Friday, May 31, 2019

Sejarah Asal-Usul Suku Jawa Menurut Beberapa Sumber Pendapat | Pegawai Jalanan

Sebagai orang Indonesia, khususnya orang Jawa, atau suku Jawa, harus tahu tentang asal asal usul orang Jawa atau suku Jawa ini. 
Kita tahu, suku Jawa adalah suku bangsa terbesar yang ada di Indonesia dengan jumlah sekitar 120 juta jiwa atau sekitar 45% populasi manusia di Nusantara. Bukan hanya tinggal di pulau Jawa, orang-orang dari suku ini juga menyebar ke seluruh pelosok negeri ini, terutama setelah dilakukannya program transmigrasi oleh pemerintahan Orde Baru pada 4 dasawarsa silam.

Orang Jawa itu telah menyebar ke seluruh nusantara, bahkan dunia. Namun tak banyak orang tahu tentang bagaimana sejarah dan asal usul orang Jawa hingga bisa tinggal dan menetap di pulau yang sekarang disebut  pulau Jawa itu.
Apakah memang nenek moyang suku Jawa adalah asli penduduk pribumi di sana? Ataukah mereka berasal dari belahan bumi lain yang datang dan menjadi pendatang? Untuk lebih jelasnya berikut ini ada beberapa teori yang menjelaskan tentang bagaimana sebetulnya asal usul suku Jawa di Indonesia.
Menurut Babat Tanah Jawa

Sejarah Masyarakat jawa menurut Babad Tanah Jawa yaitu berasal dari kerajaan Kling. Pada masa itu kerajaan Kling sedang berada dalam situasi yang kacau akibat dari perebutan kekuasaan. Kemudian salah satu pangeran Kling yang tersisih pergi meninggalkan kerajaan tersebut bersama dengan para pengikutnya yang setia. Pangeran Kling mengembara hingga ia menemukan sebuah pulau terpencil yang belum berpenghuni. Mereka bahu-membahu membangun pemukiman, dan akhirnya mereka juga mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Javacekwara. Keturunan pangeran inilah yang dianggap sebagai  nenek moyang suku jawa menurut Babad Tanah Jawa.

Menurut Arkeolog
Menurut ahli arkeologi asal-usul penduduk jawa tak terlepas dari asal-usul orang Indonesia itu sendiri. Para arkeolog yakin bahwa nenek moyang suku jawa berasal dari penduduk pribumi. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus dan juga Homo Erectus. Eugene Dubois yang merupakan seorang ahli anatomi yang berasal dari Belanda menemukan sebuah fosil Homo erectus. Penemuan tersebut bertempat di Trinil pada tahun 1891. Fosil Homo erectus tersebut lebih dikenal dengan sebutan manusia Jawa.

Kemudian dilakukan perbandingan antara DNA pada fosil manusia kuno tersebut dengan suku jawa pada masa kini. Hasil yang didapat cukup menarik, bahwa DNA tersebut tidak memiliki perbedaan yang jauh satu sama lain. Hal tersebut akhirnya dipercayai oleh beberapa ahli arkeologi sebagai teori asal-usul keberadaan suku jawa.
Menurut Sejarawan
Berbeda dengan pendapat para arkeolog, para sejarawan justru meyakini jika asal usul orang Jawa atau  suku Jawa berasal dari orang-orang Yunan, China masa lampau yang melakukan pengembaraan ke seluruh wilayah nusantara.
Pendapat ini sangat terkait erat dengan teori asal usul nenek moyang bangsa Indonesia dan memiliki cukup banyak bukti kuat. 
Para sejarawan memiliki pendapat berbeda mengenai asal-usul suku jawa. Von Hein Geldern menyebutkan bahwa telah terjadi migrasi penduduk dari daerah Tiongkok bagian selatan atau yang biasa disebut Yunan di kepulauan Nusantara. Migrasi ini terjadi dimulai dari jaman neolitikum 2000 SM sampai jaman perunggu 500 SM secara besar-besaran dan bertahap menggunakan perahu cadik.
Menurut Dr.H.Kern yang mengungkapkan penelitiannya pada tahun 1899, menyebutkan bahwa bahasa daerah di Indonesia mirip satu sama lain. Kemudian ia menarik kesimpulan jika bahasa tersebut berasal dari akar rumpun yang sama yaitu rumpun Austronesia. Hal inilah yang menguatkan Geldern tentang teorinya mengenai asal-usul suku jawa dan bangsa Indonesia.
Menurut Tulisan Kuno India
Ada sebuah tulisan kuno yang berasal dari India menyebut jika beberapa pulau di Nusantara termasuk juga Nusa Kendang –sebutan pulau Jawapada zaman itu adalah tanah yang menyatu dengan daratan Asia dan Australia. Pulau Jawa dan beberapa pulau lainnya kemudian terpisah oleh meningkatnya permukaan air laut dalam jangka waktu yang lama.
Adapun dalam tulisan tersebut disebutkan pula bahwa seorang pengembara bernama Aji Saka adalah orang yang pertama kali menginjakan kaki di daratan Jawa ini. Ia menetap di sana bersama beberapa orang pengawalnya dan menjadikan mereka sebagai nenek moyang orang dari suku Jawa.
Menurut Babad Jawa Kuno Asal usul nenek moyang suku Jawa juga disebutkan dalam Babad Kuno tanah Jawa. Dalam babad ini diceritakan bahwa seorang pangeran dari kerajaan Kling bersama para pengikutnya yang tersisih akibat perebutan kekuasaan membuka lahan baru di sebuah pulau terpencil dan masih belum berpenghuni.
Mereka hidup menetap dan berkoloni membentuk sebuah kerajaan baru di sana dan membangun peradabannya sendiri. Kerajaan tersebut pada masa selanjutnya dikenal dengan nama Javaceckwara.
Menurut Surat Kuno Keraton Malang
Sejarah tentang asal usul suku Jawa juga ditemukan dalam sebuah surat kuno dari keraton Malang. Dalam surat itu disebutkan bahwa asal usul orang Jawa dimulai ketika Raja Rum – Raja dari kesultanan Turki pada 450 tahun SM mengirim rakyatnya untuk membuka lahan di pulau kekuasaannya yang masih belum berpenghuni.

Para rakyat yang dikirim terbagi menjadi beberapa gelombang ini merasa sangat senang karena menemukan pulau yang sangat subur. Tanaman mudah hidup dan bahan pangan mudah ditemukan. Salah satu tanaman yang banyak tumbuh liar di pulau ini adalah tanaman Jawi.
Oleh orang-orang yang datang, nama tanaman ini kemudian dijadikan nama pulau tersebut, Pulau Jawi. Nah, itulah beberapa teori tentang asal usul suku Jawa di Indonesia dan perkembangannya. Teori mana yang lebih Anda yakini? Entahlah, sayapun tak tahu pasti. Semoga bermanfaat. 
Perkembangan Suku Jawa
Perkembangan suku Jawa mulai menjadi signifikan ketika Kertanegara memerintah Kerajaan Singasari pada akhir abad ke-13. Raja yang senang memperluas wilayahnya ini melakukan beberapa ekspedisi besar seperti misalnya ke Madura, Bali, Kalimantan, dan yang paling penting adalah ke pulau Sumatra.
Akhirnya, Singasari berhasil menguasai perdagangan di selat Malaka menyusul kekalahan kerajaan Melayu. Dominasi kerajaan Singasari berhenti di tahun 1292 ketika terjadi pemberontakan oleh Jayakatwang yang berhasil mengakhiri hidup Kertanegara, dan Jayakatwang kembali dibunuh oleh Raden Wijaya yang merupakan anak dari Kertanegara. Nantinya, Raden Wijaya akan mendirikan Majapahit, salah satu kerajaan yang terbesar di Nusantara pada masa itu.
Ketika Majapahit mengalami banyak permasalahan tentang siapa yang menjadi penerus, beberapa perang sipil terjadi dan membuat Majapahit kehilangan kekuatan mereka sendiri. Ketika Majapahit mulai runtuh, pulau Jawa juga mulai berubah dengan berkembangnya Islam.
Keruntuhan Majapahit ini menjadi momentum bagi kesultanan Demak untuk menjadi kerajaan yang paling kuat. Kesultanan Demak ini nantinya juga memainkan peranan penting dalam menghalau kekuatan kolonial Portugis yang datang.
Kesultanan Demak kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Pajang dan Kesultanan Mataram, dan perubahan ini juga memaksa pusat kekuatan berpindah dari awalnya ada di pesisir Demak menuju Pajang di Blora, dan akhirnya pindah lagi ke Mataram tepatnya di Kotagede yang ada di dekat Yogyakarta sekarang ini.
Selain penyebaran suku Jawa melalui perluasan kerajaan, juga melalui penyebaran agama Islam. Selain di dalam negeri, suku Jawa juga muncul di semenanjung Malaya sejak lama mengikuti perkembangan Islam.
Hubungan antara Malaka dan Jawa sendiri merupakan sebuah hal penting yang berperan besar dalam berkembangnya Islam di Indonesia karena banyak misionaris Islam yang dikirim dari Malaka ke beberapa daerah perdagangan di pantai utara Jawa. Migrasi-migrasi ini memperluas ruang lingkup yang harus ditelaah ketika para sejarawan menyelidiki jejak asal usul suku Jawa dalam sejarah.
TONTON VIDEONYA DISINI


Sumber :
1). https://www.netralnews.com/news/singkapsejarah/read/94196/anda-perlu-tahu-ini-dari-mana-asal-usul-orang-jawa
2).   https://www.romadecade.org/suku-jawa/#!

Sunday, May 19, 2019

5 Alasan Kenapa Banyak Masyarakat Aceh Kurang Suka Dengan Orang Jawa | Pegawai Jalanan

Adalah fakta kalau ada yang bilang orang Jawa gampang diterima di mana pun mereka berada. Bukti nyatanya adalah eksistensi mereka yang ‘meng-Indonesia’. Adat kebiasaan yang sopan, perangai yang halus, serta etos kerja yang tinggi membuat masyarakat Jawa gampang membaur dan akhirnya menjadi satu dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Namun, pada kenyataannya, sebenarnya orang Jawa tidak mutlak disukai oleh semua orang di Indonesia. Aceh, adalah salah satu daerah yang bisa dibilang kurang bisa menerima orang Jawa. Sama seperti selentingan yang bilang wanita Sunda terlarang untuk menikahi orang Jawa, ada pula yang bilang kalau orang Aceh tidak menyukai orang-orang Jawa dari dulu.
video ini dibuat bukan untuk bermaksud menebarkan kebencian akan tetapi sebaliknya, bisa menjadi alat untuk intropeksi diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Ternyata ketika kita telusuri, ternyata hal tersebut ada penyebabnya. Padahal pada awalnya orang Aceh nyatanya sangat menyayangi Indonesia, Jawa pada khususnya. Namun, ada beberapa kejadian di masa lalu yang mengubah keadaan ini. Lalu apa yang membuat orang Aceh jadi tidak menyukai orang Jawa? Berikut ulasannya.

1. Belanda dan Orang Jawa Menyerang Aceh

Indonesia boleh terjajah, tapi tidak dengan Aceh. Provinsi satu ini bisa dibilang sebagai satu-satunya daerah di Nusantara yang tak pernah mengalami invasi, baik oleh Belanda atau Jepang. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada upaya penjajahan di tanah Aceh. Hal ini pernah dilakukan oleh Belanda di sekitar tahun 1873 sampai 1904.


Pada perang ini Aceh mungkin menyerah, namun Belanda sama sekali tidak berkuasa atas tanahnya. Perlawanan terhadap invasi Belanda terus dilakukan hingga negara ini hengkang ditendang Jepang pada sekitar tahun 1942. Lalu, alasan kenapa orang-orang Aceh benci Jawa adalah fakta kalau pasukan Belanda yang dibawa untuk menyerang Aceh berasal dari KNIL. KNIL sendiri terdiri dari orang-orang Indonesia, dan sebagian besar adalah orang Jawa.

2. Janji Kepada Rakyat Aceh yang Diingkari


Aceh bukanlah daerah yang terjajah, secara logika mereka sebenarnya dulu bisa berdiri sebagai negara sendiri. Tapi, tidak, rakyat Aceh justru memberikan dukungan penuh kepada Indonesia dan kemudian bergabung pula menjadi satu kesatuan. Selain tekad persatuan, latar belakang kenapa rakyat Aceh setuju untuk mendukung Indonesia adalah janji presiden pertama kepada para tokoh penting Aceh di masa lalu.

