanjian ekstradisi dengan AS.

Pablo Escobar semakin besar lewat penjualan kokain karena ia juga menyuap para jajaran pejabat, hakim, dan politisi. Ia juga turut terlibat dalam kematian ratusan orang termasuk warga sipil, polisi dan pejabat negara. Tingkat pembunuhan di Kolombia meningkat karena Escobar yang menggelontorkan uang kepada pembunuh bayaran untuk menumpas polisi. Selain dengan pemerintah, Salah satu rivalitas dengan kartel lain di dalam negeri juga kian meruncing. Baku tembak antarkartel kian kerap terjadi dan menimbulkan banyak korban jiwa. Jumlah pembunuhan tiap tahun naik dan Kolombia sempat tercatat sebagai negara dengan jumlah pembunuhan terbanyak di dunia.

Pada pertengahan tahun 1991, operasi pemerintah Kolombia terhadap Escobar semakin serius. Dengan dibantu Amerika Serikat di bawah pasukan khusus, memaksa raja kokain dunia ini menyerah dengan negosiasi. Ia akan menyerahkan diri namun di penjara yang didesainnya sendiri di dataran tinggi dekat Medellin. Penjara itu bernama La Caterdal yang  bergelimang fasilitas mewah. Dibanding penjara, La Catedral lebih cocok disebut sebagai tempat hiburan karena penuh kemewahan. Escobar menyerahkan diri adalah untuk menghindari penjara di Amerika.

Pada pertengahan 1992, pemerintah Kolombia mendapati bukti bahwa Escobar masih menjalankan bisnis kokain di balik jerujinya. Presiden langsung berencana memindahkan Escobar ke penjara umum. Presiden Gaviria memerintahkan tentara pimpinan Jenderal Gustavo Padro Ariza untuk memindahkan Escobar dari La Catedral. Sebanyak 4000 tentara dikerahkan untuk mengepung penjara pribadi Escobar tersebut pada 22 Juli 1992. Sandoval yang difungsikan sebagai negosiator justru disandera oleh pasukan pribadi Escobar yang bersenjata lengkap. Penyanderaan Sandoval yang juga Wakil Menteri Kehakiman Kolombia menyulut perintah Jenderal Ariza untuk menyerbu La Catedral. Sebanyak 250 pasukan elit, 4 helikopter, dan 7 anjing pelacak menerobos masuk dan berhasil melumpuhkan pasukan Escobar, namun Raja Kokain itu berhasil melarikan diri lewat terowongan rahasia.

Dilaporkan Los Angeles Times, kelompok ini bernama Los Pepes yang melakukan serangan ke anggota kartel Medellin dengan serangan berdarah dan membabi buta. Belasan dan bahkan lebih rekan Escobar yang meliputi pengacara dan kerabat ikut terbunuh. Dan sejumlah besar properti dari kartel Medellin dihancurkan. Setelah Escobar melarikan diri, Presiden Gaviria mengeluarkan perintah untuk menangkap Raja Kokain itu hidup atau mati. Tak ada lagi negosiasi, walaupun saat itu muncul kekhawatiran baru soal teror bom dari Escobar.

Pelarian Escobar berlangsung selama 16 bulan hingga akhirnya tempat persembunyiannya tercium kepolisian dan pasukan elit Kolombia yang dibantu Drugs Enforcement Administration (DEA), badan antinarkotika Amerika Serikat. Di bawah pimpinan Brigadir Hugo Martinez, tim tersebut mengawasi dan melacak transmisi telepon radio dan menemukannya bersembunyi di Los Olivio, sebuah kampung kelas menengah di Medellin. Baku tembak terjadi saat pasukan mengepung tempat persembunyiannya yang berisi Escobar dan pengawal pribadinya Alvaro de Jesus Agudelo.

