Rabu, 22 September 2021

TIPU MUSLIHAT PKI MEMBANTAI 62 PEMUDA ANSOR DAN BANSER NU PADA TAHUN 1965!!!

      

        Sebagian rakyat ada yang tidak tahu bahwa memang PKI melakukan kekejaman terlebih dahulu sebelum mereka mendapatkan balasan, terutama para generasi muda yang tidak mendapat pendidikan sejarah seperti generasi sebelum reformasi, bahkan sekarang ada yang berkampanye mereka adalah korban yang dihabisi pasca peristiwa 30 September 1965.  Dalam buku-buku yang terbit dan ditulis ada yang menceritakan kekejaman PKI, ada juga yang menceritakan anggota PKI atau simpatisan PKI yang menjadi korban, seperti buku "Palu Arit di Ladang Tebu : Sejarah pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966" Karya Hermawan Sulistyo. 
        Berapa perkiraan jumlah korbannya dibahas disana dengan berbagai versi dan angka yang berbeda-beda. Karena banyaknya korban yang berjatuhan, sekarang ada kelompok yang mendesak pemerintah meminta maaf terhadap PKI. Akan tetapi buku tersebut justru menjawab penyebab banyaknya korban yang berjatuhan, penyebabnya adalah akibat konflik horizontal yang terjadi di masyarakat saat itu. Karena kekerasan tersebut merupakan konflik horizontal maka menurut Bapak Hermawan Sulistyo pemerintah tidak boleh meminta maaf kepada PKI. Konflik yang siap meletus setiap saat akibat perilaku PKI yang sudah keterlaluan, sejak tahun 1926 sampai tahun 1968 yang tercatat dalam sejarah membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga Pulau Bali, terutama umat Islam khususnya NU dan Kesultanan-Kesultanan yang ada di Indonesia, karena memang PKI sangat anti dengan kaum feodal dalam hal ini keluarga kerajaan dan bangsawan. 
        Mengapa sampai rakyat bergerak membasmi PKI? jawabannya ada dalam buku "Banjir Darah : Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri dan Kaum Muslimin" Karya Anab Afifi & Thowaf Zuharon, dalam buku tersebut diceritakan kekejam-kekejaman PKI yang tercatat dan dikisahkan kembali. Karena kekejaman dan aksi-aksi sepihak mereka yang terjadi sejak lama, maka kaum Muslimin khususnya NU yang secara langsung bersinggungan secara fisik akhirnya marah dan meledak setelah mendengar kabar Pembunuhan Jenderal pada tanggal 1 Oktober 1965. Suasana saat itu menjadi panas dan sampai pada keadaan membunuh atau dibunuh. 
       Dalam pembahasan kekejaman PKI yang sering dibahas seperti kekejaman PKI madiun tahun 1948, pembunuhan Gubernur Soerjo 1948, Pembunuhan Jenderal TNI AD 1965, Peristiwa Bandar Betsy 1965, dan masih banyak lagi yang lainnya. Peristiwa kelam satu ini mungkin sedikit terlupakan karena berbagai hal, dalam artikel kali ini akan kami kisahkan kembali agar sejarah kekejaman PKI tidak terhapus dan hilang begitu saja.
    Pada Tanggal 18 Oktober 1965 terjadi pembantaian terhadap 62 pemuda Ansor oleh anggota PKI yang mengelabui pemuda Ansor. Para anggota PKI Cluring sengaja menyaru, menyamar dan melakukan dusta keji terhadap pemuda NU. Mereka berpura-pura membuat pengajian yang penuh dendang shalawat dan berbagai tradisi NU lainnya. 
        Kepolosan dan kejujuran pemuda Ansor Desa Muncar membuat mereka tidak menaruh curiga atas undangan tersebut. Para pemuda Ansor di undang untuk menghadiri acara pengajian di rumah Matulus, Kepala Desa Cluring. Padahal Matulus adalah salah satu pimpinan PKI di Cluring.
        Para pemuda rakyat PKI dan Barisan Tani Indoensia (BTI), mengaku sebagai pengurus Ansor Desa Cluring, bahkan mereka memakai seragam Ansor. Sedangkan para Gerwani desa itu, mereka berdandan layaknya anggota Fatayat dengan memakai kerudung.  Saat itu alat komunikasi tidak seeprti sekarang yang bisa langsung kita Whatsaap untuk memvaliadasi apakah mereka benar-benar anggota Ansor atau bukan. Dengan penuh prasangka baik dan positif, puluhan anggota Banser dan Ansor Desa Muncar, malam itu berangkat ke rumah Matulus. Setelah pengajian, mereka dijamu makan dan minum yang cukup enak dan melimpah.
        Setelah menikmati makanan dan minuman yang disediakan, berselang beberapa saat kemudian, puluhan pemuda Ansor yang hadir dalam acara pengajian itu, bertumbangan satu persatu. Mereka kelojotan terguling-guling dilantai memegangi leher, dada dan perut mereka yang seperti hendak meledak.  Beberapa di antaranya ada yang langsung keluar busa dari mulutnya.
        Para pemuda Ansor dan Banser ini ternyata dibuat sekarat oleh para PKI. Ternyata santapan hidangan yang disuguhkan sengaja diberi racun yang ganas untuk membunuh para pemuda Ansor tersebut. Para pemuda Rakyat, BTI dan Gerwani bersorak sorai saat melihat para Ansor dan Banser tersebut sedang sekarat. Lagu Genjer-Genjer pun mereka nyanyikan sambil menari. 
       Para PKI menyeret puluhan tubuh pemuda Ansor dan Banser tersebut beberapa saat kemudian untuk dibawa kerumah Mangun Lehar. Mangun Lehar adalah tokoh BTI yang diagung-agungkan oleh anggota PKI Cemethuk. Dalam perjalanan menuju rumah Mangun ternyata ada ada beberapa anggota Ansor yang tidak terlalu parah terdampak racun dan berhasil melawan lalu melarikan diri.  Mereka lolos dari kelicikan PKI dan berhasil memberitahukan kepada rekan-rekannya di Desa Muncar.


