Tuesday, January 22, 2019

Peristiwa Mandor Bukti Kekejaman Penjajah Jepang di Kalimantan Barat

Membahas soal kejadian berdarah di Kalimantan tentu yang bakal kita ingat adalah tragedi Sampit dan Sambas. Ya, dua kejadian ini benar-benar sangat mengerikan dan tercatat memakan korban nyawa dalam jumlah besar. Bahkan isu-isu sentimen tidak enak pun menyeruak hampir di setiap jengkal tanah Borneo. Sebenarnya Sampit dan Sambas bukanlah satu-satunya kejadian berdarah yang pernah ada di Kalimantan. Ada satu lagi peristiwa mengerikan yang lebih parah tapi justru sudah banyak dilupakan.
Kembali ke masa sebelum Indonesia merdeka, Kalimantan pernah jadi saksi atas dibantainya banyak orang oleh penjajah Jepang. Kali ini bukan masalah etnis lagi melainkan karena kesewenang-wenangan Jepang terkutuk itu. Ya, hanya karena ego dan kepentingan khusus, Jepang dengan teganya membantai sekitar 20 ribu lebih rakyat Kalimantan ketika itu. Peristiwa yang kemudian dinamai dengan Mandor ini jadi salah satu kejadian paling kelam dalam sejarah kependudukan Jepang di Indonesia.

Peristiwa Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944. Peristiwa Mandor ini sendiri sering dikenang dengan istilah Tragedi Mandor Berdarah yaitu telah terjadi pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras oleh tentara Jepang.
Lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat melalui paripurna DPRD Kalimantan Barat merupakan bentuk kepedulian sekaligus apresiasi dari DPRD terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor.
Masyarakat tanah Borneo, khususnya Kalimantan Barat, mungkin takkan pernah melupakan kejadian buruk itu. Bahkan setelah lebih dari 70 tahun merdeka, kisah kebiadaban Jepang pasti masih begitu jelas membekas di ingatan mereka.

Latar Belakang Peristiwa Mandor




Soal pemberontakan, Jepang tidak pernah setoleran Belanda. Jadi, ketika mereka menemukan yang semacam itu, maka aksi yang dilakukan adalah sikat habis pemberontakan itu. Peduli setan kalau ada orang-orang yang sebenarnya tak terlibat, asalkan pemberontakan bisa hilang sepenuhnya. Kira-kira seperti inilah peristiwa Mandor.
Jepang begitu tidak suka dengan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kalimantan Barat ini. Lalu kemudian mereka melakukan langkah keji dengan mengumpulkan semua penduduk pribumi yang ada. Lalu kemudian tanpa menginterogasi satu-satu untuk mencari tahu soal keterlibatan mereka. Jepang tanpa ampun memanen satu-satu kepala orang-orang padahal tak semuanya benar-benar bersalah.

Tak Ada Pengecualian, Semua Orang Dibantai


Dalam pandangan Jepang, ketika satu orang berbuat jahat, maka yang lain harus merasakan akibatnya. Dan dalam kejadian Mandor ini hal tersebut benar-benar mereka tunjukkan. Ketika harusnya Jepang hanya menghukum para pemberontak saja, mereka malah melimpahkan hukuman kepada hampir semua orang yang ada. Alhasil, kejadian Mandor ini korbannya tak hanya para pejuang saja, tapi juga orang-orang yang tak tahu apa-apa.
Jepang hampir menghabisi semua orang yang ada, tanpa mempedulikan apa pun. Warga sipil yang polos, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, politisi, semua dibantai dengan sadis oleh penjajah laknat ini. Bahkan genosida ini juga tak memandang ras atau suku. Selama seseorang tidak beridentitas Jepang, maka kepalanya bakal ditebas.

Jumlah Korban Sangat Banyaknya




Eksekusi yang dilakukan secara serentak dan tanpa pilih-pilih membuat jatuhnya korban menjadi sangat banyak. Angka pastinya adalah kurang lebih sekitar 21.037 orang yang tewas terbantai ketika itu. Rata-rata para korban dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya menggunakan samurai. Tapi, ada juga yang dieksekusi memakai senapan-senapan.
Soal jumlah korban yang lebih dari 21 ribu orang itu, Jepang menolaknya mentah-mentah. Mereka mengakui memang telah melakukan pembantaian, tapi jumlahnya tidak sebanyak itu. Jepang dalam pengakuannya mengatakan hanya membunuh tak lebih dari seribu orang saja.

