Thursday, November 5, 2020

Apakah Rusia Adalah Negara Komunis? | Pegawai Jalanan

Gereja Katedral St. Basil

Mungkin kita pernah menemukan komentar atau anggapan dari netizen yang mengatakan Rusia adalah negara komunis, sama seperti Korea Utara, China, dan Vietnam? Padahal Rusia bukanlah negara komunis, Rusia adalah negara Liberal sedangkan China dan Vietnam hanya labelnya saja yang Komunis, akan tetapi mereka sudah menghianati Komunisme makanya negaranya menjadi makmur. Satu-satunya negara yang tidak berhianat dengan komunisme adalah Korea Utara, makanya sampai sekarang negara tersebut mengalami kesulitan ekonomi karena tidak mau move on. Kembali ke tema kita kali ini, apakah Rusia itu negara komunis?

Tentu saja, jawabannya bukan. Meski pun gerakan komunis dan sayap kiri masih ada di Rusia, mereka tak lagi menentukan kebijakan negara, alias impoten dan tidak punya gigi lagi alias ompong.

Komunisme sebagai ideologi negara telah mati di Rusia. Ini keputusan mutlak, tak ada tawar-menawar. “Sebuah ideologi tidak bisa dibuat sebagai dasar negara atau kewajiban,” bunyi Pasal 13 Konstitusi Rusia yang disahkan pada 1993. Ini adalah perbedaan yang sangat mencolok dibandingkan dengan Konstitusi Uni Soviet yang menekankan bahwa Partai Komunis Uni Soviet (KPSS) adalah “kekuatan pemimpin dan penuntun rakyat Soviet dan inti dari sistem politiknya.”

Partai Komunis Uni Soviet atau dalam bahasa RusiaКоммунистическая партия Советского СоюзаKommunisticheskaya partiya Sovetskogo Soyuza; disingkat КПСС, KPSS) adalah partai politik yang mendirikan dan pernah menguasai Uni Republik Sosialis Soviet. KPSS merupakan satu-satunya partai yang berkuasa di Uni Soviet hingga tahun 1990 saat Majelis Agung Uni Soviet membatalkan peraturan perundang-undangan yang melegalkan monopoli politik Partai Komunis di Uni Soviet. Partai yang didirikan oleh faksi Bolshevik pimpinan Vladimir Lenin pada tahun 1912 ini tumbuh pesat dan pada tahun 1917 telah berhasil mengambil alih kekuasaan Pemerintahan Sementara Rusia melalui Revolusi Oktober. KPSS dibubarkan pada tanggal 29 Agustus 1991 sebagai akibat dari gagalnya percobaan kudeta sepuluh hari sebelumnya.

KPSS resmi bubar setelah runtuhnya Uni Soviet pada akhir 1991. Boris Yeltsin, presiden pertama Rusia dan sekaligus mantan anggota KPSS, melarang partai yang di hari-hari terakhirnya memiliki 18 juta anggota tersebut beraktivitas. Meski ini merupakan akhir kisah Rusia sebagai negara komunis, yang sudah terpatri sejak 1917, tak berarti komunisme sepenuhnya lenyap di negara ini.

Yesus yang Komunis?

“Kata ‘komunisme’ berarti ‘rakyat’ atau ‘publik’, yaitu ketika kepentingan masyarakat lebih penting daripada kepentingan individu. Komunisme sudah ada sejak zaman dulu, ketika orang-orang berburu secara berkelompok dan membagikan hasil buruan untuk semua kawanan. Jika Anda membaca Khotbah di Bukit (khotbah Yesus yang paling terkenal -red.) dan Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Tesalonika, Anda akan melihat moto dan akhlak komunisme. Komunisme akan bertahan selamanya, lebih lama daripada orang-orang seperti Trump, Amerika, dan kita semua karena inilah jalur utama perkembangan umat manusia.” kata Gennady Zyuganov, pemimpin Partai Komunis Rusia (KPRF), yang didirikan segera setelah pendahulunya, KPSS — yang keberadaannya pernah tak tergoyahkan — menghilang dari tatanan politik negara itu pada 1991.