Presiden mempersilakan kepada Aceh untuk mengatur daerah mereka sendiri dengan sistem hukum memakai syariat Islam. Asal, rakyat Aceh yang dikenal garang ketika berperang itu mau membantu perjuangan kemerdekaan. Percakapan antara presiden pertama dan para tokoh Aceh ketika itu sangatlah dramatis. Sayangnya, ketika Indonesia benar-benar merdeka, janji tersebut seolah tidak pernah diberikan. Bahkan di tahun 1951 Provinsi Aceh dibubarkan dan kemudian disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara. Kebetulan sekali presiden pertama adalah orang Jawa, ini juga memengaruhi ketidaksukaan orang-orang Aceh kepada masyarakat Jawa.

3. Aceh Pernah Berjasa Besar Bagi Bangsa

Salah satu alasan kenapa eksistensi kemerdekaan bisa terjaga adalah karena andil rakyat Aceh. Ya, mereka pernah patungan agar perjuangan Indonesia bisa terus digulirkan. Bahkan hanya dari mengumpulkan emas-emas orang-orang Aceh, Indonesia akhirnya punya pesawat pertamanya.

Aceh ibarat lumbung emasnya Indonesia di kala negara masih sangat sulit. Namun, lagi-lagi Aceh sepertinya diperlakukan dengan tidak patut. Misalnya ya janji tadi yang tak pernah terealisasi. Hal tersebut sepertinya menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi orang-orang Aceh, dan atas alasan ini pula timbul rasa ketidaksukaan kepada pemerintah, khususnya orang-orang Jawa yang mayoritas adalah pembesar negara.

4. Kisah Daud Beureueh yang Mengenaskan


Daud Beureueh adalah tokoh penting dalam perjalanan sejarah Aceh. Beliau adalah seorang ulama besar sekaligus pejuang hebat yang tekadnya begitu kuat. Eksistensinya tak hanya bikin bangga orang Aceh, tapi juga masyarakat Indonesia. Karena lewat dirinya lah, rakyat Aceh tanpa perlu bertanya-tanya, langsung membantu Indonesia.

Sangat disegani sebagai tokoh pembesar, namun di akhir hidupnya, Daud Beureueh mengalami banyak kenahasan. Pertama adalah dilumpuhkannya ia ketika berupaya mendirikan Negara Islam Indonesia sebagai bentuk protes terhadap janji presiden pertama yang tidak terealisasi. Bagai seperti tidak ingat masa lalu, Daud Beureueh diperlakukan seperti orang biasa yang tidak punya andil apa-apa. Peristiwa ini juga sedikit banyak membuat rakyat Aceh merasa jengah.

5. Aceh Dijadikan DOM

Lepas masa pemerintahan presiden pertama, Indonesia kemudian dipimpin oleh Soeharto. Presiden kedua ini juga dianggap sebagai biang kebencian rakyat Aceh kepada orang Jawa. Pasalnya, Soeharto pernah menjadikan tanah Serambi Mekkah ini sebagai DOM alias Daerah Operasi Militer.

DOM sendiri dilakukan sebagai aksi munculnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Aceh. Soeharto pun bertindak represif dengan mengirimkan tentara dalam jumlah yang lumayan besar. Konflik ini berlangsung cukup lama mulai dari tahun 90an dan berakhir di 1998. Korbannya sendiri berkisar sampai ribuan orang dan umumnya justru warga sipil. Kemudian pada masa kepemimpinan Megawati Suarno Putri DOM kembali di berlakukan pada tahun 2003, Selama kurang lebih 6 bulanan.  Sebanyak 30.000 tentara dan 12.000 polisi dikirim untuk melawan sekitar 5.000 tentara GAM. Inilah operasi militer terbesar oleh pemerintah Indonesia sesudah reformasi. Hingga kini, sepanjang era reformasi, belum ada operasi militer yang lebih besar dari itu. 
Belajar dari sejarah adalah hal yang sangat penting bagi kita dan generasi berikutnya. Belajar dari kesalahan orang terdahulu akan membuat kita lebih baik di masa yang akan datang. Antara Aceh dan Jawa, meskipun dulu mungkin sempat bersitegang lantaran kejadian sejarah yang sensitif, kini sepertinya sudah tidak ada lagi. Karena sekarang rakyat Aceh sudah sadar bahwa persatuan itu adalah modal utama dalam membangun Aceh, dan sekarang Aceh juga sudah memiliki hak yang sangat istimewa dalam mengatur rumah tangganya sendiri. Sedangkan dalam hal lainnya antar Aceh dan Jawa sama-sama beragama mayoritas Islam, sehingga jika berperang sesama saudara muslimnya sendiri itu adalah sesuatu yang sangat tidak dibenarkan dalam agama. Mudah-mudahan kejadian masa lalu seperti ini tidak terjadi lagi agar bangsa Indonesia bisa benar-benar menjadi satu negara yang solid.

TONTON VIDEONYA DISINI

Penyunting : Admin PJ
Sumber : https://www.boombastis.com/aceh-kurang-suka-jawa/61288

Pemutarbalikan Fakta Sejarah Pembantaian Para Ulama oleh PKI | Pegawai Jalanan

Sejarah perlu dipahami secara utuh dan berkesinambungan. Pemahaman sejarah yang hanya dengan membaca potongan-potongan fragmen, sementara sebagian fragmen telah dipenggal dan ditutup-tutupi, akan melahirkan pemahaman menyimpang. Tidak hanya itu, bahkan bisa memutarbalikkan fakta dalam peristiwa. Hal itu terjadi di tengah bangsa ini dalam memahami sejarah pemberontakan PKI.

