Tuesday, April 21, 2020

Umat Islam Seluruh Dunia Wajib Berterimakasih Kepada Bung Karno, Inilah 4 Jasa Bung Karno | Pegawai Jalanan

Bung Karno Sedang Berdoa

Setiap pemimpin pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya, karena mereka adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, Tak terkecuali Presiden Pertama Republik Indonesia Sekaligus Proklamator kemerdekaan negara tercinta ini. Akan tetapi kali ini kita akan membicarakan hal baik tentang beliau yang sudah sangat berjasa bagi negara ini, Umat Islam bahkan dunia.  Bung Karno tak hanya dikenal di dalam negeri, di masanya, beliau menjadi salah satu tokoh dunia yang disegani. Banyak peran dan kontribusinya untuk dunia, termasuk di dalamnya adalah KAA, Gerakan Non Blok, dan lain-lain, yang tak lain adalah bentuk keprihatinan beliau melihat kondisi dunia waktu itu. Tinta emas pun tertoreh untuk gagasan-gagasan cemerlang Putra Sang Fajar. 
Bung Karno juga salah satu pemimpin dunia saat itu yang begitu concern terhadap kemaslahatan umat islam. Berikut ini adalah beberapa peran beliau di dunia Islam yang patut kita kenang dan patut banggakan.
Menemukan Makam Imam Bukhari


Makam Imam Bukhari
Imam Bukhari merupakan sosok penting bagi umat Islam di dunia. Ya, ia adalah salah satu perawi hadits paling termasyhur selain Imam Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah maupun An Nasa'i. Ia berperan besar dalam mengisahkan jejak kehidupan Nabi Muhammad SAW. Namun, siapa sangka jika penemuan makam Imam Bukhari tak terlepas dari jasa Soekarno.
Penguasa tertinggi Uni Soviet (kini Rusia) kala itu, Nikita Sergeyevich Khrushchev mengundang Soekarno ke Moskow pada tahun 1961. Putra sang fajar mau datang, asalkan Khrushchev dapat menemukan makam Imam Bukhari. Tanpa pikir panjang, Khrushchev menyuruh pasukan elitenya untuk menemukan makam yang dimaksud Bung Karno.
Pencarian itu pun menemui jalan buntu sehingga membuat Khrushchev kalang kabut. Sementara Bung Karno tetap teguh dalam pendiriannya, di mana jika makam yang dia maksud gagal ditemukan, maka dirinya ogah menginjakkan kaki ke Moskow.
Soviet kala itu memang sedang membutuhkan dukungan Indonesia melawan Amerika Serikat (AS). Akhirnya, dengan segala daya dan upaya Khrushchev memerintahkan pasukannya mengumpulkan informasi dari para sesepuh beragama Islam di sekitar Samarkand. Khrushchev pun girang bukan kepalang saat makam Imam Bukhari berhasil ditemukan dalam keadaan sangat tidak terawat.
Pentolan negeri beruang merah itu kemudian memerintahkan pasukannya membersihkan dan memugar makam Imam Bukhari sehingga nampak indah. Setelah semua persiapan itu beres, Khrushchev lalu menghubungi Bung Karno. Bung Karno akhirnya memenuhi janjinya mengunjungi Moskow dan menyempatkan diri berkunjung ke Samarkand pada 12 Juni 1961.
Saat rombongan delegasi MPR RI menginjakkan kaki pertama kali di Bandar Udara Internasional Tashkent, Ibu Kota Uzbekistan, nama Soekarno lah yang pertama kali disebut ketika delegasi memperkenalkan diri dari Indonesia. Salah satunya adalah Elyas, seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang langsung menyebut nama Soekarno ketika berjumpa dengan delegasi yang akan menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada masyarakat Indonesia yang ada di Uzbekistan. Soekarno, kata Elyas, sangat melekat bagi masyarakat Uzbekistan karena dipandang memiliki jasa besar dalam menemukan makam Imam Bukhari. Elyas dan pemuda Uzbekistan mengetahui nama dan jasa Soekarno dari orang tua dan membaca buku-buku yang diterbitkan di Uzbekistan.
Menurut Israil, muazim Masjid Imam Bukhari, menjelang kedatangan Bung Karno pada tahun 1956, kondisi makam tidak terawat dengan baik dan berada di semak belukar, hingga akhirnya pemerintah Soviet membersihkan dan memugar makam tersebut untuk menyambut kedatangan Soekarno. Penghormatan Soekarno terhadap Imam Bukhari dilakukannya dengan cara melepas sepatu dan berjalan merangkak dari pintu depan menuju makam ketika turun dari mobil yang mengantarnya.
Menyelamatkan Universitas Al-Azhar
Universitas Al Azhar
Bung Karno pernah menyelamatkan Universitas Al-Azhar dari ancaman penutupan oleh Presiden Mesir kala itu, Gamal Abdel Nasser. Ancaman penutupan itu berawal ketika Nasser melihat gelagat kalangan ulama Al-Azhar yang bergabung dengan kelompok Ikhwanul Muslimin dalam rangka 'mengusik' kekuasaannya.
Nah, Bung Karno yang mendengar niatan Presiden Gamal lantas berkunjung ke Mesir dalam rangka kunjungan kenegaraan pada tahun 1955 sekaligus membawa misi mempertanyakan langsung niat Nasser bersikukuh ingin menutup universitas kebanggaan rakyat Mesir itu.
Setelah keduanya bertemu dan terlibat dialog, akhirnya Presiden Gamal langsung mengurungkan niatnya menutup Al-Azhar. Sejarah mencatat, hubungan kedua negara ini memang sangat mesra. Sulit agaknya bagi Gamal menolak permintaan Soekarno saat itu.
Menurut Syeikh Goumah, ketika Nasser berniat untuk menutup Al Azhar yang menghebohkan dunia Islam, Presiden Soekarno muncul untuk menyelamatkannya saat berkunjung ke Mesir.
"Presiden Ahmad Soekarno dari Indonesia mempertanyakan niat Nasser tesebut dan mengatakan, 'Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup Al Azhar? Ya Gamal, Al Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami mengenal Mesir itu justru karena ada Al Azhar'," kutip Syeikh Goumah.
"Nasser menjawab, ya, mau bagaimana lagi? Lantas, Ahmad Soekarno menimpali, 'Ya Gamal, tidak ada itu istilah penutupan, Anda wajib menata kembali Al Azhar, mendukungnya dan mengembangkannya, bukannya menutup. "Mantan Mufti Nasional Mesir tersebut mengamini pandangan Bung Karno bahwa Al Azhar dan Mesir ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, yakni Al Azhar adalah Mesir, dan Mesir adalah Al Azhar. Berkat jasa tersebut, Universitas Al Azhar menganugrahkan doktor kehormatan (doktor honoris causa) kepada Bung Karno dalam kunjungan ketiga ke Mesir pada bulan April 1960.  
Syiekh Agung Al Azhar Mahmoud Shaltut menyematkan gelar kehormatan akademis itu di Gedung Pertemuan Universitas Al Azhar pada Ahad, 24 April 1960, pukul 12.00 waktu setempat, demikian terekam dalam buku, "Jauh di Mata Dekat di Hati: Potret Hubungan Indonesia-Mesir". Dalam sambutannya, Syeikh Shaltut mengatakan, "Selamat datang di negeri yang damai, negeri Islam. Sesungguhnya Sultan Al Muiz Billah membangun Al Azhar dengan batu-batu, namun Presiden Gamal Abdel Nasser memberi sinar keagungan kepada Al Azhar dengan ilmu, kerja keras dan pertolongan." Bung Karno yang memakai baju kebesaran Al Azhar yang terbuat dari bulu domba menyampaikan terima kasih dan menyatakan kebahagiaannya bahwa kunjungan kedua ke kampus Al Azhar telah mendapatkan kemajuannya.

