F April 2022 ~ PEGAWAI JALANAN

Senin, 25 April 2022

MISTERI KEMATIAN MARSINAH AKTIVIS BURUH!!!

 


Kaum buruh adalah kaum yang paling sering ditindas oleh pemilik modal/perusahaan untuk mengeruk keuntungan. Para pemilik modal yang serakah, tidak segan-segan memberikan upah yang rendah namun memeras penuh tenaga para buruh. Para buruh yang bersuara lantang, akan didiskriminasi dari tempatnya bekerja. Walau telah keluar surat edaran untuk menaikan upah buruh oleh pemerintah, terkadang masih ada perusahaan yang tidak mengindahkan himbauan tersebut. Hal ini akan menyebabkan protes dari para buruh, mereka yang memimpin protes ini bisa kehilangan pekerjaan ataupun mungkin nyawanya. Peristiwa ini pernah terjadi kepada Marsinah, Seorang buruh perempuan yang lantang menyuarakan tuntutan pekerja atas kesejahteraan mereka. Ia harus kehilangan nyawanya, bahkan kematiannya masih menjadi misteri dan dalang pembunuhan ini masih belum diketahui.

Marsinah lahir pada 10 April 1969, ia adalah seorang aktivis dan buruh pabrik pada masa Orde Baru. Marsinah adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan, kakaknya bernama Marsini dan adiknya bernama Wijiati. Dia lahir dari pasangan Astin dan Sumini di desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Cita-citanya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi harus kandas karena terbentur biaya.  Marsinah lalu menjadi seorang buruh perempuan yang bekerja pada PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik pembuat jam di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. ­ Di lingkungan perusahaan di mana dia bekerja, Marsinah merupakan aktivis, ia merupakan buruh wanita yang vokal dalam membela rekan-rekannya sesama buruh, yang kerap diperlakukan tidak adil oleh pihak pimpinan perusahaan. Marsinah lalu menggantikan YudoPrakoso memimpin aksi pekerja PT Catur Putra Surya untuk mendapatkan kenaikan gaji dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari.

Hal ini  berdasarkan KepMen 50/1992, diatur bahwa UMR Jawa Timur ialah Rp2.250. Pemprov Surabaya meneruskan aturan itu dalam bentuk Surat Edaran Gubernur KDH Tingkat I, Jawa Timur, 50/1992, isinya meminta agar para pengusaha menaikkan gaji buruh 20%. Kebanyakan pengusaha menolak aturan tersebut, termasuk PT CPS. Manajemen PT CPS hanya mau mengakomodasi kenaikan upah dalam tunjangan, bukan upah pokok. Negosiasi antara buruh dengan perusahaan mengalami kebuntuan. Karena itu, buruh PT CPS menggelar mogok kerja pada 3 Mei 1993. Ada sekitar 150 dari 200 buruh perusahaan yang melakukan mogok kerja.

Seperti diungkap dalam laporan investigasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bertajuk Kekerasan Penyidikan dalam Kasus Marsinah (1995), pengorganisasian para buruh sebenarnya sudah matang beberapa hari menjelang mogok kerja. "Tidak usah kerja. Teman-teman tidak usah masuk. Biar Pak Yudi sendiri yang bekerja," kata Marsinah, sebagaimana tercatat dalam Elegi Penegakan Hukum: Kisah Sum Kuning, Prita, Hingga Janda Pahlawan (2010). Yudi yang dimaksud adalah Direktur PT CPS, Yudi Susanto.

Mereka membawa 12 tuntutan, termasuk menuntut hak kenaikan upah 20% seperti surat edaran pemerintah. Saat aksi mogok hari pertama, Yudo Prakoso, koordinator aksi, ditangkap dan dibawa ke Kantor Koramil Porong. Pada Sorenya, Prakoso kembali ke pabrik karena dipaksa aparat Koramil. Mogok kerja di hari pertama itu tidak berpengaruh untuk membuat para buruh berhenti. Karena Yudo Prakoso disibukkan dengan pemanggilan oleh aparat militer, Akhirnya Marsinah yang memegang kendali memimpin protes para buruh.

Keesokan harinya, pada 4 Mei 1993, aksi mogok kerja kembali digelar. Pihak manajemen PT CPS bernegosiasi dengan 15 orang perwakilan buruh. Dalam perundingan, hadir pula petugas dari Dinas Tenaga Kerja, petugas Kecamatan Siring, serta perwakilan polisi dan Koramil. Pelibatan aparat negara dalam perundingan itu menimbulkan ketidaknyamanan. Meski begitu, semua tuntutan akhirnya dikabulkan.

Namun di hari itu juga, berdasarkan kronologi yang dirangkai Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM), Yudo Prakoso yang dianggap dalang pemogokan, mendapat surat panggilan dari Koramil Porong. Dalam surat itu, Prakoso diminta datang ke kantor Kodim Sidoarjo. Surat itu ditandatangani Pasi Intel Kodim Sidoarjo Kapten Sugeng. Di Kodim Sidoarjo, Prakoso juga diminta untuk mencatat nama-nama buruh yang terlibat dalam perencanaan 12 tuntutan dan aksi mogok kerja. Keesokan harinya, 12 buruh mendapat surat yang sama. Mereka diminta hadir ke kantor Kodim Sidoarjo, menghadap Pasi Intel Kapten Sugeng. Tapi surat panggilan itu berasal dari kantor Kelurahan Siring yang ditandatangani sekretaris desa bernama Abdul Rozak.

Tiga belas buruh itu dikumpulkan di ruang data Kodim Sidoarjo oleh seorang Perwira Seksi Intel Kodim Kamadi. Kamadi lalu meminta Prakoso dan 12 buruh lain mengundurkan diri dari PT CPS. Alasannya karena tenaga mereka sudah tak dibutuhkan lagi oleh perusahaan. Kamadi dan Sugeng menyiapkan surat pengunduran diri yang menyatakan 13 buruh itu telah melakukan rapat ilegal untuk merencanakan 12 tuntutan dan aksi mogok kerja. Mereka dianggap telah menghasut buruh lainnya untuk ikut melakukan protes. Karena berada dalam tekanan, akhirnya 13 buruh itu menandatangani surat pengunduran diri. Emosi Marsinah memuncak saat mengetahui rekannya dipaksa mengundurkan diri. Dia mendatangi kodim untuk meminta salinan surat pengunduran diri dan surat kesepakatan dengan manajemen PT CPS. Sebab dalam surat kesepakatan itu, 12 tuntutan buruh diterima termasuk poin tentang pengusaha dilarang melakukan mutasi, intimidasi, dan melakukan PHK karyawan setelah aksi mogok kerja. Marsinah berupaya menuntut Kodim dengan bantuan saudaraku yang ada di Surabaya.

Pada tanggal 6 Mei 1993, sehari setelah para buruh dipanggil ke Kodim, adalah libur nasional untuk memperingati Hari Raya Waisak. Setelah libur para buruh kembali bekerja, tapi tak ada satupun yang melihat Marsinah. Beberapa rekannya mengira Marsinah pulang kampung ke Nganjuk. Barulah Pada 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong, Nganjuk. Jenazahnya divisum Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk pimpinan Dr. Jekti Wibowo. Hasil visum et repertum menunjukkan adanya luka robek tak teratur sepanjang 3 cm dalam tubuh Marsinah.

Luka itu menjalar mulai dari dinding kiri lubang kemaluan (labium minora) sampai ke dalam rongga perut. Di dalam tubuhnya ditemukan serpihan tulang dan tulang panggul bagian depan hancur. Selain itu, selaput dara Marsinah robek. Kandung kencing dan usus bagian bawahnya memar. Rongga perutnya mengalami pendarahan kurang lebih satu liter. Setelah dimakamkan, tubuh Marsinah diotopsi kembali. Visum kedua dilakukan tim dokter dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Menurut hasil visum, tulang panggul bagian depan hancur. Tulang kemaluan kiri patah berkeping-keping. Tulang kemaluan kanan patah. Tulang usus kanan patah sampai terpisah. Tulang selangkangan kanan patah seluruhnya. Labia minora kiri robek dan ada serpihan tulang. Ada luka di bagian dalam alat kelamin sepanjang 3 sentimeter. Juga pendarahan di dalam rongga perut.

Pada Tanggal 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya. Delapan petinggi PT CPS ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap. Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga termasuk salah satu yang ditangkap.

Setelah 18 hari, baru  diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah. Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI. Hasil penyidikan polisi menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.

Dalam bukunya bertajuk Indonesia X-Files (2013), Idries mengungkapkan bahwa barang bukti proses peradilan berupa balok terasa janggal. Ukuran balok yang digunakan menyodok bagian vital tubuh Marsinah tak sesuai dengan besar luka pada korban yakni 3 sentimeter. Menurutnya, satu luka pada bagian kelamin Marsinah tak sesuai dengan jumlah terduga pelaku yang berjumlah tiga orang. Idries menegaskan bahwa pendarahan bukan penyebab kematian Marsinah, melainkan tembakan senjata api.

Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni). Mahkamah Agung (MA) memvonis bahwa sembilan terdakwa tak terbukti melakukan perencanaan dan membunuh Marsinah. Hal itu tercatat dalam penelitian Iyut Qurniasari dan I.G. Krisnadi yang termuat di Jurnal Publika Budaya Universitas Jember berjudul "Konspirasi Politik dalam Kematian Marsinah di Porong Sidoarjo Tahun 1993-1995". Sembilan terdakwa dibebaskan, tapi siapa pembunuh Marsinah hingga kini tak pernah diungkap pengadilan. Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah "direkayasa".

Itulah kisah kematian marsinah yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Sebagai bentuk belasungkawa, Slamet Rahardjo mengangkat kisahnya menjadi sebuah film dengan judul "Marsinah (Cry Justice)”. Seniman Surabaya dengan koordinasi penyanyi keroncong senior Mus Mulyadi juga meluncurkan album musik dengan judul Marsinah. Bahkan Sebuah band beraliran anarko-punk yang berasal dari Jakarta bernama Marjinal, menciptakan sebuah lagu berjudul Marsinah, yang didedikasikan khusus untuk perjuangan Marsinah.

 

Sumber Referensi :     inibaru.id

kompas.com

merdeka.com

tirto.id

wartakota.tribunnews.com

MISTERI HILANGNYA WIDJI THUKUL!!!

 


Tahun 1998 adalah tahun penuh gejolak di Indonesia, pada tahun ini terjadi kerusuhan yang menyebabkan berakhirnya masa orde baru dan lahirnya masa reformasi. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia, masyarakat lalu melakukan demonstrasi kepada rezim orde baru. Selain itu, kerusuhan juga dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi. Hal inilah yang mengakibatkan penurunan jabatan Presiden Soeharto, serta pelantikan B. J. Habibie. Dalam peristiwa ini, terdapat 13 orang aktivis yang dinyatakan hilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini. Salah satu orang yang hilang dalam peristiwa ini adalah Wiji Thukul, salah seorang aktivis sekaligus penyair. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu PeringatanSajak Suara, serta Bunga dan Tembok.

Widji Thukul, lahir pada tanggal 26 Agustus 1963 di pinggiran Kota Solo, Jawa Tengah dengan nama asli Widji Widodo. Ia adalah penyair dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Thukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan rezim Orde Baru. Namun Tukul dinyatakan hilang dan tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang, kemudian muncul dugaan bahwa Thukul diculik oleh militer bersama beberapa aktivis lainnya pada kerusuhan tahun 1998.

Widji Thukul lahir dari keluarga miskin, Ayahnya adalah tukang becak sedangkan ibunya mengatur urusan rumah tangga. Thukul sempat merasakan bangku Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Jurusan Tari namun hanya sampai kelas dua. Sebagai anak sulung, ia memilih untuk mengalah agar biaya sekolah diberikan kepada adik-adiknya. Setiap sore Thukul menjalani pekerjaan sebagai calo tiket bioskop. Terkadang ia juga ikut menjual mainan anak-anak di acara-acara seperti Sekaten, Malaman Sriwedari, maupun bulan Ramadan.

Seolah mengikut namanya yang berarti "benih yang tumbuh", jiwanya selalu tergugah menyuarakan perlakuan yang tidak adil. Kondisi sosial melahirkan karya Thukul bernada suasana emosional yang kompleks. Campuran antara kebahagiaan dan kegetiran, Rasa haru sekaligus protes kuat, Perlawanan rakyat kecil, Pemberontakan dan keberanian. Thukul menjadi bagian dari masyarakat bawah yang suaranya hanya dibutuhkan saat perayaan Pemilu saja. Ia tumbuh dalam didikan sastra dan budaya secara otodidak dan mandiri.

Hobi membaca buku dan berpuisi, sudah muncul saat duduk di SD Kanisius Sorogenen Solo. Di SMPN III Solo, ia bergabung dalam grup teater, dan aktif menghadiri diskusi dan pergelaran seni. Antara aksi dan puisi, Nama Wiji Thukul mulai populer sebagai penyair dan seniman, seiring munculnya dilema berupa pilihan dan resiko-resiko. Puisi-puisinya mulai menyebar di berbagai majalah dan koran dalam dan luar negeri, diundang ke berbagai kampus di Jawa Tengah dan Yogyakarta, juga ke Australia.

Pertama kali ia sadar bahwa karya sastra bisa membuat cemas pemerintah adalah saat diundang membacakan puisi pada perayaan 17 Agustus 1982. Ia menyindir kemerdekaan yang hanya dinikmati segelintir orang, yang akhirnya mitos belaka. Puisi yang berjudul "Kemerdekaan" ini hanya beberapa kata namun bermakna dalam, puisi itu berbunyi “Kemerdekaan adalah nasi, Dimakan jadi tai.” Keesokan harinya, panitia penyelenggara di salah satu kampung daerah Solo itu dipanggil ke kelurahan. “Itu pertama dia mengalami represi, tapi perlawanannya terus berjalan.

Pada bulan Oktober 1989, Thukul menikah dengan istrinya yang bernama Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang saat itu berprofesi sebagai buruh. Tak lama semenjak pernikahannya, Pasangan Thukul-Sipon dikaruniai anak pertama bernama Fitri Nganthi Wani, kemudian pada tanggal 22 Desember 1993 anak kedua mereka lahir yang diberi nama Fajar Merah.

Pada Tahun 1991 ia memperoleh hadiah sastra Wertheim Encourage Award. Thukul adalah seniman pertama bersama Rendra yang memperoleh penghargaan sejak yayasan itu didirikan untuk menghormati sosisolog dan ilmuwan Belanda WF Wertheim. Ia Terjun dalam aksi demonstrasi dan solider dengan penderitaan rakyat yang diperlakukan tidak semena-mena, dikatakannya sebagai "panggilan hidupnya".

Beberapa tahun kemudian, Thukul terlibat dalam advokasi kaum miskin dan buruh perkotaan. Ia menjadi pimpinan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Ini organisasi yang bergerak melawan pemerintahan represif Orde Baru melalui jalur kesenian rakyat. Pada 22 Juli 1996, Thukul berangkat ke Jakarta. Ia juga menggabungkan Jakker dengan beberapa organisasi lain, embrio Partai Rakyat Demokratik (PRD). Di struktural PRD, Thukul adalah Ketua Divisi Propaganda dan editor Suluh Pembebasan, suplemen kebudayaan partai.

Para aktivis PRD dan jaringan pro-demokrasi lebih luas mendesak agar Soeharto menghapuskan paket 5 Undang-undang Politik, UU Anti-Subversi, UU Pokok Pers, dan Dwi Fungsi ABRI. Dalam perumusan deklarasi partai, Thukul beberapa kali menyela rekan kerjanya yang menyampaikan pendapat teoritis. Saat itu mata kanan dan kantung matanya masih terluka dan hampir buta akibat poporan senjata tentara kala memimpin pemogokan buruh PT Sritex Sukoharjo, Jawa Tengah, akhir tahun 1995.

Berselang lima hari, PRD yang baru tumbuh dibabat oleh kaum loyalis Soeharto. Pada 27 Juli 1996, kelompok pro-Soeharto menyerang kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia di bilangan Diponegoro, Jakarta Pusat. Saat itu Megawati menjadi simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Penyerangan ini menghajar para aktivis pro-demokrasi, termasuk para penggiat PRD, yang mendukung Megawati menjadi Ketua Umum PDI. Kubu PDI boneka Soeharto berupaya menggagalkan rencana tersebut dan merebut kantor partai. Peristiwa ini dikenal dengan Kudatuli, akronim "Kerusuhan 27 Juli." Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia menyatakan kerusuhan itu mengakibatkan 5 orang tewas, 149 orang luka, dan 23 orang hilang. Kerugian materiil mencapai Rp100 miliar.

Pemerintahan Orde Baru kemudian dianggap menjadikan PRD sebagai "kambing hitam", dalang di balik serangan tersebut. Soesilo Soedarman, seorang jenderal yang menjabat Menko Polkam saat itu, menegaskan bahwa PRD sebagai "partai terlarang." Akibatnya, seluruh aktivis PRD diburu aparat keamanan termasuk Thukul. Pada 5 Agustus 1996, rumah keluarga Thukul didatangi oleh kepolisian wilayah Surakarta. Kemewahan dalam rumahnya, perpustakaan pribadi dan koleksi kaset lagu, diobrak-abrik dan dirampas pemerintah. Ada enam berkas yang dirampas, salah satunya kumpulan puisinya Mencari Tanah Lapang.

Widji Thukul kabur usai beberapa anggota kepolisian mendatangi rumahnya. Dalam pelarian, Wiji Thukul harus mencari kesempatan untuk bertemu dengan Sipon (istrinya). Paling sering keduanya bertemu di Pasar Klewer. Setiap bertemu, mereka membuat janji untuk pertemuan selanjutnya. Saat itu pula, Wiji Thukul menceritakan beberapa daerah yang dikunjunginya dan beberapa kali ia meminta uang kepada sang istri untuk membiayai hidup pelarian. Selama pelarian, ia memiliki nama beberapa nama Samaran. Ia juga sering memakai topi supaya tidak mudah dikenali. Selain itu, Wiji Thukul juga sering menggunakan jaket saat keluar rumah untuk menyamarkan badannya yang kerempeng.

Kejaran kaum mata-mata yang menyebar di bawah kekuasaan Soeharto, juga para serdadu Tim Mawar, mengharuskan Thukul berpindah-pindah tempat persembunyian. Setelah disembunyikan Martin, rekannya di Pontianak, Thukul kembali ke Jakarta. Pada tahun 1998, Wiji Thukul menghilang. Hilangnya Wiji Thukul secara resmi diumumkan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada 2000. Kontras menyatakan hilangnya Wiji Thukul sekitar tahun 1998 karena diduga berkaitan dengan aktivitas politik yang dilakukan oleh Wiji Thukul sendiri. Saat itu bertepatan dengan peningkatan operasi represif rezim Orde Baru dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan dengan Orde Baru. Sejak dinyatakan hilang, sampai saat ini keberadaannya Wiji Thukul masih menjadi misteri apakah ia masih hidup atau sudah tiada.

Sempat terdengar kabar miring bahwa Wiji Tukhul sempat membantu kemerdekaan Timor Leste dengan cara membuat bom sehingga diberikan penghargaan. Dikatakan pula bahwa Wiji Tukhul tewas karena bom. Ikatan Keluarga Orang Hilang atau Ikohi angkat bicara terkait kabar miring atas pemberian penghargaan terhadap Wiji Thukul dari mantan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao. Thukul, yang hingga kini keberadaannya tak diketahui, mendapat penghargaan karena merupakan bagian dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dahulu mendukung kemerdekaan Timor Leste. Acara penghargaan diberikan di sela seminar "Konferensi Internasional Kedaulatan Laut Timor-Leste adalah Hak yang Tak Terbantahkan" yang digelar pada 16 Maret 2016 di ibu kota Dili.

"Thukul mendapat penghargaan karena bersama PRD mendukung kemerdekaan Timor-Leste dan Jaker (Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat), terlibat dalam pembentukan solidaritas perjuangan Maubere (SPRIM). Piagam diberikan Xanana kepada anak perempuan Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani. Terkait dengan isi media sosial yang menyebut Thukul diberi penghargaan karena membuat bom untuk Timor Timur, namun pernyataan tersebut masih belum dapat dibuktikan. Karena Tidak ada satu pun orang di lokasi yang mengatakan Tukhul membuat bom. Tidak ada orang juga yang mengatakan Tukhul mati di perbatasan karena bom. Dalam acara itu, Xanana lebih banyak mengungkapkan tentang perjuangan untuk mendapatkan kedaulatan atas Laut Timor. Nama Wiji Thukul sama sekali tak disinggung di depan peserta seminar.

Hingga saat ini keberadaan Wiji Tukhul masih belum ditemukan. Entah memang diculik pemerintah soeharto seperti dugaan orang-orang, ataukah tewas saat membantu kemerdekaan Timor Leste, atau mungkin masih hidup dengan nama lain. Namun yang pasti, keluarganya saat ini tidak lagi mendengar kabar tentangnya. Kita saat ini hanya dapat membaca karya-karyanya tanpa mengetahui keberadaannya. Semoga tidak ada lagi kerusuhan yang memecah belah Indonesia seperti peristiwa-peristiwa lampau di Indonesia.

Sumber Referensi :     id.wikipedia.org

liputan6.com

medan.tribunnews.com

nasional.kompas.com

tirto.id

Sabtu, 23 April 2022

PEMBERONTAKAN DI/TII DISELURUH INDONESIA!!!

Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) adalah pemberontakan yang hendak mendirikan negara dengan dasar syariat Islam di Indonesia, yang disebut dengan Negara Islam Indonesia. Pemberontakan ini kemudian diikuti oleh pemberontakan serupa di Aceh, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah. Pemberontakan dikalahkan dengan kombinasi diplomasi di Aceh dan di padamkan oleh TNI.

Pada dasarnya pemberontakan ini memiliki alasan pemberontakan ini memiliki alasan-alasan yang berbeda untuk tiap daerahnya. Ide mendirikan negara Islam berasal dari Kartosuwirjo yang menyatakan perang melawan Belanda pada Agresi Militer I pada tahun 1947. Dia mendirikan basis-basis pertahanan di Jawa Barat yang mayoritas beragama Islam. Berikut adalah bebrapa pemberontakan Darul Islam di Indonesia.