        Puluhan pemuda Ansor dan Banser yang berhasil di seret kerumah Mangun Lehar kemudian dibantai dengan membabi buta menggunakan celurit dan segala senjata yang telah mereka siapkan.  Darah pun tertumpah kelantai berliter-liter dan muncrat kedinding rumah Tokoh BTI tersebut. 62 Pemuda Ansor dan Banser pun gugur, menjadi syuhada akibat kekejaman PKI pada saat itu. Setelah aksi pembantaian selesai, jenazah para pemuda Ansor dan Banser NU tersebut di timbun di dalam tiga lubang yang berbeda. Lubang-lubang tersebut telah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya. Lubang pembantaian tersebut sengaja dibuat untuk menimbun mayat Pemuda Ansor dan Banser yang mereka bantai.
        Lubang pembantaian tersebut terletak di pinggir sungai, lubang pertama berisi sepuluh mayat, lubang kedua juga diisi sepulh mayat dan lobang yang ketiga diisi empat puluh dua mayat pemuda Ansor dan banser NU. Total keseluruhan yang menjadi korban kebiadaban PKI di desa Cluring tersebut berjumlah 62 orang pemuda Ansor dan Banser NU. Tanah yang digunakan untuk menimbun jenazah tersebut juga seadanya, lalu lubang-lubang tersebut diurug dan di tanami pohon bambu.
        Setelah peristiwa keji tersebut, beberapa jam setelahnya, pembalasanpun segera dilakukan oleh para anggota Ansor Desa Muncar, ormas Islam lainnya dan dibantu oleh pemuda Marhaen dari desa lain.  Para ormas pemuda ini ditemani oleh tim penyelidik dari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Tiga lubang pembantaian tersebut dinamai Lubang Buaya sama seperti tempat penyiksaan Jenderal-Jenderal TNI Angkatan darat.
        Tokoh PKI seperti Mangun Lehar, Supardi, Sutoyo serta para anggota BTI dan Gerwani tidak lupa lurah Matulus pun ditangkap, mereka akhirnya dieksekusi mati untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.  Mengikuti nasib para pemimpin terdahulu mereka seperti Musso yang memimpin pemberontakan Madiun 1948, pada saat itu kaum Ulama, santri, pejabat pemerintah, polisi dan tentara yang pro Republik Indonesia mereka bantai dengan kejam. Akhirnya Musso dan mereka yang terlibat juga dieksekusi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. D.N. Aidit dan semua yang terlibat dalam peristiwa G30S/PKI juga sudah menerima hukuman atas apa yang mereka perbuat. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita dapatkan, mereka para PKI sudah menanam kebiadaban, kekejaman, intimidasi, dan lain sebagainya yang bersifat negatif, maka hasilnya juga mereka akan diburu dan dikejar oleh orang-orang yang pernah mereka sakiti.
        Itulah Sedikit pembahasan tentang pembantaian 62 pemuda Ansor dan banser oleh anggota PKI. Semoga kisah sejarah ini bisa menjadi pengingat dan sebagai peringatan bangsa ini di masa depan.

