Senin, 03 Januari 2022

RIBUAN ORANG DARI JAWA MENINGGAL SAAT BERUSAHA MENGUSIR PORTUGIS DI MALAKA

       


    Sejarah-sejarah masa lalu tentang nenek moyang kita yang saling membantu melawan penjajah patut diceritakan, untuk mengingatkan kepada generasi muda kita bahwa kita memang sudah sudah saling bahu membahu sejak zaman listrik belum ditemukan bahkan sampai zaman batu. Sejarah kali ini patut untuk disampaikan ketika ribuan tentara dari Jawa dan Palembang banyak yang rela menderita demi membantu membebaskan Malaka dari cengkraman penjajah Portugis. Beberapa kali serangan dilancarkan, akan tetapi belum berhasil menundukan kekuatan Portugis waktu itu.

    Pada awal abad ke-16, terjadi perang besar antara pasukan Portugis dan pasukan Kerajaan Demak di Selat Malaka. Peperangan itu terjadi tak lama setelah Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis.

       Pada saat itu, pasukan Kerajaan Demak dipimpin oleh Pati Unus. Penyerangan Demak terhadap Portugis dilatar belakangi jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam di sekitar Selat Malaka seperti Kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Malaka ke tangan Portugis.

    Dari jatuhnya kerajaan-kerajaan tersebut, Pati Unus menyadari betapa kuatnya armada laut Portugis yang diyakini lebih kuat dari armada laut Majapahit pada masa kejayaanya. Namun hal itu tak mengendurkan keberaniannya untuk melawan.

       Berbekal 100 kapal beserta 5.000 tentara gabungan dari Jawa dan Palembang, Pati Unus melancarkan penyerangan pertamanya pada tahun 1513 yang dikenal dengan nama Ekspedisi Jihad I.  Tiba di Malaka, pertempuran antara Portugis dan Demak tak dapat dihindarkan. Lalu siapa pada akhirnya yang akan memenangi pertempuran ini?

        Dalam penyerangan ke Malaka, pasukan yang dipimpin Pati Unus terdiri dari 100 kapal dan 12.000 personel. 30 kapal di antaranya merupakan jenis jung besar seberat 350-600 ton. Kapal-kapal itu membawa banyak pasukan altileri yang dibentuk di Pulau Jawa.

    Kapten Portugis yang memimpin perang melawan Demak, Fernao Pires de Andrade menuliskan surat kepada rekannya, Alfonso de Albuquerque dalam menggambarkan besarnya jung milik pasukan Demak.

    “Kapal itu benar-benar sangat mengerikan bahkan tidak ada orang yang pernah melihat sejenisnya. Butuh waktu tiga tahun untuk membangunnya. Tembakan meriam yang saya miliki di kapal saya berhasil masuk tapi tidak bisa tembus. Di dalam kapal itu ia membawa seribu orang tentara. Yang Mulia dapat mempercayaiku bahwa itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilihat,” kata Fernao pada Albuquerque.


    
Pertempuran hebat terjadi di Selat Malaka antara armada kapal Portugis dengan armada Demak. Mereka bertempur habis-habisan. Namun armada Portugis lebih canggih dengan senjata meriamnya.  Sebanyak 70 kapal dan perahu Demak berhasil dihancurkan oleh Portugis. Sebanyak 800 pasukan Demak tewas dalam pertempuran itu.

    Meskipun dikalahkan, Pati Unus berhasil melarikan diri dan berlayar pulang menuju Demak. Dia kemudian mendamparkan kapal perangnya sebagai monumen perjuangan melawan orang-orang yang disebutnya paling berani sedunia.

    Karena keberaniannya pergi ke Malaka dan menyerang Portugis, Pati Unus kemudian mendapat julukan “Pangeran Sabrang Lor”. Dia pun kemudian naik tahta menjadi Raja Demak menggantikan Raden Patah. 

        Perlawanan Pati Unus terhadap Portugis tak cukup sampai di situ. Kegagalan atas Ekspedisi Jihad I rupanya dipelajari betul oleh Pati Unus. Dia kemudian mempersiapkan diri untuk perang selanjutnya dengan membangun sebanyak 375 armada kapal perang baru di Gowa, Sulawesi.  Hingga akhirnya pada tahun 1521, Pati Unus yang saat itu sudah menjabat sebagai raja memutuskan ikut ekspedisi ke Malaka dengan membawa 375 armada kapal baru itu.

    Sebelum diberangkatkan, armada itu terlebih dahulu mendapat pemberkatan dari para wali tanah Jawa yang dipimpin Sunan Gunung Jati. Namun kedatangan armada kapal perang yang besar ini telah diantisipasi oleh Portugis. Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena meriam saat akan merapat di pantai. Kapal pun hancur dan Pati Unus gugur akibat tembakan meriam itu.

    Setelah gagalnya Ekspedisi Jihad I dan II, penyerangan terhadap Portugis kembali dilakukan pada tahun 1550 di mana Sultan Johor meminta Ratu Kalinyamat dari Jepara mengirimkan 40 kapal dan 4.000 prajurit perang untuk menyerang Malaka. Mereka kemudian bergabung dengan pasukan Malaka dan Aceh untuk menyerang Portugis bersama-sama. Kekuatan gabungan itu berhasil memukul mundur Portugis dan mengambil alih sebagian besar Kota Malaka. Namun Portugis berhasil menyerang balik dan berhasil menewaskan 2.000 pasukan Jawa.

    Ekspedisi dilanjutkan lagi oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1574 dengan kekuatan 300 kapal dan 15.000 personel. Setelah pertempuran sengit selama 3 bulan, sebanyak 2/3 pasukan Jepara gugur.  Karena serangan ini, posisi Portugis di Maluku semakin terjepit karena bala bantuan datang terlambat. Hal ini membuat Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Kesultanan Ternate pada 1575. 

        Benteng-benteng Portugis di Ternate, yaitu Tolucco, Santa Lucia, dan Santo Pedro jatuh dalam waktu yang singkat, menyisakan Sao Joao Baptista sebagai pertahanan terakhir.  Di bawah komando Baabullah, pasukan Ternate telah mengepung Sao Joao Baptista dan memutuskan hubungan benteng tersebut dengan dunia luar.  Selesai pengepungan, pasukannya pun menyerang wilayah-wilayah yang menjadi pusat misi Yesuit, ordo gereja katolik, di Halmahera, pada tahun 1571. 

        Pada 1571, sebuah armada Ternate dengan enam kora-kora besar di bawah pimpinan Kapita Kalasinka menyerbu Ambon.  Tentara Portugis yang dikomandoi Sancho de Vasconcellos berusaha susah payah untuk mempertahankan benteng-benteng mereka.  Pasukannya pun kehilangan kekuasaan di laut atas perdagangan cengkeh.  Pada 1575, sebagian besar tanah Portugis di Maluku telah diambil alih oleh Ternate. Hanya tersisa Sao Joao Baptista yang masih dalam pengepungan.  Oleh sebab itu, Portugis pun menyerah dan pergi meninggalkan Ternate.  Sultan Baabullah berjaji jika Portugis menyerah maka mereka tidak akan disakiti, Portugis pun hengkang dari Maluku dan tidak ada satu pun dari mereka yang dilukai. 

    Itulah kisah sejarah yang patut menjadi pelajaran dan modal persatuan, nenek moyang kita sudah bahu membahu tidak pandang suku dan agama untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara walau nyawa sebagai taruhannya. Orang-orang Aceh, Melayu, Jawa, Bugis dan lain sebagainya bersatu padu membangun serangan ke Malaka yang saat itu dikuasai oleh bangsa Portugis. Banyak dari mereka yang tewas saat penyerangan itu, dan menjadi pahlawan yang tidak tercatat namanya. 

    Semoga Artikel ini bermaanfaat bagi kita semua.

Argha Sena

Sumber : https://www.kompas.com/, https://www.merdeka.com/





0 komentar:

Posting Komentar