Zyuganov dan partainya tetap menjadi pendukung utama komunisme di Rusia. Di setiap pemilu legislatif sejak 2003, KPRF telah menjadi tantangan serius bagi partai penguasa, Rusia Bersatu, dan selalu mengekor di urutan kedua dengan mengantongi hasil yang solid. Meski begitu, komunis tak dapat merapatkan barisan mereka. Dalam pemilu legislatif 2016, KPRF hanya memenangkan 13 persen suara (dibandingkan dengan 19 persen suara pada 2011) dan pada pilpres 2018, hanya 11 persen warga Rusia saja yang memilih Pavel Grudinin, calon presiden dari KPRF.

Tak dipungkiri, komunisme dalam bentuk Sovietnya memang masih menjadi daya tarik bagi jutaan orang di seluruh Rusia. Sebagaimana yang diungkapkan Sergey Chibineyev, seorang pemugar seni yang mengumpulkan memorabilia Soviet, dalam sebuah wawancara dengan Radio Liberty, “(Komunisme Soviet) adalah gagasan yang terhormat — (ia) menciptakan masa depan yang lebih baik, menyatukan semua orang tanpa mengindahkan latar belakang suku atau agama mereka.”

Masa Lalu yang Tak Akan Pernah Hilang

Pengalaman Rusia sangat berbeda dengan negara kita Indonesia dengan Komunisme yang sudah dilarang untuk kembali muncul berpolitik. Secara umum, Rusia tidak benar-benar berupaya menyingkirkan masa lalu komunisnya. Misalnya, terdapat 5.400 patung Vladimir Lenin, sang pendiri Uni Soviet, di seluruh negeri. Namun, para ahli politik dan sejarawan, serta masyarakat pada umumnya, yakin bahwa tak peduli serindu apa pun rekan-rekan kompatriot mereka pada Uni Soviet, ide-ide komunisme tak mungkin laku di masa kini.

“Pemimpin-pemimpin kita saat ini tak ingin kembali ke era revolusi, komunisme militer, dan sebagainya,” tulis Dmitry Drize, pengamat politik Kommersant, seraya menambahkan bahwa sisa-sisa masa lalu berupa patung-patung Lenin dan mausoleumnya di Lapangan Merah merupakan upaya pemerintah untuk menenangkan mereka yang belum bisa melupakan era Soviet. Ini sama sekali tak berarti mereka terpikat oleh kebijakan atau paradigma komunis di bidang politik dan ekonomi.

Menyingkap Nostalgia

Ada lelucon tentang Uni Soviet yang berbunyi, “Ketika saya dulu seorang Pionir (gerakan kepanduan di Uni Soviet -red.) saya diberitahu bahwa kehidupan di masa depan akan luar biasa! Sekarang, saya diberitahu bahwa kehidupan benar-benar luar biasa saat saya menjadi seorang Pionir Muda.”

Menurut Sergey Balmasov, seorang analis politik dari Moskow, “Kami senang mengulangi mitos-mitos lama tentang bagaimana sejahteranya kehidupan di bawah kepemimpinan tsar, lalu di bawah Komunis … di masa depan, mereka akan mengatakan hal yang sama tentang Putin. Ini adalah mitos-mitos ‘kehilangan surga’ yang sudah lazim di tengah masyarakat.”

Meski begitu, tak semua orang bernostalgia semacam ini. Jadi, sudah pasti bahwa Rusia tidak akan kembali ke periode komunis. Ilya Venyavkin, seorang sejarawan budaya Soviet pernah berceramah, “Dalam budaya Soviet, masa depan (komunis) ada ‘di sini, saat ini juga’ — bersama dengan kelangkaan barang kebutuhan hidup, represi, dan krisis hunian.”

