Saturday, September 19, 2020

Sejarah Pahit Orang Jawa di Suriname, Dianggap Bodoh dan Mudah Ditipu



Siapa yang tidak kenal dengan Suriname? Suriname adalah sebuah negara yang berada di Amerika Selatan. Di Suriname, bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari di negara bekas jajahan Negara Belanda ini. Bahkan warga negara di sana banyak yang merupakan keturunan Jawa. Meski bahasa Jawa sudah menjadi bahasa sehari-hari warga di sana, tapi bahasa nasional di Suriname adalah bahasa Belanda.  Luas wilayah Suriname sekitar 163.265 kilometer persegi. Jumlah penduduknya sekitar 563.402 jiwa sesuai data tahun 2017.

Suriname merupakan Negara Republik yang terletak di benua Amerika, tepatnya di Amerika Selatan. Dilansir dari situs resmi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Suriname sudah ada dan dikenal sejak abad ke-15. Saat itu, bangsa Eropa berlomba-lomba untuk menguasai Guyana, yang merupakan nama awal Suriname. Wilayah Suriname merupakan suatu dataran luas yang letaknya di antara Samudera Atlantik, Sungai Amazon, Rio Negro, Cassiquiare dan Orinocco.


Mulanya dataran luas itu diberi nama Guyana Karibania oleh para kartografi. Arti Guyana adalah dataran luas yang dialiri banyak sungai. Karibania berasal dari kata Caribs yang merupakan nama penduduk pertama. Suriname berbatasan dengan Guyana Perancis di sebelah timur dan Guyana di sebelah barat. Di sebelah selatan berbatasan dengan Brazil dan Samudera Atlantik di sebelah utara. Dilansir dari Encyclopaedia Britannica (2015), Suriname adalah tanah jajahan Belanda yang memperoleh kemerdekaan pada 25 November 1975. Suriname juga pernah dijajah oleh Spanyol, Inggris, Perancis, hingga Portugal.

Sampai awal abad ke-19 Suriname diwarnai bunga-bunga etnis.

Penduduk aslinya sendiri, orang Amerindian, ditambah lagi oleh golongan Bush Negro.

Terakhir, orang-orang Eropa dan keturunannya yang mereka namakan orang Kreol.

Orang Kreol inilah yang kemudian mendominasi populasi Suriname hingga kini.

Tadinya, Kreol hanya sebutan untuk orang Eropa yang dilahirkan di Amerika Selatan atau India Barat, tapi kemudian berkembang menjadi sebutan untuk orang asing yang dilahirkan di Suriname.

Kemudian kedatangan sekitar 32.000 emigran Jawa di Suriname menjadi tonggak awal lahirnya variasi etnis Jawa di tengah-tengah populasi Suriname yang sudah beraneka ragam.

Hingga 1972, populasi orang Jawa sudah mencapai 58.863 jiwa (sekitar 13%) dari 348.903 penduduk Suriname.

Dengan jumlah itu, orang Jawa menempati urutan ketiga, setelah India (38%) dan orang Kreol (31%).

Walau demikian, dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa tidak lebih dianggap suku minoritas.

Pada saat itu, hanya segelintir orang Jawa di sana yang tahu baca-tulis.

Rasa tertekan ini semakin terasa akibat sikap dan tegur sapa kasar golongan lain yang menganggap orang Jawa bodoh, pandir dan mudah ditipu.

Ini menyebabkan semakin ketatnya kelompok Jawa ke dalam isolasi yang kental sebagai reaksi kelompok minoritas.

Rasa berlainan ras juga timbul dengan sadar dalam diri orang-orang Jawa itu.

Pergaulan sesama orang Jawa tetap dipelihara dengan derajat pemakaian bahasa Jawa yang ngoko dan krama.

Slametan, sesajen, pesta tayub, joget, wayang, orkes terbang, ludruk, tetap menjadi titik sentral dalam aktivitas mereka.

Orang Kreol yang suka mengejek orang Jawa, 'digelari' mereka buto, raksasa kasar dan jahat.

Sedangkan orang India, yang gigih berdagang dan pelit, digelari Anoman, monyet sakti dari kisah Ramayana atau sebagai manungsa ambune kaya setan, manusia yang baunya seperti setan.

Bukan itu saja. Meski jauh dari Indonesia, orang Jawa Suriname tetap merasa diri bagian dari Indonesia.

Dalam setiap pertemuan, termasuk pesta perkawinan dan sunatan, lagu Indonesia Raya dikumandangkan keras-keras dan bendera merah-putih dikibarkan.

