F April 2019 ~ PEGAWAI JALANAN

Senin, 15 April 2019

6 Negara ini Akan Membantu Indonesia Mati-matian Jika Sampai Diserang Amerika | Pegawai Jalanan

Sudah menjadi rahasia umum jika Indonesia adalah negara yang menarik perhatian dunia. Akibatnya, banyak negara di dunia ingin menguasai Indonesia hingga akhirnya melakukan penjajahan atau kolonialisasi. Jika di masa lalu, Belanda dan Portugis begitu menginginkan Indonesia, maka di era modern seperti sekarang, Amerika lah yang “kebelet” ingin menguasai negeri ini.
Alasannya sederhana, Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup berpotensi untuk dikeruk. Selanjutnya, kawasan Asia Tenggara di mana Indonesia berada adalah zona strategis untuk melakukan invasi ke negara Asia lain. Jika di masa depan terjadi pertempuran di Indonesia dan didalangi oleh Amerika, maka negara-negara ini akan jadi sahabat terbaik Indonesia.

1. Tiongkok


Hubungan Tiongkok dan Indonesia pernah memanas saat orde baru di mana rasisme terhadap kaum Tionghoa digulirkan. Namun, setelah orde baru runtuh, hubungan yang renggang itu akhirnya diperbaiki. Bahkan Indonesia dan Tiongkok sudah menjalin kerja sama di berbagai bidang. Hubungan baik ini membuat Tiongkok tak bisa melepaskan begitu saja jika negeri ini diserang Amerika.
Dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa, Indonesia adalah pasar terbaik untuk berbisnis. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak produk Tiongkok yang masuk ke Indonesia. Jika di masa depan Indonesia jadi hancur, maka Tiongkok pun tak akan bisa melakukan kerja sama menguntungkan lainnya dengan negeri ini.

2. Rusia


Sejak Bung Karno memimpin negeri ini. Hubungan baik antara Indonesia dan Rusia benar-benar terjalin dengan erat. Tak sekali dua kali negeri ini mendapatkan bantuan persenjataan dari negeri yang saat ini dipimpin oleh Vladimir Putin. Saat Bung Karno ke Rusia puluhan tahun yang lalu, beliau disambut dengan sangat suka cita. Rakyat Rusia begitu mengenal Bung Karno hingga seperti saudara jauh.
Saat terjadi kisruh di Irian Barat, Indonesia diberi bantuan utang KRI Irian yang saat itu nilainya mencapai 2,5 miliar dolar. Dengan modal kapal ini, Belanda akhirnya memutuskan mundur dan Irian Barat ikut ke dalam pangkuan NKRI. Di masa modern, Indonesia banyak membeli senjata tempur dari Rusia. Membiarkan Indonesia menderita sepertinya hal yang tak bisa dilakukan oleh Rusia.

3. Jepang


Anda tidak sedang salah menyimak konten. Jepang adalah negara yang kemungkinan menjadi sekutu Indonesia. Jika negeri ini diserang oleh Amerika, Jepang akan berusaha mengirim banyak pasukannya. Meski di masa lalu negeri ini pernah dijajah oleh Jepang, namun di masa modern Indonesia dan Jepang memiliki hubungan yang sangat erat.
Secara garis besar, Indonesia dan Jepang memiliki keterkaitan erat dengan hal ekonomi. Banyak sekali produk dari Jepang yang akhirnya masuk ke Indonesia. Sebut saja produk otomotif yang hampir semuanya merupakan produksi Jepang. Jika di masa depan Jepang kehilangan Indonesia, maka ekonomi Jepang mungkin akan mengalami kelesuan yang teramat parah.

4. Arab Saudi


Arab Saudi tidak bisa membiarkan Indonesia jika di masa depan negeri ini akan diserang. Alasannya adalah Indonesia memiliki jumlah Muslim terbanyak di dunia. Jika sampai negeri ini kacau, maka pemasukan Arab Saudi dalam hal ibadah haji dan umrah akan menurun dengan sangat tajam.
Selain masalah haji dan hal-hal berbau agama. Indonesia cukup banyak mengirim warga negara untuk bekerja di sana. Jika sampai Indonesia diserang Amerika, maka Arab Saudi akan kerepotan sendiri. Tak ada lagi TKW atau TKI yang akan dikirim sementara pekerjaan melimpah ruah dan buruh orang untuk mengerjakannya.

5. Singapura


Ada dua alasan kenapa Singapura akan membantu Indonesia jika di masa depan negeri ini diserang oleh Amerika. Pertama karena alasan regional. Indonesia adalah kekuatan terbesar yang dimiliki oleh Asia Tenggara. Jika negeri ini tumbang, maka Asia Tenggara akan runtuh. Negara-negara di kawasan ini akan mulai kehilangan arah dan kemungkinan memengaruhi banyak sektor.
Selanjutnya dalam urusan ekonomi. Indonesia adalah penyumbang terbanyak sektor wisata di Singapura. Setiap tahun ada jutaan orang datang ke sini untuk berlibur atau berbelanja. Jika sampai negeri ini hancur, maka Singapura akan kehilangan banyak pemasukan.
6. Malaysia