Cita-cita Soviet tak pernah terwujud karena Venyakin mengingatkan, “Proyek komunis kalah bersaing dengan negara-negara Barat.” Kekecewaan besar terjadi, dan komunisme di Rusia akhirnya ditinggalkan di tong sampah sejarah.

Jadi sudah jelas bukan Rusia bukanlah negara komunis seperti yang beberapa orang kira, Rusia sangat berbeda dengan China bahkan Korea Utara. Rusia Adalah negara terluas didunia yang luas wilayahnya membentang dari Eropa sampai asia, bermacam etnik hidup diwilayah Rusia sehingga keadaanya sangat mirip dengan negara kita yaitu Indonesia, bedanya Rusia mayoritas penduduknya beragama Kristen Ortodox sedangkan Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca yang haus akan informasi dunia.


Editor : Argha Sena

Sumber : 

id.rbth.com

https://id.wikipedia.org/



Sejarah Singkat Partai Komunis Indonesia dari Lahir Sampai Hancur | Pegawai Jalanan

 

Henk Sneevliet

Ideologi komunis mulai masuk ke Indonesia tahun 1914 yang di bawa oleh Hendricus Joshepus Franciscus Marie Sneevliet atau Henk Sneevliet. Pria kelahiran Rotterdam, Belanda adalah seorang komunis Belanda yang aktif. Pada tahun 1911 dia menjadi ketua serikat buruh di Belanda. Sneevliet adalah seorang pemimpin yang radikal dengan ideologi komunisnya. Ketika terjadi pemogokan pelaut internasional pada tahun 1911, beberapa serikat buruh yang radikal ikut serta, tetapi mayoritas serikat buruh tidak sependapat dengannya.  Dia memutuskan untuk meninggalkan Belanda dan berlayar ke Hindia Belanda (Indonesia) pada bulan Februari tahun 1913. Dia bekerja sebagai staff editor Soerabaiaasch Handelsblad lalu pindah ke Semarang pada mei 1913 untuk menggantikan D.M.G. Koch  sebagai sekretaris Semarang Handelsvereeniging (Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1927 : 1997).

Pada tanggal 9 mei 1914, Sneevliet bersama J.A. Brendsteder, H.W. Dekker dan Piet Bersama mengadakan perkumpulan di Marine Gebouw, Surabaya. Sneevliet dan kawan-kawan mendirikan perkumpulan sosialis demokrat Hindia Belanda dengan nama Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). ISDV merupakan sebuah organisasi yang radikal. Sneevliet dan kawan-kawan melakukan propaganda untuk menyebarkan ideologi marxisme/komunis dengan menerbitkan surat kabar pertamanya pada tanggal 10 Oktober 1915. ISDV inilah yang menjadi awal mula ideologi komunis di Indonesia. Awalnya ISDV hanyalah klub debat kaum sosialis Belanda yang kecil. Karena pada awal pendirian organisasi ini hanya berjumlah 85 orang saja. Sneevliet yang berusaha mengembangkan ideologi komunisnya mencari cara agar dapat mempengaruhi bumiputra dengan cara memprotes hukuman terhadap Mas Marko Kartodikromo dan peraturan pers Hindia.(tirto.id)

Awal pertemuan antara Sneevliet dan semaoen terjadi pada tahun 1915. Semaoen adalah seorang pemuda belasan tahun yang namanya cukup terkenal di Semarang.  Pertemuan pertama mereka di Surabaya ketika melakukan pembelaan terhadap Mas Marko Kartodikromo. Dari pertemuan mereka, Semaoen belajar banyak dari Sneevliet, dimana dia bukan hanya belajar membaca, tetapi juga belajar menulis dan berbicara dalam bahasa belanda. Sneevliet yang memiliki kesempatan untuk menanamkan ideologi komunis juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dimana seorang yang besar namanya tentu memiliki pengaruh yang cukup besar pula. Maka dari itu Sneevliet mengajarkan ideologi komunis kepada Semaoen.