Jangan bilang PKI tidak bersalah. Peristiwa Madiun 1948 itu ulah biadab  PKI. Dan betapa pahitnya omongan Aidit yang bilang ulama itu tanpa kerjaan, kitabnya yang banyak, yang bisa buat bendung kali Ciliwung tidak berguna, Indonesia tak butuh ulama.
Dalam pandangan sejarah kontemporer yang tidak benar, PKI hanya dianggap membuat maneuver hanya tahun 1965. Itu pun juga tidak sepenuhnya diakui, sebab peristiwa berdarah  itu dianggap hanya manuver TNI Angkatan Darat. Kemudian dibuat kesimpulan bahwa PKI tidak pernah melakukan petualangan politik. Mereka dianggap sebagai korban konspirasi dari TNI AD dan ormas Islam anti PKI seperti NU dll.
Pemberontakan PKI pertama kali dilakukan tahun 1926, kemudian dilanjutkan dengan Pemberontakan Madiun 1948 dan dilanjutkan kembali pada tahun 1965 adalah suatu kesatuan sejarah yang saling terkait. Para pelakunya saling berhubungan. Tujuan utamanya adalah bagaimana mengkomuniskan Indonesia dengan mengorbankan para ulama dan aparat negara.
Pemberontakan Madiun 1948  yang dilakukan PKI beserta Pesindo dan organ kiri lainnya menelan ribuan korban baik dari kalangan santri, para ulama, pemimpin tarekat, yang dibantai secara keji. Selain itu berbagai aset mereka seperti masjid, pesantren dan madrasah dibakar. Demikian juga kalangan aparat negara baik para birokrat, aparat keamanan, poliisi dan TNI banyak yang mereka bantai saat mereka menguasai Madiun dan sektarnya yang meliputi kawasan startegis Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Anehnya, PKI menuduh pembantaian yang mereka lakukan itu hanya sebagai manuver Hatta. Padahal jelas-jelas Bung Karno Sendiri yang berkuasa saat itu bersama Hatta mengatakan pada Rakyat bahwa Pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin Muso dan Amir Syarifuddin itu sebuah kudeta untuk menikam republik dari Belakang, karena itu harus dihancurkan. Korban yang begitu besar itu ditutupi oleh PKI, karena itu tidak lama akemudian Aidit menerbitkan buku Putih yang memutarbalikkan Fakta pembantaian Madiun itu. Para penulis sejarah termakan oleh manipulasi Aidit itu. Tetapi rakyat, para ulama dan santri sebagai korban tetap mencatat dalam sejarahnya sendiri.

Karena peristiwa itu dilupakan maka PKI melakukan agitasi dan propaganda intensif sejak dimulainya kampanye Pemilu 1955, sehingga suasana politik tidak hanya panas, tetapi penuh dengan ketegangan dan konflik. Berbagai aksi teror dilakukan PKI. Para kiai dianggap sebagai salah satu dari setan desa yang harus dibabat. Kehidupan kiai dan kaum santri sangat terteror, sehingga mereka selalu berjaga dari serangan PKI.
Fitnah, penghinaan serta pembunuhan dilakukan PKI di berbagai tempat, sehingga terjadi konflik sosial yang bersifat horisontal antara pengikut PKI dan kelompok Islam terutama NU. Serang menyerang terjadi di berbagai tempat ibadah, pengrusakan pesantren dan masjid dilakukan termasuk perampasan tanah para kiai. Bahkan pembunuhan pun dilakukan. Saat itu NU melakukan siaga penuh yang kemudian dibantu oleh GP Ansor dengan Banser sebagai pasukan khusus yang melindungi mereka. Lagi-lagi Kekejaman yang dilakukan PKI terhadap santri dan kiai dan kalangan TNI itu dianggap hanya manuver TNI AD.
Sejarah dibalik. Yang selama ini PKI bertindak sebagai pelaku kekejaman, diubah menjadi pihak yang menjadi korban kekejaman para ulama dan TNI. Lalu mereka membuat berbagai maneuver melalui amnesti internasional dan mahkamah internasional, termasuk Komnas HAM. Karena mereka pada umumnya tidak tahu sejarah, maka dengan mudah mempercayai pemalsuan sejarah seperti itu. Akhirnya kalangan TNI, pemerintah dan NU yang membela diri dan membela agama serta membela ideologi negara itu dipaksa minta maaf, karena dianggap melakukan kekejaman pada PKI.


PKI telah menciptakan suasana  sedemikian tegang ,sehingga sampai pada situasi to kill or to be killed (membunuh atau dibunuh), dalam sebuah  perang saudara. Oleh karena itu kalau diperlukan perdamaian maka keduanya bisa saling member maaf, bukan permintaan maaf sepihak sebagaimana mereka tuntut, karena justeru kesalahan ada pada mereka dengan melakukan agitasi serta teror bahkan pembantaian.
Pemahaman sejarah yang menyimpang ini harus diluruskan karena telah menyebar luas. Bahkan tidak sedikit kader NU yang berpandangan demikian, karena itu harus diluruskan, karena ini menyangkut peran politik NU ke depan.
Demi membangun Indonesia ke depan yang utuh dan tanpa diskriminasi NU bersedia memaafkan PKI sejauh mereka minta maaf. NU boleh memaafkan PKI tetapi sama sekali tidak boleh melupakan semua petualangan PKI, agar tidak terjerumus dalam lubang sejarah untuk ketiga kali. Dengan demikian bisa bersikap proporsional, bersahabat, bekerjasama dengan semua pihak, namun tetap menjaga keberadaan agama, keutuhan wilayah, komitmen ideologi serta keamanan negara.