Dalam kronologi penangkapan yang dirilis U.S Drug Enforcement Administration, kedua buronan ini berusaha melarikan diri dengan berjalan di atap rumah, di saat itulah keduanya ditembak polisi Kolombia. Dilaporkan Escobar mengalami luka tembakan di kaki dan tubuh bagian atas, dan yang paling fatal adalah tembakan di telinga. Kontroversi yang meliputi penembakan mati Escobar adalah tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang melepaskan tembakan hingga tepat di telinganya atau proses itu dilakukan setelah ia terjatuh. Beberapa kerabat Escobar percaya ia mengakhiri hidupnya sendiri dengan menembakkan diri tepat di telinga karena anak istrinya di sandera. Dalam buku Kenneth Robert berjudul Zero Hour: Killing of the Cocaine King memuat keterangan dari saudara Pablito, Roberto Escobar dan Fernando Sánchez Arellano yang menyebut bahwa raja kokain pernah mengutarakan bahwa ia akan menembak dirinya sendiri melalui telinga.

Tanggal 2 Desember 1993, menjadi akhir hidup raja kokain dunia asal Rionegro yang pada pada masa hidupnya memasok 80 persen kokain dunia, dan menyelundupkan 15 ton ke Amerika Serikat. Escobar telah menjadi ikon layaknya sosok Robin Hood bagi warga Medellin terutamanya kaum miskin kota banyak yang meratapi kematiannya. Buku Virginia Vallejo berjudul Loving Pablo Hating Escobar menyebut pemakamannya dihadiri oleh 25.000 orang.

Itulah peristiwa kematian seorang gembong narkotika yang merupakan raja kokain di Kolombia. Ia berhasil menyuap banyak politisi, polisi, dan orang-orang penting di Kolombia sehingga mampu menjalankan bisnisnya. Pendapatannya dari kokain yang mencapai angka 420 juta dolar per minggu, membuat majalah Forbes memasukkan nama Pablo Escobar dalam daftar orang terkaya di dunia. bahkan ia masuk daftar orang terkaya selama 7 tahun berturut-turut. Escobar sering membagi-bagikan uang ke masyarakat miskin agar mendapat dukungan memperkuat bisnisnya. Namun karena bisnisnya adalah sebuah kejahatan, maka ia tidak bisa tenang menjalankannya. Walaupun ia banyak menyuap pejabat negara, namun jeratan hukum akan selalu membayanginya.

 

Sumber Referensi : id.wikipedia.org

internasional.kompas.com

tirto.id

voi.id


PIETER ERBERVELD PAHLAWAN BATAVIA!!! KULIT PUTIH YANG DIBUNUH SECARA SADIS OLEH VOC BELANDA!!!

 


Pemerintahan belanda tidak hanya kejam terhadap pribumi, tetapi juga kepada siapa saja yang berusaha melakukan pemberontakan terhadap kekuasaannya. Kejadian tragis yang dialami oleh orang kulit putih pernah terjadi di Jakarta yang dulu disebut Batavia. Bahkan, mereka membangun monumennya untuk mengatakan bahwa Belanda tidak segan-segan menghukum siapapun yang memberontak.

Salah satu orang kulit yang menjadi korban kekejaman belanda adalah Pieter Erberveld. Pieter Erberveld ditangkap bersama 17 orang pribumi lainnya termasuk Raden Kartadriya. Pieter dikatakan memimpin konspirasi dan sejumlah kekacauan yang bertujuan menentang kekuasaaan VOC. Maka tidak heran jika orang jepang mengatakannya sebagai simbol perlawanan terhadap kolonial, sedangkan orang Batavia menganggapnya sebagai seorang pahlawan. Walaupun ia dianggap sebagai pengkhianat bagi orang belanda seperti yang tertulis dalam monumennya.

Pieter Erberveld adalah seorang keturunan Jerman-Siam yang bekerja di Batavia. Ayah Pieter adalah seorang pengusaha kulit dari kota Elberfeld, Jerman. Sedangkan ibunya konon dari Siam (Thailand). Namun sejarawan Betawi, Alwi Shihab berpendapat bahwa ibu Pieter adalah seorang Jawa. Ayahnya saat itu datang ke Batavia sebagai penyamak kulit. Setelah ayahnya diangkat sebagai anggota Heemraad untuk mengurusi kepemilikan tanah di daerah Ancol, ayahnya kemudian menjadi tuan tanah. Kekayaan ini kemudian diwariskan kepada Pieter.