ARGHA SENA
Sumber : 
Palu Arit di Ladang Tebu : Sejarah pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966" Karya Hermawan Sulistyo. 
Banjir Darah : Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri dan Kaum Muslimin" Karya Anab Afifi & Thowaf Zuharon.
https://www.gelora.co/




        

NASIB PASUKAN CAKRABIRAWA PASCA G30S/PKI

        


    Pasukan Cakrabiarwa pasukan pengawal presiden bergerak dengan misi menculik 7 Jenderal TNI Angkatan Darat pada pagi dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Mereka berhasil membunuh 6 Jenderal minus satu Jenderal yang lolos yaitu Jederal A.H. Nasution yang berlindung dimarkas kostrad yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto. Akan tetapi anak Jenderal Nasution yang masih kecil menjadi korban penembakan pada malam jahanam itu dan ajudan nya yaitu Kapten Pierre Tendean gugur karena mengaku kepada pasukan penculik bahwa dirinyalah Jenderal A.H. Nasution. Lalu bagaimanakah nasib Pasukan Cakrabirawa yang menculik dan membunuh putra-putra terbaik bangsa itu? Dalam video kali ini kita akan sajikan kisahnya untuk menjadi pelajaran berharga, bahwa apa yang kita tanam akan kita tuai. Jika kita menanam tebu maka kita akan menikmati manisnya es tebu, tapi jika kita menanam pohon rengas maka akan busuklah kulit kita terkena getah rengas.

        Pagi tanggal 16 Februari 1990 adalah pagi terakhir bagi empat orang mantan pasukan Cakrabirawa. Johannes Surono, Paulus Satar Suryanto, Simon Petrus Solaiman, dan Norbertus Rohayan dijemput dari selnya di Penjara Cipinang hendak dieksekusi. Satu regu tembak telah menunggu. Dalam catatan Amnesty International Report (1991:119), keempat tahanan itu hampir semuanya telah lansia. Ketika diekseskusi, Johannes Surono berusia 60 tahun, Paulus Satar Suryanto 57 tahun, Simon Petrus Solaiman 60 tahun, dan Norbertus Rohayan 49 tahun. Di antara mereka, hanya Rohayan yang mendapat kunjungan dari keluarga. Pamannya menjenguk Rohayan beberapa hari sebelum ia dieksekusi. Inside Indonesia nomor 14 April 1988 menyebut bahwa ia menderita diabetes dan penyakit lainnya.

        Dua dekade lebih mereka ditahan rezim Orde Baru karena terlibat G30S. Saat peluru satu persatu menghabisi hayat, kematian mereka terdengar hingga negeri Belanda seperti diberitakan oleh surat kabar De Volkskrant edisi 19 Februari 1990. Menurut Majalah Tapol nomor 98 April 1990, mereka ditangkap antara tanggal 4 hingga 8 Oktober 1965.

        Rohayan berasal dari Angkatan Udara. Ia ditangkap pada 5 Oktober 1965 dan dijatuhi hukuman mati oleh Mahkalah Militer distrik Bandung pada 8 November 1969. Ia sempat mengajukan banding, namun pada Februari 1987 bandingnya ditolak. Lalu pada 5 Desember 1989 ia mengajukan grasi, dan lagi-lagi ditolak. Pada malam 1 Oktober 1965, Rohayan adalah penembak Mayor Jenderal Raden Soeprapto. Sehari sebelum penangkapan Norbertus Rohayan, Satar Suryanto lebih dulu dicokok. Seperti terdapat dalam Gerakan 30 September dihadapan Mahmillub 2 Di Djakarta Perkara Untung (1966:21), Satar adalah sersan mayor dengan NRP 107453. Ia menjabat sebagai komandan peleton II Kompi C Batalyon II Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang tinggal di Asrama Tanah Abang. 

        Saat menjadi saksi dalam perkara Untung pada 1966, usianya sekitar 34 tahun dan masih beragama Islam. Satar memimpin penculikan Mayor Jenderal Suwondo Parman dan dijatuhi hukuman mati pada 29 April 1971 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Permohonan bandingnya ditolak, dan sebelum dieksekusi ia memakai nama Paulus Satar Suryanto. Sebagaimana kawannya, Johannes Surono pun sempat menjadi saksi dalam perkara Untung. Saat itu usianya 36 tahun dan beragama Islam dengan nama Surono Hadiwijono. Lelaki kelahiran Pucungsawit, Solo itu adalah komandan peleton III kompi C batalyon Untung di Cakrabirawa. Surono memimpin penculikan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo dan ditangkap pada 8 Oktober 1965. Lima tahun kemudian ia dijatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Pengajuan banding dan grasinya ditolak pada tahun 1986 dan 1989. 

        Jika Norbertus Rohayan adalah penembak Mayor Jenderal Raden Soeprapto, maka Simon Petrus Solaiman adalah orang yang diberi tugas oleh Letnan Satu Dul Arif untuk memimpin penculikan petinggi Angkatan Darat tersebut. Menurut sumber pemerintah, Solaiman kelahiran Cepu, Blora, Jawa Tengah, pada 1927. Ia ditangkap pada 5 Oktober 1965 ketika Mayor Jenderal Soeprapto dan perwira Angkatan Darat lainnya dikebumikan di Taman Makam Kalibata. Solaiman dijatuhi hukuman mati pada November 1969 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Seperti ketiga kawannya, banding dan grasi yang ia ajukan semuanya ditolak pemerintahan daripada Soeharto.

        Para Eksekutor dan Pemimpin Penculikan Lainnya Selain keempat orang tersebut, ada juga seorang prajurit bernama Anastasius Buang. Usia penembak Mayor Jenderal Suwondo Parman itu seumuran dengan Rohayan. Pertengahan 1980-an, Buang terancam dihukum mati. Namun ia baru meninggal secara misterius pada September 1989. Jenazah Buang berhasil ditemukan oleh keluarganya. Rohayan dan Buang punya kesalahan yang sama dengan Sersan Dua Gijadi Wignjosuhardjo, mereka sama-sama menjadi eksekutor operasi penculikan. Gijadi yang kelahiran Solo tahun 1928 adalah penembak Letnan Jenderal Ahmad Yani. Ia ditangkap pada 4 Oktober 1965 dan sempat menjadi saksi dalam perkara Untung. 

        Menurut Inside Indonesia nomor 14 April 1988, Gijadi dijatuhi hukuman mati pada 16 April 1968 oleh mahkamah militer distrik Jakarta. Bersama Sersan Mayor Soekardjo yang memimpin penculikan Brigadir Donald Izacus Panjaitan, Gijadi dieksekusi mati pada Oktober 1988. Setelah puluhan tahun menjadi tahanan Orde Baru, para pemimpin penculikan dan penembak dari pasukan Cakrabirawa itu pada akhirnya menyusul dua atasan mereka, Letnan Kolonel Untung dan Letnan Satu Dul Arif, ke alam kubur. 

        Untung adalah Komandan Batalion Kawal Kehormatan II Cakrabirawa, sementara Dul Arif Komandan Kompi C dari batalion yang dipimpin Untung. Sebagai prajurit penjaga presiden, para sersan dan kopral yang memimpin penculikan dan penembakan para jenderal tak dapat menolak perintah kedua atasannya. Maka pada malam menjelang Subuh 1 Oktober 1965, mereka bergerak menculik dan menghabisi para perwira Angkatan Darat yang dianggap tidak loyal kepada presiden lewat isu Dewan Jenderal. Puluhan tahun kemudian, parade kematian itu mereka hadapi sendiri.

        Itulah nasib pasukan penculik yang menghabisi banyak nyawa saat peristiwa berdarah G30S/PKI, apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Semoga artikel kali ini dapat kita ambil hikmahnya agar kita selalu berfikir panjang atas apa yang kita perbuat, dan apa dampaknya di masa depan.