SUMUR TUA SAKSI BISU KEKEJAMAN PKI


Salah seorang korban PKI di sumur tua Cigrok adalah KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali…
Di antara kegemaran PKI yang terkenal adalah membantai para korbannya di sumur tua, kemudian ditimbun dengan tanah. Di sejumlah tempat di Magetan dan Madiun, terdapat beberapa sumur-sumur tua yang menjadi tempat pembantaian.
Sumur Tua Desa Soco
Soco adalah sebuah desa kecil yang terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan lapangan udara Iswahyudi. Desa Soco termasuk dalam wilayah Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Dalam peristiwa berdarah pemberotakan PKI tahun 1948, Soco memiliki sejarah tersendiri.
Di desa inilah terdapat sebuah sumur tua yang dijadikan tempat pembantaian oleh PKI. Ratusan korban pembunuhan keji yang dilakukan PKI ditimbun jadi satu di lubang sumur yang tak lebih dari satu meter persegi itu.
Letak Soco yang strategis dan dekat dengan lapangan udara dan dipenuhi tegalan yang banyak sumurnya, menjadikan kawasan itu layak dijadikan tempat pembantaian. Apalagi desa ini juga dilewati rel kereta lori pengangkut tebu ke Pabrik Gula Glodok, Pabrik Gula Kanigoro dan juga Pabrik Gula Gorang-gareng. Gerbong kereta lori dari Pabrik Gula Gorang-gareng itulah yang dijadikan kendaraan mengangkut para tawanan untuk dibantai di sumur tua di tengah tegalan Desa Soco.
Di sumur tua desa Soco ditemukan tak kurang dari 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 orang diantaranya dapat dikenali, sementara sisanya tidak dikenal. Sumur-sumur tua yang tak terpakai di desa Soco memang dirancang oleh PKI sebagai tempat pembantaian massal sebelum melakukan pemberontakan.
Beberapa nama korban yang menjadi korban pembantaian di Desa Soco adalah Bupati Magetan Sudibjo, Jaksa R Moerti, Muhammad Suhud (ayah mantan Ketua DPR/MPR, Kharis Suhud), Kapten Sumarno dan beberapa pejabat pemerintah serta tokoh masyarakat setempat termasuk KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Pondok Pesantren ath-Thohirin Mojopurno, Magetan.
Di Soco sendiri terdapat dua buah lubang utama yang dijadikan tempat pembantaian. Kedua sumur tua itu terletak tidak jauh dari rel kereta lori pengangkut tebu. Para tawanan yang disekap di Pabrik Gula Rejosari diangkut secara bergiliran untuk dibantai di Desa Soco. Selain membantai para tawanan di sumur Soco, PKI juga membawa tawanan dari jalur kereta yang sama ke arah Desa Cigrok. Kini, desa Cigrok dikenal dengan nama Desa Kenongo Mulyo.
Terungkapnya sumur Soco sebagai tempat pembantaian PKI bermula dari igauan salah seorang anggota PKI yang turut membantai korban. Selang seratus hari setelah pembantaian di sumur tua itu, anggota PKI ini mengigau dan mengaku ikut membantai para tawanan.
Setelah diselidiki dan diinterogasi, akhirnya dia menunjukkan letak sumur tersebut. Sekalipun letak sumur telah ditemukan, namun penggalian jenazah tidak dilakukan pada saat itu juga, tapi beberapa tahun kemudian. Hal ini disebabkan oleh kesibukan pemerintah RI dalam melawan agresi Belanda yang kedua.
Sekitar awal tahun 1950-an, barulah sumur tua desa Soco digali. Salah seorang penggali sumur bernama Pangat menuturkan, penggalian sumur dilakukan tidak dari atas, namun dari dua arah samping sumur untuk memudahkan pengangkatan dan tidak merusak jenazah. Penggali sumur dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing terdiri dari enam orang.
Menurut Pangat, mayat-mayat yang dia gali pada waktu itu sudah dalam keadaan hancur lebur seperti tape ketela. Daging dan kulit jenazah hanya menempel sedikit diantara tulang-belulang. Di kedalaman sumur yang sekitar duabelas meter, regu pertama menemukan 78 mayat, sementara regu kedua menemukan 30 mayat. Semua jenazah dihitung hanya berdasarkan tengkorak kepala, karena tubuh para korban telah bercampur-aduk sedemikian rupa.
Sumur Tua Desa Bangsri
Diantara sejumlah sumur tempat pembantaian yang digunakan PKI di sekitar Magetan, sumur tua desa Bangsri merupakan tempat yang paling awal. Sumur tua ini terletak di tengah tegalan ladang ketela di Dukuh Dadapan. Sekitar 10 orang korban PKI dibantai di sini. Kebanyakan adalah warga biasa yang dianggap menentang atau melawan PKI.
Para korban pembantaian di Bangsri berasal dari Desa Selo Tinatah, dan berlangsung sebelum pemberontakan 18 September 1948 dimulai. Mereka yang tertangkap PKI kemudian ditahan di dusun Dadapan. Beberapa hari menjelang hari H pemberontakan, para tawanan pun disembelih di lubang pembantaian di tengah tegalan.
Sumur Tua Desa Cigrok
Sumur tua di Desa Cigrok ini hampir sama dengan sumur tua di Desa Soco, sama-sama tidak terpakai lagi. Sebagaimana kepercayaan masyarakat setempat yang pantang menimbun sumur setelah tidak digunakan lagi, sumur tua Desa Cigrok demikian pula. Tidak ditimbun, kecuali tertimbun sendiri oleh tanah.
Sumur tua Desa Cigrok terletak di rumah seorang warga desa bernama To Teruno. To Teruno sebenarnya bukanlah anggota PKI, justru dialah yang melaporkan kekejaman PKI di sumur miliknya itu kepada kepala desanya. Salah seorang korban PKI di sumur tua Cigrok adalah KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Bahkan ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan adzan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kyai Zubeir dan Kyai Bawani juga jadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.
Sebanyak 22 orang yang menjadi korban pembantaian di sumur tua Desa Cigrok. Selain KH Imam Shofwan dan dua puteranya, terdapat pula Hadi Addaba dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari Kharis Suhud.
Imam sebenarnya ikut mengawal KH Imam Mursjid ketika diciduk dari pesantrennya, namun di tengah jalan mereka terpisah. Jenazah Imam Faham akhirnya ditemukan di sumur tua itu, sementara jenazah KH Imam Mursjid hingga kini belum ditemukan.
Sumur Tua Desa Kresek
Selain beberapa sumur di Magetan, tempat pembantaian korban kebiadaban PKI di Madiun juga ditemukan di sebuah lubang di Dusun Kresek, Desa Dungus. Di lubang pembantaian di tepi bukit ini ditemukan 17 jenazah. Mereka diantaranya adalah perwira militer, anggota DPRD, wartawan dan masyarakat biasa.
Pembantaian di dusun Kresek dilakukan PKI karena posisinya telah terjepit oleh pasukan Siliwangi. Sementara itu, mereka tersesat di Kresek dalam perjalanan menuju Kediri. Karena tidak sabar membawa tawanan sedemikian banyaknya, mereka pun melakukan pembantaian di tepi bukit lalu menimbunnya di sebuah sumur tua. Terungkapnya sumur ini sebagai tempat pembantaian bermula dari laporan seorang janda warga Desa Kresek yang mengaku melihat terjadinya peristiwa keji itu.
Kini, di Kresek telah dibangun monumen dan tugu peringatan atas kekejaman PKI pada tahun 1948 dulu. Sebagaimana monumen di Desa Soco, monumen keganasan PKI di Kresek juga dibangun untuk mengingat keganasan PKI dalam membantai lawan-lawan politiknya, dengan harapan paham itu tidak lagi bangkit kembali di bumi pertiwi.
Tragedi Pesantren Takeran
Aksi pemberontakan PKI dalam Madiun Affair 1948 menjadikan pesantren sebagai sasaran utama yang harus dibasmi. Sebab, pesantren dianggap sebagai basis kekuatan masyumi yang menjadi musuh besar PKI. Di lain pihak pada tahun-tahun menjelang pemberontakan PKI, pimpinan Uni Soviet Stalin sedang gencar mencengkeramkan kukunya pada umat Islam di Asia Tengah yang menyebabkab berjuta-juta umat islam terbunuh atau dibuang ke Siberia. Sebagai murid Stalin yang setia, Muso tidaklah berlebihan ketika memprioritas-kan aksinya di pesantren.
Sejarah telah mencatat kelicikan-kelicikan PKI yang menculik satu demi sartu pimpinan pesantren yang dianggap musuh. Yel-yel PKI adalah “Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati”. PKI memang berhasil melumpuhkan sejumlah pesantren di Magetan. Salah satu pesantren incaran PKI adalah Takeran. Pesantren ini secara geografis sangat dekat dengan Gorang Gareng sehingga dapat dikatakan bahwa pesantren Takeran adalah rangkaian pembantaian PKI yang terjadi di Gorang Gareng.
Pesantren Takeran atau dikenal dengan pesantren Sabilil Muttaqien dipimpin oleh Kiai Imam Mursjid Muttaqien yang masih berumur 28 tahun. Pesantern Takeran merupakan salah satu pesantren yang paling berwibawa di Magetan kerena pemimpinnya mempunyai pengaruh yang sangat besar karena Kyai Imam Mursjid juga bertindak sebagai Imam tarekat Syatariyah.
Pesantren menjadi musuh utama PKI karena dalam pesantren itu terdapat kekuatan yang sangat diperhitungkan yaitu di dalam pesantren Takeran mamang aktif melakukan penggemblengan fisik dan spiritual terhadap para santri. Pada tanggal 17 September 1948, tepatnya hari Jum’at Kiai Hamzah dan Kiai Nurun yang berasal dari Tulungagung dan Tegal Rejo pergi ke Burikan. Setelah kepergian mereka seusai sholat Jum’at, Kiai Imam Mursjid didatangi oleh tokoh-tokoh PKI. Saat itu Kiai Imam Mursjid diajak bermusyawarah mengenai republik Soviet Indonesia. Kepergian pemimpin pesantren mereka menimbulkan tanda tanya besar, dua hari kemudian keberadaan iai Imam Mursjid belum diketahui secara pasti. PKI terus melakukan penangkapan dan penculikan kepada ustadz-ustadz yang lain seperti Ahmad Baidway, Husein, Hartono, dan Hadi Addaba.
Mereka tidak pernah kembali. Bahkan sebagian besar ditemukan sudah menjadi mayat di lubang-lubang pembatantaian yang tersebar di berbagai tempat di magetan. Yang menimbulkan keheranan adalah sampai sekarang adalah tempat pembantaian Kiai Mursjid yang belum diketahui sampai sekarang karena mayatnya belum dapat ditemukan. Bahkan dari daftar korban yang dibuat PKI sendiri tidak tercantum nama Kiai Mursjid.
Ada saksi lain lagi bernama Sumarwanto yang memberi angka 700 orang korban PKI di hutan Gangsiran. Sumarwanto tidak tahu sendiri, Dia diberitahu bapaknya. Jadi angka pasti berapa isi ‘Ladang Pembantaian’ itu belum jelas karena belum pernah ada yang menggali dan menghitung jumlah mayat di dalamnya,..kecual kalau Kaderun, mertuanya Sukiman dan  bapaknya Sumarwanto adalah eksekutor PKI sehingga mereka tahu pasti jumlah angkanya.
Kabupaten Magetan selama ini sudah dikenal di dunia sebagai tempat beradanya Lubang-lubang Sumur Pembantaian (Killing Holes) dan “Ladang Pembantaian” (Killings Fields) sebagaimana dicatat dalam buku “Lubang-lubang Pembantaian: Pemberontakan FDR/PKI 1948 di Madiun”  ditulis Maksum – Agus Sunyoto – Zainuddin terbitan Grafiti Press (1990); Peristiwa Coup berdarah PKI 1948 di Madiun  ditulis Pinardi terbitan Inkopak-Hazera (1967); Pemberontakan Madiun: Ditinjau dari hukum negara kita ditulis Sudarisman Purwokusumo terbitan Sumber Kemadjuan Rakjat (1951); De PKI in actie: Opstand of affaire (Madiun 1948: PKI Bergerak)  ditulis Harry A.Poeze terbitan KITLV-Yayasan Obor (2011).”
Jadi sebenarnya sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu sejatinya  isinya orang-orang yang dibunuh oleh PKI. Itu faktanya! . Ada banyak jumlah sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” karya PKI di Magetan itu. Yang sudah ditemukan ada 7 sumur “neraka” dan 1 “Ladang Pembantaian”, yaitu: 1. sumur tua  Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2.Sumur tua I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3.Sumur tua II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab. Magetan; 4. Sumur tua Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan; 5. Sumur tua Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur tua Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab. Magetan; 7. Sumur tua .Desa Bogem, kec.Kawedanan, Kab.Magetan; satu lokasi yang digunakan membantai musuh-musuh PKI adalah ruangan kantor dan halaman  Pabrik Gula Gorang-Gareng di Magetan.
Waktu sumur-sumur “neraka” itu dibongkar tahun 1950, yang menyaksikan berpuluh ribu warga kabupaten dari berbagai desa terutama keluarga-keluarga yang mencari anggota keluarganya yang hilang diculik PKI. Begitulah, puluhan ribu warga Magetan menjadi saksi kejahanaman PKI yang memasukkan korban-korban kebiadaban mereka ke sumur-sumur “neraka” itu. Jumlah korban dihitung. Diotopsi. Semua terdata rapi. Sebagian besar masih dikenali keluarga maupun tim dokter.