1.   Pemberontakan DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, di Jawa Barat



Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah, 7 Januari 1905 . Kartosoewirjo memilih pulang ke kampung mertuanya di Malangbong. Salah satu kecamatan di Garut itu pun jadi basis penting Kartosoewirjo. Pada 1940, ia mendirikan Institut Suffah di Malangbong. Menurut Cornelis van Dijk dalam Darul Islam: Suatu Pemberontakan (1995), “Institut Suffah mulanya dimaksudkan untuk memberikan pendidikan umum dan agama, [….] akhirnya ia berubah menjadi suatu lembaga yang memberikan latihan kemiliteran selama pendudukan Jepang” (hlm. 29).  Pemerintah pendudukan Jepang juga memberi latihan kemiliteran secara resmi bagi pemuda Islam. Dari situ, kemudian terbentuk lah milisi bernama Hizbullah.

Menurut van Dijk, Komandan Sabilillah Tasikmalaya yang bernama Oni bertemu Kartosoewirjo. Mereka berdua sepakat agar anggota Sabilillah dan Hizbullah harus tetap di Jawa Barat. Mereka yang ikut pergi dari Jawa Barat harus dilucuti senjatanya (hlm. 76-77). Pada Februari 1948, di desa Pangwedusan, distrik Cisayong, daerah segitiga Garut, Tasikmalaya, dan Malangbong, diadakan suatu pertemuan, yang belakangan disebut Konferensi Cisayong. Tak hanya Hizbullah dan Sabilillah yang hadir, tapi juga Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Disepakati dalam pertemuan itu soal pembentukan Tentara Islam Indonesia (TII) dan pengangkatan Oni sebagai Panglima TII daerah Priangan.Pengaruh Kartosuwirjo semakin besar terutama setelah mendirikan angkatan bersenjata untuk NII bernama Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Meski ada tentara bernama TII, menurut van Dijk (1995:78-79), “negara Islam sendiri belumlah terbentuk. Hanya ditekankan pada suatu hari, bila pemerintah Republik umpamanya digulingkan Belanda.” Setidaknya, lanjut van Dijk, “Kartosoewirjo menahan diri selama lebih dari setahun untuk terang-terangan menolak menentang kekuasaan Republik” (hlm. 78-79).

Agresi Militer Belanda II berupa serangan dadakan atas ibu kota Republik Indonesia pada 19 Desember 1948 yang disertai penawanan para pejabat tingginya kemudian dijadikan dalih oleh Kartosoewirjo untuk memulai suatu negara baru. Ide Kartosuwirjo banyak didukung oleh daerah-daerah lain yang merasa kecewa terhadap Indonesia sehingga berkeinginan untuk melepaskan diri. Hal ini menjadi titik mula pemberontakan DI/TII yang berkembang tidak hanya di Jawa Barat namun menjalar hingga ke Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Pemberontakan ini dilancarkan mulai tahun 1948. Penyebab pemicu pemberontakan Kartosuwiryo adalah penolakan Perjanjian Renville, yang menempatkan daerah Jawa Barat di wilayah kekuasaan Belanda. Penolakannya terhadap Perjanjian Renville diwujudkan dengan menolak pergi dari Jawa Barat yang saat itu dikuasai Belanda. Kartosuwirjo mengubah gerakannya menjadi pembentukan negara bernafaskan Islam. Pembentukan Negara Islam Indonesia (NII) menjadi bentuk protes terhadap Belanda sekaligus Indonesia yang dinilai terlalu lunak. Kartosuwirjo kemudian diangkat menjadi imam dari NII.

Pada 25 Januari 1949, ada bentrokan antara TNI dari Divisi Siliwangi yang sudah kembali dari Jawa Tengah dengan satuan TII. Gambaran atas kondisi masa ini tergambar dalam film Mereka Kembali (1972). Dalam film itu digambarkan ada tiga pihak yang saling berseteru di Jawa Barat: Belanda, Republik Indonesia, dan pengikut Kartosoewirjo.

Kartosoewirjo bersama pengikutnya harus bergerilya belasan tahun menjaga keutuhan NII, yang dalam buku sejarah Indonesia dianggap DI/TII saja. Dia tidak kalah keras dengan pamannya, pembela rakyat yang dicap komunis dan pernah dibuang ke Boven Digoel oleh pemerintah kolonial. Kartosuwiryo bahkan memerintahkan percobaan pembunuhan atas Presiden Soekarno pada 30 November 1957 di Peristiwa Cikini. Pemberontakan ini baru berakhir setelah Kartosuwiryo tertangkap pada tanggal 4 Juni 1962 di Gunung Rakutak di Jawa Barat. Pemerintah Indonesia kemudian menghukum mati Kartosoewirjo pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.


2.   Pemberontakan DI/TII Amir Fatah, di Jawa Tengah



Penyebab pemberontakan ini adalah kekecewaan Amir Fatah akan dominasi “kaum kiri” (sosialis dan komunis) di Tegal dan sekitarnya, wilayah basis kekuatan Amir Fatah. Amir Fatah merupakan tokoh yang membuat lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh "orang-orang Kiri", dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh "orang-orang Kiri" tersebut, Pemerintah RI dan TNI dianggap tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepada TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo.

Akibatnya, Amir Fatah memberontak pada tahun 1950. Pemberontakan dipatahkan setelah operasi militer di wilayah Banyumas mengalahkan pasukan Amir Fatah. Komandan DI/TII daerah Bumiayu, Jawa Tengah, Wachid bersama 120 orang anak buahnya menyerah. Sedangkan Amir Fatah, pimpinan DI/TII Jawa Tengah, menyerah setelah melakukan pertemuan dengan perwakilan Kabinet Natsir. Hingga kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim Indonesia. Pemerintah lalu menumpas gerakan Angkatan Oemat Islam yang dipimpin Kyai Somalangu yang ingin membentuk NII di Jawa Tengah. Operasi ini berhasil setelah Kyai Somalangu beserta anak buahnya ditembak mati di daerah Kroya, Jawa Tengah.


3.   Pemberontakan DI/TII Ibnu Hadjar, di Kalimantan Selatan



Pemicu pemberontakan ini adalah kegagalan para mantan pejuang kemerdekaan asal Kalimantan Selatan untuk diterima di tentara Indonesia saat itu, APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). Kebanyakan bekas pejuang ini tidak bisa masuk tentara karena tidak bisa baca tulis, termasuk Ibnu Hadjar sendiri. Mereka juga kecewa dengan adanya bekas tentara KNIL (Tentara Hindia Belanda) di APRIS. Nama Ibnu Hadjar tak bisa dilepaskan dari organisasi bernama Kesatuan Rakjat jang Tertindas (KRjT) yang eksis sejak awal 1950. Organisasi ini menghimpun bekas gerilyawan alias pejuang kemerdekaan Republik yang melawan tentara Belanda di sekitar kabupaten Hulu Sungai.

Ibnu Hadjar membentuk “Kesatuan Rakjat Jang Tertindas” (KRjT), dan menyerbu pos tentara di Kalimantan Selatan pada bulan Oktober 1950. Koran Indonesia Berdjuang (20/03/1954) dan Kes van Dijk mencatat semula Ibnu Hadjar hanya memimpin 60 orang saja ketika masih berdiam diri di awal tahun. Setelah serangan ke pos TNI pada bulan Maret 1950, pengikutnya bertambah sekitar 250 orang, dengan senjata hanya 50 pucuk bedil. Letnan Dua TNI yang memimpin sebuah peleton biasanya hanya punya anak buah tak lebih dari 50 orang. Namun, itu tak berlaku untuk seseorang yang menjadi pemimpin gerombolan.