Pieter Erberveld adalah pemuda yang gigih dan rajin membantu usaha-usaha orang tuanya dalam bidang penyamakan kulit dan pabrik sepatu. Pada tahun 1708, pemerintah VOC menyita ratusan hektare tanah milik keluarga Pieter. Pihak VOC beralasan, tanah Pieter tersebut tidak memiliki akta yang disahkan oleh pejabat VOC. Dikatakan, ketika penyitaan berlangsung banyak kaum pribumi yang memihak kepada Pieter. Tetapi bukan melemah, pemerintah VOC malah lebih garang. Gubernur Joan van Hoorn menambah hukuman Pieter dengan menyuruhnya menyerahkan 3.300 ikat padi.

Bersamaan dengan itu, Pieter semakin mendekat dengan kaum pribumi. Konon, dirinya kemudian menjadi seorang Muslim yang taat. Bahkan masyarakat Betawi memiliki panggilan hormat kepadanya, yaitu Tuan Gusti. Pieter cukup berjasa terhadap penduduk Batavia, yakni memberikan bantuan untuk pembelian senjata, mengkoordinasi serta memberi semangat kepada orang-orang pribumi dalam menentang dan melawan penindasan Belanda dan VOC-nya. Pada awalnya, gerakan Pieter yang berkulit putih tidak pernah dicurigai meski dia sering keluar-masuk benteng VOC. Kesempatan ini dimanfaatkannya sebaik-baiknya untuk memperkuat gerakannya.

Pieter bersahabat dengan Raden Kartadriya, seorang keturunan ningrat dari Banten. Bersama Raden Kartadriya serta beberapa tokoh lainnya seperta Karta Singa, Karta Naya, Sara Pada, Singa Ita, Tumbar, dan lainnya, Pieter mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia untuk membicarakan gerakan mereka melawan kompeni Belanda. Gerakan ini kemudian mendapat dukungan penuh dari rakyat.

Gerakan yang mereka lakukan secara diam-diam hampir mencapai tujuan. Senjata-senjata mereka mulai terkumpul di suatu tempat di luar benteng Belanda. Kartadriya yang datang ke rumah Pieter bersama belasan pengikutnya melaporkan bahwa dia sudah menyiapkan kekuatan 17 ribu orang. Mereka dilengkapi senjata, dan di hari penyerangan pasukan ini akan datang ke Batavia.

Namun seorang mata-mata Belanda melihatnya dan melaporkan gerakan rahasia ini. Adapula yang mengatakan bahwa seorang budaklah yang melaporkannya. sedangkan Versi lain mengatakan, jika Sultan Banten-lah yang membocorkan karena ia khawatir akan pengaruh Pieter dan Kartadriya yang akan merongrong kekuasaannya. Orang itu melaporkan bahwa Pieter Erberveld dan teman-temannya telah mengorganisasi suatu gerakan untuk menentang Belanda dengan merencanakan pemberontakan bersenjata terhadap VOC. Akibat laporan ini, Pieter dituding telah berkhianat, Dia bersama Raden Kartadriya serta beberapa rekan-rekannya ditangkap.

Di dalam tahanan, mereka disiksa secara kejam oleh tentara Belanda. Kemudian mereka diadili di pengadilan buatan kolonial dan akhirnya dijatuhkan vonis hukuman mati. Eksekusi Pieter membuat namanya dikenang sebagai "Pangeran Pecah Kulit". Julukan itu menggambarkan betapa mengerikannya eksekusi yang dilakukan. Kedua tangan dan kaki Pieter diikat dan ditarik oleh empat kuda yang berlari berlawanan arah. Tubuh Pieter terbelah menjadi empat bagian. Tidak hanya sampai disitu, Kepala Erberveld kemudian dipenggal dan ditancapkan ke sebuah tombak. Hal ini dilakukan VOC untuk memberikan efek jera kepada penduduk agar tidak lagi mencoba-coba melakukan perlawanan pada mereka.