Itulah penjelasan yang menguatkan sesuai fakta yang pernah terjadi, bahwa pembantaian di mulakan oleh orang komunis, jangan sampai kita terpengaruh dengan propaganda yang sedang di bangun orang-orang yang mengatakan bahwa PKI hanyalah korban politik. Padahal tidaklah demikian karena daftar kekacauan dan kekejaman yang dilakukan orang-orang komunis sudah sangat banyak di negeri ini. Sehingga orang yang tidak sepakat dengan komunis, keluarga, ulama, santri, aparat negara yang pernah menjadi korban kebiadaban PKI sangat marah dan melakukan pembalasan pada tahun 1965. Tidak ada api jika tidak ada asap, komunis tidak akan bisa tumbuh di negeri ini. Semoga kta dan generasi muda tercerahkan dengan informasi ini, dan jangan sampai salah mengambil informasi.

Penyunting  : Admin PJ
Sumber  : https://www.nahimunkar.org/pemutarbalikan-fakta-sejarah-pembantaian-para-ulama-pki/

Monday, May 13, 2019

Asal Mula Nagari Minangkabau Sumatera Barat | Pegawai Jalanan


Minang kabau adalah  nagari atau desa yang berada di  wilayah keccamatan sungayang , Kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat. Namun, Suatu ketika terjadi peristiwa dan setelah peristiwa itu telah terjadi maka desa tersebut di namakan Nagari Minangkabau , berikut adalah cerita asal usul Nagari MInangkabau.
Dahulu, di dearah sumatera Barat, ada sebuah kerajaan yang makmur dan damai Kerajaan itu di pimpin oleh seorang Raja yang bijaksana. Kerjaan itu beranama Kerajaan Pagaruyung. Suatu ketika terdengar kabar bahwa kerajaan Majapahit akan menyerah mereka.Para pemimpin Kerajaan Pagaruyung memberikan semboyan kepada seluruh perajurit  “Musuh pantang dicari, datang pantang ditolak. Kalau bisa dihindari, tapi kalau terdesak kita hadapi,”.
Suatu hari, di tengah masa peperangan yang akan di mulai tersebut. Raja kerajaan Pagaruyung melakukan diskusi dengan para penasehatnya. Mereka memberikan berbagai macam usulan untuk menahan serangan pasukan Majapahit. Setelah semua penasehat memberikan idenya tibalah kepada seorang penasehat kepercayaan Raja memberikan idenya.
“Paduka Raja, Apakah sebaiknya kita ajak musuh untuk berunding untuk menghindari pertumpahan darah. Kita sambut mereka di perbatasan setelah itu kita ajak mereka untuk berunding. Jika mereka menolak, ajaklah mereka untuk beradu kerbau ,” Penasehat Raja berkata.
“Hmmm… ide yang bagus,” sang Raja berkata, begitu pula dengan para penasehat yang lain.
Sang Raja bersama punggawanya menyiapkan segala sesuatu nya. Sang raja menyuruh putrinya untuk mencari beberapa dayangnya yang cantik. Lalu mereka diajarkan tata krama dan dikenakan pakaian yang indah.Setelah semua siap, bersama orang kerpercayaan raja dayang-dayang istana pergi ke perbatasan untuk menyambut kedatangan pasukan musuh. Mereka membawa banyak sekali makanan lezat untuk menjamu pasukan Majapahit. Sementara itu, dari kejauhan, pasukan Pagaruyung berjaga-jaga untuk mengatisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Tak berapa lama setelah rombongan Datuk Tantejo Garhano tiba di perbatasan, pasukan musuh dari Majapahit pun sampai di tempat itu.Sesampainya mereka disana, Mereka dijamu oleh dayang – dayang istana yang telah dipersiapkan kerajaan Pagaruyung. Melihat wanita cantik dan perlakuan ramah oleh pihak Pagaruyung. pasukan Majapahit menjadi terheran-heran, dengan keramahan dayang – dayang cantik itu, pasukan Majapahit mulai hilang semangat untuk melakukan peperangan. Setelah mereka menikmati hidangan dan hiburan yang diberikan, pasukan Majapahit di ajak masuk menemui Sang Raja.Setelah pasukan Majapahit selesai menikmati hidangan dan beristirahat sejenak, Datuk Tantejo Garhano segera mengajak pemimpin mereka ke istana untuk menemui sang Raja.

“Selamat datang, Tuan,” sambut sang Raja dengan Ramah.
“Ada apa gerangan Tuan kemari?” sang Raja pura-pura tidak tahu, kata sang Raja.

“Kami diutus oleh Raja Majapahit untuk menaklukkan Pagaruyung. Dengan kemenangan kami harus kembali!,” jawab pemimpin itu.

“Oh, begitu,” jawab sang Raja sambil tersenyum, “Kami memahami tugas Tuan. Tapi, bagaimana kalau peperangan ini kita ganti dengan adu kerbau. Tujuannya adalah untuk menghindari pertumpahan darah di antara pasukan kita.”

Pemimpin pasukan Majapahit itu terdiam. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia pun menyetujui usulan sang Raja.
“Baiklah, Paduka Raja. Kami menerima tawaran Paduka,” jawab pemimpin itu.


Dalam kesepakatan itu tidak ada ketentuan jenis maupun ukuran kerbau yang dilarang. Pasukan Majapahit memilih seekor kerbau yang paling kuat, besar. Di lain pihak, Pagaruyung justru memilih seekor anak kerbau yang masih menyusu. Tetapi pada kepala anak kerbau dipasang besi runcing. Sehari sebelum pertandingan itu anak kerbau itu sengaja dibuat lapar.Keesokan harinya, kedua kerbau aduan segera dibawa ke gelanggang. Kedua belah pihak memberikan semangat dukungan pada kerbau aduan kerajaan mereka masing-masing. Setelah beberapa waktu berlalu, kedua kerbau tersebut dilepas, kerbau milik Majapahit terlihat beringas dan liar. sedangkan, anak kerbau milik Pagaruyung segera memburu hendak menyusul pada kerbau besar itu karena mengira induknya.Perut kerbau milik Majapahit pun terluka terkena tusukan besi runcing yang terpasang di mulut anak kerbau milik Pagaruyung. Setelah beberapa kali tusukan, kerbau milik pasukan Majapahit akhirnya roboh dan terkapar di tanah. Melihat kejadian itu, penonton dari pihak Pagaruyung pun bersorak-sorak gembira.Akhirnya, pasukan Majapahit dinyatakan kalah dalam pertandingan tersebut. Mereka pun diizinkan kembali ke Majapahit dengan damai. Setelah kejadian itu, berita kemenangan Kerajaan Pagaruyung mengalahkan majapahit menggunakan kerbau menjadi ke mana-mana. Kata “minang kabau” yang berarti menang kerbau menjadi terkenal keseluruh pelosok desa. Sejak itulah, tempat itu dinamakan Nagari Minangkabau, yaitu sebuah nagari (desa) yang bernama Minangkabau.
Sebagai upaya untuk mengenang peristiwa tersebut, penduduk negeri Pagaruyung merancang sebuah rumah rangkiang (loteng) yang atapnya menyerupai bentuk tanduk kerbau. Konon, rumah itu dibangun di perbatasan, tempat pasukan Majapahit dijamu oleh para wanita-wanita cantik Pagaruyung.