Karena perkembangan ISDV tidak terlalu banyak, maka ISDV menjalin hubungan dengan Insulinde. Insulinde merupakan organisasi kelas menengah yang berisi kaum sosialis. Hubungan ini tidak berlangsung lama karena perbedaan pemikiran. ISDV berpendapat bahwa perjuangan melawan penjajah Belanda harus di dukung kaum sosialis karena  sama-sama berjuang melawan sistem kapitalis. Pimpinan Insulinde yang merupakan organisasi kaum sosialis tentu menolak pemikiran tersebut. Pada tahun 1916, di dalam organisasi ISDV mengalami perpecahan, aliran reformis meninggalkan ISDV dan mendirikan Partai Sosial Demokrat Indonesia (ISDP). Setelah kedua organisasi tersebut tidak lagi bersekutu, Sneevliet berhasil masuk ke dalam organisasi Sarekat Islam (SI). Tak berselang lama, Sneevliet menjadi orang yang berpengaruh di dalam SI. pada tahun 1916 Sneevliet mengangkat Semaoen dan Darsono menjadi Pemimpin ISDV. Semaoen yang merangkap jabatan di ISDV dan SI, berhasil mengembangkan keanggotaan SI Semarang yang semula 1.700an orang menjadi 20.000. keberadaan Sneevliet di dalam SI tidak semua orang dapat menerimanya. Salah satunya adalah Abdoel Moeis.  Abdoel Moeis adalah orang yang gigih menentang komunisme.  Bahkan dalam tulisannya yang di muat di dalam surat kabar Neratja (1917), ia menulis bahwa ia (Sneevliet) berbahaya bagi kami dan tanah air. Abdoel Moeis juga meminta bantuan kepada pemerintah Batavia untuk menyingkirkan Sneevliet.

Ketika terjadi revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917, ISDV telah sepenuhnya mulai pada Ideologi komunis. Hal ini disebabkan oleh kemenangan Bolshevik dalam mendirikan Negara komunis. Pada tahun ini ISDV memprovokatori angkatan laut Belanda yang berjumlah 3.000 serdadu untuk ikut dalam demonstrasi menerapkan Negara Komunis. Bentrokan pun tidak dapat di hindari, Namun pemerintah Belanda dapat meredamnya dengan menjanjikan perubahan yang luas. Setelah bentrokan ini reda, pemerintah mengambil tindakan terhadap organisasi ISDV. Pemerintah belanda berhasil menangkap Semaoen dan Darsono, sedangkan Sneevliet di usir dari Hindia Belanda (Indonesia) pada bulan desember 1918. ISDV seakan tak berdaya setelah kejadian tersebut. Sneevliet memang telah pergi dari Hindia Belanda (Indonesia), namun ideologi komunis telah melekat di dalam ingatan Semaoen dan juga Darsono.

Setelah keterpurukan ISDV, pada tanggal 23 mei 1920 Semaoen dan Darsono mengganti nama organisasi tersebut menjadi Partai Komunis di Hindia (PKH). Dalam hal ini, Semaoen masih merangkap jabatan sebagai ketua Sarekat Islam Semarang. Abdoel Moeis yang berusaha membersihkan ideologi Komunis mengadakan Kongres Sarekat Islam menjelang akhir 1920. Dalam kongres tersebut, yang dibahas adalah kedisiplinan partai agar anggotanya tidak merangkap jabatan di organisasi politik lainnya. Hal ini tentu saja membuat anggota yang tergabung dalam organisasi PKH menolak gagasan tersebut. Hingga pada pertengahan februari 1923, Sarekat Islam mengganti namanya menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) serta melakukan pemecatan kepada Semaoen dan kawan-kawan yang tidak sepakat dengan gagasan pendisiplinan tersebut. Akibat diberlakukannya disiplin partai, jumlah anggota SI merosot drastis. Orang-orang yang di pecat dari PSI lalu membentuk organisasi yang bernama Sarekat Rakyat (M. Nasruddin Anshoriy Ch., Bangsa Gagal: Mencari Identitas Kebangsaan , hal 108 : 2008). Hubungan Sarekat Rakyat dan PKH semakin erat karena memiliki ideologi yang sama, maka  pada tahun 1924 secara resmi PKH diganti namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).