Tubuh Elberfeld dimakamkan di suatu sudut di Jalan Pangeran Jayakarta, kemudian didirikan suatu tugu peringatan. Di tugu itu dipajang tengkorak Elberfeld yang ditusuk tombak dan di bawahnya terdapat prasasti. Pada batu itu juga tertulis sembilan baris tulisan berbahasa Belanda. Lalu di bawah tulisan berbahasa Belanda ini, terdapat pula terjemahannya dalam bahasa Jawa. Peringatan itu berbunyi:

Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan atas dihukumnya sang pengkhianat: Pieter Erverbeld. Karena itu dipermaklumkan kepada siapapun, mulai sekarang tidak diperkenankan untuk membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini dan sekitarnya: Batavia, 14 April 1722.”

Dulu, monumen ini dapat dikunjungi di kawasan Jacatraweg yang sekarang menjadi jalan pangeran Jayakarta. saat itu, Monumen Kepala Erberveld masyhur lantaran dilalui jalur trem listrik yang beroperasi pada tahun 1925.  Saat kedatangan Jepang pada tahun 1942, tugu itu dihancurkan namun prasastinya dapat diselamatkan. saat itu, pembongkaran disertai dengan upacara penguburan tengkorak oleh pasukan Jepang. Mereka menganggap Erberveld terlalu banyak menggambarkan sejarah kelam masa kolonial maka dihapuslah sejarah itu. Tetapi surat kabar Pandji Poestaka sempat menyiarkan catatan soal Pieter dengan nada hormat. Saat itu, Jepang memang membenci Belanda, sehingga sosok Pieter bisa “terangkat” meskipun monumennya tetap dihancurkan. Pada tulisan itu, pemerintah Jepang memberikan penghargaan atas sikap Pieter itu.

Sejak tahun 1985, monumen itu dipindahkan ke Museum Prasasti Jakarta, karena tempat monumen Pieter pertama berdiri kini menjadi showroom mobil. Wujud replika monumen ini sama dengan wujud asli yang pernah dipotret pada zaman penjajahan Jepang, sebelum monumen itu dihancurkan. Foto itu pernah ditampilkan dalam Pandji Poestaka tahun XXI, 9/10 Maret 2603 (tahun Showa Jepang atau 1943 Masehi). Terdapat juga tengkorak tiruan, sebagai pengganti tengkorak asli Pieter yang dahulu dipancangkan usai dihukum mati. Tengkorak itu terpajang di besi tajam, semacam mata tombak. Sementara itu masyarakat Betawi pun masih mengenang sosok tersebut bahkan menamakan tempat eksekusi Pieter sebagai nama kampung, yakni Pecah Kulit. Menggambarkan kondisi pecahnya kulit sang pahlawan karena ditarik kuda.

Itulah kisah tentang Pieter Erberveld yang dibunuh secara kejam oleh Belanda karena berusaha melakukan pemberontakan bersama masyarakat pribumi. Walaupun pada akhirnya dieksekusi sebelum berhasil melakukan pemberontakan. Namun Pieter tetap dianggap pahlawan dari Batavia. meski dianggap pahlawan, namun namanya seolah tenggelam di buku-buku sejarah perjuangan bangsa ini. Dari kisah ini kita bisa tahu bahwa Belanda benar-benar kejam terhadap siapa saja yang memberontak. Tidak mengherankan jika banyak rakyat pribumi yang tewas secara tragis. Sisa-sisa kisah tragis itupun masih bisa kita lihat dengan mengunjungi replika monumen yang mirip dengan replika aslinya.

 

Sumber Referensi : betawipos.com

goodnewsfromindonesia.id

id.wikipedia.org

nationalgeographic.grid.id

news.detik.com

voi.id

TIDAK PERNAH TERUNGKAP!!! DALANG PEMBUNUHAN MUNIR!!!