Pesan Moral
pesan moral yang dapat kita ambil dari cerita di atas adalah, setiap masalah tidak harus di lakukan dengan kekerasan adakala kita harus mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah, salah satunya adalah dengan jalan perundingan.

TONTON VIDEONYA DISINI


Penyunting : Shella

10 Pendekar Asli Nusantara | Pegawai Jalanan

Di tengah munculnya tokoh-tokoh  Pahlawan superhero ala Barat, Di indonesia sendiri memiliki tokoh yang di sebut pendekar yang masih mendapat tempat di hati masyarakat indonesia sendiri. Berikut ini lah 10 nama pendekar khas indonesia.

1. Angling Darma
Hasil gambar untuk angling darma
Prabu Angling Darma adalah salah satu tokoh pendekar legendaris. Keistimewaannya terletak dari kemampuannya memahami bahasa segala jenis binatang. Dikenal sebagai pendekar sakti dan memiliki teman tidak biasa, yaitu seekor naga yang selalu setia membantunya jika ia dalam kesulitan. Angling Darma terlahir sebagai pemuda tampan dan berwibawa. Kisah Prabu Angling Darma sempat diangkat ke layar kaca. 

2. Si Buta dari Gua Hantu
Gambar terkait
Karakter pendekar satu ini memiliki ciri khas sangat terkenal, yaitu bajunya berwarna hijau dan teman setianya si kera yang selalu bertengger di pundak si Buta. Meski memiliki kekurangan, namun si Buta ini sangat sakti dan memiliki ilmu bela diri hebat . Karakter si Buta diciptakan komikus Indonesia, Ganes TH pada 1960-an. Komik Si Buta dari Gua Hantu ini pertama kali terbit pada 1967 dan dicetak ulang kembali pada 2005. Begitu populernya komik ini hingga ceritanya diangkat ke film layar lebar pada 1970 dengan judul “Si Buta dari Gua Hantu”. 

3. Wiro Sableng
Gambar terkait
Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel karangan Bastian Tito. Wiro Sableng memiliki seorang guru yang mengajarinya banyak ilmu. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki kesaktian.Karakter fiksi legendaris ini tak hanya tampil dalam bentuk serial cergam (cerita gambar), tapi juga diangkat ke layar kaca. 

4. Prabu Siliwangi
Gambar terkait
Prabu Siliwangi adalah tokoh dari kerajaan Sunda dan Padjajaran. Kisah Prabu Siliwangi sendiri diangkat dari cerita legenda Prasasti Batutulis. Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja bijaksana dan suka menolong. Ia juga terkenal memiliki ilmu kuat sehingga membuat kerajaan yang dipimpinnya terkenal seantero nusantara. Konon, Prabu Siliwangi bisa merubah dirinya menjadi seekor harimau putih. 

5. Jaka Tingkir

Pendekar yang sejak kecil sudah memiliki kesaktian ini memimpin sebuah kerajaan bernama Kerajaan Pajang di Jawa Tengah. Berdirinya Kerajaan Pajang ini diawali oleh pertempuran Jaka Tingkir dengan Aryo Penangsang yang dimenangkan oleh Jaka Tingkir. Jaka Tingkir dikenal dengan kegemarannya bertapa. Konon ia mempunyai banyak pusaka ampuh sehingga mampu menaklukkan berbagai wilayah.

6. Damar Wulan
Damar Wulan adalah seorang tokoh legenda cerita rakyat Jawa. Kisahnya cukup populer di tengah masyarakat dan banyak versi lakon atau pemainnya. Damar Wulan adalah sosok pemuda tampan dan sakti. Kisahnya yang terkenal adalah perseteruannya melawan Minakjingga untuk memperebutkan Sri Ratu Kencanawungu. Perseteruan tersebut diakhiri dengan kemenangan Damar Wulan

7. Gatot Kaca
Gatot Kaca adalah tokoh dalam Mahabharata putra dari Bimasena (Bima). Gatot Kaca memiliki kesaktian luar biasa, salah satunya ia memiliki kemampuan terbang di angkasa dengan menggunakan sayapnya. 

8. Jaka Sembung
Jaka Sembung merupakan kisah rekaan karya komikus Djair Warni pada 1960-an. Jaka Sembung konon merupakan jawara sakti Kandanghaur. Ia merupakan salah satu tokoh rakyat yang memberontak atas ketidakadilan pemerintahan Belanda. Cerita ini pernah diangkat ke layar lebar pada 1981 dengan aktor Barry Prima sebagai pemeran utamanya. 

9. Brama Kumbara 
Tokoh Brama Kumbara merupakan salah satu tokoh di sandiwara radio Saur Sepuh yang sempat digemari oleh jutaan pendengarnya di masanya. Diceritakan Brama Kumbara adalah seorang pendekar yang memiliki kesaktian. Ia merupakan pewaris tahta kerajaan Madangkara. Sandiwara ini mengambil latar pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk pada zaman Kerajaan Majapahit. Brama Kumbara juga diangkat ke televisi dalam bentuk sinetron serial.

10. Arya Kamandanu
Arya Kamandanu adalah salah satu tokoh di serial kolosal ‘Tutur Tinular’. Tokoh ini dikenal sebagai sosok pemuda ahli dalam ilmu kanuragan atau ilmu tenaga dalam di jaman kerajaan Majapahit. Ia juga dikenal sebagai seorang pendekar berjiwa ksatria dan mampu menaklukkan musuh-musuhnya. Arya Kamandanu dicirikan melalui kepemilikan Pedang Naga Puspa yang didapatkannya dari seorang perantau asal China