Malaysia merupakan negara tetangga terdekat dengan kita, bahkan saking dekatnya yang sering ribut dengan kita adalah Malaysia. Hal itu di sebabkan karena sejarah panjang yang saling berkaitan satu sama lainnya. Akan tetapi Malaysia adalah negara yang akan membantu Indonesia jika Indonesia di serang oleh Amerika, alasannya sudah jelas Indonesia merupakan negara yang mayoritas merupakan rumpun melayu. Jika Indonesia hancur maka hancurlah bangsa serumpun ini pasti juga Malaysia akan terkena imbasnya. Karena Indonesia adalah negara sahabat perdagangan ekspor impor terbesar Malaysia, dan mempunyai ikatan historis yang sangat kuat dengan Indonesia. Jika Indonesia hancur maka Malaysia pasti ikut hancur karena walaupun beda negara akan tetapi kita masih merasa satu bangsa Nusantara.
Inilah enam negara yang kemungkinan akan membantu Indonesia jika sampai memiliki konflik dengan Amerika. Tapi harus anda ketahui bahwa, pasca reformasi kedudukan Indonesia adalah netral, artinya tidak memiliki sekutu. Namun, dalam beberapa sektor, negeri ini masihlah sahabat baik banyak negara.

TONTON VIDEONYA DISINI

Penyunting : Admin PJ

Minggu, 14 April 2019

Beberapa Peristiwa Kekerasan di Tanah Minangkabau Yang Tercatat Dalam Sejarah | Pegawai Jalanan

Sejarah kekerasan di Minangkabau adalah urutan peristiwa-peristiwa kekerasan yang berlatar belakang politikekonomi, dan agama, yang pernah terjadi dan tercatat dalam sejarah yang terkait dengan Minangkabau sebelum masa kemerdekaan dan di Sumatra Barat setelah masa kemerdekaan Indonesia.
Seperti wilayah-wilayah lainnya di dunia, Minangkabau atau Sumatra Barat juga tidak terbebas dari konflik dan kekerasan yang memakan banyak korban jiwa. Peristiwa tersebut bisa dalam bentuk perang saudarakudeta berdarah di lingkungan istana, perang dalam rangka pertahanan diri dari invasi asing, bahkan juga ada dalam bentuk invasi ke wilayah lain. Semua peristiwa itu terjadi dengan skala yang beragam.
Beberapa peristiwa terawal yang tercatat dengan baik dalam arsip sejarah, di antaranya invasi Majapahit sekitar awal abad ke-15. Lalu kudeta berdarah tahta Pagaruyung pada awal abad ke-16 oleh Dewang Palokamo Pamowano (Dewang Parakrama Parmawana) dari Dharmasraya yang agak kabur sejarahnya, yang merupakan bagian dari 200 tahun mata rantai sejarah Minangkabau/Pagaruyung yang hilang/gelap. Pada masa selanjutnya juga terjadi beberapa peristiwa kekerasan lainnya, seperti Perang Padri, peristiwa PRRI, dan lainnya, yang tercatat dengan baik.
Invasi Majapahit

Invasi Majapahit ke Pagaruyung terjadi pada tahun 1409. Dalam sebuah teks yang luar biasa versi Majapahit yang tersimpan di museum Jawa Timur diceritakan tentang invasi penaklukkan ke Sumatra terutama ke Pagaruyung dengan 500 kapal perang lengkap dengan patih dan hulubalang serta 200.000 prajurit dan seekor kerbau jantan raksasa sebesar gajah. Bala tentara Majapahit tanpa halangan sampai di Jambi yang merupakan pintu masuk ke dataran tinggi Minangkabau melalui sungai besar dan berair dalam yang ada di dataran rendah bagian timur Sumatra.
Sesampai di Pariangan para patih dan hulubalang Majapahit berunding dengan Patih Suatang (Datuk Perpatih Nan Sebatang) serta Patih Ketemanggungan (Datuk Katumanggungan), lalu muncul usulan dari Patih Majapahit untuk mengadu kerbau sebagai simbolisasi perang. Pemilik kerbau yang menang berarti memenangkan peperangan, begitu pula sebaliknya.
Setelah datang waktunya adu kerbau itu pun dilaksanakan. Orang Majapahit mengeluarkan kerbau raksasa sementara orang Patih Suatang mengeluarkan seekor anak kerbau kecil yang kelaparan dan kehausan. Anak kerbau itu secepat kilat menyeruak ke selangkang kerbau raksasa dan menghisap buah pelir kerbau itu. Setelah berputar-putar karena tidak bisa menanduk akhirnya kerbau raksasa itu rubuh sambil berguling-guling karena anak kerbau lapar itu tidak melepaskan hisapannya pada buah pelir kerbau raksasa itu.
Sesuai kesepakatan, maka pihak Majapahit dianggap kalah, lalu mereka akan pergi namun ditahan oleh Patih Suatang karena mereka akan dijamu makan dan minum. Masih menurut teks versi Majapahit, setelah jamuan makan dan minum itulah terjadi peristiwa kekerasan yang menewaskan patih dan para hulubalang serta separuh prajurit Majapahit. Sementara yang selamat pulang ke Majapahit dan melaporkan peristiwa itu kepada Sang Nata (raja) yang menerimanya dengan amat masygul karena kekalahan besar dan kehilangan para patih dan hulubalang yang diandalkan serta banyak prajurit.
Peristiwa tersebut terjadi di sebuah padang luas yang kemudian diberi nama 'Padang Sibusuk' karena begitu banyaknya mayat bergelimpangan yang kemudian menimbulkan bau busuk. Kisah ini juga tercatat dalam Hikayat Raja-raja Pasai yang merekam berbagai peristiwa di Sumatra sekitar abad tersebut. Sekarang Padang Sibusuk masuk dalam wilayah kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat.
Peristiwa kekalahan dahsyat itu sekaligus sebagai tonggak penanda berakhirnya ekspansi Majapahit ke wilayah barat Nusantara. Pagaruyung yang didirikan Adityawarman pada 1347 yang merupakan kerajaan yang berpengaruh di Sumatra kemudian semakin berkembang menjadi kerajaan yang mempunyai pengaruh besar di wilayah barat Nusantara, Sumatra serta Semenanjung Malaya.
Tentang bagaimana bentuk hubungan Majapahit dengan Pagaruyung sebelumnya masih menjadi perdebatan para ahli. Jayanagara, raja Majapahit ke-2 yang memerintah dari tahun 1309-1328 merupakan raja berdarah Minang/Melayu dan Jawa. Sementara Adityawarman, pendiri Pagaruyung pada 1347 merupakan sepupu dari Jayanagara. Ada ahli yang berpendapat bahwa kerajaan di Minang/Melayu tidak pernah berada dalam posisi sebagai negara taklukan, namun lebih pada bentuk persahabatan Melayu dan Majapahit, serta berdiri sebagai kerajaan tersendiri.
Perang Padri

Perang Padri merupakan peristiwa kekerasan yang panjang yang bermula dari tahun 1803. Mulanya perang ini adalah konflik antara suatu kelompok kaum ulama dan pengikutnya, yang disebut kaum Padri, dengan masyarakat yang tidak taat pada ajaran Islam. Kaum ulama ingin menerapkan ajaran Islam sebagaimana mestinya pada masyarakat Minangkabau yang pada masa itu banyak yang menyukai judisabung ayam, serta minuman keras. Tidak hanya itu, kaum ulama juga ingin menerapkan hukum Islam dalam masyarakat sebagai pengganti hukum adat yang sudah berlangsung lama. Keinginan kaum ulama ini kemudian mendapatkan tentangan dari kaum adat yang didukung pihak kerajaan Pagaruyung.
Terjadilah konflik berdarah antara kaum Padri dengan kaum adat yang tercatat sebagai konflik atau perang saudara yang dahsyat yang pernah terjadi di Minangkabau. Sejarah juga mencatat peristiwa ini sebagai konflik antara kaum Islam penganut ajaran murni dengan kelompok masyarakat lainnya yang pertama di Asia Tenggara dan merupakan peristiwa satu-satunya di Nusantara.
Rencana besar kaum Padri untuk menerapkan ajaran Islam secara murni tidak hanya terbatas di Minangkabau, tapi juga bergerak ke arah timur atau wilayah Riau dan utara yang mencakup wilayah MandailingAngkola, dan Batak Toba di sekitar danau Toba. Militer Padri yang dibentuk oleh Haji PiobangHaji Sumanik, dan Haji Miskin berkembang dengan pesat. Ketiga ulama tersebut merupakan perwira yang pernah berkarier pada kesatuan Janisary Turki yang terkenal di Timur Tengah pada masanya.
Dengan militer yang kuat, Kaum Padri mencapai banyak kemenangan, baik di Minangkabau maupun dalam invasinya ke arah utara. Dalam tempo yang singkat pasukan Padri menguasai wilayah Mandailing, Angkola, dan wilayah sekitaran danau Toba. Di semua wilayah itu kaum Padri menegakkan ajaran Islam yang murni pada masyarakat yang belum taat dan mengislamkan orang-orang yang masih menganut pagan. Penaklukan ini menimbulkan banyak korban jiwa.
Sementara di Minangkabau kaum Padri berhasil menguasai istana Pagaruyung pada tahun 1815 dan membakarnya. Dalam peristiwa kekerasan ini banyak bangsawan Pagaruyung yang terbunuh. Sultan Arifin Muningsyah yang berhasil selamat karena menyingkir ke wilayah lain kemudian mengajak pihak Belanda pada tahun 1821 untuk membantunya menghadapi kaum Padri. Ajakan ini disetujui Belanda sehingga mengubah peta peperangan menjadi perang antara Kaum Padri lawan Belanda yang beraliansi dengan kaum adat.
Setelah perang berlangsung beberapa lama, kaum adat kemudian merasa dirugikan oleh Belanda, lalu menimbulkan suatu kesadaran untuk bersatu dengan kaum Padri melawan Belanda. Sejak tahun 1833 perang ini berubah menjadi perang orang Minangkabau melawan Belanda. Perang ini berlangsung secara sporadis hingga 1838. Perang tiga episode yang cukup panjang ini berlangsung dari tahun 1803 hingga 1838, dan memakan banyak korban jiwa, baik pemimpin maupun prajurit dari ketiga belah pihak, serta masyarakat biasa. Satu hal monumental yang juga mengiringi ujung peperangan panjang ini adalah runtuh dan hilangnya kerajaan Pagaruyung yang telah berumur hampir 500 tahun sejak pendiriannya pada tahun 1347 oleh Adityawarman.
Agresi Militer Belanda I dan II
Agresi militer Belanda pertama yang berlangsung dari Juli hingga Agustus 1947 juga menimbulkan korban jiwa di Sumatra Barat. Suatu peristiwa kekerasan yang dilancarkan Belanda di kota Padang akhirnya merenggut nyawa Bagindo Aziz Chan, seorang wali kota Padang yang kukuh mempertahankan wilayahnya dari pelanggaran yang dilakukan pihak Belanda. Bagindo Aziz Chan kemudian dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Agresi militer Belanda yang kedua pada Desember 1948 ke Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia berhasil menguasai pusat pemerintahan dan menangkap SoekarnoHattaSjahrir, dan pemimpin lainnya. Peristiwa ini melumpuhkan pemerintahan Indonesia. Sjafruddin Prawiranegara kemudian membentuk pemerintahan darurat di Sumatra Barat dengan ibu kota Bukittinggi. Ini menjadikan Sumatra Barat sebagai pusat perjuangan melawan Belanda yang berkonsekuensi Sumatra Barat menjadi sasaran utama penyerangan oleh militer Belanda. Terjadilah peperangan dan pengeboman di Sumatra Barat yang dilancarkan pihak Belanda.
Dalam masa ini juga banyak berjatuhan korban, baik dari para pejuang maupun dari masyarakat sipil. Dalam suatu penyerangan oleh Belanda yang kemudian disebut sebagai "Peristiwa Situjuah", para pejuang kehilangan beberapa pemimpin dan puluhan pasukan pengawal, di antaranya Khatib SulaimanArisun Sutan AlamsyahMunir Latief, dan lainnya.

Penyunting : Admin PJ
x

Sabtu, 13 April 2019

Legenda dan Mitos Nyi Roro Kidul Ternyata Hanyalah Ciptaan Penjajah Untuk Membodohi Kita | Pegawai Jalanan


Siapa tak kenal tokoh Ratu Pantai Selatan, atau Kanjeng Ratu Kidul, atau populer disebut Nyai Loro Kidul? Jangankan orang Jawa dan Sunda, bahkan suku Batak pun tampaknya mempercayai. Ia ditengarai sebagai penguasa lautan serta memiliki kekuatan mistik guna mengendalikan perairan di selatan Pulau Jawa (Samudra Hindia). Gambaran Ratu Kidul ialah sosok perempuan cantik, rambutnya panjang terurai, berpakaian dominan warna hijau ala wanita Jawa, ada mahkota di kepala sebagai tanda bahwa dia seorang raja/ratu pada sebuah kerajaan entah dimana.


Sejak kapan gaung klenik itu timbul lalu berkembang, belum dijumpai literatur secara pasti. Maka lazimnya legenda, kendati masih antara iya dan tidak ---hukumnya sunah--- boleh percaya boleh tidak. Namun sebagian besar warga, terutama yang hidup di sepanjang pantai selatan Jawa sangat mempercayai bahwa “barang” itu seolah-olah ada, seakan-akan nyata dan “hidup” di dalam benak masyarakat meski beragam versi.

Gaung di Mataram (Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) misalnya, justru mensinyalir Nyai Loro Kidul adalah "istri spiritual" para raja kedua kraton dimaksud. Ketika acara “sedekah laut” digelar saat-saat tertentu di Pantai Parangkusuma, Bantul dan di Pantai Paranggupita, Wonogiri, selalu dikaitkan sebagai persembahan kepada si Nyai. Entah benar atau rumor belaka, panggung Sanggabuwana di Kraton Solo pun konon merupakan tempat pertemuan antara Sunan dengan Kanjeng Ratu.


Manakala lebih dalam lagi menelusuri legenda ini, Ratu Pantai Selatan itu sebenarnya terdiri atas dua orang. Pertama adalah Kanjeng Ratu Kidul itu sendiri, yang kedua merupakan pembantu setia Kanjeng yang bernama Nyai Lara (dibaca: Loro) Kidul. Konon si pembantu ini menyukai warna hijau dan kerap “mengambil” satu atau beberapa orang yang memakai atribut hijau sewaktu mereka berada di pantai untuk dijadikan pelayan atau pasukannya. Oleh karena itu, beredar himbauan kepada para pengunjung pantai di selatan Pulau Jawa, bila tidak ingin menjadi “korban” agar menghindari mengenakan pakaian hijau.

Legenda di Sunda ternyata berbeda dengan Jawa, bahwa Ratu Kidul versi Sunda malah diyakini sebagai titisan putri Pajajaran yang diusir keluarganya karena menderita penyakit yang membuat malu keluarga lainnya, karena putus asa ia pun bunuh diri di laut selatan. Akan tetapi, dalam kepercayaan Jawa, tokoh ini dianggap bukan Ratu Laut Selatan yang asli, melainkan Nyai Loro Kidul, pembantu setianya. Hal ini berdasar kepercayaan bahwa usia Ratu Kidul jauh lebih tua dan telah menguasai laut selatan jauh sebelum sejarah Pajajaran berdiri.


Versi lainnya, konon Panembahan Senopati adalah raja pertama yang menyunting Nyai Loro Kidul. Berbasis kepercayaan ini, diciptakanlah Tari Bedaya Ketawang oleh kraton Kasunanan Surakarta (era Sunan Pakubuwana I) sebagai penghormatan terhadap Kanjeng Ratu. Maka di setiap pagelaran tari tersebut, di sebelah (disamping) singgasana Sunan selalu disediakan kursi kosong. Entah kenapa. Konon kursi itu diperuntukkan bagi “istri”-nya ---tak kasat mata--- yang ikut menikmati sendratari di Kraton. Fenomena ini menimbulkan asumsi pengamat sejarah, bahwa keyakinan akan keberadaan Kanjeng Ratu Kidul sengaja digelorakan guna melegitimasi dinasti Mataram dahulu, atau bahkan hingga kini? Entahlah.

Ada pula versi lain. Bahwa Nyai Loro Kidul adalah Dewi Nawang Wulan, bidadari yang turun ke bumi serta pernah diperisteri Jaka Tarub. Semakin ragam saja cerita berkembang tentang si Nyai. Sebenarnya masih ada kisah-kisah lain yang tak secara spesifik menyebut asal muasal, kecuali ia merupakan puteri raja di Jawa, demikian seterusnya.


Lain legenda yang berkembang dalam masyarakat Jawa dan Sunda, lain pula mitos di Batak. Ada sinyalemen bahwa Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak bukanlah tanpa alasan. Ini versi lain ceritanya.






Alkasih, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang memiliki dua putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan putra kedua diberi nama Raja Isumbaon. Putra sulungnya, Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut, Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan.

Putri tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik-adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah lagi santun kepada orangtua. Karena itu, wajar bila Biding Laut menjadi anak yang paling disayang. Namun kedekatan orangtua terhadap Biding Laut menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya. Pada gilirannya mereka sepakat untuk menyingkirkan Biding Laut.


Singkat cerita, saudara-saudaranya Biding Laut yang terbakar oleh api iri dan dengki melalui berbagai siasat berhasil membawa Biding keluar, lalu meninggalkan sendirian di sebuah pulau saat ia tidur. Tetapi Biding tak berprasangka buruk kepada saudara-saudara yang hendak mencelakakan dirinya. Tanpa pikir panjang, setelah terbangun ia menaiki perahu kemudian mendayung menuju pantai Sibolga.


Akan tetapi ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahiran. Selama beberapa hari terombang-ombang di pantai barat Sumatera. Entah sudah berapa kali ia pingsan akibat kelaparan serta terpaan hawa panas dan dingin udara. Penderitaan berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah Jawa, sekitar daerah Banten. Seorang nelayan melihat, lalu menolong Biding Laut. Di rumah nelayan tadi, Biding memperoleh perawatan. Ia merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga baru. Dalam sekejap, keberadaannya telah menjadi buah bibir masyarakat sekeliling, terutama selain keramahan juga karena pesona kecantikannya.


Syahdan. Suatu ketika kampung nelayan tersebut kedatangan seorang raja dari Jawa Timur. Agaknya sang Raja tertarik akan pesona Biding Laut, lalu raja pun meminang dan memboyongnya ke Jawa Timur.


Biding Laut hidup berbahagia bersama suami. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, sebab muncul intrik di istana yang menuduh Biding berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum kerajaan pun diterapkan, ia harus dihukum mati. Keadaan ini menimbulkan kegalauan Raja. Ia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya dihukum mati, raja lalu mengatur rencana untuk mengirim kembali Biding Laut ke Banten melalui lautan. Maka dengan menggunakan perahu, Biding dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten. Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan.

Namun sungguh malang nasib mereka, dalam perjalanan perahunya tenggelam diterjang gelombang besar, dan Biding beserta pengawalnya tenggelam di dasar Laut Selatan. Itulah sekelumit legenda perihal asal muasal Nyai Loro Kidul di Batak. Apakah masih ada versi lainnya? Silahkan kalian ceritakan di kolom komentar.


Retorikanya sekarang: warga kini mempercayai keberadaan Nyai Loro Kidul yang mana; Nyai yang dari Batak; dari Sunda; Nyai Jawa; atau Nawang Wulan, bidadari yang turun ke bumi? Retorika memang tidak membutuhkan jawaban. Namun ditemui beberapa fakta menarik, bahwa manajemen hotel di sepanjang pantai selatan Jawa dan Bali hampir semua menyediakan ruang serta kamar khusus bagi Ratu Pantai Selatan. Luar biasa!







Betapa kamar 327 dan 2401 di Hotel Grand Bali Beach sangat terkenal. Oleh karena kamar 327 merupakan satu-satunya ruangan yang tak tersentuh api tatkala terjadi kebakaran besar Januari 1993-an. Sehingga pasca renovasi, kamar 327 dan 2401 terus dirawat, diberi hiasan warna-warna hijau, diberi suguhan (sesaji) setiap hari, tetapi tak boleh dihuni oleh siapapun karena dipersembahkan untuk Nyai Loro Kidul. Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu pun demikian. Kamar 308 sengaja dikosongkan buat si Nyai. Di dalam ruangan dipajang beberapa lukisan Kanjeng Ratu Kidul karya Basoeki Abdullah. Di Yogyakarta juga ada. Hotel Queen of The South, dekat Parangtritis mereservasi kamar 33 buat Ratu Pantai Selatan.


Sekali lagi, retorika yang kembali muncul ialah: kepada siapa kamar-kamar tersebut akan dipersembahkan; apakah untuk Nyai Loro Kidul jelmaan Dewi Nawang Wulan; atau buat Nyai yang titisan putri Pajajaran; atau reinkarnasi Biding Laut; atau barangkali dipersiapkan bagi Nyai ---istri spiritual para raja--- di Tanah Jawa?


“Jangankan hanya legenda atau mitos, bahkan sejarah pun selayaknya tak sekedar dibaca dan ditelan bulat-bulat, tetapi mutlak harus dikritisi, dianalisa, dan jika perlu dibuat sejarah baru yang masuk akal bila alur cerita sebelumnya ternyata bagian dari muslihat kaum kolonial”. Inilah premis atau titik awal yang menguat sebelum melanjutkan catatan sederhana ini.


Sekurang-kurangnya ada beberapa rujukan yang mendukung premis di atas. Pertama, statement Juri Lina, penulis Swedia dalam buku "Architects of Deception- the Concealed History of Freemasonry" (2004). Ia berasumsi, bahwa ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri. Antara lain: (1) kaburkan sejarahnya, (2) hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya, (3) putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.


Tak kurang, pointers diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI), Jakarta (17/1/2013), pimpinan Hendrajit, cenderung menebalkan asumsi Lina. GFI mensinyalir, terdapat pola yang berulang dalam setiap kolonisasi yakni “pengaburan atau pembengkokan sejarah leluhur di negara koloni (terjajah)”. Itu skema besarnya.





Adapun langkah pengaburan sejarah bangsa menurut GFI, melalui beberapa tahapan antara lain: pertama, penghancuran bangunan fisik bangsa terjajah agar generasi baru tidak dapat menyaksikan bukti-bukti kejayaan nenek moyangnya, otomatis selain tak mampu menarik hikmah dan nilai-nilai emas histori, juga tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah; kedua, diputus hubungan histori dengan leluhur melalui penciptaan stigma dan opini bahwa leluhurnya itu bodoh, tidak beradab, primitif, dan lain-lain; ketiga, dibuat sejarah baru versi penjajah.


Dan tampaknya, substansi kedua asumsi (Juri Lina dan GFI) hampir identik, hanya GFI menambahkan poin materi: “dibuat sejarah baru versi penjajah” --- hal ini yang kemungkinan tak terlintas di benak Lina, penulis Swedia. Entah kenapa, atau sebab negaranya Lina tidak pernah dijajah? Boleh jadi. Memang terdapat beberapa negara di dunia yang tak pernah dijajah oleh siapapun, antara lain Arab Saudi, Islandia, SWEDIA, Denmark, Norwegia, Nepal, Turki, dan Thailand.


Dengan demikian, menelusur kembali sejarah nusantara yang konon banyak dikaburkan ataupun dibengkokkan oleh kaum penjajah bersama “kaki tangan”-nya hingga kini, maka berbasis kedua asumsi tadi, penulis ingin menguak ---walau sedikit saja--- bagaimana cara para kolonial dahulu mengkaburkan sejarah bangsa ini.


Tak boleh dielak, kemunculan istilah NUSANTARA atau nuswantoro, sejatinya merujuk kepada penyatuan empat bangsa, yaitu bangsa Chin (Cina, Veitnam, Laos dan Kamboja), bangsa Thai (Burma atau Myanmar dan Thailand), bangsa Afrika (Madagaskar, Srilangka, India dan seterusnya hingga Mesir) dan Bani Jawa terdiri atas Sumatera, Papua sampai kepulauan Polinesia, Hawai dan Jawa itu sendiri. Inilah Era Medang Kamulyan dengan raja yang terkenal ialah Ratu Boko. Medang Kamulyan merupakan kelanjutan Era Wangsa Keling dibawah kekuasaan Sailendra dimana pusat pemerintahan konon berada di sekitar Yogyakarta sampai ke wilayah Dieng. Dieng itu sendiri itu artinya penguasa. Dari kata Dieng bergeser namanya menjadi Dah Nyang (Dayang) yang berarti Dah Hyang atau Penguasa. Selanjutnya inti yang ingin diurai pada paragraf ini, bahwa NUSA artinya pulau, sedangkan ANTARA maksudnya ialah jarak. Sehingga terminologi “nusantara” bermakna sebuah bangsa yang hidup di antara pulau-pulau yang tersebar dari kepulauan Polinesia sampai ujung timur hingga di wilayah Madagaskar atau Afrika.





Maka menjadi wajar ketika Samudra Pasifik tempo doeloe dikenal dengan istilah Lautan Teduh. Oleh karena bahasa nusantara (bahasa Indonesia kini) hakikinya adalah cikal bakal Bahasa Melayu. Ia dianggap lingua franca bagi perdagangan dan hubungan politik di nusantara sejak sekitar A.D 1500-an. Selain digunakan di Brunei, Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), Malaysia (dikenal sebagai bahasa Malaysia); bahasa nasional Singapura; dan juga menjadi bahasa kerja di Timor Leste. Bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, bagian Australia (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu). Bukankah TEDUH itu kata dalam bahasa Indonesia yang artinya aman, nyaman, atau tentram?

Jujur saja, istilah Lautan Teduh merupakan salah satu circumstance evidence (bukti keadaan) yang masih tertinggal dalam mengendus kejayaan nusantara dulu, kendati di era sekarang telah diubah namanya menjadi Samudra Pasifik di berbagai literatur. Dengan kata lain, bahwa Samudra Pasifik itu dahulunya disebut Lautan Teduh oleh banyak negara. Pertanyaannya: siapa memberi nama Lautan Teduh? Logika jawabannya sederhana: Tak lain dan tak bukan adalah armada laut sebuah bangsa atau negara yang yang saat itu menguasai lautan seluas sepertiga bumi, atau superpowernya pada era tersebut.


Disinilah titik mula julukan Nyai Loro Kidul itu muncul. Sebutan tersebut mengacu kepada penguasa (Dah Hyang) pantai selatan, atau semacam Angkatan Laut kini. Di Indonesia semodel Armada Barat atau Armada Timur, dll. Atau seperti US-Pasific Command (USPACOM), USAFRICOM-nya Paman Sam, dan lainnya. Akan tetapi, kala itu di pantai selatan dipimpin oleh NYAI. Nyai itu sendiri sebutan bagi komandan perempuan yang ahli dalam segala pertempuran. Dengan demikian, Nyai atau NYI itu istilah “Tenaga Ahli” militer bagi perempuan, kalau laki-laki namanya RAKYAN. Misalnya Rakyan Panangkaran, itu sebuah tempat latihan kemiliteran yang lokasinya dahulu berada di sekitar Yogyakarta.


Awal muasal cerita Nyai Loro Kidul ini masuk Era Wangsa Keling. Sebutan tadi mengacu atau atas jasa dari “dua orang” (Loro/dua) “wanita” (Nyai) tenaga ahli militer bidang kelautan yang sanggup mengendalikan armada-armada nusantara tempo doeloe. Dimana semua tamu-tamu asing diarahkan ke pantai selatan, sekarang disebut Samudra Hindia. Sedangkan istilah “mistik” itu muncul di permukaan karena mengacu atas keahlian dua tenaga ahli wanita tadi mengecoh lawan-lawannya, istilahnya kini trik-trik intelijen. Oleh karena dalam intelijen bahari memang ada sebutan “datang tiba-tiba dan menghilang seketika”. Tak lain maknanya adalah, jika datang membawa perniagaan, kebudayaan dan seterusnya, tetapi kerapkali juga mengocak urusan negara-negara lawan yang hendak mencobanya.


Maka jelaslah bahwa berkembangnya legenda mistik di sepanjang pantai selatan sesungguhnya merupakan “PEMBODOHAN PERADABAN” bagi anak bangsa secara sistematis hingga kini ketika cerita Nyai Loro Kidul dilarikan dalam bentuk khayalan dan cerita mistik ---dalam bahasa Belanda disebut klenik--- sesuatu yang tidak mungkin.

Sebagaimana asumsi Juri Lina dan GFI tentang pola pengaburan sejarah dalam setiap kolonisasi, agaknya kepercayaan klenik tersebut sengaja dihembuskan kuat-kuat kepada anak cucu bangsa Indonesia agar nenek moyangnya terstigma sebagai bangsa primitif, tidak beradab, penyembah berhala, dan lain-lain padahal semenjak zaman dahulu, bangsa kita adalah bangsa yang kuat, maju dan merupakan penguasa bahari.



Akhirnya berbasis pada substansi premis di tersebut, sekali lagi, jangankan cuma legenda dan mitos, bahkan sejarah pun layak dikritisi, atau dianalisa, kalau perlu dirobek pada halaman pertama apabila kronologisnya tak masuk akal, terlebih lagi jika alur cerita merupakan bagian dari tipu muslihat kaum penjajah dulu.


JALESVEVA JAYA MAHE, di laut kita jaya!


Penyunting : Admin PJ
Dikutip dari : Kompasiana tulisan M. Arif Pranoto

Kamis, 11 April 2019

Inilah Wanita yang Suka Datang ke Rumahmu Pada Waktu Maghrib | Pegawai Jalanan

Memangnya siapa yang hendak bertamu ke rumah orang pada waktu maghrib? Maghrib adalah saat dimana matahari sudah tenggelam namun masih muncul dengan sinar yang terkadang berwarna oranye atau merah menyala. Pada waktu itulah, orang tua biasanya menyuruh anaknya untuk masuk ke dalam rumah dan menghentikan aktivitas di luar rumah.  Mereka percaya bahwa saat Maghrib tiba, akan banyak setan dan jin yang berkeliaran. 

Rasulullah SAW sudah sangat jelas memerintahkan umatnya agar ketika magrib menutup pintu dan menggendong bayi yang masih kecil. Dalam shahih Muslim Nabi bersabda yang artinya:


“Jika sore hari mulai gelap maka tahanlah bayi bayi kalian sebab iblis mulai bergentayangan pada saat itu, Jika sesaat dari malam telah berlalu maka lepaskan mereka, kunci pintu pintu rumah dan sebutlah nama Allah sebab setan tidak membuka pintu yang tertutup. Dan tutup rapat tempat air kalian dan sebutlah nama Allah. dan tutup tempat makanan kalian dan sebutlah nama Allah. meskipun kalian mendapatkan sesuatu padanya.” (HR Muslim)



Pada waktu maghrib itulah, seluruh umat Muslim diperingatkan untuk segera menutup pintu dan jendela seraya mengucapkan bismillah agar wanita ini tak datang ke rumah.
Memangnya siapa wanita itu? Apa yang dia lakukan di dalam rumah kita? Ketahuilah bahwa dia bukanlah wanita baik, namun bisa saja mencelakakan anak dan wanita yang tengah hamil.




Mungkin ada yang pernah dengar nama Ummu Sibyan atau pun tidak sebelum ini, Ummu Sibyan ini adalah kaum jin yang berjenis kelamin wanita yang suka mengganggu bayi dan anak yang berusia kurang dari 2 tahun serta wanita hamil. Sebab itulah anak-anak yang baru lahir harus diazankan terlebih dahulu agar bayi itu tidak di ikuti oleh jin ini.Apa Kerja Jin Ummu Sibyan?
Seperti yang di ceritakan dalam kisah “jin Ummu Shibyan Dengan Nabi Sulaiman”, jin ini mengatakan ia bisa masuk dalam rahim perempuan dan mengikat rahimnya serta menyumbat dengan tujuan agar korbannya itu tidak bisa mengandung.
Diceritakan juga jin ini masuk ke dalam perut orang perempuan yang hamil, di waktu janin di dalam kandungannya sedang tumbuh jin ini akan menendanggnya, maka berlakulah keguguran dan jadilah rahimnya kosong semua.
Sungguh mengerikan bukan? Simak bagaimana tandanya jika seorang Bayi terkena gangguan jin Ummu Sibyan, diantaranya adalah.
Anak-anak jatuh seakan-akan didorong,
Mengigau sambil menggemerutukkan gigi berulang kali,
Demam panas hanya setelah Ashar sampai sebelum Subuh.
Sehingga efek dari gangguan di tersebut akan mengakibatkan hal seperti ini.
Autisme (over hiperaktif)
Nakal dan keras kepala
Malas
Tanda-tanda Wanita Hamil Terkena Gangguan Jin Ummu Sibyan adalah :
Cara Untuk menghindar dari Gangguan Ummu Sibyan yaitu :
Metode pengobatan pada yang di ganggu setan wanita ini.
Metode Pengobatan Pada Wanita Hamil adalah dengan cara,
Bisa juga di bacakan doa doa pada minyak zaitun untuk di oleskan pada bagian dada dahi dan tulang belikat sebelum tidur. Itulah beberapa cara untuk menangkal kedatangan jin perempuan yang bisa mencelakakan keluarga. Sayangi keluarga dan jangan biarkan waktu Maghrib menjadi jalan untuk mereka merusak keharmonisan rumah tangga anda. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang-orang yang beriman dan bertaqwa.

Kerja dia tak lain tak bukan adalah Mengganggu bayi yang baru lahir dan anak-anak (biasanya yang berumur kurang dari 2 tahun) serta wanita yang sedang hamil. Jin Ummu Sibyan memiliki wajah yang mengerikan dengan mata yang besar dan berjalan di dinding seperti cicak , Ummu Sibyan juga dapat mengikat rahim wanita serta membunuh bayi yang masih dalam kandungan.

Bayi menangis melalak (matanya terbelalak memandang keatas/sudut tertentu),
Sawan tangis


Rasa sesak dada terutama setelah waktu asar, yang mungkin berlangsung sampai tengah malam, kusut pikiran, sakit di bagian tulang-tulang belakang, mengigau ketika tidur, bermimpi dengan mimpi yang menakutkan.
Tutup pintu dan jendela rumah waktu Maghrib, Jangan angkat atau masukkan baju yang sudah dijemur diluar rumah pada waktu Maghrib walaupun jemuran belum kering.
Tiarapkan anak, jangan biarkan matanya melihat ke arah dinding atau pojok ruangan, baca ayat Qursi dan 3 Surat Qul kemudian tiup ke ubun-ubunnya sampai berhenti menangis. Halau dengan bahasa sendiri seperti misalnya "wahai Ummu Sibyan pergilah kau keluar dari rumahku dan jangan ganggu anak anakku", Insya Allah Ummu Sibyan akan pergi.


Bacakan doa-doa untuk menghindari setan termasuk doa menghindar sihir seperti (surah al-Fatihah, ayat Kursi, surah al-Baqarah, surah Ali-Imran dan surah al -Mu’awwizat) pada satu sendok madu asli dan kurma untuk dimakan setiap hari sebelum sarapan.


TONTON VIDEONYA DISINI