ARGHA SENA

Sumber : tirto.id, kompas.com, wikipedia.org


Senin, 20 September 2021

PEMBUNUHAN GUBERNUR SURYO OLEH GEROMBOLAN PKI

        

        Masih ingat dengan Pasukan Maladi Jusuf yang pernah kami sebut dalam artikel yang lalu? Maldi Jusuf adalah Pasukan tentara pada zaman revolusi yang berhaluan kiri. Pasukan inilah yang menyiksa dan membunuh Gubernur Jawa Timur pertama yaitu Gubernur Suryo. Siapakah yang memerintahkan pasukan FDR PKI untuk membunuh Gubernur Suryo? Dalam artikel kali ini akan kita bahas siapa orangnya. 
        Waktu zaman Jepang, Maladi Jusuf adalah pelajar di Sekolah Bahasa Nippon. Setelah Agustus 1945, ia sudah jadi komandan kompi dalam laskar Pemuda Republik Indonesia (PRI) di bagian utara kota Surabaya. Laskar ini ikut terlibat dalam pertempuran 10 November. Belakangan, pasukan Maladi Jusuf makin banyak. Ia lalu menjadi pemimpin batalyon. Menurut Fransisca Fanggidaej dalam Memoar Perempuan Revolusioner (2006: 133), Batalyon pimpinan Maladi Jusuf berada di bawah komando Brigade 29 di tahun 1948. Komandan Brigadenya adalah Letnan Kolonel Dachlan. Di dalam brigade pimpinan Dachlan ini banyak sekali orang-orang kiri. Kebanyakan bekas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) bergabung di dalamnya. 
        Diungkapkan Harry Albert Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak (2011: 197), Brigade 29 bermarkas besar di Kediri. Sementara batalyon elite pimpinan Maladi Jusuf bermarkas di selatan Kediri. Brigade ini terlibat dalam Peristiwa Madiun dan belakangan dianggap melakukan pembangkangan. Mereka bertempur melawan tentara kiriman dari Pemerintah Republik di Yogyakarta.
        Di antara pasukan Dachlan, Batalyon Maladi Jusuf adalah yang paling unggul. Tentara pemerintah sulit menaklukannya. Setelah Brigade Dachlan disikat, Batalyon Maladi Jusuf selalu berhasil kabur. Menurut Himawan Soetanto dalam Perintah Presiden Soekarno: Rebut Kembali Madiun (1994: 215-217), batalyon ini kerap bertempur untuk melindungi rombongan mantan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, sang pemimpin Front Demokrasi Rakjat (FDR). Setelah Oktober 1948, sisa batalyon Maladi Jusuf belum hancur. Pasukan ini bertahan di sekitar jalan poros Ngawi-Sragen. Di jalan poros itu, sisa pasukan yang bersenjata, dan sudah pasti berbahaya, bisa mencegat siapa saja yang melewatinya.

Amir Sjarifoeddin yang Memerintahkan Menghabisi Gubernur Suryo

        Dalam bukunya yang lain, Madiun: Dari Republik ke Republik (2006: 181), Himawan Soetanto mengisahkan bahwa pada 9 November 1948 ada pergerakan pasukan dari arah Lawu menuju utara, menyeberangi jalan poros itu. Warga desa Plang Lor terheran-heran melihat banyaknya rombongan pasukan. Ada yang berseragam militer, ada juga yang berpakaian hitam seperti warok (pendekar Ponorogo). “Tiba-tiba dari arah barat meluncur suatu mobil sedan berwarna hitam. Dari mobil itu keluar tiga orang yang langsung ditodong dengan senapan, dilucuti dan diseret beramai-ramai,” aku Kromo Astro, seorang kamitua Prang Lor, seperti dicatat dalam Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun (1990: 156-157). 
        Para pengepung menebak bahwa mereka yang berada di mobil hitam itu adalah pembesar yang pulang dari Yogyakarta. “Wah, ini pembesar yang kerjanya makan enak tidur enak,” kata orang-orang FDR itu. Kromo Astro mengaku, ketika para penumpang mobil itu hendak dibunuh, ia berusaha mencegahnya. Jika dibunuh di pasar, maka warga desa akan merasa ngeri. Kemudian datanglah seseorang dengan mengendarai kuda. Para pengepung memanggilnya "Pak Amir". Dalam catatan kaki di buku Harry Poeze disebutkan bahwa beberapa sumber menyatakan Amir Sjarifoeddin berada di lokasi kejadian dan sempat berbincang-bincang dengan tawanan. 