Tidak hanya lewat sosok bendera, bahkan sampai ikat kepala pun dibuat berdwiwarna. Demikian catatan Dr. Yusuf Ismael.

Suriname berasal dari kata Surinamo, yaitu nama sungai di sana yang diberikan oleh penduduk asli Amerindian (Indian Amerika).

Tapi beberapa penulis Inggris ada yang mengklaimnya berasal dari kata Inggris, surrey dan ham, yang kira-kira berarti  tanah milik Lord Surrey.

Daerah di pantai utara Amerika Selatan yang luasnya hampir sebesar Pulau Jawa ditambah Madura itu, tadinya-bernama Guyana.

Akibat kolonialisme kemudian terpecah menjadi tiga, Guyana Prancis di Timur, Suriname di Tengah dan Guyana di Barat.

Tanah luas Suriname aslinya milik orang-orang Amerindian dari kelompok suku bangsa Arawak, Carib, Wama, Trio dan Oajana.

Baru pada akhir abad ke-15 Suriname didatangi orang-orang Spanyol dan diklaim sebagai wilayah Spanyol pada tahun 1593.

Pada tahun 1667, orang-orang Belanda di bawah pimpinan Abraham Crynsen datang ke Suriname dan mengusir orang-orang Inggris dan Portugis.

Tahun 1682 wilayah Suriname dihibahkan kepada VOC. Gubernur Belanda di Suriname, Cornelis van Aersen kemudian mendatangkan emigran dari Eropa.

Hasilnya, puluhan keluarga Prancis menetap di Suriname. Tibanya emigran Prancis di Suriname mengakibatkan pemerintah Prancis mulai melirik Suriname.

Namun baru 23 tahun kemudian, yaitu tahun 1712, Prancis berhasil merebut Suriname dari Belanda.

Akibataya timbul kekacauan di perkebunan-perkebunan Suriname. Ini dimanfaatkan oleh para budak Negro untuk melarikan diri kabur masuk hutan.

Para Negro inilah yang kemudian berhasil mendirikan semacam suku tersendiri, Bush Negro, Negro hutan atau biasa juga disebut Maroon.

Mereka ini sering membuat keributan. Para penguasa Prancis kelabakan menghadapinya.

Akhimya Belanda yang berhasil menundukkan Bush Negro dan memaksa mereka mengakui pemerintahan kolonial Belanda.

Karena VOC sejak tahun 1791 sudah dibubarkan, maka Suriname langsung di bawah kontrol pemerintah pusat Belanda.

Pemerintah kembali membenahi perkebunan-perkebunan Suriname. Budak-budak pun didatangkan lagi, meski sejak 1608 perdagangan budak dinyatakan terlarang.

Walau kemudian Suriname sempat jatuh ke tangan Inggris, tapi kemudian diserahkan kembali kepada Belanda.

Di bawah undang-undang baru Belanda, Suriname dinyatakan sebagai negara koloni Belanda, sehingga ada yang menyebutnya Guyana Belanda.

Di bawah panji negara koloni Belanda ini juga produksi perkebunan di Suriname meningkat dengan pesatnya.

Sejak awal abad ke-19 produknya selain gula juga mencakup kopi, coklat dan nila.


Sumber : https://nakita.grid.id/ dan https://www.kompas.com/

Asa Orang Jawa Suriname Ambyar di Nagara Asal



Di sudut ruang pamer Erasmus Huis, Jakarta, di mana sekira 60 foto orang Jawa-Suriname dipamerkan dari 20 September-15 November 2014, film pendek berjudul Javaanse Jongen: Its Way of Life diputar berulang-ulang. Soundtrack-nya lagu pop Jawa-Suriname berjudul “Lagu Tentrem”, dinyanyikan Stanlee Rabidin yang juga tokoh sentral film tersebut. Dalam pameran ini juga tersedia belasan buku mengenai Jawa-Suriname yang bisa dibaca pengunjung.

Tahun 2015, genap 125 tahun migrasi orang Jawa ke Suriname, koloni Belanda. Mereka menjadi pekerja kontrak di perkebunan sebagai pengganti budak yang dilarang tahun 1863. Sebelum mereka, pekerja kontrak berasal dari India-Britania, yang banyak ulah dan menuntut upah besar.

Gelombang pertama imigran dari Jawa datang pada 1890. Mereka, berjumlah seratus orang Jawa, ditempatkan di Marienburg, perkebunan tebu terbesar di Suriname. Periode 1890-1916, rerata orang Jawa datang ke Suriname berjumlah 700 orang per tahun. Jumlahnya berlipat pada 1916 setelah pekerja kontrak India-Britania tak lagi dipakai.