 


Delapan belas tahun hampir berlalu, namun hingga saat ini kematiannya masih menjadi misteri. Hingga kasusnya hampir kadaluarsa, namun dalang sesungguhnya dari pembunuhan berencana tersebut masih belum ditemukan. Menurut Pasal 78 Ayat (1) angka 4 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), hak penuntutan perkara dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup akan kedaluwarsa setelah 18 tahun. Jika kasus tersebut ditutup karena kadaluarsa, maka dalang di balik meninggalnya Munir akan bebas tanpa terjerat hukum.

Munir Said Thalib adalah Pria keturunan Arab yang menjadi pejuang HAM tanpa kenal lelah melawan praktek-praktek penyalahangunaan kekuasaan. Pada tahun 1998, Munir ikut serta mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Kontras adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang hak asasi manusia, terutama penghilangan paksa dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.

Munir pula yang memainkan peran penting dalam membongkar keterlibatan aparat keamanan dalam pelanggaran HAM di Aceh, Papua dan Timor Leste (dulu Timor Timur). Munir juga ikut merumuskan rekomendasi kepada pemerintah untuk membawa para pejabat tinggi yang terlibat dalam pelanggaran HAM di tiga daerah itu ke pengadilan. Selain itu, ia juga menjadi pengacara kasus Marsinah, penasihat hukum kasus hilangnya 24 aktivis di Jakarta pada tahun 1997-1998 dan banyak kasus-kasus lainnya.


Sosok Munir yang pemberani dan tangguh dalam meneriakan kebenaran, membuatnya mendapat berbagai penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Kiprahnya sebagai aktivis HAM membuatnya ia cukup akrab dengan bahaya dan kerap mendapatkan banyak ancaman. Munir pernah mendapat teror bom yang meledak di pekarangan rumahnya. Selain itu, kantor tempatnya bekerja juga pernah diserang oleh beberapa orang tidak dikenal. Setelah menghancurkan perlengkapan kantor, segerombolan orang itu merampas dokumen secara paksa. Dokumen itu terkait dengan pelanggaran HAM yang sedang dikerjakannya. Namun perjuangannya harus terhenti, Munir dinyatakan meninggal pada 7 September 2004 di Pesawat Garuda GA-974 kursi 40-G. Ia tewas dalam penerbangannya menuju Amsterdam untuk melanjutkan studi di Universitas Ultrecht. 

Dua hari sebelum keberangkatan, Munir mendapat telepon dari pilot Garuda, Pollycarpus yang menanyakan jadwal keberangkatan Munir ke Amsterdam. Telepon itu tidak diangkat oleh Munir langsung, melainkan istrinya bernama Suciwati. Pollycarpus saat itu menanyakan jadwal keberangkatan Munir, dan ia mengatakan akan pergi bersama. Diketahui bahwa saat Pollycarpus membuat dokumen palsu tentang penugasannya, agar dapat berangkat satu pesawat dengan Munir.

Pada saat hari keberangkatan, Sekitar jam 9 malam Munir bersiap untuk terbang ke Amsterdam. Tetapi sebelum itu, Pollycarpus sempat mendatangi Munir dan bertukar tiket pesawat. Munir dan Pollycarpus bertukar tiket yang artinya mereka bertukar tempat duduk di pesawat. Pesawat Garuda GA-794 kemudian transit di Bandara Changi Singapura. Disana, Munir masuk kedalam sebuah kafe bersama Pollycarpus dan satu temannya. Di dalam kafe, Pollycarpus memberikan segelas kopi kepada Munir dan diminumnya. Beberapa menit sebelum kembali ke pesawat, Munir sempat mengirim pesan singkat kepada Suciwati bahwa perutnya terasa sakit.