Amir Syarifuddin saat tertangkap dan akan dieksekusi

        “Pak Amir memerintahkan agar ketiga orang itu dibunuh di saja di hutan yang lebih jauh. Ketiga orang itu kemudian diarak beramai-ramai ke dalam hutan sambil terus disoraki dan dicaci maki,” aku Kromo Astro. Tiga orang yang dibunuh itu memang pejabat negara. Belakangan diketahui, para korban adalah Komisaris Besar Doeryat, Komisaris Polisi Soeroko, dan Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo. Nama terakhir adalah mantan Gubernur Jawa Timur. Meski tak jadi gubernur lagi ketika disergap, orang-orang tetap mengenalnya sebagai Gubernur Soerjo. 
        Di sekitar tempat pembunuhan itu, kemudian dibangun sebuah monumen untuk mengenang Gubernur Ario Soerjo. “Laporan tentang peletakan batu pertama monumen pada 14 Juli 1973 mencantumkan tanggal 10 November, dan menyebut Maladi Jusuf sebagai pimpinan dari kelompok PKI yang menahan Soerjo dan rombongannya,” catat Poeze (2011: 265). 
        Menurut Suripno, salah satu pengepung, sebenarnya tak ada maksud untuk membunuh mereka. Para pengepung ingin memperlakukan Soerjo dengan baik untuk mengorek berita dari Yogyakarta. Rombongan itu ketinggalan banyak kabar terkini di akhir 1948 itu. Mereka merasa hidup dalam ketidakpastian. Para pengepung kemudian mendapat serangan mendadak dari TNI dan mereka yang tertawan kemudian dibunuh. 
        Cerita lain terkait kematian Soerjo ditulis Soebagijo I.N. dalam biografi mantan gubernur Jakarta, Sudiro: Pejuang Tanpa Henti (1981: 191) Di hari naas tersebut, dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta, Soerjo sempat singgah di rumah Sudiro yang saat itu menjabat Residen Solo. Sudiro menyebut, peristiwa itu terjadi pada 11 November. Buku biografi Soerjo yang dirilis pemerintah, Gubernur Suryo (1982: 160-161), yang disusun Sutjiatningsih, menyebut Soerjo baru pulang dari Yogyakarta dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1948. Soerjo sempat disarankan Hatta untuk menunda kepulangan, tapi dirinya bersikeras pulang. Di buku tersebut ditulis, “Setibanya di desa Bogo, Kedunggalar, Ngawi, mobil Pak Suryo berpapasan dengan sisa-sisa gerombolan PKI yang dipimpin Maladi Jusuf (hlm. 160-161).

Maladi Lenyap, Soerjo Dikenang

        Setelah kejadian, Maladi Jusuf tidak ikut dihabisi tentara pemerintah yang kerap gagal membekuknya. Berhubung ada Agresi Militer Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 atas Yogyakarta yang disusul penawanan pejabat RI, maka banyak sisa kombatan yang terlibat dalam Peristiwa Madiun terlupakan. Mereka dibiarkan masuk bergabung dengan TNI lagi. Termasuk Maladi Jusuf dan pasukannya. “Saya dengar bahwa batalyon itu direhabilitasi oleh Kolonel Gatot Subroto sebagai pasukan TNI, oleh karena aktif melawan Belanda dalam Perang Kemerdekaan Kedua,” aku Sayidiman Suryohadiprojo dalam Mengabdi Negara Sebagai Prajurit TNI: Sebuah Otobiografi (1997: 105). Sayidiman menaruh curiga pada Maladi Jusuf dan bawahannya waktu bertugas di Jawa Barat. 
            Sekitar 1965, Maladi Jusuf kena garuk aparat terkait G30S. Setelah itu tak ada lagi kabar tentangnya. Ario Soerjo tentu saja terus dikenang. Baik terkait jasa-jasanya pada Republik Indonesia dan juga sebagai korban kekejaman kombatan PKI Madiun. Pangrehpraja lulusan OSVIA yang pernah jadi mantri polisi di zaman kolonial ini pernah menjabat Bupati Magetan di waktu Jepang belum datang. 
           Di zaman Jepang, dia jadi Residen Bojonegoro. Pada akhir masa pendudukan Jepang, Soerjo termasuk salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, dia diangkat menjadi Gubernur Jawa Timur. Pada saat hari naas 10 November 1948 itu, Soerjo tidak lagi gubernur, melainkan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia.

Sumber : tirto.id, wikipedia.org