Peristiwa Mandor Jadi Dosa Jepang yang Tak Terungkap


Jepang dulu memang sangat kejam. Soal genosida, negara matahari terbit ini tercatat melakukan aksi mengerikan itu berkali-kali. Yang paling terkenal tentu pembantaian Nanking yang sampai hari ini masih bikin sakit hati orang-orang Tiongkok. Tak hanya itu, Jepang juga tercatat melakukan hal yang sama di Korea, Malaysia, Filipina, dan tentu Indonesia.
Soal kejadian genosida yang mereka lakukan di Indonesia, nampaknya hal tersebut cukup jarang diungkapkan apalagi tragedi Mandor ini. Padahal ini juga harusnya jadi peristiwa yang tak kalah penting ketika membahas daftar kejahatan yang dilakukan oleh Jepang. Soal pembantaian, setidaknya selama menjajah, Jepang sudah menghabisi sekitar 10 juta orang.
Mengerikan kalau mengingat kejadian ini kembali. Terbayang dengan cukup jelas bagaimana wajah-wajah polos orang-orang pribumi yang lehernya harus diadu dengan tajamnya Katana orang-orang Jepang itu. Peristiwa ini mungkin menyakitkan, tapi harus tetap diingat. Tak hanya untuk mengenang mereka yang telah gugur, tapi juga sebagai pelajaran tentang penjajahan yang akan selalu menciptakan hal-hal mengerikan seperti ini.
Secara garis besar yang menjadi korban keganasan Jepang kala itu adalah :
  • Syarif Moehammad Alkadri (Sultan Pontianak, 74 Tahun)
  • Pangeran Adipati (putra Sultan Pontianak, 31 tahun)
  • Pangeran Agung (26)
  • JE Patiasina (51),
  • Tjong Tjok Men
  • Ng Nyiap Soen (40),
  • Lumban Pea (43).
  • dr.Roebini
  • Kei Liang Kie
  • Ng Nyiap Kan
  • Panangian Harahap
  • Noto Soedjono
  • FJ Loway Paath
  • CW Octavianoes Loecas
  • Ong Tjoe Kie
  • Oeray Alioeddin
  • Goesti Saoenan (Panembahan Ketapang, 44 Tahun)
  • Mohammad Ibrahim Tsafioeddin (Sultan Sambas, 40 Tahun)
  • Sawon Wongso Atmodjo
  • Abdoel Samad
  • dr.Soenaryo Martowardoyo
  • Moehammad Yatim
  • Raden Mas Soediyono
  • Nasaroeddin
  • Soedarmadi
  • Tamboenan
  • Thji Boen Khe (wartawan)
  • Nasroen St Pangeran
  • E Londok Kawengian
  • WFM Tewoe
  • Wagimin bin Wonsosemito
  • Ng Loeng Khoi
  • Theng Swa Teng
  • dr.R.M Ahmad Diponegoro
  • dr.Ismail
  • Ahmad Maidin
  • Amaliah Roebini (istri dr Roebini)
  • Noerlela Panangian Harahap (istri Panangian)
  • Tengkoe Idris (Panembahan Sukadana, 50 Tahun)
  • Goesti Mesir (Penembangan Simpang, 43 Tahun)
  • Syarif Saleh (Penembahan Kubu, 63 Tahun)
  • Gusti A Hamid (Panembahan Ngabang)
  • Ade Moehammad Arief (Panembahan Sanggau)
  • Goesti Moehammad Kelip (Penembahan Sekadau, 41 Tahun)
  • Goesti Djafar
  • Raden Abdoel Bahry Daroe Perdana (Penembahan Sintang)
  • Moehammad Taoefik (Penembahan Mempawah, 63 ahun)
  • AFP Lantang
  • Raden Nalaprana
  • Tjoeng Kiung Liung


TONTON VIDEONYA DISINI




Referensi :
1). https://www.boombastis.com/kengerian-tragedi-mandor/78504
2). https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Mandor

1 comment: