F Awal Penyebaran Islam di Jawa Wali Songo Hadapi Aliran Kanibal Bhairawa Tantra I Pegawai Jalanan ~ PEGAWAI JALANAN

Selasa, 05 Februari 2019

Awal Penyebaran Islam di Jawa Wali Songo Hadapi Aliran Kanibal Bhairawa Tantra I Pegawai Jalanan

Ritual Bhairawa Tantra
Penyebaran Agama Islam di nusantara tak lepas dari peran Wali Songo yang melakukan pendekatan kultural di tanah Jawa. Apalagi kala itu, penduduk Jawa dikenal paling susah menerima ajaran Islam karena telah punya paham Bhairawa Tantra.
Pada tahun 674 Masehi, di Jawa sudah ada Kerajaan Kalingga yang dipimpin Ratu Shima. Wilayah kekuasaannya dari Jepara hingga Dieng. Banyak penduduknya menjadi penganut Bhairawa Tantra, yakni paham yang percaya bahwa mengumbar hawa nafsu dapat mengantarkannya ke nirwana (surga).
Bhairawa Tantra adalah sekte rahasia dari sinkretisme antara agama Budha aliran Mahayana dengan agama Hindu aliran Siwa. Sekte ini muncul kurang lebih pada abad ke-6 M di Benggala sebelah timur. Dari sini kemudian tersebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, masuk ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pengikut sekte Bhairawa Tantra berusaha mencapai kebebasan dan pencerahan (moksa) dengan cara yang sesingkat-singkatnya. Ciri-ciri mereka adalah anti asketisme dan anti berpikir. Menurut mereka, pencerahan bisa diraih melalui sebuah kejenuhan total terhadap kenikmatan duniawi. Tujuan secara penuh memanjakan kenikmatan hidup dengan tanpa mengenal kekangan moral ini puncaknya adalah untuk melenyapkan segala hasrat terhadap semua kenikmatan itu. Dengan memenuhi segala hasratnya, seorang pengikut sekte ini akhirnya tidak merasakan apa pun selain rasa jijik terhadap kenikmatan tersebut.
Oleh karena itu, pengikut sekte ini justru melakukan ritual-ritual tertentu yang bagi selain mereka dianggap sebagai larangan. Hal ini sebagai usaha agar manusia bisa secepatnya meniadakan dirinya sendiri dan mempersatukan dirinya dengan Dewanya yang tertinggi. Ritual mereka bersifat rahasia dan sangat mengerikan, yaitu menjalankan Pancamakarapuja atau malima (lima Ma) dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Lima Ma tersebut adalah matsya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman), madra (tarian hingga mencapai ekstase), dan maithuna (upacara seksual).
Praktek malima adalah menyembelih perawan  sebagai persembahan kepada dewa, kemudian meminum darahnya bersama, tertawa-tawa, dan menari-nari dengan diiringi oleh bunyi-bunyian dari tulang-tulang manusia yang dipukul-pukul hingga menimbulkan suara gaduh. Ritual dilanjutkan dengan makan dan minum bersama. Setelah itu dalam acara yang dilakukan di lapangan yang disebut ksetra, para peserta ritual melakukan persetubuhan massal, yang kemudian diikuti dengan semedi.
Bhairawa Tantra merupakan bagian dari peradaban Jawa kuno. Banyak raja mengikuti sekte ini.
Relif di Candi yang Menggambarkan Hubungan Badan
Meski demikian, jumlah mereka terus bertambah dan ajarannya berkembang pesat di masyarakat. Aliran tersebut juga tertutup pada pendatang yang membawa ajaran baru.
Jika ada orang baru, langsung dimakan untuk ritual mereka. Darahnya diminum, dagingnya dimakan. Hal ini yang mengakibatkan ajaran baru sulit masuk ke Jawa, karena orang-orangnya dikenal sangat sakti.
Aliran tersebut kebalikan dari ajaran Hindu yang menyatakan, untuk mencapai nirwana, manusia harus meninggalkan sisi keduniawian. Mereka menolak menyembah langit atau Tuhan untuk mencapai nirwana dan memilih menyembah Dewi Bumi.
Ritual Bhairawa Tantra


Ritual tersebut sangat kuat di tengah masyarakat, hingga pada abad 8-14 Masehi, China dan Arab kesulitan masuk Jawa. Wali Songo masuk dengan melakukan pendekatan budaya, seperti yang dilakukan oleh Sunan Bonang. Beliau ini yang memburu aliran sesat Bhiarawa Tantra ini. Pertarungan budaya antara Sunan Bonang dengan Bhairawa Tantra ini terlihat di Kediri. Aliran yang terkenal sadis dan menyimpang ritualnya ini di hadapi oleh Sunan Bonang dengan membuat ritual serupa di sebelahnya. Misalnya kalau yang aliran itu menggunakan tumpeng daging manusia, Sunan Bonang memakai daging ayam, dan mengganti arak sebagai minumannya dengan air putih. Jika di sebelah menggunakan bacaan mantra-mantra maka Sunan Bonang menggunakan bacaan tahlil dan sebagainya. Maka sampai saat ini sebagian masyarakat Jawa masih melakukan acara atau doa bersama dengan makanan tumpeng, ayam ingkung dan sebagainya, dengan di iringi bacaan kalimah tauhid, tahmid, dan zikir oleh pesertanya dan doa-doa yang di bacakan oleh ustadz atau kiyai. Jika tidak menggunakan pendekatan budaya seperti yang dilakukan oleh wali songo mungkin Islam tidak akan mudah di terima oleh masyarakat di pulau jawa. semoga artikel ini bisa memberikan informasi dan pengetahuan tentang sejarah penyebaran agama Islam di pulau Jawa.
Hasil gambar untuk Sunan Bonang

Sumber :
1).  https://news.okezone.com/read/2016/05/06/512/1381843/sebarkan-islam-wali-songo-hadapi-pribumi-kanibal
2). https://kriyayoganusantara.wordpress.com/2016/03/20/tantra-bhairawa/

2 komentar:

  1. Penjajahan budaya, kalau wali melawan nenek moyang yg katanya terbelakang dan kanibal mana mungkin nusantara bisa terkenal dengan banyak candi candi peninggalan yang indah. Kecacatan logika berpikir umat candi kotak gurun

    BalasHapus
  2. yah kan yang jelek-jelek di promosikan sedangkan budaya yang bagus dan indah banyak sekali sehingga merusak budaya nenek moyang yang indah itu. seolah-olah agama sebelumnya bar bar. padahal bar-bar itu manusia nya bukan agamanya. buktinya jaman sekarang juga mengalami hal yg sama. paham ektrimisme bom sana sini bunuh sana sini atas nama agama.
    sudahlah jangan senggol agama orang lain kalau tidak mau di senggol. saya bukan beragama hindhu tapi ini sering terjadi

    BalasHapus