Bulan Oktober 1950, pemerintah masih menyambut damai para gerombolan yang ingin menyerah. Setelah dia dibebaskan dan diminta membujuk kawan-kawan gerombolannya untuk menyerah. Namun Ibnu Hadjar yang sempat tertangkap dan dilepaskan untuk membujuk pemberontak lain menyerah malah kabur ke dalam hutan dan meneruskan pemberontakannya. Pemerintah akhirnya terpaksa menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati.


4.   Pemberontakan DI/TII Daud Beureueh, di Aceh



Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai pada tanggal 20 September 1953. Pemicu pemberontakan ini adalah penolakan dihapusnya provinsi Aceh dan digabungkannya wilayah Aceh dengan Sumatera Utara. Peleburan tersebut dianggap sebagai bentuk abai atas perjuangan masyarakat Aceh di masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia mulai dari tahun 1945 sampai 1950.

Selain itu, muncul rumor adanya sebuah dokumen rahasia yang diyakini masyarakat Aceh merupakan dokumen rahasia pemerintah yang saat itu dipimpin oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo berisikan perintah pembunuhan atas 300 tokoh sentral masyarakat Aceh yang pro terhadap Negara Islam Indonesia (NII) dibawah kepemimpinan Imam Besar NII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Masyarakat Aceh juga mengharapkan Aceh dapat diberikan otonomi khusus dalam menerapkan hukum Islam. Dengan masuknya Aceh menjadi bagian Sumatera Utara tentunya sekaligus merupakan penolakan pemerintah atas keinginan tersebut. hal inilah yang memicu pecahnya pemberontakan DI/TII yang dimulai di Aceh pada tanggal 20 September 1953.

Pemimpin pemberontakan Darul Islam di Aceh adalah Tengku Moh. Daud Beureueh. Daud Beureueh adalah seorang pemimpin sipil, agama, dan militer di Aceh pada masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia ketika agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai "Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh" ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Peranannya sebagai seorang tokoh ulama membuat Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Dalam persiapan melancarkan gerakan perlawanannya Daud Beureueh telah berhasil mempengaruhi banyak pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Pada masa-masa awal setelah proklamasi NII Aceh dan pengikut-pengikutnya berhasil mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk beberapa kota.

Pemberontakan DI/TII di asrama Brimob di Langsa, Aceh, dapat digagalkan setelah mendapatkan bantuan pasukan dari Medan. Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI)/TNI mulai bergerak di bawah komando Kapten N.H. Sitorus untuk menumpas gerombolan DI/TII di Blangrakal, Aceh. Kesatuan-kesatuan APRI menuju Lapahan, Aceh untuk memerangi pemberontakan DI/TII. Operasi ini mendorong pemberontak melarikan diri. Pemberontakan di Aceh berakhir setelah APRI berhasil mengambil alih Kota Geumpang, Aceh. Kota ini merupakan kota terakhir yang dikuasai kelompok DI/TII. Pangdam Iskandar Muda Kolonel M. Yasin melakukan pendekatan terhadap Daud Beureuh, sehingga Aceh dapat kembali masuk dalam Negara Indonesia. Pemberontakan ini berhasil diselesaikan dengan cara damai setelah dilakukannya “Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" pada bulan Desember 1962, dan dibentuknya kembali Aceh, sebagai provinsi berstatus daerah istimewa. 


5.   Pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar, di Sulawesi Selatan



Penyebab pemberontakan ini adalah tuntutan agar para milisi Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar bisa diterima sebagai tentara. Namun mereka tidak lolos syarat dinas militer, dan hanya ditempatkan sebagai Corps Tjadangan  Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar memberontak dan menyatakan sebagai  bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Pada masa awal pemberontakan pasukan Abdul Kahar Muzakkar, Baraka, kini sebuah kecamatan di Enrekang, telah menjadi markas bagi calon Brigade Hasanuddin. Setelah pemberontakan, Kahar Muzakkar bergerak berpindah-pindah. Pemberontakan ini berakhir setelah pada 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan ABRI dalam sebuah baku tembak.

 

Dalam penjelasan tersebut dalam setiap daerah yang menjadi tempat pemberontakan Darul Islam memiliki alasan yang berbeda. Alasan-alasan tersebut antara lain berusaha membentuk Negara Islam di Indonesia dengan bersumberkan Al-Quran dan Hadist, penyebab lain adalah pemerintah sangat dekat dengan PKI yang kala itu dikatakan sebagai haluan kiri yang bertentangan dengan syariat Islam, adapula alasan karena Aceh meminta menjadi Daerah Istimewa yang ingin menerapkan Hukum Islam disana, dan alasan-alasan lainnya yang menimbulkan pemberontakan. Dalam catatan lain, pemberontakan ini sangat meresahkan karena gerombolan pemberontak dibeberapa daerah dikatakan sangat bringas dan tidak segan-segan membunuh. Bahkan ada rakyat yang tidak tidur dirumahnya ketika malam, mereka juga diminta menyiapkan makanan ketika malam tiba untuk gerombolan pemberontak. Rata-rata pemimpin pemberontakan ditembak mati karena dianggap mengganggu ketentraman Negara. Namun ada juga pemberontakan yang berakhir damai karena pemerintah dapat menyetujui permintaan yang diharapkan.

 

 

Referensi      : brainly.co.id

  kelaspintar.id

  kompas.id

  wikipedia.org

  tirto.id

 

Kamis, 21 April 2022

JALAN KOMUNIS SANG KIYAI!!!

        


    Mohammad Misbach atau Haji Misbach adalah tokoh unik dalam sejarah Indonesia. Di samping menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, ia juga dikenal sebagai penganut setia komunisme. Misbach sangat mengagumi kepribadian Nabi Muhammad sekaligus mengidolakan Karl Marx. Soe Hok Gie dalam Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan (2005: 6) menjuluki Misbach sebagai Haji Revolusioner. Sebagai seorang yang berpikir radikal, Misbach memperjuangkan antikolonialisme. Herman Hidayat melalui makalah “Perjuangan dan Pemikiran H.M. Misbach” yang dimuat dalam antologi Jejak Kebangsaan: Kaum Nasionalis di Manokwari dan Boven Digoel (2013) menyatakan pemikiran Misbach tentang aktualisasi dan kontekstualisasi nilai-nilai Islam dan marxisme ditujukan untuk menentang penindasan kolonial Belanda (hlm. 44).


        Jauh sebelum orasi dan perjuangannya menggema di beberapa surat kabar sepanjang dekade 1910-an dan 1920-an, masa kecil Misbach tergolong biasa saja. Ia lahir di Kampung Kauman Surakarta pada 1876 dari keluarga pedagang batik yang cukup berada. Orang tuanya memberikan nama kecil Ahmad. Pendidikan Ahmad diawali dengan ngelmu di pesantren. Kemudian ia menuntut ilmu pengetahuan dasar di sekolah bumiputra Ongko Loro selama delapan bulan. Menurut Hidayat, perpaduan belajar di sekolah agama dan sekolah umum memberikan Ahmad perspektif yang luas terhadap lingkungan sosialnya. Meski datang dari keluarga saudagar sekaligus pejabat Muslim di Keraton Solo, tak lantas membuat Ahmad berperilaku layaknya ningrat. Ia justru digambarkan sebagai pribadi yang ramah kepada siapa saja termasuk rakyat miskin dan sangat alim. Lulus dari sekolah bumiputra, Ahmad langsung meneruskan usaha dagang ayahnya. Di bawah pengawasannya, bisnis batik keluarga Ahmad menjadi sangat maju. Kebetulan bisnis batik di awal abad ke-20 memang tengah melejit. Tak lagi menjadi pengepul, Ahmad berhasil membuka rumah pembatikan sendiri di kampungnya. 

Hidup Demi Kaum yang Tertindas 

        Rupanya, berdagang tak membuat Ahmad berpuas hati. Ia justru tertarik pada gejolak sosial-politik yang mewarnai tanah Jawa di permulaan abad ke-20. Menurut Mu’arif dalam artikelnya di alif.id, ketertarikan Ahmad bermula dari kesukaannya membaca surat kabar Doenia Bergerak. Surat kabar berhaluan kiri itu diterbitkan oleh Indische Journaist Bond (IJB), sebuah organisasi pers pribumi bentukan Sarekat Islam (SI).

        Memasuki usia dewasa, Ahmad—kala itu telah menikah dan beralih nama menjadi Darmodiprono—memutuskan pergi berhaji. Sepulang dari ibadah haji ia mengambil nama Islam: Mohammad Misbach. Di saat bersamaan keinginan untuk terjun ke dunia pergerakan semakin bulat. Haji Misbach pun bergabung ke IJB pada 1914. Perjuangan Haji Misbach melawan penindasan pemerintah kolonial dimulai dari balik meja redaksi. Sepanjang 1915 hingga 1919 ia berkenalan dengan haji-haji tokoh pergerakan dari Surakarta dan Yogyakarta, termasuk di antaranya Kiai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Sepanjang tahun-tahun itu pula Misbach giat menulis untuk surat kabar Medan Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917).

        Kembali merujuk pada penelitian Herman Hidayat, sekitar April 1919 Misbach membuat karikatur di surat kabar Islam Bergerak yang menyebut kapitalis Belanda suka menindas petani dengan membebani mereka dengan kerja paksa, upah yang kecil, dan pajak yang tinggi. Tak hanya pemerintah kolonial, penguasa-penguasa feodal, termasuk Pakubuwana X yang terkenal lengket kepada Belanda, pun dicerca. Retorika khas Haji Misbach, menurut Hidayat, berhasil menggerakkan aksi mogok petani di beberapa perkebunan Belanda di tahun 1919. Sikapnya yang terlampau vokal perihal ketimpangan hubungan antara penguasa dengan kaum pekerja membuat Misbach dikejar-kejar pemerintah kolonial. Ia akhirnya dibui pada 1920 atas tuduhan penistaan. 
        Penjara tampaknya telah menempa Misbach menjadi pribadi yang baru. Selama dalam tahanan dia banyak bersosialisasi dengan para aktivis Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), embrio Partai Komunis Indonesia (PKI). Dari dalam penjara Misbach mulai mengenal marxisme. Berdasarkan penelusuran Ruth T. McVey dalam The Rise of Indonesian Communism (1965), setelah terbebas dari penjara di tahun 1922, Misbach dan para pendukungnya berhasil mengambil alih Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Di sanalah ia dengan lantang menunjukan sikap menentang kapitalisme. Akibatnya, hubungan antara Misbach dengan Partai Sarekat Islam jadi tak harmonis. Misbach juga mulai menyerang organisasi-organisasi pembaruan Islam, seperti halnya Muhammadiyah. Ia menjuluki mereka sebagai kapitalis Muslim. Kritik tersebut dikeluarkannya dalam Medan Moeslimun edisi 20 November 1922 da

 Propaganda Komunis Lewat Jalan Islam 

    Nor Hiqmah dalam H.M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya (2000) mempertegas alasan Haji Misbach memerangi kapitalisme. Menurut pandangan sang haji, kapitalis merupakan kaum serakah yang menebar kezaliman dan kekejian. Sebagaimana keyakinannya, kaum-kaum tersebut harus diperangi. Saat tengah menyampaikan pemikirannya ini Misbach turut mengutip surat an-Nisa ayat 75 yang menyerukan anjuran berperang melawan kezaliman (hlm. 29). Sebelumnya, lanjut Hiqmah, Misbach juga pernah mengutarakan pemikiran serupa lewat surat kabar Islam Bergerak pada 1922. 
        Misbach menggambarkan tentang terbelenggunya rakyat Indonesia yang mayoritas Islam akibat ulah kapitalisme dan imperialisme yang ia sebut penuh tipu muslihat. Misbach kerap menyebut kecenderungan para penguasa feodal dan para polisi yang suka menindas rakyat kecil, sementara kelompok kapitalis menghisap tenaga para buruh tani. Hal ini menimbulkan kemiskinan terstruktur. Misbach percaya, seharusnya seorang Muslim dapat bersatu memerangi keburukan tersebut. Berbekal pandangan yang kemudian populer dengan sebutan Islam-Komunis, sejak 1923 Misbach muncul sebagai propagandis PKI dan SI merah yang efektif. Bahkan ia sempat naik podium untuk berorasi dalam kongres PKI/SI di Bandung dan Sukabumi pada Maret 1923. 
       Misbach berargumen, sudah kewajiban seorang Muslim untuk mengakui hak-hak manusia, sama halnya dengan program-program komunis. Misbach juga yakin, dengan memilih jalan komunis siapapun masih bisa menjadi seorang Muslim sejati. Fikrul Hanif Sufyan dalam Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis Di Serambi Mekah 1923-1949 (2018) menuturkan orasi Misbach pada perhelatan kaum kiri tersebut menginspirasi para haji dari pulau seberang. Salah seorang haji yang terkagum-kagum mendengar pidato Misbach ialah Haji Datuk Batuah yang kemudian mendirikan Sarekat Rakyat di Padang pada November di tahun yang sama (hlm. 46).

 Berjuang di Pengasingan 

        Pada Juni 1924 Haji Misbach kembali ditangkap pemerintah kolonial atas tuduhan agitasi di wilayah Surakarta. Ia lantas dibuang bersama keluarganya ke Penindi, Manokwari. Meskipun terasingkan, perjuangan Misbach belumlah berakhir. Herman Hidayat mencatat bahwa di Manokwari Misbach justru lebih banyak berinteraksi dengan suku-suku pendatang lain. Bersama-sama, mereka membentuk komunitas Islam dan mendirikan masjid untuk beribadah. Selain itu, Misbach juga masih berjuang mengemukakan pemikirannya melalui beberapa surat kabar di Jawa yang pernah diampunya. Menurut Mu’arif, selama dalam pembuangan Misbach berteman dengan Haji Muhammad Abu Kasim, pemilik perusahaan jasa pengiriman dari Ambon ke Manokwari. Melalui Abu Kasim, Misbach kerap memesan buku dan majalah yang diterbitkan organisasi-organisasi Islam modern di Jawa. Kuat dugaan, melalui Abu Salim pulalah Misbach mengirimkan tulisan-tulisannya.

        Penelitian Nor Hiqmah menunjukan tulisan bersambung Misbach yang berjudul “Islam dan Komunis” ditulis ketika ia berada dalam pengasingan di Manokwari. Tulisan tersebut dimuat secara berkala di Medan Moeslimin yang terbit berurutan sebanyak enam kali sepanjang tahun 1925. Sebelum meninggal di tahun 1926, Misbach sempat mengeluarkan tulisan terakhir. Tulisan berjudul “Nasehat” terbit di Medan Moeslimin dan berisikan pesan kepada rekan seperjuangannya agar tetap melakukan pergerakan melawan kezaliman berlandaskan agama.

Sumber : tirto.id

Rabu, 20 April 2022

BOROBUDUR BUKAN CANDI BUDHA!!! NUSANTARA ADALAH BANGSA YANG MELAHIRKAN LANDASAN HINDU BUDHA!!!

 


Terdapat beberapa teori yang berusaha mengupas misteri tentang candi Borobudur. Diantaranya mengatakan bahwa candi Borobudur dibangun pada masa dinasti Sailendra dengan berbagai bukti ilmiahnya. Terdapat pula teori dari KH. Fahmi Basya yang mengatakan bahwa candi Borobudur dibangun pada masa nabi Sulaiman didukung dengan berbagai bukti-bukti yang dikemukakannya. Kedua teori tersebut tentu masih harus dibuktikan. Seperti yang kita ketahui, bahwa selama berabad-abad candi  Borobudur terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar hingga menyerupai bukit. Candi Borobudur kembali ditemukan pada tahun 1814 ketika Indonesia tengah dijajah Inggris.

Penemu candi tersebut adalah Sir Thomas Stanford Raffles ketika mengunjungi Semarang. Dia mendapat laporan temuan batu-batu berukir di bukit sekitar desa Bumisegoro, Karesidenan Magelang. Raffles kemudian mengutus asistennya, Cornelius untuk melakukan penelitian. Cornelius akhirnya melakukan penelitian pada 1814. Raffles kemudian Menamakan bangunan megah ini dengan nama BOREBUDUR berasal dari kata Bore dan Budur. Dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro), dan “Budur” bahasa jawa diartikan “Purba”, arti Budur/Bidur bahasa jawa juga berarti “Bisul”. Walaupun pada faktanya tidak terdapat desa dengan nama Bore disekitar candi.

Jika kita menelusuri di internet tentang kapan candi Borobudur dibangun, maka kita akan menemukan jawaban bahwa candi Borobudur dibangun pada tahun 750 M. Johannes Gijsbertus Casparis ,seorang Filolog Belanda menulis dalam disertasinya pada tahun 1954 memperkirakan pembangunan nya sekitar tahun 824 M. namun ini hanyalah sebuah “Perkiraan” bukan hasil kesimpulan berdasar penelitian ilmiah akademis. Kitab-kitab yang dikatakan mendasari desain rancang bangunan ini adalah “Shilpa Shastra” & “Vastu Sastra dari india. Namun Faktanya, semua kitab-kitab itu baru ada pada abad 5 M, dan Bangunan megah ini telah ada sebelumnya.

Jika kita melihat dari peninggalan prasasti-prasasti yang ada, Agama Buddha pertama kali masuk ke Nusantara Indonesia sekitar pada abad ke-5 Masehi. Karena Nusantara pada abad 4 -7 M tidak tercatat adanya misionaris india yang datang ke Nusantara, maka Diduga pertama kali agama Budha dibawa oleh pengelana dari China bernama Fa Hien. Namun orang-orang Tiongkok dari Fa-Hien 399-414 M sampai I-Tshing 671 – 695 M, Datang ke Indonesia adalah untuk “Belajar” dan bukan membawa “Buddhism” dari negaranya.

Kumpulan tulisan Fa Hien yang dikenal dengan judul "A Record of Buddhist Kingdoms" atau "Catatan Negara-negara Buddhis",Menulis bahwa di Jawa saat itu kepercayaan yang berkembang adalah Hindu, Budha, dan kepercayaan animis (kepercayaan asli). Dalam Catatannya tersebut, secara tidak langsung mematahkan teori yang mengatakan bahwa agama budha dibawa olehnya. Dan mematahkan teori yang mengatakan bahwa budha masuk ke Indonesia pada abad ke 5 M. berdasarkan pada buku "Perjalanan Biksu Tiongkok Fa-Hien di thn 399-414 M, terjemahan dari Corean Recension teks bahasa Mandarin oleh James Legge memiliki arti sebagai berikut:

Dengan pergi menumpang kapal dagang besar Fa-Hian tiba dan berada dan tinggal di sini selama 2 tahun,ia menulis salinan buku-buku suci (sutra) ia juga melihat dari jarak sepuluh langkah, terlihat patung dengan corak emasnya ditampilkan dengan jelas dan cerah (arca kayu lapis emas).

Di antara orang-orang yang telah datang kesini mengatakan bahwa Seribu Pelajar telah mengambil sumpah (wisuda)di sini semuanya "meninggalkan bayangan" (Equinox di Muara Takus,Bukan di Srilangka atau Palembang). Mengikuti sungai Po-Nai (adalah sungai Pana'i,kampar) di tempat "di mana para pelajar pernah tinggal di situ dan melakukan gerakan "berjalan berputar" mengelilingi "Tope"/Stupa juga 4 guru duduk di 4 sudut, di tempat ini "Menara" telah didirikan (situs muaratakus).

Dari sini terus pergi ke timur hampir lima puluh yojana kami tiba di kerajaan "Tamralipti" (yang dimaksud Fa-Hien ini adalah Langka Puri/Sijangkang/Katangka/Kota angka). Ini di mulut laut, ada 24 sangharamas di sini,semuanya memiliki imam tetap dan hukum "Dhamma" dihormati, ini area barat situs di bukit katangka sekarang. pergi ke barat 300 langkah,menemukan tempat tinggal di antara bebatuan,bernama goa "Pippala",di mana para pelajar secara teratur duduk bermeditasi… di sebelah barat jalan,kami menemukan taman Bambu Karanda,di mana sangharama lama masih ada....

Lokasi yang di maksud Fa-Hien 399-414 M adalah di Svarnadvipa yang juga di kunjungi I-Tshing 671 - 695 M, tepat nya di area kota suci yang land marknya "Muara Takus" goa "Pippala" adalah Lobang Koliong/Lobang Hitam di sebut masyarakat setempat dan taman Bambu Karanda adalah Koto bambu kuning/Koto Soghiok,sangharama lama ini adalah "Perguruan dewa dewi/"Nanlanda" masyarakat menyebut nya.

Sedangkan Buku terjemahan bahasa Inggris dari catatan perjalanan Xuanzang/ Hieun – Tsang 602 – 664 M oleh Samuel Beal tahun 1884 memiliki arti sebagai berikut.

Di sebelah timur ada saṅghārāma dan di tengah-tengah hutan āmra adalah tembok fondasi tua,ini adalah tempat Bodhisattva Asa Asga menyusun śāstra yang disebut Hin-yang-shing-kiau.(Fondasi tua adalah sisa reruntuhan Universitas Dharmapala,arah Timur situs). Sebelah barat daya kota 8 atau 9 li adalah sebuah batu yang berdiam di Nāga Tathāgata meninggalkan bayangannya di sini,ini adalah tradisi,tidak ada sisa bayangan yang terlihat (Equinox).

Di sisi kota adalah saṅghārāma tua, yang ada dinding pondasinya saja, di sinilah Dharmapāla Bodhisattva membantah argumen para bidat (ajaran sesat), di sampingnya ada stupa yang dibangun oleh rāja, sekitar 200 kaki tingginya,ada stupa,para murid yang menderita penyakit,dengan berdoa di sini kebanyakan disembuhkan,di dekat ini ada bekas tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari (Pradaksina/Prasawiya/Tawaf dilokasi situs muaratakus). 24 "Sangharamas" yang di lihat Fa-Hien adalah berada di Bagian Barat sudut Timur "Kota Suci", atau "Muotakui" adalah sebutan terdahulu area ini sebelum di sebut "Muara Takus".

