Kamis, 02 Desember 2021

(EP 04) PETA KEKUATAN POLITIK DI JAWA ABAD 15

 


Sebelum membahas tentang peta kekuatan politik di Jawa abad 15, penting untuk dijelaskan terlebih dahulu tentang keadaan pulau Jawa ada masa itu. Pulau Jawa dikenal juga dengan tana (tanah) Jawa atau nusa (pulau) Jawa. Pulau ini sering dianggap sebagai salah satu dari kepulauan Malaya, yangmembentuk gugusan kepulauan Oriental, yang kemudian disebut juga dengan kepulauan Asiatik.

Tanah Jawa terbentang ke arah timur laut dan sedikit ke arah selatan, sejauh 105 derajat 11’ sampai 114 derajat 33’ lintang timur dan sedikit ke arah selatan. Di daerah selatan dan barat berbatasan dengan samudera hindia, arah timur laut dibatasi Selat Sunda yang memisahkan dengan Sumatera dengan jarak ujung hanya 14 mil, dan di arah tenggara dibatasi Selat Bali selebar 2 mil, yang memisahkan dengan pulau Bali. (Thomas Stamford Raffles, History of Java)

Di pesisir utara Jawa, terdapat kota-kota pelabuhan penting. Di antaranya dari ujung barat terdapat banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Di daerah pesisir utara Jawa bagian tengah terdapat pelabuhan Semarang, Demak, dan Jepara. Di pesisir pantai utara Jawa bagian timur terdapat pelabuhan di Tuban, Gresik dan Ampel Dento serta Blambangan.

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa peta kekuatan politik internasional menjelang abad 15 sangatlah berpengaruh diberbagai Negara-negara dunia di 5 benua. Sebagaimana kekuasaan politik Hindu dan Buddha  di India berpengaruh di hampir seluruh kepulauan nusantara sejak sebelum abad 7 hingga abad 15, demikian pula kekuasaan politik Islam yang puncaknya di bawah kepemimpinan Khilafah Turki Utsmani sangat berpengaruh terhadap perkembangan Islam di nusantara secara besar-besaran, termasuk Jawa pada awal abad 15.

Pada paruh abad 13 di Sumatera Utara atau Aceh, para penguasa telah menganut Islam. Ada masa ini, hegemoni politik di Jawa Timur masih ditangan raja-raja Syiwo- Buddha di Singosari dan Kediri, di daerah pedalaman Jawa bagian timur. Sedangkan saat itu, Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan telah berdiri. Meskipun demikian, pada masa ini telah ada orang-orang Islam di Jawa bagian timur sejak akhir abad 11 yang ditunjukkan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun maupun orang-orang Islam di Trowulan sebagaimana keterangan Ma Huan dan Fei Xin. Hal ini diperkuat pula laporan perkembangan Islam di Jawa yang di bawa oleh para pedagang sekaligus para pelayar muslim dari Gujarat kepada Sultan Muhammad I pada awal abad 15.

Di nusantara ada abad 15, kekuatan politik di pulau Sumatera di antaranya adalah Aceh yang berada di bawah Kerajaan Islam Samudera Pasai. Sedangkan di Sumatera Selatan, jauh sebelumnya telah berdiri Kerajaan Hindu Syiwo- Buddha Srivijaya (Sriwijaya) yang berpusat di Palembang. Menurut catatan hikayat Raja-Raja Pasai, menyebutkan bahwa ketika Majapahit berkuasa di atas tanah Jawa, Raja yang berkuasa adalah Hayam Wuruk dengan patihnya bernama Gadjahmada.

Pada abad 15, di Jawa telah berdiri Kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran di bagian barat dan Kerajaan Syiwo- Buddha Majapahit di bagian timur. Setelah runtuhnya Kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran dan Majapahit ini, berdirilah kekuasaan politik Islam di Demak,. Pengaruh kekuasaan Kerajaan Demak ini sampai di Jawa bagian barat hingga ke Cirebon dan banten, serta di Jawa bagian timur hingga ke Tuban, Gresik, dan Ampel Dento. Berdirinya Kerajaan Islam Demak tidak lepas dari peran wali songo angkatan pertama yang perjuangan mereka dilanjutkan oleh dewan ulama walisongo angkatan berikutnya.

Sebagaimana yang telah diketahui, Islam pertama kali masuk ke tanah Jawa bukanlah pada masa wali songo pada abad ke-15 saat Syekh Maulana Malik Ibrahim sampai ke Gresik. Akan tetapi Islam telah masuk ke Jawa pada masa sebelum itu. Paling tidak, batu nisan pada makam Fatimah Hibatullah binti Maimun berangka 478 H/1082 M menjadi bukti nyata bahwa masuknya Islam di Jawa telah terjadi sebelum abad 11 M. ditambah lagi kesaksian Ma Huan dan Fei Xin tentang keberadaan orang-orang Islam berdarah Arab di Trowulan, Majapahit pada 1407 M, semakin menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, telah ada orang-orang Islam di Jawa bagian timur.

KERAJAAN SYIWO- BUDDHA PADJAJARAN DI JAWA BARAT



Pada abad 15 sebelum berdirinya Kesultanan Islam Demak, di Jawa bagian barat telah berdiri Kerajaan Syiwo Buddha Pakuwan Padjajaran sejak tahun 1030-1579 M. ibukotanya berada di Pakuwan (Bogor). Pendiri Kerajaan Padjajaran adalah Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Luas wilayahnya saat itu mencapai wilayah Jawa Barat sekarang, termasuk Tegal dan Banyumas.

Sistem kekuasaan di Kerajaan Padjajaran adalah seperti desentralisasi. Oleh karenanya, Kerajaan Padjajaran terdiri dari gabungan Kerajaan-Kerajaan kecil yang memiliki semacam otonomi sendiri. Wilayah Kerajaan Padjajaran terbagi menjadi 2 wilayah, yaitu pedalaman dan pesisir pantai. Wilayah pedalaman seperti di Pakuwan yang merupakan pusat kerajaannya, sedangkan di pesisir pantai seperti daerah banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.

Pada awal abad 16, jumlah penduduk Pakuwan sekitar 50.000 orang. Dominasi agama mayoritas adalah Syiwo- Buddha. Sedangkan kepercayaan asli orang-orang Sunda adalah animisme, sebagai kaum minoritas. Kerajaan Syiwo- Buddha Padjajaran sebelum itu, wajar jika memiliki pasukan perang sekitar 100.000 orang prajurit sebagai angota pasukan bersenjatanya. (Drs. Edi S. Ekadjati, Fatahillah, Pahlawan Arif Bijaksana)

Sumber : Buku Wali Songo, Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa Karya Ustadz Rachmad Abdullah,          S.Si, M.Pd

0 komentar:

Posting Komentar