Kepemimpinan PKI kala itu telah beralih dari Alimin-Musso kepada Aliarcham dan Sardjono. Hal ini dikarenakan pemimpin yang lebih senior tidak bersedia memimpin PKI. Pada tahun 1924 pemerintah Hindia belanda memperketat pengawasan dan mempersempit aktivitas para tokoh-tokoh partai. Pada akhir Desember 1924 PKI membuat keputusan untuk melakukan pemberentokan dengan cara melakukan pemogokan. Namun rencana PKI dapat dikalahkan dengan mudah, hal ini yang membuat PKI harus bergerak di bawah tanah karena semakin ketatnya pemerintah Belanda mengawasi partai-partai di Indonesia. Pada tahun 1925 Darsono di usir dari Indonesia,Aliarcham di asingkan ke Digul, sedangkan Musso, Alimin dan Tan malaka harus menyingkir ke luar negeri. Para pemimpin PKI yang masih bebas mulai mengadakan rapat membahas tentang keadaan PKI yang mulai terancam. Dalam rapat inilah menjadi awal pemberontakan PKI untuk mendirikan Negara Komunis di Indonesia. Pemberontakan ini akan dimulai pada tanggal 18 Juni 1926.(G30S-PKI.COM)

 Awal pemberontakan PKI tahun 1926 memang tidak tercium oleh pemerintah Belanda, Namun pemerintah Belanda pada bulan Januari mencoba menangkap Musso, Budi Sutjitro dan Sugono. Sebelum berhasil ditangkap, tokoh-tokoh PKI tersebut telah melarikan diri ke Singapura dan berkumpul dengan tokoh PKI lain yang telah lebih dahulu meninggalkan Indonesia. Alimin dan tokoh yang baru datang menyampaikan hasil rapat pada bulan Desember tentang pemberontakan yang akan dilakukan kepada pemerintah Belanda. Namun beberapa tokoh PKI salah satunya Tan Malaka menolak rencana tersebut. Hal ini dikarenakan PKI belum kuat mengakar pada masyarakat Indonesia. Namun gagasan Tan Malaka tidak disetujui oleh Alimin dan Musso. Pada bulan November, pemberontakan terjadi serentak di beberapa daerah seperti Jakarta, Jatinegara, Tangerang, Banten, Bandungdan juga Surakarta. Kemudian terjadi kembali pemberontakan di Sumatra Barat pada awal tahun 1927. Namun karena kurangnya koordinasi, maka pemberontakan ini mengalami kegagalan. Semaoen yang panik dan frustasi merapat kepada Bung Hatta. Akibat pemberontakan PKI ini, banyak warga yang terbunuh oleh pemerintah Belanda yang telah marah besar atas pemberontakan ini. Bahkan warga yang tidak terlibat pun ikut menjadi sasaran kemarahan pemerintah Belanda. Di tahun 1927 inilah pemerintah Belanda menyatakan bahwa PKI adalah organisasi terlarang.