Walaupun sakit, Munir terus melanjutkan perjalanan sedangkan Pollycarpus tetap di Singapura. Sebelum pesawat mengudara, Munir meminta obat maag kepada pramugari. Munir diminta menunggu karena pesawat akan tinggal landas. Kira-kira 15 menit kemudian, pramugari membangunkan Munir yang saat itu tidur. Saat itu, Munir yang ditanya soal obat maag yang diminta menjawab belum menerima. Pramugari tersebut kemudian menawari makanan dan ditolak Munir meminta teh hangat. Di dalam pesawat, sakit perutnya semakin terasa. Munir bolak-balik ke toilet yang membuat Kondisinya semakin memburuk, Munir beberapa kali  mengalami muntaber. Denyut nadi Munir juga melemah, bahkan Munir sulit untuk berbicara saat itu. Munir kemudian sempat mendapatkan sejumlah obat untuk meredakan sakit perutnya.

Munir lalu kembali ke toilet, setelah 10 menit berlalu namun Munir belum  juga keluar. Temannya lantas datang menghampiri dan menemukan Munir di dalam toilet tidak bisa berdiri. Munir Kembali ke tempat duduk, dia kemudian diberikan obat penenang yang membuatnya bisa beristirahat. saat itu Munir masih sadar, dan sempat mengacungkan jempol kepada pramugari pesawat yang minta izin untuk sholat dan menyiapkan sarapan. Ketika pramugari pesawat kembali untuk mengecek, Munir tidak lagi bernyawa dengan air liur yang keluar dari mulutnya dan Telapak tangan Munir pun membiru. Sesampainya di Amsterdam, jasad Munir kemudian diperiksa oleh Netherlands Forensik Institute (NFI).

Berdasarkan otopsi yang dilakukan otoritas Belanda, Munir dinyatakan meninggal karena diracun. Hal tersebut diketahui setelah senyawa arsenik ditemukan di dalam tubuhnya usai autopsi dilakukan, dilansir dari etan.org. Senyawa itu diketahui terdapat di dalam air seni, darah, dan jantung yang jumlahnya melebihi kandungan normal.

Kematian Munir kemudian menyeret berbagai pihak dari maskapai Garuda Indonesia. Dalam kasus ini, tiga orang sudah diadili terkait dengan pembunuhan Munir. Tetapi orang-orang yang diduga kuat sebagai pihak-pihak yang sesungguhnya bertanggung jawab atas pembunuhan Munir masih belum diproses secara hukum. Tiga orang yang diadili adalah pegawai Garuda Indonesia. Pollycarpus kemudian dinyatakan sebagai pelaku pembunuhan dengan memasukkan racun arsenik pada tubuh Munir. pada dakwaan jaksa, Pollycarpus disebut melakukan pembunuhan berencana bersama mantan dua kru Garuda Indonesia, Yeti Susmiarti dan Oedi Irianto. Sementara itu, Indra Setiawan diduga turut membantu Pollycarpus menjalankan aksinya. Meski demikian, banyak pihak masih meragukan bahwa Pollycarpus adalah aktor utamanya. Sejumlah fakta persidangan juga menyebut ada dugaan keterlibatan petinggi Badan Intelijen Negara (BIN) dalam kasus pembunuhan ini.

Pollycarpus dijatuhi hukuman penjara selama 14 tahun, namun dinyatakan tidak terbukti telah menghilangkan nyawa Munir di tingkat Mahkamah Agung. Majelis hakim tetap menyatakan Pollycarpus bersalah karena menggunakan surat dokumen palsu untuk mengklaim dirinya adalah kru tambahan Garuda Indonesia. Ia kemudian menumpang pesawat yang ditumpangi Munir ketika transit di Singapura. Ia sempat dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Namun dalam prosesnya, keputusan hakim selalu berubah-ubah. Setelah memohon peninjauan kembali, hukumannya menjadi 14 tahun penjara. Pada November 2014, Pollycarpus telah  bebas bersyarat dan dinyatakan bebas murni pada Agustus 2018. Pada tahun 2020, Pollycarpus dinyatakan meninggal dunia karena terpapar Covid-19.

