Thursday, January 17, 2019

Dalang Dibalik Pembantaian Raja-Raja, Kerabat, dan Kaum Bangsawan di Sumatera Timur (1946) | Pegawai Jalanan


Arikel ini di buat bukan untuk mengungkit luka lama yang pernah terjadi di negeri tercinta ini, akan tetapi hanya untuk mengungkap siapa dalang dibalik sejarah kelam perjalanan negeri ini.  Karena kita kadang mendengar ada tuduhan terhadap suku tertentu yang di hembuskan, yang akhirnya bisa merugikan diri kita sendiri jika kita mempercayainya tanpa mengetahui sejarah sebenarnya. Ingat kata bung Karno, JASMERAH JANGAN PERNAH MELUPAKAN SEJARAH, karena sejarah bisa menjadi pelajaran bagi kita saat ini untuk terhindar dari lubang yang sama. 

Pada tanggal 3 Maret 1946 tengah malam meletuslah “Revolusi Sosial” di berbagai wilayah di Sumatera Timur. Dipelopori oleh PESINDO (Pemuda Sosialis Indonesia- organisasi di bawah Kontrol PKI) dan PKI sendiri, Istana diserbu dan dirampok, beberapa orang raja dan kaum bangsawan dibunuh. Dalam peristiwa ini, dendam pribadi turut membonceng. Terror berkecamuk di wilayah NRI (Negara Republik Indonesia) yang makmur ini. Dalam kesempatan ini, rencana PKI pararel dengan rencana NICA, yaitu menimbulkan anarki di wilayah NRI. Hanya Istana Serdang yang tidak diserbu. 
Massa PKI

Pada malam itu, Panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Kolonel A. Tahir yang sedang rapat staf, menerima telpon dari TKR Pematang bahwa terror telah meletus dan raja-raja telah dibunuh PKI. Kolonel Tahir segera memerintahkan Kapten Tengku Nurdin (Komandan Batalyon TKR di Melati) agar mengambil alih pengawalan keraton kota Galuh di Perbaungan. (Zainudin, A. Rachman. 1997: 148)

Ribuan nyawa para bangsawan di Sumatera Timur harus dicabut paksa ditangan gerombololan Revolusi yang mengatasnakaman pro-Republik Indonesia. Mereka menyebutkan bahwa para Sultan, Raja, Datuk ataupun Tuan adalah musuh perjuangan Rakyat Republik Indonesia. Benteng Feodalisme harus dihancurkan dari Sumatera Timur, itulah pesan yang di bawa mereka.

Tanggal 3 Maret 1946, Revolusi Sosial di Sumatera Timur kemudian pecah. Aksi massa Pesindo, PNI dan PKI  melakukan revolusi (pemberontakan) besar-besaran secara biadab dan serempak di Sumatera Timur, membumihanguskan istana-istana kerajaan, memburu para kaum bangsawan , menculik dan lalu membunuhnya. Masa pro komunis membunuh sejumlah sultan dan keluarganya, membunuh golongan menengah pro republik Indonesia dan membunuh pimpinan lokal administrasi Rebublik Indonesia.

Mereka menyebutkan bahwa para Sultan, Raja, Datuk ataupun Tuan adalah musuh perjuangan Rakyat Republik Indonesia. Benteng Feodalisme harus dihancurkan dari Sumatera Timur. Tanggal 6 Maret 1946, Wakil Gubernur Dr. Amir secara resmi mengangkat M. Joenoes Nasoetion yang merupakan ketua PKI wilayah Sumatera Timur, sebagai Residen disana.

Seperti yang terjadi di Kesultanan Kualuh, salah satu Kerajaan Melayu yang berada di Tanjung Pasir, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) pada 3 Maret 1946 lalu.

Sultan Kualuh, Tuanku Al Hadji Moehammad Sjah diseret saat sedang sholat malam di rumahnya oleh sekelompok orang, kemudian dibawa ke kawasan Kuburan China, sebuah komplek perkuburan etnis Thionghoa.

Kelompok orang bersenjata tajam juga membawa Tengku Mansyoer Sjah gelar Tengku Besar, putera Sultan Kualuh ke lokasi yang sama. Demikian juga Tengku Dirman Sjah, adik kandung Tengku Mansyoer Sjah. Ketiganya kemudian disiksa lalu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan sekarat.

Beruntung, pada pagi hari seorang nelayan yang sedang melintas menemukan ketiganya kemudian membawa para korban ke istana untuk mendapatkan perawatan. Sekitar pukul 11 siang, datang sekelompok orang berbeda menjemput ketiganya dengan alasan akan membawa ke rumahsakit.

Sejarawan Melayu Tengku Haris Abdullah Sinar dalam sebuah literatur mengatakan, para petinggi Kesultanan Kualuh tersebut dibunuh saat adzan sedang berkumandang.

“ Saat hendak dibunuh, Tuanku sempat berkata; Bila kalian hendak membunuh kami, tunggulah adzan selesai dikumandangkan dan izinkan kami sembahyang sekejap,” pinta Tuanku saat itu.

