F PEMBANTAIAN ANGGOTA PKI DI SULAWESI ~ PEGAWAI JALANAN

Jumat, 20 Januari 2023

PEMBANTAIAN ANGGOTA PKI DI SULAWESI

 


Saat pemberontakkan PKI tahun 1965 meletus, berita tentang PKI beserta ormas-ormasnya sebagai pelaku penyiksa, pembantai dan pembunuh para Jenderal terpublikasikan di media-media pada bulan Oktober, November dan Desember 1965. Akibat pemberitaan ini, maka bermunculanlah kelompok dan gerakan anti komunisme dan anti-PKI yang semuanya tergabung dalam Front Pancasila.

Di Makassar, pada bulan Oktober gerakan yang tergabung dalam anti PKI pun mulai melakukan penggeroyokan massa dan perusakan perabot rumah tangga, terhadap orang-orang yang teridentifikasi mempunyai hubungan dengan PKI. Pengejaran dan penangkapan terhadap aktivis dan simpatisan PKI terus terjadi, tidak hanya di kota Makassar, akan tetapi menyebar ke daerah-daerah lain seperti Bone, Pare-pare, Jeneponto, Bantaeng, dan lainnya. Penangkapan anggota dan simpatisan PKI di Indonesia timur, khususnya Sulawesi Selatan, memang tidaklah semasif dan seberingas apa yang terjadi di Jawa, Sumatera dan Bali. Namun kekacauan tetap ada di sejumlah kabupaten disana.

Sebuah kawat dari Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta kepada Washington juga menyebutkan adanya kerusuhan di Sulawesi Selatan. Kawat bertanggal 12 November 1965 itu menyinggung laporan seorang pemuka Kristen-Protestan yang mengatakan bahwa toko-toko milik keturunan Cina di Makassar menjadi sasaran perusakan. Amuk massa terjadi di tengah kampanye pengganyangan segala hal terkait Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut Brad Simpson, dokumen tersebut adalah telegram Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Marshall Green, tentang gambaran umum situasi politik dan keamanan di Sulawesi, Jawa Tengah dan Jawa Timur terkait pembasmian PKI oleh tentara dan sekutunya. Pembersihan di beberapa daerah, berkembang menjadi mirip kerusuhan etnis dan rasialis. Salah satu narasi yang berkembang terkait G30S adalah keterlibatan dan partisipasi Republik Rakyat Cina pimpinan Mao Zedong dalam aksi penculikan para jenderal Angkatan Darat.

Warga peranakan Cina dan propertinya turut menjadi sasaran kemarahan. “Pemuka Kristen Protestan Sulawesi yang tiba di Jakarta hari itu melaporkan 90 persen toko-toko Tionghoa di Makassar diserang dan isinya dihancurkan pada 10 November 1965, yang mana melibatkan hampir seluruh penghuni kota,”.

Menurut catatan Taufik dalam Kamp Pengasingan Moncongloe (2009), dalam kerusuhan di Makasar pada 10 Oktober 1965 itu melibatkan pihak ketiga yang punya kepentingan tambahan selain pembasmian PKI. “Aksi berubah menjadi penjarahan milik orang-orang Tionghoa dan penghancuran rumah orang Jawa,”. Dokumen itu menyebutkan juga soal pembantaian orang-orang PKI.

Disebutkan persebaran kekerasan anti-PKI terjadi di beberapa daerah di Sulawesi. Orang-orang di Bone dilaporkan masuk ke kamp tahanan dan membunuh 200 orang tahanan PKI. walau tidak terlalu jelas Bone yang mana yang dimaksud, karena ada nama daerah/wilayah bernama Bone di berbagai kawasan Sulawesi. Di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan juga punya daerah bernama Bone (Kabupaten Bone sendiri berada di Sulawesi Selatan). Di Muna, Sulawesi Tenggara, ada kecamatan bernama Bone. Di Bone yang terletak di Sulawesi Selatan sendiri terjadi pembantaian terhadap orang-orang PKI.

“Pembunuhan saat itu terjadi di Penjara Kodim Watampone, kurang lebih ratusan orang sipil yang berasal dari Jawa yang menjadi korban. Mereka umumnya karyawan pabrik gula Arasoe.” Di sana, sentimen anti orang-orang Jawa sempat meningkat pada tahun 1960an. Pada masa-masa genting dan penuh desas-desas itu, ada yang menganggap orang Jawa identik dengan PKI.

Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 (2006) menuliskan bahwa “Para tahanan itu harus menghadapi kekerasan massa dan terbunuh dalam kerusuhan itu. Melebihi pemenggalan kepala yang menjadi eksekusi standar di berbagai penjuru tanah air kala itu. Dalam peristiwa di Watampone itu terjadi pencincangan tubuh atas orang-orang PKI. Pencincangan adalah mutilasi berat, berupa pemotongan dan penyayatan bagian-bagian tubuh sehingga ‘terpisah’ dalam potongan-potongan,”.

Soal pembantaian orang-orang PKI di Bone, Sulawesi Selatan, juga disinggung dalam biografi presenter Andy F. Noya dalam Andy Noya Kisah Hidupku (2015) yang disusun Robert Adhi K.S.P. Suatu hari, Corps Polisi Militer (CPM) menitipkan 40 tahanan yang hendak diproses ke Penjara Watampone, di pusat Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tahanan-tahanan yang berada disana adalah orang-orang yang terkait PKI.

Kepala Penjara Watampone kala itu adalah laki-laki Indo-eropa bernama Jopie Klaarwater. Massa anti-PKI yang tak sabaran akan proses hukum pun mendatangi para tahanan yang dicap PKI untuk langsung dihakimi. Sebagai Kepala Penjara, Klaarwater tak mengizinkan melepaskan tahanan yang harus ada di dalam penjara dan menolak massa masuk ke penjara.

Massa yang lepas kendali itu tetap ngotot agar dapat masuk ke dalam penjara. Penjara kemudian berhasil mereka bobol dan tahanan dieksekusi. Tak lupa, Klaarwater dan wakil Kepala Penjara juga ikut menjadi korban eksekusi. Kepala penjara Indo-Eropa bermarga Klaarwater itu adalah kakek Andy F. Noya dari pihak ibu. Setelah kejadian itu, istri Klaarwater, Johanna Blouwer, pindah ke Belanda. Taufik juga menyebut nama Kepala Penjara adalah Kalwater dan keturunan Belanda (peranakan). Disebutkan pula Kalwater adalah Ketua Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) daerah Bone. Bersama Ketua PKI, Bone Andi Mappa, juga Sekretaris Jenderal PKI Bone Igo Garnida Heri Erianto, Kalwater tewas dibunuh massa.

Selain membunuh ketiganya, massa juga mendatangi penjara di markas Komando Distrik Militer (KODIM) dan kantor Kepolisian Resort (Polres) yang menjadi tempat penampungan orang-orang PKI. Di buku The Contours of Mass Violence in Indonesia, 1965-68 (2012) yang disusun Douglas Anton Kammen dan ‎Katharine E. McGregor menyebutkan bahwa “Pembunuhan pertama terjadi di distrik Bone sekitar November 1965.

Dikatakan Kalwater adalah Ketua SOBSI di Bone dan seorang Indo-Eropa yang juga Kepala Penjara di Bone. Dia tewas terbunuh oleh gerakan massa yang ingin menghancurkan PKI.”

Kalwater dan Klaarwater bisa diasumsikan sebagai orang yang sama. Mungkin karena kesulitan lidah lokal menyebut nama Belanda seperti Klaarwater akhirnya hanya menyebutnya menjadi Kalwater. baik Kalwater maupun Klaarwater, keduanya mengatakan bahwa dia bekerja sebagai Kepala Penjara Watampone dan sama-sama Indo-Eropa juga.


Itulah kerusuhan yang terjadi di Sulawesi Selatan setelah terjadinya pemberontakkan PKI tahun 1965. Kepala penjara saat itu juga turut menjadi korban kemarahan massa. Karena pembantaian yang dilakukan oleh anggota PKI di jawa dan daerah lain, Sulawesi ikut tersulut amarah karena pembantaian keji yang dilakukan oleh orang-orang PKI. Klaarwater yang menjadi kepala penjara, berusaha untuk meredam amarah massa. Namun massa menganggapnya sebagai upaya untuk melindungi orang-orang PKI. Hal yang mengherankan dari Klaarwater atau Kalwater ini adalah informasi yang menyebutnya sebagai Ketua SOBSI Bone. Karena Dia sebenarnya bukan berlatar buruh. Dia adalah pegawai penjara dan istrinya adalah seorang pemilik toko. Ditambah dia adalah keturunan Indo-Eropa. perpaduan yang membuat informasi dirinya sebagai tokoh SOBSI menjadi meragukan.


Sumber Referensi :

daerah.sindonews.com,

sulsel.idntimes.com,

tirto.id

0 komentar:

Posting Komentar