Beredar dugaan bahwa pemerintah, melalui Badan Intelijen Negara (BIN) adalah mastermind di balik pembunuhan Munir. Komnas HAM menyebut adanya cacat-cacat dari investigasi kepolisian, penuntutan, dan persidangan Muchdi Purwoprandjono. Muchdi adalah mantan deputi kepala BIN yang bebas dari dakwaan membantu pembunuhan Munir pada 2008. Jika ditelusuri ke belakang, Muchdi pernah dicopot dari jabatannya di Kopassus atas dugaan terlibat penghilangan mahasiswa pada tahun 1996, kasus yang disuarakan dengan sangat lantang oleh Munir semasa hidup. Namun mantan Deputi V BIN Mayjen Purn Muchdi Purwoprandjono yang juga menjadi terdakwa dalam kasus ini divonis bebas dari segala dakwaan.

Pemerintah selalu berjanji akan menyelesaikan kasus Munir. Tetapi sampai saat ini, pemerintah belum mempublikasikan laporan Tim Pencari Fakta Kasus Meninggalnya Munir (TPF) sejak 2005 lalu. Hasil laporan Tim Pencari Fakta (TPF) saat ini tidak diketahui di mana dokumen terkait kasus kematian Munir berada.  Hal ini terbongkar dalam sidang sengketa informasi publik yang digugat Kontras ke Komisi Informasi Pusat (KIP).

Kontras menggugat pemerintah agar membuka dokumen hasil pemeriksaan TPF kasus pembunuhan Munir. Saat itu, KIP memutuskan agar Kementerian Sekretariat Negara membuka dokumen itu. Namun, Kementerian Sekretariat Negara bersikukuh tidak memiliki dokumen tersebut. Asisten Deputi Hubungan Masyarakat Kementerian Sekretariat Negara memastikan Kemensetneg tidak memiliki dokumen yang diminta. Hal itu juga sudah disampaikan pada persidangan di KIP, bahwa Kemensetneg tidak memiliki, menguasai, dan mengetahui keberadaan dokumen Laporan Akhir Tim Pencari Fakta Kasus Meninggalnya Munir (Laporan TPF).

Kejaksaan Agung (Kejagung) juga turut mencari keberadaan dokumen hasil investigasi TPF pembunuhan Munir. Namun Sampai saat ini, dokumen belum ditemukan dan pencarian masih terus dilakukan. Ombudsman menduga, hilangnya dokumen tersebut hingga hari ini adalah faktor kelalaian pemerintah sehingga penyelidikan dan penuntasan kasus terhambat dan tidak transparan terhadap masyarakat.

Itulah kisah kematian Munir, seorang aktivis yang selalu melawan ketidakadilan. Sejumlah misteri masih menyelimuti kematiannya, terutama motif dan dalang pembunuhan tersebut. Terlebih lagi saat dikatakan bahwa dokumen laporan TPF juga dikatakan menghilang. Hal ini membuat upaya pencarian dalang sesungguhnya menjadi semakin sulit. Jika tahun ini kasus tersebut belum terungkap, maka kasus pembunuhan Munir akan ditutup karena telah mencapai 18 tahun. Hingga saat ini kejadian seperti kasus Munir masih sering terjadi dengan penyalahgunaan kekuasaan. Jika kasus Munir dapat terungkap, maka kasus ini tidak lagi menjadi misteri. Seakan kasus ini selalu ditutupi sehingga tidak kunjung menemukan titik terang.

Karena kehidupan dan kegigihannya memperjuangkan HAM, Munir pernah mendapat penghargaan “The Rights Livelihood Award”, dari pemerintah Swedia pada tahun 2000. Semasa hidupnya, ia sering melakukan advokasi korban kekerasan dan pelanggaran HAM lewat berbagai program pencerahan. Berkat keberanian atas kerja-kerja kemanusiaanya pula, nama Munir diabadikan menjadi sebuah museum di Malang, Jawa Timur. Museum Hak Asasi Manusia Omah Munir ini memiliki misi untuk memberikan pendidikan tentang HAM bagi masyarakat, terutama generasi muda. Ini merupakan museum HAM pertama kali di Asia Tenggara.

 

Sumber Referensi : bekasi.pikiran-rakyat.com

idntimes.com

liputan6.com

nasional.kompas.com

nasional.tempo.co

tirto.id