Merimbunkan Padang Tandus Arafah
Pohon Sukarno
Kiprah spektakuler Bung Karno seakan tak pernah habis dilekang waktu. Ia juga dianggap telah berjasa menghijaukan Padang Arafah yang sangat tandus. Penanaman pohon di Padang Arafah, Arab Saudi berawal dari ide Bung Karno agar umat Islam tidak kepanasan saat menunaikan ibadah haji. Raja Fahd yang begitu menghormati Soekarno lantas mengabulkan permintaannya dan "menyulap" padang tandus nan gersang menjadi pepohonan hijau.
Atas jasa Bung Karno, Raja Fahd kemudian mengabadikan nama "Pohon Soekarno" untuk jejeran pohon yang hingga kini terlihat menghijaukan areal Arafah tersebut. Adapun jenis pohon yang ditanam ialah jenis mimba yang daunnya konon berkhasiat mengobati penyakit diare.
Kondisi Arafah yang hijau royo-royo, tak terlepas dari peran dan gagasan Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno. Ide penghijauan Arafah muncul ketika Bung Karno melaksanakan ibadah haji pada 1955. Saat itu Bung Karno mengutarakan gagasannya melakukan penghijauan kepada Pemerintah Arab Saudi yang dipimpin Raja Fahd bin Abdul Aziz. Ide tersebut pun ditindaklanjuti. Bung karno membuat tim yang diisi orang ahli kehutanan untuk mencari pohon yang cocok ditanam di padang yang terletak 22 km sebelah tenggara Masjidil Haram ini. Kemudian dibawalah bibit pohon yang sanggup tumbuh di lahan tandus langsung dari Indonesia. 
Nama pohon tersebut adalah mindi (melia azedarach) dan mimba (azadirachta indica).  Namun generasi tua Arab Saudi lebih mengenalnya dengan nama Syajarah Karno atau Pohon Karno (Soekarno).  Hal ini mengacu pada sang penyumbang benih yakni Bung Karno.  Untuk mendukung pertumbuhan pohon itu, dibawa pula tanah subur dari Indonesia dan Thailand. Untuk penyiraman, di bawah tanah dipasang pipa air dan setiap pohon mendapatkan satu keran air sendiri. Upaya itu membuahkan hasil. Sejak bertahun-tahun lalu, Arafah hijau royo-royo. Kelestarian pohon itu diharapkan tetap terjaga meskipun 3,5 juta lebih jemaah akan datang, baik saat menunggu maupun saat wukuf berlangsung. Di kawasan tertentu, Syariq Mansyur Makah misalnya, puluhan pohon mimba tumbuh kokoh dengan tinggi sekitar 10 meter. 
Selain itu, Bung Karno juga berjasa atas pembuatan tiga jalur tempat sa’i. Seperti diketahui, tempat sa’i antara Bukit Safa dan Marwa kini terbagi menjadi tiga jalur. Di mana jalur pertama adalah dari Bukit Safa ke Bukit Marwa. Kedua, dari Bukit Marwa ke bukit Safa. Sedangkan jalur ketiga berada di tengah-tengah antara jalur pertama dan kedua yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang sudah lanjut usia ataupun cacat fisik yang menggunakan kursi roda.
Kisah Soekarno dan Masjid Biru di Rusia
Masjid Biru
Keberadaan Masjid Biru yang terletak di Kota Saint Petersburg juga tak terlepas dari jasa Soekarno. Bung Karno pernah berkunjung ke masjid tersebut pada tahun 1956 silam. Di era Uni Soviet (kini Rusia), seluruh masjid dan gereja saat itu beralih fungsi menjadi gudang. Masjid itu merupakan satu-satunya masjid yang tidak ditutup.
Bung Karno dianggap berjasa dalam membuka kembali fungsi Masjid Biru yang semula dijadikan gudang. Bung Karno meminta pada pemimpin Uni Soviet saat itu, Nikita Khrushchev, guna mengembalikan fungsi masjid itu. Sebelumnya, masjid itu difungsikan sebagai gudang untuk menyimpan obat-obatan dan senjata.