Sangharama/universitas pusat pembelajaran "Dharmic"di Svarnadvipa bernama "Dharma Phala", sangharama cabang di india "Nalanda" cabang di java Vhwănā Çhaķâ Phalā kini bernama Borobudur, Laku atau cara kontemplasi "Topo" ini tampil pada stupa atas nya. Vhawana Sakha Phala,"Borobudur" ber palsafah ajaran asli Nusantara,Rincian prosesi kontemplasi spiritual Topo yaitu : Toponing Jasad,Toponing Hawa Nafsu,Toponing Budi, Toponing Suksmao, Toponing Cahyo, dan Toponing Gesang.

Tiga tahapan Borobudur adalah Gambaran yg menjelaskan "BHAWANA TRAYA" ,BHAWANA berarti "Jagad" atau alam kehidupan,"Bhawanatraya" adalah tiga alam kehidupan yang ada di dalam semesta ini, bukan kamadatu, rupadatu, dan arupadatu istilah india. Pada relief dasar yg saat ini tdk di expose terdapat tulisan " SVARGGA, ini bukan istilah arab , Kata arab adalah "Jannah", di india "Nibana", Dan "Nibana" bukan "Svargga", Ajaran asli Nusantara maju terdahulu "Dharma" terekam pada budaya asli Nusantara.

3 alam kehidupan tercermin dlm 3 Tahapan Borobudur yaitu, Bhawana Langgeng (alam kekal), Bhawana Driyo (alam lahiriah), dan Bhawana Triya (alam rohaniyah). Dalam sunda wiwitan di sebut dengan Buwana Niskala, Buwana alam tengah dan Buwana nyungcung,Sasaka Domas. Budaya Batak, Parmalim membagi tiga besar pola alam "Banua" atau "Buana" yaitu, Banua Ginjang (Alam sorgawi), Banua Tonga (Alam dimensi kita), dan Banua toru (Alam maut). Budaya suku "Asmat" mengenal tiga konsep dunia yaitu, Ow Capinmi (Alam sekarang), Dampu ow Capinmi (Alam persinggahan), dan Safar (Surga).

“Moksartham jagahita ya ca iti dharma” Artinya “Dharma" bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani, Ini lah palsafah dasar utama leluhur Indonesia terdahulu "Dharma/Dhamma".

Di Svarnadvipa Nusantara pada masa yang lebih tua lagi,jauh sebelum zaman Veda 6.500 SM telah ada ajaran yang di anut yaitu “Dharma” ajaran asli Nusantara kaum Saka nenek moyang kita, disinilah sumber awal ajaran “Dharmic Original”. Çhri Janaýasã pada 6 Masehi, adalah Putra Nusantara pelopor “Dharmic Original” Landmark di “Muotakui” yang kini disebut Candi “Muara Takus”.

Para ahli dari Barat memandang Hinduisme adalah peleburan atau sintesis dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India, dengan pangkal yang beragam dan tanpa tokoh pendiri tumbuh berdampingan dengan Buddhism hingga abad ke-8. Terdapat teori yang mengatakan bahwa Pangkal dari “Hinduisme” adalah “Brahmanisme” ajaran Weda Kuno atau berbasis “Vedic” yang di bawa kaum Saka/Cakya/Çaka/Aryān artinya pemahaman ini di bawa oleh pendatang, kemudian tumbuh menjadi agama oleh bangsa asli India bernama “Dravida”. Asal-usul Agama di lndia dimulai masuknya Bangsa Arya/Cakya/Saka yang membawa perubahan yang sangat besar dalam tata kehidupan masyarakat India sejak 3.102 SM sampai 1.300 SM. Dapat kita katakan bahwa orang-orang nusantara bukanlah orang -orang yang membawa agama hindu budha ke India. Tetapi orang-orang nusantara adalah orang-orang yang mendasari lahirnya Hindu, Buddha, dan Jaina di India.

Maka dari itu, Arya bukanlah penghuni pertama India. Ini Karena peradaban Harappa “Dravida” telah ada jauh sebelum kedatangan bangsa Arya. Ini membuktikan bahwa bangsa Arya atau budaya Veda bukanlah sumber tunggal awal peradaban di India, melainkan berasal dari tempat lain. Bangsa “Arya” kemudian melakukan integrasi kebudayaan dengan Bangsa asli india “Dravida” dan selanjutnya integrasi ini melahirkan 3 agama india. Bangsa Arya setelahnya mulai menulis kitab-kitab suci Weda, Kitab suci ini dituliskan dalam 4 bagian seperti Reg Weda, Sama Weda, Yayur Weda, dan Atharwa Weda. pendatang inilah orang-orang yang berasal dari Nusantara, nenek moyang leluhur kita kaum Saka/Cakya/Çaka/Aryān, Literasi kata ini terekam sempurna di Borobudur, dengan kata “Maheçãkhya”.

Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, hal ini disebabkan karena China dan India bukanlah orang-orang yang terbiasa dengan lautan. Maka dalam kalimat Mahabharata Udyoga Parva :108 dapat di tafsirkan bahkan di simpulkan bahwa “Timur” ini awal mula “Ajaran” sebelum di bukukan menjadi kitab bernama “Veda” , lokasi yang di tunjuk sebagai “Timur”, disinilah Sang Pencipta alam semesta pertama kali menyanyikan “Veda”. Artinya literasi kata “Timur”,pada kutipan di atas adalah, Asia Tenggara Nusantara Indonesia, di sinilah ajaran “Dharmic Original” berawal,berasal dan di pelajari jauh sebelum adanya ajaran yang terlahir di India.

Jadi pangkal dari “Hinduisme” adalah “Brahmanisme” ajaran Weda Kuno atau berbasis “Vedic” yang di bawa kaum Saka/Cakya/Çaka/Aryān. Literasi teks kata Çãkyã tertera di relief dasar Borobudur, kini tidak dapat dilihat karena ditutup. Çaka adalah kaum leluhur Nusantara, tertulis pada relief dasar Vhwãnã Çakã Phãlã/Borobudur dengan teks literasi kata Māhéçãkyã , Bangsa Çãkyã/Şàkyà/Schytia/Saka,Aryān yang Agung, Kaum “Çaka”sudah ada lebih dahulu jauh dari 78 M dari saat menaklukan Raja “Salivahana” india, Angka tahun 78 M ini yang di salah tafsirkan untuk menghitung awal tahun Saka di prasasti.

Berbagai praktik budaya baru seperti ritual pengorbanan yang semuanya membentuk dasar budaya “Hindu/Veda” awal, dasarnya adalah Ajaran leluhur kita “Dharmic” adalah Dharma/Dhamma/Dhamo terekam pada literasi kata Kųsãlädhãrmãbæjănā di figura dasar relief Borobudur. Jadi dapat dikatakan benar jika Hindu Buddha berasal dari India. tetapi tidak benar jika kita mengatakan situs-situs di Indonesia berdasar Hindu Buddha dari india.

Ajaran asli Nusantara "Dharmic" di masa terdahulu di pelajari di svarnadvipa tergambar lengkap di Borobudur, tersimpan sempurna pada budaya Bali. di situs-situs Borobudurlah “Ajaran” yang mendasari lahirnya Hindu, Buddha dan Jaina yang dibawa oleh kaum “Çaka/Saka/Çakyā/Aryā. Kaum tersebut adalah leluhur kita yang keluar membawa ajaran dari Indonesia. Jadi situs-situs di Nusantara tidak pada ajaran yang terlahir di India Buddha/Hindu. Tapi ajaran yang tergambar di situs-situs Nusantaralah yang mendasari lahir dan tumbuhnya Buddha, Jaina dan Hindu di india.

Sumber Referensi :     anekafakta.com

brainly.co.id

kompas.com

penjuru.id

sarana-hindubali.blogspot.com