            Setelah kekalahan serta dilarangnya PKI oleh pemerintahan Belanda, PKI hanya bias bergerak di bawah tanah. Hal ini dikarenakan banyaknya pemimpin PKI yang di buang oleh pemerintah Belanda. Pada tahun 1935, Musso yang di asingkan pemerintah Belanda kembali ke Indonesia. Musso kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan kebangkitan PKI kembali. Seperti strategi mereka dulu, Musso menggerakan kader PKI untuk menyusup kedalam organisasi lain. Hingga pada tahun 1948, pemberontakan PKI kembali terjadi. Hal ini dikarenakan perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda yang menghasilkan kesepakatan yang sangat merugikan Indonesia karena dipersempitnya wilayah Indonesia. Karena dampak perjanjian itu adalah di turunkannya Amir Syarifudin dari jabatannya di kabinet dan di gantikan kabinet Hatta. Amir Syarifuddin yang merupakan aktivis PKI meluapkan kekecewaannya dengan cara membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) tanggal 28 juni 1948. FDR berencana melakukan kudeta atas pemerintah dengan cara melakukan aksi terror, propaganda anti pemerintah, pemogokan dan melakukan adu domba antar anggota pejabat militer. FDR dan PKI menginginkan  hancurnya NKRI dan menggantinya dengan ideologi Komunis. Pemberontakan ini terjadi di Madiun  tanggal 18 September 1948. Pemberontakan ini memperparah keadaan bangsa Indonesia di karenakan anggota militer yang sedang menghadapi agresi militer Belanda. Rakyat Indonesia menjadi benci dengan PKI di karenakan anggota PKI yang nekat membunuh para alim ulama dan beberapa tokoh penting. Dalam perang melawan PKI, anggota TNI dan Polri berhasil membunuh Musso yang mendalangi pemberontakan ini. Sedangkan Amir Syarifuddin dan beberapa pejabat lainnya di jatuhi hukuman mati, hukuman yang pantas untuk para penghianat.(sejarahlengkap.com)

            Keberadaan PKI tidak berhenti sampai disini. Setelah vakum dari dunia politik, PKI bangkit dengan wajah baru. Mereka mendukung  kebijakan–kebijakan Presiden Soekarno yang menentang keras kolonialisme. Tampil dengan pemimpin baru, Dipa Nusantara Aidit memimpin dengan semangat membara hingga mendapat simpati rakyat yang cukup besar bahkan sampai ratusan ribu. Namun PKI sempat redup karena aksinya melakukan pemogokan. Namun di tahun 1955 PKI berhasil menduduki urutan keempat dalam pemilu. Hal ini dikarenakan partai-partai besar yang sibuk mencari suara di pusat, sedangkan PKI berhasil mengambil suara dari para rakyat di daerah pelosok. PKI terus menunjukan prestasinya sehingga mendapat kepercayaan rakyat. Pada tahun 1960 PKI merasa di atas angin karena Presiden Soekarno membuat konsep NASAKOM (Nasionalis, Agama , Komunis), Sehingga ideologi Komunis dapat terlembagai. PKI semakin merapat ke Soekarno dan menyusup ke dalam pemerintahan.

Soekarno dan D.N. Aidit

            Pada perkembangannya, PKI menginginkan agar para buruh dan tani di persenjatai. TNI AD merasa curiga dengan keinginan PKI yang takut akan disalahgunakan jika di setujui. Karena ketidakpuasan dengan beberapa kebijakan Soekarno, PKI merencanakan sebuah pengkhianatan. Pada tanggal 30 September 1965 dini hari, PKI di bawah pimpinan D.N Aidit dan Syam Kamaruzzaman melakukan pembunuhan berencana terhadap 7 Jendral yang menjadi Pahlawan Revolusi Indonesia. Aksi pembantaian di lubang buaya menewaskan 6 Jendral TNI AD, dan satu perwira menengah. Seorang Jenderal yang menjadi target penculikan yaitu Jenderal A.H Nasution berhasil selamat dari gerakan tersebut.

            PKI yang melakukan pembantaian di beberapa daerah, membuat citra PKI menjadi semakin Buruk. A.H Nasution yang berhasil lolos dari pembantaian mulai mengatur siasat dan menggerakan Presiden Soeharto dari balik layar. Soeharto dengan memimpin TNI AD mengambil tindakan tegas dengan menghancurkan organisasi PKI karena dinilai berbahaya bagi Indonesia. Setelah perjuangan panjang dan mendapat kemenangan melawan PKI, Presiden Soeharto melakukan pembersihan PKI sampai ke akar-akarnya pada tahun 1966. Untuk mencegah munculnya kembali ideologi Komunis, pemerintah mengeluarkan tap MPRS Nomor 25 tahun 1966 tentang pembubaran PKI yang terus berlaku hingga saat ini. Selain mengeluarkan tap MPRS Nomor 25 tahun 1966, pelaku penyebaran ideologi Komunis dapat ditindak  dengan dasar Undang-Undang Nomor 27 tahun 1966 tentang perubahan pasal 107 KUHP.(netralnews.com)

         Itulah sejarah singkat lahir dan berkembangnya Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai kehancurannya. Sejarah tentang penghinatan PKI dan pemberontakan PKI sekarang sudah tidak kita temui di bangku sekolah karena sudah dihapuskan. Maka dalam artikel ini kami sengaja mengingatkan kepada generasi muda bahwa sejarah ini harus dan wajib diketahui, agar kita faham kisah masa lalu kita dan menjadi pelajaran berharga dimasa-masa yang akan datang.

Penulis : Risky Arisandi

Editor   : Argha Sena

Sumber : 

tirto.id

G30S-PKI.COM

sejarahlengkap.com

netralnews.com


Monday, November 2, 2020

Menanti Satria Piningit ke-7 Versi Ramalan Ronggowarsito | Pegawai Jalanan



Ronggowarsito, sosok pujangga Indonesia yang lahir di tanah jawa pada Senin Legi, 15 Maret 1802. Salah satu karya besarnya bernama Serat Kalatidha.  

Bakat menulis Ronggowarsito diperoleh dari Raden Tumenggung Sujanaputra, yang juga terkenal dengan sebutan Pangeran Karanggayam, pujangga Kraton Pajang, yang pernah mengarang kitab bernama Nitisruti.

Selain itu kegemaran membaca Ronggowarsito diperoleh dari R.T. Sastranagara, kakeknya yang juga seorang pujangga kraton Surakarta.

Semasa hidupnya dari 1826 hingga 1873, Ronggowarsito telah berhasil menulis 60 judul buku dengan beragam bahasa. Kebanyakan tulisannya berisi tentang falsafah, kebatinan, lakon-lakon wayang, cerita Panji, Dongeng, babad, sastra, bahasa, kesusilaan, adat istiadat, pendidikan, primbon, ramalan, dan sebagainya.

Dalam Ramalannya Ronggowarsito menceritakan tentang bakal datangnya 7 Satria Piningit yang akan muncul sebagai tokoh di kemudian hari dan memimpin sebuah wilayah seluas “bekas” kerajaan Majapahit. Ketujuh satria yang dimaksud oleh Ronggowarsito tersebut masing-masing bernama: Satria Kinunjara Murwa Kuncara, Satria Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar, Satria Jinumput Sumela Atur, Satria Lelana Tapa Ngrame, Satria Piningit Hamong Tuwuh, Satria Boyong Pambukaning Gapura, dan Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu.

Dari ketujuh Satria yang digambarkan oleh Ranggawarsita itu beberapa kalangan lalu menafsirkannya sebagai berikut:

1. SATRIA KINUNJARA MURWA KUNCARA

  • Tokoh pertama ini digambarkan oleh Ronggowarsito adalah sosok pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjara), pemimpin ini kelak akan membebaskan negeri ini dari belenggu keterpenjaraan (penjajah) dan tokoh ini menjadi sangat terkenal sebagai sosok pemimpin yang tersohor di seluruh jagad (Murwa Kuncara). Banyak tokoh menafsirkan bahwa sosok yang dimaksud oleh Ronggowarsito ini adalah Presiden Soekarno. Berkuasa dari 18 Agustus 1945 – 12 Maret 1967.