Dalam kunjungannya ke Uni Soviet pada 1956, presiden pertama Indonesia tersebut menyempatkan diri mampir ke Kota Leningrad (nama Kota Sankt Peterburg kala itu). Kota ini sangat cantik, memiliki arsitektur yang mempesona, dan terletak di delta Sungai Neva. Tak heran, kota ini pernah menjadi rebutan banyak negara.
Di kota ini pula berdiri istana-istana terkenal, seperti Istana Musim Panas Petergof, Istana Musim Dingin Hermitage, serta Benteng Petropavlovskaya. Saat melintasi jembatan Troitskiy yang berdiri di atas Sungai Neva, pandangan Soekarno saat itu tertuju pada bangunan berbentuk masjid yang berada di kejauhan.
Bangunan itu memiliki kubah biru dengan gaya arsitektur Asia Tengah. Dua menara kembarnya yang menjulang tinggi berhadapan dengan beberapa gereja di sekitarnya. Saat itu, Soekarno mengkalkulasi, jika bangunan itu sebuah masjid, pasti mampu menampung lebih dari tiga ribu jamaah Muslim untuk beribadah. Soekarno pun mengajak rombongan mendatangi bangunan itu.
“Sejumlah jadwal kunjungan Presiden Soekarno yang telah disusun ke Leningrad dibatalkan,” cerita Mufti Besar Sankt Peterburg Zhafar Ponchaev seperti dilansir Russia Beyond beberapa waktu lalu.
Setelah tiba, ternyata bangunan tersebut memang secara fisik adalah sebuah masjid, tapi telah beralih fungsi menjadi sebuah gudang.  Di bawah pemerintahan komunis Uni Soviet, seluruh masjid dan gereja di seluruh negeri beralih fungsi menjadi gudang dan beragam kegunaan lain. Masjid Biru, salah satunya, dijadikan gudang sejak Perang Dunia II.  
Setelah kunjungannya ke masjid tersebut, Soekarno kemudian bertemu Nikita Khrushchev, sang pemimpin Soviet. Saat Khrushchev bertanya bagaimana kesan Soekarno mengenai Leningrad, Sang Presiden malah membahas kondisi Masjid Biru yang baru ia kunjungi.  
“Soekarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya sebagai tempat ibadah umat Muslim. Sepuluh hari setelah kunjungan Presiden Soekarno, bangunan ini kembali menjadi masjid,” kata Ponchaev. 
Ini merupakan jasa Soekarno bagi Muslim di Rusia yang mendapatkan kembali tempat ibadahnya. Masjid Biru mulai dibangun pada 1910 ketika umat Islam di Rusia saat itu hanya berjumlah sekitar delapan ribu orang.  Sebagian besar para pekerja yang membangun masjid ini adalah pekerja yang membangun kapal di galangan Sungai Neva. Para pekerja muslim ini berasal dari kawasan selatan Soviet seperti Dagestan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Turkmenistan. 
Izin pembangunan masjid ini diberikan langsung oleh Tsar Nikolay II pada 3 Juli 1907 di Petergof. Sang arsitek masjid, Nikolay Vasilyev, memadukan ornamen ketimuran dan mosaik biru toska pada kubah, gerbang masjid, menara, serta mihrab imam. Tak heran, masjid ini pun lebih dikenal dengan nama Masjid Biru. 
Pembangunan masjid dilakukan setelah dibentuk komite khusus pada 1906 yang diketuai Ahun Ataulla Bayazitov. Emir Bukhara Said Abdoul Ahad tercatat sebagai penyumbang terbesar pembangunan masjid ini.  Said Abdul Ahad membiayai semua biaya pembangunan masjid. Saat resmi dibuka pada 1913, Masjid Biru adalah masjid terbesar di Eropa. Masjid ini memiliki kubah biru setinggi 39 meter dan menara kembar setinggi 49 meter.
Argha Sena
Sumber :  okezone.com, kompas.com, boombastis.com

0 komentar:

Post a Comment