Pekerja kontrak dari Jawa meneken kontrak kerja selama lima tahun. Gajinya 60 sen untuk pekerja pria dan 40 sen untuk pekerja perempuan. Setelah kontrak selesai, mereka diizinkan pulang ke Jawa. Jika ingin menetap, mereka diberi uang 100 gulden dan sepetak tanah.

Kehidupan kuli kontrak mengenaskan. Pemerintah tak menyediakan sarana pendidikan. Pemerintah khawatir, jika mereka menjadi pandai, mereka keluar dari perkebunan dan bekerja dikota.

Johannes Coenraad Kielstra, mantan wakil jaksa di Hindia Belanda yang jadi gubernur Suriname (1933-1944), membuat kebijakan baru terhadap pekerja kontrak. Dia ingin membuat Suriname menjadi lebih berasa Asia. Imigran yang datang tidak ditempatkan langsung di perkebunan, melainkan disiapkan desa-desa khusus. Di desa ini, para imigran, termasuk dari Jawa, berhak membuat aturan sipil sendiri dan mengembangkan budaya asli mereka.

Hingga jelang Perang Dunia II, jumlah imigran dari Jawa mencapai 30 ribu orang. Tercatat 7.684 orang kembali ke Jawa ketika perang berakhir.

Gema kemerdekaan Indonesia sampai ke Suriname. Muncul keinginan kembali ke Jawa karena mereka merasa seperti di pengasingan. Namun mereka juga dihadapkan pada masalah kewarganegaraan. Pemerintah Belanda memberi waktu dua tahun kepada orang Jawa untuk memilih kewarganegaraan: warganegara Indonesia atau Belanda.

Situasi politik Suriname pun mendukung hal ini. Partai politik bisa dibentuk berdasarkan etnis. Orang Jawa membentuk dua partai: Persekutuan Bangsa Indonesia Suriname (PBIS) dan Kaum Tani Persatuan Indonesia (KTPI).

KTPI, dipimpin Iding Soemita, memiliki komitmen memperbaiki nasib orang Jawa di Suriname dan menganjurkan anggotanya menjadi warganegara Indonesia. Sementara PBIS, dengan pentolannya, Salikin Hardjo, menganjurkan pendukungnya memilih warganegara Belanda. Ketika Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949, Salikin ditunjuk sebagai wakil masyarakat Jawa di Suriname.

Pendirian Salikin berubah setelah pengakuan kedaulatan. Dia mendirikan Jajasan ke Tanah Air (JTA) pada Mei 1951, yang mendorong orang Jawa Suriname kembali ke Jawa. Dalam waktu singkat dia berhasil menghimpun 2.000 keluarga.

Pemerintah Indonesia menerima permintaan JTA dengan syarat repatriasi tidak ditujukan ke Jawa karena sudah padat. Pemerintah memberi lahan seluas 2.500 hektar di daerah Tongar, sebelah utara Pasaman, Sumatra Barat. Mereka tiba di Tongar dengan kapal Lengkoeas pada 1954 dan mendirikan desa.

Asa membangun kehidupan yang lebih baik di negeri asal, buyar. Mereka menghadapi kesulitan keuangan. Tanah juga sulit diolah. Beberapa dari mereka akhirnya memilih kembali ke “tanah pengasingan”.

“Hanya hutan. Tak ada rumah, tak ada tempat buang hajat. Hanya barak besar yang disediakan. Setiap keluarga diberi jatah 4x4 meter. Tahun 1959, kami pindah ke Padang, sebab keadaan di sana tidak aman. Dan bulan Oktober 1964, kami memutuskan pulang kembali ke Suriname,” ujar Roemdjinah Wagina Soenawi, seperti dikutip Yvette Kopijn dan Harriette Mingoen dalam Stille Passanten: Levensverhalen van Javaans-Surinaamse Ouderen in Nederland.

Karena kesulitan itu, Salikin kena hujat. Orang Jawa di Suriname pun memutuskan tidak pulang ke Indonesia dan memilih menjadi warganegara Belanda.

Sumber : https://historia.id/


Saturday, September 12, 2020

Kebiadaban Komunisme Yang Harus Kita Ketahui

Galeri Pembantaian Rezim Pol Pot Komunis

Sejarah mencatat ideologi ini melakukan pemberontakan/kudeta di 75 negara, negara bagian, pulau, dan kota sepanjang masa 69 tahun (1918-1987); berhasil 28, gagal di 47 tempat. Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme-Hoisme-Aiditisme-PolPotisme ini mendapat kesempatan berkuasa di dunia selama 74 tahun (1917-1991) di 28 negara.