2. SATRIA MUKTI WIBAWA KESANDHUNG KESAMPAR

  • Tokoh kedua adalah seorang pemimpin yang dikisahkan memiliki harta yang berlimpah (Mukti), disamping itu, sosok pemimpin ini juga memiliki wibawa yang besar/ditakuti (Wibawa). Namun sosok pemimpin ini akan mengalami keadaan yang selalu dipersalahkan, serba dikaitkan dengan segala hal buruk/kesalahan (Kesandhung Kesampar).  Banyak orang lalu menafsirkan tokoh tersebut adalah Presiden Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua, pemimpin Orde Baru. Berkuasa dari 12 Maret 1967 – 21 Mei 1998.

3. SATRIA JINUMPUT SUMELA ATUR

  • Tokoh ketiga yang digambarkan oleh Ronggowarsito adalah seorang pemimpin yang diangkat/terpungut keadaan (Jinumput). Jadi sosok ini diangkat jadi pemimpin karena situasi pada saat itu. Namun masa kepemimpinan tokoh ini hanya sebentar, sekadar penyambung di masa jeda atau transisi atau sekadar menyelingi saja (Sumela Atur). Banyak orang pun menafsirkan tokoh yang dimaksud adalah Presiden B.J. HABIBIE. Presiden Indonesia ketiga. Berkuasa dari 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999.

4. SATRIA LELONO TAPA NGRAME

  • Satria Piningit keempat digambarkan sebagai sosok yang suka mengembara / keliling dunia (Lelana). Tokoh keempat ini juga digambarkan memiliki tingkat kejiwaan yang cukup Religius / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh ini oleh banyak orang ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia keempat. Berkuasa tahun 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001.

5. SATRIA PININGIT HAMONG TUWUH

  • Tokoh kelima ini muncul dengan membawa kharisma keturunan dari orang tuanya (Hamong Tuwuh). Dan tokoh ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri. Menjadi Presiden Republik Indonesia dari 23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004.

6. SATRIA BOYONG PAMBUKANING GAPURA 

  • Tokoh keenam ini digambarkan sebagai seseorang yang menempati puncak Kepemimpinannya melalui tahapan berjenjang (Boyong), berpindah tempat (sebelumnya pernah menjabat). Untuk itu, tokoh keenam ini dapat ditafsirkan sebagai mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo. Soesilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai presiden setelah “Boyong” (pindah tempat) dari seorang menteri lalu menjadi Presiden. Dan Presiden Joko Widodo “Boyong” dari Walikota, Gubernur, lalu Presiden. Tokoh keenam ini akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan spiritualis sejati seorang satria piningit, yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berkuasa dari 20 Oktober 2004 – 20 Oktober 2014 dan Presiden Joko Widodo menjadi Presiden Indonesia dari 20 Oktober 2014 – sekarang.

7. SATRIA PINANDHITA SINISIHAN WAHYU 

  • Tokoh ketujuh digambarkan oleh Ronggowarsito sebagai sosok pemimpin yang sangat Religius. Sampai-sampai digambarkan seperti seorang Resi Begawan (Pinandhito) dan tindakannya selalu berdasar pada hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Mungkinkah setelah presiden Joko Widodo muncul Satri Pinandhita Sinisihan Wahyu? Yang bakal membawa Indonesia menjadi negara yang “Gemah Ripah Loh Jinawi”. Siapa Satria Piningit dimaksud? kita tunggu saja kehadirannya.

Demikian gambaran 7 sosok pemimpin Indonesia yang banyak orang mengatakan masuk dalam enam kriteria Ramalan Ronggowarsito 2 abad lalu. Untuk kriteria Satria Piningit ke-7, sosok tersebut belum hadir di tengah kita. Entah benar atau tidaknya ramalan itu, setidaknya Ramalan Ronggowarsito ini telah memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia. 

Sumber: suaramerdeka.com