F Juli 2019 ~ PEGAWAI JALANAN

Jumat, 19 Juli 2019

5 Aturan ini Jangan Diremehkan Kalau Ingin Selamat Hidup di Kalimantan | Pegawai Jalanan

Sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia, Kalimantan menawarkan banyak hal. Tak hanya tentang alamnya yang eksotis itu, tapi juga peluang besar untuk mengembangkan karir. Kalimantan selama ini dianggap sebagai tempat mencari pekerjaan yang sangat baik bagi orang luar. Sehingga tidak heran kalau daerah ini makin banyak dikunjungi orang luar yang kemudian menetap.

Orang Dayak dalam acara Gawai Dayak

Hidup di Kalimantan itu mudah, sama seperti di banyak tempat lain. Intinya, asal kita berkelakuan baik, maka segalanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Namun sebaliknya, ketika kita melakukan sesuatu yang buruk, maka akan ada konsekuensi untuk itu. Apalagi ini adalah tanah Kalimantan di mana klenik dan magisnya masih sangat kuat. Ingat kalimat ini dimanapun kalian berada, dimana bumi di pijak disitu langit di junjung, jadi kita harus menyesuaikan dengan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang akan kita kunjungi, menghormati penduduk setempat dan harus berkelakuan sopan. 
Di Kalimantan juga ada semacam aturan khusus yang tak boleh dilanggar siapa pun, apalagi pendatang. Konon, ketika seseorang tidak mengindahkan ini, maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Lalu, aturan apa saja yang dimaksud? Mari kiat simak ulasannya dalam video ini.

1. Jangan Menghina Patung Kayu di Sana


Jika kamu perhatikan, di Kalimantan banyak rumah-rumah adat yang di depannya terdapat patung-patung kayu. Konon, ini bukanlah patung biasa melainkan sebagai simbol orang-orang yang sudah meninggal. Aturan yang ada tentang patung kayu ini adalah jangan pernah menghina bentuknya, sekalipun dalam hati.
patung khas dayak
Ada banyak kejadian orang-orang yang menghina patung-patung ini dan kemudian diganggu oleh makhluk-makhluk halus. Tak hanya diganggu secara visual, kadang ada yang sampai mengalami keanehan fisik. Gangguan ini akan tetap ada sepanjang seseorang tidak lekas meminta maaf kepada keluarga si pemilik patung tersebut. Terdengar tidak masuk akal, namun hal ini sering terjadi di sana.

2. Jangan Memandang Rendah Orang Dayak

Sebagai pendatang, maka sudah jadi kewajiban kalau kita harus menghormati penduduk asli setempat. Kalimantan adalah tanahnya orang Dayak, maka kita harus menghormati mereka. Jangan sekalipun mencari gara-gara atau menghina mereka. Takutnya, sesuatu yang fatal mungkin akan terjadi.

gawai dayak
Orang Dayak, mereka punya magis yang kuat. Ketika diganggu, mereka takkan segan mengerahkan kesaktian untuk membalas sakit hatinya. Hal yang perlu diketahui, Dayak merupakan salah satu suku di dunia dengan kekuatan sihir terkuat. Tak hanya dengan sihir, orang Dayak bisa melukai musuhnya dengan mandau yang sakti atau sumpit beracunnya yang mematikan itu. Jadi? Ya, jangan sampai hal ini kepada kita.

3. Jangan Pernah Mempermainkan Gadis Dayak

Siapa sih yang bisa menampik cantiknya gadis-gadis Dayak? Paras ayu nan alami itu pasti bisa menjerat siapa pun untuk jatuh cinta, termasuk para pendatang. Nah, ada satu hal yang perlu diperhatikan terkait dengan gadis-gadis Dayak. Ini adalah tentang larangan untuk tidak pernah mengganggu mereka atau mempermainkannya.
gadis dayak
Ada mitos yang beredar, siapapun yang mengganggu mereka lebih-lebih mempermainkannya, maka dipastikan akan hilang alat vitalnya. Memang terdengar mustahil, namun sudah banyak cerita-cerita tentang ini. Hal tersebut cukup masuk akal juga mengingat orang Dayak itu magisnya sangat ampuh. Makanya, jangan pernah macam-macam dengan gadis Dayak atau hilang masa depan.