Pemberontakan di 75 negara itu umumnya satu kali saja. Komunis Indonesia pegang rekor dunia: tiga kali berontak dan kudeta, 1926, 1948, dan 1965. Ketiga-tiganya gagal. Pemberontakan terpanjang berlangsung di Malaysia: 40 tahun, dan setiap tahun makan korban dari kedua pihak 200 orang.

Dasar ideologi ini diletakkan oleh dua anak muda, Karl Marx (30) dan Friedrich Engels (28), dalam buku Manifesto Komunis (1848). Tujuan ideologinya, "Merebut kekuasaan dengan kekerasan, menggulingkan seluruh kekuatan sosial yang ada." Tujuan ideologi yang digariskan pada abad 19 itu tetap berlaku, tidak pernah diralat sampai abad 21 ini.

Dalam perebutan kekuasaan dengan kekerasan itu apa pedoman praktisnya? Untuk bisa berhasil (Colegrove: 1957, Schwarz: 1972, Zagladin: 1973, Conquest: 1990, Nihan: 1991) ada 18 butir patokan yang menjadi tuntunan praktis: berdusta, memutar balik fakta, memalsukan dokumen, memfitnah, memeras, menipu, menghasut, menyuap, intimidasi, bersikap keras, membenci, mencaci maki, menyiksa, memerkosa, merusak-menyabot, membumi hangus, membunuh sampai membantai. Aktivis partai mulai dilatih berdusta sampai ahli, akhirnya membunuh dan membantai. Bagi orang komunis berdusta itu bukan dosa.

Ringkasnya, dalam satu kalimat pegangan aktivis partai adalah tujuan menghalalkan cara. Apa saja cara adalah halal, asal tujuan bisa tercapai. Angka 18 di atas belum total mencakup semua cara bisa yang dilakukan aktivis partai. Dalil "tujuan menghalalkan cara" ini dipatuhi aktivis partai, dan sangat memudahkan kerja mereka.

Dengan tujuan begitu jelas dan teknis cara mencapainya terperinci, Marxis-Leninis itu bergeraklah dengan semangat tinggi. Selama kurun 1917-1991 itu Partai Komunis membantai 120 juta manusia di 76 negara sehingga rata-rata 4.500 orang sehari selama 74 tahun (Courtois: 2000, Chang & Halliday: 2006).

Dua jenis sebab kematian itu, pertama, kegagalan program ekonomi yang  menyebabkan rakyat secara massal mati kelaparan (terutama Rusia Soviet dan RRC), dan kedua, pembantaian partai terhadap rakyat antikomunis. Yang dibunuh itu bukan bangsa lain, tapi bangsanya sendiri, yang tidak seideologi.

Dalam sejarah dunia, ideologi yang menjagal jutaan manusia adalah Nazisme. Ideologi Partai Nazi yang dipimpin Adolf Hitler (1934-1945) ini membunuh 11 juta orang, terutama orang Yahudi dari berbagai negara. Kejahatan dahsyat ideologi Nazisme ini ternyata cuma 1/10 kebiadaban ideologi komunisme.

Musnahnya manusia dalam jumlah besar, antara lain, karena penyakit menular. Tapi dalam sejarah dunia tak ada penyakit menular yang pernah membunuh manusia 4.500 orang sehari selama 74 tahun berturut-turut. Kini orang-orang KGB (Komunis Gaya Baru) sebagai penerus PKI yang sudah bubar, dengan dalih hak asasi manusia, gigih mengusung ideologi bangkrut yang lebih ganas ketimbang penyakit menular itu.

Sesudah sekitar 70 tahun komunisme berkuasa di 28 negara, ternyata mereka gagal memenuhi janji memakmurkan rakyat dengan ideologi Marxisme-Leninisme itu. Pemimpin partai, setelah memegang kekuasaan, ternyata lebih korup dan menindas rakyat ketimbang pimpinan negara nonkomunis. Seperti rumah-rumahan kartu domino ditiup kipas angin, negara-negara komunis itu runtuh bergeletakan. Mereka menyatakan meninggalkan ideologi itu.

Puncaknya pada Desember 1991 ketika Presiden Soviet Rusia Boris Yeltsin membubarkan Partai Komunis Soviet Rusia, partai komunis tertua di dunia. Dunia gempar. Diumumkan bahwa mereka tidak lagi memakai ideologi itu sebagai asas negara, yang dinyatakan sebagai ideologi bangkrut. Presiden Boris Yeltsin (dulu ketua partai) telah menyelamatkan 200 juta rakyatnya dari cengkeraman ideologi ganas itu.

