Selasa, 10 Agustus 2021

SERANGAN UMUM SATU MARET 1949 ADA PAK HARTO MUDA DISANA

 

Tampak Dalam Foto Jenderal Soedirman dan Letkol Soeharto

Setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Indonesia belum benar-benar bebas dari penjajahan. Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama tiga setengah abad ingin kembali berkuasa di Indonesia. Awalnya Belanda dan Indonesia melakukan perundingan damai, hingga bulan november  1948 perundingan masih terus berlanjut. Menteri Luar Negeri Belanda D.U. Stikker datang langsung ke Yogyakarta dan berunding dengan Bung Hatta di Kaliurang.

Stikker tetap menghendaki  bahwa “Wakil Tinggi Kerajaan Belanda di dalam Negara Federal Sementara selama masa peralihan harus memiliki kekuasaan penuh.” Tetapi Bung Hatta yang di dukung oleh Bung Karno dan Jendral Soedirman, dengan tegas menolak campur tangan Belanda dalam urusan Intern Republik. Belanda terus menuduh Indonesia melanggar gencatan senjata sedangkan di pihak Indonesia juga menuduh bahwa Belanda telah melanggar kesepakatan. Akibatnya, perundingan ini menemui jalan buntu, lalu utusan Belanda itu pulang kembali ke Negara asalnya.

Pada tanggal 11 desember 1948 suasana kedua Negara semakin memanas, delegasi Belanda mengirim nota kepada Komisi Tiga Negara yang mengatakan Belanda tidak mungkin berunding dengan Indonesia. karena itu, Belanda akan membentuk sendiri pemerintahan interim di Indonesia. Sementara itu Wakil RI di PBB mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menempatkan lagi perselisihan Indonesia-Belanda dalam agenda.(Soeharto:Pikiran,Ucapan, dan Tindakan Saya hal:56)

Keadaan memanas itu akhir meletup, pada tanggal 19 desember 1948 Belanda melancarkan Agresi ke II dengan menyerang Yogyakarta melalui  Maguwo dan berhasil masuk ke Yogyakarta. Perlawanan kecil saat itu sempat dilakukan, karena sebelum penyerangan para prajuritTNI telah ditarik keluar kota. Sehingga Letkol Soeharto selaku Komandan Brigade 10/Wehrkreise III kala itu tak mampu berbuat banyak dikarenakan hanya memiliki satu kompi, yakni kompi pengawal kompi brigade dan pengawal presiden. Yogyakarta adalah ibukota republik saat agresi Belanda dan komando yang ada disana hanya Komando Militer Kota sehingga Belanda mampu menduduki ibukota Indonesia. Setelah berhasil menduduki Yogyakarta, Bung Karno dan Bung Hatta yang sedang berada di Yogyakarta berhasil ditangkap. Setelah penangkapan, Bung Karno dan Bung Hatta di asingkan ke Prapat, Sumatera. (Soeharto:Pikiran,Ucapan, dan Tindakan Saya hal:57)


    Tampak dalam foto Letkol Soeharto Mendampingi Jenderal Soedirman

Rakyat seakan kehilangan kepercayaan kepada TNI, hal ini wajar karena mereka menyaksikan begitu mudahnya Belanda masuk ke dalam Ibukota.Serangan penjajah Belanda melalui Agresi Militer II membuat kondisi Indonesia dalam kesulitan. Bahkan, sebagai propaganda, Belanda mengumumkan jika TNI sudah tidak ada. Saat itu mulai dari presiden, wakil predisen, dan anggota kabinet tidak mampu berbuat banyak. Karena memang Yogyakarta memiliki pengaruh yang besar sebagai ibukota republik. Situasi Yogyakarta sebagai ibu kota negara saat itu sangat tidak kondusif. Keadaan tersebut diperparah propaganda Belanda di dunia luar bahwa tentara Indonesia sudah tidak ada. Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengirimkan surat kepada Letnan Jenderal Soedirman untuk meminta izin diadakannya serangan. Jenderal Sudirman menyetujuinya dan meminta Sri Sultan HB IX untuk berkoordinasi dengan Letkol Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Komandan Brigade 10/Wehrkreise III.(kemdikbud.go.id)

Para prajurit TNI tetap melakukan perlawan secara Gerilya dengan  masuk ke hutan-hutan. Ketika perlawanan terjadi di pinggiran kota sebelah tenggara, tepatnya dikampung nyutran, Soeharto bertemu dengan Widodo. Widodo saat itu adalah Komandan Kompi dari Batalyon Sardjono yang ada di Purwerejo, Soeharto lalu memerintahkan agar Pasukannya ditarik ke Yogyakarta karena Belanda telah menguasai ibukota. Widodo diperintahkan untuk menyusun sektor selatan untuk melakukan penyerangan ketika ada intruksi dari Soeharto. Setelah pembicaraan itu Widodo pergi ke Ngotho sedangkan Soeharto berusaha mendatangi semua pasukan di dekat Yogyakarta.

Ketika Malam tiba, Soeharto bergerak ke Sektor Barat dan bertemu Mayor Ventje Sumual. Kemudian Soeharto menunjuknya sebagai pemimpin Sektor barat. Sumual pun ditugaskan untuk menghimpun semua pasukan bersenjata di daerahnya. Soeharto lalu bergerak ke arah utara dan bertemu pasukan Militer Akademi. Di sektor ini yang ditunjuk adalah Mayor Kasno, dengan tugas yang sama seperti sektor lainnya dengan melakukan serangan-serangan kecil sambil menunggu serangan umum. Pada pertengahan januari sektor di kota telah terbentuk dengan Letnan Marsudi sebagai pimpinannya.

Dipertengahan Februari serangan pendahuluan di adakan, para pejuang menyerang pos-pos yang ada di luar kota untuk mengelabui perhatian Belanda. Serangan Umum dilakukan pada tanggal 1 maret 1949 dengan janur kuning sebagai tanda pengenal. Ketika sirene akhir jam malam berbunyi tanggal 28 februari, terdengar ledakan dan gencatan senjata. Ternyata Letnan Komarudin telah salah hitung, Belanda masih menduga serangan-serangan ini sama seperti serangan sebelumnya. Para prajurit terus menyerang pos-pos di luar kota, sehingga Belanda mengirim pasukan ke pos-pos di luar kota.(Soeharto:Pikiran,Ucapan, dan Tindakan Saya hal:61)

Tepat pukul 06.00 pada tanggal  1 maret 1949 bersamaan dengan sirene akhir jam malam, terdengar gemuruh tembakan di seluruh kota. Dari berbagai arah para prajurit menyerang, karena memang prajurit telah menyusup sebelum sirene akhir jam malam. Dan ketika sirene berbunyi, para pasukan telah berada di depan garis pertahanan Belanda. Pihak Belanda tentu terkejut dengan serangan dadakan itu, termasuk kolonel van langen yang baru bangun dari tidurnya. Letkol Soeharto memimpin penyerangan menuju ke Malioboro. Sementara itu, Letkol Ventje Sumual, Mayor Sardjono , dan Mayor Kasno memimpin di sektor lainnya. Dalam waktu singkat seluruh kota telah dikuasai, bendera Merah Putih dikibarkan di Jalan Malioboro dan beberapa tempat lain. Teriakan Merdeka!! terdengar dari Suara rakyat setelah berkibarnya bendera merah putih.

Pihak Belanda tentu tidak tinggal diam, kolonel Van Langel menghubungi pasukan bala bantuan dari semarang. Yogyakarta telah di duduki selama enam jam, ketika bala bantuan Belanda datang para prajurit telah mundur. Berita serangan 1 maret ini kemudian diberitakan ke luar negeri melalui Sumatera yang tentu saja menggetarkan orang-orang yang ada disidang PBB. Serangan itu membuktikan bahwa Indonesia masih mampu melawan dan meyakinkan bahwa Indonesia mampu berdiri sebagai sebuah Negara yang merdeka.

Dalam buku Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004 (2005) karya M.C Ricklefs, keberhasilan Indonesia melancarkan Serangan Umum 1 Maret 1949 mampu membuka pandangan dunia internasional bahwa eksistensi Indonesia masih kuat. Selain itu, Indonesia juga diuntungkan dengan kecaman dunia internasional terhadap peristiwa Agresi Militer Belanda II. Pada perkembangannya, Belanda mendapat tekanan dari Amerika Serikat dan PBB untuk mulai memberi pengakuan kedaulatan dan penyerahan kekuasaan pada Indonesia dalam perjanjian damai Roem Royen dan Konferensi Meja Bundar.

Meski Serangan Umum 1 Maret 1949 berhasil memukul Belanda dari Kota Yogyakarta saat itu, tetapi ada kontroversi seputar peran Letkol Soeharto. Dalam buku sejarah era Orde Baru, Letkol Soeharto tercatat sebagai inisiator dan pemimpin pertempuran. Namun berkebalikan dengan kesaksian Abdul Latief, anak buah Letkol Soeharto saat itu. Dalam tulisannya “Laporan tentang Dewan Jenderal kepada Jenderal Soeharto” yang diunggah pada laman penerbit HastaMitra, mengatakan jika Soeharto sedang bersantai makan soto babat bersama pengawal dan ajudannya.

Latief bertemu Soeharto dengan pasukannya yang tidak lebih dari 10 orang. Saat itu, Kapten Abdul Latief dan pasukan yang tersisa dalam posisi kepayahan. Dua anak buahnya meninggal, 12 lainnya terluka. Sementara itu terdapat 50 pemuda laskar gerilya yang juga gugur di medan perang dan dimakamkan di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta. Pasukan pimpinan Latief kembali ke markas gerilya yang ada di Kuncen, barat Kota Yogyakarta. Tidak disangka di sana ia bertemu Komandan Wehrkreise Letkol Soeharto sedang makan soto.


TRI Tentara Republik Indonesia

Selain itu, dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 juga tidak terlalu menonjolkan peran Sultan HB IX. Menurut Krishna Sen dalam Indonesian Cinema: Framing the New Orde (1994), sang raja hanya menjadi pengamat pasif. Padahal, beliau cukup aktif menunjukkan perhatian dan simpatinya dalam usaha tentara melawan penjajah Belanda. (tirto.id)

Salah satu sejarawan, Asvi Warman mengkritik juga mengkritik dominasi peran Soeharto tersebut. Berdasarkan fakta-fakta yang ada, Soeharto yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel jelas tidak mungkin menginisiasi Serangan Umum 1 Maret. Ia yakin bahwa inisiator sesungguhnya pasti Sultan Hamengkubuwono IX. Sedangkan Soeharto hanya pelaksana lapangan.

Dalam buku karya Mahpudi Cs, Soerjono yang berjudul 'Pak Harto Untold Stories' disebutkan bahwa Serangan Umum 1 Maret telah sangat dipersiapkan secara matang. Mahpudi Cs, Soerjono adalah salah satu staf Letkol Soeharto kala itu. Soerjono mengaku bahwa dirinya telah ikut dengan Soeharto bergerilya di hutan-hutan sebelum peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Bahkan ia mengatakan bahwa Soeharto selalu tampil di depan saat bertempur melawan Belanda.

"Pada saat itu, Pak Harto seolah-olah memiliki kekuatan mental yang luar biasa. Boleh percaya atau tidak, tetapi Pak Harto seperti tidak mempan ditembak. Pak Harto selalu di barisan depan jika menyerang atau diserang Belanda. Saya sering diminta menempatkan posisi diri di belakang beliau," ujar Soerjono di halaman 99 buku tersebut. "Saya ingat kata-kata Pak Harto, kalau takut mati tidak usah ikut perang," tambahnya. Soerjono pun menyayangkan beberapa orang yang meragukan peranan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret tersebut. Ia berpendapat bahwa orang-orang tersebut mempersoalkan karena tak menyukai Soeharto. "Saya sendiri merasakan keikhlasan Pak Harto pada saat perang dan terus berjuang membangun Indonesia ini. kelak generasi penerus akan melihat nilai-nilai positif yang sudah pasti di Lakukan Soeharto untuk Indonesia," terangnya.(merdeka.com)

Namun yang terpenting adalah perjuangan Indonesia demi mempertahankan kemerdekaan agar menjadi Negara merdeka setelah melalui banyak perjuangan. Saling bahu membahu dari semua kalangan masyarakat dengan bersatu dalam satu tujuan, yaitu merdeka.Jika kita berkunjung ke Kota Yogyakarta, di area sekitar Museum Benteng Vredeburg terdapat sebuah monumen sebagai peringatan peristiwa bersejarah di kota perjuangan tersebut. Monumen tersebut adalah Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk memperingati perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama rakyat pada tanggal bersejarah tersebut.


Penyusun     : Riskyrito

Editor           : Argha Sena

       Referensi      : kemdikbud.go.id, kompas.com, merdeka.com, Soeharto:Pikiran,Ucapan,                                                                        dan Tindakan Saya:tahun 1989, tirto.id

                          

                        

                          

0 komentar:

Posting Komentar