4. Sopanlah Ketika Mampir ke Makam Orang Dayak

Akan jadi pengalaman unik tersendiri jika bisa mampir ke tempat-tempat sakralnya orang Dayak. Salah satunya misalnya adalah areal pemakamannya. Cara perkuburan orang Dayak cukup unik. Mereka membuat semacam makam di atas tanah berbentuk seperti bangunan balok yang disangga. Sangat unik, namun kental mistis.
makam keramat 
Aturannya, kita harus sopan ketika ada di tempat-tempat seperti ini. Pasalnya ya tadi, orang-orang Dayak amat mengeramatkan kuburan moyangnya. Jangan keceplosan mengeluarkan kata-kata tidak pantas atau mengumpat. Mereka bisa merasa terhina dan akan membuat urusan ini jadi panjang.

5. Jangan Bermain-Main Dengan Mandau

Mandau adalah senjata keramat orang-orang Dayak. Meskipun bentuknya seperti parang biasa, ia tidak bisa dipakai semaunya. Harus ada alasan khusus kenapa Mandau sampai keluar dari sarungnya. Pasalnya, menurut orang-orang Dayak, Mandau yang keluar dari sarungnya biasanya akan memakan korban.
mandau
Makanya, bagi pendatang, jangan bermain-main dengan senjata satu ini. Memang sangat artistik dengan ukiran-ukirannya, namun jangan sampai Mandau tercabut dari sarungnya. Orang-orang setempat sangat menghormati senjata ini, makanya kita pun harus melakukan hal yang sama.
Lima hal ini adalah sebagian kecil dari aturan yang harus kita ketahui sebelum menjejakkan kaki di Kalimantan. Intinya, sebagai pendatang kita harus hormati kebudayaan dan adat  istiadat setempat. Patuhi semua hal, dengan demikian kita akan selamat di mana pun kita berada.
Penulis : Admin PJ

Benarkah Sabdo Palon Mulai Nagih Janji? | Pegawai Jalanan

Ilusterasi Sabdo Palon

Sabdo Palon dikenal sebagai penasihat spiritual di Tanah Jawa. Ia dikenal sebagai pembimbing Jawa sejati dengan banyak wadag atau raga yang berbeda di setiap generasi. Tokoh lain yang kerap dikaitkan dengan Sabdo Palon adalah Naya Genggong. Keduanya adalah penuntun gaib yang mewujud.
Beliau berdua senantiasa hadir mengiringi Raja-Raja Jawa masa Hindu-Buddha. Ada riwayat yang menyebutkan, Sabdo Palon dan Naya Genggong baru mahsyur pada masa kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Ia tetap setia sebagai penasihat spiritual hingga kepemimpinan Raja Brawijaya V. Sebelumnya, Sabdo Palon dan Naya Genggong dikenal dengan Sapu Angin dan Sapu Jagad.

Konon, Sabdo Palon dan Naya Genggong bukanlah nama asli dari sang abdi, melainkan gelar yang diberikan sesuai dengan karakter tugas yang diemban. Sabdo Palon memiliki dua makna, "sabdo" berarti seseorang yang memberikan masukan atau ajaran, dan "palon" yang berarti kebenaran yang bergema dalam ruang semesta. Jika disatukan, "Sabdo Palon" adalah seorang abdi yang berani menyuarakan kebenaran kepada raja dan berani menanggung akibatnya. Sementara Naya Genggong, "naya" berarti nayaka atau abdi raja dan "genggong" yang bermakna mengulang-ulang suara. Naya Genggong adalah seorang abdi yang berani mengingatkan raja secara berulang-ulang tentang kebenaran dan berani menanggung akibatnya.
Nama Sabdo Palon banyak dikisahkan dalam Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon, atau yang banyak dikenal dengan Jangka Sabdo Palon. Jangka Sabdo Palon diyakini sebagai karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita.Jika selama ini dikatakan serat tersebut ditulis sebagai ramalan kehancuran Islam setelah 500 tahun kehancuran Majapahit, maka sebetulnya tujuan akhir dari pengarang Serat Jangka Sabda Palon ternyata adalah sebuah proses untuk “menerima” Islam.
Nukilan syair dalam Jangka Sabdo Palon yang diduga ramalan kehancuran Islam di Jawa adalah,
Pepesthene nusa tekan janji, yen wus jangkep limang atus warsa, kepetung jaman Islame, musna bali marang ingsun, gami Budi madeg sawiji, …
(Takdir nusa sampai kepada janji, jka sudah genap lima ratus tahun, terhitung jaman Islam, musnah kembali kepadaku, Agama Budi berdiri menjadi satu …)
Patung Sabdo Palon
Bait ini terletak di penghujung akhir Serat Jangka Sabdo Palon. Tuturan ini kemudian dikenal sebagai "Sabdo Palon Nagih Janji". Sabdo Palon memberitahukan tanda-tanda sosial dan tanda-tanda alam yang akan muncul di zaman kembalinya nanti.
Selain itu ada juga tuturan dalam serat tersebut yang konon meramalkan terjadinya huru hara akhir zaman. Begini bunyinya,
Miturut carita kuna,
wecane janma linuwih,
kang wus kocap aneng jangka,
manungsa sirna sepalih,
dene ta kang bisa urip
yekti ana saratipun,
karya nulak kang bebaya,
kalisse bebaya yekti,
ngulatana kang wineca para kuna.

Terjemahan bebasnya, menurut cerita kuno dari para leluhur yang memiliki kelebihan dalam spiritual, semua cerita yang disampaikan para leluhur telah tertulis dalam kitab Jangka. Kelak umat manusia di masa depan akan lenyap separuh dari jumlah total yang menghuni bumi. Mereka yang bisa bertahan hidup harus berusaha dan bekerja untuk menjauhkan diri sendiri dari berbagai marabahaya. Cara untuk mempertahankan diri dari prahara di masa depan adalah dengan membaca, meresapi dan menjalankan ajaran-ajaran para leluhur.
Ada juga petikan dari jangka Sabdo Palon yang konon meramalkan terjadinya letusan Gunung Semeru. Ini termuat dalam pupuh Sinom.
Sanget-sangeting sangsara,
Kang tumuwuh tanah Jawi,
Sinengkalan taunira,
Lawang Sapta Ngesthi Aji,
Upami nabrang kali,
Prapteng tengah-tengahipun,
Kaline banjir bandang,
Jerone nyilepake jalmi,
Kathah sirna manungsa kathah pralaya.

Terjemahannya, sangat-sangatnya sengsara yang timbul di Tanah Jawa, ditandai pada tahun Sembilan Tujuh Delapan Satu. Seumpama menyeberang sungai, sampai di tengah-tengahnya, sungainya banjir bandang. Dalamnya menenggelamkan manusia. Banyak manusia mati, banyak bencana.
Semar
Angka "9781" pada jangka tersebut jika dibaca menurut Candra Sengkala menjadi 1879 atau 1978 dalam pembacaan tertentu. Pada tahun 1978 inilah, Gunung Semeru meletus.
Ramalan tersebut juga dinisbatkan pada meletusnya Gunung Merapi pada 2010 yang lalu. Ini berkait dengan janji Sabdo Palon Naya Genggong sebelum moksha, "Dan ingatlah keharuman air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4 zaman." Hitungan zaman paling dekat dalam penanggalan Jawa adalah sewindu (delapan tahun). Jika demikian 4 jaman dikali 8, berarti 32. Maka isyarat meletusnya Gunung Merapi terjadi 32 tahun sesudahnya.
Hardi agung-agung samya,
Huru-hara nggêgirisi,
Gumalêgêr swaranira,
Lahar wutah kanan kering,
Ambleber angêlêbi,
Nrajang wana lan desagung,
Manungsanya keh brastha,
Kêbo sapi samya gusis,
Sirna gêmpang tan wontên mangga puliha.

Gunung berapi semua,
Huru hara mengerikan,
Menggelegar suaranya,
Lahar tumpah kekanan dan kekirinya,
Menenggelamkan,
Menerjang hutan dan perkotaan,
Manusia banyak yang tewas,
Kerbau dan Sapi habis,
Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

Namun lepas dari itu semua, Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon tidak lain merupakan sebuah karya sastra. Bait-bait yang termuat di dalamnya bisa menjadi bahan refleksi kesadaran umat seluruhnya di Tanah Jawa.

Penyunting : Admin PJ