Permintaan tersebut tidak dikabulkan. Sultan Kualuh dan kedua puteranya tewas dibunuh. Peristiwa serupa juga terjadi di Kesultanan Panai, Kota Pinang, Negeri Padang Tebing Tinggi dan Kesultanan Bilah yang menewaskan Tuanku Hasnan.

Kesultanan Langkat juga mengalami nasib serupa. Tidak sedikit perempuan keluarga Kesultanan diperkosa dihadapan orangtua dan keluarganya. Sedangkan lelaki dibantai dengan sadis. Akibatnya, Kesultanan Langkat banyak kehilangan petinggi kerajaan dan sejumlah pakar. Dalam peristiwa ini, seorang sastrawan Tengku Amir Hamzah, Pangeran Langkat Hulu dan Wakil Pemerintah Republik Indonesia saat itu, juga turut terbunuh.

Tengku Amir Hamzah

Peristiwa pembunuhan Tengku Amir Hamzah terjadi pada 7 Maret 1946. Dalam peristiwa itu, Tengku Amir Hamzah dan sejumlah petinggi Kesultanan Langkat dijemput paksa menggunakan truk terbuka oleh sekelompok orang kemudian di kumpulkan di Jl Imam Bonjol, Binjai. Bersama tahanan lainnya, Tengku Amir Hamzah disiksa kemudian dibunuh di perladangan di kawasan Kuala Begumit oleh Mandor Iyang Wijaya yang tidak lain adalah pelatih kesenian silat kuntau Istana Langkat.

Sebelum melakukan pembunuhan, algojo mengabulkan dua permintaan Tengku Amir Hamzah. Pertama, Tengku Amir Hamzah minta penutup matanya dibuka karena ingin menghadapi ajal dengan mata terbuka. Kedua, Tengku Amir Hamzah meminta waktu untuk sholat sebelum hukuman dijatuhkan.

Pembantaian dan pembunuhan juga terjadi di Negeri Padang, salah satu Kerajaan Melayu di Tebing Tinggi pada 3 Maret 1946. Dalam peristiwa ini, cucu Tengku Tebing Pangeran, Tengku Sortia, tewas ditangan sekelompok orang.

Peristiwa terjadi saat Tengku Sortia sedang sholat di rumahnya di kawasan Tongkah, perkebunan tembakau milik kerajaan Negeri Padang, bersama isterinya Puan Maimunah. Perkebunan Tongkah berada diantara Kabupaten Simalungun dan Serdang Bedagai (Sergai).

Tengku Sortia diseret dari rumah kemudian dibunuh. Jasadnya dihanyutkan ke sungai tidak jauh dari rumahnya.

Dimalam yang sama, 3 Maret 1946, Kesultanan Asahan di Tanjung Balai juga mengalami nasib serupa. Sebelum adzan Shubuh berkumandang, Tengku Muhammad Yasir menyambut sang ayah di rumahnya yang baru tiba dari istana setelah bersiaga akibat tersiar kabar akan terjadi penyerangan.

Rumah Cucu Sultan Asahan ke X ini berada di lingkungan Istana Kesultanan Asahan, di lingkaran Kota Raja Indra Sakti yang ditengahnya terhampar lapangan hijau.

Tengku Muhammad Yasir yang saat itu masih berusia 15 tahun, melihat sejumlah orang mengendap-endap kearah istana saat membukakan pintu untuk ayahnya. Karena takut, Tengku Muhammad Yasir kemudian masuk ke dalam rumah bersama ayahnya.

Pukul 6 pagi, Istana Kesultanan Asahan diserang sekelompok orang. Sultan Asahan saat itu, Tuanku Sjaiboen Abdoel Djalil Rachmatsjah, berhasil melarikan diri melalui pintu belakang istana.

Satu jam kemudian, sekelompok orang datang ke rumah Tengku Muhammad Yasir dan membawa ayahnya. Tengku Muhammad Yasir tidak turut di bawa karena sedang menderita sakit pada bagian kaki yang mengalami pembusukan hingga mengeluarkan aroma tidak sedap.

Pasca penangkapan ayahnya, Tengku Muhammad Yasir menyelamatkan diri ke rumah kakak sepupunya, Tengku Haniah. Ternyata, Tengku Muhammad Yasir tidak menemukan seorangpun lelaki di rumah itu. Semua telah ditangkap sekelompok orang.

Dokumen Belanda memperkirakan, pembantaian di wilayah Kesultanan Asahan tahun 1946 menelan korban mencapai 1.200 orang. Belum lagi di sejumlah Kerajaan Melayu dan Kesultanan di Sumatera Timur lainnya. Banyak kerangka korban yang terkubur tak beraturan di Sungai Londir. Bahkan ada di dinding-dinding tanah.

Bagaimanakah langkah yang ditempuh oleh Dr. Amir dan M. Joenoes Nasution untuk memobilisasi massa di daerah Sumatera Timur?

Pada tanggal 5 Maret Wakil Gubernur Mr. Amir mengeluarkan pengumuman: Bahwa gerakan itu suatu “Revolusi Sosial”, Supaya korban Revolusi Sosial itu harus diminimalisir, Residen Sumatera Timur dipimpin oleh Yunus Nasution untuk sementara waktu yang bekerjasama dengan BP.KNI maupun Volksfront, dan Mr. Luat Siregar diangkat menjadi Juru Damai (Pacifikator) untuk seluruh wilayah Sumatera Timur dengan kewenangan seluas-luasnya. (Zainudin, A. Rachman: 152-153)

Rupa-rupanya Dr. Amir dan M. Joenoes Nasution telah merekayasa pergerakan rakyat sedemikian rupa untuk memuluskan perjuangan rakyat, terwujudnya pemerintahan Republik Indonesia yang berdaulat di Sumatera. Merangsang perjuangan rakyat dengan membumihanguskan benteng feodalisme (kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur), membabat habis keturunan Sultan, Datuk, Raja, Tuan, dan menggantikan kekuasaannya menjadi kekuatan rakyat.
Akhirnya dengan mulus, gerakan revolusi memaksa penghapusan otonomi kekuasaan Sultan, Raja dan Tuan di Sumatera Timur secara resmi diproklamirkan. Revolusi sosial menyisakan cerita pembantaian ribuan nyawa, pemenggalan ribuan kepala di Sumatera Timur. 


Keterlibatan aktivis Partai Komunis dalam revolusi sosial di Sumatera Timur memberikan kontribusi besar. Karena sangat jelas bahwa Ketua PKI Sumatera Timur waktu itu (M. Joenoes Nasoetion) diangkat sebagai Residen Sumatera Timur oleh gubernur sumatera Dr. Amir sehingga revolusi ini terus berlangsung sekian waktu. Tentara pemerintah Republik Indonesia waktu itu tidak dapat berbuat banyak karena posisinya masih lemah. Pergerakan aktivis pro-kemerdekaan yang semula teroganisir malah menjadi brutal dan sangat biadab sehingga kekacauanpun terjadi di seluruh Sumatera Timur. Aksi revolusi sosial di Sumatera Timur sangat mencoreng perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di mata Internasional.


Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah semua kekacauan di Indonesia adalah di sebabkan oleh idiologi komunis yang saat itu belum di larang, bahkan rentetan kekejaman yang dilakukan komunis sangat kental dalam sejarah bangsa ini. Pembantaian terhadap ulama, santri, kepala desa, polisi, tentara, dan pegawai pemerintahan yang tidak mau bergabung dengan Komunis pada tahun 1948 di Madiun, Jawa Timur, menjadi sejarah kelam bangsa ini. Pembantaian PKI yang terakhir adalah pembunuhan terhadap Jenderal Jenderal angkatan darat pada tahun 1965, dan akhirnya ketika presiden Suharto berkuasa PKI di bubarkan karena tidak sesuai dengan Pancasila, bahkan terjadi balasan oleh masa anti-PKI dan TNI dengan menghabisi orang2 komunis yang telah membuat kekacauan di Negara ini.
Jenderal Korban Kebiadapan PKI

Ingat jika komunis berkuasa maka nyawa tidak akan ada harganya,unisoviet, china, kmwr merah kamboja, dan lain sebagainya tragedi berdarah akan selalu ada jika komunis berkuasa. 
Jadi jika ada yang mengatakan atau menuduh suku tertentu penyebab terbunuh nya raja-raja melayu di Sumatera adalah tidak benar, karena mau apapun suku atau bangsanya jika memang sudah mengikuti jalan komunis maka mereka akan kejam seperti orang komunis pada umumnya. 

Admin tidak mau ada lagi tuduhan-tuduhan terhadap suku tertentu yang sering di sebut karena mendalangi peristiwa kelam ini,  mereka semua sekarang sudah mendapatkan balasan dari apa yang pernah mereka perbuat dulu.
Jadi sudah jelas dalang utama dalam pembantaian tersebut adalah kaum komunis, kita bisa melihat dari gaya perjuangan mereka di sepanjang sejarah Indonesia, tidak jauh-jauh dari pembunuhan, jadi kita sebagai generasi muda harus tetap waspada jangan sampai faham ini berkembang kembali di masyarakat kita, kita harus mencegahnya bersama-sama.

SILAHKAN TONTON VIDEONYA DISINI




Referensi
1) Johan, Bahder. 1980 . Pengabdi Kemanusiaan. Jakarta: Gunung Agung
2) Zainudin, A. Rachman. 1997. Denyut Nadi Revolusi Indonesia. Jakarta: Gramedia
3) Hasjmy, A. 1985. Semangat Merdeka. Jakarta: Bulan Bintang
4) http://metromedan.co.id/2016/03/06/sultan-langkat-paparkan-sejarah-singkat-revolusi-sosial-1946/
5) https://id.m.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Sosial_Sumatera_Timur
6) https://fandyharwinanto.wordpress.com/2010/03/25/revolusi-sosial-di-sumatera-timur/

3 comments: