Kamis, 25 Februari 2021

INILAH PENYEBAB MENGAPA BALI tidak Memeluk Islam saat Islam Berjaya di Pulau Jawa!!!

 


Beberapa dari kita mungkin tidak menyadari bahwa pulau jawa hampir sepenuhnya islam kala masih zaman kerajaan. Mulai dari berdirinya kerajaan demak hingga kerajaan Islam lain yang mulai menyebar ke seluruh pulau jawa. Namun yang mengherankan adalah kerajaan di pulau Bali yang saat itu masih menganut agama hindu. Padahal kala itu Islam memiliki kerajaan-kerajaan besar yang selepas runtuhnya kerajaan Majapahit. Hal ini tentu menjadi tanda tanya besar apakah islam tidak pernah berdakwah di Bali ataukah ada masalah lain yang membuat agama Islam tidak berkembang pesat di pulau ini seperti kerajaan-kerajaan lain di pulau Jawa. Adapun kerajaan di pulau Bali saat itu adalah kerajaan Gelgel, sebelum akhirnya di pecah menjadi kerajaan- kerajaan kecil yang tersebar di pulau Bali.

Kerajaan Gelgel

Kerajaan Gelgel adalah salah satu kerajaan yang pernah didirikan di Pulau Bali. Wilayah kekuasaannya mencakup seluruh Pulau Bali, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kerajaan Gelgel menerapkan sistem pemerintahan yang disesuaikan dengan Kerajaan Majapahit. Masyarakatnya terbagi menjadi Bali Hindu dan Bali Aga. Raja Kerajaan Gelgel yang pertama adalah Dalem Ketut Ngelesir. Ia adalah keturunan dari dinasti Kerajaan Majapahit. Wilayah awal dari Kerajaan Gelgel mencakup seluruh Pulau Bali. Wilayah ini diperoleh dari penaklukan Kerajaan Majapahit pada tahun 1434 terhadap kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Bali. Pada abad ke-17, wilayah Kerajaan Gelgel mencakup seluruh Pulau Bali, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kerajaan Gelgel berakhir pada masa pemerintahan Ki Agung Maruti setelah diserang oleh pasukan Dewa Agung Jamber pada tahun 1687. Kerajaan Majapahit saat itu adalah kerajaan yang besar hingga sampai ke pulau Bali. Hampir semua bidang kehidupan, utamanya setelah ekspansi besar Maha Patih Gajah Mada di Bali pada 1343, terpengaruh oleh kebudayaan Jawa yang dibawa Majapahit. Begitu kentalnya pengaruh tersebut, hingga penyebaran pertama agama Islam di Pulau Bali itu juga tidak terlepas dari campur tangan Prabu Hayam Wuruk (1350–1389), raja yang membawa Majapahit pada puncak kejayaannya. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit mewajibkan kerajaan bawahannya di Pulau Bali untuk menerapkan sistem pemerintahan yang sama dengan kerajaannya, yaitu Manawa Sasana. Sistem ini mengikuti ajaran agama Hindu, sehingga raja memiliki kekuasaan tertinggi dalam kerajaan.

 Awal Mula Islam di Bali

Masyarakat Muslim di Bali muncul berkat hubungan yang baik antara Majapahit sebagai negara penguasa dengan Bali sebagai kerajaan yang dikuasai. Ketika Hayam Wuruk memerintah, Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460), putra raja pertama Samprangan Sri Aji Krisna Kepakisan alias Dalem Sri Kresna Kepakisan (memerintah 1352), mendapat undangan berkunjung ke Keraton Majapahit pada 1380-an. Hayam Wuruk sedang mengadakan konferensi di kerajaannya dengan mengundang kerajaan-kerajaan yang menjadi sekutunya.. Dalem Ngalesir datang mewakili Kerajaan Gelgel, pecahan dari Kerajaan Samprangan yang dikuasai kakak tertuanya.

Dalam buku Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) Dhurorudin Mashad menceritakan bahwa ketika kembali ke Gelgel, Dalem Ngalesir mendapat pengawalan dari pemerintah Majapahit. Ia diberi 40 orang pengiring dalam perjalanan pulangnya itu. Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai tentara, sementara sisanya berkerja sebagai juru kapal dan juru masak. Setelah sampai, 40 orang Islam itu tidak ingin kembali ke wilayah Majapahit dan memilih untuk tinggal di Bali. Akhirnya Dalem Ngalesir memberi satu daerah pemukiman khusus di Gelgel. Keempat puluh orang itu pun diperintahkan mengabdi kepada Kerajaan Gelgel, tanpa syarat apapun. Artinya mereka tidak harus berpindah kepercayaan mengikuti agama yang berkembang di Gelgel. Dari sinilah awal mula agama Islam di Bali. Komunitas Muslim pertama di Bali lalu membangun masjid di Gelgel, yang sekarang dikenal sebagai masjid tertua di tanah Bali. Dan Islam mulai berkembang dari daerah yang berpenduduk muslim di Gelgel. Menurut Hassan Ali, dalam pembangunan masjid sejak abad XIV hingga sekarang juga mengalami akulturasi dengan unsur arsitektur Bali atau menyerupai corak (style) wantilan (joglo). Akulturasi dua unsur seni yang diwujudkan dalam pembangunan masjid, menjadikan tempat suci umat Islam di Bali tampak beda dengan bangunan masjid di Jawa maupun daerah lainnya di Indonesia.



Banyak yang beranggapan Hayam Wuruk ingin mengurangi jumlah populasi Muslim yang terus berkembang di pusat pemerintahannya dengan mengirim orang islam ke Bali. Ia khawatir kaum minoritas itu akan mendominasi daerah kekuasaannya Mengingat Majapahit adalah kerajaan Syiwa-Buddha.

Menurut arkeolog dan epigraf Hasan Djafar, dalam tulisannya “Beberapa Catatan Mengenai Keagamaan pada Masa Majapahit Akhir” dimuat Pertemuan Arkeologi IV, di bawah kekuasaan Hayam Wuruk banyak penduduk Majapahit yang sudah memeluk Islam. Sebagai bukti, para arkeolog telah berhasil menunjuk pemakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trawulan, Mojokerto. “Mengingat pemakaman ini letaknya tak jauh dari kedaton, dapat disimpulkan ini adalah pemakaman bagi penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah beragama Islam,” ungkap Hasan.

 

Penyebaran Islam Terhalang

Kerajaan Gelgel-Klungkung diperintah oleh Dalem Waturenggong (1460/1480--1550) setelah Dalem Ngalesir turun tahta. Masa ini juga menjadi puncak kejayaan Islam di Nusantara karena kerajaan-kerajaan Islam mulai tersebar di pulau Jawa. Sementara Hindu-Buddha, termasuk Majapahit, pengaruhnya kian surut akibat banyak kerajaan yang mulai menerima keberadaan agama Islam di wilayahnya. Majapahit sendiri mendapat serangan dari Kesultanan Demak pada 1518 karena upaya mengislamkan kerajaan Majapahit. Akhirnya keruntuhan kerajaan besar itupun tidak lagi dapat dihindari. Momen kehancuran Majapahit lalu dimanfaatkan oleh Dalem Waturenggong untuk memerdekakan wilayah Bali dan memperluas wilayah kekuasaannya.

Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana (1521-1546), Demak mengirim utusan ke Kerajaan Gelgel-Klungkung. Menurut Dhurorudin ekspedisi damai itu bertujuan menjalin hubungan baik sebagai sesama mantan vasal (kerajaan yang dikuasai) Kerajaan Majapahit. “Namun, intinya tujuan ekspedisi ini adalah untuk menyebarkan Islam,” tulis Dhurorudin. Dalam hal ini kerajaan Demak ingin mengislamkan Bali melalui jalan perdamaian dan bukan melalui penaklukan.

Kerajaan Demak lalu mengirim utusan ke Bali, Namun Dalem Waturenggong tidak ingin kerajaannya di Islamisasikan. Utusan yang telah dikirim lebih memilih bergabung dengan komunitas muslim yang ada di Bali. Dalem Waturenggong mulai menyusun rencana agar dapat menghalangi pengaruh Islam di Bali. Dalam Babad Dalem: Warih Ida Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan karya Tjokorda Raka Putra disebutkan bahwa setelah menjadi negeri merdeka, Waturenggong segera memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Ia berhasil menguasai ketiga wilayah itu antara tahun 1512 sampai 1520.

Menurut I Made Sumarja, dkk. dalam Sejarah Masuknya Islam dan Perkembangan Pemukiman Islam di Desa Kecicang Kabupaten Karangasem Provinsi Bali perluasan wilayah Kerajaan Gelgel-Klungkung hingga ke Lombok merupakan usaha lain Waturenggong menghadang penyebaran ajaran Islam di negerinya. Namun selepas Dalem Waturenggong, tidak ada lagi raja yang mampu membangun Gelgel-Klungkung. Kerajaan itu pun akhirnya terpecah dan mulai menunjukkan kemunduran. Akibatnya, kekuasaan mereka di Lombok berhasil diruntuhkan. Penguasa Klungkung selanjutnya memilih menjalin hubungan baik dengan Lombok, bukan menaklukkan dengan paksaan. Setelah itu penyebaran masyarakat Muslim dari Lombok ke Bali mulai gencar terjadi. Meski pengaruhnya di masyarakat tidak dapat menggeser dominasi Hindu, yang telah berabad-abad menjadi kepercayaan utama rakyat Bali.

Alasan Kerajaan Bali Tetap Beragama Hindu

Ringkasan dari buku Robert Pringle (2004) A Short History of Bali: Indonesia’s Hindu Realm. Alasan mengapa kerajaan Islam tetap beragama hindu adalah sebagai berikut:

1.      Penduduk Bali sebagian besar berasal dari luar Bali, kemungkinan berasal dari Jawa atau Lombok. Bahasa Bali lebih mirip bahasa Sasak di Lombok daripada bahasa Jawa. Bali tidak pernah putus hubungan dengan Jawa dan juga Kerajaan lainnya. Raja Airlangga adalah “setengah Bali” karena berayah Bali dan beribu Jawa (cucu Mpu Sindok). Bali selalu berada dalam pengaruh Kerajaan di Jawa terutama Majapahit. Bali tidak pernah secara nyata “anti Islam”, walaupun memiliki budaya yang berbeda. Ini sebabnya Bali tidak pernah merasa harus ditundukkan oleh Kerajaan Islam, terutama Mataram di Jawa. Minoritas Islam yang berdagang, terutama di Bali Utara, dan menjadi tentara tetap dapat singgah di Bali.

2.      Sejak runtuhnya Majapahit kemudian Pajang-Jipang-Demak sampai Mataram yang paling kuat, setidaknya ada jeda selama 100 tahun. Saat Majapahit runtuh dan Gelgel menguat, Mataram belum terlalu kuat. Walaupun Mataram dapat mengusir Gelgel dari Blambangan, Gelgel masih terlalu kuat untuk ditaklukkan.

3.      Ketika Mataram mulai menguat dan Gelgel mulai melemah, datang Belanda yang membuat Mataram harus membagi konsentrasi. Mataram juga dilemahkan oleh konflik-konflik internal.

4.      Mataram menjadi defensive saat kekuatan Belanda menguat, tak lagi memikirkan ekspansi. Mataram justru semakin kehilangan wilayah kekuasaannya seiring dengan menguatnya Belanda. Karena Mataram yang melemah, tidak ada keuntungan yang didapat dari penguasa di Bali untuk memeluk Islam.

Selain itu, Menurut Dhurorudin alasan Gelgel tidak dapat menerima pengaruh Islam di Bali adalah ikatan historis emosional dengan Majapahit. Meski terbebas dari kuasa vasal Majapahit, tetapi penyerangan Demak tidak bisa begitu saja diterima. “Mereka (para pangeran dan mantan pejabat Majapahit) yang lari ke Bali tentu menyebarkan informasi tentang nasib tragis mereka ke penduduk lokal, sehingga ikut menjadi kurang bisa menerima Islam,” tulis Dhurorudin.

Walaupun hingga kini muslim di Bali masih minoritas, namun akulturasi hindu-muslim di Bali terjalin semakin erat. Hal ini dikarenakan sifat saling menghargai untuk memeluk agamanya masing-masing. Islam memang tidak berkembang pesat di Bali selayaknya di Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan dari Kesultanan Demak berupaya mengislamisasikan Bali melalui jalur perdamaian dan bukan karena penaklukan. Selain itu bali juga telah melekat kuat memegang agama warisan turun-temurun sehingga tidak memiliki niat untuk berpindah agama. Selain itu juga banyak faktor lain yang membuat Bali tetap mayoritas dengan agama hindunya.

 

Penulis            : Riskyrito

Penyunting      : Argha Sena

Referensi      :bayudardias.staff.ugm.ac.id, historia.id, kompas.com, wikipedia.org

0 komentar:

Posting Komentar