Rabu, 05 Januari 2022

(EP 07) BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISTILAH WALI SONGO


Istilah wali berasal dari bahasa Arab, artinya adalah tercinta, pembantu, penolong, dan pemimpin. Bentuk pluralnya adalah auliya. Al-Quran menyifati para wali Allah sebagai orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Tidak ada kekhwatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Allah berfirman: Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Q.S. Yunus : 62-64)

Dalam hadits disebutkan bahwa wali Allah adalah orang-orang yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan amalan wajib dan menambahnya dengan amalan sunnah hingga Allah mencintai mereka. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Allah berkalam, Barangsiapa yang memusuhi waliku berarti telah mengumumkan perang terhadap-Ku, atau Aku menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan apa yang telah Aku wajibkan atasnya dan hamba-Ku tetap terus  mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, niscaya Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, dan menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, dan menjadi tangannya yang dengannya dia memukul, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan. Dan sungguh jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan kepadanya. Dan sungguh jika dia memohon perlindungan-Ku niscaya Aku melindunginya. Dan Aku membimbingnya kepada sesuatu, maka Akulah pelaksananya. Jika hamba-Ku yang beriman selalu dalam bimbingan-Ku, ia membenci kematian dan Akupun membenci keburukan maut yang pasti menjemputnya.

Hadits shahih ini yang paling jelas menyebutkan sifat-sifat para wali Allah. Di antaranya adalah barangsiapa yang menyatakan permusuhan kepada wali Allah maka sama saja dirinya telah menyatakan perang kepada Allah, dan Allah pun juga menyatakan perang terhadapnya.

Sedangkan dalam pemahaman yang berkembang dalam ‘urf (tradisi) di Jawa, perkataan wali menjadi sebutan bagi orang yang dianggap keramat, yaitu orang suci yang memiliki karomah dalam bentuk kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman dan bertaqwa. Meskipun sering dirancukan dengan sakti mandraguna dalam pengertian ajaran Hindu Syiwo dan Buddha.

Dalam kaitan ini, ditemuilah istilah Wali Songo atau sembilan Waliyullah. Mereka adalah para penyebar Islam terpenting di tanah Jawa pada awal abad ke-15 dan ke-16. Mereka memiliki kelebihan daripada masyrakat mayoritas yang waktu itu masih menganut agama lama. Oleh karena itu, para Auliya dipandang sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah karena telah menegakkan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan serta mengerjakan amalan-amalan yang sunnah, sehingga mendapatkan berbagai karunia berupa kejadian luar biasa yang disebut karomah.

Mereka adalah symbol perintis jalan bagi  penyebaran Islam di nusantara, khususnya di Jawa. Tentu saja banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dengan dakwah ilallah secara langsung maupun seruan dalam jihad fisabilillah hingga mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, dan juga pengaruhnya terhadap pembentukan peradaban Islam di masyarakat, membuat para wali songo ini lebih sering disebut daripada yang lain.

Wali Songo adalah pembaharu masyrakat pada masanya. Pengaruh mereka terasa dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari perniagaan dagang, pelayaran nelayan dan perikanan, bercocok tanam di persawahan maupun perkebunan, pengobatan dalam kesehatan jasmani dan rohani, kebudayaan, kesenian, pendidikan, kemasyarakatan, hingga ke dalam masalah aqidah , politik, militer, hukum, dan pemerintahan di Kerajaan-Kerajaan Islam.

Sebagian penulis berpendapat bahwa istilah Wali Songo berasal dari bahasa Arab, yaitu wali (wali) dan tsana (mulia), sehingga berarti para wali yang mulia. Sebagian lagi berpendapat istilah wali Songo berasal dari bahasa Jawa, yaitu wali (wali) dan sana (baca: sono), yaitu tempat. Ada pula yang menyebut dengan wali Songo yang berarti sembilan wali atau bahkan ada yang menyatakan Wali Sangha.

Dari berbagai pendapat tersebut, yang paling kuat adalah berdasarkan istilah dan fakta sejarah, yaitu bahwa Wali Songo adalah sebuah dewan dakwah, dewan mubaligh, organisasi ulama dalam bentuk lembaga dakwah para wali yang berjumlah sembilan. Setiap ada yang wafat atau meninggalkan Jawa, maka diangkat wali lain sebagai gantinya sehingga tetap berjumlah sembilan. Berikut ini pembahasan tentang istilah wali songo.

1.     Wali Songo bermakna wali yang mulia (tsana’)

Menurut pendapat Prof. K.H. Moh. Adnan bahwa kata sanga merupakan perubahan atau kerancuan dalam mengucapkan kata sana yang menurutnya tsana’. Kata tsana’ berasal dari bahasa Arab yang berarti mulia yang semakna dengan mahmud yang berarti terpuji. Sehingga istilah Wali Songo menurutnya berasal dari kata Wali Tsana.

2.     Wali Songo merupakan pemimpin di suatu tempat (Sana)

Walaupun banyak hal yang harus dikritisi, istilah wali tsana yang dikemukakan Prof. K.H. Moh. Adnan ini diperkuat oleh R. Tanojo secara asal istilah, sedangkan arti dari kata sana itu berbeda. Menurut R. Tanojo arti sana bukan berasal dari bahasa Arab yang berarti mulia. Akan tetapi sana (sono) berarti suatu tempat, daerah atau wilayah. Dalam pengertian ini, Wali Sana menurut R. Tanojo berarti wali yang berkuasa di suatu tempat, penguasa daerah atau penguasa wilayah. (Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa)

3.     Wali Songo adalah nama organisasi dakwah

Pendapat lain menyatakan bahwa Wali Songo sebenarnya bukanlah berartri wali yang jumlah keseluruhannya hanya sembilan (songo) saja sebagaimana yang dikenal masyrakat Jawa. Akan tetapi Wali Songo adalah sebuah nama bagi organisasi dakwah, dewan dakwah, dewan mubaligh, dewan ulama, majelis para wali, atau lembaga dakwah. Apabila salah seorang dari anggota dewan atau majelis tersebut pergi atau wafat, maka akan diganti noleh  wali yang lain. Oleh karenanya, jumlah wali dalam dewan ulama ini tetap sembilan dalam setiap angkatan. (H.M. Soenanto, Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Islam)

Pendapat tersebut sebagaimana pandangan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid, M.A. bahwa wali songo merupakan sebuah nama suatu lembaga bagi dewan dakwah atau dewan ulama. Sedangkan kata sembilan diidentifikasikan sebagai struktur kepemimpinan dalam lembaga dakwah tersebut.


Dengan demikian, menurut pendapat penulis bahwa istilah Wali Songo yang lebih dekat dengan fakta sejarah adalah berasal dari istilah Wali Songo. Wali berarti beriman dan bertaqwa kepada Allah dan dekat dengan-Nya. Sedangkan Songo artinya adalah bilangan angka sembilan dalam bahasa Jawa. Dengan demikian, Wali Songo adalah wali yang berjumlah sembilan dan tergabung dalam sebuah lembaga dakwah, dewan ulama, atau majelis wali. Setiap kali di antara wali ada yang wafat atau pergi, maka diangkatlah wali lain sebagai pengganti.

Berikut ini beberapa alasan yang memperkuat pendapat ini:

a.      Berdasarkan kitab Kanzul Ulum karya Ibnu Bathuthah yang penulisannya dilanjutkan oleh Syekh Maulana Maghribi. Di dalamnya disebutkan tentang pembagian wilayah dakwah, yaitu Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, dan Syekh Jumadil Kubra di Jawa Timur. Kemudian Syekh Subakir dan Syekh Maulana Maghrib menggarap wilayah Jawa tengah, sementara bagian barat ditugaskan kepada Maulana Malik Isra’il, Syekh Ali Akbar, Maulana Hasanuddin dan Maulana Aliyuddin.

b.     Berdasarkan dokumen Kropak Ferrara, disebutkan sarasehan dan musywarah Wali Songo tentang makrifatullah. Dalam musyawarah tersebut dipimpin oleh Sunan Giri sebagai pengganti Sunan Ampel sekaligus sebagai tuan rumah di Ampel Dento. Para Wali yang hadir secara keseluruhan sebanyak sembilan wali. Akan tetapi Sunan Kudus sebagai salah seorang anggota Wali Songo berhalangan hadir.

c.      Wali Songo yang merupakan nama organisasi dakwah ini menyelenggarakan sidang sebanyak tiga kali, yaitu tahun 1404 M, 1438 M, dan tahun 1463 M. menurut KH. Dachlan Abdul Qahhar, pada tahun 1466 M Wali Songo menyelenggarakan sidang ke-4 untuk membahas berbagai hal. Diantaranya adalah tentang wafatnya dua orang wali, yaitu Maulana Muhammad Al-Maghrabi dan Maulana Ahmad Jumadil Kubro serta masuknya dua orang wali menjadi anggota Wali Songo. (MB. Rahimsyah. AR, Kisah Perjuangan Wali Songo)

Demikianlah tentang Wali Songo sebagai perintis jalan penyebaran Islam di tanah Jawa secara revolusioner. Oleh karena terjadi perubahan mendasar dalam membentuk peradaban dengan waktu yang relative singkat. Atas kehendak Allah kemudian peran mereka, mayoritas umat di tanah Jawa dan juga nusantara adalah umat Islam.

Berita tentang sejarah revolusiislam  di Jawa padaabad 15 dan 16 ini tersebar luas diseantero dunia Islam hingga kini . salah satu sumber situs berbahasa Arab yang membahas secara singkat perkembangan Islam dunia menyebutkan tentang wali songo ini:

“Al-Auliya T-Tis’ah (Wali Songo)adalah orang-orang yang bergabung dalam Ahlul Halli wal-Aqdi wasy-Syura, mereka yang memiliki hak mengangkat pemimpin Islam melalui musyawarah. Wali Songo memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Jawa dan nusantara. Oleh karena mereka telah berjanji setia kepada Sultan Fattah sebagai khalifah bagi kaum muslimin, maka di kemudian hari, banyak sekali orang-orang yang mengikuti mereka dalam jumlah besar dari masyarakat Indonesia karena telah menaruh kepercayaan yang besar kepada mereka.(www.tareemyemen.net)

4.     Antara Wali dan Sunan

Ketika menyebut istilah Wali Songo, maka umumnya masyarakat Jawa mengenal mereka sebagai para ulama penyebar Islam yang jumlahnya sembilan wali. Kebanyakan menggunakan panggilan Sunan. Mereka adalah Maulana malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Mbonang, Sunan Kalijogo, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Tidak ada kepastian tentang siapa orang yang pertama kali hanya sembilan wali tersebut sebagai Wali Songo, tanpa yang lainnya. Padahal antara satu Sunan dengan Sunan lainnya berbeda masa dan bahkan ada yang belum pernah bertemu dalam satu masa. Oleh karena itulah muncul pendapat bahwa istilah Sunan tidak ditemukan penisbatannya kepada para wali mukmin di masanya.

Sunan kependekan dari kata susuhunan atau sinuhun yang biasa dinisbatkan bagi para Raja atau penguasa pemerintahan daerah di Jawa. Misalnya Sunan Gunung Jati sebagai penguasa di daerah bernama Gunung Jati, Cirebon. Sunan Ampel di daerah Ampel Dento. Sunan Giri sebagai penguasa di daerah Giri yang sampai meluas jauh ke timur hingga ke luar Jawa, seperti Makassar, Hitu (Ambon), dan Ternate.(R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia)

Oleh karena itulah menurut Prof. Dr. Hamka, bahwa istilah Sunan baru digunakan untuk menyebut para wali setelah wafatnya mereka, “Terang bahwa gelar-gelar Sunan itu baru dipasangkan atas diri para wali itu setelah mereka meninggal belaka. Karena mereka dipandang keramat dan kubur mereka dimuliakan  sebagaimana memuliakan berhala. Sebab itu dibahasakan Sunan.” Sunan berasal dari kata sesuhunan, artinya adalah yang disuhun atau dimohon, dimana disusun jari sepuluh buat menyembahnya. Sebutan ini bersifat kompromis yang digunakan untuk memuliakan ulama agar sesuai dengan para Raja.

Oleh karena penisbatan istilah Sunan ini sudah terlanjur  melekat kuat dalam ingatan masyarakat dalam waktu lebih dari empat abad, bahkan lebih terkenal daripada nama aslinya, maka penggunaan istilah Sunan dalam konteks ini tidaklah terlalu dipermasalahkan.

Apabila nama-nama anggota Wali Songo itu ditelusuri, akan didapati lebih dari sembilan wali. Adapun nama-nama Wali Songo yang dikenal masyarakat adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri), Makhdum Ibrahim (Sunan Mbonang), Raden Syahid (Sunan Kalijogo), Ja’far Shodiq (Sunan Kudus), Maseh Munat (Sunan Drajat), Raden Umar Said (Sunan Muria), dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Menurut Widji Saksono, nama-nama wali tersebut banyak yang telah menyepakatinya. Meskipun tidak jelas pula siapa saja yang membuat kesepakatan tersebut. Disepakati oleh siapa, sejak tahun berapa dan dalam momen seperti apa, tidak pernah terjelaskan. Menurutnya lagi, para wali lain yang masih diperselisihkan adalah Usman Haji (Sunan Ngudung), Raden Santri (Sunan Gresik), Raden Sayed Muhsin (Sunan Wilis), Haji Usman (Sunan Manyuran), Sultan Fattah (Sunan Bintoro), Raden Jakandar (Sunan Bangkalan), Khalif Husain (Sunan Kertosono), Raden Pandan Arang (Sunan Tembayat), Ki Cakrajaya (Sunan Geseng), Sunan Giri Prapen, Sunan Padhusan.(Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa).


Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd  

(EP 06) WALI SONGO: PERINTIS JALAN PENYEBARAN ISLAM DI JAWA

 


Sebelum nusantara kedatangan bangsa-bangsa penjajah kafir barat dari Eropa, wilayah kekuasaan Islam di nusantara hampir mencakup seluruh kepulauan nusantara. Ini terjadi karena ketika itu, peta kekuasaan politik dunia di bawah kekuatan Islam. Oleh karena Islam merupakan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin), tidak mengherankan apabila dalam abad-abad berikutnya, nusantara menjadi target ekspansi wilayah khilafah Islam yang lebih gencar, khususnya dimasa pemerintahan Islam yang berpusat di Turki Utsmani.

Sejarah telah mencatat bahwa misi dakwah Islam yang secara khusus ke tanah Jawa, telah dikirimkan atas perintah Sultan Muhammad I pada tahun 1404 M yang saat itu menjadi penguasa ke khilafahan Turki Utsmani (1394-1421 M). Sultan Muhammad I (Muhammad Jalabi) yang dikenal dalam sejarah sebagai pendiri Daulah Utsmaniyah ke-2, dilahirkan pada 781 H/1379 M dan wafat pada 824 H/1421 M. Sultan Muhammad I diangkat menjadi penguasa pemerintah Utsmani sepeninggal ayahnya, Bayazid I (wafat pada 805 H/1402 M). pada saat memerintah, ia telah ikut terjun dalam 24 pertempuran dan ditubuhnya ada 40 bekas luka.

Demikianlah, betapa teladannya seorang Sultan Muhammad I sebagai pemimpin, beliau tidak hanya menyebarkan dakwah Islam, akan tetapi juga langsung menjadi komandan jihad terdepan dengan memobilisasi umat untuk kepentingan berperang dijalan Allah. Sifat kepemimpinan Islam ini pula yang diwarisi oleh Sultan Muhammad Al-Fatih yang memimpin langsung pasukan perang Islam dalam merebut Konstatinopel. Demikian pula Sultan Fattah, Pati Unus, Sultan Trenggono, maupun Fatahillah dalam memerangi kaum kafir pribumi maupun bangsa kafir Eropa di Jawa dan Malaka.

Dari garis silsilah Muhammad Jalabi, lahirlah Sultan Muhammad II yang kelak menjadi sangat terkenal karena berhasil menaklukkan Konstatinopel pada 1453 M sehingga bergelar Sultan Muhammad Al-Fatih. Atas kehendak Allah, dalam waktu yang hampir bersamaan, di tanah Jawa juga telah lahir Sultan Fattah yang pada tahun 1482 M mendirikan Kerajaan Islam Demak, setelah runtuhnya Majapahit, lalu diiringi serentetan penaklukkan di tanah Jawa.

Pada awalnya, ketika Majapahit mulai mengalami keruntuhan akibat perang paregreg (1404-1406 M), para saudagar Gujarat India menyampaikan perkembangan keadaan di nusantara, khususnya Jawa kepada Sultan Muhammad I di Turki Utsmani. Diantaranya adalah berita bahwa di pulau Jawa ada dua Kerajaan Hindu, yaitu Majapahit dan Padjajaran. Sebagian rakyatnya sudah ada yang beragama Islam akan tetapi masih terbatas pada keluarga pedagang Gujarat dan Tiongkok yang menikah dengan penduduk pribumi, terutama di kota-kota pelabuhan, yaitu Gresik, Tuban, dan Jepara.(Adrian Perkasa, Orang-Orang Tionghoa & Islam di Majapahit)

Setelah khalifah Turki Utsmani, Sultan Muhammad I, mengirimkan surat kepada para penguasa Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah, maka dikirimlah tim dakwah berjumlah sembilan ulama dengan berbagai karomah dan keahlian yang ada pada diri mereka.(H.M. Imam Soenanto, Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Islam)

Oleh karena khilafah Islam Turki Utsmani pada awal abad ke-15 telah menjadi Raja dunia dan mencapai puncak kejayaannya, yang pengaruhnya sampai ke Eropa, Asia, dan Afrika, maka Sultan Muhammad I mengirim banyak duta penyebar Islam ke berbagai penjuru dunia, termasuk nusantara. Sedangkan di Asia Tenggara yang saat itu masa akhir kejayaan Majapahit di bawah Wikromo Wardhono, maka diutus pula sembilan wali ini ke Jawa.

Jalur perjalanan dari Turki ke Gresik ini dapat diperkirakan melalui Gujarat di India. Setelah itu singgah di ujung barat pulau Sumatera, tepatnya di Pasai lalu ke Palembang. Kemudian ke tanah Jawa dengan melalui banten, Sunda Kelapa, Cirebon, rembang, Tuban, hingga sampai ke Gresik. Dalam perjalanan ini para wali mukmin menggunakan kapal layar melewati rute pelayaran dan perdagangan internasional sebagaimana yang telah lazim pada saat itu.

Tidak ada seorangpun di antara mereka yang berasal dari pribumi Jawa asli. Sultan Muhammad I memberangkatkan tim  dakwah ke tanah Jawa yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim dan sampai di Gresik tahun 1404 M. Tim dakwah  yang berjumlah sembilan tokoh inilah yang kemudian dapat disebut Wali Songo angkatan pertama. (Prof. Dr. Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa).

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd

(EP 05) KERAJAAN SYIWA-BUDDHA MAJAPAHIT DI JAWA TIMUR

 


Jika di Jawa bagian barat terdapat Kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran, maka di Jawa bagian tengah dan timur pada abad 15 terdapat Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit (1294-1527 M). masa sebelumnya, di Kalingga terdapat penguasa bernama Ratu Shima. Selain itu juga terdapat dinasti Syailendra penguasa Medang dengan para rajanya yaitu Sri Indrawarman (752-775 M), Wisnuwarman (775-782 M), Dharanindra (782-812 M), Samaratungga (812-833 M), Pramodhawardhani (833-856 M).

Pada masa berikutna Kerajaan Syiwo- Buddha Medang diambil oleh Sanjaya (732 M) beserta dinastinya yang bertahta di daerah Jawa bagian tengah. Di antaranya adalah Rakai Panangkaram Panunggalan, Warak, Garung, Patapan, Pikatan (838-855 M), Kayuwangi (855-885 M), Panumwangan Dyah Dewandra (885-887 M), Gurunwangi Dyah Badra (887 M), Watuhunmalang (894-898 M), Watukura Dyah Balitung (898-910 M), Daksa (910-919 M), Tulodong (919-921 M), Dyah Wawa (924-928 M), dan Mpu Sindok (928-929 M).

Pada masa berikutnya, daerah kekuasaan DinastiSanjaya Medang beralih ke Jawa bagian timur. Para Raja yang berkuasa adalah Mpu Sindok (929-947 M) hingga Teguh (985-1006 M). dilanjutkan Kerajaan Kahuripan dengan rajanya bernama Airlangga (1019-1045 M). setelah itu berdirilah Kerajaan Syiwo- Buddha di Kediri. Rajanya adalh dari Kamesworo (1116-1135 M) sampai Sri Gendra (1171-1182 M).

Kerajaan Singosari berdiri setelahnya dengan nama Raja pertama adalaj Ken Arok (1222-1227 M), Anusapati (1227-1248 M), Tohjaya (1248 M), Tanggawuni (1248-1254 M) dan Kertonegoro (1254-1292 M). setelah Kerajaan Hindu Syiwo- Buddha Singosari ini, baru kemudian berdiri Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit.

Para Raja yang berkuasa di Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit adalah Raden Wijoyo/ Diah Sanggromo Wijoyo (1293-1309 M), Joyonegoro (1309-1328 M), Tribhuwono Wijoyo Tunggadewi (1328-1350 M), Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M), Wikromo Wardhono (1390-1427 M), Ratu Suhito (1427-1447 M), Dyah Kertowijoyo (1447-1451 M), Rajasa Wardhono/ Bhre Pamotan (1451-1453 M), Girisho Wardhono/Bhre Wengker (1456-1466 M), Bhre Pandan Salas (1466-1468 M), Singho Wardhono (1468-1474 M), Bhre Kertobhumi (1474-1478 M), Njoo Lay Wa (1478-1486 M), dan Girindro Wardhono/Dyah Ronowijoyo (1486-1527 M). (Prof. Dr. Slamet Mujana, Runtuhnya  Kerajaan Hindu- Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara)

Dari urutan Raja-Raja Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit di atas, tampak bahwa antara tahun 1294-1478 M, dari Raden Wijoyo/Dyah Sanggrama Wijoyo sampai Kertobhumi berkuasa selama 184 tahun. Sedangkan keturunan raden Wijoyo/ Dyah Sanggrama Wijoyo sampai Suhito (1447 M), semuanya adalah anak cucu yang memerintah secara turun temurun.

Sejak Suhito digantikan oleh Bhre Daha, Raja-Raja yang memerintah Majapahit tidak berasal dari satu keluarga. Akan tetapi silih berganti yang berasal dari berbagai keluarga. Terlebih lagi setelah Majapahit runtuh pada 1478 M selama lebih dari 40 tahun (1478-1527 M), terjadi perebutan kekuasaan tahta di Kerajaan Majapahit, antara dipusat Mojokerto dengan Kediri. Jarak antara Mojokerto dengan Kediri sekitar 65 km dan ditempuh dengan jalan kaki sekitar 12 jam.

Sebagaimana diketahui, Kerajaan Hindu Syiwo- Buddha Majapahit pertama kali berdiri pada tahun 1294 M. setelah selesai penyerangan Wijoyo terhadap Kerajaan Syiwo- Buddha di Daha Kediri pada tahun 1293 M. hancurnya Kerajaan Syiwo- Buddha Kediri di bawah kekuasaan Raja Jayakatwang ini, karena raden Wijoyo memanfaatkan pasukan Tartar dari Mongolia masa Kubilai Khan (1276-1294 M). (Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1)

Demikianlah sekilas dominasi kekuasaan politik di Jawa dalam bentuk Kerajaan-Kerajaan yang masih bercorak Hindu Syiwo-Buddha. Kejayaan Majapahit sebagai sebuah Kerajaan bercorak Syiwo- Buddha terjadi di masa Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) dengan maha patih terkenalnya bernama Gadjah Mada (1313-1364 M). menurut dokumen negarakertagama pupuh XIII-XV, wilayah kekuasaan Majapahit terbentang di Jawa, Sumatera, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan nusa tenggara, Maluku dan Papua, dan sebagian Filipina. Selain itu, Majapahit juga berhubungan dengan Champa, Kamboja, siam, Birma selatan, Vietnam, dan Tiongkok dengan mengirimkan duta-dutanya. Inilah masa yang sering disebut sebagai masa kejayaan kaum  pagan Syiwo- Buddha Majapahit. .(Op. Cit., Sejarah Nasional Indonesia)

Setelah masa kejayaan Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit, mulailah kemunduran tampak di masa Prabu Wikromo Wardhono. Oleh karena akibat perselisihan dengan saudara iparnya bernama Bhre Wirobhumi yang berakibat pada permusuhan hingga terjadi perang. Perang ini menyebabkan perpecahan Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit di Jawa menjadi dua bagian, yaitu Majapahit barat di bawah kekuasaan Wikromo Wardhono dan Majapahit timur di bawah kekuasaan Bhre Wirobhumi. Pembagian Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit menjadi 2 ini berarti juga pemecahan kekuatan pasukan dan wilayah kekuasaan. (Prof. Dr. Slamet Mujana, Runtuhnya  Kerajaan Hindu- Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara)

Perang antara Wikromo Wardhono dengan Bhre Wirobhumi ini dinamakan perang Paregreg (1401-1405 M), karena selama perang saudara  ini berlangsung, terjadi saling tarik ulur antara bangsawan keluarga Majapahit dengan selang waktu dan bentuk pertempuran yang tersendat-sendat.

Dalam pertempuran yang sengit itu, sekitar 170 orang prajurit Islam utusan kaisar Tiongkok China yang dibawa laksamana Cheng Ho yang sedang berada di blambangan ikut terbunuh karena salah paham. Prabu Wikromo Wardhono kemudian mengirim utusan untuk meminta maaf kepada kaisar cina. Kaisar Tiongkok China menyayangkan peristiwa itu, lalu meminta ganti rugi sebesar 60.000 tail emas. Akan tetapi Prabu Wikromo Wardhono hanya mampu membayar 10.000 tail emas. Sedangkan sisanya yang jauh lebih besar mencapai 50.000 tail emas dibebaskan oleh Kaisar Tiongkok Cina.

Pada akhirnya, dalam perang Paregreg ini Bhre Wirobhumi mengalami kekalahan. Ia melarikan diri dengan naik perahu di malam hari, akan tetapi diburu oleh Bhre Narapati. Setelah ditangkap, kepala Bhre Wirobhumi dipenggal oleh Bhre Narapati lalu dibawa ke Majapahit. Kepala Bhre Wirobhumi kemudian dibuatkan candi di Lung. Candi makamnya disebut Gisapura. Peristiwa dipenggalnya kepala Bhre Wirobhumi ini terjadi pada 1433 M.

Perang paregreg bukanlah satu-satunya perang saudara sepeninggal Patih Gadjah Mada. Bahkan, perang Paregreg inilah awal dari rentetan berbagai peperangan berikutnya. Putra Bhre Wirobhumi bernama Bhre Dahadari Kediri menuntut balas atas kmatian ayahnya. Pada tahun 1437 M dalam masa kekuasaan Dewi Suhito, Bhre Daha berhasil mendirikan pemerintahan saingan. Setelah mangkatnya Dewi Suhito tahun 1447 M, peperangan antar keturunan Majapahit semakin menjadi-jadi dan saling merobohkan. Bahkan pernah terjadi masa kosong kekuasaan antara 1453-1456 M (1375-1478 Saka). (Prof. Dr. Slamet Mujana, Runtuhnya  Kerajaan Hindu- Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara)

Girisha Wardana/Bhre Wengker juga dikenal Hyang Purwowaseso memerintah hanya 10 tahun (1456-1466 M). Bhre Pandan Salas bahkan hanya 2 tahun (1466-1468 M) karena harus meloloskan diri dari keraton. Sedangkan Singho Wardhono memerintah selama 6 tahun (1468-1474 M) dan mangkat dalam Pura. Selanjutnya Bhre Kertobhumi yang dikenal sebagai ayah Sultan Fattah memerintah hanya 4 tahun (1474-1478 M). kemudian dilanjutkan Njoo Lay Wa selama 8 tahun (1478-1486 M).

Demikianlah keadaan Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit yang terus menerus terjadi pertikaian dan perang antar keluarga bangsawan demi merebut kekuasaan. Oleh karena masing-masing pihak merasa sebagai pewaris tahta Kerajaan yang sah. Diawali dengan perang paregreg, ditinjau dari segi politik dan ekonomi telah membawa Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit ke dalam jurang kehancuran. Akibatnya daerah-daerah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Majapahit melepaskan diri dari ikatannya. Dalam keadaan seperti itulah perkembangan dakwah Islam oleh wali songo semakin dipercepat dimasa berikutnya, untuk semakin memperluas pengaruhnya sebagai persiapan bagi berdirinya kesultanan Islam Demak.


Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa           Karya Ustadz Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd

AKHIR HAYAT 5 "MONSTER" NAZI PEMBANTAI JUTAAN KAUM YAHUDI


        Luka-luka batin Perang Dunia II belum sembuh sepenuhnya dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang para pelaku kejahatan dalam pertempuran paling berdarah sepanjang sejarah umat manusia. Masih banyak yang belum diketahui tentang mereka yang menjadi pelaku kejahatan, tapi kemudian lolos dari penangkapan setelah jatuhnya pemerintahan Nazi Jerman pada 1945.

       Para kriminal terjahat yang berlumuran darah melarikan diri melalui "jalan tikus". Memanfaatkan peluang apapun, termasuk dari Palang Merah, dan pemerintah Argentina, beberapa petinggi Nazi sempat menikmati hidup bebas dari tanggungjawab mereka.

        Negara-negara Poros memiliki hubungan dekat dengan Argentina, sehingga negara itu menjadi tempat pelarian para mantan petinggi Nazi.

Berikut ini adalah 5 orang pelarian Nazi Jerman dan akhir kisah mereka:

1. Josef Mengele (16 Maret 1911 – 7 Februari 1979)


        Pria dengan julukan "Malaikat Maut" ini adalah seorang yang terdidik dan pintar dalam ilmu pengetahuan, termasuk filsafat dan kedokteran. Tapi, ia telah menghilangkan nyawa jutaan pria, wanita, dan anak-anak selama 21 bulan sebagai petinggi kamp konsentrasi.

    Namanya hampir sinonim dengan siasat Nazi yang dikenal dengan "Solusi Yahudi". Perilaku keji dan tanpa perikemanusiaan di kamp maut Auschwitz digagas di bawah kepemimpinannya.

        Ia bergabung dengan partai Nazi pada 1937 dan menjadi bagian dari kesatuan SS. Mengele menjadi sangat bengis setelah cedera pada 1942 yang menyebabkannya tidak bisa berdinas aktif sehingga ia mengajukan diri ditugaskan di kamp konsentrasi.

        Mengele lolos dari hukuman karena melarikan diri setelah ambruknya rezim Nazi dengan cara menyamar sebagai tentara infantri biasa. Setibanya di Munich, ia menjadi tahanan perang, tapi tidak dikenali oleh pasukan Sekutu hingga dibebaskan.

    Pada 1948, ia hengkang selamanya dari Jerman dan malah mendapat pertolongan dari Palang Merah yang mengaku menerbitkan dokumen perjalanan palsu baginya dan 10 petinggi Nazi.

        Mengele bertekad menuju Argentina yang memiliki hubungan baik dengan Jerman, Italia, dan Jepang. Demikian juga dengan bisnis ayahnya di negeri tersebut. Ia bahkan tidak menyembunyikan identitas ketika berada di Argentina hingga kemudian rekannya sesama mantan Nazi, Adolf Eichmann, tertangkap dan dideportasi. Sang Malaikat Maut kemudian menghilang dalam pelarian hingga meninggal 35 tahun kemudian karena mengalami stroke saat sedang berenang.

      Baru setelah uji DNA pada 1992 ketahuan bahwa jasad pria bernama Wolfgang Gerhard itu adalah jasad Josef Mengele.

2. Otto Adolf Eichmann (19 Maret 1906 – 31 Mei 1962)


        Terlahir dari keluarga biasa, asal usul Eichmann tidak semulus Josef Mengele. Eichmann juga gagal lulus pendidikan tinggi teknik mesin dan sukar mendapat pekerjaan tetap sejak 1920.

      Nasib pria dengan julukan "Gembong Holocaust" ini berubah setelah ia terpengaruh bergabung dengan partai Nasionalis Sosialis Austria pada 1932 dan menanjak sebagai teknisi terampil dalam deportasi paksa kaum Yahudi menuju kamp-kamp maut. Eichmann itulah yang menjadi pelaksana “Solusi Akhir”. Ia secara langsung diakitkan dengan pengaturan saluran-saluran deportasi dari 1932 hingga 1944. Rancangan itu bertanggungjawab terhadap deportasi 1,5 juta kaum Yahudi dari seluruh Eropa yang diduduki Jerman, termasuk Austria, Hungaria, Prancis dan bagian Soviet.

        Setelah ambruknya rezim Nazi, ia sempat melarikan diri dengan bantuan Gereja Katolik, lalu menggunakan dokumen travel palsu ke Argentina dan hidup dalam penyamaran di sana. Nama samarannya yang paling dikenal adalah Ricardo Klement.

          Tapi ia dicokok oleh tim buru sergap Mossad, agen rahasia Israel, pada 1960. Ia diculik dari Buenos Aires dan diterbangkan untuk diadili di Israel. Proses peradilannya mengungkap kenyataan genosida Yahudi yang telah terjadi. Eichmann dikenal karena peran dan sikapnya yang membangkang, dan mengaku "sekedar mengikuti perintah." Ia kedapatan bersalah dan dijatuhi hukuman mati yang pertama dan satu-satunya dalam sejarah Israel.

          Ia dihukum gantung pada 31 Mei 1962, lalu jasadnya dikremasi. Abu kremasi ditebar di lokasi tak diketahui di luar perbatasan Israel.

3. Nikolaus Klause Barbie (25 Oktober 1913 – 25 September 1991)

        Sesuain nama julukannya, "Jagal di Lyon", Klause Barbie yang terlahir ke dalam keluarga kelas menengah itu melakukan kekejian luar biasa di Lyon, Prancis.

    Ayahnya juga bernama Nikolaus, seorang karyawan kantoran yang kemudian menjadi guru sekolah dasar. Sang ayah berdinas dalam Perang Dunia I dan mendapat cedera. Ia pulang dari perang dengan perasaan pahit dan marah.

    Sebelum Barbie selesai sekolah menengah, ayah dan adik lelakinya meninggal dunia. Barbie tidak punya dana untuk melanjutkan pendidikan sehingga ia kemudian bergabung secara suka rela dengan partai Nazi pada 1933.

        Pada 1935, Barbie ditugaskan ke kesatuan SS dan pangkatnya menanjak naik di sana. Ia melatih diri menjadi penyelidik dan penyidik, keahliannya kemudian dipakainya terhadap banyak orang tak bersalah.

        Puncak kekejiannya berlangsung saat ia menelantarkan 44 anak yatim piatu hingga meninggal dunia di desa terpencil Izieu. Saat itu, ia menjabat sebagai kepala Gestapo di Prancis dan dikenal luas karena kebrutalannya.

        Setelah dinas di Prancis, ia dikirim ke garis depan tapi melarikan diri. Saat dalam pelarian itulah ia ditangkap oleh pihak Amerika Serikat (AS). Tapi, bukannya diserahkan kepada pihak berwenang, Barbie malah dimanfaatkan bekerja untuk pihak AS. Ia bahkan mengaku membantu penangkapan tokoh revolusioner Che Guevara.

            Namun begitu, pihak Prancis terus memburunya. Dengan bantuan pihak AS, ia melarikan diri ke Bolivia pada 1950. Pemerintah Bolivia juga memanfaatkannya, karena keahliannya yang mumpuni. Ia bahkan mengaku pernah bekerja bagi CIA.

        Pada 1983, setelah mendapat tekanan, pemerintah Bolivia akhirnya menahan Barbie yang saat itu sudah menggunakan nama Klaus Altmann. Ia dibawa ke Prancis dan diadili terkait 842 kali deportasi manusia menuju kamp maut.

        Ia kemudian kedapatan bersalah dengan kejahatan melawan kemanusiaan dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Barbie meninggal karena kanker pada 25 September 1991.

4. Ante Pavelic, Pemimpin Ustase , Nazi Kroasia (14 Juli 1889 – 28 Desember 1959)

        

        Ante Pavelic dan pasukannya yang dikenal sebagai UstaĊĦe (Ustasha) adalah kaki tangan Nazi Jerman dan mendapat dukungan Italia. Pemimpin brutal Nazi Kroasia itu juga menjadi pemimpin Negara Kroasia Merdeka.

    Ia memerintahkan pencaplokan lebh banyak wilayah dan memiliki pemerintahan yang meniru Nazi Jerman. Pembunuhan di bawah wewenangnya membidik kaum Serbia, Yahudi, gypsi, dan Krosia yang anti fasis. Kekejiannya amat luar biasa sehingga bahkan Nazi Jerman pun tercengang melihat kebiadabannya.  Pelarian dirinya setelah kejatuhan Jerman kepada pihak Sekutu menjadi akhir Negara Kroasia Merdeka dan Ustasha. Ia kemudian menyerahkan diri di bagian Eropa yang diduduki AS, tapi tidak pernah ditahan.

        Ia akhirnya tiba di Italia dengan bantuan dari Vatikan. Pada 1948, karena merasa akan segera ditangkap, ia melarikan diri ke Argentina menggunakan dokumen palsu pemberian Palang Merah. Pelariannya juga terbantu dengan kekayaan yang digasaknya selama di Kroasia.

    Di Argentina, ia menikmati hidup senyaman mungkin dan mendirikan lagi pemerintahannya selama berada di pengasingan. Ia bahkan memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Peron.

        Pada 1957, Pavelic menjadi sasaran percobaan pembunuhan oleh seorang pria bernama Jovovich dan ditembak di lehernya. Ia tidak pernah benar-benar pulih dari luka dan meninggal pada 1959, lalu dimakamkan di San Isidoro, salah satu pemakaman tertua di Spanyol.

5. Erich Priebke (29 Juli 1913 – 11 Oktober 2013)

    Erich Priebke pernah menjabat sebagai komandan SS, bagian dari Angkatan Darat Jerman. Pangkatnya memang tidak setinggi yang lain dan ia hidup mencapai usia 100 tahun.

    Ia paling dikenal melalui perannya dalam pembantaian di gua Ardeatine, Roma. Pembantaian itu merupakan pembalasan atas kematian 33 pasukan Jerman dalam ledakan bom di Italia.

Menurut sejumlah laporan, Hitler ingin membunuh 10 orang Italia untuk 1 orang tentara yang tewas dalam ledakan tersebut. Erich menurutinya dan melakukan perintah tersebut. Ia mencari-cari dalam penjara-penjara Italia dan meringkus sejumlah orang, termasuk 70 kaum Yahudi dan anak-anak.

    Priebke bertanggungjawab atas kematian sejumlah korban karena dirinya menembak mereka secara langsung. Setelah perang, ia lolos dari sergapan dan tinggal di Argentina. Tapi ia tidak menyamar dan tetap menggunakan namanya. Ada laporan bahwa ia pun bepergian dengan paspor Jerman.

        Ia menyedot perhatian ketika memberikan wawancara kepada wartawan ABC pada 1994. Priebke kemudian ditahan dan diekstradisi untuk menjalani sidang pada 1998. Terjadi tarik-menarik persidangan tentang kasusnya, tapi ia kemudian dijatuhi hukuman seumur hidup.

        Ia menjalani masa hukuman sebagai tahanan rumah hingga kematiannya. Tapi Priebke bersikeras tidak menyesali perbuatannya hingga ajal. Ia menjadi petinggi Nazi yang terakhir kali menjalani peradilan.


Sumber : https://www.liputan6.com/

Selasa, 04 Januari 2022

ASAL USUL SUKU BUGIS DAN SEJARAHNYA

       


       Jika kita berbicara asal usul bangsa nusantara atapun suku-suku yang mendiami nusantara, terasa hambar agaknya jika kita tidak menyinggung tentang Suku Bugis. Orang-orang bugis sangat terkenal akan pengembaraannya diseluruh nusantara bahkan sampai Madagaskar dan Afrika pada masa lalu saat nenek moyang kita menguasai pelayaran di dunia. Bagaimanakah asal-usul dan sejarah Suku Bugus? Mari kita simak ulasanya dalam materi berikut ini.

        Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.


        Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton. Komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. 

        Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan) Masa Kerajaan Kerajaan Bone Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.

       Kerajaan Makassar Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar kemudian terpecah menjadi Gowa dan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar. Kerajaan Soppeng Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng. Kerajaan Wajo Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. 

        Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Konflik antar Kerajaan Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. 

          Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut “tellumpoccoe”.

        

    Penyebaran Islam Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.[2] Kolonialisme Belanda Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang tidak sudi berada dibawah Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan benteng Somba Opu luluh lantak. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.

        Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-6 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Bugis-Makassar baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI. Masa Kemerdekaan Para raja-raja di Nusantara bersepakat membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan.

        Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Bugis-Makassar adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

        Mata Pencaharian masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan. Bugis Perantauan Kepiawaian suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka. 

        Penyebab Merantau Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan. 

Bugis di Kalimantan Selatan 

        Pada abad ke-17 datanglah seorang pemimpin suku Bugis menghadap raja Banjar yang berkedudukan di Kayu Tangi (Martapura) untuk diijinkan mendirikan pemukiman di Pagatan, Tanah Bumbu. Raja Banjar memberikan gelar Kapitan Laut Pulo kepadanya yang kemudian menjadi raja Pagatan.

        Kini sebagian besar suku Bugis tinggal di daerah pesisir timur Kalimantan Selatan yaitu Tanah Bumbu dan Kota Baru. Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Bugis.


Argha Sena

Sumber : bugiskha.wordpress.com

Senin, 03 Januari 2022

RIBUAN ORANG DARI JAWA MENINGGAL SAAT BERUSAHA MENGUSIR PORTUGIS DI MALAKA

       


    Sejarah-sejarah masa lalu tentang nenek moyang kita yang saling membantu melawan penjajah patut diceritakan, untuk mengingatkan kepada generasi muda kita bahwa kita memang sudah sudah saling bahu membahu sejak zaman listrik belum ditemukan bahkan sampai zaman batu. Sejarah kali ini patut untuk disampaikan ketika ribuan tentara dari Jawa dan Palembang banyak yang rela menderita demi membantu membebaskan Malaka dari cengkraman penjajah Portugis. Beberapa kali serangan dilancarkan, akan tetapi belum berhasil menundukan kekuatan Portugis waktu itu.

    Pada awal abad ke-16, terjadi perang besar antara pasukan Portugis dan pasukan Kerajaan Demak di Selat Malaka. Peperangan itu terjadi tak lama setelah Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis.

       Pada saat itu, pasukan Kerajaan Demak dipimpin oleh Pati Unus. Penyerangan Demak terhadap Portugis dilatar belakangi jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam di sekitar Selat Malaka seperti Kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Malaka ke tangan Portugis.

    Dari jatuhnya kerajaan-kerajaan tersebut, Pati Unus menyadari betapa kuatnya armada laut Portugis yang diyakini lebih kuat dari armada laut Majapahit pada masa kejayaanya. Namun hal itu tak mengendurkan keberaniannya untuk melawan.

       Berbekal 100 kapal beserta 5.000 tentara gabungan dari Jawa dan Palembang, Pati Unus melancarkan penyerangan pertamanya pada tahun 1513 yang dikenal dengan nama Ekspedisi Jihad I.  Tiba di Malaka, pertempuran antara Portugis dan Demak tak dapat dihindarkan. Lalu siapa pada akhirnya yang akan memenangi pertempuran ini?

        Dalam penyerangan ke Malaka, pasukan yang dipimpin Pati Unus terdiri dari 100 kapal dan 12.000 personel. 30 kapal di antaranya merupakan jenis jung besar seberat 350-600 ton. Kapal-kapal itu membawa banyak pasukan altileri yang dibentuk di Pulau Jawa.

    Kapten Portugis yang memimpin perang melawan Demak, Fernao Pires de Andrade menuliskan surat kepada rekannya, Alfonso de Albuquerque dalam menggambarkan besarnya jung milik pasukan Demak.

    “Kapal itu benar-benar sangat mengerikan bahkan tidak ada orang yang pernah melihat sejenisnya. Butuh waktu tiga tahun untuk membangunnya. Tembakan meriam yang saya miliki di kapal saya berhasil masuk tapi tidak bisa tembus. Di dalam kapal itu ia membawa seribu orang tentara. Yang Mulia dapat mempercayaiku bahwa itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilihat,” kata Fernao pada Albuquerque.


    
Pertempuran hebat terjadi di Selat Malaka antara armada kapal Portugis dengan armada Demak. Mereka bertempur habis-habisan. Namun armada Portugis lebih canggih dengan senjata meriamnya.  Sebanyak 70 kapal dan perahu Demak berhasil dihancurkan oleh Portugis. Sebanyak 800 pasukan Demak tewas dalam pertempuran itu.

    Meskipun dikalahkan, Pati Unus berhasil melarikan diri dan berlayar pulang menuju Demak. Dia kemudian mendamparkan kapal perangnya sebagai monumen perjuangan melawan orang-orang yang disebutnya paling berani sedunia.

    Karena keberaniannya pergi ke Malaka dan menyerang Portugis, Pati Unus kemudian mendapat julukan “Pangeran Sabrang Lor”. Dia pun kemudian naik tahta menjadi Raja Demak menggantikan Raden Patah. 

        Perlawanan Pati Unus terhadap Portugis tak cukup sampai di situ. Kegagalan atas Ekspedisi Jihad I rupanya dipelajari betul oleh Pati Unus. Dia kemudian mempersiapkan diri untuk perang selanjutnya dengan membangun sebanyak 375 armada kapal perang baru di Gowa, Sulawesi.  Hingga akhirnya pada tahun 1521, Pati Unus yang saat itu sudah menjabat sebagai raja memutuskan ikut ekspedisi ke Malaka dengan membawa 375 armada kapal baru itu.

    Sebelum diberangkatkan, armada itu terlebih dahulu mendapat pemberkatan dari para wali tanah Jawa yang dipimpin Sunan Gunung Jati. Namun kedatangan armada kapal perang yang besar ini telah diantisipasi oleh Portugis. Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena meriam saat akan merapat di pantai. Kapal pun hancur dan Pati Unus gugur akibat tembakan meriam itu.

    Setelah gagalnya Ekspedisi Jihad I dan II, penyerangan terhadap Portugis kembali dilakukan pada tahun 1550 di mana Sultan Johor meminta Ratu Kalinyamat dari Jepara mengirimkan 40 kapal dan 4.000 prajurit perang untuk menyerang Malaka. Mereka kemudian bergabung dengan pasukan Malaka dan Aceh untuk menyerang Portugis bersama-sama. Kekuatan gabungan itu berhasil memukul mundur Portugis dan mengambil alih sebagian besar Kota Malaka. Namun Portugis berhasil menyerang balik dan berhasil menewaskan 2.000 pasukan Jawa.

    Ekspedisi dilanjutkan lagi oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1574 dengan kekuatan 300 kapal dan 15.000 personel. Setelah pertempuran sengit selama 3 bulan, sebanyak 2/3 pasukan Jepara gugur.  Karena serangan ini, posisi Portugis di Maluku semakin terjepit karena bala bantuan datang terlambat. Hal ini membuat Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Kesultanan Ternate pada 1575. 

        Benteng-benteng Portugis di Ternate, yaitu Tolucco, Santa Lucia, dan Santo Pedro jatuh dalam waktu yang singkat, menyisakan Sao Joao Baptista sebagai pertahanan terakhir.  Di bawah komando Baabullah, pasukan Ternate telah mengepung Sao Joao Baptista dan memutuskan hubungan benteng tersebut dengan dunia luar.  Selesai pengepungan, pasukannya pun menyerang wilayah-wilayah yang menjadi pusat misi Yesuit, ordo gereja katolik, di Halmahera, pada tahun 1571. 

        Pada 1571, sebuah armada Ternate dengan enam kora-kora besar di bawah pimpinan Kapita Kalasinka menyerbu Ambon.  Tentara Portugis yang dikomandoi Sancho de Vasconcellos berusaha susah payah untuk mempertahankan benteng-benteng mereka.  Pasukannya pun kehilangan kekuasaan di laut atas perdagangan cengkeh.  Pada 1575, sebagian besar tanah Portugis di Maluku telah diambil alih oleh Ternate. Hanya tersisa Sao Joao Baptista yang masih dalam pengepungan.  Oleh sebab itu, Portugis pun menyerah dan pergi meninggalkan Ternate.  Sultan Baabullah berjaji jika Portugis menyerah maka mereka tidak akan disakiti, Portugis pun hengkang dari Maluku dan tidak ada satu pun dari mereka yang dilukai. 

    Itulah kisah sejarah yang patut menjadi pelajaran dan modal persatuan, nenek moyang kita sudah bahu membahu tidak pandang suku dan agama untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara walau nyawa sebagai taruhannya. Orang-orang Aceh, Melayu, Jawa, Bugis dan lain sebagainya bersatu padu membangun serangan ke Malaka yang saat itu dikuasai oleh bangsa Portugis. Banyak dari mereka yang tewas saat penyerangan itu, dan menjadi pahlawan yang tidak tercatat namanya. 

    Semoga Artikel ini bermaanfaat bagi kita semua.

Argha Sena

Sumber : https://www.kompas.com/, https://www.merdeka.com/