RRC, Vietnam, Korea Utara, dan Kuba terguncang. Tapi RRC dan Vietnam licik. Mereka terang-terangan mengkhianati ekonomi sosialis-komunis dan mempraktikkan ekonomi kapitalistik, tapi merek kantornya tetap merek kantor komunis. Kedua negara ini gigih tak malu menyebut diri sebagai negara komunis, walaupun pengkhianat besar dasar ideologinya. Akibatnya, RRC dan Vietnam jadi makmur. Korea Utara dan Kuba tidak berkhianat sehingga tetap sengsara.

Bagaimana Komunis Gaya Baru di Indonesia? Kita 25 tahun lebih cepat bertindak. Muak dengan tiga kali berontak dan kudeta berdarah (1926, 1948, 1965), PKI dibubarkan dan terlarang pada 1966. Dibanding dengan apa yang dilakukan Boris Yeltsin pada 1991, kita 25 tahun lebih sigap bertindak.

Diukur dari cara mendendam, KGB membuat Indonesia jadi bangsa kecil. KGB tahu bahwa Marxisme-Leninisme-Aiditisme sudah bangkrut total, tapi mereka bergerak terus karena ingin membalas dendam. Ini yang mereka latihkan-ajarkan kepada generasi muda yang dikaburkan matanya terhadap fakta sejarah.

Gembar-gembor KGB adalah mereka dizalimi, tiba-tiba dibunuhi pada Oktober-November-Desember 1965 tanpa sebab. Lebih dahulu Aidit (1923-1965) melakukan taktik mengatakan PKI dizalimi dengan "provokasi Hatta" tentang pemberontakan Madiun September 1948. Apa yang dilakukan KGB dan Aidit berbentuk taktik serupa, yaitu dusta sangat besar.

Aidit menghapus/mengaburkan sejarah pembantaian oleh Moeso pada Oktober-November-Desember 1948 di Madiun, Soco, Cigrok, di 24 kota dan desa di sekitar Madiun, dengan sasaran ratusan kiai, santri, pamong praja, dan rakyat non-PKI. Kenapa Moeso menjadi begitu kejam?

Moeso melakukan pembantaian itu meniru Stalin (1925-1953). Moeso melarikan diri ke Rusia selama 21 tahun (1927-1948), sesudah gagal berontak 1927. Apa yang di Rusia diajarkan Stalin kepada Moeso, dipraktikkannya sesudah dia memproklamasikan Republik Soviet di Madiun, 18 September 1948.

Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu algojo PKI menggergaji badannya sampai putus dua, bergelimang darah-usus-daging, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

Dubur warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan berdiri di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Yel-yel PKI di Madiun: "Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati! Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati!"

Meniru PKUS yang di Rusia Soviet menghancurkan gereja dan masjid, PKI membakar dua masjid di kawasan Kembang Kuning, Surabaya (Masjid Rahmat, 1948), dan Masjid Agung Trenggalek (berumur 205 tahun, Maret 1949).

Kebiadaban PKI 1948, kemudian teror 1963-1965 tercatat dalam memori umat non-PKI. Sehingga ketika pembunuhan enam jenderal (Gestapu PKI) yang disusul dengan Kudeta 1 Oktober 1965 Dewan Revolusi pimpinan DN Aidit, perebutan kekuasaan yang gagal dan melarikan diri itu, umat bereaksi keras, didukung TNI AD. Terjadilah masaker itu.

Dalil sejarah yang sangat pahit adalah di mana pun bila Partai Komunis sukses merebut kekuasaan, mereka menjagal rakyat antikomunis. Tapi bila gagal kudeta, merekalah yang dijagal. Di Indonesia, secara pahit, PKI yang dimasaker. Jumlah korban masaker paling banyak 400 ribu orang (Matthew White: 2012). Tapi dalam berbagai publikasi dilebih-lebihkan sampai 1-2 juta korban.

Hal inilah yang dieksploitasi KGB terus-menerus. Rumus yang mereka gunakan adalah tiba-tiba, "ujug-ujug", dizalimi, dibunuhi tanpa sebab. Tentu ini tak masuk akal sehat. PKI yang memulai semua itu, awal sekali pada 1926, kemudian pada 1948 (September-November) dan 1963-1964-1965.

PKI yang memulai rangkaian teror, yang menjadi sebab masaker itu. Gerakan preemtif rakyat anti-PKI disebabkan dan dimulai oleh PKI sendiri. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia disebabkan dan dimulai oleh PKI sendiri. Ini dielakkan dan dengan semangat berdusta besar, bahkan tidak disebut sama sekali.

Sumber : https://republika.co.id/berita/nvfco87/kebiadaban-komunisme